SURAT TERBUKA UNTUK PARA DA’I DAN PENUNTUT ILMU

Oleh: Ust. Fariq Gasim Anuz

Surat terbuka dari seorang muslim kepada saudara muslim lainnya. Sifat orang-orang yang beriman adalah saling menyayangi dan berlemah lembut kepada sesama. Setiap dari kita harus saling menjaga diri agar tidak terjadi perselisihan di antara kaum muslimin, terlebih lagi perselisihan di antara aktifis dakwah.

Seorang Ulama memberi wasiat kepada murid-muridnya yang merupakan kader dakwah, “Janganlah kalian menjawab pertanyaan ketika disebutkan nama ustadz /ulama.”

Jika kita hendak bertanya di forum umum, cukup kita bertanya, “Bagaimana pendapat Ustadz tentang masalah ini dan itu?” Bukan, “Bagaimana pendapat Ustadz tentang pernyataan ustadz Fulan yang mengatakan begini dan begitu?” Pertanyaan yang kedua mirip dengan adu domba.

Pertanyaan tersebut dapat mengeraskan hati dan melahirkan kebencian dan permusuhan di antara kaum muslimin. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin rahimahullah marah jika ada di antara muridnya menyebutkan nama ulama lain yang berbeda pendapat (dalam masalah ijtihadiyah) dengan pendapat beliau.

Continue reading

KAJIAN KEISLAMAN MUALAF CENTER CIREBON: CARA MENGHINDARI PERKATAAN BURUK

Oleh: Ust. Fariq Gasim Anuz

Allah berfirman,

لَّا يُحِبُّ ٱللَّهُ ٱلْجَهْرَ بِٱلسُّوٓءِ مِنَ ٱلْقَوْلِ إِلَّا مَن ظُلِمَ ۚ وَكَانَ ٱللَّهُ سَمِيعًا عَلِيمًا
“Allah tidak menyukai ucapan buruk dengan terus terang (yang diucapkan) kecuali oleh orang yang dianiaya. Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(QS. An Nisa: 148)

Allah membenci dan berhak menghukum orang yang berkata buruk. Perkataan buruk misalnya ghibah (menceritakan keburukan saudara kita), namimah (mengadu domba), mencela orang, memaki, berkata kasar, menuduh, merendahkan orang lain, memperolok-olok dan lain sebagainya.

Allah menyukai perkataan yang baik, seperti dzikir, ucapan berupa nasihat dan amar ma’ruf nahi mungkar yang diucapkan dengan ungkapan yang baik. Termasuk ucapan baik adalah salam, doa untuk saudara kita, pujian kepada orang lain untuk memotivasi orang yang dipuji atau selainnya.

Continue reading

BENCI KEPADA PERILAKU DAN PELAKU KEMAKSIATAN

Oleh: Ust. Fariq Gasim Anuz

Seringkali kita mendengar nasihat yang berbunyi, “Bencilah kepada perbuatan maksiat tapi janganlah membenci pelakunya.” Ungkapan di atas ini perlu penjelasan agar kita tidak salah dalam keimanan terutama dalam masalah al wala wal bara’ (loyalitas dan berlepas diri) dan agar kita tidak keliru dalam mempraktikkan dakwah, nasihat dan amar ma’ruf nahi mungkar.

Perlu dibedakan dalam muamalah kita kepada orang kafir dan kepada saudara seiman. Seorang muslim harus berkeyakinan bahwa orang-orang kafir itu adalah musuh Allah, RasulNya, dan musuh orang-orang beriman.
Allah berfirman yang artinya,

“Katakanlah: Taatilah Allah dan Rasul-Nya; jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang kafir” (QS. Ali Imran: 32)

“Barang siapa yang menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril dan Mikail, maka sesungguhnya Allah adalah musuh orang-orang kafir.” (QS. Al Baqarah: 98)

Continue reading

PEMBELAAN TERHADAP NABI LUTH DARI FITNAH BIBLE

Oleh: Ust. Fariq Gasim Anuz

Nabi Luth Alaihissalam adalah manusia pilihan Allah dan utusan-Nya.

Allah berfirman,

‎وَإِنَّ لُوطًا لَّمِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ
“Sesungguhnya Luth benar-benar salah seorang rasul.”
(QS. Ash-Shaffat: 133)

Maha benar Allah dengan segala firman-Nya. Pada ayat di atas terdapat kata “inna” yang artinya sesungguhnya, juga ada huruf “laam” dalam kalimat “laminal mursaliin” yang artinya sungguh beliau itu termasuk salah satu dari para rasul. Ada dua kali penegasan dalam satu ayat agar kita tidak ragu sedikit pun bahwa beliau adalah rasul Allah.

Allah Ta’ala memuji Nabi Luth Alaihissalam dan mengaruniainya berupa kenabian, keahlian dalam menyelesaikan perselisihan di antara manusia, dan ilmu tentang agama Allah.

Allah berfirman,

‎وَلُوطًا ءَاتَيْنَٰهُ حُكْمًا وَعِلْمًا
“Dan kepada Luth, Kami telah berikan hikmah dan ilmu… “
(QS. Al-Anbiya: 74)

Beliau merupakan hamba Allah yang shalih (lihat QS. At-Tahrim: 10), patuh kepada perintah-perintah Allah dan meninggalkan larangan-larangan-Nya.

Continue reading

KISAH EKSPEDISI MILITER DZATUS SALASIL, KECERDASAN SEORANG PEMIMPIN

Oleh: Ust. Fariq Gasim Anuz

Mualaf yang Menjadi Panglima Perang

Sepulang pasukan kaum muslimin dari perang Mu’tah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengutus pasukan untuk memerangi Bani Qudha’ah di tempat kediaman mereka. Sebab peperangan ini ada beberapa keterangan dari ahli sejarah:

Pertama, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mendengar dari informan beliau yang bisa dipercaya bahwa pasukan dari Bani Qudha’ah akan mempersiapkan diri menyerang kaum muslimin di sekitar kota Madinah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mendahului mengirim pasukan untuk memerangi mereka di daerah mereka sendiri.

Kedua, pendapat ahli sejarah lainnya berpendapat bahwa Bani Qudha’ah ini telah memerangi kaum muslimin di perang Mu’tah dan mereka loyal kepada kekaisaran Romawi. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam hendak memberi pelajaran kepada mereka.

Yang jelas tujuan dari peperangan yang dilakukan kaum muslimin untuk menegakkan kalimat Allah, untuk mendakwahkan Islam agar hanya Allah saja yang berhak diibadahi dan tidak disekutukan dengan sesuatu apa pun. Ketika para penguasa kafir menghalangi dakwah dan memerangi kaum muslimin maka terpaksa kaum muslimin memerangi mereka.

Continue reading