Terjadi lagi. Insya Allah pada tanggal 7-8 November 2020, Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia bersama Ust. Ahmad Kainama (Mantan Pendeta, Pakar Kristologi Nasional) dan gabungan ormas lainnya akan mensyahadatkan lebih dari 40 KK atau ratusan Suku Wana (Tau Taa Wana) di pedalaman Lambentana, pegunungan Tokala, Kab. Morowali Utara, Sulawesi Tengah.
Sulawesi Tengah tepatnya di pegunungan Gawalise Donggala terdapat suku yang bermukim di pedalaman hutan dan pegunungan, suku tersebut bernama suku Da’a. Mereka pada awalnya menganut kepercayaan Animisme sebagai ajaran nenek moyangnya kemudian memeluk agama Islam. Namun karena minimnya kepedulian kita terhadap saudara se-Iman di pelosok negeri didukung dengan datangnya para misionaris Kristen. Akhirnya dapat mengubah keyakinan mereka secara drastis hingga 100% masyarakat suku Da’a menjadi murtad dan akhirnya beragama Kristen. Hingga saat ini telah banyak terbangun gereja dan tempat pendidikan (Kristen) disana.
Saudara kita para dhuafa di pelosok Jawa Timur sedang membutuhkan uluran tangan kita dengan memberikan donasi baju terbaik agar dapat mereka pakai dalam keseharian. Mengundang ummat sekalian dalam “GERAKAN DONASI BAJU 1 KONTAINER: BERSIHKAN HATI RAPIKAN LEMARI” yang diadakan oleh Masjid Nurul Iman bersama dengan Mualaf Center Nasional AYA SOFYA sebagai bentuk kepedulian kami terhadap para ummat khususnya para dhuafa di pelosok Nusantara.
Suku Tau Taa Wana merupakan suku pedalaman yang tinggal di pegunungan Tokala, Kab. Morowali Utara, Sulawesi Tengah. Masyarakat pedalaman yang menjadi binaan Mualaf Center Aya Sofya. Kondisi Suku Tau Taa Wana sangat mengharukan dan jauh dari kenikmatan seperti yang kita peroleh dan rasakan saat ini. Mereka tinggal di gubuk reyot yang tidak layak disebut sebagai rumah manusia. Berdinding anyaman bambu dengan banyak lubang yang berpotensi sebagai jalan masuknya hewan liar dari hutan, bertiang kayu yang rapuh, serta beratapkan dedaunan kering.
Hanya memiliki satu petak sempit, dapur dan tempat untuk tidur menjadi satu. Pakaian dan peralatan dapur lainnya bergantungan dimana-mana, mereka tidak mempunyai bangku, lemari, jendela, bahkan pintu. Sungguh tidak layak disebut rumah bukan?
Qurban untuk mualaf dhuafa di pedalaman. Berqurban bukan hanya ibadah tahunan yang dilakukan oleh ummat Islam. Namun berqurban juga merupakan bukti ketulusan cinta Ilahi yang sejati, sekaligus bukti aktualisasi ketaqwaan seorang hamba kepada Allah Ta’ala. Daging dan darah dari hewan yang diqurbankan sama sekali tidak sampai kepada Allah. elainkan adalah kualitas taqwa yang ada pada diri seorang Muqarib (orang yang berkurban). Firman Allah tertuang dalam al-Qur’an surah Al-Kautsar ayar 2 yang artinya: