Mualaf Center Medan membagikan kisah Abu Bakar Ash-Shidiq yang merupakan sahabat Rasulullah yang masuk dalam golongan As-Sabiqun Al-Awwalun (orang-orang yang pertama masuk Islam). Setelah Rasulullah wafat, Abu Bakar sosok yang melanjutkan perjuangan Islam sebagai seorang khalifah.
Beliau memeluk Islam setelah mengalami mimpi unik di daerah Syam. Dalam mimpinya Abu Bakar melihat matahari dan bulan berada dalam pangkuannya. Lalu mengambil keduanya dengan tangan, dipeluk di dadanya, dan memakaikan jubah miliknya kepada matahari dan bulan tersebut. Beliau terbangun dari tidurnya lantas penasaran makna apa di balik mimpi yang dialaminya.
Pada hari Rabu tepatnya tanggal 10 Maret 2021, MCN Aya Sofya mendapatkan kunjungan dari beberapa mahasiswa dan petinggi Pondok Pesantren Gontor dan Universitas Darussalam Gontor (UNIDA). Kunjungan ini dalam rangka menjalin kerjasama tentang pendidian terutama di bidang dakwah. Kita ketahui bahwa lembaga kami begerak dibidang advokasi dan edukasi para mualaf di seluruh pelosok negeri.
Perlu kita ketahui Mualaf Center Nasional Aya Sofya didirikan oleh Ust. Insan LS Mokoginta. Sebelum beliau meninggal, Pondok Pesantren Gontor kerap kali mendatangkan Almarhum untuk mengisi kuliah / kelas Kristologi di Pesantrennya. Harapan mendapatkan bekal untuk berdakwah dan paling tidak lebih memantapkan diri terhadap agama Islam.
Artinya: Orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. Al-Hujurat: 14)
Mukmin adalah istilah Islam dari bahasa Arab yang sering disebut dalam Al-Qur’an, artinya orang beriman. Seorang dikatakan beriman jika dapat memenuhi seluruh kehendak Allah dan memiliki keimanan kuat dalam hatinya. Sedangkan beriman adalah meyakini dan memiliki keyakinan untuk selalu tunduk kepada Allah dan rasulNya.
Mukjizat itu definisinya adalah sesuatu kemampuan luar biasa diluar jangkauan manusia normal. Suatu perkara di luar kebiasaan yang dilakukan oleh Allah melalui para nabi dan rasul-Nya untuk membuktikan kebenaran kenabian dan keabsahan risalahnya.
Allah memberikan kemampuan luar biasa atau yang disebut mukjizat kepada setiap nabi dan rasul-Nya termasuk Rasulullah yang merupakan nabi dan rasul terakhir umat Islam. Berikut ini adalah beberapa dari sekian banyak kemampuan luar biasa atau mukjizat yang diberikan Allah kepada Nabi Muhammad.
Kali ini kami akan berbagi kisah dari seorang pendeta yang masuk Islam. Beliau adalah seorang mantan Pendeta Karismatik, melalui proses yang panjang dan berat akhirnya memeutuskan untuk masuk Islam. Sekarang ini beliau giat membagi ilmu seputar kristologi. Beliau adalah Koh Agus Tan.
Beliau akan membagikan kisahnya dari seorang pendeta yang akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Membagikan banyak pelajaran kepada kita semua tentang pentingnya belajar ilmu Kristologi. Meski banyak umat Islam yang masih menganggap aneh dan alergi saat belajar mengenai Kristologi. Padahal mempelajari agama orang lain justru untuk membentengi aqidah kita karena mereka itu diajarkan untuk memurtadkan orang dengan amanat agungnya yaitu:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. [Matius 28: 19]
Ayat ini memang menjadi pegangan oleh umat Kristen untuk menyebaran agamanya kepada seluruh umat manusia. Sebagaimana dalam Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa sebelum kita mengikuti milah mereka maka mereka tidak akan berhenti bahkan sampai hari kiamat tiba pun pasti mereka akan terus mencoba untuk memurtadkan orang Islam.
Artinya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [QS. Al-Baqarah: 120]