SYAHADAT PALING EMOSIONAL, TANGISAN MENDERU: KRISTEN DAN KATOLIK MASUK ISLAM

Suasana Haru di Sebuah Majelis Sederhana

Suasana haru dan penuh hikmah menyelimuti sebuah acara sederhana namun sangat bermakna pada suatu sore hari. Rombongan keluarga besar berkumpul dalam sebuah majelis yang tidak hanya menjadi saksi sebuah keputusan penting, tetapi juga perjalanan spiritual dua insan yang akhirnya syahadat, memilih kembali kepada Islam.

Momen ini bukan sekadar pertemuan biasa. Di hadapan para saksi dan tokoh agama, dua orang yang sebelumnya memeluk agama berbeda, Katolik dan Kristen memutuskan untuk mengucapkan dua kalimat syahadat. Keputusan ini menjadi titik balik dalam hidup mereka, sekaligus awal dari perjalanan baru sebagai seorang Muslim.

Dua Insan yang Menemukan Jalan

Sosok yang Menjadi Pusat Perhatian

Dua orang yang menjadi pusat perhatian dalam acara tersebut adalah Novianip Johansyah, yang akrab dipanggil Pak Vian, dan Faizah Herliani.

Pak Vian sebelumnya beragama Katolik, sementara Faizah pernah berada dalam lingkungan Kristen. Pada hari itu, keduanya sepakat untuk mengucapkan syahadat bersama-sama dan kembali kepada Islam.

Sambutan Haru dari Para Hadirin

Keputusan tersebut disambut dengan penuh rasa syukur oleh para hadirin.

“Hari ini mereka akan mengucapkan dua kalimat syahadat. Mereka akan pulang ke Islam. InsyaAllah mereka akan menjadi bagian dari keluarga kita semua,” ungkap pembawa acara dengan penuh haru.

Rencana Besar Setelah Syahadat

Yang membuat momen ini semakin istimewa adalah rencana yang akan dilakukan setelah prosesi syahadat selesai. Kedua insan tersebut juga berniat untuk melangsungkan akad nikah pada hari yang sama.

Karena sebelumnya mereka berasal dari latar belakang agama yang berbeda dan belum berstatus Muslim, maka setelah syahadat, pernikahan mereka akan langsung dilangsungkan secara sah menurut Islam dengan menghadirkan petugas dari Kantor Urusan Agama (KUA).

Dukungan dari Tuan Rumah

Acara ini juga mendapat dukungan dari tuan rumah, Ustaz Haji Hadi, yang menyediakan tempat dan fasilitas untuk berlangsungnya kegiatan tersebut. Sebuah tenda biru telah dipersiapkan untuk menampung para tamu yang hadir dalam acara yang penuh makna itu.

Kisah Pak Vian: Merasa “Sendiri” di Tengah Lingkungan

Ketertarikan yang Muncul dari Dalam Hati

Ketika diminta menceritakan perjalanan spiritualnya, Pak Vian mengungkapkan bahwa keinginannya untuk memeluk Islam datang dari dalam dirinya sendiri.

Ia mengaku bahwa selama memeluk agama Katolik, dirinya tidak benar-benar memahami ajaran yang dijalaninya.

“Selama saya di agama Katolik, saya tidak terlalu mengerti. Saya juga jarang masuk gereja,” ujarnya.

Lingkungan Kerja yang Menginspirasi

Lingkungan kerja ternyata menjadi salah satu faktor yang membuka pandangannya. Hampir semua rekan kerjanya adalah Muslim. Ia sering melihat bagaimana mereka menjalankan ibadah dengan tenang dan penuh kedamaian.

Setiap kali waktu salat tiba, rekan-rekannya akan berhenti sejenak dari pekerjaan untuk beribadah.

Hal tersebut membuatnya berpikir.

Menurutnya, ada ketenangan yang terlihat jelas dalam kehidupan religius para Muslim di sekitarnya.

“Mereka kalau ada waktu salat ya berhenti sebentar lalu salat. Saya lihat kok seperti damai saja,” katanya.

Perbandingan dengan Ibadah Sebelumnya

Sebaliknya, ia merasa ibadah yang dijalaninya dulu terasa jauh dan jarang.

Ia menggambarkan pengalamannya dengan jujur.

“Kalau di gereja kan biasanya menunggu satu minggu sekali. Rasanya seperti menunggu lama untuk bisa menyampaikan sesuatu kepada Tuhan.”

Munculnya Rasa Ingin Tahu tentang Islam

Perasaan itulah yang perlahan membuatnya merenung. Ia merasa seperti tidak memiliki tempat langsung untuk mengadu ketika menghadapi masalah atau beban hidup.

Sementara itu, dalam Islam, ia melihat bahwa seorang Muslim bisa berdoa dan beribadah kapan saja.

Salat lima waktu menjadi kesempatan yang terus berulang untuk mendekatkan diri kepada Allah.

Pengalaman melihat rekan-rekan Muslim menjalankan ibadah inilah yang akhirnya menumbuhkan rasa ingin tahu dalam dirinya.

Belajar Islam dari Nol

Mengakui Ketidaktahuan dengan Jujur

Pak Vian mengaku bahwa dirinya sama sekali tidak memahami Islam ketika pertama kali tertarik mempelajarinya.

Namun ia memiliki niat yang kuat untuk belajar.

Ia bahkan sempat mengatakan kepada seorang ustazah bahwa dirinya seperti seseorang yang benar-benar memulai dari nol.

“Saya bilang, walaupun umur saya sudah segini, tapi saya nol. Saya tidak tahu apa-apa. Bisa tidak saya diajarkan dari awal?” katanya.

Proses Belajar yang Menguatkan Keyakinan

Permintaan itu disambut dengan baik. Para ustaz dan ustazah yang ia temui memberikan penjelasan dan bimbingan tentang dasar-dasar Islam.

Dari pertemuan-pertemuan itulah, keyakinannya semakin kuat.

Ia merasa bahwa dalam Islam, hubungan antara manusia dan Tuhan terasa lebih langsung.

“Kalau ada masalah, kita bisa langsung salat, langsung mengadu kepada Allah,” ujarnya.

Pemahaman inilah yang membuat hatinya mantap untuk memeluk Islam.

Perjalanan Faizah: Kisah yang Penuh Air Mata

Cerita yang tak kalah menyentuh datang dari Faizah Herliani.

Berbeda dengan Pak Vian, Faizah sebenarnya lahir sebagai seorang Muslim. Namun dalam perjalanan hidupnya, ia sempat berpindah ke agama Kristen.

Peristiwa Tak Terduga di Manado

Keputusan itu ternyata tidak terjadi secara sepenuhnya sadar.

Ia menceritakan sebuah pengalaman yang sangat membekas dalam hidupnya.

Saat berada di Manado, jauh dari keluarga dan sendirian tanpa sanak saudara, ia diajak oleh calon mertuanya untuk pergi ke suatu tempat.

Awalnya ia mengira hanya akan berkunjung biasa.

Namun ternyata ia dibawa ke rumah seorang pendeta pembantu.

Momen Pembaptisan yang Membuatnya Menangis

Ketika tiba di sana, tempat tersebut sudah ramai oleh orang-orang.

Ia diminta duduk di sebuah meja, lalu disuruh melipat tangan dan menundukkan kepala.

Tanpa ia pahami sepenuhnya, proses doa pembaptisan pun dimulai.

“Saya bingung harus bagaimana. Saat itu saya benar-benar menangis,” kenangnya.

Tekanan Batin yang Ia Rasakan

Dalam momen tersebut, ia merasakan sesuatu yang sangat kuat secara emosional.

Ia merasa seperti melihat wajah-wajah keluarganya, orang tua, nenek, saudara, dan kerabat seolah muncul dalam pikirannya secara bergantian.

Rasa campur aduk antara kebingungan, kesedihan, dan tekanan membuatnya hanya bisa mengikuti proses yang terjadi saat itu.

Kehidupan Baru yang Tidak Memberi Ketenangan

Mengikuti Ibadah Gereja

Akhirnya ia pun menjalani kehidupan dalam lingkungan tersebut, termasuk mengikuti ibadah di gereja.

Namun perasaan tidak nyaman sering muncul dalam dirinya.

Ketakutan Saat Mendengar “Bahasa Roh”

Ia menceritakan salah satu pengalaman yang membuatnya sangat gelisah, yaitu ketika mendengar praktik doa dengan “bahasa roh”.

“Setiap kali mendengar itu, saya justru merasa takut. Saya sering menangis,” katanya.

Konflik Rumah Tangga

Masalah dalam rumah tangga yang ia jalani pada waktu itu juga semakin memperberat hidupnya.

Akhirnya hubungan tersebut berakhir dengan perpisahan.

Pergulatan Batin Setelah Perpisahan

Mengalami Gangguan Batin

Namun setelah perpisahan itu, Faizah mengaku mengalami pengalaman-pengalaman batin yang sangat berat.

Selama hampir dua tahun setelah berpisah, ia sering merasa mendengar suara-suara yang seolah berbicara kepadanya.

Dampaknya terhadap Kehidupan Sehari-hari

Menurutnya, suara-suara itu terkadang memicu pertengkaran antara dirinya dengan orang lain.

Ia merasa seolah didorong untuk selalu berpikir negatif terhadap orang-orang di sekitarnya.

Mencari Pertolongan ke Berbagai Tempat

Bahkan ia sampai meminta bantuan kepada keluarga dan tokoh agama untuk mencari penjelasan atas apa yang ia alami.

Ia pernah dibawa untuk didoakan di berbagai tempat, termasuk menemui seorang pendeta.

Namun pengalaman tersebut masih terus terjadi.

Ketika Istigfar Menjadi Satu-satunya Ketenangan

Menemukan Kedamaian dalam Istigfar

Di tengah kondisi batin yang penuh tekanan itu, Faizah menemukan satu hal yang membuatnya merasa tenang.

Hal itu adalah istigfar.

Setiap kali ia mengucapkan “Astaghfirullahalazim”, hatinya perlahan menjadi lebih tenang.

Kerinduan untuk Kembali Salat

Ia mulai membandingkan kondisi dirinya sekarang dengan masa lalu ketika masih menjalani Islam.

Ia bahkan pernah bertanya kepada keluarganya dengan penuh keraguan.

“Saya boleh tidak salat? Walaupun diam-diam saja, sendiri?” kenangnya.

Dorongan dari Anak yang Belajar Mengaji

Bahkan kebanggaan terhadap anaknya yang belajar mengaji di masjid membuatnya semakin tersentuh.

“Saya jadi malu sama anak saya sendiri. Saya harus jadi lebih baik,” ujarnya.

Penjelasan tentang Makna Islam

Islam sebagai Ketundukan kepada Allah

Dalam kesempatan tersebut, seorang ustaz yang hadir juga memberikan penjelasan kepada Faizah mengenai makna Islam secara mendalam.

Ia menjelaskan bahwa kata Islam berasal dari bahasa Arab yang mengandung makna ketundukan dan kepasrahan kepada Allah.

Kembali kepada Fitrah Manusia

Menurutnya, Islam bukan sekadar nama agama, tetapi sebuah sikap hidup: tunduk, patuh, dan berserah diri kepada Tuhan.

Ia juga menjelaskan bahwa seseorang yang mengucapkan syahadat pada hakikatnya kembali kepada fitrah manusia yang mengakui keesaan Allah.

Pergulatan Batin Menjelang Syahadat

Suasana majelis semakin khidmat ketika para hadirin menyadari bahwa momen penting akan segera terjadi.

Keputusan untuk bersyahadat dipandang sebagai langkah besar yang lahir dari kesadaran dan keyakinan pribadi.

Momen Syahadat yang Menggetarkan

Pak Vian maju lebih dulu dan dengan mantap mengucapkan dua kalimat syahadat.

“Ashadu alla ilaha illallah, wa ashadu anna Muhammadan Rasulullah.”

Takbir menggema di seluruh majelis.

Tak lama kemudian Faizah juga mengucapkan syahadat dengan suara bergetar namun penuh keyakinan.

“Islam,” jawabnya ketika ditanya tentang agamanya.

Doa dan Awal Kehidupan Baru

Setelah prosesi syahadat selesai, majelis dilanjutkan dengan doa bersama.

Doa dipanjatkan agar kedua mualaf tersebut diberikan kekuatan iman dan kehidupan yang penuh keberkahan.

Langkah Selanjutnya: Menuju Akad Nikah

Karena keduanya telah resmi menjadi Muslim, maka acara dilanjutkan dengan akad nikah.

Penghulu menjelaskan rukun nikah, mulai dari mempelai pria, mempelai wanita, wali nikah, saksi, hingga ijab kabul.

Prosesi Ijab Kabul

Penghulu menikahkan Faizah Herliani dengan Novian Johansyah dengan mahar berupa uang tunai sebesar Rp226.000.

“Saya terima nikahnya dan kawinnya Faizah Herliani binti Ahmad Fauzan dengan mas kawinnya tersebut tunai.”

“Alhamdulillah,” ucap para saksi.

Awal Kehidupan Baru

Setelah akad nikah selesai, suasana berubah menjadi penuh kehangatan.

Keluarga dan para tamu memberikan doa serta ucapan selamat kepada pasangan pengantin baru.

Air mata haru yang mengalir pada sore itu menjadi saksi perjalanan panjang yang akhirnya berujung pada sebuah awal kehidupan baru.

Dua insan itu kini memulai hidup mereka sebagai Muslim dan sebagai pasangan suami istri.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

Ribuan orang syahadat


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat 17114

One thought on “SYAHADAT PALING EMOSIONAL, TANGISAN MENDERU: KRISTEN DAN KATOLIK MASUK ISLAM

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.