YESAYA 53: SINI, PAK PENDETA, SAYA AJARIN

Alhamdulillah, kembali disapa dalam ruang diskusi virtual di kanal YouTube Aya Sofya. Dalam kesempatan ini, Niru Khoirunisa menyapa para pemirsa yang mengikuti siaran dari berbagai daerah. Malam itu, diskusi menghadirkan Ustadz Ahmad Kainama yang bergabung secara daring untuk membahas isu yang tengah ramai diperbincangkan di ruang publik.

Suasana pertemuan terasa hangat sejak awal, ditandai dengan salam dan doa yang disampaikan. Diskusi ini tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari rangkaian dialog lintas agama yang sebelumnya juga telah beberapa kali dilakukan oleh Aya Sofya bersama berbagai tokoh.

Isu Debat Lintas Agama yang Mengemuka

Beberapa hari sebelumnya, publik sempat menyoroti rencana dialog antara Ustadz Ahmad Kainama dan Pendeta Esra Soru. Rencana tersebut akhirnya dijadwalkan ulang karena adanya musibah keluarga dari pihak pendeta. Namun, penundaan ini memunculkan beragam spekulasi di media sosial.

Sebagian kalangan, khususnya dari umat Kristiani, mempertanyakan apakah penjadwalan ulang tersebut disebabkan oleh rasa takut untuk berdialog. Narasi ini berkembang cukup luas, sehingga perlu adanya klarifikasi langsung dari pihak yang bersangkutan.

Tanggapan Ustadz Ahmad Kainama

Ustadz Ahmad Kainama membuka tanggapannya dengan salam dan puji syukur. Ia menyampaikan bahwa dialog lintas agama seharusnya dipahami sebagai ruang pertukaran gagasan, bukan ajang mencari kemenangan atau kekalahan.

Menurut beliau, dialog yang sehat justru bertujuan memperluas wawasan, membangun saling pengertian, serta menjaga adab dalam perbedaan. Karena itu, isu “takut debat” dinilai tidak relevan jika dialog ditempatkan pada kerangka akademik dan etis.

Tentang Tema Yesaya 53

Salah satu topik yang menjadi perhatian dalam dialog sebelumnya adalah Yesaya 53. Ustadz Ahmad Kainama menjelaskan bahwa pembahasan mengenai Yesaya 53 sebetulnya tidak perlu diposisikan sebagai perdebatan teologis yang panas.

Yesaya 53 adalah bagian dari kitab suci Yahudi. Karena itu, pembahasannya perlu dilihat secara proporsional, dengan memahami konteks sejarah dan tradisi keagamaannya. Dalam perspektif ini, dialog bukan untuk mengklaim kepemilikan tafsir, melainkan untuk memahami bagaimana masing-masing agama memandang teks tersebut.

Dialog, Bukan Ajang Saling Menyerang

Ustadz Ahmad Kainama menekankan pentingnya membedakan antara dialog lintas agama dan konten yang bersifat provokatif. Ia mengingatkan bahwa tidak semua kanal atau figur yang mengatasnamakan apologet benar-benar menghadirkan pembelaan iman yang bermartabat.

Dialog yang baik tidak diisi dengan hujatan, makian, atau serangan personal. Baik umat Kristen, Katolik, maupun Muslim, menurut beliau, perlu lebih selektif dalam mengikuti konten yang dikonsumsi agar tidak terjebak pada narasi yang justru merusak kerukunan.

Pengalaman Dialog Sebelumnya

Sebagai ilustrasi, Ustadz Ahmad Kainama menceritakan pengalamannya mengikuti dialog lintas agama di Jakarta, tepatnya di kawasan Menteng. Dalam forum tersebut, diskusi berjalan santai dan penuh rasa hormat, tanpa dorongan untuk saling menjatuhkan.

Pengalaman ini menunjukkan bahwa dialog lintas agama dapat berlangsung dengan cara yang sehat jika masing-masing pihak menempatkan diri sebagai pembelajar, bukan sebagai penyerang.

Kerangka Akademik dalam Dialog Keagamaan

Dalam penjelasannya, Ustadz Ahmad Kainama juga menyinggung konsep teologi dalam perspektif Kristen, yang dipahami sebagai pengetahuan tentang Tuhan dan ajaran iman. Pembahasan semacam ini, menurut beliau, sah untuk dikaji secara akademik, selama dilakukan dengan adab dan metodologi yang tepat.

Islam sendiri, baik dalam Al-Qur’an maupun hadis sahih, mengakui adanya dialog dan bahkan perdebatan dengan pemeluk agama lain, asalkan dilakukan dengan bahasa yang baik, lemah lembut, dan penuh etika.

Debat dalam Sejarah Para Nabi

Ustadz Ahmad Kainama mengingatkan bahwa dialog dan debat dengan pihak yang berbeda keyakinan bukan hal baru. Sejak masa Nabi Ibrahim ‘alaihissalam, dialog semacam ini sudah terjadi. Tantangannya adalah bagaimana menghindari kesalahan logika atau logical fallacy yang sering muncul dalam perdebatan emosional.

Dengan memahami hal ini, dialog lintas agama diharapkan tidak terjebak pada adu argumen kosong, melainkan menjadi ruang pembelajaran yang bermakna.

Menanggapi Tuduhan “Takut Dialog”

Isu bahwa Ustadz Ahmad Kainama disebut “takut” kembali mencuat di sejumlah platform media sosial. Menurut beliau, narasi semacam ini umumnya muncul dari akun-akun YouTube atau TikTok yang lebih mengedepankan sensasi dibanding substansi. Kanal-kanal semacam ini, kata beliau, sering kali tidak memiliki basis keilmuan yang kuat dan cenderung mencari perhatian dengan menempelkan diri pada isu yang sedang ramai.

Dalam konteks ini, tudingan “takut” dinilai tidak memiliki dasar. Dialog yang direncanakan sejak awal justru berangkat dari keinginan untuk berbincang secara terbuka, bukan untuk saling menjatuhkan.

Makna “Takut” dalam Perspektif Iman

Ustadz Ahmad Kainama kemudian menjelaskan bahwa rasa takut yang relevan bagi seorang Muslim bukanlah takut berhadapan dengan manusia, melainkan takut kepada Allah dan takut kehilangan syafaat Rasulullah ﷺ. Bagi beliau, kekhawatiran terbesar seorang Muslim adalah ketika hidupnya tidak sejalan dengan nilai-nilai Islam hingga berujung pada kerugian di akhirat.

Rasa takut inilah yang menjadi landasan sikap kehati-hatian, bukan ketakutan terhadap dialog atau perbedaan pandangan. Dalam kerangka ini, dialog justru dipandang sebagai bagian dari ikhtiar intelektual dan sosial.

Dialog yang Ditempatkan Secara Proporsional

Menurut Ustadz Ahmad Kainama, dialog lintas agama perlu ditempatkan pada ruang yang tepat dan disajikan secara proporsional. Tema yang diangkat harus jelas, konteksnya dipahami, dan disampaikan kepada publik dengan tujuan edukatif.

Beliau menegaskan bahwa dirinya dan Pendeta Esra Soru bahkan telah beberapa kali berkomunikasi secara langsung sebelum adanya musibah keluarga. Artinya, tidak ada suasana tegang atau rasa saling menghindar dalam rencana dialog tersebut.

Kronologi Perencanaan Dialog

Ustadz Ahmad Kainama menjelaskan bahwa inisiatif dialog sudah dimulai sejak awal Februari 2024 melalui Ustadz Ipung sebagai penghubung. Proses penjadwalan sempat mengalami beberapa perubahan, mulai dari akhir Februari, Maret, hingga akhirnya direncanakan pada awal Mei.

Penundaan terakhir terjadi karena adanya kabar duka dari pihak keluarga Pendeta Esra Soru. Dalam kondisi seperti ini, Ustadz Ahmad Kainama menilai bahwa menunda dialog adalah bentuk penghormatan, bukan tanda ketidaksiapan.

Keinginan Melanjutkan Dialog dengan Tokoh Lain

Tidak berhenti di satu forum, Ustadz Ahmad Kainama juga menyampaikan keinginannya untuk berdialog dengan tokoh-tokoh Kristen lainnya, seperti Pendeta Bambang Nursena dan Pendeta Gilbert. Tujuan dari dialog ini tetap sama, yakni membangun saling pengertian di antara umat, bukan memperlebar jurang perbedaan.

Beliau menekankan bahwa dialog semacam ini justru penting agar masing-masing jamaah dapat saling memahami posisi dan keyakinan satu sama lain secara jernih.

Antusiasme Pemirsa dari Berbagai Daerah

Di tengah diskusi, suasana menjadi semakin hidup dengan hadirnya pemirsa dari berbagai daerah, bahkan dari luar negeri. Sapaan datang dari Brebes, Solo, Depok, Surabaya, Lombok, Kalimantan, Malaysia, hingga Taiwan. Kehadiran para penonton ini menunjukkan besarnya minat publik terhadap diskusi yang mengangkat tema lintas agama secara terbuka dan santun.

Beberapa pemirsa juga memperkenalkan diri sebagai mualaf, yang disambut dengan penuh kehangatan.

Ajakan untuk Berani Berdialog dengan Ilmu

Memasuki pembahasan lanjutan, Ustadz Ahmad Kainama mengajak umat Islam untuk mulai membiasakan diri berdialog atau menyampaikan pandangan berdasarkan data dan pengetahuan yang kuat. Selama hal yang disampaikan tidak bertentangan dengan syariat, rasa takut dinilai tidak perlu muncul.

Beliau mengingatkan bahwa ketakutan sejati hanyalah kepada Allah. Sementara urusan kebutuhan hidup dan kekhawatiran duniawi, menurut beliau, dapat diserahkan kepada Allah melalui ikhtiar dan doa.

Menempatkan Isu dengan Sikap Tenang

Menanggapi berbagai komentar di media sosial, Ustadz Ahmad Kainama mengajak umat Islam untuk bersikap santai dan tidak terpancing. Indonesia memiliki kerangka kerukunan antarumat beragama yang perlu dijaga bersama.

Beliau juga menyoroti pentingnya empati, terutama ketika salah satu pihak sedang mengalami kedukaan. Dalam situasi seperti itu, menjaga adab dinilai jauh lebih penting daripada memperpanjang polemik.

Alasan Membahas Yesaya 53

Ustadz Ahmad Kainama kembali menegaskan bahwa pembahasan Yesaya 53 bukan untuk kepentingan internal umat Islam, melainkan sebagai bentuk “pagar” pengetahuan, khususnya bagi generasi muda. Menurut beliau, ayat ini kerap digunakan dalam upaya kristenisasi, meskipun tidak jarang disampaikan tanpa pemahaman yang utuh terhadap konteks aslinya.

Karena itu, pembahasan Yesaya 53 dipandang penting agar umat Islam memiliki bekal pengetahuan yang memadai.

Pengantar Kajian Teks Yesaya

Sebagai pengantar, Ustadz Ahmad Kainama mulai menjelaskan bahwa Kitab Yesaya merupakan bagian dari Nevi’im, yakni kitab para nabi dalam tradisi Yahudi. Kitab ini pada dasarnya adalah milik umat Yahudi, yang kemudian masuk ke dalam kanon Kristen melalui naskah-naskah kuno, salah satunya Codex Sinaiticus dari abad awal Kekristenan.

Pembahasan ini menjadi titik awal untuk memahami Yesaya 53 secara historis dan tekstual sebelum masuk ke penjelasan yang lebih mendalam.

Posisi Kitab Yesaya dalam Sejarah Teks

Ustadz Ahmad Kainama kembali menegaskan bahwa Kitab Yesaya merupakan bagian dari Nevi’im, yakni kumpulan kitab para nabi dalam tradisi Yahudi. Kitab ini bukan berasal dari tradisi Kristen maupun Katolik. Masuknya Kitab Yesaya ke dalam Alkitab Kristen baru terjadi sekitar abad ke-4 Masehi, melalui kumpulan manuskrip kuno yang dikenal sebagai Codex Sinaiticus.

Penegasan ini penting sebagai landasan awal agar pembahasan Yesaya 53 tidak tercampur antara konteks Yahudi, Kristen, dan Islam.

Mengapa Penjelasan Ini Perlu Disampaikan kepada Muslim Awam

Ustadz Ahmad Kainama menyoroti bahwa dalam beberapa dialog lintas agama, pembahasan sering kali langsung masuk ke istilah-istilah Alkitabiah tanpa memberikan pengantar yang memadai bagi Muslim awam. Akibatnya, banyak penonton Muslim tidak memahami konteks pembicaraan.

Menurut beliau, dalam dialog Islam–Kristen, dakwah tetap menjadi prioritas bagi umat Islam, bukan dalam arti konfrontatif, tetapi sebagai upaya edukasi agar umat memahami apa yang sedang dibahas. Tanpa pengantar ini, dialog berisiko hanya dipahami oleh kalangan terbatas.

Kitab Yesaya dan Konsep Soteriologi

Secara tematik, Kitab Yesaya sering dikaitkan dengan konsep keselamatan, yang dalam istilah Yunani dikenal sebagai soteria. Dari istilah inilah muncul istilah soteriologi, yaitu kajian tentang janji dan konsep keselamatan.

Namun, Ustadz Ahmad Kainama menggarisbawahi satu persoalan utama:
umat Yahudi sebagai pemilik asli Kitab Yesaya tidak pernah menafsirkan kitab ini sebagai nubuat tentang Yesus sebagai juru selamat atau Mesias. Inilah titik krusial yang perlu ditempatkan secara proporsional dalam diskusi lintas agama.

Pembagian Struktur Kitab Yesaya

Untuk memahami konteks Yesaya 53, Ustadz Ahmad Kainama menjelaskan bahwa Kitab Yesaya secara akademik dibagi menjadi tiga bagian utama:

  1. Proto-Yesaya (pasal 1–39)
  2. Deutero-Yesaya (pasal 40–55)
  3. Trito-Yesaya (pasal 56–66)

Yesaya 53 berada dalam bagian Deutero-Yesaya, sehingga tidak dapat dilepaskan dari tema dan konteks keseluruhan bagian tersebut.

Deutero-Yesaya dan Klaim Keselamatan

Bagian Deutero-Yesaya sering dijadikan rujukan dalam pembahasan tentang juru selamat dan Mesias. Namun, Ustadz Ahmad Kainama menekankan bahwa tidak satu pun bagian dari Deutero-Yesaya termasuk pasal 53 yang secara eksplisit menubuatkan Yesus sebagai Mesias menurut pemahaman Yahudi.

Penjelasan ini dimaksudkan sebagai “pagar pengetahuan” bagi umat Islam agar tidak mudah menerima klaim teologis tanpa memahami konteks asal teksnya.

Fondasi Penting: Yesaya 52 Ayat 1

Sebelum masuk ke Yesaya 53, Ustadz Ahmad Kainama mengajak pemirsa memperhatikan Yesaya 52 ayat 1 sebagai fondasi konteks. Ayat ini berbicara tentang Sion dan Yerusalem sebagai kota suci, dengan syarat bahwa tidak seorang pun yang tidak bersunat dan najis diperkenankan masuk.

Dari ayat ini, Ustadz Ahmad Kainama mengajak penonton berpikir kritis:
bagaimana mungkin klaim keselamatan dari Kitab Yesaya dilekatkan kepada kelompok yang tidak memenuhi kriteria yang disebutkan dalam teks tersebut menurut pemahaman Yahudi?

Makna Yerusalem dalam Bahasa Ibrani

Pembahasan kemudian diarahkan pada makna kata Yerusalem secara etimologis. Kata ini berasal dari dua unsur bahasa Ibrani: ‘Ir (kota) dan Salam (damai, utuh, aman).

Melalui penelusuran kamus Ibrani seperti Strong Concordance dan Brown-Driver-Briggs, Ustadz Ahmad Kainama menunjukkan bahwa akar kata salam memiliki makna ketundukan, keutuhan, dan penyerahan diri kepada Tuhan—konsep yang bersifat monoteistik.

Penjelasan ini digunakan untuk memperkuat argumen bahwa Kitab Yesaya berada dalam kerangka monoteisme Yahudi, bukan dalam konsep teologi trinitarian.

Syarat Monoteisme dalam Kitab Nubuat Keselamatan

Ustadz Ahmad Kainama menegaskan bahwa Kitab Yesaya termasuk dalam kategori kitab monoteisme soteriologis, yaitu kitab nubuat keselamatan dalam tradisi tauhid Yahudi. Karena itu, terdapat batasan-batasan teologis yang tidak bisa dilewati sembarangan dalam penafsirannya.

Beliau juga mengingatkan agar potongan ayat tidak digunakan secara terpisah tanpa memperhatikan struktur dan konteks keseluruhan kitab.

Penjelasan Istilah “Tidak Bersunat” dan “Najis”

Ustadz Ahmad Kainama melanjutkan kajian dengan mengajak pemirsa menelusuri makna istilah najis melalui studi kamus teks Ibrani. Penelusuran ini dilakukan bukan untuk berdebat, melainkan untuk memahami bagaimana istilah tersebut digunakan dalam konteks Kitab Yesaya.

Dalam Yesaya 52 ayat 1, disebutkan dua kriteria yang tidak diperkenankan masuk dalam lingkup kesucian Yerusalem: mereka yang tidak bersunat dan mereka yang najis. Najis dalam konteks ini dijelaskan berkaitan dengan pelanggaran aturan makanan menurut hukum Taurat, bukan berdasarkan terminologi Al-Qur’an, melainkan definisi dalam tradisi Yahudi itu sendiri.

Penjelasan ini ditekankan agar pemahaman terhadap teks tidak tercampur antara satu tradisi agama dengan tradisi lainnya.

Penguatan dari Yesaya 66 : 17

Sebagai penguat, Ustadz Ahmad Kainama mengutip Yesaya 66 ayat 17, yang menyebutkan larangan terhadap praktik-praktik ritual tertentu serta konsumsi makanan yang dianggap haram dalam hukum Yahudi, seperti daging babi dan binatang yang dipandang najis.

Ayat ini dijadikan rujukan untuk menunjukkan konsistensi internal Kitab Yesaya dalam menetapkan kriteria kesucian. Dengan demikian, pembahasan Yesaya 53 harus tetap berada dalam kerangka hukum dan teologi Yahudi, bukan dipindahkan secara sepihak ke konteks lain.

Memahami Yesaya 52 :13 sebagai Pengantar

Sebelum masuk langsung ke pasal 53, Ustadz Ahmad Kainama mengajak pemirsa memperhatikan Yesaya 52 ayat 13. Ayat ini berbicara tentang “hamba” yang akan berhasil, ditinggikan, dan dimuliakan.

Menurut beliau, ayat ini sering dipasangkan secara langsung dengan figur Yesus tanpa kajian linguistik dan historis yang memadai. Padahal, jika ditelusuri melalui teks Ibrani dan terjemahan klasik Yahudi, maknanya tidak sesederhana klaim tersebut.

Peran Targum dalam Penafsiran Yahudi

Pembahasan kemudian diarahkan pada Targum Jonathan, yakni terjemahan dan tafsir Aramaik yang digunakan dalam tradisi Yahudi. Ustadz Ahmad Kainama menjelaskan bahwa Targum Jonathan memberikan penjelasan tambahan yang tidak selalu muncul dalam teks Ibrani standar.

Dalam konteks Yesaya 52 ayat 13, istilah Mesias memang muncul dalam Targum, namun tidak merujuk kepada Yesus. Penjelasan ini penting untuk menunjukkan bahwa penggunaan istilah “Mesias” dalam tradisi Yahudi tidak otomatis identik dengan figur yang diyakini dalam Kekristenan.

Klarifikasi Makna Mesias dalam Tradisi Yahudi

Ustadz Ahmad Kainama menegaskan bahwa dalam penafsiran Yahudi, istilah Mesias merujuk pada figur yang diharapkan pada masa tertentu, bukan figur yang telah datang dan disalib. Bahkan, dalam sejarah Yahudi, terdapat beberapa tokoh yang pernah dianggap sebagai Mesias namun kemudian dinyatakan sebagai Mesias palsu oleh para rabi.

Salah satu contoh yang dibahas adalah Bar Kokhba, tokoh pemberontakan Yahudi terhadap Romawi. Awalnya ia dipandang sebagai Mesias oleh sebagian kalangan, namun setelah gerakan tersebut gagal, klaim tersebut ditolak oleh otoritas keagamaan Yahudi.

Konsep “Mesias Palsu” dalam Literatur Yahudi

Melalui rujukan literatur dan kamus, Ustadz Ahmad Kainama menjelaskan bahwa konsep false messiah atau Mesias palsu dikenal luas dalam tradisi Yahudi. Istilah ini digunakan untuk menilai tokoh-tokoh yang gagal memenuhi kriteria Mesias menurut Taurat dan nabi-nabi.

Penjelasan ini dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa klaim Mesias memiliki standar ketat dalam tradisi Yahudi, sehingga tidak dapat digunakan secara bebas untuk mendukung tafsir tertentu.

Menjawab Tuduhan Ketakutan dalam Dialog

Di sela pembahasan akademik, Ustadz Ahmad Kainama kembali menyinggung tudingan bahwa dirinya takut berdialog. Menurut beliau, justru pemahaman mendalam terhadap teks-teks inilah yang membuat dialog tidak perlu ditakuti.

Namun, beliau juga mengingatkan pentingnya menjaga sikap rendah hati dan tidak terjebak pada kesombongan intelektual. Pengetahuan, menurutnya, seharusnya mendorong keterbukaan dan kejujuran, bukan merendahkan pihak lain.

Memasuki Inti Yesaya 53

Memasuki inti pembahasan, Ustadz Ahmad Kainama mengajak pemirsa membaca Yesaya 53 ; 1. Ayat ini dimulai dengan pertanyaan: “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar?”

Pertanyaan ini, menurut beliau, perlu dipahami dengan memperhatikan siapa yang dimaksud dengan “kami”. Dalam konteks teks, “kami” merujuk pada komunitas Israel yang memenuhi kriteria kesucian menurut hukum Yahudi: bersunat, tidak najis, dan menyembah satu Tuhan.

Menempatkan Klaim Nubuat Secara Kontekstual

Dari sini, Ustadz Ahmad Kainama menegaskan bahwa klaim nubuat dalam Yesaya 53 tidak dapat dilepaskan dari subjek dan audiens aslinya. Karena itu, klaim keselamatan tidak bisa diambil begitu saja tanpa mempertimbangkan konteks historis, linguistik, dan teologis.

Penjelasan ini menjadi pengantar menuju pembahasan yang lebih mendalam tentang isi Yesaya 53, makna “berita” yang dimaksud, serta bagaimana ayat-ayat selanjutnya dipahami dalam tradisi Yahudi.

Deutero-Yesaya dan Kerangka Teologis Yesaya 53

Pembahasan kemudian diarahkan pada konteks akademik Kitab Yesaya itu sendiri. Ustadz Ahmad Kainama menyinggung istilah Deutero-Yesaya, yaitu bagian Yesaya pasal 40–55 yang oleh para sarjana dianggap memiliki fokus teologis khusus, terutama pada monoteisme dan soteriologi (konsep keselamatan).

Dalam kerangka ini, Yesaya 53 tidak dapat dilepaskan dari tema besar ketauhidan: segala tindakan tokoh yang dibicarakan dalam pasal tersebut selalu berada di bawah izin Tuhan, bukan atas kekuatan dirinya sendiri. Ini menjadi fondasi penting dalam membaca teks secara konsisten dengan monoteisme ketat yang dianut tradisi Yahudi.

“Berita” dalam Yesaya 53:1

Ustadz Ahmad Kainama kemudian kembali ke Yesaya 53 ayat 1 dan menanyakan inti pertanyaan ayat tersebut: “Siapakah yang percaya kepada berita yang kami dengar?”

Pertanyaan ini tidak berhenti pada siapa yang percaya, tetapi berlanjut pada apa isi berita tersebut. Untuk menjawabnya, rujukan dilakukan ke teks Yesaya 53 ayat 2 melalui platform studi teks seperti Sefaria.

Ayat tersebut menjelaskan bahwa tokoh yang dibicarakan “tumbuh seperti tunas” atau “seperti batang dari tanah kering”, tanpa keindahan lahiriah yang menarik perhatian manusia. Gambaran ini dipahami sebagai deskripsi seorang yang muncul dalam kondisi sulit, bukan figur ilahi yang datang dengan kemegahan.

“Dengan Izin Allah” sebagai Kunci Pemahaman

Dalam penjelasan ini, ditekankan bahwa tokoh dalam Yesaya 53 melakukan segala sesuatu dengan izin Tuhan. Perspektif ini dibandingkan dengan pandangan Islam tentang Nabi Isa yang melakukan mukjizat atas izin Allah, bukan atas kuasa dirinya sendiri.

Ustadz Ahmad Kainama menyoroti bahwa dalam Injil Kristen tidak selalu disebutkan frasa “dengan izin Allah” secara eksplisit, sehingga dalam teologi Kristen berkembang pemahaman bahwa Yesus bertindak dengan kuasa ilahi. Perbedaan inilah yang menurut beliau sering menyebabkan klaim Yesaya 53 diarahkan sepihak kepada Yesus.

Mesias sebagai “Yang Diurapi”

Istilah Mesias kembali ditegaskan sebagai maknanya yang asli: yang diurapi. Dalam tradisi Yahudi, orang yang diurapi adalah seseorang yang menjalankan tugasnya atas mandat Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri.

Tokoh yang dimaksud dalam Yesaya 53 dipahami sebagai figur yang akan datang untuk menolong Israel, bertindak sebagai penyelamat dalam konteks sejarah tertentu, dan tetap berada dalam kerangka monoteisme.

Asal-Usul dari “Tanah Kering”

Perhatian kemudian diarahkan pada frasa “tanah kering”. Melalui analisis kata Ibrani dan bantuan kamus, istilah ini ditelusuri maknanya. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa kata tersebut menunjuk pada wilayah tandus, kering, atau gurun, bukan menunjuk secara spesifik pada Sion atau Yerusalem.

Hal ini digunakan untuk menolak klaim bahwa teks tersebut secara eksplisit menunjuk pada satu lokasi tertentu yang sering dikaitkan dengan Yesus. Menurut Ustadz Ahmad Kainama, pembacaan ini menunjukkan bahwa tokoh tersebut muncul dari kondisi keterasingan dan keterjajahan, bukan dari pusat kekuasaan religius.

Yesaya 53 dalam Konteks Penjajahan Israel

Dalam narasi ini, Yesaya 53 dipahami sebagai janji tentang hadirnya seorang penolong bagi bangsa Israel yang sedang mengalami tekanan dan penjajahan. Tokoh ini akan membebaskan mereka, bertindak atas izin Tuhan, dan membawa ajaran tertentu kepada umatnya.

Karena itu, pasal ini dilihat lebih sebagai teks harapan nasional-religius Israel daripada nubuat kristologis sebagaimana dipahami dalam teologi Kristen.

Rekap Sementara Langkah-Langkah Penafsiran

Sebelum melanjutkan ke ayat berikutnya, Ustadz Ahmad Kainama merangkum beberapa poin penting:

  1. Orang yang tidak bersunat dan yang najis tidak termasuk dalam subjek janji Yesaya.
  2. Dalam pandangan Yahudi, Yesus tidak diterima sebagai Mesias.
  3. Mesias yang dijanjikan bertindak atas izin Allah dan berasal dari kondisi “tanah kering”.
  4. Yesaya 53 berada dalam kerangka monoteisme ketat.

Rekap ini menjadi landasan untuk melanjutkan pembahasan ke Yesaya 53 ayat 2 dan seterusnya, termasuk istilah-istilah kunci seperti shalom dan makna ajaran yang dibawa oleh tokoh tersebut.

Mengapa Yesaya 53 Sulit Dipahami di Luar Kerangka Aslinya

Ustadz Ahmad Kainama menegaskan bahwa Yesaya 53 sering disalahpahami karena dilepaskan dari kerangka teologis dan linguistik aslinya. Ketika ayat-ayat tersebut dipaksakan untuk mendukung doktrin tertentu, maka teks tidak lagi dibaca apa adanya, melainkan dibaca sesuai kepentingan.

Dalam pandangan beliau, umat Islam tidak sedang “mencari-cari legitimasi” dari Kitab Ibrani. Islam tidak membutuhkan pengakuan dari Taurat, Zabur, atau Ketubim. Justru sebaliknya, pembahasan ini muncul sebagai respons terhadap klaim sepihak yang menempatkan Yesaya 53 sebagai milik satu teologi tertentu.

Identitas Tokoh Yesaya 53 Menurut Parameter Internal Teks

Berdasarkan seluruh penelusuran sebelumnya, Ustadz Ahmad Kainama merumuskan parameter internal Yesaya 53 sebagai berikut:

  1. Tokoh tersebut bersunat dan tidak najis.
  2. Ia melakukan segala sesuatu atas izin Tuhan, bukan dengan kuasa dirinya sendiri.
  3. Ia berasal dari negeri gurun / tanah kering.
  4. Ia adalah hamba Tuhan (abdi), bukan Tuhan.
  5. Ia disebut orang saleh yang membuat orang lain menjadi saleh.
  6. Ia berumur panjang, memiliki keturunan, dan tidak disalib.
  7. Ia memberikan syafaat, bukan menjadi objek penebusan dosa.

Dengan parameter ini, Ustadz Ahmad Kainama menyimpulkan bahwa tokoh tersebut tidak sesuai dengan figur Yesus menurut teologi Kristen, terlebih menurut pandangan Yahudi sendiri yang menolak Yesus sebagai Mesias.

Monoteisme sebagai Inti Yesaya 53

Yesaya 53 ditegaskan berada dalam kerangka monoteisme murni. Tidak ada konsep inkarnasi Tuhan, penebusan dosa oleh darah ilahi, atau pengorbanan Tuhan menjadi manusia.

Yang ada adalah konsep hamba Tuhan yang taat, saleh, menderita dalam menjalankan misi, dan membawa ajaran yang menuntun manusia kepada ketundukan total kepada Tuhan Yang Esa.

Inilah sebabnya Ustadz Ahmad Kainama menyebut Yesaya 53 sebagai teks monoteistik dan soteriologis, bukan kristologis.

Makna “Shalom” dan Agama Ketundukan

Dalam pembahasan linguistik lanjutan, istilah shalom ditelusuri melalui kamus Ibrani–Kaldea klasik. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa akar maknanya berkaitan dengan:

  • perdamaian,
  • penyerahan diri,
  • ketundukan,
  • dan penyerahan total urusan kepada Tuhan.

Makna ini kemudian disejajarkan dengan konsep Islam sebagai agama penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, ajaran yang dibawa oleh tokoh Yesaya 53 dipahami sebagai ajaran ketundukan, bukan klaim ketuhanan.

Penegasan dari Kitab Mikha Pasal 5

Sebagai penutup, Ustadz Ahmad Kainama mengaitkan Yesaya 53 dengan Mikha 5:2. Ayat ini berbicara tentang seorang penguasa yang akan datang bagi Israel, dengan asal-usul yang “dari masa lampau”.

Melalui analisis bahasa Ibrani (miqqedem), istilah ini dijelaskan bukan sebagai “kekal ilahi”, melainkan menunjuk arah atau asal geografis: dari timur, dari wilayah Arab dan gurun.

Penjelasan ini diperkuat dengan rujukan kamus klasik yang mengaitkan istilah tersebut dengan penduduk Arabia dan wilayah gurun di sebelah timur Palestina.

Kesimpulan Akhir: Posisi Yesaya 53

Sebagai penutup keseluruhan kajian, Ustadz Ahmad Kainama menyimpulkan:

  • Yesaya 53 adalah teks monoteisme dan soteriologi.
  • Berlaku bagi mereka yang bersunat dan tidak najis.
  • Tidak ditujukan kepada Yesus, karena menurut Yahudi sendiri Yesus adalah false messiah.
  • Tokoh Yesaya 53 adalah hamba Tuhan, berasal dari negeri gurun, membawa ajaran ketundukan kepada Tuhan, dan memberi syafaat.
  • Ia hidup normal sebagai manusia: berkeluarga, berketurunan, dan berumur panjang.

Dengan demikian, Yesaya 53 tidak berdiri sendiri, melainkan terhubung erat dengan keseluruhan pesan kenabian yang konsisten dengan tauhid.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

Ribuan orang syahadat


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat 17114

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.