KISAH EKSPEDISI MILITER DZATUS SALASIL, KECERDASAN SEORANG PEMIMPIN

Oleh: Ust. Fariq Gasim Anuz

Mualaf yang Menjadi Panglima Perang

Sepulang pasukan kaum muslimin dari perang Mu’tah, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengutus pasukan untuk memerangi Bani Qudha’ah di tempat kediaman mereka. Sebab peperangan ini ada beberapa keterangan dari ahli sejarah:

Pertama, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mendengar dari informan beliau yang bisa dipercaya bahwa pasukan dari Bani Qudha’ah akan mempersiapkan diri menyerang kaum muslimin di sekitar kota Madinah. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mendahului mengirim pasukan untuk memerangi mereka di daerah mereka sendiri.

Kedua, pendapat ahli sejarah lainnya berpendapat bahwa Bani Qudha’ah ini telah memerangi kaum muslimin di perang Mu’tah dan mereka loyal kepada kekaisaran Romawi. Maka Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam hendak memberi pelajaran kepada mereka.

Yang jelas tujuan dari peperangan yang dilakukan kaum muslimin untuk menegakkan kalimat Allah, untuk mendakwahkan Islam agar hanya Allah saja yang berhak diibadahi dan tidak disekutukan dengan sesuatu apa pun. Ketika para penguasa kafir menghalangi dakwah dan memerangi kaum muslimin maka terpaksa kaum muslimin memerangi mereka.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dan para pemimpin mujahidin dari para sahabat beliau berusaha untuk meminimalkan jumlah korban baik dari kaum muslimin atau orang kafir. Kaum muslimin sebelum berperang selalu mendakwahkan Islam terlebih dahulu, jika mereka menolak masuk Islam, lalu ditawarkan agar mereka tunduk kepada kaum muslimin dan berkewajiban menyerahkan upeti sebagai jaminan keamanan untuk mereka.

Tapi seringnya kekuatan kafirin dengan congkaknya memilih pilihan yang ketiga yaitu perang. Mereka meremehkan kekuatan kaum muslimin atau mereka menyombongkan diri dan benci jika Islam tersebar dan diikuti oleh kebanyakan manusia.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam menugaskan Amru bin Ash yang baru empat bulan masuk Islam untuk memimpin pasukan perang. Pada bulan Jumadil Akhir tahun 8 H berangkatlah tiga ratus pasukan perang dari Madinah dengan tiga puluh pasukan berkuda menuju sebelah utara Jazirah Arab. Perjalanan menuju Bani Qudha’ah ditempuh sekitar sepuluh hari.

Amru bin Ash menceritakan ketika Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam memerintahkannya untuk menyiapkan pakaian dan senjatanya serta untuk segera menemui beliau. Aku pun segera melaksanakan perintahnya dan menghadap beliau yang sedang berwudhu. Kemudian beliau menatapku dari atas sampai ke bawah lalu berkata,

“Yaa Amru, innii uriidu an ab’atsaka ‘ala jaisyin fayusallimukallahu wa yughnimuka wa az’abu laka minal maali za’batan shalihatan.”

“Wahai Amru, aku hendak mengangkatmu menjadi panglima pasukan, yang dengannya Allah akan memberimu keselamatan dan harta rampasan perang. Aku memberikan kepadamu harta dengan pemberian yang baik.”

Amru bin Ash menjawab, “Wahai Rasulullah, aku masuk Islam bukanlah karena harta, namun aku memang mencintai jihad dan ingin berjuang bersamamu.”

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda,

“Yaa Amru, ni’immaa bil maalish shalihi lirrajulish shalihi”

(Dalam kitab Al Adab Al Mufrad, dengan kata “ni’ma”)

“Wahai Amru, sebaik-baik harta yang baik adalah harta yang berada di tangan orang shalih.”

(HR. Ahmad no 17.763, Bukhari dalam Kitab Al Adab Al Mufrad no 229, Shahih Ibnu Hibban no 3211, Thahawi dalam Syarhu Musykili Al Aatsaar no 6056, syaikh Musa Al Azimi mengatakan sanadnya shahih atas syarat Imam Muslim. Dinukil dari “Al Lu’lu’ul Maknuun” juz 3 halaman 613-614)

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam hendak memotivasi Amru bin Ash yang baru masuk Islam empat bulan bahwa dengan berjihad di jalan Allah akan mendapatkan keselamatan (di dunia dan akhirat) dan akan memperoleh harta. Amru bin Ash menegaskan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bahwa beliau masuk Islam dan siap berjihad bukan bertujuan untuk mengumpulkan harta tapi beliau melakukannya ikhlas karena Allah. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam mengetahui hal ini bahkan beliau menegaskan.

Aslama Annaasu wa aamana amru bnil Aash
“Orang-orang telah masuk Islam, sedangkan Amru telah beriman.”
(HR. Tirmidzi dan dimuat dalam Shahih Tirmidzi dan Silsilah Ash Shahihah)

Artinya ketika banyak orang dari penduduk Makkah masuk Islam saat Fathu Makkah, sedangkan keislaman Amru bin Ash sebelum Fathu Makkah dengan kwalitas keimanan yang lebih tinggi dari mereka.

Hikmah Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengutus Amru bin Ash untuk menjadi panglima perang:

Pertama, untuk mengenalkan kepada kaum muslimin kemampuan dan kecerdasan Amru bin Ash dalam hal kemiliteran dan untuk mengokohkan Amru dalam Islam dan Iman. Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam tahu akan kecerdasan dan keahlian Amru dalam strategi militer. Ketika Amru menyatakan masuk Islam bersama Khalid bin Walid dan Utsman bin Thalhah maka Nabi menyebut mereka sebagai orang-orang inti dari penduduk Makkah sebagaimana disebutkan oleh Imam Baihaqi dalam kitab Dalaailun Nubuwwah.

Kedua, nenek Amru bin Ash bin Wail (istri Wail) adalah dari suku Baliy, salah satu suku dari Bani Qudha’ah. Dengan Amru menjadi komandan perang diharapkan untuk melembutkan hati orang-orang dari Bani Qudha’ah agar mereka masuk Islam dan tidak memerangi kaum muslimin jika memungkinkan. Atau minimalnya akan mengrangi jumlah musuh, karena sebagian dari mereka akan membela Amru bin Ash.

Ketiga, Amru mengenal medan dan daerah neneknya karena tentu Amru sebelum ini sering pergi ke sana. Pengenalan medan diperlukan oleh seorang pemmpin dalam mengatur strategi militer.

Amru bin Ash pernah menjabat sebagai gubernur Mesir di masa kekhalifahan Umar bin Khathab radhiallahu anhu. Ia sangat sayang kepada rakyatnya, begitulah sifat seorang pemimpin sejati yaitu menyayangi dan menginginkan keselamatan orang-orang yang dipimpinnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam berdoa,

“Ya Allah, barangsiapa yang mengemban tugas mengurusi umatku lalu ia menyusahkan mereka maka susahkanlah dia, dan barangsiapa yang mengemban tugas mengurusi umatku lalu ia memudahkan mereka maka mudahkanlah dia.” (HR. Muslim)

Akhlak Pemimpin

Amru bin Ash memerintahkan pasukannya agar berjalan di malam hari dan beristirahat di siang hari. Perjalanan di malam hari bertujuan:

Pertama, agar gerak kaum muslimin tidak diketahui oleh musuh.

Kedua, perjalanan di malam hari menjadikan pasukan tidak terlalu lelah disebabkan terik matahari meskipun perjalanan dilakukan di musim dingin.

Ketiga, berjalan di malam hari mengurangi rasa dingin di badan akibat gerakan badan mereka.

Sampailah pasukan Amru bin Ash di suatu desa dekat mata air Salsal. Daerah tersebut dibawah kekuasaan suku Juzam dan sudah dekat dengan daerah yang dituju. Amru mengirim mata-mata untuk mengukur seberapa besar kekuatan musuh dan memberikan kesempatan kepada pasukannya untuk beristirahat.

Sampailah informasi kepada Amru bahwa jumlah pasukan musuh berlipat-lipat lebih banyak dari pasukan kaum muslimin. Amru segera menugaskan Rafi Al Juhani sebagai utusan ke Madinah membawa surat untuk diserahkan kepada Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam. Amru meminta bantuan pasukan dari Madinah untuk memperkuat pasukan yang ada.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam mengirim dua ratus pasukan elit dari kaum Muhajirin dan Anshar dipimpin oleh Abu Ubaidah Ibnul Jarrah radhiallahu anhu. Abu Bakar Ash Shiddiq dan Umar bin Khathab radhiallahu anhuma ikut serta dalam pasukan Abu Ubaidah tersebut.

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berwasiat kepada Abu Ubaidah sebelum berangkat menyusul pasukan Amru bi Ash,

“Hendaklah kalian berdua saling sepakat dan janganlah kalian berdua berselisih!”

Pasukan yang dipimpin Abu Ubaidah sampai di tempat Pasukan Amru bin Ash beristirahat. Mereka sekarang berjumlah lima ratus orang. Siapakah pemimpin mereka? Belum ada kesepakatan.

Saat waktu shalat tiba, mereka hendak shalat berjamaah. Beberapa orang dari pasukan muhajirin meminta Abu Ubaidah maju untuk menjadi imam shalat. Abu Ubaidah pun maju, tapi segera dihadang oleh Amru bin Ash dan berkata, “Saya yang berhak menjadi imam shalat dan pemimpin kalian semuanya. Kalian datang atas permintaan kami untuk membantu pasukan kami.”

Beberapa orang dari pasukan Abu Ubaidah mengusulkan agar Amru menjadi pemimpin bagi pasukannya dan Abu Ubaidah sebagai pemimpin bagi pasukannya. Amru bin Ash dengan tegas menolak usul dari anak buah Abu Ubaidah. “Kita semua harus bergabung dalam satu komando. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam telah menyerahkan bendera kepadaku. Sekarang aku menjadi pemimpin kalian semua.”

Amru bin Ash yang saat itu berusia 55 tahun, tujuh tahun lebih tua dari Abu Ubaidah, dengan percaya diri beliau yakin bahwa amanat kepemimpinan dari Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam dalam misi tersebut adalah di tangannya. Amru bin Ash tidak merasa minder dengan Abu Ubaidah dan para Assabiqunal Awwalun lainnya.

Abu Ubaidah mengalah dan teringat dengan wasiat Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam kepadanya. Beliau berkata kepada Amru bin Ash, “Seandainya engkau tidak mengikuti ucapanku maka aku tetap akan menaatimu. Sekarang aku berada di bawah komandomu.”

Allahu Akbar! Kerendahan hati dari seorang mujahid senior yang merupakan salah satu dari sahabat utama yang dijamin masuk Jannah oleh Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam. Alhamdulillah, ketegangan di antara Amru bin Ash dan sebagian pengikut Abu Ubaidah segera berakhir dengan sebab kebesaran jiwa Abu Ubaidah. Akhirnya kedua pasukan tersebut melebur menjadi satu dibawah komando Amru bin Ash.

Ada beberapa pelajaran yang bisa kita petik dari kisah di atas, diantaranya:

Pertama, Al Hafidz Ibnu Hajar dalam Fathul Bari menyebutkan bolehnya mengangkat orang yang kurang utama menjadi pemimpin padahal masih ada orang yang lebih utama, dengan syarat bahwa pemimpin yang diangkat memang memiliki keistimewaan dan kemampuan dalam bidang yang dipercayakan kepadanya.

Kedua, salah satu sifat dan akhlak pemimpin adalah sifat sayang kepada orang-orang yang dipimpinnya. Segala keputusan dan kebijaksanaannya adalah mementingkan keamanan dan kenyamanan orang-orang yang dipimpinya. Seorang pemimpin yang baik jika ia berhasil memimpin ruh sebelum jasmani, memahami perasaan dan mengerti kejiwaan orang yang dipimpinnya.

Seorang pemimpin sejati jika ia rela begadang, lelah dan lapar agar orang-orang yang dipimpinnya dapat tidur nyenyak. Ia gembira jika orang-orang yang dipimpinnya mendapatkan kelapangan dan kemakmuran. Ia sedih jika mereka mendapatkan kesempitan dan kesusahan.

Ketiga, Apabila ada dua pemimpin dalam satu wadah, maka hendaknya seorang dari keduanya dengan legowo mengundurkan diri untuk menghindari perpecahan. Dalam kisah diatas Abu Ubaidah mengundurkan diri padahal beliau seorang yang amanah dan sangat layak untuk menjadi pemimpin.

Bagaimana dengan seorang pemimpin yang tidak layak dan tidak mampu memimpin dengan baik? Seharusnya ia mundur dan memberikan kesempatan kepada orang yang memang pantas untuk menjadi pemimpin.

Keempat, Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berpesan kepada Abu Ubaidah dan ditujukan pula kepada Amru bin Ash,

“Hendaklah kalian berdua saling mengikuti dan janganlah kalian berdua berselisih.”

Dalam Shahih Bukhari, Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam juga berwasiat kepada Muadz bin Jabal dan Abu Musa Al Asy’ari ketika diutus ke Yaman untuk berdakwah,

“Hendaklah kalian berdua memudahkan dan jangan mempersulit, berilah kegembiraan dan janganlah membuat (orang lain) lari (dari kebenaran disebabkan sifat kasar kalian), hendaklah kalian berdua saling sepakat dan jangan berselisih!”

Nabi Shallallahu Alaihi Wasallam berwasiat kepada kita semua secara pribadi, sebagai pemimpin, sebagai kelompok agar saling mencintai, menyayangi, dan jangan berselisih. Perselisihan itu menghilangkan kekuatan, perselisihan itu mengakibatkan kelemahan dan kebinasaan.

Allah berfirman,

وَأَطِيعُوا۟ ٱللَّهَ وَرَسُولَهُۥ وَلَا تَنَٰزَعُوا۟ فَتَفْشَلُوا۟ وَتَذْهَبَ رِيحُكُمْ ۖ وَٱصْبِرُوٓا۟ ۚ إِنَّ ٱللَّهَ مَعَ ٱلصَّٰبِرِينَ
“Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.”
(QS. Al Anfal: 46)

Kelima, diantara contoh hal yang dapat menyebabkan perpecahan dan perselisihan adalah berebut menjadi imam saat shalat lima waktu di masjid.

Hendaknya pengurus masjid menunjuk imam rawatib dari orang yang memang memiliki kemampuan dan tajwid yang baik dalam bacaan. Bagi jamaah shalat yang bukan pengurus masjid tidak berhak mempersilakan seorang pendatang baru untuk menjadi imam. Imam masjid atau pengurus masjid (setelah meminta persetujuan dari imam rawatib) yang berhak mempersilakan tamu atau orang lain untuk menjadi imam shalat.

Semoga Allah melembutkan hati jamaah masjid dan kaum muslimin dan menjadikan umat Islam bersatu dan bersinergi dalam kebaikan dan takwa, Allahumma aaminn.

Keenam, kemenangan dan kesuksesan tidak akan terjadi kecuali dengan kerja keras dan pengorbanan. Merupakan sunnatullah bahwa kemenangan dan kesuksesan tidak dicapai dengan membalik tangan. Banyak proses yang harus dilalui oleh pejuang seperti saringan untuk memisahkan nantinya siapa orang-orang yang istiqamah dan siapa orang-orang yang gagal.

Allah berfirman,

أَمْ حَسِبْتُمْ أَن تَدْخُلُوا۟ ٱلْجَنَّةَ وَلَمَّا يَأْتِكُم مَّثَلُ ٱلَّذِينَ خَلَوْا۟ مِن قَبْلِكُم ۖ مَّسَّتْهُمُ ٱلْبَأْسَآءُ وَٱلضَّرَّآءُ وَزُلْزِلُوا۟ حَتَّىٰ يَقُولَ ٱلرَّسُولُ وَٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ مَعَهُۥ مَتَىٰ نَصْرُ ٱللَّهِ ۗ أَلَآ إِنَّ نَصْرَ ٱللَّهِ قَرِيبٌ
“Apakah kalian mengira bahwa kalian akan masuk surga (jannah), padahal belum datang kepada kalian (cobaan) sebagaimana halnya orang-orang terdahulu sebelum kalian? Mereka ditimpa oleh malapetaka dan kesengsaraan, serta digoncangkan (dengan bermacam-macam cobaan) sehingga berkatalah Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya: “Kapankah datangnya pertolongan Allah?” Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu amat dekat.”
(QS. Al Baqarah: 214)

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّىٰ نَعْلَمَ ٱلْمُجَٰهِدِينَ مِنكُمْ وَٱلصَّٰبِرِينَ وَنَبْلُوَا۟ أَخْبَارَكُمْ
“Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kalian, dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwal kalian.” (QS. Muhammad: 31)

يا مقلب القلوب ثبت قلوبنا على دينك
Ya (Allah) Yang membolak-balikkan hati, teguhkanlah hati kami (agar selalu istiqamah) diatas rel dien-Mu

B e r s a m b u n g ….


Tentang Penulis:
Ulama dan Penulis Lebih Dari 15 Buku Best Seller,
Pembina Mualaf Center Nasional Aya Sofya Cirebon.


Rekomendasi artikel:


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

SURABAYA: Pesantren JEHA Dolly. Jl. Putat Jaya No. 4B, Putat Jaya, Kota Surabaya.

DEPOK: Jl. Tugu Raya No. 8 Kelapa Dua Cimanggis, Depok.


Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.