Pada kajian di Mualaf Center Madiun perkembangan zaman, pengetahuan, dan teknologi memberikan dampak tersendiri dalam tatanan masyarakat. Terutama yang menjadi sasaran adalah para pemuda yang melek teknologi. Pastinya ada sisi positif dan negatif dari setiap kejadian, hal itu tergantung bagaimana kita mensikapinnya.
Tapi tak sedikit yang terlalu terjerumus dalam kenikmatan yang membuat lalai dan sedikit demi sedikit dapat mengkikis keimanan kita. Mereka terlena dengan kenikmatan yang dihasilkan dari kemajuan teknologi, hingga lupa untuk beribadah dan mendalami agama Islam. Bahkan ada bagian dari kit ayang tidak sadar jika telah terjerumus dalam ke syirikan.
Kajian Mualaf Center Medan pada kali ini akan membahas Sikap yang seharusnya dimiliki oleh umat Islam saat berhadapan dengan kaum munafik. Ada seseorang yang bertanya tentang bagaimana cara menjawab orang Nasrani yang menghina Rasulullah ketika menikahi Aisyah di usia yang masih sangat muda?
Menyambut kemenangan Islam Mualaf Center Semarang menjelaskan kemuliaan tentang Bulan Ramadhan yang menjangkau seluruh bulan-bulan dalam 12 bulan. Bulan Ramadahan adalah Sayyidul Syuhur (sebaik-baiknya bulan). Tentu ada suatu alasannya di bulan Ramadhan penuh kenikmatan-kenikmatan yang Allah anugerahkan kepada hambah-hambanya selama satu bulan penuh.
Seorang sahabat perna bertanya kepada Rasulullah SAW dengan mengatakan: “Ya Rasulullah, Tuhan kita ini apakah dekat atau jauh? Kalau dia dekat maka kami akan berdoa kepadanya dengan cara pelan, Tetapi jika Rabb kita jahu maka kami akan memanggilnya”. Mendengar hal itu Rasulullah hanya terdiam sampai suatu ketika malaikat Jibril datang membawah firman Allah berikut ini:
Mualaf Center Palu menjelaskan bahwa dalam mengambil keputusan tentang urusan dunia pastinya harus bermusyawarah, tapi jika dalam urusan hal ibadah tidak semestinya bermusyawarah. Artinya kita tidak perlu bermusyawarah saat hendak melaksanakan kewajiban kita. Sebagaimana Allah Ta’ala telah memerintahkan kita untuk menunaikan shalat 5 waktu, sehingga ketika sudah mendengar adzan maka harus segera menunaikan ibadah shalat.
Coba perhatikan Al-Qur’an, didalamnya banyak ayat-ayat mengingatkan tentang shalat dan zakat (Infaq). Sebagaimana firman Allah berikut ini yang telah banyak diketahuo oleh umat Islam.
Artinya: (yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka. (QS. Al-Baqarah:3)
Ayat ini menjelaskan bahwa Al-Qur’an adalah petunjuk bagi orang-orang yang beriman. Dalam ayat ini, Allah juga menjelaskan bahwa jika kita ingin menjadi bagian dari orang-orang beriman maka kita harus mengetahui “Al-Mutaqin” yang dimaksud oleh Allah. Sesungguhnya yang dimaksud adalah orang memeiliki keyakinan pada hal gaib (Allah, malaikat, surga, neraka, dan segala sesuatu yang ghaib lainnya) mereka percaya walaupun mereka tidak bisa melihat dengat matanya sendiri.
Mualaf Center Ambon berbagi kisah bahwa pada zaman dahulu tidak ada penerangan lampu. Sehingga saat malam hari langit akan terlihat penuh dengan bintang-bintang. Kisah ini di riwayat oleh Bukhari mengatakan bahwa Rasulullah perna keluar di malam hari saat langit dalam keadaan terang dan bintang-bintang terlihat jelas gemerlap. Rasulullah berkata kepada para sahabat: “apa kalian melihat bintang-bintang itu?”. Kata para sahabat: “tentu sangat jelas dan terang, wahai Rasulullah”.
Rasulullah kemudian berkata: “demi dzat yang ubun-ubunku ada dalam genggamannya, demi Allah, kelak di surga akan melihat istana-istana diatas kalian seperti kalian melihat bintang-bintang dari bumi”. Lalu para sahabat bertanya: “wahai Rasulullah, apakah itu tempatnya para nabi-nabi?”. Rasulullah berkata: “bukan, itu adalah tempatnya orang-orang saleh dari umatku”.