Jabrul Khawatir (menggembirakan orang yang sedih / galau / sedang tertimpa musibah dan menghibur/menjaga perasaan orang lain) merupakan akhlak mulia dalam Islam.
Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam banyak kesempatan selalu menggembirakan dan menghibur keluarga dan sahabatnya.
Pernah suatu hari, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam diundang makan oleh seorang nenek tua yang miskin. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam orang yang sangat sibuk dengan berbagai macam urusan umat. Beliau sibuk memimpin masyarakat untuk berjihad dan berjuang di jalan Allah. Tapi beliau masih bisa menyempatkan diri untuk memenuhi undangan nenek tua yang miskin tersebut.
وَلَمَّا جَآءَتْ رُسُلُنَا لُوطًا سِىٓءَ بِهِمْ وَضَاقَ بِهِمْ ذَرْعًا وَقَالَ هَٰذَا يَوْمٌ عَصِيبٌ “Dan tatkala datang utusan-utusan Kami (para malaikat) itu kepada Luth, beliau merasa resah dan sempit dadanya karena kedatangan mereka, dan beliau berkata, Ini adalah hari yang amat sulit”.” (QS. Hud: 77)
Nabi Luth Alaihis Salam tidak mengetahui bahwa tamu-tamunya itu para malaikat. Mereka menyerupai tiga orang pemuda yang sangat tampan. Beliau merasa resah dan sempit dadanya bukan karena tidak suka kedatangan tamu tapi karena khawatir tamu-tamunya akan mendapatkan perlakuan buruk dari kaumnya.
Allah berfirman,
وَجَآءَهُۥ قَوْمُهُۥ يُهْرَعُونَ إِلَيْهِ وَمِن قَبْلُ كَانُوا۟ يَعْمَلُونَ ٱلسَّيِّـَٔاتِ ۚ قَالَ يَٰقَوْمِ هَٰٓؤُلَآءِ بَنَاتِى هُنَّ أَطْهَرُ لَكُمْ ۖ فَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ وَلَا تُخْزُونِ فِى ضَيْفِىٓ ۖ أَلَيْسَ مِنكُمْ رَجُلٌ رَّشِيدٌ “Dan kaumnya mendatanginya dengan bergegas-gegas. Dan sejak dahulu mereka selalu melakukan perbuatan-perbuatan keji (homoseksual). Luth berkata, “Hai kaumku, inilah puteri-puteriku, mereka lebih suci bagi kalian, maka bertakwalah kalian kepada Allah dan janganlah kalian mencemarkan (nama)ku terhadap tamuku ini! Tidak adakah di antara kalian seorang yang Rasyid (berakal)? (QS. Hud: 78)
Ambisi terhadap kehormatan di dunia merupakan batu sandungan bagi setiap muslim dalam menggapai cita-citanya untuk mendapatkan ridha dan cinta Allah. Ketika ia lebih mengutamakan mencari popularitas, pengaruh, jabatan dan kedudukan dari ridha-Nya, ia akan berjalan menyimpang dari jalan Allah.
Diantara ciri orang yang berambisi untuk memperoleh kehormatan dari manusia:
Gila hormat dan pujian serta anti terhadap kritikan.
Mudah berfatwa meskipun tanpa ilmu.
Suka menjilat dan berbuat nifak.
Suka memamerkan amal dan membanggakan keberhasilannya.
Mudah berbohong, menggunjing, memfitnah orang lain dan berbuat dzalim.
Sesungguhnya surga sebagaimana penjelasan Al-Iman ibn Qayyim rahimahullahu ta’ala adalah sesuatu yang baik, murni, dan tidak bisa masuk ke dalamnya kecuali orang-orang baik dan bersih dari segala dosa. Kita tahu bahwasanya dalam kehidupan manusia tidak luput dari dosa-dosa seperti dosa kesyirikan, bid’ah, maksiat dengan Allah Ta’ala, dan terkadang secara sengaja atau pun tidak telah berbuat dzholim kepada orang lain.
Orang yang akan masuk surga adalah orang yang dosa-dosanya diampuni oleh Allah Ta’ala. Sebagaimana Allah sebutkan tentang orang-orang baik dalam firman-Nya sebagai berikut:
ٱلَّذِينَ تَتَوَفَّىٰهُمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ طَيِّبِينَ ۙ يَقُولُونَ سَلَٰمٌ عَلَيْكُمُ ٱدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ Artinya: (yaitu) orang-orang yang diwafatkan dalam keadaan baik oleh para malaikat dengan mengatakan (kepada mereka): “Salaamun’alaikum, masuklah kamu ke dalam surga itu disebabkan apa yang telah kamu kerjakan”. (QS. An-Nahl: 32)
Kajian Mualaf Center Ambon menjelaskan bahwa dalam Al-Qur’an telah banyak dalil tentang keutamaan ilmu, bahwa ilmu adalah bagian dari ibadah sebagaimana sholat dan puasa yang akan mendapatkan pahala. Demikian juga belajar dan mengajar, sesungguhnya kita telah beribadah kepada Allah. Diantara ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keagungan atau keutamaan ilmu, Allah tidak perna memerintahkan Rosulullah untuk meminta tambahan apapun kecuali tambahan ilmu.
فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا Artinya: Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur’an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: “Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan”. (QS. Thaha: 114)