
Dari 80.000 pasukan hanya tersisa 314 pasukan
Melanjutkan dari kajian yang dilakukan oleh Mualaf Center Makasar pada bagian satu. Tentunya pengujian akan kesetiaan para pengikut Thalut tidak cukup sampai di sungai itu saja. Masih ada ujian lain yang lebih bisa membedakan antara pengikut Thalut yang setia dan memiliki kekuatan iman kepada Allah dan pengikut yang tidak setia. Ujian di mana sebagian tentara Thalut merasa gentar ketika melihat banyaknya tentara musuh.
Thalut bisa melewati sungai bersama orang-orang yang sabar terhadap rasa haus dan lelah, dari semula jumlah pasukan 80.000 orang maka yang terus berjuang bersama Thalut tersisa kurang lebih 314 orang. Ketika sedang berhadapan dengan para musuh, datang ujian baru bagi para pengikut Thalut yaitu rasa takut untuk berperang dengan jumlah yang sedikit setelah kemunduran para tentara yang tidak lulus dalam ujian pertama. Sebagian mereka berkata, “Hari ini kita tidak memiliki kekuatan untuk melawan tentara Jalut.”
Sedangkan orang-orang yang beriman dengan penuh keberanian di hadapan jumlah musuh yang banyak dan keyakinan akan pertemuan dengan Tuhan setelah syahid dalam peperangan berkata, “Dengan izin Allah golongan yang sedikit akan mengalahkan golongan yang banyak. Kami akan bersabar dalam menghadapi para musuh. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang bersabar untuk memberi pertolongan dan kemenangan“.
Kebanyakan dari mereka tidak mematuhi perintah Thalut kecuali dalam jumlah yang sedikit. Kisah tentang Thalut ini nyatanya juga terjadi di zaman Rasulullah yakni ketika dalam perang Badar. Ketika itu pasukan Rasulullah juga berjumlah 314 orang sementara pasukan musuh lebih dari ribuan. Tetapi pada akhirnya kelompok yang kecil mampu mengalahkan kelompok yang besar atas izin Allah dengan keyakinannya yang besar.
Dalam sebuah hadits dikatakan jumlah tentara Thalut yang berhasil melewati ujian adalah sebanyak tentara Rasulullah SAW. yang mengikuti Perang Badar. Sebagaimana hadist berikut ini: ”Abu Ishaq berkata: aku mendengar Al-Bara r.a. Berkata: ”telah bercerita kepadaku para sahabat Nabi SAW. yang menyaksikan langsung perang Badar bahwa sesungguhnya jumlah mereka sebanding dengan jumlah tentara Thalut yang dengannya melewati sungai yaitu sekitar tiga ratus sepuluh.” Al-Bara berkata: ”Tidak, demi Allah sesungguhnya tidak melewati sungai bersamanya kecuali orang yang beriman”. (HR. Bukhari)
Ketika mereka hendak maju melawan jalut dan tentaranya yang sangat kokoh itu sedangkan pasukan Thalut hanya tersisa 314 orang saja dan merekapun berdoa kepada Allah. Sebagaimana firman Allah berikut ini:
وَلَمَّا بَرَزُوا لِجَالُوتَ وَجُنُودِهِ قَالُوا رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ
Artinya: Tatkala Jalut dan tentaranya telah nampak oleh mereka, merekapun (Thalut dan tentaranya) berdoa: “Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir”.
(Al-Baqarah: 250)
Perlu kita ketahui bahwa perang pada zaman dahulu berbeda dengan perang di zaman sekarang. Pada jaman dahulu ada istilah Mubarazah (perang tanding) yang masing-masing dari kelompok memiliki jagoannya tersendiri untuk saling duel satu lawan satu dengan orang musuh. Dari pihak orang kafir sosok yang yang maju dan diandalkan adalah pemimpin mereka sendiri yakni Jalut yang kemudian menantang jagoan dari pihak Thalut.
Satu pasukan Thalut pun tidak berani melawan Jalut, padahal Thalut sudah memerintahkan diantara pasukannya untuk melawan Jalut. Sampai pada akhirnya Thalut menjajikan sesuatu dengan berkata: “kalau diantara kalian ada yang bisa membunuh Jalut maka akan ku nikahkan dengan putriku dan dia berhak mendapatkan kerajaan sepeninggalku”.
Salah satu sosok yang berani melawan Jalut
Meski sudah menjanjikan dengan dua keistimewaan itu tetapi dari 314 pasukan itu tidak ada yang berani untuk melawan Jalut kecuali seseorang yang paling muda diantara mereka. Seorang pemuda itu bertubuh pendek, matanya berwarna biru tetapi hatinya bersih dan penuh dengan ketakwaan. Namanya adalah Daud bin Uwaid bin Abir bin Salimun bin Nahsyun bin Uwainadi bin Irmi bin Hisrun bin Faridh bin Yahudza bin Yaqub bin Ishaq bin Ibrahim a.s.
Sebenarnya dalam kisah yang lainnya menyatakan bahwa keberadaan Daud sudah diprediksi oleh Nabi Samuel ketika dia berdialog dengan Raja Thalut dan mengatakan: “wahai Thalut, sesungguhnya dalam pasukanmu itu akan ada seseorang yang akan membunuh Jalut”. Menanggapi isyarat Nabi Samuel, Thalut pun berkata: “bagaimana caranya?”.
Nabi Samuel berkata: “pakaikan baju besi ini kepada salah satu dari pasukanmu, bagi siapa yang cocok memakai baju besi ini maka dialah yang akan membunuh Jalut”. Semua pasukan Thalut pun mencoba baju besi itu tetapi tidak ada yang cocok melainkan hanya cocok saat dikenakan oleh Nabi Daud, dengan sebab itulah Nabi Daud dapat membunuh Jalut.
Disisi lain ada yang mengatakan bahwa tatkala Nabi Daud hendak ikut berperang bersama dengan Thalut. Beliau bingung mengenai senjata yang akan digunakannya, hingga ketika berjalan-jalan beliau mendengar suara yang berasal dari batu. Kemudian batu itu mengatakan: “Wahai Daud, bawalah aku dan akulah yang akan membunuh Jalut”. Daud pun mengambil tiga batu sekaligus.
Al-Qur’an tidak menjelaskan secara rinci tentang bagaimana Daud membunuh Jalut tetapi kitab perjanjian lama menjelaskannya lebih rinci. Ketika pasukan Thalut dan Jalut saling berhadapan, keluar Jalut dari barisannya dan berkata, “Jika salah satu dari kalian bisa mengalahkan aku, maka kami semua akan menjadi budak kalian. Tapi kalau
tidak, maka kalian akan menjadi budak kami”.
Ketika itu datanglah Nabi Daud yang berani maju dengan membawa ketapel di tangannya. Beliau berhadapan dengan Jalut dalam mubarazah, Jalut berkata: “Kembalilah, aku tidak mau membunuhmu!”. Ketika itu Daud menjawab: “Tapi aku sangat ingin membunuhmu”. Dia pun mulai mengambil ketiga batu yang dibawanya itu, kemudian memasangnya pada ketepel, dan melemparkannya ke arah Jalut. Maka pecahlah kepala Jalut dan membuat para tentaranya lari ketakutan.
Sebagaiaman firman Allah berikut ini yang mengatakan bahwa:
فَهَزَمُوهُمْ بِإِذْنِ اللَّهِ وَقَتَلَ دَاوُودُ جَالُوتَ وَآتَاهُ اللَّهُ الْمُلْكَ وَالْحِكْمَةَ وَعَلَّمَهُ مِمَّا يَشَاءُ ۗ وَلَوْلَا دَفْعُ اللَّهِ النَّاسَ بَعْضَهُمْ بِبَعْضٍ لَفَسَدَتِ الْأَرْضُ وَلَٰكِنَّ اللَّهَ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْعَالَمِينَ
Artinya: “Mereka (tentara Thalut) mengalahkan tentara Jalut dengan izin Allah dan (dalam peperangan itu) Daud membunuh Jalut, kemudian Allah memberikan kepadanya (Daud) pemerintahan dan hikmah (sesudah meninggalnya Thalut) dan mengajarkan kepadanya apa yang dikehendaki-Nya. Seandainya Allah tidak menolak (keganasan) sebahagian umat manusia dengan sebagian yang lain, pasti rusaklah bumi ini. Tetapi Allah mempunyai karunia (yang dicurahkan) atas semesta alam”. (QS. Al-Baqarah: 251)
Sesungguhnya Allah memerintahkan kita (ummat Islam) untuk senantiasa mengajak saudara kita yang belum mendapatkan hidayah Allah untuk berusaha mendapatkan hidayah-nya dengan cara belajar agama Islam. Bersama Mualaf Center Jambi dan Mualaf Center Nasional Aya Sofya, siap membantu mualaf yang membutuhkan pertolongan baik secara fisik, materi, ataupun solusi dari masalah yang dialami seorang mualaf.
Kami siap melakukan edukasi atau advokasi bagi mualaf di seluruh Indonesia untuk mendalami dan mengamalkan ajaran agama Islam dalam kesehariannya, serta membina para mualaf agar produktif dalam syi’ar dan dakwah, serta mandiri secara finansial dalam kehidupan yang berlandaskan iman, taqwa, dan cinta tanah air.
Mualaf Center Nasional Aya Sofya senantiasa menyambut dengan hangat saudara kita yang telah mendapatkan hidayah ingin memeluk agama Islam dengan adanya pembinaan dari mulai pengenalan dasar ke-Islaman hingga mempelajari ilmu keagamaan mulai dari tingkat dasar sampai lanjutan.
Lembaga ini juga difokuskan dalam pemberdayaan ummat kepada para mualaf di seluruh Indonesia dengan menjadi media perantara yang menyalurkan dan menjembatani para Muhsinin (orang-orang baik) untuk saling berbagi sebagian rizkinya kepada saudara kita para mualaf dhuafa di pelosok-pelosok nusantara.
“Aku rela Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai Agamaku dan Muhammad sebagai Nabi-ku dan Rasul utusan Allah”: maka aku adalah penjaminnya, dan akan aku gandeng dia dengan memegang tangannya, sampai aku memasukkannya ke dalam Surga. (HR. At-Thabrani)
Rekomendasi artikel:
- Kisah Mualaf Chinese yang Sebelumnya Memiliki Banyak Agama tapi Akhirnya Menemukan Kebenaran Tuhan dalam Agama Islam
- Seperti Kisah Orang Beriman di Zaman Para Nabi, Inilah Kisah Mualaf Yang Hampir Dibunuh dan Rumahnya Dibakar Karena Masuk Islam
- Lelang Mobil Bmw untuk Pembangunan Masjid Terpadu Aya Sofya Kota Malang
- Ingin Mengajak Keluarga Masuk Islam, Inilah Kisah Perjuangan Mualaf dalam Mempelajari Agama
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
