Diskusi Kristologi dalam Ruang Dialog Digital

kristologi,trinitas,dialog lintas iman,perbandingan agama,kajian alkitab,tafsir yahudi,kejadian dalam alkitab,1 yohanes 5 7,matius 28 19,didakhe,sejarah gereja,penafsiran teks,teologi kristen,monoteisme,abraham dalam alkitab,iman dan toleransi,dialog keagamaan,alkitab ibrani,heavenly council,studi agama
Youtube: https://www.youtube.com/live/oZBIYb2CyLU?si=HBhb-VE_7YBfZQRz

Salah satu bentuk diskusi tersebut hadir melalui live streaming yang diselenggarakan oleh Aya Sofya Mualaf Center, sebuah kanal yang rutin menghadirkan dialog lintas pemahaman keagamaan dengan pendekatan edukatif. Pada salah satu sesi live streaming, tema yang diangkat cukup menarik perhatian, yaitu “Sayembara Bikin Kaget: Tunjukkan di Mana Bible Menyampaikan Trinitas”. Tema ini mengundang rasa ingin tahu, terutama bagi mereka yang tertarik pada kajian kristologi dan perbandingan agama.

Live Streaming sebagai Media Edukasi Keagamaan

Acara ini dipandu oleh Niru Khoirunisa dan menghadirkan Ustadz Ahmad Kainama sebagai narasumber utama. Sejak awal, acara ditegaskan sebagai ruang belajar bersama, bukan ajang debat emosional. Penonton dipersilakan berpartisipasi melalui kolom live chat dengan mengajukan pertanyaan atau tanggapan yang relevan.

Pendekatan ini penting karena diskusi teologis memerlukan suasana dialog yang sehat, berbasis data, dan saling menghormati. Live streaming tersebut juga menunjukkan bagaimana media digital dapat menjadi sarana penyebaran ilmu, khususnya dalam isu-isu keimanan yang sering kali dianggap sensitif.

Makna “Sayembara” dalam Konteks Ilmiah

Istilah “sayembara” yang digunakan dalam tema acara sempat menjadi bahan candaan ringan, namun di balik itu terdapat pesan serius. Dalam konteks ini, sayembara dimaknai sebagai tantangan intelektual: adakah ayat dalam Alkitab yang secara eksplisit dan tegas menyebutkan konsep Trinitas sebagaimana dipahami dalam teologi Kristen?

Ustadz Ahmad Kainama menekankan bahwa pembahasan ini menyentuh aspek fundamental dalam kristologi. Oleh karena itu, jawaban yang diberikan tidak cukup bersifat asumtif, tetapi perlu ditopang oleh rujukan teks dan kajian yang dapat diverifikasi.

Pentingnya Riset dan Argumentasi Berbasis Data

Dalam dialog tersebut, disoroti pula pentingnya membedakan antara kritik berbasis argumen dan serangan emosional. Ustadz Ahmad Kainama menegaskan bahwa perbedaan pandangan adalah hal yang wajar, namun seharusnya disikapi dengan riset dan dialog ilmiah, bukan sekadar makian atau sentimen pribadi.

Pendekatan ini mengajarkan bahwa dalam membahas isu keimanan, terutama yang menyangkut agama lain, sikap kritis perlu diiringi dengan etika intelektual. Argumentasi yang kuat lahir dari pemahaman sumber, bukan dari prasangka.

Awal Pembahasan Ayat-Ayat Alkitab

Memasuki inti diskusi, perhatian diarahkan pada ayat yang sering dijadikan rujukan dalam pembahasan Trinitas, salah satunya adalah 1 Yohanes 5:7. Ayat ini kerap disebut dalam diskursus kristologi karena memuat frasa tentang tiga yang memberi kesaksian di surga.

Pembacaan dan penafsiran ayat ini menjadi titik awal untuk menelaah apakah konsep Trinitas benar-benar dinyatakan secara eksplisit dalam teks Alkitab, ataukah merupakan hasil formulasi teologis pada periode tertentu dalam sejarah Gereja.

Pada tahap ini, diskusi mulai memasuki wilayah analisis teks dan konteks, yang menjadi fondasi penting dalam kajian perbandingan agama.

Penelusuran Catatan Teks dan Tafsir Alkitab

Setelah pembacaan 1 Yohanes 5:7, diskusi tidak berhenti pada bunyi ayat semata. Perhatian kemudian diarahkan pada catatan kaki dan tafsiran Alkitab, khususnya yang terdapat dalam Alkitab Yerusalem. Melalui fitur pencarian dan catatan tafsir, ditunjukkan bahwa bagian ayat yang menyebut “Bapa, Firman, dan Roh Kudus” memiliki keterangan khusus dari para ahli teks.

Dalam catatan tersebut dijelaskan bahwa bagian ayat itu tidak ditemukan dalam naskah Yunani tertua, juga tidak tercantum dalam terjemahan kuno maupun manuskrip terbaik Vulgata. Bahkan, disebutkan bahwa kalimat tersebut diduga berasal dari catatan pinggir halaman dalam salah satu naskah Latin, yang kemudian disalin dan akhirnya masuk ke dalam teks utama.

Keaslian Teks sebagai Isu Akademik

Penjelasan tafsir tersebut menegaskan bahwa secara akademik, ayat tersebut dianggap bukan bagian asli dari teks Alkitab. Hal ini menjadi contoh penting bagaimana kajian keagamaan tidak hanya bergantung pada bunyi terjemahan modern, tetapi juga memperhatikan sejarah penyalinan manuskrip.

Dalam konteks ini, Ustadz Ahmad Kainama menekankan bahwa secara tekstual memang ada ayat yang memuat frasa Trinitas, namun keberadaannya diperdebatkan dari sisi keaslian naskah. Artinya, pembahasan tidak berhenti pada “ada atau tidak ada”, melainkan berlanjut pada bagaimana ayat itu sampai ke dalam teks Alkitab.

Matius 28:19 dan Formula Baptisan

Diskusi kemudian beralih ke ayat lain yang sering dijadikan rujukan utama konsep Trinitas, yaitu Matius 28:19. Ayat ini memuat perintah untuk membaptis “dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus”. Ayat tersebut diakui sebagai teks yang ada dan tercantum dalam Injil Matius.

Namun, pembahasan kembali diarahkan pada tafsiran dan catatan Alkitab, bukan pada penafsiran pribadi. Dalam catatan tafsir Alkitab Yerusalem, dijelaskan bahwa rumusan baptisan tersebut diduga merupakan formula liturgis yang berkembang dalam praktik ibadah gereja pada masa kemudian.

Catatan tersebut menyebutkan bahwa penggunaan rumusan tiga nama ini kemungkinan besar dipengaruhi oleh perkembangan ibadah di kalangan umat Kristen awal, bukan praktik yang secara konsisten dilakukan sejak masa para murid Yesus.

Praktik Baptisan dalam Kitab Kisah Para Rasul

Untuk memperkuat analisis, diskusi membandingkan Matius 28:19 dengan praktik baptisan yang dicatat dalam Kitab Kisah Para Rasul, seperti Kisah Para Rasul 2:38 dan pasal-pasal lainnya. Dalam bagian-bagian tersebut, baptisan disebutkan dilakukan dalam nama Yesus, tanpa penyebutan eksplisit Bapa, Anak, dan Roh Kudus secara bersamaan.

Perbandingan ini digunakan untuk menunjukkan adanya perbedaan antara teks Injil dan praktik yang dilakukan oleh para pengikut awal Yesus. Dari sudut pandang kajian sejarah, hal ini menimbulkan pertanyaan tentang kapan dan bagaimana formula Trinitas mulai digunakan secara formal.

Rujukan Akademik dari Tokoh Gereja

Diskusi kemudian diperluas dengan menghadirkan rujukan dari tokoh-tokoh akademik Kristen sendiri. Salah satu yang disebut adalah Joseph Ratzinger, seorang teolog Katolik terkemuka yang kemudian dikenal sebagai Paus Benediktus XVI.

Dalam karyanya Introduction to Christianity, Ratzinger menjelaskan bahwa bentuk pengakuan iman Trinitas dalam Matius 28:19 mengalami pembentukan bertahap pada abad ke-2 dan ke-3, seiring dengan perkembangan upacara baptisan dalam Gereja. Bahkan, disebutkan bahwa teks tersebut memiliki keterkaitan dengan tradisi Gereja di Roma.

Selain itu, pendapat dari Profesor sejarah gereja di King’s College London juga dikemukakan, yang menyatakan bahwa praktik baptisan paling awal dan paling umum adalah dalam nama Yesus atau Yesus Kristus, sementara formula Trinitas belum digunakan secara universal.

Ensiklopedia Katolik dan Perubahan Formula Baptisan

Sumber lain yang dikutip dalam diskusi ini adalah Ensiklopedia Katolik, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa formula baptisan mengalami perubahan. Disebutkan bahwa rumusan “dalam nama Bapa, Putra, dan Roh Kudus” merupakan hasil perkembangan Gereja dan mulai diterapkan secara luas pada periode tertentu dalam sejarah.

Penyebutan sumber-sumber ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa pembahasan tidak didasarkan pada klaim sepihak, melainkan pada literatur akademik yang diakui dalam tradisi Kristen sendiri.

Sikap dalam Menyikapi Perbedaan Keyakinan

Di tengah paparan data dan rujukan, kembali ditegaskan bahwa diskusi ini tidak dimaksudkan untuk menyerang atau merendahkan keyakinan pihak lain. Tema “sayembara” dipahami sebagai kerangka diskusi intelektual, bukan sebagai alat provokasi.

Pendekatan yang ditawarkan adalah sikap memahami perbedaan dengan landasan ilmu pengetahuan, sejarah teks, dan keterbukaan terhadap data. Dengan demikian, dialog lintas iman dapat berlangsung secara lebih dewasa dan konstruktif.

Menuju Ayat-Ayat Lain dalam Kitab Kejadian

Menjelang bagian akhir sesi ini, diskusi mulai mengarah pada ayat lain yang sering dikaitkan dengan konsep jamak dalam ketuhanan, yaitu Kejadian 1:26, yang memuat frasa “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita”.

Ayat ini kemudian dijadikan pintu masuk untuk pembahasan lanjutan mengenai penggunaan kata ganti jamak dalam teks Ibrani dan bagaimana ayat tersebut dipahami dalam berbagai tradisi penafsiran.

Kejadian 1:26 dan Makna “Kita” dalam Perspektif Teks

Pembahasan selanjutnya difokuskan pada Kejadian 1:26, ayat yang sering dikutip dalam diskursus Trinitas karena penggunaan kata ganti jamak: “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita.” Dalam sebagian tradisi Kristen, kata “kita” ini dipahami sebagai indikasi bahwa Allah tidak bersifat tunggal, melainkan jamak dalam esensi-Nya.

Namun, dalam diskusi ini ditegaskan bahwa pemahaman tersebut perlu diuji melalui tafsir dan tradisi penafsiran Yahudi, mengingat Kitab Kejadian berasal dari Tanakh/Ibrani. Untuk itu, rujukan diarahkan pada komentar klasik yang diakui dalam studi Alkitab Ibrani.

Tafsir Rashi dan Tradisi Penafsiran Yahudi                          

Penjelasan mengenai Kejadian 1:26 kemudian ditopang oleh tafsir Rashi (Rabbi Shlomo Yitzhaki), seorang penafsir Yahudi abad pertengahan yang sangat berpengaruh. Dalam komentarnya, Rashi menjelaskan bahwa penggunaan kata “kita” tidak merujuk pada pluralitas dalam diri Tuhan, melainkan pada musyawarah Allah dengan makhluk-makhluk surgawi.

Dalam tradisi ini, Allah digambarkan berdialog dengan para malaikat atau penghuni langit sebelum menciptakan manusia. Penjelasan tersebut digunakan untuk menegaskan nilai kerendahan hati Ilahi, bukan untuk menunjukkan bahwa Allah terdiri dari lebih dari satu pribadi.

Tafsiran ini juga mengaitkan Kejadian 1:26 dengan ayat-ayat lain dalam Kitab Raja-Raja dan Kitab Daniel, yang menggambarkan Tuhan dikelilingi oleh bala tentara surga atau makhluk surgawi dalam suatu majelis Ilahi.

Konsep “Heavenly Council” dalam Studi Alkitab                        

Dalam kajian akademik modern, konsep ini dikenal dengan istilah Heavenly Council atau majlis surgawi. Konsep ini menjelaskan bahwa sebelum penciptaan manusia, telah ada makhluk-makhluk rohani seperti malaikat yang berada dalam lingkup ketetapan dan kehendak Tuhan.

Dengan pendekatan ini, kata “kita” dipahami sebagai gaya bahasa yang mencerminkan struktur kosmis menurut tradisi Ibrani, bukan sebagai dasar teologis bagi konsep Trinitas. Penjelasan ini diperkuat oleh berbagai sumber Yahudi dan akademik yang menegaskan bahwa monoteisme dalam Taurat tetap bersifat ketat dan tidak mengenal pembagian pribadi dalam diri Tuhan.

Penegasan Metodologi: Membaca Teks dari Tradisinya

Dalam diskusi ini, kembali ditekankan pentingnya membaca teks keagamaan berdasarkan konteks bahasa, sejarah, dan tradisi asalnya. Kejadian 1:26, sebagai bagian dari Kitab Taurat, lebih tepat dipahami melalui kacamata penafsiran Yahudi dibandingkan dengan doktrin gereja yang berkembang jauh setelahnya.

Pendekatan ini juga digunakan untuk menegaskan bahwa analisis yang dilakukan tidak bersumber dari asumsi pribadi, melainkan dari tafsir yang telah diakui dan digunakan selama berabad-abad oleh komunitas asal kitab tersebut.

Menuju Kejadian 18: Penampakan Tuhan kepada Abraham

Diskusi kemudian berlanjut ke ayat lain yang sering dikaitkan dengan Trinitas, yaitu Kejadian 18:1. Ayat ini menyebutkan bahwa Tuhan menampakkan diri kepada Abraham di dekat pohon tarbantin di Mamre.

Ayat ini menimbulkan pertanyaan teologis penting: jika Tuhan menampakkan diri kepada Abraham, apakah ini berarti ada manusia yang pernah melihat Tuhan secara langsung?

Perbandingan dengan Yohanes 1:18  

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, pembahasan diarahkan pada Yohanes 1:18, yang menyatakan bahwa tidak seorang pun pernah melihat Allah. Perbandingan antara dua ayat ini memunculkan isu kontradiksi tekstual yang sering dibahas dalam kajian Alkitab.

Ditekankan bahwa dalam kajian logika teks, dua pernyataan yang saling bertentangan tidak mungkin sama-sama benar secara literal. Oleh karena itu, diperlukan penafsiran yang konsisten untuk memahami apakah “penampakan Tuhan” dalam Kejadian 18 bersifat harfiah atau simbolik.

Tiga Tamu Abraham dan Penafsiran Naratif 

Pembahasan kemudian masuk ke Kejadian 18:2, yang menyebutkan bahwa Abraham melihat tiga orang berdiri di depannya. Dalam beberapa pemahaman Kristen populer, tiga sosok ini dikaitkan dengan Trinitas.

Namun, dalam tradisi Yahudi dan sebagian tafsir akademik, ketiga sosok tersebut dipahami sebagai malaikat yang diutus Tuhan, bukan Tuhan itu sendiri dalam tiga pribadi. Narasi ini dipahami sebagai bentuk perwakilan Ilahi, di mana Tuhan “menampakkan diri” melalui utusan-Nya.                                       

Pendekatan ini kembali menegaskan bahwa pemahaman Trinitas tidak berasal dari teks Taurat itu sendiri, melainkan dari penafsiran teologis yang berkembang di kemudian hari.

Menelaah Kejadian 18: Apakah Tiga Pria adalah Trinitas?                                                  

Pembahasan kembali diarahkan pada Kejadian pasal 18, khususnya ayat 1 dan 2. Dalam narasi tersebut, disebutkan bahwa Tuhan menampakkan diri kepada Abraham, dan ketika Abraham mengangkat mukanya, ia melihat tiga orang berdiri di hadapannya. Ayat inilah yang kerap dijadikan dasar oleh sebagian kalangan untuk menyimpulkan bahwa ketiga sosok tersebut adalah manifestasi Trinitas.

Namun, diskusi ini mengajak pembaca untuk tidak berhenti pada kesan permukaan. Pertanyaan kuncinya adalah: apakah teks itu sendiri menyebut ketiga sosok tersebut sebagai Tuhan, ataukah ada penjelasan lain dalam tradisi penafsiran yang lebih awal dan otoritatif?

Rujukan Tafsir Yahudi tentang Tiga Tamu Abraham

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, rujukan kembali diambil dari tafsir Yahudi klasik, bukan dari asumsi teologis belakangan. Tafsir yang dikutip berasal dari para rabi yang memiliki otoritas dalam menafsirkan Taurat, termasuk tradisi Midrash dan komentar rabinik yang hingga kini masih dijadikan rujukan dalam Yudaisme.

Dalam penafsiran tersebut dijelaskan bahwa tiga pria yang ditemui Abraham adalah malaikat, masing-masing dengan tugas tertentu:

  • Malaikat yang datang untuk menyampaikan kabar kepada Sarah tentang kelahiran seorang putra,
  • Malaikat yang diutus untuk menyembuhkan Abraham pasca khitan,
  • Malaikat yang kemudian bertugas dalam peristiwa kehancuran Sodom.

Penjelasan ini juga diperkuat oleh Kejadian 19:1, yang secara eksplisit menyebutkan bahwa dua dari mereka adalah malaikat yang datang ke Sodom. Dari sini, disimpulkan bahwa yang hadir bukanlah Tuhan dalam tiga pribadi, melainkan para utusan Ilahi.

Konsistensi Narasi Antar Ayat

Menariknya, tafsir tersebut juga memperhatikan detail bahasa dalam teks. Dalam Kejadian 19:25 disebutkan bahwa kota-kota itu dijungkirbalikkan, namun tidak dikatakan bahwa “mereka” melakukannya. Hal ini dipahami sebagai indikasi bahwa satu malaikat menjalankan tugas penghukuman, sementara yang lain memiliki peran berbeda.

Pendekatan ini menunjukkan pentingnya membaca teks Alkitab secara utuh dan berurutan, bukan mengambil satu ayat secara terpisah lalu menyimpulkannya tanpa memperhatikan konteks lanjutan.

Kejadian 1:1–3 dan Klaim Trinitas

Diskusi kemudian beralih ke ayat lain yang sering dikaitkan dengan Trinitas, yaitu Kejadian 1:1–3. Dalam argumen populer, ayat-ayat ini dianggap memuat tiga unsur: Allah, Roh Allah, dan Firman Allah, yang kemudian disimpulkan sebagai Trinitas.

Namun, pendekatan yang digunakan dalam kajian ini kembali mengajak pembaca untuk melihat bahasa aslinya, yaitu bahasa Ibrani. Ayat pertama dimulai dengan frasa “Bereshit bara Elohim” yang berarti “Pada mulanya Allah menciptakan”. Fokus utama ayat ini adalah tindakan penciptaan oleh Allah, bukan pembagian pribadi dalam diri-Nya.

Makna “Roh Allah” dalam Bahasa Ibrani

Pada Kejadian 1:2, muncul istilah ruach Elohim. Dalam bahasa Ibrani, kata ruach memiliki makna yang luas, antara lain:

  • angin,
  • napas,
  • daya kehidupan,
  • atau gerak yang tidak berwujud.

Makna ini tidak secara otomatis menunjuk pada “Roh Kudus” sebagai pribadi Ilahi yang terpisah, melainkan lebih kepada kekuatan atau kehendak Allah yang bekerja dalam proses penciptaan. Penjelasan ini diperoleh dari leksikon bahasa Ibrani dan kajian filologis, bukan dari tafsir modern semata.

Firman sebagai Perintah, Bukan Pribadi

Pada Kejadian 1:3, disebutkan bahwa Allah berfirman, “Jadilah terang.” Dalam konteks bahasa dan sastra Ibrani, “firman” dipahami sebagai perintah atau kehendak Allah yang efektif. Firman bukanlah sebagai entitas atau pribadi yang berdiri sendiri.

Dengan demikian, ketiga unsur dalam Kejadian 1:1–3 dipahami sebagai satu kesatuan tindakan Ilahi: Allah mencipta, kehendak-Nya bergerak, dan perintah-Nya terlaksana. Tidak ditemukan penjelasan eksplisit dalam teks Ibrani yang menyatakan bahwa ini adalah struktur Trinitas.

Penekanan pada Pendekatan Bahasa Asli

Sepanjang pembahasan ini, ditekankan bahwa klaim teologis yang besar seharusnya ditopang oleh analisis bahasa asli dan konteks historis. Dalam teks Kejadian, baik penggunaan kata Elohim, ruach, maupun amar (berfirman), semuanya memiliki penjelasan linguistik yang tidak mengharuskan adanya konsep Trinitas.

Pendekatan ini bertujuan mengajak pembaca memahami bahwa perbedaan tafsir sering kali muncul karena perbedaan metode membaca teks: apakah melalui kacamata bahasa dan sejarah, atau melalui doktrin yang sudah terbentuk sebelumnya.

Refleksi Kristologi, Teks, dan Dialog Keimanan

Pada bagian akhir pembahasan ini, narasi diarahkan pada satu pertanyaan utama: dari mana sebenarnya konsep Bapa, Putra, dan Roh Kudus berasal, dan bagaimana posisinya dalam teks-teks awal kekristenan? Setelah menelusuri ayat-ayat yang sering dijadikan rujukan, mulai dari Kejadian 18, Kejadian 1:1–3, hingga Injil-Injil kanonik, pemaparan ini menunjukkan bahwa konsep Trinitas tidak dinyatakan secara eksplisit dan sistematis di dalam Alkitab Ibrani maupun Injil kanonik.

Kajian kemudian memperlihatkan bahwa formulasi teologis tentang Trinitas berkembang melalui proses sejarah pemikiran gereja. Beberapa tokoh awal yang kerap disebut dalam diskursus ini antara lain Philo dari Alexandria. Dia merupakan tokoh yang hidup pada abad pertama Masehi dengan pendekatan filsafat Helenistik terhadap teks suci. Ada jugaTertullianus, seorang bapa gereja yang hidup pada abad ke-2 hingga ke-3 Masehi. Tertullianus juga dikenal sebagai salah satu tokoh awal yang menggunakan istilah Trinitas dalam kerangka teologi gereja.

Hal ini menunjukkan bahwa konsep Trinitas merupakan hasil perumusan teologis pasca-kenabian. Bukan pernyataan eksplisit yang langsung diajarkan oleh Nabi Isa Al-Masih sebagaimana direkam dalam Injil-Injil kanonik.

Didakhe dan Praktik Gereja Awal

Pembahasan juga menyentuh teks Didakhe (Ajaran Dua Belas Rasul). Ini merupakan sebuah risalah Kristen awal yang diperkirakan berasal dari abad pertama hingga ketiga Masehi. Didakhe memuat panduan etika, tata ibadah, baptisan, doa, dan struktur komunitas Kristen awal. Meski teks ini penting dalam studi sejarah gereja, Didakhe tidak diterima sebagai bagian dari kanon Perjanjian Baru oleh mayoritas gereja. Tapi, hal ini terkecuali dalam tradisi tertentu seperti Gereja Ortodoks Ethiopia.

Keberadaan Didakhe memperlihatkan bahwa praktik dan doktrin Kristen awal belum seragam, dan mengalami proses seleksi, perdebatan, serta penetapan kanon yang panjang. Fakta ini menjadi penting dalam memahami bahwa ajaran-ajaran teologis yang mapan saat ini adalah hasil perkembangan historis. Bukan hanya semata-mata kutipan langsung dari satu teks tunggal saja.

Kristologi sebagai Ilmu, Bukan Alat Polarisasi

Pada akhirnya, pembahasan ini ditutup dengan penegasan bahwa kristologi sebagai kajian tentang Yesus dan ajaran Kristen bukanlah alat untuk memecah belah atau merendahkan pemeluk agama lain. Kristologi yang sehat adalah kristologi yang:

  • berbasis data teks dan sejarah,
  • disampaikan secara struktural dan ilmiah,
  • serta bertujuan membuka pemahaman, bukan memprovokasi.

Konteks Indonesia itu berlandaskan Pancasila, UUD 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika. Sudah seharusnya kajian lintas iman semestinya menjadi sarana untuk membangun toleransi yang proporsional. Bukan hanya itu, tapi juga saling mengenal secara jujur, dan menghormati perbedaan keyakinan tanpa harus mengaburkan identitas masing-masing.

Kajian ini tidak dimaksudkan untuk menyerang pribadi atau komunitas tertentu. Kajian ini menunjukkan bahwa perbedaan teologis memang ada, dan perbedaan tersebut seharusnya dipahami melalui pendekatan ilmiah, dialogis, dan beretika.

Semoga pembahasan ini dapat menambah wawasan, mendorong sikap saling menghormati, serta memperkaya diskursus keagamaan secara dewasa dan bertanggung jawab.

Wallāhu a‘lam biṣ-ṣawāb.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

Ribuan orang syahadat


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat 17114

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.