Pada hari Rabu tepatnya tanggal 10 Maret 2021, MCN Aya Sofya mendapatkan kunjungan dari beberapa mahasiswa dan petinggi Pondok Pesantren Gontor dan Universitas Darussalam Gontor (UNIDA). Kunjungan ini dalam rangka menjalin kerjasama tentang pendidian terutama di bidang dakwah. Kita ketahui bahwa lembaga kami begerak dibidang advokasi dan edukasi para mualaf di seluruh pelosok negeri.
Perlu kita ketahui Mualaf Center Nasional Aya Sofya didirikan oleh Ust. Insan LS Mokoginta. Sebelum beliau meninggal, Pondok Pesantren Gontor kerap kali mendatangkan Almarhum untuk mengisi kuliah / kelas Kristologi di Pesantrennya. Harapan mendapatkan bekal untuk berdakwah dan paling tidak lebih memantapkan diri terhadap agama Islam.
Kali ini kami akan berbagi kisah dari seorang pendeta yang masuk Islam. Beliau adalah seorang mantan Pendeta Karismatik, melalui proses yang panjang dan berat akhirnya memeutuskan untuk masuk Islam. Sekarang ini beliau giat membagi ilmu seputar kristologi. Beliau adalah Koh Agus Tan.
Beliau akan membagikan kisahnya dari seorang pendeta yang akhirnya memutuskan untuk masuk Islam. Membagikan banyak pelajaran kepada kita semua tentang pentingnya belajar ilmu Kristologi. Meski banyak umat Islam yang masih menganggap aneh dan alergi saat belajar mengenai Kristologi. Padahal mempelajari agama orang lain justru untuk membentengi aqidah kita karena mereka itu diajarkan untuk memurtadkan orang dengan amanat agungnya yaitu:
“Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus”. [Matius 28: 19]
Ayat ini memang menjadi pegangan oleh umat Kristen untuk menyebaran agamanya kepada seluruh umat manusia. Sebagaimana dalam Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa sebelum kita mengikuti milah mereka maka mereka tidak akan berhenti bahkan sampai hari kiamat tiba pun pasti mereka akan terus mencoba untuk memurtadkan orang Islam.
Artinya: Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu. [QS. Al-Baqarah: 120]
Bulan Ramadhan adalah bulan yang sangat mulia karena kemuliaan bulan Ramadhan menjangkau seluruh bulan-bulan dalam 12 bulan. Artinya bahwa bulan Ramadhan adalah Sayyidul Suhur (sebaik-baiknya) bulan. Tentu ada alasannya karena di bulan Ramadhan banyak kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada hambah-hambanya selama satu bulan bulan penuh, diantara kenikmatan itu adalah bahwa Allah akan memenangan umat Islam dari musuh-musuh kita, yakni:
Di dunia ini ada dua jenis agama yang dibedakan berdasarkan sumbernya berdasarkan hasil posdcast yang dilakukan oleh Mualaf Center Merauke bersama Gus Mbhethik di Channel Youtube Mualaf Center Aya Sofya.
Sebagaimana yang pertama kita mengenal agama Samawi yang bersumber dari wahyu seperti Islam disampaian oleh Nabi Muhammad, Yahudi oleh Nabi Musa, dan Nasrani (bukan Kristen) oleh Nabi Isa. Kedua, agama Ardhi agama yang tidak berdasarkan pada wahyu atau meski penuh kontroversi dan sulit disebut agama. Biasanya hanya disebut dengan sekte, ajaran, atau aliran kepercayaan.
Agama Ardhi berkembang berdasarkan budaya, daerah, pemikiran seseorang yang kemudian diterima secara global. Serta tidak memiliki kitab suci, bukan berlandaskan wahyu, dan berdasarkan ajaran dari seseorang.
Dalam kajian Mualaf Center Malang menyebutkan bahwa Rasulullah pernah mengadakan perjanjian dengan beberapa kelompok umat Kristen pada zamannya. Perjanjian yang dibuat kedua belah pihak itu menyangkut banyak hal, sebagaimana masalah keamanan, perlindungan, hingga jaminan keselamatan.
Menariknya, perjanjian Rasulullah dengan orang-orang Kristen tersebut ‘berjalan dengan baik.’ Kedua belah pihak menepatinya dan tidak ada yang melanggarnya sampai beliau wafat. Rasulullah mengadakan perjanjian dengan tiga kelompok umat Kristen, yakni:
Pertama, orang-orang Kristen Najran.
Kajian Mualaf Center Malang menjelaskan bahwa suatu ketika Rasulullah mengundang kaum Najran untuk datang ke Madinah. Umat Kristen Najran kemudian mengirim rombongan berisi 14 orang untuk berdiskusi dan berdebat dengan Nabi Muhammad. Rombongan umat Kristen Najran itu dipimpin tiga orang, yakni Al-Aqib sebagai pemimpin rombongan. As-Sayyid sebagai pengatur perjalanan, dan Abul Harits sebagai penanggung jawab urusan keagamaan.
Setiba di Madinah, para utusan itu langsung menemui Rasulullah, mereka mengucapkan salam kepada beliau, dan beliau menjawab salam mereka. Utusan kaum Najran disambut baik oleh Rasulullah dan umat Islam pada saat itu. Setelah itu Rasululah melakukan tanya jawab dengan mereka dan menyeru mereka untuk masuk Islam namun rombongan Kristen Najran menolaknya. Sehingga mereka terlibat dalam suatu perdebatan tentang persoalan teologi, definisi Muslim, status Nabi Isa AS hingga politik dan pemerintahan.