
Alhamdulillahirabbil ‘alamin, suasana sore di bulan Ramadan kembali dihangatkan dengan program ngabuburit yang rutin digelar di YouTube Channel Mualaf Center Aya Sofya. Pada kesempatan itu. tema yang diusung cukup menarik: “Alasan Mengapa Yesus, Tuhannya Orang Kristen, Berpuasa.” Tema ini merupakan lanjutan dari kajian sebelumnya, sehingga menjadi episode kedua dalam serial pembahasan tentang puasa dari perspektif Islam terhadap praktik keagamaan umat Kristen.
Sapaan Hangat dan Antusiasme Pemirsa
Seperti biasanya, sesi dibuka dengan sapaan hangat dari moderator. Niru Khoirunisa mengajak pemirsa untuk memperkenalkan diri beserta kota tempat mereka menonton. Suasana interaktif pun tercipta ketika berbagai komentar masuk dari penjuru Indonesia.
Ustadz Ahmad Kainama hadir dengan semangat yang cerah. Sambil bersenda gurau mengenai waktu berbuka, beliau menyampaikan rasa syukur dapat kembali membersamai para sahabat Aya Sofya dalam kajian daring di bulan puasa.
Latar Tema: Kelanjutan dari Kajian Sebelumnya
Menurut penuturan Ustadz Kainama, tema ini merupakan lanjutan dari pembahasan pekan sebelumnya yang berjudul “Mengapa Orang Kristen Tidak Berpuasa?” Kini, sebagai episode kedua, kajian mengupas sudut pandang berbeda: jika Yesus berpuasa, mengapa umatnya justru tidak menjalankan puasa sebagaimana Nabi Isa lakukan?
Kajian ini tidak dibuat serampangan, tetapi berdasarkan pertanyaan dari jamaah Aya Sofya sendiri yang ingin memahami praktik keagamaan agama lain secara akademik.
Sikap Aya Sofya: Kajian Ilmiah, Bukan Ajang Menyerang
Sebelum masuk ke inti, Ustadz Kainama memberi klarifikasi penting. Beliau menegaskan bahwa kajian-kajian Aya Sofya bukanlah upaya menyerang, menghina, atau menodai kepercayaan umat Kristen maupun Katolik. Kajian dibuat berdasarkan pertanyaan dari muslim dan dijawab secara argumentatif, akademis, serta tetap menghormati keyakinan pihak lain.
Ustadz Kainama bahkan menyinggung bahwa dalam beberapa minggu terakhir, banyak channel Kristen dan Katolik membuat konten yang memaki-maki dirinya. Namun ia menegaskan:
- Tidak pernah ia maupun Aya Sofya memulai penyerangan terhadap pihak lain.
- Yang disampaikan hanyalah jawaban atas pertanyaan umat Islam.
- Jika ada kesalahpahaman, ia meminta agar tidak ada pihak yang mengadu domba antara umat Islam dan umat Kristen.
Aya Sofya sendiri adalah lembaga yang secara resmi mendapat penghargaan dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dalam bidang dakwah kristologi dan pembinaan mualaf. Karena itu, semua aktivitasnya berada dalam koridor hukum, toleransi antaragama, dan kerukunan nasional.
Nilai Dasar: Toleransi dan Kebhinekaan
Ustaz Kainama menjelaskan bahwa seluruh kajian yang dibawakan di kanal Aya Sofya selalu mengikuti arahan ulama serta fatwa dari MUI. Prinsip dasarnya adalah:
- Mengedepankan toleransi
- Menghormati antarumat beragama
- Menjaga kerukunan
- Menghindari provokasi, kebencian, dan penistaan
- Menjawab pertanyaan dengan data, bukan emosi
Beliau menegaskan kembali bahwa jika ada konten yang menjelekkan atau memaki, maka hal itu bukan berasal dari Aya Sofya, melainkan dari pihak lain yang mencoba memancing konflik dan menciptakan kesalahpahaman.
Memasuki Inti Kajian: Alasan Yesus Berpuasa
Setelah memberikan pengantar panjang yang penuh penegasan dan klarifikasi, Ustaz Ahmad Kainama bersiap memasuki inti persoalan: mengapa Yesus (Nabi Isa menurut Islam) berpuasa, dan apa makna puasa tersebut menurut teks-teks Kristen dan Islam.
Ustadz Kainama kembali menegaskan bahwa apa yang sedang mereka baca dari tampilan Alkitab Arab bukanlah kitab milik umat Islam. Ia hanya menjawab pertanyaan sesuai konteks, yaitu ketika ditanya tentang Isa Almasih, maka ia merujuk ayat-ayat yang memang membahas Jesus/Isa, bukan ayat Al-Qur’an. Namun ia menegaskan berkali-kali bahwa bacaan tersebut bukanlah milik umat Islam.
Ia juga mengeluhkan bagaimana sebagian channel Kristen sering memotong-motong videonya, kemudian menuduhnya menghina. “Tonton penuh,” katanya, karena yang menilai apakah ia menghina atau tidak seharusnya adalah jemaat Kristen itu sendiri.
Penjelasan Tentang Doa Iftitah
Ustadz Kainama menjelaskan kepada pemirsa bahwa bacaan yang dibacakan Ustadzah tadi bukanlah bacaan aneh atau asing. Itu adalah bagian dari doa iftitah, doa pembuka ketika seorang muslim memulai shalat setelah takbir:
“Allahu akbar kabīrā, walhamdulillāhi katsīrā, wa subhānallāhi bukratan wa asīlā…”
Lalu bacaan lanjutan:
“Wajjahtu wajhiya lilladzi…”
Itu adalah bacaan shalat, bukan bacaan Kristen, bukan pula sesuatu yang menghina.
Ia mengoreksi bahwa sebagian orang Kristen Batak salah memahami bacaan itu dan mengira itu ditujukan kepada “Yesus”. Padahal jelas tertulis “illāllāh”, kepada Allah.
Makna Kewajiban Puasa Menurut Ayat di Alkitab
Di layar, mereka membuka ayat yang menjelaskan kewajiban puasa. Ustadz Kainama menegaskan bahwa bacaan tadi menunjukkan alasan mengapa Yesus berpuasa karena ia memenuhi kewajibannya sebagai manusia, bukan sebagai Tuhan.
Yesus digambarkan sebagai seorang yang:
- tunduk,
- taat,
- beribadah,
- dan berpuasa kepada Allah yang Esa.
Ini ditegaskan dengan kalimat Yesus sendiri dalam Injil Markus 12:29: “Allah itu Esa.”
Imamat 23:29 – Kewajiban Puasa Dalam Taurat
Ayat berikutnya dibacakan oleh Ustadzah:
“Karena setiap orang yang pada hari itu tidak merendahkan diri dengan berpuasa haruslah dilenyapkan dari antara orang-orang sebangsanya.”
Ustadz Kainama langsung berhenti dan menegaskan, “Ini serem, ya.” Karena ayat itu bukan hanya anjuran, tapi perintah keras, bahkan hukuman bagi yang tidak taat.
Ia kemudian mengingatkan bahwa ini adalah “ketetapan selama-lamanya”, bukan aturan sementara.
Perbedaan Puasa Yahudi dan Puasa Muslim
Ustadz Kainama menjelaskan bahwa meski ada kemiripan, puasa Yahudi berbeda dari puasa Muslim. Perbedaannya terutama pada:
- Waktu pelaksanaan,
- Tidak adanya sahur dalam tradisi Yahudi,
- Tujuan ibadah.
Puasa Asyura yang dilakukan umat Islam hari ini adalah sunnah, bukan kewajiban Yahudi yang disalin. Itu hanya bertepatan dengan peristiwa Nabi Musa, tetapi umat Islam melakukannya sesuai tuntunan Nabi Muhammad, bukan meniru Yahudi.
Ia lalu menyindir pelan bahwa umat Kristen masa kini justru tidak melaksanakan perintah yang ada di dalam kitab mereka sendiri, yaitu kewajiban puasa sebagai “ketetapan selama-lamanya”. Padahal Yesus sendiri berpuasa.
Menurutnya, ini justru memperkuat bahwa:
- Yesus adalah manusia,
- tunduk kepada hukum Taurat,
- dan mengakui Allah sebagai Tuhannya.
Yesus Tunduk Kepada Tuhan, Bukan Tuhan
Inilah kesimpulan yang ia ingin tegaskan bahwa Yesus bukanlah Tuhan yang menjelma menjadi manusia, bukan firman yang menjadi tubuh, tapi seorang manusia yang beribadah kepada Allah.
Ia mengutip kembali:
“I am only human.”
Menurutnya, inilah pesan Yesus melalui tindakan-tindakannya.
Ustadzah kembali diminta membaca ulang ayat:
“Karena setiap orang yang pada hari itu tidak merendahkan diri dengan berpuasa haruslah dilenyapkan…”
Dan Ustaz Kainama meminta agar nomor konkordansi dibuka untuk melihat akar kata dalam bahasa asli.
Penafsiran Kata “Memotong” dan Ancaman Hukuman Tidak Puasa
Pada bagian awal, Ustadz Kainama kembali menggarisbawahi bagaimana dari kitab-kitab tertentu muncul istilah yang mengarah pada tindakan ekstrem seperti memotong, menebang, menghancurkan, hingga memenggal kepala. Beliau menyoroti bagaimana sebuah frasa yang dalam konteks Ibrani hanya bermakna “cut off” kemudian diterjemahkan secara ekstrem, sehingga seolah-olah tidak berpuasa merupakan alasan untuk dipenggal.
Dengan gaya khas beliau, Ustadz mengatakan:
“Jangan bilang orang Islam itu teroris. Kalau mengikuti terjemahan mereka, orang yang tidak puasa bisa dianggap pantas dipotong kepala.”
Ini menjadi kritik terhadap cara sebagian kelompok menuding Islam sebagai agama radikal, padahal teks dalam kitab mereka sendiri justru mencantumkan istilah-istilah kekerasan bila diterjemahkan secara literal.
Keluaran 32:20, Perintah Meminum Abu Patung Anak Lembu
Masuk pada pembahasan utama, Ustadz mengajak jamaah melihat ayat Keluaran 32:20, yang menceritakan Musa menghancurkan patung anak lembu, menggilingnya sampai halus, mencampurnya ke air, lalu memaksa orang Israel meminumnya.
Ayat itu ditampilkan langsung dan Ustaz meminta jamaah untuk screenshot, karena ia hendak menunjukkan sesuatu yang janggal pada langkah selanjutnya.
Kutipan ayat itu menguatkan poin bahwa praktik dalam kitab tersebut jauh dari gambaran “damai”, bahkan ritual hukumannya dapat berupa meminum abu berhala.
Perbedaan Aneh pada Penomoran Ayat: Keluaran 32:20 vs Keluaran 32:30
Ustadz kemudian menunjukkan sebuah kejanggalan:
- Teks yang pertama kali dibuka berbunyi Keluaran 32:20.
- Namun ketika dibuka ulang melalui situs konkordansi lain, justru ayat yang sama muncul sebagai Keluaran 32:30.
- Artinya, ada ketidaksesuaian penomoran ayat pada sumber yang berbeda.
Ustadz menyebut:
“Tadi 32:20, sekarang 32:30. Ayatnya sama, nomornya beda. Yang mana yang benar?”
Beliau menekankan bahwa perbedaan ini bukan kesalahan membaca, tetapi bentuk ketidakkonsistenan dalam penomoran ayat antara berbagai versi Alkitab.
Analisis Lewat Konkordansi Sabda: Dua Versi dalam Satu Kitab
Untuk membuktikan lebih jauh, Ustadz meminta jamaah membuka Konkordansi Alkitab Sabda, lalu mencari kata “keesokan harinya”. Hasil pencarian itu memperlihatkan:
- Ada dua ayat yang identik dalam isi,
- tetapi berbeda dalam nomor ayat,
- bahkan muncul pada dua pasal yang berbeda dari versi tertentu.
Inilah dasar kecurigaan beliau bahwa telah terjadi kesalahan input, atau pergeseran penomoran, atau duplikasi isi dalam proses penerjemahan dan penyusunan.
Kasus Copy–Paste Antar Kitab: Yesaya 37 vs 2 Raja-Raja 19
Masuk pada materi paling penting, Ustadz menunjukkan bagaimana:
- Yesaya 37:1–5
- 2 Raja-Raja 19:1–5
memiliki teks yang sama persis, dari huruf kapital, tanda baca, hingga pilihan kata.
Padahal keduanya merupakan dua kitab berbeda, dua konteks berbeda, dan ditulis pada zaman yang berbeda.
Pertanyaannya:
Siapa yang menyalin siapa?
Beliau mengajak jamaah memeriksa langsung:
“Yang mana yang copy paste? Hurufnya, titik komanya, semua sama.”
Fenomena ini dianggap sebagai bukti bahwa ada bagian Alkitab yang tidak memiliki orisinalitas ganda, tetapi merupakan duplikasi.
Menentukan Kitab Mana yang Lebih Dulu Ditulis
Untuk menjawab “yang menyalin siapa”, Ustadz meminta jamaah melihat tahun penulisan kedua kitab.
a. Tahun Penulisan 2 Raja-Raja
- Ditulis sekitar abad ke-10 SM dalam bahasa Ibrani.
- Termasuk dalam kelompok “kitab sejarah”.
b. Tahun Penulisan Kitab Yesaya
- Nabi Yesaya hidup pada abad ke-7 SM, sekitar 700 SM.
- Berarti kitab Yesaya ditulis lebih muda 300 tahun dibanding 2 Raja-Raja.
Kesimpulan awal:
2 Raja-Raja ada lebih dulu. Yesaya datang jauh kemudian.Maka bagaimana mungkin teks dalam kitab Yesaya identik dengan teks yang sudah ada 300 tahun sebelumnya?
Sebaliknya, bila Yesaya dianggap sumbernya, bagaimana mungkin tulisan seorang nabi abad ke-7 SM muncul dalam kitab sejarah yang ditulis pada abad ke-10 SM?
Kekacauan kronologi ini menjadi poin krusial dalam kritik Ustaz.
Kejanggalan Kronologis yang Sulit Dijelaskan
Ustadz kemudian merangkum keganjilan tersebut:
- 2 Raja-Raja lebih tua 300 tahun,
- tetapi isi ayatnya sama persis dengan Yesaya 37,
- yang baru ditulis saat Yesaya hidup pada abad ke-7 SM.
Secara logika, ini tidak mungkin terjadi tanpa proses penyalinan atau penyesuaian ulang.
Beliau menambahkan:
“Bagaimana tulisan Yesaya muncul di kitab yang sudah ada 300 tahun sebelumnya? Nah, ini maksud saya.”
Inilah yang dituju dari awal ketika Ustaz meminta jamaah screenshoot ayat Keluaran: untuk menunjukkan bahwa ketidakkonsistenan dalam ayat bukan hal baru, tetapi menjadi pola di banyak bagian kitab.
Transisi Menuju Pembahasan Selanjutnya
Bagian akhir transkrip yang kamu kirim berhenti pada kalimat:
“Bagaimana muncul di kitab Yesaya itu ada di 10 masehi… ngerti ya…”
Beliau sedang bersiap melanjutkan ke pembahasan berikutnya, yaitu bagaimana kesalahan kronologis seperti ini berdampak pada keaslian narasi.
Penemuan Copy-Paste Antar Kitab: Yesaya 37 dan 2 Raja-Raja 19
Ustadz Kainama menekankan bahwa berdasarkan penelusuran pada Keluaran 32:20 dan Keluaran 32:30, pembaca diarahkan untuk melihat kesamaan mencolok antara:
- Yesaya 37
- 2 Raja-Raja 19
Hasilnya mengejutkan:
Terdapat copy-paste hampir kata demi kata, bahkan sampai titik dan komanya.
Penemuan ini bukan untuk menyerang, tetapi untuk membuka wawasan bahwa:
- Tidak semua teks dalam Bible adalah tulisan asli yang berdiri sendiri.
- Ada duplikasi narasi yang menunjukkan proses penulisan ulang.
- Seorang peneliti kitab wajib tahu bahwa ada struktur literasi yang tidak disebutkan kepada umat secara umum.
Ustadz Kainama menegaskan bahwa ini bukanlah penghinaan, melainkan kajian ilmiah berdasarkan teks asli, concordance, dan analisis bahasa.
Puasa dalam Bible: Perintah yang Berlaku Selamanya
Dalam imamat Yahudi, puasa bukan sekadar ibadah sampingan. Ia merupakan:
- Hukum agama yang berlaku selamanya
- Wajib bagi seluruh umat, bukan hanya nabi tertentu
- Bagian dari jalan mendekatkan diri kepada Tuhan
Umat Yahudi berpuasa dengan tanggal dan bulan yang berbeda, sementara umat Islam berpuasa pada Ramadan. Namun:
Konsepnya sama: puasa adalah dasar akidah para nabi.
Yesus pun melakukan puasa bukan untuk menunjukkan keilahian, tetapi kepatuhan sebagai seorang Yahudi.
Mengapa Yesus Berpuasa? Jawaban yang Sering Disembunyikan
a. Karena Yesus Adalah Manusia yang Tunduk pada Hukum Yahudi
Yesus berpuasa sebagaimana nabi-nabi sebelumnya berpuasa:
untuk menghadap kepada Allah, memohon ampun, dan menundukkan diri kepada hukum agama.
Tidak ada nabi di dalam Bible yang berpuasa sebagai Tuhan.
Semua berpuasa sebagai manusia.
b. Karena Ia Tidak Mengambil Kemuliaan Allah
Yesus selalu mengatakan bahwa segala kemuliaan adalah milik Allah.
Puasa adalah bentuk merendahkan diri sebagai hamba.
Ini menegaskan bahwa Yesus:
- bukan inkarnasi Allah,
- bukan Tuhan yang menjelma menjadi manusia,
- melainkan manusia taat yang menjaga batas antara dirinya dan kemuliaan Tuhan.
c. Karena Ia Mengajarkan Pengikutnya untuk Melakukan Hal yang Sama
Jika Yesus berpuasa, maka pengikutnya wajib berpuasa.
Puasa bukan hanya untuk mengendalikan diri, tetapi juga:
- menutupi dosa,
- membersihkan hati,
- menyempurnakan ketaatan kepada Allah.
Makna Ibrani dari Kata “Pendamaian”: KAFAR
Penjelasan paling penting dalam sesi ini muncul ketika konkordansi Hebrew dibuka.
Kata pendamaian dalam Keluaran 32:30 berasal dari kata Ibrani:
Kāphar (כָּפַר), “menutup, melapisi, menutupi dosa”
Dari sinilah akar konsep “cover” muncul.
Maka:
- Puasa = menutupi dosa
- Kapar = cover
- Kafir = orang yang menutup kebenaran
Penjelasan ini menjadi dasar kuat mengapa kata “kafir” dalam Islam bukan hinaan, tetapi istilah teologis yang berasal dari bahasa Ibrani kuno.
Kata “Kafir” Adalah Milik Mereka, Bukan Buatan Islam
Ustaz Kainama kembali menegaskan:
Kata “kafir” sudah ada di tradisi Yahudi sebelum Islam turun.Artinya sama: “menutup”, “tidak menerima kebenaran.”
Ayat Qul Yā Ayyuhal Kāfirūn bukan hinaan, bukan ejekan, bukan makian.
Ia sekadar:
- klasifikasi teologis
- istilah keimanan
- penanda posisi keyakinan seseorang
Jika seseorang tidak ingin disebut kafir dalam Al-Qur’an, maka pintunya sederhana:
masuk Islam.
Penjelasan Penutup Ustaz Kainama: Bukan Menyerang, Tetapi Menjawab
Di akhir kajian, Ustaz Kainama menyampaikan dengan sangat tegas:
- Ini bukan penistaan terhadap agama lain.
- Bukan penghinaan terhadap Bible.
- Bukan serangan terhadap umat Kristiani atau Katolik.
- Bukan menjatuhkan keyakinan siapapun.
Ini adalah jawaban ilmiah untuk Muslim yang bertanya:
“Mengapa Yesus berpuasa?”
Jawabannya:
- Karena ia manusia yang tunduk kepada hukum Yahudi.
- Karena ia tidak mau mengambil kemuliaan Allah.
- Karena ia memberi contoh kepada pengikutnya untuk berpuasa.
- Karena ia mengakui bahwa Allah adalah Tuhannya.
- Karena ia mempersiapkan kabar tentang seseorang yang datang setelahnya, yaitu Nabi Muhammad Saw.
Ustaz Kainama mengulang kembali:
“Ini bukan untuk menyerang. Ini jawaban untuk saudara-saudaraku Muslim.”
Dengan demikian, seluruh rangkaian kajian, mulai dari copy-paste kitab, makna kapar, puasa para nabi, hingga definisi kafir, resmi ditutup dengan adab, kehormatan, dan rasa saling menghargai.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
