Dalam suasana penuh keakraban, sebuah forum dialog lintas agama diselenggarakan untuk mempertemukan dua sisi keyakinan: Islam dan Kristen. Tujuan utamanya bukan untuk berdebat, melainkan membuka ruang akademik guna memahami dan membandingkan ajaran kedua agama secara ilmiah dan jujur. Mempelajari kebenaran Al-Qur’an dan ayat-ayat Alkitab.
Sejak awal, pembicara menegaskan bahwa kegiatan seperti ini dilindungi oleh hukum negara. Indonesia menjamin kebebasan dalam comparative religion, perbandingan agama sebagaimana diajarkan di Fakultas Ushuluddin universitas Islam maupun sekolah teologi Kristen.
“Yang tidak boleh itu penistaan agama,” tegas sang pembicara.
“Menghina Allah, menghina Rasulullah, termasuk menghina Yesus Kristus — itu semuanya pidana.”
Tiga Versi Alkitab yang Berbeda
Sebagai bahan kajian, pembicara menunjukkan tiga versi Alkitab:
- Alkitab Terbitan Lembaga Alkitab Indonesia (TB) — versi klasik yang masih banyak digunakan di gereja.
- Alkitab TB2 (edisi 2023) — versi terbaru yang diklaim telah diperbarui dari edisi sebelumnya.
- Alkitabul Muqaddas (berbahasa Arab) — digunakan oleh komunitas Kristen Ortodoks Koptik di Mesir.
Kitab terakhir menjadi menarik karena berbahasa Arab, bahasa yang masih satu rumpun dengan bahasa Aram, bahasa yang digunakan oleh Yesus Kristus.
“Yesus adalah orang Arab,” ujar pembicara.
“Bahasanya adalah Aram, satu rumpun dengan bahasa Arab. Maka Alkitabul Muqaddas ini justru lebih mendekati teks aslinya.”
Yesus: Nabi atau Tuhan?
Pertanyaan besar yang menjadi inti perbedaan Islam dan Kristen adalah: siapa sebenarnya Yesus Kristus?
Dalam ajaran Kristen, Yesus diyakini sebagai Tuhan. Namun dalam Islam, Isa Al-Masih diakui sebagai nabi dan rasul Allah. Pembicara mengajak peserta untuk menelaah hal ini secara akademik berdasarkan naskah Alkitab, bukan dogma.
“Tidak ada satu pun ayat di dalam Alkitab di mana Yesus secara tegas mengatakan: Aku adalah Tuhan atau Aku adalah Allah. Kalau ada, saya kasih hadiah satu triliun rupiah,” ujarnya disambut tawa peserta.
Pernyataan ini bukan tantangan, melainkan ajakan untuk membaca kitab secara objektif. Sebab dalam Alkitab sendiri, banyak ayat yang menegaskan bahwa Yesus adalah manusia pilihan Allah, bukan Tuhan.
Bukti dari Kitab Markus: Yesus Merasa Lapar
Pembicara mengutip Markus 11:12–14:
“Keesokan harinya, sesudah Yesus dan kedua belas murid-Nya meninggalkan Betania, Yesus merasa lapar…”
Dari kisah ini, diambil kesimpulan logis:
- Yesus merasa lapar — lapar adalah sifat makhluk, bukan Tuhan.
- Yesus lupa bahwa bukan musim buah ara — lupa adalah sifat manusia.
- Yesus tidak mengetahui bahwa pohon itu tak berbuah — keterbatasan ilmu, bukan sifat Tuhan yang Maha Mengetahui.
- Yesus mengutuk pohon itu — menunjukkan emosi manusiawi.
Dengan demikian, kisah ini menggambarkan bahwa Yesus adalah utusan Allah, bukan Tuhan itu sendiri.
Yesus yang Berdoa: Bukti Seorang Hamba
Markus 1:35 menyebut:
“Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke tempat yang sunyi, dan berdoa di sana.”
Dalam Alkitabul Muqaddas, kata “pagi-pagi benar” diterjemahkan “Subhi” — waktu subuh.
“Siapa lagi yang bangun subuh-subuh untuk berdoa selain umat Islam?” ujar pembicara sambil tersenyum.
Ini menunjukkan bahwa Yesus adalah hamba Allah yang beribadah sebagaimana umat Islam melaksanakan salat.
Yesus Salat Semalaman
Lukas 6:12 mencatat:
“Yesus pergi ke bukit untuk berdoa, dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.”
Dalam versi Arab disebut shalat lillah, “salat kepada Allah”. Artinya Yesus bukan sekadar berdoa, tetapi melaksanakan ibadah dengan tata cara dan waktu tertentu.
“Kalau Yesus Tuhan, apakah Tuhan berdoa kepada diri-Nya sendiri?” tanya pembicara.
“Tidak. Ia berdoa karena Ia hamba Allah.”
Yohanes 20:17 – Allahku dan Allahmu
Yesus berkata kepada Maria Magdalena:
“Aku akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu.”
Pernyataan ini menegaskan bahwa Yesus memiliki Tuhan yang sama dengan manusia lainnya.
Ungkapan “Bapa” adalah metafora kasih sayang, bukan hubungan biologis atau ketuhanan.
Dari semua penjelasan, pembicara menegaskan bahwa Yesus adalah:
- Seorang nabi yang berdoa kepada Allah,
- Tunduk pada kehendak Allah,
- Tidak pernah mengaku sebagai Tuhan.
“Yesus adalah Rasulullah yang membawa risalah tauhid, mengajak manusia menyembah Allah Yang Esa.”
Pergulatan Hati SiMualaf
SiMualaf masih ingat betul bagaimana hatinya bergetar setiap kali mendengar istilah Anak Allah.
Dulu, sebagai seorang Kristen, ia memahami istilah itu secara literal. Namun setelah belajar mendalam, ia menemukan bahwa “Anak Allah” hanyalah ungkapan kasih, bukan makna ketuhanan.
Ia pernah melihat foto anak-anak yatim bertuliskan “Mereka adalah anak-anak Allah.”
“Kalau begitu, kenapa hanya Yesus yang dituhankan?” pikirnya.
Yesus Diakui Sebagai Nabi
Ayat Yohanes 4:19 membuatnya tersentak:
“Tuhan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang nabi.”
Namun dalam versi terjemahan baru, kata “Tuhan” diganti menjadi “Tuan”. Dalam bahasa Yunani Kurios dan dalam Arab Sayyid berarti “pemimpin” atau “guru”, bukan “Tuhan”.
“Kalau Yesus memang Tuhan,” jelas pembimbingnya,
“harusnya ayat itu berbunyi: Engkau adalah Allah. Tapi tidak pernah ada.”
Dari Rabbi ke Sayyid: Pergeseran Makna
Dalam Yohanes 13:13, Yesus berkata:
“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat.”
Namun teks aslinya menggunakan kata Rabbi (Guru) dan Kurios (Tuan). Jadi seharusnya diterjemahkan:
“Kamu menyebut Aku Guru dan Tuan, dan memang benar.”
Perubahan kecil dari “Tuan” menjadi “Tuhan” ternyata berdampak besar terhadap doktrin ketuhanan Yesus.
Syahadat Yesus dalam Injil
Dua ayat yang disebut sebagai “syahadat Yesus”:
- Markus 12:29
“Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”
Ini setara dengan Laa ilaha illallah.
- Yohanes 17:3
“Mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang Engkau utus.”
Di sini Yesus menyatakan dirinya sebagai utusan Allah — bukan Allah itu sendiri.
“Saya tidak berpindah Tuhan,” ujar SiMualaf.
“Saya hanya kembali kepada Tuhan yang disembah Yesus.”
Logika Kebenaran dan Perenungan Akhirat
Pembimbingnya berkata:
“Jika di akhirat ternyata Alkitab salah, siapa yang selamat?”
“Yang mengikuti Tuhan Yang Esa,” jawab SiMualaf.
“Dan jika Alkitab benar,” lanjut sang ustaz,
“yang tetap menjalankan ajaran Yesus sejati adalah umat Islam, karena mereka berkhitan, berhijab, dan tidak makan babi.”
Perintah yang Terlupakan: Hijab dan Khitan
1 Korintus 11:5–6 memerintahkan perempuan menutupi kepala saat berdoa.
Kejadian 17 memerintahkan Nabi Ibrahim berkhitan, dan Yesus pun disunat. Namun Paulus kemudian melarangnya dalam Galatia 5:2.
“Aneh,” ujar SiMualaf,
“Nabi Ibrahim dan Yesus berkhitan, tapi pengikutnya tidak.”
Demikian pula larangan makan babi (Imamat 11) masih dijalankan umat Islam, bukan Kristen.
Hidayah dan Kembali ke Tauhid
Semakin dalam ia mempelajari kitab, semakin jelas baginya bahwa ajaran asli Yesus adalah tauhid.
Ia menemukan keselarasan antara Injil Markus 12:29 dan kalimat Laa ilaha illallah.
“Saya menangis ketika menyadari,” katanya pelan.
“Yesus sendiri bersaksi bahwa Tuhan itu Esa. Maka saya bersyahadat karena mengikuti Yesus yang sejati.”
Dari “Imani Saja” ke “Pahami dan Yakini”
Selama bertahun-tahun, setiap pertanyaan Simualaf di gereja dijawab dengan:
“Imani saja.”
Namun dalam Islam, ia menemukan jawaban yang logis dan ilmiah. Iman bukan lagi sekadar percaya tanpa dasar, melainkan keyakinan berdasarkan ilmu dan kebenaran.
Hari ketika ia mengucap dua kalimat syahadat menjadi momen paling bersejarah dalam hidupnya. Air matanya jatuh bukan karena berpindah agama, melainkan karena akhirnya menemukan Tuhan yang juga disembah oleh Nabi Isa:
“Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu Esa.”
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
