Beberapa waktu yang lalu, kami melakukan kunjungan dakwah ke Mualaf Center Nasional Aya Sofya Lamongan untuk bertemu dengan seorang wanita yang kabur dari kampung halamannya yakni Tanah Toraja, Sulawesi Selatan. Beliau adalah seorang mahasiswi dari salah satu kampus di Toraja yang akan menjadi seorang pendeta jika sudah lulus kuliah. Kami pun melakukan wawancara dengan beliau yang dipimpin oleh Ust. Imam Mujahidin untuk mengetahui kisah perjalanan dan perjuangan beliau hingga pada akhirnya memeluk agama Islam.
Pada hari Senin tanggal 15 November 2022, MCN Aya Sofya Lamongan mendapatkan telepon dari seorang wanita yang meminta tolong untuk disyahadatkan. Tanpa perjanjian sebelumnya, beliau ternyata sudah berada di Masjid Al-Muttaqin, Karanggeneng, Kabupaten Lamongan. Hingga pada akhirnya kami sepakat untuk mengadakan pertemuan pukul 15.00 WIB.
“Sebelum itu saya perlu chek terlebih dahulu terkait posisinya dimana karena pada saat itu melalui telepon, jadi saya tidak tahu posisinya dimana. Ternyata pada saat itu beliau sudah berada di Masjid Al-Muttaqin Karanggeneng. Waktu itu kira-kira jam 12 siang mbaknya kesini, sedangkan kita pada saat itu masih ada keperluan kerja jadi saya meminta untuk tunggu. Kalau memang benar-benar keinginanannya seperti itu maka kita ketemu jam 3 sore atau jam tiga setelah sholat Ashar”. Penjelasan dari Ust. Imam Mujahidin, pembina MCN Aya Sofya Lamongan.
Wanita ini bernama Resti Rusmaini (usia 23 tahun), berasal dari Kota Palu, Sulawesi Tengah dan melakukan perjalanan ke Jawa tepatnya di Kabupaten Lamongan untuk memeluk agama Islam. Uniknya lagi beliau dalam kondisi kabur dari rumah karena tidak mendapatkan izin untuk berpindah agama.
Mempertimbangkan niat baiknya dan nasib beliau kedepan maka kami mengupayakan untuk prosesi pensyahadatan segera dilangsungkan. Menemui Bapak KUA Kecamatan Karanggeneng, Kabupaten Lamongan untuk membimbing Mbak Resti dalam prosesi pensyahadatan.
Bagaimana awal mulanya ingin masuk Islam?
Sejak sekolah dasar hingga SMA beliau selalu dikelilingi oleh orang-orang muslim, tak sedikit yang memperlakukannya dengan baik tetapi pada saat itu dalam dirinya belum ada ketertarikan sama sekali kepada Islam. Baginya sempat ada penasaran tentang rasanya memakai kerudung sebagaimana wanita-wanita Islam yang memakai itu, tapi itu sebatas rasa ingin tahu saja. Namun, saat kuliah beliau bertemu dengan seorang pria yang membuka mata hatinya untuk lebih bisa lebih dalam mengenal agama Islam lebih jauh.
“Keinginan saya masuk Islam itu karena sering sharing dengan calon suami saya. Sering cerita tentang agama saya yang seperti ini dan masnya juga cerita dengan agamanya yang seperti itu. Dari situ saya mulai berfikir kalau sepertinya agama Islam itu benar juga tapi pada saat itu saya juga tidak bisa menyalahkan agama saya. Saya hanya berfikir bahwa yang seharusnya disembah itu Allah tapi kenapa justru Yesus yang bukan Tuhan. Jadi dari situ saya mulai tertarik dengan agama Islam”. Jelas Mbak Resti Rusmaini saat kami bertanya alasannya yang mulai tertarik dengan agama Islam.
Saat ini Mbak Resti Rusmaini adalah mahasiswi jurusan Theologi di Staken – Sekolah Tinggi Agama Kristen Negeri Toraja, Sulawesi Selatan. Setelah lulus SMA ingin menempuh pendidikan tinggi. Hanya saja pada waktu itu beliau tidak bisa memilih jurusan dan tempat kuliah, semua itu menjadi keputusan kedua orang tuannya. Hingga pada semester 6 merasa tidak sanggup menjalankan tuntutan kedua orang tuanya itu.
“Pada saat lulus SMA itu ingin bilang ke orang tua untuk langsung kuliah. Tapi pada saat itu langsung diarahkan melanjutkan kesana. Pada saat itu juga ingin bisa membanggakan kedua orang tua, mengikuti keinginkan kedua orang tua, membuat orang tua senang. Tetapi makin kesini rasanya sudah tidak sanggup, tidak tertarik sama sekali, saya merasa ada pertentangan keimanan dengan orang tua”. Jelasnya sembari mengingat-ingat cerita masa lalunya itu.
Meskipun mengambil jurusan Theologi, beliau tetap memperlajari tentang agama Islam dengan mata kuliah Islamologi. Sehingga selain sharing ilmu pengetahuan agama dengan calon suaminya itu, beliau juga mengetahui sedikit agama Islam dari mata kuliahnya.
“Apakah selain agama Islam juga dipelajari, bukankah di Indonesia juga ada agama Lain seperti Budha, Hindu, dan lainnya?”. Tanya Ust. Imam Mujahidin untuk lebih memastikan.
“Saat saya kuliah mengambil jurusan itu kan belajar juga tentang agama Islam, namanya Islamologi. Jadi agama untuk orang Islam juga dipelajari di situ, tidak mempelajari agama yang lain, hanya Islam dan agama Kristen. Dari situ juga saya sedikit tahu tentang Islam tapi tidak cukup dalam karena pada saat itu mungkin pematerinya tidak begitu mendalami Islam itu seperti apa. Terus waktu kuliah kenal sama masnya, kami banyak sharing tentang ilmu agama”. Jelas Mbak Resti.
Mbak Resti sempat menceritakan kisah lain yang membuatnya semakin memantapkan keinginannya memeluk agama Islam. Beliau mengaku perna bermimpi sedang melakukan shalat dengan mengenakan baju dan kerudung putih seperti mukenah yang dikenakan wanita-wanita Islam saat beribadah. Semenjak itu beliau selalu memikirkan untuk arti mimpi itu, mungkinkah itu sebuah petunjuk atau hidayah dari Tuhan kepadanya.
“Saya juga sempat bermimpi sedang melakukan shalat, menggunakan sajadah, dan memakai baju putih seperti mukenah. Posisi sedang berdiri seperti orang sedang Shalat”. Jelasnya.
Bagaimana bisa dari Palu, Sulawesi Tengah hingga sampai ke Lamongan, Jawa Timur?
Beliau mengaku nekad pergi ke Kabupaten Lamongan, Jawa Timur untuk memeluk agama Islam. Pada awalnya mendapatkan penolakan keras dan ditentang oleh kedua orang tuanya untuk berpindah agama. Beragama dan memiliki keyakinan sendiri adalah hak bagi setiap manusia dan perihal itu diatur oleh negara.
“Sebenarnya saya dilarang oleh orang tua tapi saya beranikan diri. Saya merasa bahwa saya ini sudah dewasa, saya punya pilihan, jadi saya berhak memutuskan mana yang terbaik buat saya. Hingga pada saat itu saya memilih untuk kabur dari rumah, pak. Saya pergi tidak membawa apa-apa.” Jelasnya ketika menjawab pertanyaan dari Ust. Imam Mujahidin tentang alasannya kabur daru rumah.
“Kemudian saya bilang kepada masnya: kalau mau jemput ya silahkan tapi kalau tidak ya tidak apa-apa, saya akan tetap pergi karena ini adalah kemauan saya karena saya sudah besar dan ingin masuk Islam”. Lanjutnya dengan perasaan bangga atas tekadnya itu.
Beliau mengaku nekad memutuskan untuk memeluk agama Islam karena memang tulus dari hatinya bukan karena ingin menikah dengan kekasihnya. Baginya, agama bukanlah suatu hal yang dibuat main-main. Keputusan yang diambilnya juga bukan dari hasil pemikiran semalam tapi sudah melalui banyak proses dan pertimbangan yang terus dikaji.
Bagaimana hubungan dengan orang tua yang masih beragama Kristen?
Sejak keputusannya untuk pergi dari Tanah Toraja ke Jawa, Mbak Resti mengaku belum berhubungan dengan orang tuanya sama sekali. Lantas beliau tidak ingin menuntup mata dan telinga tentang kebar kedua orang tuanya. Saat ini beliau masih sering berhubungan dengan ketua RT di Desa dan ada keinginan ingin pulang atau sekedar berkunjung ke rumah orang tuanya jika situasi dan kondisinya sudah lebih baik.
“Kalau ketemu yaa pengennya ketemu, namanya juga orang tua pasti ada kangen-kangennya. Pengen seperti itu cuma masih ada rasa takut. Saya takut ditarik lagi untuk kembali ke Kristen dan takut mereka marah. Tapi kalau marah ya itu memang resiko yang harus saya ambil”. Jelas Mbak Resti sembari membayangkan kemungkinan yang terjadi jika dia kembali ke orang tuanya.
Bagaimana perasaannya setelah masuk Islam?
“Perasaan saya setelah masuk Islam itu menjadi lebih tenang, seperti tidak ada beban. Yaa ada sih, seperti memikirkan orang tua, itu saja”. Jelasnya dengan perasaan lega.
Bukan hanya Mbak Resti saja yang mengalami hal ini, tetapi salah satu tantangan besar ketika shalat adalah ketika bangun tidur untuk menunaikan shalat Shubuh. Salah satu ujian keimanan yang harus dilewati agar bisa menjalankan kewajiban kita kepada Allah Ta’ala.
Rekomendasi Artikel:
- Kesaksian Pendeta Setelah Masuk Islam: Kelebihan-Kelebihan Islam dan Al Quran bagi Kehidupannya
- Kajian Kristologi Mualaf Center Malaysia: Islam VS Kristen
- Mualaf Center Tangerang: Islam Lebih Menarik bagi Generasi Muda
- Brother Lim Jooi Soon Datang Ke Indonesia: Hal Mengganjal dalam Bible Hingga Membuatnya Masuk Islam
- Brother Lim Jooi Soon Datang Ke Indonesia: Mualaf Malaysia Percaya Bahwa Yesus Bukan Tuhan
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
KANTOR PUSAT SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2
No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
KANTOR PUSAT MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PASURUAN: Mualaf Center Nasional Aya Sofya Pasuruan – Griya Kebun Jaya Kav. 64 Kota Pasuruan, Jawa Timur
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
BOGOR: Komplek Kehutanan Cikoneng, No. 15, Ciomas, Bogor.
DEPOK: Jl. Tugu Raya No. 8 Kelapa Dua Cimanggis, Depok.
BEKASI: SAHABAT YAMIMA, Jl. Batu Giok II No. 110 B, Bojong Rawalumbu, Rawalumbu, Kota Bekasi, Jawa barat, Kode Pos 17116
TANGERANG: Vila Pamulang Blok CE 1 no 3, RT 02 RW 17, Pondok Benda, Tangerang Selatan.
MANADO: Jl. Pumorow, Kel. Banjer Lingkungan 1 No. 97, Kec. Tikala, Kota Manado, Sulawesi Utara, Kode Pos 95125.
