Pada suatu sore yang penuh haru, sebuah momen istimewa berlangsung: prosesi pensyahadatan seorang perempuan muda bernama Yohanna Stefani. Di hadapan para hadirin, ia datang dengan tekad bulat untuk memeluk Islam.
Acara tersebut diawali dengan sambutan dan pengantar yang hangat dari pembawa acara. Setelah itu, Yohanna dipersilakan maju untuk menceritakan perjalanan yang membawanya pada keputusan besar dalam hidupnya.
Latar Belakang Keluarga
Yohanna datang bersama kakak kandungnya, Ester, yang telah lebih dahulu memeluk Islam sekitar dua tahun sebelumnya.
Keduanya berasal dari keluarga Kristen. Sang ayah masih memeluk agama tersebut, sementara ibu mereka telah meninggal dunia dalam keadaan beragama Kristen.
“Kita cuma dua bersaudara,” ujar Ester ketika diminta memperkenalkan diri.
Ketika ditanya apakah ia yang mengajak sang adik masuk Islam, Ester dengan jujur menjawab bahwa keputusan itu datang dari keinginan pribadi Yohanna.
“Enggak, keinginan sendiri,” kata Yohanna.
Mereka juga bercerita bahwa sebelumnya aktif dalam kegiatan gereja. Bahkan gereja yang mereka ikuti termasuk gereja yang menggunakan musik band dalam ibadah.
Namun perjalanan spiritual masing-masing membawa mereka pada pencarian yang berbeda.
Mimpi yang Membekas
Saat ditanya apa yang membuatnya tertarik kepada Islam, Yohanna mengungkapkan sebuah pengalaman yang sangat membekas dalam hidupnya: sebuah mimpi yang tidak pernah ia lupakan.
Ia bercerita bahwa suatu malam ia bermimpi berada di dalam neraka.
Dalam mimpi tersebut ia melihat banyak paku dan api. Suasananya begitu menakutkan. Lalu ia mendengar sebuah suara yang menggema.
Suara itu mengatakan bahwa selain Islam akan masuk neraka.
“Masih ingat sampai sekarang,” ujarnya pelan.
Suara dalam mimpi itu tidak ia lihat sosoknya, namun terdengar sangat jelas dan menggema.
Mimpi itu membuatnya terbangun dalam keadaan terkejut dan diliputi rasa takut yang mendalam.
Munculnya Keinginan untuk Berubah
Sejak mimpi itu, sesuatu mulai berubah dalam dirinya.
Ia mulai memikirkan masa depan hidupnya dan merasa ingin menjadi pribadi yang lebih baik.
“Kayak pengin jadi manusia lebih baik,” katanya.
Ia juga mulai memiliki keinginan untuk menjalani kehidupan yang lebih religius, termasuk keinginan untuk menutup aurat.
Perasaan tersebut terus tumbuh hingga akhirnya membawanya pada keputusan untuk mempelajari Islam lebih dalam.
Pengalaman Kakaknya Setelah Masuk Islam
Dalam kesempatan yang sama, Ester juga berbagi pengalamannya setelah memeluk Islam.
Menurutnya, ada perbedaan yang sangat ia rasakan dalam ibadah.
“Kalau salat itu lebih membuat ketenangan jiwa,” ungkapnya.
Ia membandingkan pengalaman ibadahnya dahulu ketika masih di gereja dengan ibadah dalam Islam.
Menurutnya, dalam salat ia merasakan kekhusyukan yang berbeda, sebuah rasa tenang ketika benar-benar menghadap Tuhan.
“Kalau di Kristen kan pakai semangat, pakai band. Tapi kalau salat, rasanya benar-benar menghadap Tuhan,” jelasnya.
Ia tidak menyalahkan bentuk ibadah yang dulu ia jalani, namun secara pribadi ia merasa lebih menemukan ketenangan dalam ibadah Islam.
Keputusan yang Mantap
Ketika Yohanna ditanya seberapa mantap dirinya untuk bersyahadat pada hari itu, ia menjawab dengan tegas.
“Seratus persen.”
Jawaban itu disambut dengan ucapan Allahu Akbar dari para hadirin.
Namun sebelum prosesi syahadat dilakukan, Yohanna sempat mengajukan satu pertanyaan yang masih mengganjal dalam pikirannya: tentang aturan puasa dalam Islam, termasuk hal sederhana seperti apakah menyikat gigi dapat membatalkan puasa.
Pertanyaan tersebut menjadi awal dari penjelasan yang lebih luas mengenai ajaran Islam.
Penjelasan tentang Mimpi dan Hidayah
Dalam kesempatan itu, seorang ustaz kemudian memberikan nasihat dan penjelasan tentang mimpi yang dialami Yohanna.
Menurutnya, tidak semua mimpi memiliki makna yang sama.
Ada mimpi yang sekadar bunga tidur dan tidak memiliki arti khusus. Namun ada pula mimpi yang membawa pesan dan membekas dalam ingatan seseorang bahkan setelah ia terbangun.
Ia menjelaskan bahwa jika sebuah mimpi masih diingat dengan sangat jelas, bahkan sampai detail seperti suara yang terdengar, maka mimpi tersebut patut diperhatikan.
Apalagi jika mimpi itu berkaitan dengan persoalan besar seperti keimanan dan agama.
“Kalau cuma mimpi biasa, biasanya setelah bangun kita lupa detailnya,” jelasnya.
Namun pada Yohanna, suara dalam mimpi tersebut bahkan masih ia ingat hingga sekarang.
Ustaz tersebut kemudian menyampaikan sebuah pandangan yang menyentuh hati para hadirin.
Menurutnya, terkadang seseorang tidak hanya memilih jalan, tetapi juga dipilih oleh hidayah.
Ia memandang bahwa pengalaman Yohanna bisa jadi merupakan bagian dari perjalanan spiritual yang lebih besar.
Hidayah yang Datang: “Dia Dipilih, Bukan Memilih”
Dalam penjelasannya, ustaz yang hadir dalam acara tersebut menyampaikan sebuah pandangan yang menarik tentang pengalaman mimpi Yohanna.
Menurutnya, terkadang seseorang tidak sekadar memilih jalan hidupnya sendiri. Ada kalanya seseorang dipilih untuk mendapatkan hidayah.
“Dia dipilih, bukan memilih,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa bisa jadi mimpi yang dialami Yohanna adalah bagian dari proses penyelamatan dirinya agar menjadi bagian dari keluarga besar orang-orang yang mendapatkan petunjuk menuju kebenaran.
Namun ustaz tersebut juga menekankan bahwa hal itu hanyalah kemungkinan.
“Wallahu a‘lam bishawab,” katanya, mengingatkan bahwa hanya Allah yang mengetahui hakikat sebenarnya dari sebuah peristiwa spiritual.
Mengaitkan Mimpi dengan Kitab Suci
Ustaz kemudian mencoba menghubungkan mimpi yang dialami Yohanna dengan salah satu ayat dalam Alkitab, yaitu dari Injil Matius.
Ia meminta Yohanna membaca bagian tersebut, yaitu Matius pasal 7 ayat 21–23.
Ayat itu berbunyi bahwa tidak setiap orang yang memanggil Yesus dengan sebutan “Tuhan” akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan mereka yang melakukan kehendak Bapa di surga.
Dalam bagian selanjutnya disebutkan bahwa pada hari terakhir akan banyak orang yang berkata kepada Yesus:
“Tuhan, Tuhan, bukankah kami bernubuat demi nama-Mu, mengusir setan demi nama-Mu, dan melakukan banyak mukjizat demi nama-Mu?”
Namun Yesus menjawab:
“Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah dari pada-Ku, kamu sekalian pembuat kejahatan.”
Ustaz tersebut menjelaskan bahwa menurut pemahamannya, ayat tersebut menunjukkan bahwa tidak cukup hanya mengaku atau memanggil Tuhan, tetapi harus mengikuti kehendak Tuhan yang sebenarnya.
Penjelasan ini disampaikan untuk membantu Yohanna memahami alasan di balik mimpi yang dialaminya.
Islam Bukan Pelarian
Dalam kesempatan itu, ustaz juga memberikan pesan penting kepada Yohanna.
Ia menegaskan bahwa masuk Islam tidak boleh dijadikan pelarian dari masalah hidup.
“Islam bukan tempat kontrakan,” katanya dengan tegas.
Ia menjelaskan bahwa seseorang tidak boleh masuk Islam hanya karena ingin mencari bantuan materi, popularitas, atau sekadar mencari jalan keluar dari kesulitan hidup.
Karena itu, Yohanna diminta benar-benar memahami keputusan yang ia ambil.
Ia diajak untuk mempelajari keyakinan yang selama ini dianutnya, sekaligus memahami ajaran Islam secara mendalam.
Tujuannya agar keputusannya benar-benar lahir dari keyakinan, bukan sekadar emosi sesaat.
Pandangan tentang Nabi Isa dan Maryam
Dalam penjelasan yang lebih panjang, ustaz tersebut juga berbicara tentang sosok Nabi Isa dan ibunya, Maryam.
Ia menyampaikan bahwa dalam Islam, Maryam memiliki kedudukan yang sangat mulia. Bahkan dalam Al-Qur’an terdapat satu surah yang secara khusus dinamai Surah Maryam.
Selain itu, keluarga Maryam juga dihormati dalam Surah Ali Imran, yang menceritakan tentang garis keturunan keluarga tersebut.
Menurutnya, penghormatan kepada Maryam dalam Islam menunjukkan bahwa Islam juga memuliakan tokoh-tokoh penting yang dikenal dalam tradisi Kristen.
Ia kemudian menceritakan berbagai kisah tentang kecantikan dan kemuliaan Maryam yang sering disebut dalam tradisi sejarah dan budaya Timur Tengah.
Penjelasan ini disampaikan sebagai bagian dari upaya memperlihatkan hubungan antara kisah-kisah para nabi dalam Islam dengan kisah yang juga dikenal dalam tradisi sebelumnya.
Pengalaman Masa Lalu Sang Ustadz
Dalam ceramahnya, ustaz tersebut juga sempat berbagi pengalaman masa lalunya.
Ia mengaku pernah hidup di lingkungan Kristen yang sangat kuat.
Bahkan ia pernah menjadi pelayan gereja sebelum akhirnya memeluk Islam.
Pengalaman itu membuatnya merasa memiliki pemahaman yang cukup tentang tradisi gereja, termasuk beberapa praktik yang menurutnya pernah ia lihat sendiri ketika masih menjadi bagian dari komunitas tersebut.
Cerita tersebut disampaikan sebagai refleksi pribadi tentang perjalanan spiritualnya.
Pesan untuk Yohanna
Menjelang akhir penjelasannya, ustaz tersebut kembali mengingatkan Yohanna tentang makna dari mimpi yang ia alami.
Menurutnya, suara yang didengar Yohanna dalam mimpi bisa jadi merupakan pengingat agar ia tidak menjadikan Nabi Isa sebagai Tuhan.
Ia menjelaskan bahwa dalam Islam, Nabi Isa dipandang sebagai hamba dan utusan Allah, bukan sebagai Tuhan.
Karena itu, menurut pandangannya, ajaran Islam justru menjaga penghormatan terhadap Nabi Isa dengan menempatkannya sebagai nabi yang mulia.
Ia juga menggambarkan sosok Nabi Isa sebagai pribadi yang tampan dan mulia sebagaimana digambarkan dalam berbagai riwayat.
Penjelasan panjang tersebut membuat suasana ruangan menjadi sangat hening. Para hadirin mendengarkan dengan penuh perhatian.
“Banyak yang Terpanggil, Tetapi Sedikit yang Terpilih”
Ustaz yang memandu dialog kemudian melanjutkan penjelasannya dengan mengaitkan perjalanan Yohanna dengan sebuah ungkapan yang sering terdengar dalam khotbah keagamaan:
“Banyak yang terpanggil, tetapi sedikit yang terpilih.”
Ia menjelaskan bahwa ungkapan tersebut juga sering didengar dalam lingkungan gereja. Menurutnya, hal itu menggambarkan bahwa tidak semua orang yang mendengar panggilan spiritual akan benar-benar menjalani jalan tersebut dengan sungguh-sungguh.
“Banyak orang menjadi mualaf,” ujarnya.
“Tapi yang benar-benar istiqamah, yang benar-benar menjalani dengan sungguh-sungguh, hanya sedikit.”
Ia juga menyinggung bahwa ada orang yang masuk agama tertentu karena berbagai alasan, bahkan terkadang alasan yang tidak berkaitan dengan keyakinan spiritual.
Karena itulah ia kembali menekankan kepada Yohanna bahwa keputusan yang ia ambil harus dilandasi keyakinan yang kuat.
Dalam pandangannya, seseorang yang benar-benar merasa tenang dan nyaman dalam keyakinan barunya biasanya adalah mereka yang memang mendapatkan petunjuk secara tulus.
Ia kemudian menyinggung kembali kakak Yohanna, Ester, yang sebelumnya menyatakan bahwa dirinya tidak ingin kembali ke keyakinan lamanya karena telah merasa menemukan ketenangan.
Membuka Kitab Suci sebagai Bahan Diskusi
Setelah itu, ustaz meminta agar salah satu ayat dari Alkitab dibuka melalui ponsel.
Ia mengarahkan untuk mencari 1 Korintus pasal 8 ayat 4.
Menurutnya, ayat tersebut menarik untuk dibaca karena berbicara tentang konsep ketuhanan.
Ayat tersebut kemudian dibacakan, baik dalam terjemahan bahasa Indonesia maupun dalam versi yang ditampilkan dalam huruf Arab.
Isi ayat tersebut menjelaskan bahwa:
“Tidak ada berhala di dunia dan tidak ada Allah selain Allah yang esa.”
Ayat tersebut kemudian menjadi bahan diskusi dalam forum tersebut.
Ustaz menjelaskan bahwa menurut pemahamannya, ayat itu menegaskan konsep ketuhanan yang tunggal.
Ia lalu mengajak para hadirin untuk melihat teks tersebut secara langsung, bahkan menunjukkan tulisan Arab yang menurutnya mengandung ungkapan yang mirip dengan kalimat tauhid.
Penjelasan ini disampaikan dengan tujuan menunjukkan adanya kesamaan konsep monoteisme dalam berbagai kitab suci.
Seruan untuk Mencari Kebenaran
Dalam bagian ceramahnya, ustaz juga menyampaikan pesan kepada siapa saja yang menonton acara tersebut, termasuk mereka yang berasal dari latar belakang Kristen atau Katolik.
Ia mengajak semua orang untuk mencari kebenaran dengan hati yang terbuka dan tidak mengeraskan hati terhadap pencarian spiritual.
Pesan tersebut disampaikan dengan nada yang cukup emosional.
Ia menegaskan bahwa setiap orang memiliki kesempatan untuk mencari jalan yang menurut mereka paling benar dalam hubungan dengan Tuhan.
Pendekatan Logika dalam Diskusi Keagamaan
Dalam bagian berikutnya, ustaz menggunakan pendekatan logika untuk menjelaskan pandangannya mengenai konsep ketuhanan.
Ia mengajak hadirin untuk memikirkan kembali narasi tentang kelahiran Yesus yang dalam tradisi Kristen diyakini sebagai Tuhan yang menjelma menjadi manusia.
Dengan gaya retorika yang santai dan kadang diselingi humor, ia mengajak audiens berpikir tentang bagaimana seorang bayi yang lahir, menangis, dan tumbuh seperti manusia pada umumnya kemudian dipahami sebagai Tuhan.
Tujuannya adalah mendorong audiens untuk merenungkan kembali konsep tersebut dari sudut pandang rasional.
Menurutnya, pendekatan logika sering digunakan dalam diskusi teologis untuk membantu orang memahami perbedaan pandangan antaragama.
Ayat tentang “Hidup yang Kekal”
Diskusi kemudian berlanjut dengan membuka bagian lain dari Alkitab, yaitu Yohanes 17 ayat 3.
Ayat tersebut dibacakan sebagai berikut:
“Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus.”
Ayat ini kembali menjadi bahan refleksi dalam dialog yang berlangsung.
Ustaz menekankan bagian yang menyebut “satu-satunya Allah yang benar” serta kalimat yang menyatakan bahwa Yesus adalah yang diutus.
Menurut penjelasannya, ayat tersebut dapat dipahami sebagai penegasan bahwa Tuhan adalah satu dan bahwa Yesus merupakan utusan Tuhan.
Penjelasan tersebut menjadi bagian dari argumen yang ia sampaikan dalam diskusi teologis di acara tersebut.
Suasana yang Semakin Khidmat
Menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadan, suasana ruangan terasa semakin khidmat.
Para hadirin menyimak dengan penuh perhatian, sementara Yohanna tetap berdiri dengan tenang di depan.
Perjalanan spiritual yang membawanya ke momen itu terasa semakin nyata.
Keputusan yang akan ia ucapkan melalui dua kalimat syahadat sebentar lagi akan menjadi titik awal babak baru dalam kehidupannya.
Detik-Detik Yohanna Stefani Mengucapkan Syahadat
Menjelang waktu berbuka puasa di bulan Ramadan, suasana di ruangan itu terasa semakin khidmat. Semua yang hadir diminta menyadari bahwa mereka bukan sekadar penonton, tetapi juga saksi atas momen penting dalam kehidupan seseorang.
Salah satu ustaz kemudian mengingatkan bahwa kehadiran setiap orang di tempat tersebut bukanlah kebetulan.
Menurutnya, semua yang hadir telah “dipilih” untuk menyaksikan peristiwa tersebut.
“Banyak orang berjanji akan datang ke suatu acara, tetapi akhirnya tidak jadi datang. Ada yang ban motornya kempes, ada yang sakit, ada yang tiba-tiba ada urusan lain. Kalau Allah tidak memilih seseorang untuk hadir, dia tidak akan sampai di tempat itu,” ujarnya.
Karena itu, para hadirin diajak untuk bersyukur karena dapat menyaksikan langsung momen penting tersebut.
Memastikan Keputusan Datang dari Hati Sendiri
Sebelum prosesi syahadat dimulai, Yohanna kembali ditanya beberapa pertanyaan untuk memastikan bahwa keputusannya benar-benar datang dari dirinya sendiri.
“Apakah kakakmu memaksa kamu masuk Islam?”
“Tidak.”
“Apakah ada yang mengancam kamu?”
“Tidak.”
“Apakah kamu punya pacar yang meminta kamu masuk Islam?”
“Tidak.”
“Apakah ada yang menjanjikan uang atau pekerjaan jika kamu masuk Islam?”
“Tidak.”
Yohanna kemudian menegaskan bahwa keputusannya murni karena keinginannya sendiri.
“Keinginan untuk menjadi seorang muslimah,” jawabnya.
Awal Perjalanan Belajar Islam
Setelah itu, ia diingatkan bahwa mengucapkan syahadat hanyalah langkah pertama.
Seorang mualaf perlu terus belajar memahami ajaran Islam, mulai dari hal-hal dasar seperti wudu, salat, hingga mengenal sosok Nabi Muhammad.
“Syahadat bukan hanya diucapkan, tapi juga harus diikuti dengan belajar Islam,” ujar ustaz tersebut.
Yohanna pun menyatakan kesiapannya untuk belajar lebih dalam tentang ajaran Islam dan mengenal Nabi Muhammad.
Saat Dua Kalimat Syahadat Diucapkan
Akhirnya tibalah momen yang paling ditunggu.
Yohanna diminta mengikuti ucapan ustaz secara perlahan dan jelas agar dapat didengar oleh para saksi yang hadir.
Dengan suara tenang, ia mulai mengucapkan kalimat demi kalimat.
“Bismillahirrahmanirrahim…”
Kemudian dilanjutkan dengan dua kalimat syahadat:
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.”
“Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”
Kalimat itu diucapkan dengan penuh kesadaran, menandai langkah baru dalam perjalanan hidupnya.
Resmi Menjadi Muslim
Setelah syahadat selesai diucapkan, ustaz kembali bertanya kepadanya.
“Hari ini agamamu apa?”
Dengan suara jelas, Yohanna menjawab:
“Islam.”
Jawaban itu langsung disambut oleh para hadirin dengan seruan takbir.
“Allahu Akbar!, Allahu Akbar! Allahu Akbar!”
Suasana ruangan pun dipenuhi rasa haru dan syukur. Prosesi pensyahadatan sore itu menjadi penutup yang penuh makna sebelum para hadirin melanjutkan ibadah magrib di bulan Ramadan.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Pendiri Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
PUSAT REKENING DONASI MUALAF NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. PUSAT MUALAF AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
PUSAT MUALAF AYA SOFYA

MEDIA AYA SOFYA
Situs web: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: PUSAT MUALAF AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ALAMAT:
MALANG: INSTITUT INSAN MOKOGINTA, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO : RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA : Kabupaten Purimas B3 No. 57 B Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG : Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat 17114