Surabaya menyimpan banyak bangunan bersejarah yang menjadi saksi perjalanan panjang kota ini sejak masa kolonial. Di antara bangunan-bangunan tua tersebut, terdapat gedung-gedung yang dahulu digunakan sebagai tempat berkumpulnya kelompok atau perkumpulan tertentu. Keberadaan bangunan ini menyisakan berbagai cerita mengenai kehidupan sosial, budaya, dan pemikiran masyarakat pada masa itu.
Salah satu perkumpulan yang dikaitkan dengan sejarah bangunan kolonial di Surabaya adalah Freemasonry. Perkumpulan ini dikenal memiliki sejarah panjang di berbagai negara, termasuk di wilayah Hindia Belanda, yang kini menjadi Indonesia. Jejak keberadaannya dapat ditelusuri melalui bangunan, lambang, serta catatan sejarah yang berkaitan dengan aktivitas perkumpulan tersebut.
Dalam sebuah penelusuran bangunan bersejarah di Surabaya, sejumlah simbol yang terdapat pada bagian bangunan, lantai, dan ornamen menjadi perhatian. Simbol-simbol tersebut kemudian dikaitkan dengan Freemasonry, persaudaraan, serta berbagai tradisi kepercayaan yang berkembang pada masa lampau.
Bangunan Bersejarah dan Jejak Perkumpulan pada Masa Kolonial
Bangunan-bangunan peninggalan masa kolonial memiliki karakteristik arsitektur yang khas. Dinding yang kokoh, jendela berukuran besar, serta ornamen yang menghiasi bagian tertentu menjadi bagian dari identitas bangunan yang dibangun pada masa tersebut.
Dalam penelusuran di Surabaya, salah satu bangunan yang diperlihatkan disebut memiliki penanda tahun 1811. Tahun tersebut menjadi perhatian karena menunjukkan bahwa bangunan itu telah berdiri sejak masa kolonial, jauh sebelum Indonesia merdeka.
Bangunan tua tidak hanya menyimpan nilai arsitektur, tetapi juga dapat memberikan gambaran mengenai kehidupan masyarakat pada zamannya. Gedung-gedung tertentu dahulu digunakan sebagai tempat pertemuan, pusat kegiatan sosial, maupun ruang berkumpul bagi kelompok-kelompok yang memiliki kepentingan atau latar belakang tertentu.
Salah satu istilah yang muncul dalam pembahasan mengenai bangunan tersebut adalah lodge, yaitu tempat pertemuan anggota Freemasonry. Dalam tradisi Freemasonry, lodge merupakan wadah bagi para anggota untuk berkumpul dan melaksanakan kegiatan organisasi.
Keberadaan sebuah bangunan tua atau ruang pertemuan tidak serta-merta membuktikan bahwa tempat tersebut pernah digunakan untuk ritual keagamaan tertentu. Untuk memahami fungsi aslinya, diperlukan penelusuran terhadap dokumen sejarah, catatan kepemilikan, serta keterangan mengenai aktivitas yang pernah berlangsung di dalamnya.
Mengenal Freemasonry dan Makna Persaudaraan
Freemasonry merupakan organisasi persaudaraan yang memiliki sejarah panjang dan berkembang di berbagai wilayah dunia. Organisasi ini dikenal menggunakan simbol-simbol tertentu yang berkaitan dengan tradisi, nilai moral, dan identitas keanggotaannya.
Salah satu lambang yang paling dikenal dalam Freemasonry adalah gambar jangka dan penggaris siku. Kedua alat tersebut memiliki hubungan dengan tradisi pertukangan dan pembangunan, yang kemudian digunakan sebagai simbol dalam ajaran moral organisasi.
Jangka dan penggaris siku sering dimaknai sebagai pengingat mengenai pengendalian diri, perilaku yang terukur, serta pentingnya menjalani kehidupan dengan prinsip moral. Makna simbol tersebut dapat dijelaskan melalui tradisi dan penafsiran yang berkembang di dalam Freemasonry.
Selain lambang jangka dan penggaris siku, terdapat pula penggunaan simbol-simbol lain yang berkaitan dengan persaudaraan. Dalam penelusuran bangunan di Surabaya, simbol berjabat tangan dan istilah Brotherhood atau persaudaraan turut disinggung sebagai bagian dari pembahasan mengenai perkumpulan tersebut.
Namun, simbol persaudaraan tidak hanya digunakan oleh Freemasonry. Berbagai organisasi dan kelompok sosial juga menggunakan lambang serupa untuk menggambarkan hubungan antaranggotanya. Oleh karena itu, keberadaan suatu simbol perlu dipahami berdasarkan konteks sejarah dan penggunaannya, bukan hanya dari bentuk visualnya.
Simbol Bintang, Heksagram, dan Ornamen pada Bangunan
Salah satu bagian yang menjadi perhatian dalam penelusuran bangunan bersejarah di Surabaya adalah keberadaan ornamen berbentuk bintang. Dalam pembahasan tersebut, beberapa bentuk bintang, termasuk heksagram atau bintang bersudut enam, dikaitkan dengan simbol-simbol yang dianggap memiliki makna tertentu.
Heksagram merupakan bentuk geometris yang tersusun dari dua segitiga yang saling bertumpang tindih. Simbol ini dikenal dalam berbagai tradisi budaya dan keagamaan, sehingga maknanya dapat berbeda-beda bergantung pada konteks penggunaannya.
Dalam tradisi Yahudi, heksagram dikenal sebagai:
Bintang Daud.
Sementara itu, bentuk geometris serupa juga dapat ditemukan dalam seni, arsitektur, dan tradisi simbolik lainnya.
Karena bentuk yang sama dapat digunakan dalam konteks yang berbeda, keberadaan heksagram pada sebuah bangunan tidak cukup untuk menentukan identitas agama, organisasi, atau tujuan penggunaan bangunan tersebut.
Selain bintang, penelusuran tersebut juga menyoroti ornamen berbentuk lingkaran dan roda yang oleh pembicara dikaitkan dengan simbol matahari. Penafsiran ini kemudian dihubungkan dengan tradisi pemujaan terhadap dewa matahari pada masa lampau.
Dalam kajian sejarah simbol, hubungan antara suatu ornamen dan kepercayaan tertentu perlu ditelusuri melalui sumber yang dapat menjelaskan asal-usul, fungsi, serta konteks penggunaannya. Dengan demikian, simbol tidak hanya dipahami berdasarkan kemiripan bentuk, tetapi juga berdasarkan bukti sejarah yang menyertainya.
Lantai Kotak-Kotak Hitam Putih dan Makna Simboliknya
Selain ornamen pada bagian atas bangunan, lantai dengan pola kotak-kotak hitam putih juga menjadi salah satu unsur yang diperhatikan dalam penelusuran tersebut.
Pola ini dikenal dalam pembahasan mengenai Freemasonry dengan istilah checkerboard flooring atau lantai berpola papan catur. Dalam tradisi simbolik Freemasonry, pola hitam dan putih kerap ditafsirkan sebagai gambaran mengenai dua sisi kehidupan, seperti terang dan gelap, serta berbagai keadaan yang saling berlawanan.
Pola kotak-kotak juga dikenal luas dalam seni dekoratif dan arsitektur. Penggunaannya tidak terbatas pada satu organisasi atau tradisi tertentu.
Dalam penelusuran bangunan di Surabaya, sejumlah ubin lama disebut masih dipertahankan, sementara sebagian lainnya telah diganti. Perbedaan kondisi tersebut menjadi perhatian karena lantai dan ornamen bangunan dapat menjadi bagian dari jejak sejarah yang masih tersisa.
Keberadaan pola lantai tertentu dapat menjadi petunjuk untuk menelusuri gaya arsitektur dan tradisi dekoratif pada masa pembangunan. Akan tetapi, untuk menghubungkannya secara khusus dengan suatu organisasi, diperlukan keterangan tambahan yang dapat memastikan fungsi dan makna pola tersebut dalam konteks bangunan yang bersangkutan.
Simbol Clover dan Makna Perkumpulan dari Berbagai Penjuru
Selain pola lantai kotak-kotak hitam putih, terdapat pula ornamen berbentuk daun yang dalam penelusuran tersebut disebut sebagai clover. Bentuk ini menjadi bagian dari pembahasan mengenai simbol-simbol yang dianggap berkaitan dengan aktivitas perkumpulan pada masa kolonial.
Dalam penjelasan yang disampaikan, simbol clover ditafsirkan sebagai gambaran anggota perkumpulan yang datang dari empat penjuru, berkumpul di satu tempat, kemudian kembali berpencar ke wilayah masing-masing.
Penafsiran tersebut dikaitkan dengan aktivitas Freemasonry yang pada masa kolonial berkembang melalui pertemuan-pertemuan antaranggotanya. Tempat pertemuan atau lodge menjadi ruang bagi anggota untuk berdialog, bertukar pemikiran, serta menjalankan kegiatan organisasi.
Meski demikian, makna simbol clover tidak dapat dipastikan hanya dari bentuknya. Simbol tersebut juga dikenal dalam berbagai konteks budaya dan dekoratif. Untuk mengetahui apakah ornamen pada bangunan tertentu memang memiliki hubungan dengan Freemasonry, diperlukan sumber sejarah yang menjelaskan penggunaannya secara spesifik.
Pilar Bangunan dan Pola Arsitektur sebagai Identitas
Unsur lain yang menjadi perhatian dalam penelusuran ini adalah keberadaan dua pilar pada bagian depan bangunan. Pilar atau tiang merupakan elemen arsitektur yang memiliki fungsi struktural sekaligus dapat memberikan karakter visual pada sebuah bangunan.
Dalam pembahasan mengenai Freemasonry, dua pilar sering dikaitkan dengan simbolisme tertentu. Salah satu rujukan yang dikenal dalam tradisi Freemasonry adalah dua pilar yang disebut Boaz dan Jachin, yang memiliki hubungan dengan kisah Bait Suci dalam tradisi Alkitab.
Dalam penelusuran bangunan di Surabaya, keberadaan pilar-pilar tersebut kemudian dihubungkan dengan pola lantai kotak-kotak hitam putih. Kedua unsur itu disebut sebagai bagian dari identitas arsitektur yang dianggap berkaitan dengan perkumpulan tertentu.
Namun, pilar merupakan elemen yang banyak digunakan dalam berbagai gaya arsitektur, termasuk bangunan kolonial. Keberadaan dua pilar tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa sebuah bangunan merupakan tempat pertemuan Freemasonry.
Pemahaman mengenai identitas arsitektur perlu mempertimbangkan bentuk bangunan secara keseluruhan, periode pembangunannya, serta dokumen yang menjelaskan fungsi awal bangunan tersebut.
Simbol Mata Satu dan Segitiga dalam Tradisi Simbolik
Salah satu simbol yang menjadi perhatian dalam penelusuran tersebut adalah gambar mata yang ditempatkan di dalam atau di dekat bentuk segitiga. Simbol ini oleh pembicara dikaitkan dengan identitas kelompok yang sedang dibahas.
Dalam sejarah simbol, gambar mata di dalam segitiga dikenal sebagai Eye of Providence atau Mata Ilahi. Simbol tersebut menggambarkan mata yang berada di dalam segitiga, terkadang disertai pancaran cahaya.
Dalam sejumlah tradisi keagamaan dan kebudayaan, mata dapat digunakan sebagai lambang pengawasan, pengetahuan, atau kehadiran ilahi. Sementara itu, bentuk segitiga juga memiliki beragam makna simbolik, bergantung pada tradisi yang menggunakannya.
Dalam tradisi Kristen, simbol mata di dalam segitiga terkadang dikaitkan dengan konsep pemeliharaan atau pengawasan Tuhan. Simbol tersebut juga dapat ditemukan dalam seni dan arsitektur yang berkembang di Eropa.
Sementara itu, dalam pembahasan mengenai Freemasonry, simbol mata kerap dikaitkan dengan gagasan tentang pengawasan Tuhan terhadap tindakan manusia. Namun, simbol mata tidak secara eksklusif dimiliki oleh satu organisasi tertentu.
Karena itu, keberadaan gambar mata dan segitiga pada sebuah bangunan tidak cukup untuk membuktikan bahwa bangunan tersebut merupakan tempat kegiatan suatu kelompok tertentu. Penafsiran semacam itu perlu didukung oleh bukti sejarah yang dapat menjelaskan hubungan antara simbol dan fungsi bangunan.
Pintu Geser, Plafon, dan Detail Arsitektur Bangunan Lama
Penelusuran bangunan bersejarah di Surabaya juga memperlihatkan sejumlah detail arsitektur yang dianggap menarik, termasuk pintu geser, plafon, bingkai ornamen, dan bentuk tiang.
Pintu geser yang disebut masih terdapat pada bangunan tersebut menjadi salah satu bagian yang diperhatikan. Keberadaan pintu dengan mekanisme seperti ini menunjukkan bahwa bangunan lama dapat memiliki rancangan yang menyesuaikan kebutuhan ruang dan aktivitas penggunanya.
Selain pintu, plafon bangunan juga memperlihatkan bentuk bingkai dan ornamen yang dalam penjelasan pembicara dianggap memiliki makna tertentu. Detail-detail seperti ini menjadi bagian dari karakter arsitektur bangunan pada masa lampau.
Dalam kajian arsitektur, elemen seperti pintu, jendela, plafon, dan pilar dapat memberikan informasi mengenai teknologi konstruksi, gaya desain, serta kebiasaan masyarakat pada periode tertentu.
Akan tetapi, tidak semua detail arsitektur harus memiliki makna simbolik khusus. Sebagian elemen dibuat untuk memenuhi kebutuhan fungsional, memperindah ruangan, atau mengikuti gaya arsitektur yang populer pada zamannya.
Untuk memahami tujuan awal suatu elemen bangunan, diperlukan kajian terhadap rancangan arsitektur, bahan yang digunakan, serta catatan sejarah yang berkaitan dengan proses pembangunannya.
Menelusuri Sejarah Bangunan dan Memahami Makna Simbol
Bangunan bersejarah merupakan sumber informasi yang dapat membantu masyarakat memahami kehidupan sosial dan budaya pada masa lampau. Ornamen, pola lantai, bentuk pilar, dan detail arsitektur dapat menjadi petunjuk untuk menelusuri sejarah suatu tempat.
Dalam penelusuran ini, berbagai simbol pada bangunan di Surabaya dikaitkan dengan Freemasonry dan tradisi kepercayaan tertentu. Pembicara juga menyampaikan dugaan mengenai keberadaan kelompok yang masih menjalankan aktivitas secara tertutup hingga saat ini.
Pernyataan mengenai aktivitas rahasia, praktik ritual, maupun hubungan antara simbol-simbol tertentu dengan kelompok tertentu merupakan klaim yang memerlukan bukti tersendiri. Keberadaan bangunan bersejarah dan kemiripan simbol tidak secara otomatis membuktikan bahwa aktivitas tersebut pernah atau masih berlangsung di dalamnya.
Oleh karena itu, pembelajaran mengenai sejarah bangunan dan simbol-simbolnya perlu dilakukan dengan memperhatikan perbedaan antara fakta yang dapat dibuktikan, penafsiran terhadap simbol, serta dugaan yang disampaikan oleh pihak tertentu.
Dengan memahami konteks sejarah dan makna simbol secara lebih menyeluruh, masyarakat dapat memperoleh wawasan mengenai perkembangan arsitektur, kehidupan sosial, dan tradisi perkumpulan pada masa lampau, sekaligus mengembangkan sikap kritis dalam memahami berbagai informasi yang berkaitan dengan sejarah.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 1661
