Sebuah dialog lintas agama mempertemukan narasumber dari pihak Islam dan Kristen untuk membahas satu tema besar, yaitu “Islam dan Kristen Berdiri Sejak Kapan?”. Acara ini diawali dengan penjelasan bahwa tujuan dialog bukanlah untuk menimbulkan permusuhan ataupun mempertajam perbedaan, melainkan memberikan kesempatan kepada masing-masing pihak menyampaikan keyakinannya secara terbuka.
Moderator menegaskan bahwa para peserta maupun penonton diberi kebebasan menggunakan akal dan hati untuk menilai setiap pemaparan yang disampaikan. Masing-masing narasumber memperoleh waktu yang sama untuk mempresentasikan pandangannya mengenai sejarah dan ajaran agamanya.
Setelah dilakukan undian sederhana, giliran pertama diberikan kepada pihak Islam untuk menyampaikan materi.
Pandangan Islam: Islam Bukan Agama Baru
Pada awal pemaparannya, narasumber dari pihak Islam menjelaskan bahwa istilah “Muslim” memiliki dua pengertian.
Pertama adalah makna universal, yaitu setiap orang yang berserah diri kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam pengertian ini, seluruh nabi yang diutus Allah sejak Nabi Adam hingga Nabi Isa dipandang sebagai orang-orang yang mengajarkan ketundukan kepada satu Tuhan.
Sedangkan makna kedua adalah makna khusus, yakni umat yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ sebagai nabi terakhir.
Menurut pemaparan tersebut, ketika Islam menyebut Nabi Isa sebagai seorang muslim, yang dimaksud bukanlah bahwa beliau mengikuti syariat Nabi Muhammad, melainkan beliau termasuk orang yang berserah
Tauhid Dipandang Sebagai Inti Ajaran Seluruh Nabi
Selanjutnya dijelaskan bahwa dalam perspektif Islam, seluruh nabi sejak Nabi Adam, Nabi Nuh, Nabi Ibrahim, Nabi Musa hingga Nabi Isa membawa ajaran yang sama, yaitu tauhid, yakni menyembah hanya kepada satu Tuhan.
Menurut narasumber, pokok utama sebuah agama terletak pada konsep ketuhanannya. Oleh karena itu, Islam memandang seluruh kitab yang diturunkan Allah, baik Taurat, Zabur, Injil, maupun Al-Qur’an, memiliki inti ajaran yang sama, yaitu mengesakan Allah.
Dalam penjelasan tersebut juga disampaikan bahwa konsep tauhid dipahami sebagai monoteisme yang tidak terbagi menjadi beberapa pribadi, melainkan hanya satu Tuhan yang Esa.
Kesamaan Ibadah Para Nabi Menurut Perspektif Islam
Untuk memperkuat argumen tersebut, narasumber kemudian menampilkan sejumlah contoh yang dianggap menunjukkan kesinambungan ajaran para nabi.
Beberapa contoh yang disebutkan antara lain:
- Nabi Ibrahim disebut bersujud kepada Allah.
- Nabi Musa juga melakukan sujud ketika beribadah.
- Nabi Isa disebut bersujud ketika berdoa kepada Allah.
Menurut pemaparan ini, sujud dipandang sebagai bentuk ketundukan paling sempurna kepada Tuhan dan menjadi salah satu ciri ibadah dalam agama tauhid.
Tradisi Sujud dalam Kristen Ortodoks
Narasumber juga menyinggung praktik ibadah dalam beberapa gereja Kristen Ortodoks.
Menurut penjelasannya, sebagian tradisi Kristen Ortodoks, seperti Ortodoks Rusia, Yunani maupun Suriah, masih mempertahankan kebiasaan bersujud ketika berdoa.
Selain itu disebutkan pula bahwa dalam beberapa tradisi tersebut terdapat praktik bersuci sebelum ibadah yang dinilai memiliki kemiripan dengan tata cara bersuci dalam Islam.
Melalui contoh tersebut, narasumber berpendapat bahwa masih terdapat jejak tradisi ibadah yang dianggap memiliki akar sejarah yang sama.
Arah Kiblat Sebagai Bagian dari Ibadah
Pembahasan kemudian beralih pada konsep kiblat.
Menurut penjelasan narasumber, umat Yahudi menghadap Bait Suci di Yerusalem ketika beribadah, sedangkan umat Islam pada masa awal juga pernah menghadap Yerusalem sebelum kemudian Allah memerintahkan perpindahan kiblat ke Ka’bah di Makkah.
Hal tersebut dijadikan contoh bahwa dalam tradisi agama-agama yang berasal dari nabi-nabi terdahulu terdapat aturan mengenai arah ibadah, bukan dilakukan secara sembarangan.
Syariat Berpakaian dalam Tradisi Agama
Selain ibadah, narasumber juga membahas aturan berpakaian.
Menurut penjelasannya, perempuan Yahudi Ortodoks memiliki kewajiban menutup aurat dengan pakaian yang sangat tertutup. Tradisi serupa disebut masih ditemukan dalam sebagian gereja Kristen Ortodoks ketika beribadah, di mana perempuan menggunakan penutup kepala.
Pemaparan tersebut digunakan untuk menunjukkan adanya kemiripan syariat berpakaian yang dipandang berasal dari ajaran para nabi terdahulu.
Aturan Makanan dan Larangan Mengonsumsi Babi
Selanjutnya dibahas mengenai aturan makanan.
Narasumber menjelaskan bahwa baik Islam maupun Yahudi sama-sama mengharamkan daging babi. Menurut pandangan yang disampaikan, larangan tersebut merupakan bagian dari syariat yang berasal dari Tuhan dan diwariskan melalui nabi-nabi sebelumnya.
Hal ini kemudian dijadikan salah satu contoh adanya kesinambungan ajaran antara Islam dengan syariat nabi-nabi terdahulu.
Konsep Taharah atau Bersuci
Pembahasan berikutnya mengulas mengenai konsep taharah atau bersuci.
Dalam pemaparan tersebut dijelaskan bahwa tradisi Yahudi mengenal ritual mikveh, yaitu mandi suci yang dilakukan dalam kondisi tertentu, seperti setelah hubungan suami istri, setelah selesai masa haid, maupun sebelum pelaksanaan ibadah tertentu.
Menurut narasumber, praktik tersebut memiliki sejumlah kemiripan dengan mandi wajib dalam Islam, meskipun tata caranya berbeda.
Pemaparan ini kembali dijadikan contoh bahwa terdapat benang merah dalam ajaran agama-agama yang berasal dari nabi-nabi terdahulu.
Islam Dipandang Sebagai Penyempurna Risalah Para Nabi
Menjelang akhir bagian pertama pemaparannya, narasumber menegaskan bahwa menurut keyakinan Islam, Nabi Muhammad ﷺ bukan membawa agama yang benar-benar baru.
Islam dipandang sebagai penyempurna dari risalah yang telah dibawa oleh para nabi sebelumnya sejak Nabi Adam.
Dalam perspektif tersebut, seluruh nabi mengajarkan penyembahan kepada satu Tuhan, sedangkan syariat mengalami penyempurnaan sesuai masa dan umatnya hingga diturunkannya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad ﷺ.
Menanggapi Anggapan Bahwa Islam Baru Muncul pada Abad Ke-7
Pada bagian selanjutnya, narasumber mulai menanggapi anggapan bahwa Islam baru lahir pada abad ke-7 Masehi.
Menurut penjelasannya, pernyataan tersebut hanya benar apabila yang dimaksud adalah Islam dalam pengertian sebagai syariat yang dibawa Nabi Muhammad ﷺ.
Namun apabila yang dimaksud adalah ajaran untuk berserah diri kepada Allah Yang Maha Esa, maka menurut pandangan Islam ajaran tersebut telah ada sejak Nabi Adam dan diteruskan oleh seluruh nabi setelahnya.
Pembahasan kemudian berlanjut dengan tanggapan terhadap sejumlah tuduhan yang menyebut bahwa nama “Allah” merupakan nama dewa tertentu. Narasumber mulai menjelaskan penggunaan kata “Allah” dalam terjemahan Taurat berbahasa Arab yang dikerjakan oleh Rabbi Saad Gaon serta keterkaitannya dengan penyebutan Tuhan dalam tradisi Yahudi. Penjelasan ini kemudian mengantar pada pembahasan berikutnya mengenai penggunaan nama Allah, konsep ketuhanan, serta sejumlah contoh dari kitab-kitab agama yang akan dibahas pada bagian selanjutnya.
Penggunaan Nama “Allah” dalam Tradisi Arab Menurut Pemaparan Narasumber
Melanjutkan penjelasannya, narasumber dari pihak Islam membahas penggunaan nama “Allah” dalam tradisi bahasa Arab.
Menurut pemaparannya, istilah “Allah” bukanlah nama dewa sebagaimana sering dituduhkan oleh sebagian pihak, melainkan telah digunakan dalam berbagai literatur Arab, termasuk dalam terjemahan Taurat berbahasa Arab yang dikaitkan dengan Rabbi Saad Gaon.
Ia menjelaskan bahwa sejumlah nama dalam bahasa Ibrani mengalami transliterasi ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Namun, penyebutan nama Tuhan dalam terjemahan tersebut tetap menggunakan kata “Allah”. Berdasarkan hal itu, narasumber berpendapat bahwa penyebutan “Allah” sebagai Tuhan Pencipta telah dikenal dalam tradisi Arab dan tidak hanya digunakan oleh umat Islam.
Pembahasan Mengenai Hukum Makanan dalam Kitab Suci
Pemaparan kemudian berlanjut pada pembahasan mengenai hukum makanan.
Narasumber menyebut bahwa dalam Kitab Imamat terdapat larangan mengonsumsi daging babi. Selanjutnya ia menyinggung Markus pasal 7 yang sering dipahami sebagian kalangan sebagai dasar bahwa seluruh makanan telah dihalalkan.
Menurutnya, masih terdapat pertanyaan yang perlu dijelaskan karena di dalam Kisah Para Rasul disebutkan Petrus menolak memakan makanan yang dianggap najis. Berdasarkan hal tersebut, narasumber mempertanyakan bagaimana ayat-ayat tersebut dipahami secara keseluruhan dan menyatakan bahwa hal tersebut dapat menjadi bahan klarifikasi dari pihak Kristen.
Konsep Ketuhanan dalam Perspektif Islam
Selanjutnya narasumber kembali menegaskan konsep tauhid menurut Islam.
Ia menyampaikan bahwa Allah tidak pernah berwujud dalam bentuk apa pun serta tidak dapat diserupakan dengan makhluk. Oleh karena itu, menurut pandangan yang disampaikan, umat Yahudi hingga saat ini tetap tidak menerima bahwa Nabi Isa merupakan perwujudan Tuhan.
Pemaparan kemudian mengaitkan pembahasan tersebut dengan keyakinan mengenai Trinitas. Narasumber menyebut pandangan Al-Qur’an mengenai konsep “anak Tuhan” serta mengemukakan pendapat bahwa pembahasan mengenai rumusan Trinitas mengalami perkembangan dalam sejarah Kekristenan.
Pertanyaan Mengenai Kehidupan Awal Yesus
Bagian berikutnya berisi sejumlah pertanyaan yang diajukan narasumber kepada pihak Kristen.
Ia mengutip beberapa bagian Injil yang menyebutkan pemberitahuan malaikat kepada Maria mengenai kelahiran Yesus serta kesaksian para gembala di Betlehem.
Berdasarkan ayat-ayat tersebut, narasumber mengajukan pertanyaan bahwa apabila sejak kelahirannya Yesus telah dipahami sebagai Tuhan, maka mengapa tidak terdapat catatan mengenai seluruh ucapan Yesus sejak masa bayi hingga sebelum memulai pelayanan-Nya.
Menurut penjelasannya, ia pernah memperoleh jawaban bahwa dalam tradisi Yahudi seseorang mulai mengajar secara resmi pada usia sekitar tiga puluh tahun. Namun ia kemudian menunjukkan bahwa Injil Lukas tetap mencatat peristiwa Yesus ketika berusia dua belas tahun sehingga, menurutnya, penjelasan tersebut masih menyisakan ruang untuk didiskusikan.
Dengan berakhirnya rangkaian penyampaian tersebut, pihak Islam menutup presentasi pertamanya dan memberikan kesempatan kepada pihak Kristen untuk menyampaikan tanggapan serta penjelasan mengenai pandangan mereka.
Pihak Kristen Menjelaskan Asal Mula Sebutan “Kristen”
Mengawali penyampaiannya, perwakilan pihak Kristen menyampaikan rasa syukur atas kesempatan berdialog serta menegaskan bahwa penjelasannya akan didasarkan pada Alkitab.
Menurut pemaparannya, setelah Yesus memulai pelayanan pada usia sekitar tiga puluh tahun, Ia memilih dua belas murid yang kemudian mengikuti-Nya selama masa pelayanan.
Sesudah Yesus naik ke surga, para murid melaksanakan amanat untuk memberitakan Injil kepada banyak orang. Seiring bertambahnya jumlah pengikut, terbentuklah komunitas orang-orang yang percaya kepada Kristus.
Dalam penjelasan tersebut disampaikan bahwa sebutan “Kristen” mulai digunakan di Antiokhia sebagaimana dicatat dalam Kitab Kisah Para Rasul. Nama tersebut dipahami sebagai sebutan bagi orang-orang yang menjadi pengikut Kristus.
Pengikut Tuhan Sudah Ada Sebelum Nama Kristen Digunakan
Narasumber kemudian menjelaskan bahwa meskipun nama “Kristen” baru muncul di Antiokhia, pengikut Tuhan telah ada jauh sebelumnya.
Ia mencontohkan bangsa Israel sebagai umat yang dipilih untuk memperkenalkan Tuhan kepada umat manusia. Menurut penjelasannya, sejak zaman Musa Tuhan telah menunjukkan berbagai mukjizat sebagai bukti penyertaan-Nya, termasuk pembelahan Laut Teberau dan pemeliharaan terhadap bangsa Israel selama di padang gurun.
Melalui sejarah tersebut, bangsa Israel dipandang memiliki tugas memperkenalkan Tuhan yang benar kepada dunia di tengah banyaknya penyembahan kepada berhala.
Sebutan “Kristen” Disebut Berasal dari Orang Luar
Melengkapi penjelasan sebelumnya, narasumber lain dari pihak Kristen memberikan tambahan mengenai asal mula istilah “Kristen”.
Menurut penjelasannya, murid-murid Yesus pada awalnya tidak menyebut diri mereka sebagai orang Kristen. Sebutan tersebut justru muncul dari masyarakat luar di Antiokhia yang memandang kelompok pengikut Yesus sebagai sebuah komunitas tersendiri.
Ia menjelaskan bahwa pada masa itu para pengikut Yesus masih dianggap sebagai bagian yang menyimpang dari tradisi Yahudi sehingga penyebutan “Kristen” pada awalnya dipahami sebagai bentuk ejekan atau label dari masyarakat luar.
Namun seiring waktu, nama tersebut diterima oleh para pengikut Kristus dan akhirnya menjadi identitas yang digunakan hingga sekarang.
Nama Bukan Hal Utama Menurut Narasumber
Dalam pemaparannya, narasumber juga menyampaikan bahwa menurut pandangannya, nama suatu kelompok bukanlah hal yang paling penting.
Ia menilai bahwa yang lebih utama adalah bagaimana seseorang menjalankan ajaran yang diyakininya dalam kehidupan sehari-hari.
Sebagai contoh, ia menyebut bahwa Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh pada awalnya merupakan sebuah gerakan rohani yang berkembang di Amerika Serikat sebelum kemudian dikenal sebagai salah satu denominasi dalam Kekristenan.
Alasan Mengikuti Yesus
Pada bagian berikutnya, narasumber menjelaskan alasan mengapa dirinya mengikuti Yesus.
Menurut pemaparannya, Yesus dipahami sebagai pemilik kerajaan surga dan memiliki kuasa atas surga maupun bumi. Ia mengutip pernyataan Yesus mengenai kuasa yang diberikan kepada-Nya sebagai dasar keyakinan tersebut.
Di sisi lain, narasumber juga menegaskan bahwa selama berada di dunia, Yesus tidak datang dengan tujuan menyatakan diri-Nya secara langsung untuk disembah, melainkan untuk memperkenalkan Tuhan kepada manusia dan membawa keselamatan.
Ia kemudian mengutip ajaran Yesus mengenai hidup kekal dan pentingnya mengenal Tuhan yang benar. Dalam penjelasannya, mengenal Tuhan diibaratkan seperti mengenali kendaraan sendiri di tempat parkir yang penuh. Tanpa mengenali identitas yang benar, seseorang tidak akan menemukan tujuan yang ingin dicapai.
Melalui ilustrasi tersebut, narasumber menekankan bahwa mengenal Tuhan dipandang sebagai syarat penting untuk memperoleh keselamatan menurut keyakinan yang disampaikannya.
Penjelasan Mengenai Pandangan Gereja Advent tentang Hukum Makanan
Setelah pemaparan awal dari pihak Kristen, dialog berlanjut dengan pembahasan mengenai hukum makanan, khususnya terkait larangan mengonsumsi daging babi.
Perwakilan dari Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh menjelaskan bahwa komunitasnya memilih memahami Alkitab secara literal sesuai teks yang tertulis. Menurut penjelasannya, apabila suatu makanan dinyatakan haram dalam Alkitab, maka larangan tersebut tetap berlaku.
Ia mencontohkan bahwa selain mempertahankan aturan mengenai makanan, umat Advent juga tetap menjalankan ibadah pada hari Sabat sebagaimana tercantum dalam Alkitab. Menurutnya, pendekatan tersebut berbeda dengan sebagian denominasi Kristen lain yang memahami sejumlah ketentuan sebagai bagian dari konteks sejarah tertentu.
Dalam kesempatan itu, ia juga menjelaskan bahwa penglihatan Rasul Petrus dalam Kisah Para Rasul menurut pemahamannya bukan terutama berbicara mengenai perubahan status makanan haram menjadi halal, melainkan mengenai penerimaan bangsa-bangsa non-Yahudi ke dalam pemberitaan Injil.
Menurut penjelasan tersebut, orang Yahudi pada masa itu masih memandang bangsa lain sebagai kelompok yang najis sehingga enggan menyampaikan ajaran kepada mereka. Karena itu, penglihatan Petrus dipahami sebagai simbol bahwa Injil juga ditujukan kepada seluruh bangsa.
Penjelasan Mengenai Sebutan “Anak Allah”
Pembahasan kemudian beralih pada istilah “Anak Allah” yang digunakan dalam Alkitab.
Narasumber menjelaskan bahwa menurut keyakinan Kristen, penyebutan tersebut pertama kali disampaikan oleh malaikat kepada Maria ketika memberitakan kelahiran Yesus. Selanjutnya, sebutan tersebut juga dikaitkan dengan peristiwa baptisan Yesus ketika terdengar suara dari surga yang menyebut-Nya sebagai Anak yang dikasihi.
Menurut penjelasannya, istilah “Anak Allah” tidak dipahami sebagai makna biologis bahwa Tuhan memiliki keturunan, melainkan sebagai gelar yang menunjukkan kedudukan Yesus dalam iman Kristen.
Ia juga menyampaikan bahwa menurut keyakinannya, Yesus memiliki asal-usul yang berbeda dari seluruh manusia lainnya. Jika manusia lahir melalui ayah dan ibu, maka Yesus dipahami sebagai Firman Allah yang datang ke dunia melalui kelahiran dari Maria.
Firman Allah yang Menjadi Manusia
Narasumber kemudian menghubungkan penjelasan tersebut dengan bagian awal Injil Yohanes.
Menurut pemaparannya, orang Kristen memahami bahwa Firman Allah telah ada bersama Allah sejak semula, kemudian Firman tersebut menjadi manusia dalam diri Yesus Kristus.
Ia menegaskan bahwa orang Kristen tetap mengakui Yesus sebagai manusia yang hidup sebagaimana manusia pada umumnya, mengalami lapar, haus, dan berbagai pengalaman kehidupan. Namun, sebelum menjadi manusia, Yesus dipahami sebagai Firman Allah yang kekal.
Pandangan inilah yang menurut narasumber menjadi dasar mengapa umat Kristen menyebut Yesus sebagai Tuhan.
Penjelasan Mengenai Istilah Trinitas
Dalam sesi berikutnya, narasumber turut menjelaskan mengenai istilah Trinitas.
Menurut keterangannya, kata “Trinitas” sendiri memang tidak tercantum secara eksplisit di dalam Alkitab. Istilah tersebut dipandang sebagai istilah teologis yang digunakan untuk menjelaskan pemahaman mengenai Allah yang esa.
Ia menjelaskan bahwa menurut keyakinan Kristen, Allah yang esa memiliki Firman dan Roh, dan keduanya dipahami sebagai bagian dari keberadaan Allah sendiri.
Untuk menggambarkan pemahamannya, narasumber menggunakan analogi bahwa segala sesuatu yang berasal dari seseorang tetap memiliki hakikat yang sama dengan dirinya. Dengan ilustrasi tersebut, ia menjelaskan alasan mengapa Firman Allah dan Roh Allah dipahami memiliki hakikat ilahi.
Menurut penjelasannya, istilah Trinitas bukan dimaksudkan untuk menunjukkan adanya tiga Tuhan, melainkan sebagai cara menjelaskan pemahaman mengenai Allah yang esa beserta Firman dan Roh-Nya.
Keilahian dan Kemanusiaan Yesus Menurut Pandangan Kristen
Selanjutnya dijelaskan bahwa persoalan teologis muncul ketika Firman Allah menjadi manusia.
Menurut narasumber, Yesus memiliki dua sisi dalam pemahaman Kristen, yaitu sisi ilahi dan sisi kemanusiaan.
Ketika menjalani kehidupan di dunia, Yesus dipandang sebagai manusia yang mengalami berbagai keterbatasan sebagaimana manusia lainnya. Namun dalam keyakinan Kristen, di balik kemanusiaan tersebut terdapat hakikat ilahi sebagai Firman Allah.
Ia menegaskan bahwa selama berada di dunia, yang tampak oleh manusia adalah kemanusiaan Yesus sehingga Ia dapat mengalami penderitaan, penolakan, dan berbagai peristiwa dalam hidup-Nya.
Ketertarikan Mempelajari Islam
Dalam dialog tersebut, narasumber juga menceritakan latar belakang dirinya mempelajari Islam.
Ia menjelaskan bahwa ketertarikannya muncul karena hidup berdampingan dengan masyarakat Muslim sejak kecil. Menurutnya, seseorang tidak mungkin memahami ataupun menghargai agama lain apabila tidak berusaha mempelajarinya terlebih dahulu.
Ia mengaku telah membaca terjemahan Al-Qur’an dan berusaha mengenal ajaran Islam melalui proses belajar secara mandiri selama bertahun-tahun.
Selain itu, ia juga menceritakan bahwa ketika bersekolah di daerah yang mayoritas penduduknya Muslim, dirinya mengikuti pelajaran agama Islam sehingga sempat mempelajari bacaan-bacaan pendek Al-Qur’an sebagai bagian dari proses pendidikan di sekolah.
Dasar Keyakinan Mengenai Yesus Memberikan Hidup Kekal
Pada sesi berikutnya, narasumber lain dari pihak Kristen mengutip Yohanes pasal 10 sebagai dasar keyakinannya.
Menurut penjelasannya, Yesus menyatakan bahwa Ia mengenal domba-domba-Nya dan memberikan hidup yang kekal kepada mereka.
Berdasarkan ayat tersebut, narasumber berpendapat bahwa kemampuan memberikan hidup kekal merupakan hak yang hanya dimiliki oleh Tuhan. Oleh sebab itu, menurut penafsirannya, Yesus dipahami memiliki keilahian meskipun tidak secara eksplisit mengucapkan kalimat “Aku adalah Tuhan”.
Ia juga mengaitkan keyakinan tersebut dengan pernyataan Yesus mengenai segala kuasa di surga dan di bumi yang diberikan kepada-Nya setelah kebangkitan.
Alasan Tuhan Datang Menjadi Manusia Menurut Pemaparan Narasumber
Selanjutnya narasumber menjelaskan alasan mengapa, menurut keyakinannya, Tuhan datang ke dunia sebagai manusia.
Ia menyampaikan bahwa apabila Tuhan hadir tanpa menjadi manusia, maka manusia tidak akan memiliki teladan yang dapat dilihat secara langsung.
Menurut penjelasannya, Yesus datang sebagai guru sekaligus teladan kehidupan. Dengan menjadi manusia, Yesus mengalami berbagai penderitaan, pencobaan, godaan, rasa lapar, serta berbagai pergumulan yang juga dialami manusia.
Karena itu, kehidupan Yesus dipandang sebagai contoh nyata bahwa manusia dapat tetap taat kepada Allah meskipun menghadapi berbagai ujian kehidupan.
Dalam penjelasan tersebut juga disampaikan bahwa Yesus dianggap menunjukkan bagaimana seseorang dapat mengalahkan godaan, hidup sesuai kehendak Tuhan, dan tetap setia menjalankan hukum-hukum Allah.
Yesus Sebagai Teladan Kehidupan
Narasumber kemudian menegaskan bahwa menurut ajaran yang dipahaminya, dosa merupakan pelanggaran terhadap hukum Tuhan.
Oleh sebab itu, Yesus dipandang datang ke dunia bukan hanya untuk mengajarkan kebenaran melalui perkataan, tetapi juga memperlihatkan secara langsung bagaimana menjalankan kehidupan yang taat kepada Allah.
Ia menjelaskan bahwa manusia diajak mengikuti teladan Yesus dalam menjalankan kehidupan sehari-hari, mengalahkan godaan, serta berusaha hidup sesuai dengan kehendak Tuhan.
Sebagai penutup sesi ini, narasumber lain kembali menegaskan bahwa selama menjalani kehidupan di dunia, Yesus dipahami hidup sebagai manusia yang bergantung sepenuhnya kepada Allah.
Menurut penjelasannya, kemenangan Yesus atas dosa dan berbagai pencobaan bukan karena menggunakan keilahian-Nya, melainkan karena ketaatan dan ketergantungan-Nya kepada Allah. Dengan demikian, kehidupan Yesus dipandang sebagai contoh bahwa manusia juga dapat hidup benar apabila bersandar kepada Tuhan.
Ia juga kembali menegaskan bahwa dalam keyakinan yang disampaikannya terdapat pembedaan antara Allah Bapa dan Yesus sebagai Firman Allah, yang menjadi bagian dari penjelasan teologis mengenai hubungan antara keduanya.
Penjelasan Mengenai Hakikat Tuhan Menurut Pandangan Narasumber Kristen
Melanjutkan tanggapannya, salah seorang narasumber dari pihak Kristen kembali menegaskan bahwa menurut keyakinannya, Yesus bukanlah Allah Bapa, melainkan Firman Allah yang menjadi manusia.
Ia menjelaskan bahwa Allah Bapa tetap dipahami sebagai Allah yang esa, sedangkan Yesus disebut sebagai Firman Allah yang datang ke dunia dalam wujud manusia. Menurutnya, pembahasan mengenai hubungan antara Allah Bapa, Firman, dan Roh memang bukan konsep yang sederhana untuk dipahami dengan logika manusia.
Dalam penjelasannya, ia mengingatkan agar pembahasan mengenai Tuhan tidak disamakan dengan cara manusia memahami benda atau makhluk yang dapat dihitung maupun dibatasi.
Keterbatasan Logika Manusia dalam Memahami Tuhan
Narasumber kemudian menyampaikan pandangan pribadinya mengenai hakikat Tuhan.
Menurutnya, Tuhan adalah Pribadi yang Mahabesar dan Mahamulia sehingga akal manusia tidak mampu memahami-Nya secara sempurna. Ia berpendapat bahwa Alkitab sendiri hanya mengungkapkan sebagian kecil mengenai hakikat Tuhan dan tidak memberikan penjelasan secara menyeluruh.
Ia juga menyampaikan bahwa manusia seharusnya tidak merasa mampu menjelaskan seluruh hakikat Tuhan berdasarkan logika semata. Dalam pandangannya, apabila Tuhan sepenuhnya dapat dijelaskan oleh akal manusia, maka hal tersebut justru menunjukkan bahwa pemahaman manusia telah menempatkan dirinya di atas kebesaran Tuhan.
Pandangan Mengenai Perdebatan Trinitas
Masih dalam penjelasan yang sama, narasumber menyatakan bahwa menurut keyakinannya, perdebatan mengenai apakah Tuhan disebut satu atau tiga bukanlah pokok utama keselamatan.
Ia mengatakan bahwa dirinya tidak menemukan perintah dalam Alkitab yang menyatakan seseorang akan diselamatkan hanya karena mengucapkan Tuhan itu satu ataupun tiga.
Menurut pemahamannya, yang lebih ditekankan dalam Alkitab adalah kehidupan yang taat kepada Tuhan dan menjaga diri agar tidak melanggar hukum-hukum-Nya.
Karena itu, ia berpendapat bahwa pembahasan mengenai Trinitas tidak boleh menggeser perhatian dari tujuan utama kehidupan beriman, yaitu hidup sesuai kehendak Tuhan.
Penekanan pada Hati dan Kasih Menurut Pemaparan Narasumber
Narasumber kemudian menjelaskan bahwa menurut keyakinannya, setelah pengorbanan Yesus di kayu salib, berbagai simbol dalam hukum Taurat dipandang telah mencapai penggenapannya.
Ia berpendapat bahwa yang terutama ditekankan oleh Yesus adalah penyerahan hati kepada Tuhan serta kasih kepada sesama manusia.
Dalam pandangannya, berbagai bentuk tata cara ibadah dipahami sebagai simbol kerendahan hati, sedangkan yang paling penting adalah kondisi hati seseorang di hadapan Tuhan.
Ia juga menjelaskan bahwa doa dapat dilakukan kapan saja tanpa dibatasi waktu tertentu. Menurutnya, Tuhan lebih memperhatikan ketulusan hati daripada bentuk lahiriah suatu ibadah.
Kembali Membahas Istilah Islam dan Agama Islam
Setelah itu, narasumber lain dari pihak Kristen memberikan tanggapan terhadap penjelasan sebelumnya mengenai istilah Islam.
Ia menyatakan bahwa dirinya memahami adanya perbedaan antara istilah Islam sebagai sikap berserah diri kepada Tuhan dengan agama Islam sebagai agama yang berkembang setelah diutusnya Nabi Muhammad ﷺ.
Menurut penjelasannya, banyak kesalahpahaman muncul karena kedua istilah tersebut sering digunakan secara bergantian.
Ia mengatakan bahwa apabila istilah muslim dipahami sebagai orang yang berserah diri kepada Tuhan, maka pengertian tersebut memiliki makna yang berbeda dengan penyebutan agama Islam sebagai sebuah agama yang memiliki syariat tertentu.
Karena itu, ia menganggap penting untuk membedakan penggunaan kedua istilah tersebut dalam diskusi lintas agama.
Jawaban Mengenai Masa Kecil Yesus
Menanggapi pertanyaan dari pihak Islam mengenai catatan kehidupan Yesus sejak bayi hingga usia sekitar tiga puluh tahun, narasumber menjelaskan bahwa Injil tidak memberikan kisah lengkap mengenai seluruh masa kehidupan Yesus.
Menurut pemaparannya, Injil lebih banyak menyoroti masa ketika Yesus memulai pelayanan-Nya setelah dibaptis.
Ia menjelaskan bahwa fokus utama Injil bukanlah mencatat seluruh perjalanan hidup Yesus sejak kecil, melainkan karya penyelamatan yang diyakini dilakukan-Nya bagi umat manusia.
Penjelasan Mengenai Dosa dan Karya Penyelamatan
Narasumber kemudian menjelaskan pokok ajaran yang menurutnya menjadi pusat pemberitaan Alkitab.
Ia mengatakan bahwa persoalan utama manusia adalah dosa yang memutus hubungan dengan Tuhan.
Menurut penjelasannya, sejak kisah Adam dan Hawa, manusia dipandang telah jatuh ke dalam dosa karena melanggar perintah Allah. Pelanggaran tersebut dipahami membawa konsekuensi berupa kematian sebagaimana disebutkan dalam Taurat dan kemudian dijelaskan kembali dalam tulisan Rasul Paulus.
Ia menggunakan ilustrasi bahwa dosa seperti utang yang harus dibayar. Oleh sebab itu, menurut keyakinan yang disampaikannya, Yesus datang ke dunia untuk menggenapi karya penyelamatan dengan menjadi kurban bagi dosa manusia.
Dalam pandangan tersebut, kematian Yesus di kayu salib dipahami sebagai pengorbanan yang bertujuan menanggung akibat dosa umat manusia sehingga mereka memperoleh jalan keselamatan.
Keselamatan Sebagai Pokok Ajaran Alkitab
Melanjutkan penjelasannya, narasumber menegaskan bahwa menurut pemahamannya, fokus utama Alkitab bukanlah mengajak manusia sekadar menyatakan bahwa Tuhan itu satu atau menekankan bentuk-bentuk ibadah tertentu.
Ia berpendapat bahwa pusat ajaran Alkitab adalah keselamatan manusia dari akibat dosa melalui pertobatan dan penyerahan diri kepada Tuhan.
Menurutnya, Tuhan lebih menghendaki pertobatan dan kerendahan hati daripada sekadar pelaksanaan ritual keagamaan.
Ia juga menyampaikan bahwa doa dipandang sebagai sarana membangun hubungan dengan Tuhan, bukan sebagai kewajiban yang apabila terlambat dilakukan akan langsung mendatangkan hukuman.
Moderator Mengembalikan Fokus kepada Tema Dialog
Setelah mendengarkan pemaparan kedua belah pihak, moderator kembali mengingatkan bahwa tema utama dialog adalah mengenai sejarah berdirinya Islam dan Kristen.
Moderator juga menyinggung salah satu pertanyaan dari pihak Islam yang menurutnya belum memperoleh jawaban secara langsung, yaitu mengenai ada atau tidaknya catatan ucapan Yesus sejak masa kanak-kanak apabila Yesus dipahami sebagai Tuhan.
Pertanyaan tersebut kembali diajukan kepada pihak Kristen untuk memperoleh penjelasan tambahan.
Penjelasan Mengenai Yesus Sebagai Manusia
Menanggapi pertanyaan moderator, narasumber Kristen menjelaskan bahwa menurut keyakinannya, ketika datang ke dunia Yesus menjalani kehidupan sebagai manusia sepenuhnya.
Ia menyatakan bahwa Yesus tidak menggunakan kuasa keilahian-Nya selama menjalani kehidupan sebagai bayi maupun manusia biasa.
Sebagai bayi, Yesus dipahami mengalami seluruh proses pertumbuhan sebagaimana manusia pada umumnya, seperti membutuhkan perawatan dari orang tua dan belum dapat berbicara.
Menurut penjelasannya, hal tersebut justru menjadi bukti bahwa Yesus benar-benar hadir sebagai manusia sehingga dapat menjadi teladan bagi umat manusia dalam menjalani kehidupan.
Tanggapan Pihak Islam Mengenai Makna Muslim
Setelah itu, moderator memberikan kesempatan kepada pihak Islam untuk menyampaikan tanggapan.
Narasumber dari pihak Islam kembali menegaskan bahwa penggunaan istilah muslim dalam Al-Qur’an memiliki makna universal, yaitu setiap orang yang berserah diri kepada Allah Yang Maha Esa.
Menurut penjelasannya, seluruh nabi sebelum Nabi Muhammad ﷺ dipandang sebagai muslim karena sama-sama mengajarkan penyembahan kepada Tuhan Yang Esa tanpa menyekutukan-Nya.
Ia juga menjelaskan bahwa dalam perspektif Islam maupun Yudaisme, Tuhan dipahami tidak menjadi manusia dan tetap Maha Esa.
Menurutnya, perbedaan pandangan mengenai hakikat Tuhan merupakan bagian dari keyakinan masing-masing agama sehingga tidak dapat dipaksakan satu sama lain.
Diskusi Mengenai Allah Yang Esa
Menanggapi kembali pernyataan tersebut, narasumber Kristen menyampaikan bahwa menurut keyakinannya, Tuhan tidak dapat dibatasi dengan perhitungan angka.
Ia kembali menegaskan bahwa yang menjadi perhatian utamanya bukanlah perdebatan mengenai satu atau tiga, melainkan ketaatan terhadap hukum-hukum Tuhan.
Sebagai bagian dari penjelasannya, ia meminta penjelasan mengenai konsep Firman Allah dan Roh Allah menurut perspektif Islam.
Menanggapi hal tersebut, narasumber Islam kembali menegaskan bahwa ajaran mengenai keesaan Allah telah diajarkan sejak para nabi terdahulu. Ia mengutip bagian dari Kitab Ulangan yang menyatakan bahwa Tuhan adalah Esa sebagai salah satu dasar bahwa konsep tauhid bukanlah ajaran yang baru muncul pada masa Nabi Muhammad ﷺ.
Perdebatan Mengenai Makna Berserah Diri
Moderator kemudian mencoba menyimpulkan jalannya diskusi dengan menyebut bahwa apabila seseorang menyembah Tuhan Yang Esa dan berserah diri kepada-Nya, apakah hal tersebut berarti ia dapat disebut muslim dalam pengertian yang dijelaskan sebelumnya.
Pihak Islam kemudian menjelaskan bahwa istilah berserah diri tidak hanya dipahami sebagai sikap umum, tetapi juga berkaitan dengan ketaatan kepada Allah yang disembah oleh para nabi Bani Israil.
Dalam penjelasannya, narasumber mengemukakan bahwa menurut perspektif Islam, orang-orang Yahudi mengakui Tuhan Yang disembah umat Islam sebagai Tuhan yang sama dengan Tuhan para nabi mereka, tetapi tidak menerima Yesus sebagai Tuhan.
Ia kemudian mengutip beberapa ayat Al-Qur’an yang menurut pandangannya menolak keyakinan bahwa Al-Masih adalah Allah maupun bahwa Al-Masih adalah Anak Allah.
Menurut penjelasannya, ayat-ayat tersebut digunakan sebagai dasar bahwa Islam mempertahankan ajaran tauhid sebagaimana dipahami dalam tradisi para nabi terdahulu.
Di akhir bagian ini, narasumber mulai menanggapi penafsiran terhadap salah satu ayat dalam Surah Ali ‘Imran mengenai kedudukan Nabi Isa. Ia menjelaskan bahwa istilah yang digunakan dalam ayat tersebut dipahami sebagai bentuk sifat, kemudian pembahasan berlanjut kepada analisis bahasa terhadap ayat tersebut pada sesi berikutnya.
Tanggapan Pihak Islam Mengenai Penafsiran Ayat tentang Nabi Isa
Melanjutkan tanggapannya, narasumber dari pihak Islam membahas penafsiran terhadap salah satu ayat dalam Surah Ali ‘Imran yang menyebut Nabi Isa sebagai sosok yang “terkemuka di dunia dan di akhirat”.
Menurut penjelasannya, kata yang diterjemahkan sebagai “terkemuka” dipahami sebagai bentuk sifat (adjektif), bukan bentuk superlatif yang menunjukkan kedudukan paling tinggi.
Untuk menjelaskan maksud tersebut, ia memberikan ilustrasi penggunaan kata “terkemuka” dalam bahasa Indonesia. Menurutnya, ketika media memberitakan bahwa para pebisnis terkemuka berkumpul dalam suatu acara, istilah tersebut tidak menunjuk kepada satu orang saja, melainkan kepada banyak tokoh yang sama-sama memiliki kedudukan penting.
Berdasarkan analogi tersebut, ia berpendapat bahwa penyebutan Nabi Isa sebagai sosok yang terkemuka tidak berarti hanya Nabi Isa seorang yang memiliki kedudukan mulia di sisi Allah.
Ia juga menambahkan bahwa kelanjutan ayat tersebut menyebut Nabi Isa termasuk orang-orang yang didekatkan kepada Allah. Menurut penafsirannya, frasa tersebut menunjukkan bahwa Nabi Isa merupakan salah satu dari kelompok hamba pilihan yang dimuliakan Allah, bukan satu-satunya.
Penjelasan Mengenai Surah Az-Zukhruf Ayat 61
Pembahasan kemudian beralih kepada penafsiran Surah Az-Zukhruf ayat 61.
Narasumber menjelaskan bahwa ayat tersebut sering dipahami sebagai dalil mengenai kedudukan Nabi Isa menjelang hari kiamat.
Menurut penafsirannya, kata yang diterjemahkan sebagai “ilmu” dalam ayat tersebut tidak dimaksudkan bahwa Nabi Isa mengetahui secara rinci waktu terjadinya kiamat. Sebaliknya, ia memahami kata tersebut sebagai penunjuk atau tanda yang memberikan pengetahuan kepada manusia.
Sebagai ilustrasi, ia membandingkannya dengan rambu lalu lintas yang memberikan informasi kepada pengguna jalan. Dalam pandangannya, Nabi Isa dipahami sebagai tanda yang berkaitan dengan hari kiamat, bukan sebagai pihak yang menentukan ataupun mengetahui secara rinci kapan kiamat akan terjadi.
Perbedaan Antara Pengikut Yesus dan Penyembah Yesus
Selanjutnya narasumber menjelaskan adanya pembedaan antara mengikuti ajaran Yesus dan menyembah Yesus.
Menurut pandangan yang disampaikannya, orang yang mengikuti Yesus berarti meneladani ajaran serta praktik hidup yang dicontohkan oleh Nabi Isa, seperti menjalankan khitan, menghindari makanan yang diharamkan, serta beribadah kepada Allah dengan bersujud sebagaimana digambarkan dalam beberapa bagian Injil.
Sebaliknya, ia berpendapat bahwa perkembangan tertentu dalam tradisi Kekristenan kemudian membawa perubahan terhadap sebagian praktik tersebut.
Dalam penjelasannya, ia menyinggung Surat Galatia yang menurut pemahamannya membahas persoalan sunat, serta Markus pasal 7 yang menurutnya sering dijadikan dasar untuk menyatakan seluruh makanan menjadi halal. Ia juga mengakui bahwa terdapat perbedaan penafsiran mengenai ayat tersebut di antara berbagai denominasi Kristen, termasuk Gereja Advent yang sebelumnya telah menyampaikan pandangan berbeda.
Pertanyaan Mengenai Firman yang Menjadi Manusia
Narasumber kemudian kembali menyinggung pembahasan mengenai Yohanes pasal 1 yang menjelaskan Firman menjadi manusia.
Menurutnya, apabila Yesus dipahami sebagai Firman Allah sejak kelahirannya, maka muncul pertanyaan mengenai mengapa tidak terdapat catatan mengenai seluruh ucapan Yesus sejak masa bayi hingga sebelum memulai pelayanan-Nya.
Ia berpendapat bahwa apabila seluruh kehidupan Yesus dipahami sebagai perwujudan Firman Allah, maka setiap perkataan maupun pengajaran sejak masa awal kehidupannya seharusnya memiliki nilai penting untuk dicatat.
Pertanyaan tersebut kemudian dikaitkan dengan pembahasan sebelumnya mengenai minimnya catatan Injil tentang masa kecil Yesus.
Pertanyaan Mengenai Tujuan Kematian Yesus
Pembahasan berikutnya beralih kepada keyakinan Kristen mengenai karya penebusan dosa.
Narasumber mengutip penjelasan pihak Kristen bahwa Yesus datang ke dunia untuk menebus dosa manusia melalui kematian-Nya di kayu salib.
Namun, ia kemudian mengajukan sejumlah pertanyaan mengenai peristiwa menjelang penangkapan Yesus di Taman Getsemani.
Menurut penjelasannya, beberapa bagian Injil menunjukkan bahwa Yesus berdoa agar dilepaskan dari penderitaan yang akan dihadapi. Selain itu, ia juga menyinggung perintah Yesus kepada murid-murid-Nya untuk membawa pedang sebelum peristiwa penangkapan.
Berdasarkan rangkaian peristiwa tersebut, narasumber mempertanyakan bagaimana hal itu dipahami apabila kematian Yesus memang merupakan tujuan utama kedatangan-Nya ke dunia.
Pembahasan Mengenai Doa Yesus di Getsemani
Masih berkaitan dengan pembahasan tersebut, narasumber menyoroti kisah ketika Yesus berdoa dengan penuh pergumulan di Taman Getsemani.
Ia mengutip bagian Injil yang menceritakan bahwa Yesus memohon kepada Allah agar cawan penderitaan berlalu dari-Nya serta memperoleh penguatan dari malaikat.
Menurut pandangannya, apabila Yesus memiliki kodrat ilahi sekaligus kodrat manusia, maka muncul pertanyaan mengapa penguatan tersebut justru diberikan oleh malaikat.
Ia juga membandingkan keberanian para pejuang yang rela menghadapi kematian demi mempertahankan tanah air dengan pergumulan Yesus menjelang penyaliban sebagai bagian dari pertanyaan yang diajukannya kepada pihak Kristen.
Jawaban Pihak Kristen Mengenai Ketakutan Yesus
Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber dari pihak Kristen kembali menjelaskan bahwa menurut keyakinannya, selama menjalani kehidupan di dunia Yesus hidup sepenuhnya sebagai manusia.
Ia menyatakan bahwa sejak berada dalam kandungan hingga wafat di kayu salib, Yesus tidak menggunakan kuasa keilahian-Nya. Karena itu, rasa takut, penderitaan, tangisan, maupun pergumulan yang dialami Yesus dipahami sebagai pengalaman manusia yang nyata.
Menurut penjelasannya, justru melalui pengalaman tersebut Yesus memberikan teladan kepada manusia mengenai bagaimana berserah kepada kehendak Allah ketika menghadapi penderitaan.
Ia menjelaskan bahwa doa Yesus yang memohon agar kehendak Allah yang terjadi dipandang sebagai contoh penyerahan diri yang hendaknya diteladani oleh setiap orang percaya.
Dalam pandangannya, apabila Yesus tidak mengalami seluruh pergumulan manusia secara nyata, maka kehidupan-Nya tidak dapat menjadi teladan bagi umat manusia.
Pembahasan Mengenai Sunat dalam Perspektif Kristen
Narasumber Kristen kemudian memberikan tanggapan terhadap pembahasan mengenai sunat.
Ia mengakui bahwa Yesus memang menjalani sunat sesuai tradisi Yahudi.
Namun menurut penjelasannya, sunat dipahami sebagai tanda perjanjian Allah dengan Abraham dan keturunannya, bukan sebagai syarat keselamatan.
Karena itu, ia berpendapat bahwa seseorang dapat memilih untuk bersunat ataupun tidak tanpa memengaruhi keselamatannya.
Menurut keyakinannya, persoalan utama yang dibahas dalam Alkitab bukanlah sunat maupun bentuk-bentuk ritual lainnya, melainkan pelanggaran terhadap hukum Tuhan yang dipandang sebagai dosa.
Diskusi Mengenai Penerjemahan Al-Qur’an
Dialog kemudian beralih kepada pembahasan mengenai penggunaan terjemahan Al-Qur’an.
Ketika pihak Islam menyinggung pentingnya memahami bahasa Arab dalam menafsirkan Al-Qur’an, narasumber Kristen menceritakan pengalaman berdialog dengan seorang tokoh Muslim mengenai persoalan tersebut.
Ia menjelaskan bahwa dirinya mempelajari Al-Qur’an melalui terjemahan resmi yang diterbitkan oleh pemerintah Indonesia.
Menurut pandangannya, keberadaan terjemahan tersebut memungkinkan masyarakat yang tidak menguasai bahasa Arab tetap dapat memahami isi Al-Qur’an.
Ia kemudian mempertanyakan apakah pemahaman melalui terjemahan resmi tersebut dapat dianggap keliru hanya karena pembacanya tidak menguasai bahasa Arab.
Tanggapan Mengenai Tata Cara Ibadah
Pada bagian selanjutnya, narasumber Kristen kembali menanggapi pembahasan mengenai tata cara ibadah.
Menurut penjelasannya, bentuk ibadah yang berkembang di berbagai gereja juga dipengaruhi oleh budaya tempat agama tersebut berkembang.
Ia mencontohkan bahwa gereja-gereja di Barat menggunakan pakaian, alat musik, serta kebiasaan yang berbeda dengan masyarakat Timur Tengah.
Karena itu, ia berpendapat bahwa bentuk gerakan tubuh ketika beribadah bukanlah inti penyembahan kepada Tuhan.
Menurut keyakinannya, yang paling utama adalah penyembahan yang dilakukan dengan roh dan kebenaran, sedangkan bentuk-bentuk lahiriah dipandang sebagai bagian dari budaya yang dapat berbeda di setiap tempat.
Ia juga menyampaikan bahwa praktik bersujud dapat dipahami sebagai salah satu bentuk penghormatan, tetapi menurut pandangannya tidak menjadi syarat mutlak dalam ibadah umat Kristen.
Pembahasan mengenai hubungan antara bentuk ibadah, budaya, serta makna penyembahan kemudian terus berlanjut dengan tanggapan dari kedua belah pihak pada sesi berikutnya.
Pandangan Mengenai Bentuk Ibadah dan Makna Penyembahan
Melanjutkan penjelasannya, narasumber dari pihak Kristen kembali menegaskan bahwa berbagai bentuk ibadah seperti bersujud maupun praktik sunat dipandang sebagai sesuatu yang boleh dilakukan, tetapi menurut keyakinannya bukan merupakan syarat mutlak keselamatan.
Ia berpendapat bahwa tata cara ibadah tersebut lebih berkaitan dengan budaya masyarakat tempat agama berkembang daripada menjadi inti dari penyembahan kepada Tuhan.
Menurut penjelasannya, penyembahan yang sejati tercermin melalui kehidupan sehari-hari seseorang.
Ia memberikan contoh bahwa seseorang dapat rajin mengikuti kegiatan keagamaan, namun apabila perilakunya masih dipenuhi kebohongan dan tindakan yang merugikan orang lain, maka ibadah tersebut kehilangan makna.
Dalam pandangannya, Tuhan tidak membutuhkan ibadah manusia, melainkan manusialah yang membutuhkan ibadah sebagai sarana membentuk kehidupan yang benar.
Penjelasan Mengenai Sebutan “Anak Allah”
Pembahasan kemudian beralih kepada istilah “Anak Allah” yang digunakan dalam Kekristenan.
Narasumber menjelaskan bahwa menurut keyakinannya, sebutan tersebut bukan berasal dari manusia, melainkan berasal dari pemberitaan yang terdapat dalam Alkitab.
Ia menyinggung kisah pemberitahuan malaikat kepada Maria sebelum kelahiran Yesus serta peristiwa pembaptisan Yesus ketika terdengar suara dari langit yang menyebut Yesus sebagai Anak yang dikasihi.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa penyebutan “Anak Allah” tidak dipahami secara biologis.
Menurut penafsirannya, Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan. Ia bahkan menyatakan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan ketika umat Islam membaca Surah Al-Ikhlas yang menegaskan Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan.
Dalam penjelasannya, yang dilahirkan oleh Maria dipahami sebagai manusia, sedangkan penyebutan “Anak Allah” dimaknai sebagai gelar yang memiliki pengertian teologis, bukan hubungan fisik antara Allah dan manusia.
Penjelasan Mengenai Doa Yesus di Getsemani
Menanggapi kembali pertanyaan mengenai ketakutan Yesus menjelang penyaliban, narasumber Kristen memberikan penjelasan tambahan.
Menurutnya, pergumulan Yesus di Taman Getsemani bukan disebabkan oleh rasa takut terhadap kematian semata.
Ia menjelaskan bahwa yang paling berat menurut pemahamannya adalah pengalaman keterpisahan antara Yesus dengan Allah ketika menjalankan tugas sebagai kurban penebusan dosa.
Dalam pandangannya, karena sejak semula Yesus dipahami sebagai Firman Allah yang bersama Allah, maka pengalaman tersebut merupakan sesuatu yang belum pernah dialami sebelumnya.
Oleh sebab itu, doa Yesus yang memohon agar cawan penderitaan berlalu dipahami sebagai ungkapan pergumulan manusia, namun tetap diakhiri dengan penyerahan diri kepada kehendak Allah.
Menurutnya, bagian tersebut menjadi teladan bagi orang percaya agar tetap mengutamakan kehendak Tuhan di atas kehendak pribadi.
Makna Perintah Membawa Pedang
Pembahasan kemudian beralih kepada peristiwa penangkapan Yesus.
Narasumber menjelaskan bahwa ketika Petrus memotong telinga hamba Imam Besar menggunakan pedang, Yesus justru menghentikan tindakan tersebut dan memulihkan telinga orang yang terluka.
Menurut penjelasannya, peristiwa tersebut dipahami sebagai bukti bahwa Yesus tidak menghendaki penggunaan kekerasan.
Ia juga menafsirkan bahwa perintah membawa pedang sebelumnya bukan dimaksudkan untuk memulai peperangan, melainkan menjadi bagian dari pelajaran yang kemudian diperlihatkan melalui tindakan Yesus ketika melarang murid-Nya menggunakan pedang.
Dalam penafsirannya, mukjizat penyembuhan telinga hamba Imam Besar menunjukkan kuasa yang dimiliki Yesus, namun kuasa tersebut tidak digunakan untuk mempertahankan diri ataupun melawan orang-orang yang menangkap-Nya.
Godaan Iblis Setelah Yesus Berpuasa
Selanjutnya narasumber membahas kisah pencobaan Yesus setelah berpuasa empat puluh hari.
Menurut penjelasannya, Iblis datang menggoda Yesus karena mengetahui bahwa Yesus memiliki kemampuan untuk mengubah batu menjadi roti.
Namun ia berpendapat bahwa apabila Yesus menggunakan kuasa tersebut demi memenuhi keinginan pribadi, maka hal itu justru berarti mengikuti godaan Iblis.
Karena itulah, menurut keyakinannya, Yesus memilih tetap taat kepada kehendak Allah.
Ia juga menjelaskan bahwa Yesus dipahami sebagai manusia yang memiliki kemungkinan untuk mengalami pencobaan sebagaimana manusia lainnya, tetapi tetap tidak jatuh ke dalam dosa.
Dalam pandangannya, keberhasilan Yesus menghadapi pencobaan menjadi bagian penting dari teladan yang diberikan kepada umat manusia.
Pandangan Mengenai Bangsa Yahudi
Pembahasan kemudian bergeser kepada kedudukan bangsa Yahudi dalam sejarah agama.
Narasumber Kristen menyatakan bahwa menurut Alkitab, bangsa Yahudi dipilih Allah untuk memperkenalkan pengenalan akan Tuhan kepada bangsa-bangsa lain.
Namun ia berpendapat bahwa status sebagai bangsa pilihan tersebut tidak lagi dipahami berdasarkan keturunan jasmani semata.
Ia membedakan antara Israel secara jasmani dengan Israel secara rohani.
Dalam pandangannya, orang-orang percaya dipahami sebagai bagian dari Israel rohani, sedangkan status bangsa Israel modern tidak secara otomatis dipersamakan dengan pengertian Israel dalam Alkitab.
Ia juga menyampaikan bahwa berbagai keberhasilan bangsa Yahudi dipandang sebagai bagian dari berkat yang telah diterima sejak masa para leluhur mereka.
Pandangan Mengenai Sunat
Pada bagian selanjutnya, narasumber kembali menjelaskan pandangannya mengenai sunat.
Ia mengemukakan bahwa menurut pemahamannya, sunat tidak menentukan apakah seseorang memperoleh keselamatan atau tidak.
Ia mempertanyakan alasan apabila keselamatan dikaitkan dengan sunat, sementara manusia sendiri diciptakan dalam keadaan sebagaimana adanya.
Menurut penjelasannya, Alkitab juga mengenal istilah “sunat hati”, yaitu perubahan batin dengan membuang sifat-sifat jahat dari dalam diri manusia.
Ia berpendapat bahwa makna tersebut lebih penting daripada sekadar tindakan fisik.
Perbedaan Taurat Tuhan dan Taurat Musa
Melanjutkan pembahasannya, narasumber menjelaskan adanya pembedaan antara hukum yang ditulis langsung oleh Allah dengan hukum-hukum ritual yang ditulis oleh Nabi Musa.
Menurut penjelasannya, hukum yang ditulis Allah dipahami sebagai Sepuluh Perintah Allah yang tetap berlaku.
Sementara itu, berbagai ketentuan mengenai korban, sunat, persembahan, serta ritual ibadah lainnya dipahami sebagai bagian dari sistem ibadah yang berlaku pada masa tertentu dan menjadi lambang bagi karya penyelamatan yang kemudian digenapi.
Dalam pandangannya, yang tetap menjadi ukuran dosa adalah pelanggaran terhadap Sepuluh Perintah Allah.
Setelah sesi tersebut berlangsung cukup panjang, moderator kemudian menghentikan sementara dialog untuk memberikan kesempatan kepada peserta melaksanakan salat sebelum diskusi dilanjutkan kembali.
Sesi Kedua Dimulai Setelah Waktu Istirahat
Usai waktu istirahat, moderator kembali membuka jalannya dialog.
Ia memberikan kesempatan kepada pihak Islam untuk menyampaikan tanggapan atas berbagai penjelasan yang sebelumnya disampaikan oleh narasumber Kristen.
Penegasan Perspektif Tauhid Mengenai Nabi Isa
Mengawali sesi berikutnya, narasumber dari pihak Islam kembali menegaskan bahwa seluruh penafsirannya berangkat dari prinsip tauhid.
Menurut penjelasannya, dalam perspektif Islam maupun Yudaisme, Allah tidak turun ke dunia dan tidak berubah menjadi manusia.
Oleh sebab itu, sekalipun Nabi Isa dipandang memiliki kedudukan yang sangat mulia, kemuliaan tersebut tidak dipahami sebagai bukti bahwa beliau adalah Tuhan.
Ia juga mengutip Surah Al-Ma’idah ayat 72 yang menurut penafsirannya menolak keyakinan bahwa Isa merupakan bagian dari ketuhanan.
Menurutnya, Al-Qur’an justru sangat memuliakan Nabi Isa sebagai nabi pilihan, namun tetap menempatkannya sebagai seorang hamba Allah.
Pentingnya Memahami Bahasa Asli Kitab Suci
Pembahasan kemudian beralih kepada pentingnya memahami bahasa asli kitab suci.
Narasumber menceritakan pengalamannya mempelajari bahasa Ibrani, bahasa Arab, maupun bahasa Aram untuk memahami teks-teks keagamaan secara lebih mendalam.
Ia mencontohkan salah satu istilah dalam Kitab Kejadian mengenai “Roh Elohim” yang menurutnya harus dipahami sesuai konteks tata bahasa Ibrani.
Menurut penjelasannya, pemahaman terhadap bahasa asli sangat penting agar seseorang tidak menarik kesimpulan teologis hanya berdasarkan terjemahan.
Ia juga memberikan contoh berbagai ungkapan dalam Alkitab yang menurutnya harus dipahami secara kontekstual, bukan secara harfiah.
Perbandingan dengan Tradisi Yahudi
Narasumber kemudian menjelaskan bahwa setelah mempelajari tradisi Yudaisme secara langsung, ia semakin memahami alasan mengapa orang-orang Yahudi tetap mempertahankan keyakinan mereka mengenai keesaan Tuhan.
Menurutnya, baik dalam perspektif Islam maupun Yudaisme, Tuhan dipahami tidak pernah menjadi manusia.
Karena itu, ia berpendapat bahwa penafsiran mengenai Nabi Isa harus dibaca sesuai keseluruhan konteks Al-Qur’an, bukan hanya berdasarkan satu ayat tertentu.
Pembahasan Mengenai Tokoh-Tokoh yang Naik ke Surga
Selanjutnya ia menanggapi pernyataan mengenai Yesus yang naik ke surga.
Sebagai perbandingan, ia mengutip kisah Nabi Elia dalam Kitab 2 Raja-Raja yang menurut Alkitab diangkat ke surga menggunakan kereta berapi.
Ia juga menyebut beberapa mukjizat yang dilakukan oleh para nabi maupun rasul lain, seperti menghidupkan orang mati.
Menurut penjelasannya, keberadaan mukjizat-mukjizat tersebut tidak menjadikan para nabi tersebut dipahami sebagai Tuhan.
Ritual Ibadah dalam Tradisi Keagamaan
Pembahasan kemudian beralih kepada persoalan ritual ibadah.
Narasumber menyatakan bahwa setiap agama memiliki ketentuan ibadah yang dipahami sebagai bagian dari ketaatan kepada Tuhan.
Ia mencontohkan tradisi salat dalam Islam serta praktik doa berulang kali sehari yang juga masih dijalankan dalam sejumlah gereja Ortodoks Timur.
Menurut penjelasannya, ritual tersebut dipahami sebagai bagian dari ajaran agama, bukan sekadar tradisi budaya.
Karena itu, ia mengajak agar setiap pihak menghormati bentuk ibadah yang diyakini oleh agama masing-masing.
Penjelasan Mengenai Kurban dalam Taurat
Pada bagian akhir sesi ini, narasumber mulai membahas sistem kurban dalam Taurat.
Ia menjelaskan bahwa korban hewan dalam hukum Taurat memiliki syarat tertentu, salah satunya harus dilakukan di Bait Suci.
Menurut penjelasannya, setelah Bait Suci dihancurkan pada tahun 70 M, pelaksanaan ritual tersebut tidak lagi memungkinkan dilakukan sesuai ketentuan yang berlaku.
Dari titik inilah pembahasan kemudian berlanjut kepada fungsi kurban dalam Taurat dan kaitannya dengan ajaran keselamatan pada sesi berikutnya.
Penjelasan Mengenai Ritual Kurban dalam Tradisi Yahudi
Mengawali tanggapannya, narasumber dari pihak Islam menjelaskan bahwa dalam tradisi Yahudi, pelaksanaan kurban tidak dapat dilakukan tanpa keberadaan Bait Suci.
Menurut penjelasannya, berbagai jenis persembahan seperti korban keselamatan, korban bakaran, korban penghapus dosa, maupun bentuk korban lainnya memiliki tata cara dan tujuan yang berbeda-beda.
Ia menerangkan bahwa sejak Bait Suci dihancurkan, orang Yahudi tidak lagi menjalankan ritual penyembelihan tersebut karena syarat utamanya tidak lagi tersedia.
Lebih lanjut, ia mengutip Kitab Yehezkiel pasal 42 hingga 48 yang menurut pemahamannya berisi nubuat mengenai pembangunan kembali Bait Suci pada masa datang.
Dalam perspektif Yudaisme yang dipaparkannya, ketika Mesias datang dan Bait Suci kembali berdiri, sistem kurban akan kembali dilaksanakan sebagaimana diatur dalam Taurat.
Menurutnya, dalam keyakinan Yahudi, Mesias dipahami sebagai seorang manusia yang diutus Allah, bukan sebagai Tuhan yang menjelma menjadi manusia.
Pentingnya Memahami Perspektif Agama dari Sumber Aslinya
Narasumber kemudian menjelaskan alasan dirinya mempelajari tradisi keagamaan lain secara langsung.
Ia mengaku telah mempelajari Yudaisme selama beberapa tahun bersama rabi, sekaligus mempelajari tradisi Gereja Koptik dari para pemimpin gerejanya.
Menurut penjelasannya, langkah tersebut dilakukan agar ia memahami keyakinan masing-masing agama berdasarkan penjelasan para penganutnya sendiri, bukan hanya melalui pendapat pihak lain.
Ia mencontohkan bahwa ketika berkunjung ke sinagoga, dirinya tetap menghormati aturan yang berlaku di tempat tersebut meskipun memiliki keyakinan yang berbeda.
Menurutnya, setiap agama memiliki cara pandang masing-masing terhadap konsep ketuhanan sehingga dialog sebaiknya dilakukan dengan memahami perspektif lawan bicara, bukan memaksakan sudut pandang sendiri.
Ia juga menegaskan pentingnya mempelajari bahasa Ibrani agar dapat memahami kitab suci dari bahasa aslinya.
Tanggapan Mengenai Penggunaan Kuasa Yesus
Memasuki pembahasan berikutnya, narasumber dari pihak Islam menanggapi pernyataan bahwa Yesus tidak menggunakan keilahian-Nya ketika hidup di dunia.
Menurutnya, penjelasan tersebut bertentangan dengan berbagai kisah dalam Injil yang menggambarkan Yesus menyembuhkan orang sakit, menghidupkan orang mati, serta meredakan badai.
Ia menjelaskan bahwa dalam pandangan Islam, seluruh mukjizat tersebut terjadi atas izin Allah.
Sementara itu, menurut pemahamannya terhadap ajaran Kristen, mukjizat-mukjizat tersebut justru sering dijadikan dasar bahwa Yesus menggunakan kuasa ilahi.
Karena itu, ia mempertanyakan konsistensi penjelasan bahwa Yesus sama sekali tidak menggunakan keilahian-Nya selama berada di dunia.
Penafsiran Mengenai Peristiwa Penangkapan Yesus
Narasumber kemudian membahas peristiwa menjelang penangkapan Yesus di Taman Getsemani.
Ia mengutip bagian Injil yang menceritakan bahwa Yesus memerintahkan para murid membawa pedang sebelum penangkapan terjadi.
Menurut penafsirannya, keberadaan pedang menunjukkan adanya upaya mempertahankan diri ketika menghadapi penangkapan.
Ia juga menyoroti peristiwa ketika Petrus memotong telinga salah seorang hamba Imam Besar.
Selain itu, ia mengutip kisah doa Yesus yang memohon pertolongan kepada Allah dan diperkuat oleh malaikat.
Berdasarkan rangkaian peristiwa tersebut, ia berpendapat bahwa Yesus sedang memohon pertolongan sebagai seorang manusia, sehingga menurut pemahamannya hal itu tidak menunjukkan adanya kuasa ilahi yang digunakan secara mandiri.
Dari sudut pandangnya, peristiwa tersebut dipahami sebagai salah satu alasan untuk menolak konsep bahwa Yesus secara sengaja datang sebagai penebus dosa.
Penjelasan Mengenai Warisan Tauhid dari Nabi Ibrahim
Pembahasan kemudian bergeser kepada hubungan antara keturunan Nabi Ibrahim.
Narasumber menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim memiliki dua garis keturunan utama, yaitu melalui Nabi Ismail dan Nabi Ishak.
Menurutnya, Nabi Ismail tentu mengajarkan ajaran ketuhanan kepada keturunannya sebagaimana Nabi Ibrahim menerima wahyu dari Allah.
Ia berpendapat bahwa meskipun bangsa Arab pada masa tertentu melakukan penyembahan berhala, hal tersebut tidak berarti mereka sama sekali tidak mengenal Allah.
Sebagai perbandingan, ia mengingatkan bahwa sebagian Bani Israil juga pernah melakukan penyembahan berhala meskipun telah menerima Taurat melalui Nabi Musa.
Menurut penjelasannya, kedua kelompok sama-sama pernah mengalami penyimpangan dari ajaran tauhid, sehingga penyembahan berhala tidak dapat dijadikan bukti bahwa ajaran tentang Allah tidak pernah dikenal sebelumnya.
Pembahasan Mengenai Penyebutan Nama Allah
Selanjutnya narasumber menyinggung persoalan penyebutan nama Tuhan dalam berbagai bahasa.
Menurut penjelasannya, tradisi Yahudi umumnya menghindari penyebutan langsung nama Tuhan.
Ia kemudian membandingkan sejumlah istilah dalam bahasa Ibrani maupun Aram yang menurutnya memiliki kemiripan bunyi dengan penyebutan “Allah” dalam bahasa Arab.
Dalam pandangannya, perbedaan pelafalan tersebut lebih berkaitan dengan perkembangan bahasa daripada menunjukkan adanya Tuhan yang berbeda.
Tanggapan Mengenai Amanat Agung dan Baptisan
Pembahasan berikutnya beralih kepada Matius 28 ayat 18–19 yang memuat perintah baptisan dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Narasumber mempertanyakan keaslian bagian tersebut dengan membandingkannya dengan Injil Markus dan Kitab Kisah Para Rasul.
Menurut penjelasannya, dalam berbagai peristiwa baptisan yang dicatat dalam Kisah Para Rasul, baptisan dilakukan dalam nama Yesus tanpa menyebut rumusan “Bapa, Anak, dan Roh Kudus”.
Ia juga mengutip pandangan sejumlah pakar kritik Perjanjian Baru yang menurutnya mempertanyakan sebagian ayat penutup Injil Markus maupun perumusan Amanat Agung dalam Injil Matius.
Berdasarkan hal tersebut, ia menyatakan bahwa bagian tersebut masih menjadi bahan pembahasan di kalangan akademisi Alkitab.
Pembahasan Mengenai Markus 16:17–18
Narasumber kemudian mengutip Markus 16 ayat 17–18 yang memuat tanda-tanda yang akan menyertai orang-orang percaya, seperti mengusir setan, berbicara dalam bahasa-bahasa baru, memegang ular, tidak celaka apabila meminum racun, serta menyembuhkan orang sakit.
Ia mempertanyakan bagaimana ayat tersebut dipahami apabila dianggap berlaku secara harfiah.
Sebagai contoh, ia mengajukan pertanyaan apakah orang percaya bersedia meminum racun atau secara konsisten melakukan penyembuhan terhadap semua orang sakit apabila ayat tersebut dipahami secara literal.
Menurutnya, persoalan tersebut perlu dijelaskan agar terdapat konsistensi dalam cara memahami berbagai bagian Alkitab.
Tanggapan Pihak Kristen Mengenai Markus 16
Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber dari pihak Kristen menjelaskan bahwa ayat-ayat dalam Markus 16 tidak dipahami sebagai perintah untuk sengaja meminum racun atau mencari bahaya.
Menurut penjelasannya, bagian tersebut dipahami sebagai bentuk penguatan bagi para pemberita Injil agar tidak takut menghadapi berbagai risiko dalam pelayanan.
Ia memberikan contoh berbagai kisah yang menurut tradisi Kristen menunjukkan adanya perlindungan Allah terhadap orang-orang yang sedang menjalankan misi pemberitaan Injil.
Menurutnya, janji perlindungan tersebut berlaku dalam situasi ketika seseorang menghadapi bahaya karena menjalankan tugas keagamaan, bukan sebagai ajakan untuk menguji Tuhan dengan sengaja mencelakakan diri sendiri.
Ia juga menegaskan bahwa apabila seseorang dengan sengaja meminum racun hanya untuk menguji janji tersebut, maka tindakan itu justru dipahami sebagai bentuk mencobai Tuhan.
Pandangan Mengenai Keberanian Menghadapi Kematian
Pada bagian akhir sesi ini, narasumber Kristen menjelaskan bahwa iman Kristen mengajarkan agar orang percaya tidak takut menghadapi kematian apabila harus mempertahankan keyakinannya.
Ia menyatakan bahwa apabila seseorang menghadapi ancaman ketika menjalankan pemberitaan Injil, maka keselamatan hidup diserahkan sepenuhnya kepada kehendak Tuhan.
Menurut penjelasannya, kematian karena mempertahankan iman dipahami sebagai suatu kehormatan dalam tradisi Kristen.
Ia juga mengutip beberapa ayat Alkitab yang menurut penafsirannya menyatakan bahwa kematian bagi orang yang hidup di dalam Tuhan bukanlah sesuatu yang perlu ditakuti, selama kehidupan dijalani sesuai dengan ajaran yang diyakini.
Penjelasan Mengenai Tanda-Tanda Orang Percaya dalam Injil Markus
Menanggapi pertanyaan mengenai Markus 16:17–18 yang berbicara tentang tanda-tanda orang percaya, narasumber dari pihak Kristen memberikan penjelasan berdasarkan pemahamannya terhadap konteks ayat tersebut.
Menurutnya, bagian tersebut bukan merupakan perintah agar orang percaya sengaja melakukan tindakan berbahaya seperti meminum racun atau mencobai Tuhan.
Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut dipahami sebagai janji penyertaan Allah kepada orang-orang yang menjalankan pemberitaan Injil, sehingga mereka tidak perlu takut menghadapi berbagai bahaya yang mungkin muncul selama menjalankan misi tersebut.
Sebagai ilustrasi, ia menceritakan pengalaman pribadinya ketika pernah diminta mendoakan seseorang yang mengalami kerasukan roh jahat.
Menurut pengakuannya, ia semula merasa takut karena belum pernah mengalami situasi tersebut. Namun setelah terus berdoa dan memohon pertolongan Tuhan, ia meyakini bahwa orang tersebut akhirnya mengalami kesembuhan.
Dalam pandangannya, pengalaman tersebut menjadi salah satu bentuk penyertaan Tuhan bagi orang-orang yang melayani.
Ia juga menjelaskan bahwa apabila seseorang meninggal ketika memberitakan Injil, hal itu dipahami sebagai kematian martir yang memiliki kedudukan terhormat dalam iman Kristen.
Menurutnya, kematian seperti itu bukanlah kegagalan, melainkan bentuk kesetiaan kepada Tuhan hingga akhir hayat.
Penafsiran Mengenai Larangan Mencobai Tuhan
Masih berkaitan dengan pembahasan mengenai Markus 16, narasumber Kristen kemudian mengaitkannya dengan kisah pencobaan Yesus oleh Iblis.
Ia menjelaskan bahwa ketika Iblis meminta Yesus menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah dengan mengutip ayat Kitab Suci, Yesus menjawab bahwa manusia tidak boleh mencobai Tuhan.
Menurut penafsirannya, prinsip tersebut juga berlaku terhadap ayat mengenai racun dan ular.
Karena itu, ia berpendapat bahwa seseorang tidak boleh sengaja meminum racun untuk menguji apakah Tuhan akan menyelamatkannya.
Dalam pandangannya, tindakan seperti itu justru termasuk mencobai Tuhan dan tidak sesuai dengan maksud ayat yang sebenarnya.
Penjelasan Mengenai Penggunaan Kuasa Yesus
Pembahasan kemudian kembali menyentuh persoalan apakah Yesus menggunakan kuasa ilahi selama hidup-Nya di dunia.
Narasumber Kristen menjelaskan bahwa menurut keyakinannya, Yesus memang menggunakan kuasa tersebut, tetapi bukan untuk kepentingan diri sendiri.
Ia mencontohkan berbagai mukjizat seperti membangkitkan Lazarus yang telah meninggal selama empat hari, mengampuni dosa, dan melakukan penyembuhan.
Menurut penafsirannya, seluruh mukjizat tersebut dilakukan agar orang-orang mengenal dan percaya kepada Allah.
Sementara itu, ketika menghadapi penderitaan, pencobaan, maupun penangkapan, ia berpendapat bahwa Yesus tidak menggunakan kuasa tersebut untuk membebaskan diri sendiri.
Dalam pandangannya, hal tersebut merupakan bagian dari ketaatan Yesus terhadap kehendak Allah.
Penjelasan Mengenai Bentuk Ibadah dan Tradisi
Pembahasan selanjutnya kembali menyinggung persoalan bentuk ibadah.
Narasumber Kristen menjelaskan bahwa yang dimaksudnya sebagai tradisi bukanlah kewajiban beribadah kepada Tuhan, melainkan bentuk atau tata cara pelaksanaannya.
Ia berpendapat bahwa gerakan-gerakan seperti rukuk dan sujud merupakan bentuk penghormatan yang berkembang dalam budaya masyarakat Timur Tengah.
Dalam dialog tersebut juga sempat dibahas mengenai jumlah waktu salat dalam Islam maupun tradisi doa pada Gereja Ortodoks.
Percakapan berlangsung dalam bentuk saling meluruskan pemahaman mengenai praktik ibadah masing-masing agama tanpa mencapai kesimpulan bersama mengenai persoalan tersebut.
Penafsiran Mengenai Perintah Membawa Pedang
Narasumber Kristen kemudian kembali menanggapi pembahasan mengenai Lukas 22:36 yang berisi perintah membeli pedang.
Menurut penjelasannya, ayat tersebut tidak dapat dipahami secara terpisah dari keseluruhan konteks Injil.
Ia berpendapat bahwa makna pedang dalam bagian tersebut bukan merupakan perintah untuk melakukan peperangan ataupun menggunakan kekerasan.
Sebaliknya, menurut penafsirannya, keseluruhan rangkaian peristiwa penangkapan Yesus justru menunjukkan bahwa Yesus melarang penggunaan pedang ketika Petrus menyerang hamba Imam Besar.
Karena itu, ia menilai bahwa penafsiran terhadap satu ayat harus selalu memperhatikan keseluruhan isi kitab, bukan hanya berdasarkan satu bagian tertentu.
Perbedaan Pandangan Mengenai Firman Allah
Pembahasan kemudian beralih kepada istilah “Firman Allah” yang disematkan kepada Nabi Isa dalam Al-Qur’an maupun kepada Yesus dalam Injil.
Narasumber Kristen berpendapat bahwa baik Al-Qur’an maupun Injil sama-sama menyebut Yesus sebagai Firman Allah.
Namun ia mengakui bahwa terdapat perbedaan penafsiran antara Islam dan Kristen mengenai makna istilah tersebut.
Menurut keyakinannya, Firman Allah dipahami sebagai pribadi yang turun ke dunia menjadi manusia.
Sementara itu, narasumber dari pihak Islam meminta agar pembahasan mengenai istilah tersebut dilanjutkan setelah ia menyampaikan penjelasan berdasarkan bahasa Arab dan konteks ayat Al-Qur’an.
Penjelasan Islam Mengenai Makna “Kalimat dari Allah”
Mengawali tanggapannya, narasumber dari pihak Islam membacakan Surah Ali ‘Imran ayat 45 yang berisi kabar gembira kepada Maryam mengenai kelahiran Nabi Isa.
Menurut penjelasannya, frasa “kalimat dari Allah” dalam ayat tersebut tidak dipahami sebagai bukti bahwa Nabi Isa adalah Tuhan.
Ia menjelaskan bahwa ayat tersebut menyebut Nabi Isa sebagai seorang yang memiliki kedudukan mulia di dunia maupun di akhirat.
Menurutnya, kedudukan mulia tersebut bukanlah sifat yang hanya dimiliki Nabi Isa seorang.
Sebagai perbandingan, ia mengutip Surah Al-Ahzab ayat 69 yang menyebut Nabi Musa sebagai sosok yang memiliki kedudukan terhormat di sisi Allah.
Dalam pandangannya, istilah tersebut merupakan kata sifat yang juga dapat digunakan kepada nabi-nabi lain, sehingga tidak menunjukkan adanya status ketuhanan.
Penafsiran Mengenai Gelar “Kalimatullah” dan “Ruhullah”
Pembahasan kemudian berlanjut kepada penggunaan istilah Kalimatullah dan Ruhullah.
Narasumber Islam menjelaskan bahwa menurut pemahamannya, kedua istilah tersebut merupakan gelar kehormatan dan bukan penjelasan mengenai hakikat ketuhanan Nabi Isa.
Ia memberikan contoh penggunaan berbagai gelar dalam tradisi Islam maupun bahasa Arab yang menurutnya tidak dipahami secara harfiah.
Selain itu, ia juga mengutip ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah meniupkan roh-Nya kepada manusia ketika proses penciptaan.
Menurut penjelasannya, ungkapan tersebut tidak berarti manusia memiliki hakikat ketuhanan, melainkan merupakan cara Al-Qur’an menggambarkan proses penciptaan manusia oleh Allah.
Karena itu, ia berpendapat bahwa penyebutan Nabi Isa sebagai Kalimatullah maupun Ruhullah tidak dapat dijadikan dasar untuk menyatakan bahwa beliau adalah Tuhan.
Tanggapan Mengenai Markus 16 dan Konteks Orang Percaya
Pada bagian berikutnya, narasumber Islam kembali menyoroti penafsiran terhadap Markus 16:15–18.
Menurut penjelasannya, teks tersebut secara langsung menyebut bahwa tanda-tanda tersebut akan menyertai “orang yang percaya”, bukan secara khusus hanya para penginjil.
Karena itu, ia berpendapat bahwa penafsiran yang membatasi ayat tersebut hanya kepada pemberita Injil tidak sesuai dengan bunyi teks yang dibacanya.
Ia juga kembali menegaskan pentingnya memahami ayat sesuai redaksi yang tertulis sebelum memberikan penafsiran lebih lanjut.
Tanggapan Mengenai Klaim Firman Allah
Menutup bagian dialog ini, narasumber Islam kembali mempertanyakan penggunaan istilah “Firman Allah” untuk menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan.
Menurut penjelasannya, apabila Yesus benar-benar dipahami sebagai Firman Allah dalam pengertian ketuhanan, maka menurutnya seharusnya seluruh kehidupan Yesus sejak kecil menjadi bagian dari penyampaian firman tersebut.
Ia juga mempertanyakan mengapa pelayanan Yesus yang dicatat dalam Injil hanya berlangsung dalam kurun waktu sekitar tiga tahun.
Selain itu, ia kembali mempertanyakan beberapa peristiwa dalam Injil yang menurut penafsirannya menunjukkan bahwa Yesus menghindari penangkapan pada beberapa kesempatan sebelum akhirnya ditangkap.
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut, ia menyatakan bahwa masih terdapat sejumlah hal yang menurutnya perlu dijelaskan lebih lanjut mengenai hubungan antara kemanusiaan Yesus, penggunaan kuasa ilahi, serta konsep penebusan dosa.
Penjelasan Mengenai Tanda-Tanda Orang Percaya
Menanggapi pembahasan sebelumnya mengenai ayat yang menyebut orang percaya tidak akan celaka meskipun menghadapi racun, narasumber Kristen kembali memberikan penjelasan.
Ia menegaskan bahwa bagian tersebut tidak dimaksudkan sebagai perintah untuk sengaja menguji Tuhan dengan meminum racun.
Menurut penjelasannya, ayat tersebut dipahami sebagai bentuk penguatan iman bagi orang-orang yang menjalankan tugas pemberitaan Injil dan menghadapi berbagai ancaman.
Ia juga menceritakan pengalamannya ketika pernah menghadapi seseorang yang mengalami kerasukan roh jahat setelah dirinya selesai menyampaikan pengajaran.
Menurut pengakuannya, saat itu ia terus berdoa memohon pertolongan Tuhan hingga orang tersebut dipahami mengalami kesembuhan.
Dalam pandangannya, berbagai tanda yang menyertai orang percaya merupakan bentuk penyertaan Tuhan yang tidak boleh dipahami sebagai alasan untuk mencobai Allah.
Ia juga menjelaskan bahwa kematian sebagai martir dipandang sebagai kehormatan tertinggi bagi orang yang setia mempertahankan imannya.
Tanggapan Mengenai Godaan Iblis dan Ayat Tentang Perlindungan Tuhan
Pembahasan kemudian beralih kepada kisah pencobaan Yesus di padang gurun.
Narasumber Kristen mengutip peristiwa ketika Iblis meminta Yesus menjatuhkan diri dari bubungan Bait Allah dengan mengutip ayat mengenai perlindungan malaikat.
Menurut penjelasannya, Yesus tidak membantah isi ayat tersebut, tetapi menjawab bahwa manusia tidak boleh mencobai Tuhan.
Dalam pandangannya, prinsip yang sama berlaku terhadap pemahaman mengenai racun.
Ia menegaskan bahwa seseorang tidak boleh sengaja melakukan tindakan berbahaya hanya untuk menguji apakah janji Tuhan benar atau tidak.
Menurutnya, tindakan semacam itu justru termasuk bentuk mencobai Tuhan yang telah dilarang dalam Kitab Suci.
Penjelasan Mengenai Mukjizat Yesus
Selanjutnya narasumber kembali menjelaskan pandangannya mengenai penggunaan kuasa ilahi oleh Yesus.
Ia berpendapat bahwa selama hidup-Nya, Yesus tidak pernah memakai kuasa tersebut untuk kepentingan diri sendiri.
Menurut penjelasannya, kuasa itu selalu digunakan demi menolong orang lain dan menjadi kesaksian agar manusia percaya kepada Allah.
Sebagai contoh, ia mengangkat kisah kebangkitan Lazarus yang telah meninggal selama empat hari.
Dalam pandangannya, mukjizat tersebut bukan sekadar kemampuan manusia biasa, melainkan kuasa Allah yang bekerja melalui Yesus.
Namun ia tetap menegaskan bahwa Yesus tidak menggunakan kuasa tersebut untuk menghindari penderitaan pribadi ataupun menghadapi pencobaan yang dialami-Nya.
Klarifikasi Mengenai Ritual Salat dan Tradisi
Dialog kemudian kembali membahas persoalan bentuk ibadah.
Narasumber Kristen menjelaskan bahwa yang dimaksud sebagai tradisi bukanlah kewajiban beribadah itu sendiri, melainkan bentuk fisik seperti rukuk dan sujud.
Menurut penafsirannya, cara-cara tersebut berkembang sesuai budaya masyarakat Timur Tengah dalam mengekspresikan penghormatan kepada Tuhan.
Sementara itu, pihak Islam memberikan klarifikasi mengenai jumlah salat wajib maupun salat sunah dalam Islam.
Percakapan berlangsung dalam bentuk saling meluruskan pemahaman mengenai praktik ibadah masing-masing.
Pembahasan Kembali Mengenai Perintah Membawa Pedang
Perdebatan kemudian kembali menyinggung Lukas 22 ayat 36 mengenai perintah membawa pedang.
Narasumber Kristen menegaskan bahwa ayat tersebut harus dipahami melalui keseluruhan konteks Injil.
Menurut penjelasannya, perintah membeli pedang bukan dimaksudkan sebagai ajakan berperang ataupun membela diri dengan kekerasan.
Ia kembali mengaitkannya dengan peristiwa ketika Petrus memotong telinga hamba Imam Besar, yang kemudian justru ditegur oleh Yesus.
Dalam pandangannya, keseluruhan rangkaian peristiwa tersebut menunjukkan bahwa Yesus menolak penggunaan kekerasan.
Perbedaan Penafsiran Mengenai Firman Allah
Pembahasan kemudian beralih kepada istilah “Firman Allah” yang dikaitkan dengan Nabi Isa.
Narasumber Kristen menyatakan bahwa baik Alkitab maupun Al-Qur’an sama-sama menggunakan istilah Firman Allah bagi Yesus, meskipun kedua agama memberikan penafsiran yang berbeda terhadap makna istilah tersebut.
Pihak Islam kemudian meminta kesempatan untuk memberikan penjelasan berdasarkan Surah Ali ‘Imran ayat 45.
Menurut narasumber Islam, ayat tersebut menyebut Isa sebagai seorang anak yang diciptakan melalui kalimat dari Allah, bukan sebagai Firman Allah dalam pengertian ketuhanan.
Ia juga menjelaskan bahwa berbagai nabi lain memperoleh kedudukan mulia di sisi Allah sehingga penyebutan tersebut tidak menunjukkan keunikan yang mengarah kepada ketuhanan.
Penjelasan Bahasa Arab Mengenai Kalimatullah dan Ruhullah
Melanjutkan penjelasannya, narasumber Islam menguraikan makna istilah Kalimatullah dan Ruhullah.
Menurut penafsirannya, kedua istilah tersebut merupakan gelar kehormatan yang diberikan kepada Nabi Isa dan tidak menunjukkan bahwa beliau adalah Tuhan.
Ia menambahkan bahwa dalam tradisi Islam terdapat berbagai gelar lain seperti Ayatullah maupun Ruhullah yang juga tidak dipahami sebagai penyebutan ketuhanan.
Menurutnya, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa Allah meniupkan ruh kepada manusia, sehingga penyebutan “ruh dari Allah” tidak hanya berlaku bagi Nabi Isa.
Dalam pandangannya, pemahaman terhadap bahasa Arab menjadi sangat penting agar istilah-istilah tersebut tidak ditafsirkan keluar dari konteks aslinya.
Pentingnya Memahami Konteks Bahasa Asli Kitab Suci
Narasumber Islam kembali menegaskan pentingnya memahami bahasa asli kitab suci sebelum menarik kesimpulan teologis.
Ia menyampaikan bahwa banyak kesalahan penafsiran muncul akibat membaca terjemahan tanpa memperhatikan struktur bahasa Arab maupun konteks ayat.
Menurut penjelasannya, sejumlah karya yang mencoba menghubungkan istilah-istilah Al-Qur’an dengan konsep ketuhanan Yesus dipandang tidak sesuai dengan pemahaman ulama Islam.
Karena itu, ia mengajak agar setiap istilah dipahami berdasarkan penggunaan bahasa aslinya secara utuh.
Perbedaan Penafsiran Mengenai Markus 16
Pembahasan kemudian kembali mengarah kepada Markus 16 ayat 15–18.
Narasumber Islam berpendapat bahwa tanda-tanda seperti mengusir setan maupun tidak celaka ketika menghadapi racun ditujukan kepada semua orang yang percaya dan dibaptis, bukan hanya kepada para penginjil.
Ia membacakan bagian ayat tersebut untuk menunjukkan bahwa frasa “orang yang percaya” muncul secara umum tanpa membatasi kelompok tertentu.
Dalam pandangannya, penafsiran yang membatasi ayat itu hanya bagi para penginjil tidak sesuai dengan bunyi teks yang dibacanya.
Tanggapan Mengenai Keilahian Yesus
Selanjutnya narasumber Islam kembali mempertanyakan konsep Yesus sebagai Firman Allah.
Menurut penjelasannya, apabila Yesus benar dipahami sebagai Firman Allah yang turun ke dunia, maka ia mempertanyakan mengapa masa kehidupan Yesus sebelum pelayanan publik tidak dijelaskan secara rinci.
Ia juga mengemukakan pertanyaan mengenai berbagai peristiwa ketika Yesus menghindari penangkapan sebelum waktu penyaliban.
Selain itu, ia kembali mengangkat seruan Yesus di atas kayu salib yang memohon kepada Allah sebagai bagian dari argumentasinya mengenai hubungan antara Yesus dan Tuhan.
Penjelasan Mengenai Penderitaan Yesus Menjelang Penyaliban
Menanggapi pertanyaan tersebut, narasumber Kristen kembali menjelaskan bahwa penderitaan Yesus dipahami sebagai konsekuensi dari kemanusiaan-Nya.
Menurut penjelasannya, Yesus tidak menggunakan kuasa ilahi untuk menghilangkan rasa sakit karena tujuan kedatangan-Nya adalah menjalani penderitaan sebagai bagian dari karya keselamatan.
Ia juga menjelaskan bahwa seruan Yesus di atas salib bukan dipahami sebagai kepanikan, melainkan ungkapan pergumulan manusia ketika mengalami keterpisahan dari Allah.
Dalam pandangannya, hal tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan mengenai keilahian Yesus.
Makna Tiga Puluh Tahun Kehidupan Yesus Sebelum Pelayanan
Narasumber Kristen selanjutnya menjelaskan alasan mengapa masa kehidupan Yesus sebelum pelayanan publik tidak banyak dicatat.
Menurut penafsirannya, selama tiga puluh tahun tersebut Yesus menjalani kehidupan yang membuktikan kesucian dan kelayakan-Nya sebagai kurban yang sempurna.
Ia mengibaratkan Yesus seperti korban dalam Taurat yang harus memenuhi syarat tanpa cacat sebelum dipersembahkan.
Karena itu, menurut keyakinannya, kehidupan Yesus dipahami sebagai proses pembuktian kesucian sebelum menjalankan misi penyelamatan manusia.
Pandangan Mengenai Kurban Sebagai Penghapusan Dosa
Pada bagian berikutnya, narasumber Kristen kembali menjelaskan konsep kurban dalam Alkitab.
Menurut penjelasannya, Allah dipahami bukan hanya Maha Pengasih tetapi juga Maha Adil, sehingga dosa tidak cukup sekadar diampuni tanpa penyelesaian.
Ia menjelaskan bahwa dalam sistem kurban Taurat, dosa secara simbolis dipindahkan kepada hewan kurban sebelum hewan tersebut disembelih.
Dalam pandangannya, penyaliban Yesus dipahami sebagai penggenapan simbol tersebut, yaitu ketika Yesus menanggung dosa seluruh umat manusia.
Menurut keyakinannya, kematian Yesus dipahami bukan semata-mata sebagai kematian fisik, melainkan sebagai pengorbanan penebusan dosa.
Penjelasan Mengenai Tujuan Pelayanan Yesus
Menutup penjelasannya pada sesi tersebut, narasumber Kristen menyampaikan bahwa tujuan utama kedatangan Yesus bukan sekadar mengajar manusia.
Menurut penjelasannya, Yesus mempersiapkan para murid selama tiga tahun agar mereka melanjutkan pemberitaan Injil kepada seluruh dunia.
Karena itu, pelayanan publik Yesus dipahami berlangsung relatif singkat karena tugas utama penyebaran ajaran selanjutnya diteruskan oleh para murid setelah masa pelayanan-Nya berakhir.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 1661
