ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
Artinya: Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS. An-Nahl: 125)
Jika kita merujuk pada ayat diatas maka sebenarnya Allah melalui Al-Qur’an telah mengingatkan kepada kita bahwa proses menyeruh kepada kebenaran itu tidak dapat dihindari. Tetapi disitu terdapat kunci dari setiap khawatirkan bahwa jika kita hendak berdebat atau berdiskusi maka harus dengan cara yang baik. Sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Ust. Kainama pada postingan sebelumnya (Klik di sini)
Ujung dari perdebatan yang sering muncul di masyarakat mengenai terminologi Kristologi yang seringkali berujung pada benturan-benturan yang menimbulkan efek negatif. Sesungguhnya Al-Qur’an sudah mengingatkan bahwa memang tidak bisa dihindari akan terjadi proses infraksi. Pertanyaannya saat ini adalah bagaimana kita bisa menyampaikan kebenaran kalau tidak ada proses-proses yang harus kita tempuh?
Continue reading



