KAJIAN KRISTOLOGI MUALAF CENTER PADANG: PERDEBATAN ABU HANIFA DENGAN RAJA ATHEIS

Arti Mimpi Abu Hanifah

Kehebatan para ulama zaman dahulu dalam berdebat memang tidak ada tandingannya jika dibandingkan dengan zaman sekarang. Sebagaimana dalam kisah ini akan menceritakan tentang Abu Hanifah. Beliau pernah melihat sahabat Rasulullah yaitu Anas bin Malik, sehingga para ulama sepakat memasukannya ke dalam golongan para Tabi’in (generasi ke-2 setelah sahabat) meskipun beliau tidak meriwayatkan suatu hadist. Perlu kita ketahui bahwa Anas bin Malik diberikan oleh Allah nikmat luar biasa berupa umur panjang yakni sampai 100 tahun.

Ketika Abu Hanifah masih kecil, beliau memiliki seorang guru yang bernama Hammad. Suatu ketika Abu hanifah bermimpi aneh yang dalam mimpinya beliau melihat ada pohon besar yang rindang, tiba-tiba ada babi berjalan menuju pohon tersebut untuk bernaung. Ketika itu ada ranting jatuh dan mengenai kepala babi, sehingga membuat babi itu lari menjahu tapi beberapa waktu kemudian babi itu datang lagi ke pohon tersebut.

Beliau merasa bahwa mimpinya itu sungguh aneh, sehingga beliau mendatangi gurunya untuk mengetahui takwil dari mimpinya itu. Abu Hanifah adalah murid Hammad yang paling muda. Beliau pun menceritakan kisah mimpinya itu kepada gurunya, namun ketika itu Imam Hammad tidak mengomentari apapun karena ada sesuatu hal yang sedang dipikirkannya. Melihat hal itu Abu Hanifah berkata: “Wahai Imam Hammad, ada apa denganmu aku hanya bertanya tentang takwil mimpiku?”.

Kata Hammad: “Wahai Abu Hanifah, aku sedang kebingungan. Datang utusan kepadaku untuk memberikan undangan debat dari Rais Zanadiqah yang memimpin kaum Zindiq. Dan oleh Amirul Baldah (gubernur daerah itu) menyuruhku untuk menghadapinnya dan mewakili semua para ulama. Sementara aku bingung jika harus berdebat dengan mereka soal ketuhanan. Bagaimana bisa aku berdebat dengan orang-orang Zindiq tentang ketuhanan, sesuatu hal yang tidak bisa mereka lihat maka jika aku berdebat itu akan menfitnah manusia”.

Mendengar keluh kesah gurunya itu, Abu Hanifah berkata: “Allahu Akbar, wahai imam Hammad. Sekarang aku paham takwil mimpiku itu”. Padahal pada saat itu Imam Hammad tidak menjelaskan apapun mengenai takwil mimpinya, sehingga hal itu membuat Hammad berkata: “Ada apa denganmu, wahai Abu Hanifah?”.

Abu Hanifah pun menjelasnya: “boleh jadi takwil dari mimpiku adalah sebuah pertanda bahwa pohon besar itu adalah Syajaratul Ilmi yaitu engkau, sedangkan seekor babi itu adalah kaum Zindiq. Adapun ranting yang jatuh dan mengenai kepalanya adalah aku. Adapun babi yang telah pergi berlari dan kembali lagi itu menandakan bahwa mereka sudah bertaubat”.

Setelah menjelaskan takwil dari mimpinya itu, Abu Hanifah ingin gurunya itu memberikan tugas kepadanya untuk berdebat melawan Rais Zanadiqah dan kaum Zindiq. Beliau juga menjelaskan suatu kemungkinan yang terjadi jika kalah maka hal itu wajar karena dirinya masih anak kecil. Tapi kalau menang maka Abu Hanifah akan mengatakan bahwa dirinya adalah seorang murid Hammad dan pastinya itu akan membuat gurunya itu bangga dengannya.

Mendengar permintaan dan permohonan dari muridnya itu Imam Hammad pada akhirnya mengizinkan dan berkata: “wahai Abu Hanifah, jika begitu maka berangkatlah kau kepada mereka”.

Abu Hanifah dan Orang Zindiq

Berangkatlah Abu Hanifah menemui orang-orang zindiq sudah berkumpul, begitu pula dengan Amirul Mukminin yang juga menyaksikan perdebatan itu. Tetapi sosok Hammad yang ditunggu-tunggu tidak kunjung datang melainkan seorang anak kecil yaitu Abu Hanifah. Sehingga pada saat itu Ro’su Zanadiqah (Kepala suku Zindiq) mengatakan: “Dimana Hammad?”. Abu Hanifah pun menjawab: “Imam Hammad tidak ada dan dia mengutus aku”.

Mereka pun berkata: “Aku tidak mungkin melayani anak kecil dan aku hanya ingin melayani Ro’su Ulama (pemimpin para ulama) di sini”. Menanggapi hal itu Abu Hanifah berkata: “Gurukku Hammad mengatakan bahwa perdebatan ini bukanlah debat besar, sehingga dia mengutus muridnya yang paling kecil dan akulah murid yang paling kecil itu. Kira-kira apa yang akan kau perdebatkan denganku?“.

Mendengar hal itu pada akhirnya orang-orang Zindinq menyerangnya dengan berbagai pertanyaan, berikut ini adalah pertanyaan yang mereka ajukan kepada Abu Hanifah:

  • Kapan Tuhanmu dilahirkan?

Abu Hanifah pun menjawab bahwa tuhanku itu tidak dilahirkan dan melahirkan. Kalaupun tuhan itu dilahirkan maka pastinya memiliki orang tua, padahal Dia tidak memiliki orang tua. Tuhanku dan tuhan kalian sudah ada sejak belum ada waktu, belum ada tempat, dan belum ada apapun di alam semesta ini. Maka sebelum ada apapun di alam semesta ini maka dia sudah ada.

Abu Hanifah pun bertanya kepada mereka: “berapa angka sebelum tiga?”. Mereka menjawab: “kaupun tahu bahwa sebelumnya sudah ada angka dua”. Maka Abu Hanifah pun mengatakan: “kaupun tau bahwa sebelum angka dua adalah satu. Dan sebelum angka satu itu tidak ada. Hal itu sama halnya dengan Tuhanku yang keberadaannya sudah ada lebih dahulu. Keberadaannya sudah ada sebelum adanya waktu, tempat, dan alam semesta ini karena dia adalah satu-satunya. Kalau hal itu bisa terjadi kepada angka maka suatu hal yang sangat mungkin juga bisa terjadipula kepada Allah?”. Mereka yang mendengarkan penjelasan Abu Hanifah itupun terdiam.

  • Kemana Tuhanmu mengarah?

Kemudian mereka mengatakan: “Wahai Abu Hanifah, jika begitu. Kemana Tuhanmu mengarah? kalau seandainya tuhanmu mengarah ke barat dan saat itu orang-orang barat bermaksiat. Mengarah lagi ke arah timur dan rupanya saat itu orang-orang timur bermaksiat. Kemudian mengarah lagi keselatan dan rupanya pula orang selatan bermaksiat, dan begitu seterusnya“.

Menanggapi pertanyaan itu Abu Hanifah mengatakan: “Wahai kalian, lihatlah lampu yang menerangi ini. Ketika kita menyalahkan lampu pada suatu ruangan maka cahaya lampu itu akan menyinari seluruh ruangan. Sesunguhnya Allah lebih hebat dari pada lampu, Dia tidak mengarah ke satu titik tapi mengarah kesemua alam semesta ini”.

  • Sifatkanlah Tuhanmu seperti apa?

Mereka bertanya lagi: “Wahai Abu Hanifah, jadi sifatkanlah tuhanmu seperti apa? Apakah Dia padat seperti batu, cair seperti air, ataukah dia melayang seperti asap?”. Kata Abu Hanifah: “Wahai kalian, pernakah kamu semua duduk disampin orang sakit? Pernakah kau melihat orang sakit sampai ia meninggal dunia? Sesungguhnya orang hidup itu karenah ruh dan orang matipun juga karenah ruhnya hilang, sehingga jika ada kematian apakah kalian bisa melihat ruh melayang dari tubuh orang yang hendak meninggal?“. Menanggapi pertanyaan Abu Hanifah, kaum Zindiq pun berkata: “Kami tidak bisa melihatnya, kau pun juga tidak bisa”.

Mendengar tanggapan dari kaum Zindiq, Abu Hanifah berkata: “Maka ketika kalian bisa mensifatkan sebuah ruh kepada saya maka saya akan sifatkan Tuhanku kepada kalian. Bagaimana aku bisa mensifatkan tuhan, sedangkan kalian tidak bisa mensifatkan sebuah ruh”. Akhirnya mendengar jawaban itu mereka tidak bisa menimpalinya lagi, sehingga mereka mengalihkan pertanyaan tentang penghuni surga.

  • Mereka bertanya tentang penghuni surga

Mereka bertanya: “Wahai Abu Hanifah, kami dengar penguhuni surga hanya melakukan makan dan minum tapi mereka tidak buang hajad?”. Abu Hanifah menjawab pertanyaan mereka dengan santai dan berkata: “Aku, kalian, atau semua orang bukankah perna hidup dalam perut seorang ibu selama 9 bulan, sehingga bayi dalam kandungan sudah pasti mendapatkan makanan. Jadi menurut kalian, bagaimana bayi itu buang hajad? Jika hal itu sudah terjadi di dunia maka sangat mungkin di syurga akan terjadi”.

Kemudian mereka bertanya lagi: “Wahai Abu Hanifah, aku dengar jika segala kenikmatan akan bertambah ketika di surga, hal itu bagaimanakah?”. Abu Hanifahpun menjelaskan: “Hal itu sebagaimana ilmu ini, ketika aku mengajarakan ilmu maka pengetahuan akan bertambah. Tapi kalau aku tidak ajarkan ilmu ini pasti akan berkurang. Sebagaimana di dunia terdapat ilmu yakni sesuatu yang tidak bisa dilihat tapi bisa bertambah, sehingga hal itu sangat mungkin terjadi jika di surga”.

  • 3 pertanyaan terjawab oleh 1 perbuatan

Mereka merasa jawaban yang dikatakan oleh Abu Hanifah itu cukup masuk akal, sehingga merekapun tidak ingin kalah dan berusaha untuk mengajukan beberapa pertanyaan lagi. Pada kali ini mereka sudah memiliki keyakinan bahwa Abu Hanifah tidak akan bisa menjawan pertanyaannya.

Kaum Zindiq dengan percaya diri mengajukan pertanyaan pamungkasnya: “Wahai Abu Hanifah, kalau kau bisa menjawab tiga pertanyaan ini maka kami akan beriman dan bertaubat mengikuti agamamu. Tapi kalau kau tidak bisa menjawabnya maka engkau telah kalah dalam debat”. Abu Hanifah pun menanggapi tantangan mereka dengan santai.

Merkapun mengajukan tiga pertanyaan dan berkata: “wahai Abu Hanifah, kau mengatakan bahwa Tuhanmu tidak dilahirkan dan Tuhanmu sudah ada sejak sebelum segala sesuatu ada maka sekarang tunjukanlah kepadaku bagaimana cara melihat tuhanmu? Tuhanmu akan memasukan iblis ke dalam neraka, sedangkan neraka itu api dan mereka juga tercipta dari api, bagaimana bisa api mendapatkan adzab dari api? Aku telah menengar bahwa segala sesuatu terjadi karena takdir Allah, lalu apa manfaat pahala dan dosa kalau semua sudah ditakdirkan?”.

Menanggapi tiga pertanyaan beruntun itupun Abu Hanifah meminta izin kepada Amirul mukminin untuk dibawahkan bejana yang terbuat dari tanah dan berisi air. Abu Hanifah pun berkata: “wahai kalian, tiga persoalan ini tidak bisa aku dijawab dengan lisan melainkan harus aku jawab dengan perbuatan”.

Bejana tanah itu dipecahkan pada kepala pemimpin Zindiq yang membuatnya kesakitan. Ketika itu Abu Hanifah mengatakan jika memang harus mensifatkan Allah maka ia meminta kepada pemimpin Zindiq itu untuk mensifatkan rasa sakitnya yang dirasakannya. Rasa sakit hanya bisa dirasakan tapi tidak bisa digambarkan, hal itu sebagaimana dengan Allah yang tidak bisa dilihat tapi bisa kita rasakan keberadaannya.

Bejana yang dilemparkan pada kepala pemimpin Zindiq itu terbuat dari tanah sedangkan manusia juga tercipta dari tanah tapi bejana tanah itu nyatanya bisa membuat kesakitan. Sehingga hal itu sama seperti iblis yang akan menderita saat dimasukan kedalam api neraka.

Abu Hanifah pun menjawab pertanyaan ketiga dengan berkata: “bukankan ketika aku lemparkan bejana ke arah kepalamu itu membuatmu menjerit? Bukankah ini termasuk takdir yang sudah ditulis oleh Allah kepadamu, lalu kenapa kau berteriak meminta pertolongan kepada raja maka seharusnya kau diam saja karena itu takdirmu. Jadi kenapa kau meminta kepada raja untuk menghukumku? Sesungguhnya hal itu menunjukan bahwa kita bukan semata-mata menyandarkan diri kepada takdir tapi disitu juga terdapat pahala dan dosa”. Dari jawaban itu terdiamlah kaum Zindiq dan mereka pun tersadar karena meski sudah ditakdirkan maka kita tetap harus sholat, menjahui maksiat, mencari pahala untuk menghindari dosa.

Sesungguhnya Allah memerintahkan kita (ummat Islam) untuk senantiasa mengajak saudara kita yang belum mendapatkan hidayah Allah untuk berusaha mendapatkan hidayah-nya dengan cara belajar agama Islam. Bersama Mualaf Center Padang dan Mualaf Center Nasional Aya Sofya, siap membantu mualaf yang membutuhkan pertolongan baik secara fisik, materi, ataupun solusi dari masalah yang dialami seorang mualaf.

Kami siap melakukan edukasi atau advokasi bagi mualaf di seluruh Indonesia untuk mendalami dan mengamalkan ajaran agama Islam dalam kesehariannya, serta membina para mualaf agar produktif dalam syi’ar dan dakwah, serta mandiri secara finansial dalam kehidupan yang berlandaskan iman, taqwa, dan cinta tanah air.

Mualaf Center Nasional Aya Sofya senantiasa menyambut dengan hangat saudara kita yang telah mendapatkan hidayah ingin memeluk agama Islam dengan adanya pembinaan dari mulai pengenalan dasar ke-Islaman hingga mempelajari ilmu keagamaan mulai dari tingkat dasar sampai lanjutan.

Lembaga ini juga difokuskan dalam pemberdayaan ummat kepada para mualaf di seluruh Indonesia dengan menjadi media perantara yang menyalurkan dan menjembatani para Muhsinin (orang-orang baik) untuk saling berbagi sebagian rizkinya kepada saudara kita para mualaf dhuafa di pelosok-pelosok nusantara.

“Aku rela Allah sebagai Tuhanku, Islam sebagai Agamaku dan Muhammad sebagai Nabi-ku dan Rasul utusan Allah”: maka aku adalah penjaminnya, dan akan aku gandeng dia dengan memegang tangannya, sampai aku memasukkannya ke dalam Surga. (HR. At-Thabrani)


Rekomendasi artikel:


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-00-4040-12
AN. YAYASAN THORIQUSSALAM INDONESIA QQ AYA SOFYA INDONESIA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.