Kisah mualaf kali ini berasal dari seorang nenek yang lahir pada masa penjajahan Jepang pada tahun 1940 yakni 5 tahun sebelum Indonesia merdeka. Beliau bernama Mbah Sukira berumur 81 Tahun dengan kondisi pendengaran yang sudah berkurang. Sehingga beliau harus memperhatikan pergerakan bibir lawan bicaranya agar bisa memahami apa yang dikatakan kepadanya.
Selama nafas masih dikandung badan dan raga ini masih diberikan nyawa. Sesungguhnya hidayah Allah datang kepada siapa saja yang dikehendakinnya tidak memandang gender, tua, atau muda. Allah dengan segala kuasanya telah memberikan kesempatan kepada Mbah Sukirah di usianya yang lanjut untuk memeluk agama Islam.
Continue reading
