
Pada kesempatan live kali ini, Channel Aya Sofya kembali hadir bersama para sahabat di mana pun berada, dipandu oleh Sari Rosa Sihombing. Seperti malam-malam sebelumnya, kajian rutin kristologi kembali dibawakan oleh Ustadz Ahmad Kainama, dengan tema yang menarik perhatian banyak orang: “Salju Turun Deras Malam Itu!? Yesus Lahir!”
Sejak awal siaran, para pemirsa yang bergabung dipersilakan untuk mengisi absen seperti biasa, menyebutkan kota atau daerah masing-masing. Setelah itu, Sari menyapa pemateri utama dan memulai sesi dengan suasana hangat meskipun cuaca sedang hujan lebat.
Menyampaikan Kabar Baik dengan Semangat
Ustadz Ahmad Kainama memulai dengan penuh syukur, menceritakan bagaimana meskipun hujan, semangat untuk mewartakan kabar baik tidak pernah padam. Ia menyebut istilah “Ebu Angelion”, yang berarti menyampaikan kabar baik, sebagai inti dari dakwah yang membawa rahmat bagi seluruh alam.
Di awal kajian, Ustadz menyinggung pertemuannya pada siang hari itu dengan tiga warga negara asing, dua dari New Zealand dan satu dari Amerika. Mereka bekerja sebagai executive consultant di Jakarta dan penasaran mengenai alasan mengapa Kainama berulang kali menekankan bahwa Muslim yang benar-benar sayang dan toleran kepada saudara Kristennya adalah Muslim yang tidak mengucapkan selamat Natal.
Menurut mereka, pernyataan ini terdengar berani. Namun Ustadz menjelaskan bahwa dasar dari pernyataan tersebut akan dijabarkan dalam tema kajian malam ini: kondisi cuaca ekstrem pada malam kelahiran Yesus.
Kisah Tentang Ketergantungan Kepada Allah
Ustadz Kainama juga membagikan pengalamannya berjalan kaki selama dua hari terakhir dalam kondisi berkekurangan. Namun ia menekankan bahwa ketika seseorang berjalan menyampaikan kebaikan, Allah selalu menyediakan kebutuhan hamba-Nya pada waktu yang paling tepat.
Menurutnya, umat tidak boleh meminta Allah untuk memenuhi kebutuhan dengan tergesa-gesa. “Allah tahu kebutuhanku. Tugas kita hanya berjalan saja. Allah akan beri di waktu yang benar,” tegasnya.
Dasar Kajian: Cuaca Betlehem di Bulan Desember
Memasuki inti pembahasan, Ustadz menegaskan kembali tema yang diangkat: Salju turun deras di malam kelahiran Yesus. Untuk itu, ia mengajak pemirsa membuka data resmi mengenai cuaca Betlehem di bulan Desember.
Ia menekankan bahwa data ini harus berasal dari lembaga cuaca resmi, bukan dari argumen bebas para apologet Kristen yang kerap “mengarang”.
Ustadz kemudian menjelaskan:
- Betlehem ditulis dengan H: B-E-T-H-L-E-H-E-M.
- Cuaca bulan Desember di wilayah tersebut tercatat sebagai “very cold”, sangat dingin.
- Suhunya berada pada kisaran 32°F – 45°F.
- 32°F = 0°C,
- 45°F ≈ 7°C.
Ia menambahkan bahwa angka 7°C saja sudah terasa seperti berada di dalam kulkas, sementara 0°C adalah titik beku. Bahkan lebih dari 2000 tahun lalu, tanpa pemanasan global, suhu Betlehem diyakini berada di bawah 0°C.
“Bagaimana mungkin ada bayi lahir di malam bersalju deras tanpa penghangat, tanpa perlindungan yang layak?” tanya Ustaz, menegaskan poin penguat argumennya.
Betlehem Adalah Wilayah Palestina, Bukan Israel
Dalam penjelasannya, Ustadz turut menegaskan bahwa Betlehem berada pada Palestinian Territories, bukan Israel. Ia mengkritik sebagian pihak yang berusaha mengubah narasi demi mendukung politik tertentu.
Menurutnya, wilayah itu sejak dulu merupakan tanah Palestina, dan data internasional pun mencatatnya demikian.
Visual Data: Foto-Foto Turunnya Salju Tebal di Betlehem
Untuk menguatkan data, Ustadz meminta memperlihatkan foto-foto dari penelitian Alex Shams, seorang peneliti keturunan Yahudi yang besar di Inggris.
Dalam foto-foto tersebut terlihat:
- Kota tua Betlehem tertutup salju tebal.
- Halaman gereja dan patung-patung berlapis es.
- Bahkan meja-meja di halaman Gereja Kelahiran dipenuhi salju putih yang menumpuk.
Pemandangan itu menunjukkan betapa ekstremnya suhu pada musim dingin di wilayah tersebut. Bagi Ustadz, kondisi demikian menjadi bukti kuat bahwa narasi kelahiran Yesus pada 25 Desember tidak sesuai dengan kondisi cuaca sebenarnya.
Mengapa 25 Desember Tidak Masuk Akal Secara Historis
Setelah menunjukkan data cuaca dan foto-foto Betlehem bersalju, Ustaz Ahmad Kainama menekankan bahwa persoalan kelahiran Yesus pada 25 Desember bukan hanya soal perbedaan teologis, tetapi juga soal ketidaksesuaian sejarah dan logika cuaca.
Ia menjelaskan bahwa para pendeta sering mengulang narasi tradisional yang tidak didukung bukti, lalu meminta umat percaya begitu saja. Padahal, jika mengacu kepada catatan kuno Yahudi, para penggembala pada zaman itu tidak pernah menggembalakan domba di luar rumah pada musim salju.
Domba hanya dilepas pada musim hangat, sedangkan pada musim dingin mereka disimpan dalam kandang tertutup. Karena itu, kisah “para gembala menjaga kawanan ternak pada malam kelahiran Yesus” tidak mungkin terjadi jika benar malam itu bersalju deras.
“Kalau dingin saja tidak kuat, bagaimana mungkin salju? Bagaimana mungkin bayi dilahirkan di tempat terbuka?” ujar Ustadz, menegaskan ketidakselarasan narasi tersebut.
Tradisi yang Diwariskan, Bukan Fakta yang Diteliti
Ustaz Ahmad juga menyinggung bagaimana umat Kristen pada umumnya menerima tanggal 25 Desember sebagai sesuatu yang pasti, padahal para ahli sejarah Kristen sendiri mengakui bahwa tanggal itu diambil dari tradisi pagan Romawi, yaitu perayaan Sol Invictus, hari kelahiran dewa matahari.
Menurutnya, ketidaksesuaian ini semakin jelas ketika disandingkan dengan data cuaca:
“Tidak mungkin ada perayaan kelahiran yang nyaman, hangat, penuh nyala lilin, sementara daerahnya sendiri dilaporkan paling dingin, bahkan bersalju.”
Ia menegaskan bahwa seorang yang ingin mencari kebenaran harus berani menguji tradisi dengan fakta, bukan sebaliknya.
Mengajak Umat Nasrani untuk Menggunakan Akal Sehat
Di bagian ini, Ustadz Ahmad mengajak pemirsa, khususnya yang beragama Kristen, untuk mempertimbangkan kembali keyakinan yang selama ini diterima tanpa penyelidikan.
Ia menyebutkan bahwa dalam Alkitab tidak ada satu ayat pun yang menunjukkan tanggal pasti kelahiran Yesus. Justru banyak kesenjangan yang bahkan tidak dibicarakan oleh para pendeta.
“Muslim tidak membenci kalian. Justru kita mengajak kalian memakai akal sehat supaya kalian tidak tersesat dalam keyakinan yang dibuat-buat,” katanya.
Menurutnya, jika faktanya langit sedang turun salju deras, maka mustahil peristiwa kelahiran dalam palungan terbuka itu terjadi pada tanggal tersebut.
Menjawab Alasan Pendeta: “Itu Kan Mujizat”
Sebagian pendeta mungkin akan menjawab bahwa kondisi tersebut dapat terjadi karena mujizat. Menanggapi ini, Ustadz Kainama memberi penjelasan:
- Mujizat tidak boleh dipakai untuk menambal kesalahan sejarah.
- Jika setiap ketidakcocokan dijawab dengan “mujizat”, maka tidak ada lagi standar kebenaran yang bisa diuji.
Ia menegaskan bahwa pembuktian sejarah berbeda dari keyakinan spiritual. Sejarah bekerja berdasarkan data, bukan asumsi.
Kekuatan Data dan Kejujuran Ilmiah
Ustadz kemudian kembali mengingatkan bahwa semua data yang ditampilkan, baik berupa suhu, kondisi wilayah, maupun foto adalah data resmi dan bersumber jelas. Ia mengajak pemirsa yang ragu untuk mengecek sendiri melalui lembaga cuaca internasional.
Ia mengatakan:
“Jangan percaya Kainama kalau tidak ada buktinya. Tapi kalau buktinya ada, kalian wajib pertimbangkan.”
Menurutnya, kebenaran tidak pernah berdiri di atas tradisi yang rapuh. Kebenaran berdiri pada bukti, dan bukti itulah yang disampaikan dalam kajian ini.
Hujan Deras, Udara Dingin, Tapi Dakwah Tetap Berjalan
Di tengah pembahasan, Ustadz kembali menyinggung kondisi cuaca hujan di sekitar tempat live streaming berlangsung. Ia menceritakan bagaimana air hujan menetes dari atap rumahnya, namun hal itu tidak menghalanginya untuk menyampaikan ilmu.
Ia berkata bahwa cuaca buruk sekalipun tidak boleh menghentikan seseorang dari menyebarkan kebenaran. Justru di saat seperti inilah ketulusan dakwah diuji.
“Kalau kamu menunggu nyaman dulu baru dakwah, kamu tidak akan pernah jalan,” tambahnya.
Makna Pentakosta dan Korban Paskah: Menegaskan Bahwa Yesus Bukan Tuhan
Ustaz Ahmad Kainama kemudian melanjutkan penjelasannya mengenai rangkaian hari-hari besar Yahudi. Ia mengingatkan bahwa beberapa minggu setelah Paskah, umat Yahudi merayakan Pentakosta. Pada masa Paskah inilah, domba-domba muda hasil gembalaan di padang Migdal Eder disembelih sebagai korban.
Dengan gaya khasnya, Ustadz menekankan bahwa informasi-detail seperti ini jarang sekali diketahui umat Kristen Indonesia, padahal justru ada dalam teks Yahudi. Karena itu, ia mengingatkan jamaah:
“Belajar ini benar. Jangan sembarangan ngomong trinitas di depan saya. Kartu mati itu.”
Pernyataan ini bukan sekadar emosi. Ia menegaskan bahwa setiap ajaran yang bertentangan dengan teks asli, pasti akan runtuh oleh teksnya sendiri.
Ia menambahkan bahwa perdebatan tentang apakah Yesus muslim atau Kristen pun bukan hal sulit, sebab Bibel sendirilah yang akan “mempermalukan” ajaran yang keliru.
Masalah Kedua: Mengucapkan “Selamat Natal 25 Desember” Sama Dengan Mengikuti Kebohongan
Setelah selesai membahas konteks sejarah Yahudi, Ustadz Ahmad Kainama memasuki topik lain yang ia sebut “masalah kedua yang sangat krusial bagi umat Islam.”
Ia memanggil jamaah dengan lembut namun tegas:
“Saudaraku sayang, muslimin wal muslimah, dengarkan. Simpan di hati. Taruh di kepala.”
Yang ingin ia tekankan adalah:
Ketika seorang muslim ikut mengucapkan “Selamat Natal 25 Desember”, maka ia ikut menyebarkan sesuatu yang tidak benar.
Menurut Ustadz:
- 25 Desember bukan tanggal kelahiran Yesus.
- Itu sudah dibuktikan dengan cuaca Betlehem, sejarah Yahudi, dan pengakuan gereja-gereja awal sendiri.
- Karena itu, mengucapkan selamat atas tanggal yang salah = ikut mengafirmasi kebohongan.
Ia menyebut:
“Yang bilang bohong itu bukan Kainama. Yang bilang bohong itu Logos Bible.”
Logos Bible adalah lembaga Kristen sendiri, bukan lembaga Islam. Maka, menurutnya, umat Islam tidak seharusnya dipaksa menjadi toleran pada sesuatu yang pihak Kristen sendiri sebut tidak benar.
Toleransi yang Benar Menurut Islam
Ustadz menegaskan bahwa Islam tidak pernah melarang memberi hadiah kepada nonmuslim pada hari apa pun. Bahkan ia memberi contoh:
- Mengirim kue
- Mengirim buah
- Memberi parcel
- Memberi bantuan uang
“Silakan kirim kue bolu 12 loyang, kirim apel dua peti, kasih uang satu juta—enggak apa-apa,” katanya.
Menurutnya, inilah toleransi sejati: membantu tanpa harus ikut mengucapkan sesuatu yang bertentangan dengan akidah.
Ia menegaskan:
“Biarkan mereka nyanyi-nyanyi Natal. Jangan diganggu. Itu toleransi. Tidak perlu mengucapkan selamat Natal 25 Desember, karena itu bohong.”
Masalah Paling Fatal: Mengimani Tuhan Lahir 25 Desember
Ustadz kemudian masuk ke inti yang ia sebut:
“Masalah paling sesat, paling krusial, paling berbahaya.”
Yaitu keyakinan bahwa Tuhan lahir menjadi manusia pada tanggal tersebut.
Ia mengutip Kidung Jemaat 109, sebuah lagu gereja yang menyatakan bahwa Allah turun menjadi manusia. Baginya, ini adalah doktrin paling bertentangan dengan ajaran tauhid dan juga ajaran Yahudi.
Ketika ada yang berkata bahwa ia kasar, Ustadz menjawab:
“Bukan saya yang bilang sesat. Yang bilang sesat itu keluarganya Yesus sendiri.”
Yang ia maksud adalah para rabi Yahudi, dari garis keturunan yang masih memegang teks asli Ibrani.
Pandangan Yahudi: Tuhan Tidak Lahir dan Tidak Bisa Menjadi Manusia
Ustadz menampilkan kutipan dari situs “What Jewish Believe”, pandangan resmi kaum Yahudi tentang ketuhanan. Di sana disebutkan:
- “God does not become human.”
- “Human does not become god.”
Ia menjelaskan lagi:
- Tuhan tidak memiliki ayah (arti: tidak dilahirkan).
- Tuhan tidak memiliki putra (arti: tidak melahirkan apa pun).
Ini sangat selaras dengan surah Al-Ikhlas:
Walam yalid walam yulad.
Ustadz menekankan bahwa gagasan “Tuhan punya anak” atau “Tuhan lahir menjadi manusia” adalah pikiran pagan, bukan ajaran nabi-nabi.
Ia juga membacakan Hosea 11:9:
“Akulah Tuhan, bukan manusia.”
Bagi Ustadz, ayat ini sudah cukup membuktikan bahwa doktrin inkarnasi bertentangan dengan ajaran asli nabi-nabi Bani Israel.
Kesaksian Para Rabi: Trinitas Tidak Ada Dalam Teks Yahudi
Ia melanjutkan dengan menjelaskan penolakan para rabi terhadap ajaran Trinitas, khususnya Rabi Abahu yang menafsirkan Yesaya 44:6:
- Tuhan adalah yang pertama → tidak dilahirkan.
- Tuhan adalah yang terakhir → tidak punya anak.
- Selain Dia tidak ada Tuhan → tidak ada konsep “Tuhan Bapa”, “Tuhan Putra”, atau dualisme.
Ustadz menegaskan bahwa Trinitas tidak pernah muncul dalam Talmud maupun Midras. Doktrin itu muncul jauh kemudian dan tidak memiliki akar dalam teks Yahudi.
Jewish Historical Views: Kristen Sesat Sejak Zaman Yesus
Ustadz memperlihatkan referensi akademik berjudul Historic Jewish Views on Christianity yang menegaskan bahwa sejak awal:
- Kekristenan dianggap sebagai sekte sesat.
- Ajaran “Tuhan Bapa dan Tuhan Putra” dianggap bertentangan dengan tauhid Yahudi.
- Tidak ada dukungan dari teks asli terhadap ajaran tersebut.
Ia menyebut dengan lugas:
“Kristen itu sesat sampai detik ini. Dari zaman Yesus lahir sampai hari ini.”
Ia bahkan menggambarkan bagaimana di Yerusalem Timur, komunitas Yahudi dan Muslim bisa duduk bersama, minum kopi, dan melafalkan Qul Huwallahu Ahad secara bersamaan, sementara umat Kristen seringkali diusir atau ditolak karena keyakinan mereka dianggap menyalahi ajaran para nabi Yahudi.
Setelah pembahasan utama selesai, moderator membuka sesi tanya jawab bagi para peserta. Para sahabat Aya Sofya yang hadir berasal dari berbagai daerah, mulai dari Bogor, Bekasi, Jatinangor, Sorong, Magelang, Dubai, Cimahi, Sragen, Banten, Kebumen, Tasikmalaya, hingga Samarinda dan Bandung. Peserta dapat bertanya melalui Zoom maupun live chat.
Pertanyaan pertama datang dari Saudara Herianto:
“Apakah pohon Natal sejarahnya berasal dari Jerman?”
Asal-Usul Pohon Natal: Tradisi Pagan Jerman Kuno
Ustadz menjelaskan bahwa pohon Natal memang berasal dari bangsa Saxon/Germania, yang dikenal dengan tradisi pagan bernama Yule. Simbol “Yule log” yang kini banyak dijadikan dekorasi maupun kue, berasal dari batang kayu atau pohon cemara yang dijadikan objek ritual.
Menurut data yang ditampilkan dari sumber-sumber Kristen sendiri, pohon Natal bukan berasal dari ajaran Yesus, melainkan dari simbol-simbol pagan yang kemudian diadopsi.
Ustadz menampilkan dokumentasi dari kalangan Kristen yang menjelaskan bahwa pohon Natal memiliki makna-makna simbolik:
- “Asexera, a sexual object with hidden symbols of male fertility.”
Pohon Natal diasosiasikan sebagai objek kesuburan laki-laki. - Ornamen bulat dianalogikan sebagai testikel,
- Hiasan panjang sebagai penis,
- Hiasan melingkar di bagian bawah sebagai vagina,
- Keseluruhan pohon menjadi simbol kesuburan dalam ritual pagan.
Karena itu, Ustadz mengingatkan para muslim agar tidak ikut berfoto di samping pohon Natal, bukan karena benci, tetapi agar tidak menyerupai tradisi religi yang bukan milik Islam.
Ustadz kembali menegaskan:
- Para murid Yesus abad pertama tidak merayakan Natal.
- Perayaan Natal 25 Desember bahkan sempat dianggap melanggar aturan (“outlaw”) di 13 koloni awal.
- Alasannya: tanggal tersebut berbasis paganisme, bukan ajaran Yesus.
Keterlibatan Kaisar Konstantin
Pertanyaan kedua datang dari Saudara Blank Google mengenai peran “Bapak Gereja” dalam penetapan tanggal 25 Desember.
Ustadz menjelaskan bahwa:
- Konstantin dan otoritas Kristen Romawi memasukkan tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus pada tahun 354 M.
- Tanggal tersebut dipilih bukan berdasarkan ajaran Yesus, melainkan karena merupakan hari besar pagan Romawi.
Ustadz kemudian memperjelas:
- 25 Desember adalah Dies Natalis Solis Invicti, yaitu hari kelahiran Dewa Matahari.
- Saturnalia, festival besar Romawi pada bulan Desember, terkenal dengan mabuk-mabukan dan kebebasan seksual.
- Dalam catatan gereja sendiri, Dionisius Barsalibi menjelaskan bahwa agar orang-orang pagan mau menerima kekristenan, hari lahir Yesus ditempatkan pada tanggal yang sama dengan hari lahir dewa matahari.
Moderator sempat membaca ulang penjelasan:
- Saturnalia → kebebasan sosial dan seksual, pembalikan peran, pesta besar.
- Luperkalia → ritual kesuburan menggunakan kulit kambing untuk mencambuk perempuan.
Inilah sebabnya elemen-elemen Natal dalam tradisi Romawi kuno sangat kental dengan simbol-simbol seksual.
Sikap Seorang Muslim terhadap Natal
Ustadz menyampaikan bahwa jika seorang muslim ingin bersikap toleran, caranya bukan dengan mengucapkan selamat Natal, karena itu menyangkut akidah. Bentuk toleransi yang benar:
- Mengirim makanan
- Memberikan buah atau ayam panggang
- Menjaga hubungan baik dengan kerabat non-Muslim
Ustadz juga mencontohkan keluarganya sendiri yang masih Kristen. Hubungan tetap harmonis karena kejujuran dan saling menghormati keyakinan masing-masing.
Mengapa 25 Desember Tidak Masuk Akal sebagai Tanggal Lahir Yesus
Ustadz memaparkan:
- 25 Desember adalah musim dingin ekstrem di Palestina.
Mustahil Bunda Maria yang masih muda dan bayi Yesus berada di luar saat kondisi membeku. - Dalam catatan gereja kuno, seperti tulisan Clement of Alexandria,
Yesus lahir saat buah kurma matang, yaitu sekitar bulan April.
Setelah semua pertanyaan selesai, Ustaz memberikan kesimpulan:
- Natal 25 Desember bukan ajaran Yesus
tetapi merupakan adopsi dari perayaan pagan Romawi. - Toleransi tidak berarti mencampuradukkan keyakinan.
- Umat Islam dianjurkan untuk menjaga silaturahmi dengan siapa pun,
tanpa harus mengikuti ritual agama lain.
Di akhir kajian, Ustadz meminta doa:
- Untuk dirinya, Sari, Ustadz Dani, Ustaz Ipung, dan seluruh tim Mualaf Center Ay Sofia.
- Untuk keberangkatan kontainer bantuan ke Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan Aceh.
Kajian ditutup dengan salam:
“Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.”
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
