NEGARA WANA: KAWASAN LUAR NEGERI, TAPI MILIK INDONESIA

Salah satu hal yang sangat berkesan adalah ketika Allah hadirkan kami disuatu negeri nan jauh di sana. Saat kami dipertemukan dengan saudara-saudara baru dari di kawasan yang indah seakan-akan berada di luar negeri. Lantaran mereka memiliki bahasa negara sendiri, yakni bahasa Taa.

Bahasa Indonesia adalah bahasa asing bagi mereka. Sehingga kami menggunakan bahasa kemanusiaan yang universal asalkan saling mengerti satu sama lain. Itulah mengapa daerah ini kami sebut sebagai: luar negeri.

“Bapak sudah makan?”

“Hiyo,” jawabnya sembari mengangguk-angguk hebat. Matanya berbinar-binar seperti petasan yang dinyalakan.

“Berapa putra Bapak?”

“Hiyo!!”

“Siapakah nama Ketua MPR kita sekarang?”

“Hiyo!!”

“Siapakah nama Presiden Amerika terpilih?”

“Hiyo!!”

Inilah sebuah kawasan ganas. Sebuah wilayah yang tidak terdeteksi oleh Google Maps. Kawasan planet. Benar-benar hutan. Dan siapa yang kuat, dialah yang menang.

Pegunungan Tokala adalah kawasan agung yang sangat dihormati dalam kebudayaan Suku Tau Taa Wana. Lembah Lambentana adalah tempat tujuan kami, untuk sampai ke sana kami harus melewati gunung Tokala. Dan di balik gunung inilah tempat mereka tinggal, hidup berjuang, dan bergelut dengan kehidupan di arena hutan yang bebas.

Tidak ada signal. Pure. Manusia bumi asli. Adanya signal hati. Tidak ada WhatsApp, apalagi Tokopedia. Adanya WhatsApp hati. Tokopedia hati. Benar-benar makhluk bumi yang asli. Tidak terpapar signal radioaktif.

Hidup di tengah hutan belantara, di kawasan ini tidak ada yang menanam padi. Mereka bertransaksi secara barter in natura. Tukar menukar barang. Makanan utama mereka adalah umbi-umbian dari hutan, yang penting bisa makan dan perut kenyang.

Sedemikian hingga, ketika kami ada kegiatan makan besar bersama, satu orang tak cukup makan satu piring. Bahkan, tiga piring. Tiap piringnya sama dengan jatah makan kita untuk satu hari. Dihabiskan dalam sekejap. Seperti mesin penghisap.

Belum lagi mereka baru merasakan daging dengan bumbu-bumbu masakan yang beraneka macam rupa. Untuk tes lidah, khawatir tidak cocok, diambillah satu bongkah daging dari nampan, diincip, disedot, lalu dikembalikan masuk ke nampan. Mereka mencoba untuk membandingkan menu lauk dengan jenis bumbu yang lain. Extra Ordinary.

Begitulah …. Lauk diambil, disedot, dirasakan, lalu dikembalikan. Ketika rasa bumbu telah cocok di lidah, diambillah yang banyak. Super banyak.

Untuk masuk ke kawasan planet Wollywood ini, lebih parah dari naik ke puncak Gunung Arjuno. Jalannya ibarat wahana roller coaster. Naik bertakik-takik dengan kemiringan yang tajam minta ampun. Otak pun menjadi ikut miring. Mulut kerap mengigau tidak jelas. Banyak kawan saya yang terjatuh, terpelanting ke dalam kubangan lumpur, dan babak belur.

Berkali-kali menyeberangi sungai. Sungai adalah jalanan yang harus diterabas. Dan saya pun akhirnya minum air sungai. Karena tidak ada warung. Haus minta ampun. Cuaca sangat panas. Matahari berada langsung di atas kepala. Semua kulit para relawan gosong. Wajah gosong. Tangan gosong. Leher gosong. Kapokmu kapan.

Baru menjumpai warung saat perjalanan pulang, di kawasan bawah, setelah jumpalitan babak belur empat jam perjalanan. Itu pun saya hanya duduk dan makan biskuit yang dibawa oleh rekan-rekan relawan. Baru akan makan, biskuit di tangan sudah disambar duluan oleh ayam. Idih, ayam-ayam pun ikut belingsatan.

Saya putuskan untuk minum, eh babi hutan lewat, baris-berbaris macam marching band persiapan lomba.

Seandainya wanita hamil ikut perjalanan kami, sudah pasti langsung melahirkan di jalanan. Karena hentakan akibat jalanan terjal, seperti kita dimasukkan ke dalam botol, lalu dikopyok sesuka-sukanya oleh manusia raksasa.

Warga di sini, mereka jarang mandi. Sehingga menghantarkan aroma ketiak asin pahit ditambahi tape. Dulu, mereka tidak mengenal budaya berpakaian.

“Kami kenalkan pakaian. Kami ajarkan tata cara berpakaian. Dikenakan sebentar, namun dilepas lagi. Alhamdulillah, setelah lambat laun, mereka akhirnya terbiasa dengan budaya berpakaian,” tutur Ustadz Sigit, dai senior kami yang babat alas di sana.

Setiap warga Suku Wana yang kami jumpai, selalu rambutnya acak-acakan, macam orang kesetrum. Kalaulah Allah menakdirkan kami ke sana lagi, maka kami akan membawakan hadiah sisir yang banyak. Agar mereka mengenal tentang obat ganteng ini: sisir. Serta, tampaknya perlu juga untuk kami selenggarakan even pelatihan spektakuler berupa training potong rambut. Agar mereka bisa nampak lebih rapi dan bisa bergaya.

Hari Ahad (8 November 2020) kemarin, kami bersama beberapa ormas menyelenggarakan even pensyahadatan massal. Lebih kurang 40 KK Suku Wana akhirnya masuk Islam. Namun, kami akhirnya menarik kesimpulan bahwa untuk menaikkan barang bantuan ke sana, effortnya kerja keras minta ampun. Jangankan barang, menaikkan manusia ke sana saja, harus rela berperang dengan ujian terjengkang dan terjungkal berkalang tanah.

Hambatannya di sini …

Ingin kami berdamai dengan jalanan yang amat kejam itu. Kami bersepakat bahwa tidak ada jalan lain untuk menaikkan barang bantuan ke sana secara efektif dan efisien, kecuali dengan menunggangi helikopter. Sebagaimana yang telah dilakukan oleh saudara-saudara kami missionary dari Kristiani. Mereka beterbangan ke sana ke mari seperti burung elang. Ibarat Papa Sinterklas, menghantarkan bantuan-bantuan ke Lambentana. Dan akhirnya, berdirilah banyak gereja di atas pegunungan sana.

Kami salut kepada mereka. Dan angkat topi. Bukan pekerjaan yang mudah untuk membangun banyak gereja di sana. Dan kami sesungguhnya ingin seperti mereka, butuh helikopter untuk naik ke atas.

Menurut Pak Bupati Morowali Utara menyampaikan kepada kami, bahwa ada perusahaan yang menyewakan helikopter dengan harga khusus untuk lembaga sosial seharga 3 juta rupiah per jam nya. Namun sama-sama masih belum tahu, apakah memang benar harga sewanya segitu.

Kemarin malam, kami bertemu Wakil Bupati Kab. Banggai, Bapak Mustar Labolo. Kami dijamu olehnya luar biasa. Kami sempatkan untuk bertanya tentang helikopter, siapa yang punya. Menurutnya, ada 3 lembaga yang saat ini memiliki fasilitas helikopter.

  1. Basarnas
  2. Kepolisian
  3. Missionary Kristen

Dan ketiga-tiganya tidak bisa disewa untuk kepentingan ini. Kami sangat iri dengan saudara-saudara kami dari missionary Kristen. Kerja cerdas mereka sungguh luar biasa.

Ayolah, kami berharap semua datang ke sini, datang ke sini, datanglah, agar makin banyak yang membantu saudara-saudara baru kaum muslimin dari Suku Wana. Agar banyak lintas organisasi Islam bisa saling bersinergi. Agar tidak hanya satu atau dua logo organisasi saja di sana. Namun harus banyak logo. Ratusan logo membantu. Ribuan logo membantu. Dan terbangunlah peradaban di sana.

Saya berdoa kepada Allah, agar Allah bisa memberikan kesempatan dan fasilitas untuk bisa berangkat ke sana kembali. Saya harus bekerja. Dan semoga Allah bisa memberikan kepada saya pekerjaan 1 bulan untuk rejeki makan 1 tahun. Atau pekerjaan 1 bulan untuk rejeki makan 5 tahun.

Sehingga saya bisa secara mudah bisa ikut melanjutkan estafet kegiatan pelayanan ini lagi. Pelayanan kepada Tuhan.

Salam hormat untuk semuanya.

𝑀𝑎𝑟𝑖𝑗𝑜, 𝑡𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑎𝑘𝑎𝑛𝑔 𝑠𝑎𝑚𝑎-𝑠𝑎𝑚𝑎. 𝐵𝑖𝑎𝑟 𝑝𝑢𝑟𝑢 𝑛𝑦𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑙𝑎𝑝𝑎𝑟. 𝐵𝑖𝑎𝑟 𝑝𝑖𝑘𝑖𝑟𝑎𝑛 𝑛𝑦𝑎𝑛𝑑𝑎 𝑏𝑎𝑝𝑖𝑘𝑖𝑟 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑤𝑎𝑟-𝑤𝑎𝑟.


Author: Ipung Atria
(Peserta Ekspedisi Pensyahadatan Muallaf Suku Wana November 2020)
Saat ini penulis aktif sebagai pengajar dan pelayan Tuhan di Insan Mokoginta Institute dan MCN Aya Sofya.



MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA SAAT INI BERFOKUS PADA 3 HAL DALAM PEMBERDAYAAN MASYARAKAT SUKU TAU TAA WANA DI PEDALAMAN LAMBENTANA MELIPUTI:

1. Membangun rumah gubuk bagi masyarakat Suku Wana yang belum memiliki rumah karena hingga saat ini banyak dari mereka yang masih hidup secara nomaden.
2. Mengadakan program zakat produktif dengan cara memberikan hewan ternak berupa kambing untuk membangun perekonomian masyarakat Suku Wana.
3. Mengadakan program edukasi pertanian berupa pelatihan menanam tanaman buah dan pangan karena ilmu pertanian masih dianggap sangat tabu bagi masyarakat Suku Wana.

Insya Allah pada bulan Februari 2021 akan dilakukan eksekusi pembangunan rumah mualaf dan program zakat produktif berupa peternakan kambing. Segala hal yang mendukung kesuksesan program dakwah kami akan dipantau secara langsung agar tidak terjadi kendala di kemudian hari.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-00-4040-12
AN. YAYASAN THORIQUSSALAM INDONESIA QQ AYA SOFYA INDONESIA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

SURABAYA: Pesantren JEHA Dolly. Jl. Putat Jaya No. 4B, Putat Jaya, Kota Surabaya.

DEPOK: Jl. Tugu Raya No. 8 Kelapa Dua Cimanggis, Depok.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.