
Live Mualaf Center Aya Sofya – Diskusi Bersama Prof. Dr. Suryadi & Gus Mbetik tentang Alkitab kanon.
Pada sebuah malam yang hangat, siaran langsung YouTube Mualaf Center Aya Sofya kembali hadir menyapa para sahabat di mana pun berada. Dengan pembukaan basmalah dan salam yang khas, Sari Rosa Siombing memandu tayangan live dadakan yang menghadirkan dua narasumber: Prof. Suryadi dan Gus Mbetik.
Tema yang diangkat kali ini cukup mengejutkan sekaligus menggugah rasa ingin tahu publik:
“Penampilan Dr. Yonathan Purnomo: Semua Alkitab yang Beredar Saat Ini Tidak Asli.”
Sebelum memasuki inti diskusi, Sari mengajak para penonton untuk menyebutkan kota dan daerah masing-masing seperti biasa. Setelah itu, percakapan pun mengalir.
Apa Sebenarnya Acara yang Diikuti Bersama Dr. Yonathan Purnomo?
Menurut penjelasan Gus Mbetik, acara yang berlangsung kemarin bukanlah debat, bukan pula bedah buku. Ia menjelaskan bahwa kegiatan tersebut lebih tepat disebut resensi, suatu penjelasan dan tanggapan mengenai isi buku atau penelitian yang ditulis oleh Dr. Yonathan.
Dr. Yonathan, yang dikenal sebagai sosok cerdas dan berani, memaparkan hasil penelitiannya mengenai standar keaslian kitab suci dalam kekristenan. Perspektif yang ia bawa adalah perspektif akademis, bukan dogmatis. Temuannya membuat polemik besar karena menyentuh dasar paling sensitif dalam keyakinan: keaslian kitab suci.
Alkitab Kanon dan Alkitab Non-Kanon: Penjelasan Singkat
Salah satu istilah kunci yang dibahas adalah kanon, atau dalam bahasa Yunani berarti tongkat pengukur. Dalam pemahaman sederhana, Gus Metik menjelaskan bahwa “kanon” dapat dianalogikan sebagai SNI (Standar Nasional Indonesia). Artinya, jika suatu kitab disebut kanon, maka kitab tersebut telah memenuhi standar tertentu.
Sebaliknya, non-kanon berarti tidak memenuhi standar—tidak baku, tidak terverifikasi, atau tidak diakui dalam konsili-konsili tertentu.
Yang mengejutkan, berdasarkan paparan Dr. Yonathan, Alkitab yang beredar di seluruh dunia saat ini, termasuk di Indonesia, justru mayoritas adalah versi non-kanon.
Dalam forum tersebut, Prof. Suryadi menjelaskan bahwa yang disebut “Bibel kanon” adalah kitab yang disepakati oleh gereja sebagai standar tunggal—kitab yang dianggap benar, seragam, dan wajib dijadikan rujukan utama dalam seluruh doktrin. Gereja, sebagai institusi, memegang otoritas penuh menentukan mana kitab yang diterima dan mana yang ditolak.
Secara teori, jika kanon telah ditetapkan, maka seluruh jemaat seharusnya mengikuti standar tersebut, tanpa ruang bagi versi-versi di luar keputusan gereja.
Namun fakta di lapangan justru sebaliknya:
yang berkembang luas saat ini banyak yang bukan kanon, bahkan beredar sangat luas di berbagai denominasi.
Inilah yang membuat perjuangan Dr. Jonathan dianggap “revolusioner”, tetapi juga sangat berat. Ia seperti berdiri seorang diri menghadapi arus besar tradisi yang sudah lama mengakar.
Implikasi Berat: Jika Kitab Suci (Alkitab) Bermasalah, Agamanya Ikut Bermasalah
Dr. Suryadi menjelaskan bahwa setiap agama didirikan di atas pondasi kitab suci. Jika kitab sucinya bermasalah, maka otomatis agama tersebut berada dalam persoalan besar. Inilah sebabnya temuan Dr. Yonathan menjadi pembahasan sensitif.
Walaupun sang pendeta, Dr. Yonathan, tak ingin menggunakan kata “salah,” ia memilih istilah “tidak kanon” sebagai diksi yang lebih halus. Namun, makna implisitnya tetap sama: banyak kesalahan dalam Alkitab versi non-kanon.
Lebih jauh lagi, menurut pengakuan Dr. Yonathan, ia telah lama menunggu tanggapan resmi dari Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), namun hingga kini belum ada respons yang memadai.
Gus Metik bahkan menyarankan agar dilakukan konsili baru, seperti Konsili Nicea atau Konsili Hippo tetapi versi Indonesia, agar ada kejelasan resmi mengenai kitab mana yang benar-benar kanonik.
Kesimpulan Sementara dari Alkitab Pendeta Yonathan
Dari penjelasan Dr. Suryadi, dapat disimpulkan bahwa:
- Bibel (Alkitab) yang benar adalah Bibel versi kanon.
- Alkitab yang beredar di Indonesia didominasi oleh versi non-kanon, sehingga mengandung banyak kesalahan.
- Mulai hari ini, menurut Dr. Yonathan, umat Kristen seharusnya menggunakan Bibel Canon.
- Tujuannya untuk menghindari kebingungan, konflik internal, dan perbedaan tafsir yang selama ini terjadi antar denominasi.
Mengapa Peserta Acara Tidak Menolak Alkitab yang dipromosikan?
Sari kemudian menanyakan mengapa jemaat Kristen yang hadir dalam acara tersebut tampak menerima saja pemaparan Dr. Yonathan, padahal selama ini perdebatan mengenai terjemahan Alkitab sangat sensitif.
Gus Metik menjelaskan:
Mayoritas peserta yang hadir adalah pendukung Dr. Yonathan sendiri.
Mereka satu warna, satu gerbong. Jadi wajar bila tidak ada penolakan berarti. Mereka sudah setuju dengan temuan tersebut sejak awal.
Pendeta Yonathan: Katolik atau Kristen?
Sari sempat menanyakan latar belakang agamanya: apakah ia Katolik atau Kristen?
Gus Metik menjelaskan bahwa pertanyaan itu kurang tepat, sebab istilah “Kristen” biasanya diasosiasikan dengan Protestan, meskipun sebenarnya Katolik juga termasuk dalam agama Kristen.
Dr. Yonathan sendiri mengaku bahwa ia adalah Protestan.
Namun yang menarik, versi Bibel terjemahan yang ia hasilkan ternyata sangat mirip dengan Bibel versi Saksi Yehova, hingga membuat Gus Metik terheran-heran, “Kalau sama begitu, kenapa tidak sekalian jadi Saksi Yehova saja?”
Apa Misi Sebenarnya tentang Penyebaran Alkitab ini?
Menurut Dr. Suryadi, ada dua misi besar yang tampak dari hadirnya Dr. Yonathan:
1. Menghapus Keragaman Varian Alkitab
Keragaman versi Alkitab selama ini membuat banyak pemeluk Kristen gelisah. Perbedaan ayat, penyimpangan teks, dan revisi yang terus-menerus memunculkan konflik internal. Dr. Yonathan datang membawa klaim bahwa ada satu versi Bibel yang benar-benar standar dan tidak berubah sejak awal, yaitu Bibel Canon.
2. Melakukan “Perubahan Kebenaran” dari Perspektif Akademis
Ada keinginannya untuk melakukan pembaruan internal, memberikan standar tunggal yang dianggap valid, sekaligus menantang otoritas Alkitab yang selama ini dipakai gereja-gereja besar.
Namun tentu saja, gerakan ini sangat mengguncang internal agama Kristen, terutama bagi mereka yang memahami teologi dan sejarah teks secara akademis.
Tidak Semua Orang Kristen Terbuka dengan Pendekatan Akademis
Gus Metik menutup bagian diskusi ini dengan penegasan bahwa tidak semua penganut agama Kristen berpikir akademis.
Sebagian besar beragama secara sederhana:
“Pokoknya ini sudah diajarkan dari dulu, ya saya ikuti.”
Karena itu, pengaruh gerakan seperti yang dibawa oleh Dr. Yonathan kemungkinan hanya menyentuh sebagian kelompok tertentu, bukan seluruh umat Kristen.
Dua Kemungkinan Besar: Revolusi atau Pertarungan Internal
Gerakan kembali ke Bibel kanon bisa berujung pada dua hal:
- Pertarungan teologis internal antara kelompok pengguna kanon dan non-kanon.
- Kebangkitan kesadaran bersama untuk kembali pada standar yang dulu ditetapkan gereja.
Namun para pembicara dalam forum sepakat:
jalannya tidak akan mudah.
Seseorang yang sudah puluhan tahun mendalami sebuah kitab, bahkan menghafalnya—akan sangat sulit menerima jika suatu hari kitab yang dipakainya dinyatakan “bukan standar gereja”.
Bahasa, Filologi, dan Masalah Keaslian dari Alkitab Tersebut
Bagian yang paling memicu pertanyaan besar adalah ketika Dr. Jonathan menyebut bahwa Bibel pertama kali ditulis dalam bahasa Yunani, bukan Ibrani atau Aram—dua bahasa yang dikenal sebagai bahasa lingkungan Nabi Isa.
Pertanyaan kritis pun muncul:
- Bagaimana mungkin wahyu pertama kali diberikan dalam bahasa yang bukan bahasa ibu sang nabi?
- Apakah mungkin para murid Yesus langsung menuliskan ajaran dalam bahasa Yunani, tanpa terlebih dahulu menuliskannya dalam bahasa mereka sendiri?
- Apakah para murid benar-benar menguasai bahasa Yunani sampai level akademis?
Secara logika, dan dari sudut pandang filologi, hal ini sulit diterima.
Dalam Al-Qur’an pun ditegaskan bilisani qawmihi — setiap nabi diutus dengan bahasa kaumnya sendiri.
Karena itu muncul pertanyaan akademis yang sangat mendasar:
Jika teks pertama berbahasa Yunani, apakah itu masih dapat disebut “asli”?
Atau itu sebenarnya sudah merupakan terjemahan dari ajaran yang mulanya disampaikan dalam bahasa Ibrani/Aram?
Dan bila ia adalah terjemahan, apakah sebuah terjemahan dapat disebut kanon?
Pertanyaan ini menjadi pusat perdebatan yang belum menemukan jawabannya hingga kini.
Gereja, Jemaat, dan Salah Tafsir tentang Istilah
Pada bagian lain diskusi, muncul penjelasan menarik tentang istilah “gereja”.
Banyak orang memahami “gereja” sebagai bangunan tempat ibadah.
Padahal secara etimologi:
- Berasal dari Yunani: ekklēsia
- Masuk ke Portugis → igreja
- Lalu menjadi bahasa Indonesia → gereja
Maknanya bukan bangunan, melainkan jemaat, “kumpulan orang”.
Jadi ketika dikatakan “gereja menetapkan kanon”, itu berarti komunitas otoritatif, bukan tembok, bukan bangunan.
Salah kaprah pemaknaan ini membuat banyak orang awam sulit memahami siapa sebenarnya yang menentukan standar kanon.
Minimnya Dokumentasi: Pengetahuan yang Hampir Hilang
Salah satu kekecewaan yang muncul dari forum tersebut adalah larangan dokumentasi bagi peserta umum.
Padahal, seperti kata narasumber:
“Ilmu itu harus ditulis dan disebarluaskan.”
Karena tidak terdokumentasi, banyak bagian penting menjadi samar, hanya didasarkan pada ingatan.
Hal ini membuat informasi berharga menjadi rawan hilang atau disalahpahami.
Masalah Identitas Bahasa: Ibrani, Aram, atau Yunani?
Dilanjutkan dengan penjelasan Prof. Suryadi bahwa bangsa Yahudi terkenal keras menjaga identitas bahasa mereka.
Fakta sejarah mencatat:
- Mereka pernah menjadi bangsa buangan di Babel (Babilonia).
- Mereka tetap mempertahankan bahasa dan literasi.
- Sulit membayangkan bahwa tiba-tiba ajaran Isa justru “diturunkan” dalam bahasa Yunani.
Bahkan secara logika sederhana:
“Kalau nabinya orang Batak, bagaimana mungkin firmannya turun dalam bahasa Jawa?”
Kritik ini tidak bertujuan menghina, melainkan mengajak memakai logika dasar dalam membaca sejarah.
Baik, Lumbantoruan.
Semua bagian sudah masuk lengkap, dan sesuai permintaanmu sebelumnya (“buatkan itu dulu”), sekarang aku akan melanjutkan artikel yang tadi — menyambung langsung tanpa mengulang, tetap dalam gaya akademis-populer, dan tetap tidak ditutup, agar nanti bisa terus dilanjutkan jika kamu kirim tambahan lain.
Aku mulai dari bagian terakhir artikel sebelumnya, lalu langsung melanjutkan dengan isi transkrip panjang yang baru kamu kirim.
Identitas Bahasa dan Kekerasan Bangsa Yahudi Menjaga Tradisi Tidak Sesuai dengan Alkitab
Prof. Suryadi melanjutkan penjelasan tentang bagaimana bangsa Yahudi terkenal sebagai kaum yang sangat menjaga identitas budaya dan bahasanya. Bahkan ketika mereka menjadi bangsa buangan di Babel (Babilonia), mereka tetap mempertahankan kemurnian identitas, termasuk:
- tetap menikah dengan sesama Israel,
- menjaga garis keturunan,
- dan mempertahankan bahasa Ibrani–Aram sebagai bahasa utama.
Kebijakan Ezra setelah kepulangan mereka dari pembuangan semakin menegaskan hal itu:
Israel harus menikah dengan Israel.
Artinya, jika dalam hal pernikahan mereka sangat ketat, apalagi dalam hal bahasa kitab suci. Karena itu, muncul keberatan besar ketika ditegaskan bahwa seluruh salinan ajaran para rasul tidak ada yang berbahasa Ibrani atau Aram, melainkan seluruhnya berbahasa Yunani.
Ini menjadi masalah fundamental yang memicu pertanyaan serius:
Bagaimana mungkin ajaran seorang nabi Israel, yang hidup di tengah masyarakat Israel, pertama kali terdokumentasi justru dalam bahasa Yunani?
Dalam logika sederhana yang diungkapkan oleh narasumber:
“Jika nabinya orang Batak, mustahil kitab sucinya pertama kali turun dalam bahasa Jawa.”
Analogi itu menggambarkan keganjilan historis yang sulit diterima secara nalar.
Terjemahan di atas Terjemahan: Sebuah Masalah Serius
Dalam penjelasan Dr. Jonathan, dikatakan bahwa:
- Tidak ada satu pun naskah asli ajaran para rasul dalam bahasa Ibrani/Aram.
- Semua dokumen awal ditemukan dalam bahasa Yunani.
Namun di sinilah masalah besar muncul:
- Septuaginta (Perjanjian Lama Yunani) sendiri adalah terjemahan dari teks Ibrani.
- Vulgata (Perjanjian Baru Latin) adalah terjemahan dari naskah Yunani.
- Bahkan kodeks, yang menjadi referensi utama pembentukan Bibel, ternyata juga hasil terjemahan, bukan naskah asli.
Dengan kata lain:
Yang diteliti oleh akademisi bukan lagi teks asli, tetapi terjemahan dari terjemahan dari terjemahan.
Inilah yang membuat beberapa narasumber menyebutnya:
“Terjemahan di atas terjemahan.”
Dan jika sebuah kitab yang disebut “kanon” ternyata tidak bersumber pada teks asli, maka status kanon itu sendiri menjadi problematis.
Menurut standar akademis:
- Kanon = standar tunggal yang tidak berubah dan bersumber dari teks asli.
- Tetapi Bibel kanon yang dibahas justru tidak memiliki naskah asli.
Karena itu muncullah kesimpulan keras namun logis:
“Kalau begitu, kanonnya belum kanon.”
Perbandingan dengan Al-Qur’an dalam Hal Keaslian Bahasa
Para narasumber sempat membandingkan dengan metode pelestarian Al-Qur’an, bukan dalam rangka memaksakan keyakinan, tetapi untuk menggambarkan bagaimana bahasa asli sangat penting sebagai parameter keotentikan.
Dalam Al-Qur’an:
- terjemahan boleh dibuat,
- tetapi teks Arab selalu wajib menyertai,
- agar siapa pun bisa kembali ke teks asli setiap kali muncul perbedaan penafsiran.
Karena itu:
- perbedaan terjemahan tidak pernah mengubah teks asli,
- dan teks asli tetap dipelihara secara mutawatir.
Sementara dalam konteks Bibel:
- teks asli tidak tersedia,
- yang ada hanyalah salinan Yunani yang muncul belakangan,
- dan kemudian diterjemahkan kembali ke berbagai bahasa lain.
Inilah yang menjadi keberatan utama ketika istilah “kanon” disematkan pada Bibel versi sekarang.
Masalah Otoritas: Antara Legalitas dan Keaslian
Pertanyaan Uni Riva menjadi inti diskusi:
“Lembaga apa yang bisa memverifikasi perbedaan Bibel kanon dan tidak kanon?”
Jawaban Pendeta Jonathan dinilai “blur” karena bergantung sepenuhnya pada otoritas gereja yang dalam pandangannya, jika gereja mengatakan suatu kitab adalah kanon, maka itu selesai.
Namun pendekatan akademik tidak berhenti pada legalitas institusi.
Di dalam kajian Islam misalnya:
- setiap hadits diperiksa sanadnya,
- rawi diuji integritasnya,
- bahkan kebohongan sekecil apa pun bisa menurunkan kredibilitas seorang periwayat.
Dalam kata Prof. Rismon:
“Dalam Islam, materi diuji, legalitas diuji, manusianya diuji.”
Sedangkan dalam pendekatan Pendeta Jonathan, yang diuji hanya:
- legalitas gereja,
- bukan keaslian teks,
- bukan sejarah bahasa,
- bukan kualitas manuskrip.
Karena itu Prof. Suryadi memberi analogi:
- Menanyakan keaslian KTP kepada Dispenduk memang benar secara legal,
tetapi jika Dispenduk ikut bermain curang, keasliannya patut dipertanyakan secara material.
Dengan kata lain:
otoritas tidak selalu menjamin kebenaran material.
Pertanyaan Besar: Apakah Alkitab Kanon Bisa Disebut Kanon Jika Teksnya Sudah Berubah Bahasa?
Pertanyaan kritis muncul:
- Jika Yesus adalah orang Israel,
- ajarannya disampaikan dalam bahasa Aram/Ibrani,
- lalu dokumen pertama kali justru muncul dalam bahasa Yunani,
maka:
Apakah itu masih bisa disebut “kanon”, standar asli yang tidak berubah?
Jawaban akademisnya: tidak.
Sebab perubahan bahasa berarti perubahan makna, dan tidak ada bahasa di dunia yang bisa diterjemahkan 100% akurat.
Bahkan Dr. Yonathan sendiri mengakui:
“Tidak ada satu pun bahasa yang pas 100% ketika diterjemahkan.”
Ini berarti:
- para rasul (jika benar mereka yang menulis)
pasti mengalami meleset saat mentransfer makna ke bahasa Yunani, - dan gereja kemudian menetapkan standar berdasarkan dokumen yang sudah berbeda dari bahasa asli.
Dengan dasar itu, Prof. Suryadi menegaskan:
Kanon yang bahasanya berubah bukan lagi kanon.
Menuju Kesimpulan Sementara
Meski para narasumber menghargai upaya Pendeta Jonathan memperkenalkan konsep “Bibel kanon”, mereka juga menunjukkan:
- bahwa konsep itu brilian,
- revolusioner,
- dan bisa menjadi dasar menyatukan banyak versi Bibel yang selama ini saling berbeda.
Tetapi secara akademis:
kanonnya sendiri masih bermasalah,
karena tidak memenuhi unsur utama: teks asli.
Bahasan Awal: Identitas, Diaspora, dan Bahasa
Diskusi dimulai dari pengamatan terhadap bangsa Israel yang sejak ribuan tahun lalu sangat kuat mempertahankan identitas mereka. Bahkan ketika dibuang ke Babilonia dan hidup sebagai komunitas kecil dalam pembuangan, identitas itu tetap tidak hilang.
Ketika Persia mengalahkan Babilonia, Raja Sirus, meski bukan bangsa Israel memberi izin kepada orang Yahudi untuk kembali ke tanah mereka. Bersamaan dengan itu, Esra menulis kembali Taurat serta membuat kebijakan keras: Israel harus menikah dengan Israel. Kebijakan ini menunjukkan betapa ego-sentrisnya komunitas tersebut dalam menjaga kemurnian keturunan dan identitas budaya.
Dengan latar sejarah itu, para pembicara mempertanyakan satu hal penting:
“Apakah mungkin bangsa yang sedemikian menjaga identitasnya tiba-tiba mengganti bahasa wahyu mereka ke bahasa Yunani?”
Peralihan dari Ibrani-Aramaik ke Yunani bukanlah hal kecil. Bahasa adalah identitas. Dan sulit diterima bahwa budaya seketat Yahudi akan menyerahkan bahasa kitab sucinya kepada bahasa asing.
Logika Bahasa: Bila Nabi dari Israel, Mengapa Kitabnya Yunani?
Gus menegaskan logika sederhana:
“Kalau ada nabi dari Siantar atau Silalahi, masak kitab sucinya pakai bahasa orang Jawa?”
Ini ilustrasi yang mencolok tetapi akurat. Bila Yesus adalah orang Israel, hidup di tanah Israel, dan berbicara dalam bahasa Ibrani/Aramaik, bagaimana mungkin seluruh salinan ajaran para rasul tiba-tiba hanya ada dalam bahasa Yunani?
Dr. Jonathan sendiri, menurut para pembicara, mengakui tidak ada satupun manuskrip awal dalam bahasa asli. Semua yang ada adalah terjemahan Yunani. Dan ini menjadi masalah besar.
Al-Qur’an dan Standar Keaslian Bahasa
Para pembicara kemudian membandingkan situasi tersebut dengan tradisi keislaman. Al-Qur’an diterjemahkan ke berbagai bahasa dunia, tetapi:
- Teks Arabnya selalu menyertai setiap terjemahan.
- Terjemahan tidak dianggap sebagai Al-Qur’an.
- Perbedaan terjemahan tidak menjadi masalah karena sumber asli tetap dapat diakses.
Karena itu, kata Gus, salah satu parameter keaslian kitab suci adalah:
Bahasa asli harus masih ada, dapat diuji, dan dijadikan patokan.
Di sinilah Bible bermasalah:
- Yang asli tidak ada.
- Yang tersedia adalah terjemahan.
- Bahkan terjemahan dari terjemahan.
Poin Kejutannya: Codex Pun Ternyata Terjemahan
Bagian paling mengejutkan dari diskusi adalah ketika mereka membahas codex, yaitu kumpulan naskah yang menjadi cikal bakal Bible modern.
Ternyata codex yang menjadi acuan gereja pun bukan naskah asli, melainkan:
Terjemahan juga.
Dengan kata lain:
- Septuaginta = terjemahan Perjanjian Lama ke Yunani
- Vulgata = terjemahan Perjanjian Baru ke Latin
- Codex = bukan teks asli, tetap hasil terjemahan
Karena itu, Gus menyimpulkan:
“Berarti kerja akademis itu menerjemahkan terjemahan, bukan bahasa aslinya.”
Dan jika para rasul bukan orang Yunani, mereka mestinya menulis dalam bahasa ibu mereka terlebih dahulu, baru diterjemahkan. Tetapi bukti itu tidak ada.
Apakah Bible Bisa Disebut Kanon?
Kanon berarti:
- asli
- standar
- tidak berubah sejak awal
Tetapi:
- Bahasa berubah
- Manuskrip asli tidak ada
- Terjemahan saling berbeda
- Codex pun bukan naskah sumber
Maka salah satu kesimpulan sementara yang muncul adalah:
Bible belum memenuhi syarat kanon secara akademis.
Bukan dari sudut pandang keyakinan, tetapi dari sudut pandang filologi, linguistik, dan sejarah.
Otoritas: Gereja vs Metode Akademik
Perbedaan paling mendasar terletak di sini.
Dalam Kekristenan:
Otoritas menentukan kanon.
Jika gereja yang dianggap memiliki mandat kerasulan menyatakan “ini kanon”, maka itu dianggap selesai.
Contohnya analogi Dr. Jonathan:
- Untuk memverifikasi KTP asli, tanya ke Disdukcapil.
- Untuk memverifikasi paspor, tanya kedutaan.
Ini pendekatan legal-formal.
Dalam Islam:
Tidak cukup hanya otoritas.
Materi harus diuji:
- sanad
- rawi
- karakter perawi
- konsistensi
- kesinambungan historis
Bahkan seorang perawi hadis bisa turun kredibilitasnya hanya karena terbukti pernah membohongi hewan.
Maka dalam Islam, proses verifikasi:
Legal + Material = Baru sah.
Dalam Kristen versi Dr. Jonathan:
Legal saja sudah sah.
Inilah titik benturannya.
Mengapa Otoritas Tidak Selalu Aman?
Profesor Suryadi menambahkan satu poin penting:
“Kalau lembaga otoritas itu ikut bermain atau menyimpang, bagaimana?”
Dengan kata lain:
- Bila lembaga itu tidak netral
- Bila ada kepentingan
- Bila ada sejarah politik
- Bila pernah terjadi penyimpangan
Maka tidak bisa mengandalkan otoritas semata.
Ini yang menurut mereka menyebabkan:
Perpecahan Katolik–Protestan.
Martin Luther menolak otoritas Paus, karena ia melihat ada penyimpangan. Maka otoritas bukan jaminan mutlak.
Uji Materi: Satu-Satunya Jalan
Profesor Suryadi mengatakan:
“Lebih netral jika ijazahnya diuji materinya langsung, bukan lembaganya.”
Analogi ini dipakai untuk menjelaskan:
- Bible harus diuji bahasa
- harus diuji sumber
- harus diuji sejarah penyusunannya
- harus diuji catatan manuskripnya
Bukan hanya diterima karena gereja berkata demikian.
Pertanyaan Uni Riva: Lembaga Mana yang Bisa Verifikasi?
Pertanyaan Uni Riva ternyata membuka lagi persoalan krusial:
Siapa yang berhak menentukan mana Alkitab kanon dan Alkitab tidak kanon?
Dr. Jonathan menjawab: Gereja Ortodoks.
Sedangkan para pembicara lain mengatakan: Itu bisa diperdebatkan.
Karena:
- Gereja pun mengalami perpecahan
- Ada sejarah politik di baliknya
- Ada perbedaan versi kanon antar sekte
- Dan yang paling fatal: naskah asli tidak ada
Maka uji akademis menjadi sangat penting.
Pertanyaan Terakhir: Alkitab Kanon atau Alkitab Klaim Kanon?
Diskusi ini berakhir pada sebuah pertanyaan gantung:
“Apakah Alkitab itu kanon, atau hanya klaim kanon?”
Karena bila diuji secara akademis:
- Bahasa berubah
- Naskah tidak original
- Tidak ada manuskrip awal
- Ada jarak ratusan tahun dari peristiwa ke penulisan
Maka status “kanon” perlu ditinjau ulang, setidaknya dari sudut pandang akademis universal.
Perdebatan Terjemahan: “Oleh Dia” atau “Melalui Dia”?
Setelah dialog dengan Pendeta Yonatan, pembahasan bergeser kepada penjelasan Gus Betik sendiri. Ia menegaskan bahwa sejak awal ia ingin mengajak lawan dialognya masuk ke inti: bahasa. Baginya, penyelesaian polemik teologis tidak bisa dilepaskan dari akurasi linguistik, khususnya ketika menyangkut teks Yunani yang menjadi dasar Perjanjian Baru.
Karena itulah ia langsung meminta kepada Pendeta Yonatan agar memperlihatkan terjemahan kelompok Biblikos untuk Yohanes 1 ayat 3 dan 14. Menurutnya, terjemahan itu penting sebagai pembanding terhadap LAI (Lembaga Alkitab Indonesia).
Dan setelah dipaparkan, Gus Mbetik mengaku setuju dengan terjemahan Biblikos—bukan karena alasan teologis, melainkan murni karena aspek bahasa.
Pada Yohanes 1:3, Biblikos menerjemahkan:
“Segala sesuatu telah diciptakan melalui Dia…”
Sementara LAI menuliskannya:
“Segala sesuatu dijadikan oleh Dia…”
Perbedaan satu kata ini, menurut Gus Mbetik, mengubah posisi Yesus secara drastis. Ia memberikan contoh sederhana:
- Handphone ini dibeli oleh Gus Mbetik → berarti Gus Mbetik pelakunya.
- Handphone ini dibeli melalui Gus Mbetik → berarti ia hanya perantara, agen, bukan pelaku utama.
Dengan analogi itu, Gus Mbetik menyimpulkan:
“Yesus bukan pencipta. Ia adalah agen penciptaan, yang dipakai Allah.”
Ia menjelaskan konsep pra-eksistensi Yesus menurut teologi Kristen: Yesus dianggap sudah ada sebelum kelahirannya, namun tetap bukan pelaku penciptaan utama. Bagaimanapun, pencipta tetap adalah YHWH—Allah Bapa. Yesus hanya diposisikan sebagai perantara yang dipilih-Nya.
Dan di sinilah masalah yang disorot Gus Betik:
LAI memakai kata oleh, tetapi makna keseluruhannya oleh banyak umat justru ditafsirkan seolah Yesus adalah pencipta itu sendiri.
“Ini sudah menjebak banyak umat Kristen,” ujarnya. Sebaliknya, Biblikos memakai kata yang benar dari Yunani, yaitu dia (melalui), tetapi—kata Gus Betik lagi—pemaknaan yang diberikan masih sama saja seperti LAI.
Ketidaksinkronan antara bahasa asli dan tafsir inilah yang menurutnya menjadi akar kekeliruan.
Ketika Tafsir Dipaksakan pada Teks yang Tidak Perlu Ditafsirkan
Gus Betik menegaskan bahwa tidak semua bagian teks suci perlu tafsir. Ada yang maknanya sudah terang. Sebaliknya, justru ada bagian-bagian yang memang wajib ditafsirkan.
Ia memberi contoh:
- Kalimat Yesus: “Siapa yang meminum air dari Aku, selamanya tidak akan haus.”
Jika diambil literal tanpa penafsiran, tentu tidak masuk akal.
Tapi justru pada ayat Yohanes 1:3, yang sebenarnya tidak perlu ditafsirkan lagi, para pendeta masih memaksakan tafsir yang membelokkan maknanya. Hal ini, menurut Gus Betik, menunjukkan ketidakjujuran metodologi.
Baginya, kejujuran terhadap bahasa adalah prinsip dasar dalam membaca kitab suci.
Masalah Kata “Daging” vs “Manusia” dalam Yohanes 1:14
Lalu pembahasan masuk ke Yohanes 1:14, ayat yang sering dipakai untuk meneguhkan doktrin inkarnasi.
Biblikos menerjemahkan:
“Sang Logos itu telah menjadi daging…”
LAI menerjemahkan:
“Firman itu telah menjadi manusia…”
Gus Betik kembali melihat celah besar dalam terjemahan ini.
Ia menjelaskan bahwa dalam bahasa Yunani, terdapat dua pilihan diksi:
- sarx → daging
- anthropos → manusia
Jika maksudnya adalah “manusia”, para rasul akan menuliskan anthropos. Namun teks Yunani memakai sarx, yang secara literal berarti daging, bukan manusia.
Menurutnya, ini bukan hal kecil. Terjemahan “menjadi manusia” sudah menggiring umat pada pemahaman teologis tertentu, padahal teks asli menggunakan istilah berbeda yang kemungkinan memiliki makna lain.
Ia menambahkan:
“Terjemahan itu bukan kitab suci. Terjemahan boleh dikritik.”
Dan di titik itulah ia menegaskan kembali bahwa ia tidak menolak terjemahan Biblikos justru karena kelompok itu berani memakai diksi asli Yunani secara lebih setia.
Apakah Terjemahan Alkitab Canon Pdt. Yonatan Menguntungkan atau Merugikan Kristen?
Ketika ditanya apakah pendekatan Dr. Yonathan menguntungkan atau merugikan umat Kristen, Prof. Suryadi memberikan jawaban yang lebih filosofis:
Terjemahan seperti ini adalah pisau bermata dua.
- Dapat menguntungkan jika mengembalikan umat kepada kejujuran ilmiah dan membuka ruang persatuan.
- Namun bisa merugikan jika memicu konflik baru, terutama karena mayoritas umat Kristen telah berabad-abad memakai teks kanon LAI dan interpretasi tradisional.
Secara internal, perbedaan antara kanon dan non-kanon saja sudah cukup menimbulkan gesekan, apalagi jika ditambah pendekatan linguistik baru.
Apakah Polemik Ini Menguntungkan Islam?
Ketika pembicaraan mengarah ke perspektif Islam, Gus Mbetik dan Prof sepakat bahwa dalam konteks keislaman, hal ini tidak memberi dampak signifikan.
Menurut mereka, umat Islam tidak perlu terlibat dalam polemik internal Kristen. Hal itu merupakan ranah saudara-saudara Kristen sendiri, dan justru lebih baik bila mereka melakukan kajian kritis di dalam lingkup mereka.
Islam sendiri sudah sejak awal memiliki konsep yang berbeda terkait Isa al-Masih sebagai nabi, hamba Allah, dan bukan Tuhan.
Ketika Al-Qur’an Sudah Menginformasikan Sejak 14 Abad Lalu
Gus Betik kembali menyinggung poin krusial: apa yang sedang diperdebatkan oleh Dr. Yonatan Purnomo mengenai Injil bahwa ada bagian-bagian yang ditulis manusia tetapi diberi label “dari Tuhan” sebenarnya sudah diungkapkan Al-Qur’an jauh sebelum diskusi modern terjadi.
Ia menyampaikan:
“Ketika dinyatakan ditulis oleh tangan manusia, lalu dikatakan ini dari Allah… itu sudah diinformasikan Al-Qur’an secara akurat.”
Menurutnya, ayat-ayat Al-Qur’an telah memberi gambaran mengenai penyimpangan terdahulu: penulisan yang dilakukan manusia, lalu diklaim sebagai wahyu. Namun Gus Betik menegaskan bahwa diskusi kali ini bukan arena perbandingan kitab, karena sejak awal mereka hanya membahas Injil Yohanes di ranah akademik—bukan ranah teologis Islam.
Jika Reformasi Baru Lahir dari Indonesia
Pada bagian berikut, Gus Mbetik membahas sesuatu yang jarang disentuh dalam perdebatan antaragama: dampak historis dari upaya reformasi teks.
Ia menilai bahwa jika Dr. Yonatan benar-benar berhasil mendorong rekonstruksi ulang kanon Alkitab berdasarkan pendekatan linguistik dan kritik teks, maka:
“Akan lahir tokoh reformasi dari Indonesia.”
Ia membandingkannya dengan Martin Luther dari Jerman yang melahirkan Reformasi Protestan. Menurutnya, jika reformasi baru terjadi dan pusat konsilinya ada di Indonesia, itu akan menjadi peristiwa yang mengguncang dunia.
Konsili Hipo yang dahulu menentukan kanon disebut sebagai contoh. Gus Betik mengatakan bahwa bila kini ada konsili versi Indonesia yang meninjau ulang kanon Perjanjian Baru, dan motornya adalah Dr. Yonatan Purnomo, maka itu akan menjadi peristiwa sejarah yang monumental.
Namun ia menekankan:
“Bagi umat Islam, ini tidak memberikan dampak signifikan.”
Karena dalam perspektif Islam, posisi kitab suci lain sudah jelas statusnya, baik kanon atau non-kanon. Akar persoalan tetap berada pada aspek originalitas dan selama bukan bahasa asalnya, teks tersebut otomatis memiliki keterbatasan otentisitas.
Mengapa Pembahasan Kanon Tidak Berpengaruh Bagi Umat Islam
Gus Mbetik menjelaskan bahwa sekalipun terjadi rekonstruksi besar-besaran pada kitab suci agama lain, hal itu tidak mengubah apa pun bagi umat Islam, karena Islam memiliki kriteria baku:
- Bahasa asli harus sama dengan bahasa wahyu.
Jika wahyu telah diterjemahkan, maka penerjemahnya sudah mengambil peran interpretatif. - Kriteria originalitas harus bertahan sejak awal.
Dari dua kriteria itu saja, menurutnya, kitab mana pun yang tidak mempertahankan bahasa ibu wahyunya tidak dapat diklaim sebagai otentik dalam standar Islam.
Karenanya, perdebatan kanonvmeskipun besar dari sisi internal Kekristenan, tidak berdampak pada umat Muslim.
Mengapa Yesus Orang Ibrani Tetapi Injil Berbahasa Yunani?
Pertanyaan berikutnya menjadi sangat fundamental:
Jika Yesus adalah orang Ibrani, mengapa Injil tertulis dalam bahasa Yunani?
Dan apakah firman turun dalam bahasa selain bahasa nabi?
Menurut narasi transkrip, jawaban Pendeta Yonatan dianggap tidak memuaskan oleh Gus Mbetik.
Ia mengatakan:
“Logikaku tidak bisa menerima. Tapi bukan hanya logikaku, logika umum juga tidak bisa menerima.”
Gus Mbetik menekankan bahwa kebenaran akademis harus bersifat universal. Artinya, kebenaran itu dapat diuji oleh siapa saja, kapan saja, tanpa bergantung pada otoritas tertentu.
Ia bahkan menegaskan prinsip pribadinya:
“Aku kalau pilih guru itu bukan guru menguji aku. Gurunya tak uji dulu. Dia layak enggak jadi guruku.”
Ia tidak suka menerima argumen hanya karena status pembicaranya. Jika suatu penjelasan tidak sejalan dengan akal sehat, maka penjelasan itu pantas dipertanyakan.
Namun ia tetap memilih menahan diri karena forum dialog yang berlangsung bukanlah forum perdebatan agresif.
Mengajak Mencari Kebenaran Bersama, Bukan Memaksakan Agama
Ini bagian yang sangat filosofis.
Gus Mbetik menawarkan pendekatan unik: mencari kebenaran secara akademis tanpa membawa fanatisme agama.
Menurutnya, jika benar-benar ingin mencari kebenaran:
“Ayo bareng aku. Kita sama-sama cari. Bukan karena aku Islam. Kita bicara rasional, akademis.”
Beliau bahkan mengatakan bahwa jika kajian dilakukan secara ilmiah, pembuktian akhirnya akan bermuara pada Al-Qur’an, bukan karena ia Muslim, tetapi karena Al-Qur’an memenuhi standar akademis yang dapat diuji.
Gus Mbetik menyebut Al-Qur’an sebagai:
- kitab suci yang berani diuji,
- kitab suci yang menantang siapa pun untuk meragukannya,
- dan kitab suci yang meminta pembuktian, bukan sekadar iman.
Ia mengutip tantangan Al-Qur’an:
“Jika kamu ragu, buatlah satu surat saja.”
Menurutnya, ini bukan ancaman, bukan larangan, tetapi undangan untuk berpikir.
Mengenal, Memahami, Lalu Baru Percaya
Prof. Sur melanjutkan gagasan itu dengan menegaskan bahwa keimanan yang kokoh harus diawali oleh pengetahuan dan pemahaman.
Rumusan mereka berdua jelas:
- Tahu dulu
- Baru percaya
- Baru lahirlah keyakinan
- Baru menghasilkan tindakan
Keyakinan tanpa bukti, tanpa pemahaman, hanya akan menghasilkan iman yang goyah.
Di sinilah mereka meletakkan fondasi “Islam rasional”, agama yang mengajak manusia berpikir, menimbang, dan membuktikan, bukan hanya menerima.
Menuju Pertanyaan Berikutnya: Yohanes 17:3 (yang disebut Yohanes 13 ayat 3)
Akhir bagian transkrip yang kamu kirim ditutup oleh pertanyaan:
“Apa pendapat Gus Betik dan Profesor Suryadi mengenai Alkitab Pendeta Yonatan Purnomo pada Yohanes 13 ayat 3… Inilah hidup yang kekal itu: bahwa mereka mengenal Engkau dan Yesus Kristus yang Engkau utus sebagai satu-satunya Allah.”
Ayat yang dimaksud sebenarnya Yohanes 17:3, dan pertanyaan ini akan membuka diskusi baru mengenai:
- kedudukan Allah
- posisi Yesus sebagai utusan
- dan bagaimana ayat itu diterjemahkan serta dipahami dalam konteks teologi Kristen
Aku akan lanjutkan pembahasannya setelah kamu kirimkan sambungan transkrip berikutnya (kalau masih ada).
PENUTUP: Diskusi Bibel Versi Kanon Pendeta Yonatan Purnomo
Dalam sesi diskusi tersebut, suasana mulai mereda ketika pembahasan memasuki ayat-ayat yang dianggap bermasalah dalam terjemahan Alkitab. Mulai dari Yohanes 17:3 yang menimbulkan kebingungan karena penggunaan kata jamak “mereka” tetapi diakhiri dengan frasa “satu-satunya Allah”, sampai persoalan tata bahasa Yunani pada Yohanes 1:1 yang ternyata memunculkan perbedaan makna besar ketika dibaca secara teliti.
Profesor Suryadi menegaskan bahwa persoalan bahasa tidak bisa diabaikan, sebab perbedahan kecil seperti penggunaan ton theon (dengan kata sandang) dan theos (tanpa kata sandang) menghasilkan makna yang tidak sama. Ia menunjukkan bahwa LAI menerjemahkan kedua bentuk itu dengan kata yang sama, padahal struktur asli Yunani menunjukkan pembedaan: yang satu merujuk kepada pribadi Allah, dan yang lain bersifat sifat atau keilahian. Dari sinilah muncul kesimpulan logis bahwa terjemahan yang lebih tepat seharusnya:
“Pada mulanya adalah Firman, Firman itu bersama-sama dengan Allah, dan Firman itu bersifat ilahi”—bukan “Firman itu adalah Allah”.
Profesor menekankan bahwa perdebatan tidak muncul karena ingin menyinggung keyakinan pihak manapun, tetapi karena ayat-ayat yang diterjemahkan tidak sinkron. Baginya, konflik batin dalam beragama terjadi justru ketika seorang pemeluk agama menemukan bahwa kitab sucinya memiliki banyak versi dengan perbedaan substansi. “Agama bukan hanya keyakinan, tapi juga sistem kebenaran,” tegasnya. Karena itu sebuah wahyu harus terbuka terhadap pengujian, bukan diterima mentah-mentah.
Ketika ditanya apakah Alkitab versi Pendeta Yonatan Purnomo sebaiknya menggantikan semua Alkitab di Indonesia, Profesor Suryadi menjawab dengan tenang bahwa:
umat Islam tidak punya hak untuk menentukan itu,
karena itu wilayah internal agama lain. Namun ia menilai gagasan satu agama–satu kitab suci adalah gagasan baik, sebab keberagaman versi justru berpotensi menimbulkan keresahan bagi para penganutnya.
Gus Mbetik menyetujui hal tersebut. Baginya, misi Pendeta Yonatan adalah misi yang luhur: menghadirkan satu kitab suci kanon yang tunggal agar umatnya tidak lagi terpecah oleh perbedaan versi. Hanya saja persoalannya bukan sederhana. Perubahan peradaban yang sudah berjalan ratusan tahun membutuhkan stamina panjang, bahkan mungkin beberapa generasi, bukan hanya satu tokoh.
Namun Gus Mbetik menyampaikan penutup yang sangat tegas. Ia berkata bahwa meskipun ia mengakui Bibel versi Dr. Purnomo sebagai “kanon” untuk kepentingan diskusi, tetap saja tidak ada gunanya memiliki kitab suci kanon jika penafsiran umatnya tetap non kanon. Selama Yesus tetap dipahami sebagai Allah, maka pemahaman itu bertentangan dengan isi kitab itu sendiri, bahkan dalam versi non kanon sekalipun. “Baca seluruh ayat, tidak ada satu pun yang secara eksplisit menyatakan Yesus itu Allah,” ujarnya. Segala ayat yang dipaksakan untuk menyimpulkan keilahian Yesus selalu bersifat ditarik-tarik dari konteks.
Karena itu, ia menutup dengan satu pernyataan kuat:
Tidak ada gunanya membawa kitab suci yang disebut ‘kanon’ jika pemahaman terhadapnya tetap bertentangan dengan isi teks yang sebenarnya.
Di akhir acara, keduanya mengajak para penonton untuk terus mengedepankan logika, keterbukaan dalam mencari kebenaran, serta kesediaan untuk mempelajari sumber asli. Sebab keyakinan tanpa kebenaran hanyalah kepercayaan tanpa fondasi.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
