“Mengingat Allah itu obat, sedangkan mengingat (menyebutkan keburukan) manusia itu penyakit.”
Tanda kebangkrutan ketika kita sibuk usil dengan urusan orang lain dan bersangka buruk kepada mereka.
Adapun sibuk menyebutkan akhlak mulia dan sejarah kehidupan Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam dan para sahabat serta orang-orang shalih merupakan keberuntungan.
Seringkali manusia tidak menyadari dan tidak mengetahui akan kekurangan dirinya. Merupakan nikmat Allah yang besar ketika kita dikaruniai guru dan sahabat yang mengingatkan kita akan sifat buruk yang masih melekat pada kepribadian kita. Orang beriman merupakan cermin bagi saudaranya.
Di zaman sekarang ini, langka kita dapatkan pendidik dan sahabat yang tulus dan berusaha untuk mengingatkan kekurangan kita.
Diantara cara Allah agar kita memperbaiki diri selain lewat guru dan sahabat adalah dengan pengalaman hidup. Pengalaman merupakan salah satu dari guru terbaik.
Guruku pernah bercerita tentang pengalaman hidupnya. Suatu kejadian yang akhirnya merubah sifat buruk yang masih melekat pada dirinya. Yaitu sifat ingin menang sendiri dan tidak mau mengalah ketika berselisih dengan orang lain.
وَلَمَّا جَآءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِىٓءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, beliau merasa resah dan sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan beliau berkata, Ini adalah hari yang amat sulit”.” (QS. Hud: 77)
Nabi Luth Alaihis Salam tidak mengetahui bahwa tamu-tamunya itu para malaikat. Mereka menyerupai tiga orang pemuda yang sangat tampan. Beliau merasa resah dan sempit dadanya bukan karena tidak suka kedatangan tamu tapi karena khawatir tamu-tamunya akan mendapatkan perlakuan buruk dari kaumnya.
Allah berfirman,
وَجَآءَهُۥ قَوْمُهُۥ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِن قَبْلُ كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِى هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِى ضَيْفِىٓ ۖ أَلَيْسَ مِنكُمْ رَجُلٌ رَّشِيدٌ “Dan kaumnya mendatanginya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan keji (homoseksual). Luth berkata, “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagi kalian, maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini! Tidak adakah di antara kalian seorang yang Rasyid (berakal)? (QS. Hud: 78)
Ambisi terhadap kehormatan di dunia merupakan batu sandungan bagi setiap muslim dalam menggapai cita-citanya untuk mendapatkan ridha dan cinta Allah. Ketika ia lebih mengutamakan mencari popularitas, pengaruh, jabatan dan kedudukan dari ridha-Nya, ia akan berjalan menyimpang dari jalan Allah.
Diantara ciri orang yang berambisi untuk memperoleh kehormatan dari manusia:
Gila hormat dan pujian serta anti terhadap kritikan.
Mudah berfatwa meskipun tanpa ilmu.
Suka menjilat dan berbuat nifak.
Suka memamerkan amal dan membanggakan keberhasilannya.
Mudah berbohong, menggunjing, memfitnah orang lain dan berbuat dzalim.
Sesungguhnya surga sebagaimana penjelasan Al-Iman ibn Qayyim rahimahullahu ta’ala adalah sesuatu yang baik, murni, dan tidak bisa masuk ke dalamnya kecuali orang-orang baik dan bersih dari segala dosa. Kita tahu bahwasanya dalam kehidupan manusia tidak luput dari dosa-dosa seperti dosa kesyirikan, bid’ah, maksiat dengan Allah Ta’ala, dan terkadang secara sengaja atau pun tidak telah berbuat dzholim kepada orang lain.
Orang yang akan masuk surga adalah orang yang dosa-dosanya diampuni oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah sebutkan tentang orang-orang baik dalam firman-Nya sebagai berikut:
ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيْكُمُ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ Artinya: (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. An-Nahl: 32)