Malam menjelang pukul 10.00, di tengah kesibukan aktivitas dakwah, kami berkesempatan berbincang-bincang dengan Bapak Andreas Situmeang di Bekasi. Dialog ini menjadi momen penting sebelum beliau kembali ke Islam mengucapkan kalimat syahadat, sebuah ikrar keyakinan yang fundamental.
Pentingnya dialog ini adalah untuk memastikan bahwa kepindahan keyakinan didasari oleh keteguhan hati dan pemahaman yang mendalam, bukan paksaan.
“Perpindahan keyakinan itu bukan sesuatu yang mudah, sesuatu yang barangkali sulit… harus dengan keteguhan hati supaya nanti tidak ada rasa penyesalan atau keraguan di tengah perjalanan.”
Dalam Islam, ajaran dasarnya sangat tegas: “Tidak ada paksaan dalam agama” (Lā ikrāha fi dīn, Q.S. Al-Baqarah: 256). Siapapun tidak boleh dipaksa untuk memeluk Islam, bahkan tawanan perang sekalipun. Jika ada perilaku yang bertentangan, itu adalah perilaku umat, bukan ajaran Islam.
Perjalanan Hati Menemukan “Maha Tunggal”
Bapak Andreas Situmeang, seorang yang berasal dari Batak dan pernah tinggal di Jambi, kini bekerja di Cileungsi. Beliau dibesarkan dalam keyakinan Kristen Protestan (Pantekosta). Lalu, apa yang menarik hatinya untuk mempelajari Islam?
Menurut perspektif Islam, sebetulnya manusia itu tidak “pindah” ke Islam, melainkan kembali ke fitrah.
“Pada dasarnya manusia, dalam perspektif Islam, itu sudah di dalam rohnya, dalam kandungan sudah dikenalkan bahwa Tuhan itu adalah Maha Tunggal, Maha Esa. Fitrahnya itu hanya mengakui Tuhan Yang Maha Satu, Maha Satu itu Ahad.”
Dua Faktor Utama Inspirasi
Bapak Andreas menyebutkan dua faktor utama yang mendorong keinginannya untuk mendalami Islam:
- Inspirasi dari Sang Abang:
- Abang kandungnya sudah lebih dulu menjadi mualaf dan menjalani kehidupan yang “enak aja gitu hati,” ujar Bapak Andreas. Keislaman abangnya yang konsisten (masih melaksanakan perintah Islam dan diterima oleh orang tua) menjadi motivasi nyata.
- Lantunan Azan:
- Tinggal dekat dengan masjid di perumahannya, beliau sering mendengarkan lantunan azan. Azan, yang merupakan panggilan salat, dirasakan “kesentuh aja,” seolah menjadi panggilan spiritual dari Tuhan.
Konsep Tauhid: Fondasi Utama Ajaran Islam
Pembicaraan kemudian berlanjut ke perbandingan fundamental antara Islam dan keyakinan sebelumnya, terutama mengenai konsep ketuhanan.
1. Hakikat Ibadah: Pembeda Manusia dan Hewan
Manusia diciptakan berbeda karena diberi akal dan hati nurani. Jika manusia hanya hidup dengan aktivitas makan, tidur, dan beraktivitas tanpa beribadah, tidak ada bedanya dengan hewan.
- Manusia diciptakan sebagai Khalifah di Bumi (wakil Tuhan), yang harus menjaga bumi dan beribadah kepada-Nya.
- Kewajiban beribadah kepada Tuhan gugur hanya bagi mereka yang kehilangan akal (seperti orang yang pikun atau sakit jiwa), menunjukkan bahwa akal adalah syarat utama ibadah.
2. Ketuhanan yang “Maha Tunggal”
Inti perbedaan antara Islam dan Kristen terletak pada konsep ketuhanan:
| Konsep | Penjelasan dalam Islam |
| Tauhid | Maha Tunggal (Ahad), Maha Esa. Saking satunya, tidak ada yang lain. Tidak ada Putra, tidak ada Roh Kudus. Tuhan tidak bisa menjadi manusia atau apapun. |
| Esa | Satu dalam pengertian jumlah ($1$). |
Konsep ini ditegaskan kembali dengan mengutip Yohanes 17:3 dari Alkitab:
“Inilah hidup yang kekal, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.”
Ayat ini memperjelas bahwa:
- Hanya ada satu-satunya Allah yang benar (Maha Tunggal).
- Yesus Kristus adalah yang diutus, artinya dia adalah utusan.
Inilah dasar agama tauhid yang juga dianut oleh Yahudi (Yudaisme), yang menyembah hanya satu-satunya Allah yang benar.
Keputusan yang Final
Dengan pemahaman konsep ketuhanan yang Maha Tunggal ini, keputusan Bapak Andreas untuk memeluk Islam menjadi final. Dalam Islam, yang diyakini adalah bahwa Allah adalah Satu-satunya Allah yang benar, dan Nabi Muhammad adalah utusan-Nya.
Perbedaan konsep ketuhanan ini menjadi pembeda yang jelas dan menjadi dasar bagi Bapak Andreas untuk menetapkan keyakinannya.
Siapa Tuhanmu? >> Allah.
Siapa Nabimu? >> Muhammad.
Semoga Bapak Andreas Situmeang mendapatkan keteguhan dan rahmat dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dalam menjalani kehidupan barunya sebagai seorang Muslim.
Ketuhanan yang Sudah Final: Persatuan Umat
Konsep ketuhanan (Tauhid) dalam Islam adalah satu-satunya hal yang sudah final dan tidak terpecah belah. Ini menjadi kontras yang nyata dengan berbagai aliran yang ada dalam kekristenan:
| Pertanyaan | Jawaban Umat Islam (Tauhid) | Jawaban Aliran Kristen (Trinitarian/Unitarian) |
| Siapa Tuhanmu? | Allah | Bapa, Putra, Roh Kudus (satu hakikat) atau hanya Yesus (Jesus Only/Modalistik), dll. |
| Siapa Nabimu? | Muhammad | Jawaban bisa berbeda-beda tergantung denominasi. |
Karena masalah ketuhanan sudah final, umat Islam di seluruh dunia memiliki cara ibadah yang seragam, meskipun detail teknis seperti posisi tangan dalam salat mungkin sedikit berbeda.
“Kamu tanya orang Islam di seluruh dunia Tuhanmu siapa? Mesti Allah. Nabimu siapa? Muhammad. Sudah, karena sudah final masalah ketuhanan. Sehingga masjidnya di mana-mana sama, cara sembahyangnya ya sama.”
Hal ini menunjukkan kekuatan ajaran yang Maha Tunggal. Tuhan itu adalah Maha Tunggal (satu-satunya) dan Maha Pengampun (Ghafūru r-Raḥīm).
Konsep Pertanggungjawaban Amal: Adil dan Logis
Perbedaan mendasar kedua adalah tentang keselamatan dan penebusan dosa.
1. Tanggung Jawab Pribadi vs. Penebusan
Dalam ajaran Kristen yang diyakini sebelumnya, keselamatan didapat melalui penebusan dosa oleh Yesus di kayu salib. Artinya, tanpa curahan darah Yesus, tidak ada penyelamatan.
Namun, Islam menawarkan konsep yang lebih logis dan adil: Setiap orang bertanggung jawab penuh atas perbuatannya sendiri.
- Penebusan: Dalam Islam, tidak ada jaminan masuk surga hanya karena beriman. Perbuatan manusia akan ditimbang.
- Logika Adil: Jika kebaikan lebih banyak, ia masuk surga. Jika kejahatan (merampok, membunuh, berbuat maksiat) lebih banyak, ia masuk neraka.
“Adil enggak kalau begitu? Adil. Kalau yang merampok, membunuh, saya percaya Yesus, masuk surga misalnya, kan tidak bisa juga, toh? Mestinya itu juga tidak dibenarkan juga. Untuk apa orang berbuat baik?”
Ini diibaratkan seperti meminum obat: yang logis adalah obat yang diminum dengan aturan (dosis, pantangan makanan, dilarang berkendara). Jika melanggar aturan, obat itu tidak akan berfungsi maksimal. Begitu pula agama; harus diikuti aturannya, atau akan ada konsekuensi.
2. Akal dan Taubat: Peluang Diri Membersihkan Dosa
Islam sangat menekankan penggunaan akal (berpikir) sebelum beriman. Allah berulang kali menyebutkan pentingnya akal dalam Al-Qur’an (seperti frasa “bagi orang-orang yang berpikir”). Ini menjadikan larangan dalam Islam logis, contohnya larangan minuman keras yang merusak akal dan menjadi sumber kejahatan (mother of evil).
Meskipun dosa manusia sebesar apapun, Tuhan tetap Maha Pengampun, asalkan memenuhi syarat:
- Berhenti Berbuat Jahat: “Basuhlah, bersihkanlah dirimu. Jauhkanlah perbuatan-perbuatanmu yang jahat dari depan mataku. Berhentilah berbuat jahat.” (Yesaya 1:16, kitab yang sama-sama dihormati Yahudi dan Islam sebagai Tanakh).
- Berbuat Baik: Ganti kejahatan dengan kebaikan (membela fakir miskin, anak yatim, janda).
- Meminta Ampun Sungguh-Sungguh: Jika sungguh-sungguh meminta maaf, dosamu yang “merah seperti kirmizi akan menjadi putih seperti salju.”
Tidak diperlukan penebusan darah manusia untuk menghapus dosa.
Ikrar Sejati: Bapak Andreas Memeluk Islam
Setelah melalui dialog mendalam dan memantapkan hati pada konsep Tauhid dan keadilan amal, Bapak Andreas Situmeang menyatakan keyakinannya 100%—bahkan 1000%—untuk memeluk Islam.
Ia menegaskan bahwa keputusannya adalah rela hati, ikhlas, tanpa paksaan dari siapapun, dan tanpa iming-iming materi, bahkan jika ditawarkan uang miliaran untuk kembali.
Bapak Andreas Situmeang kemudian mengucapkan Syahadat:
Ashadu an lā ilāha illāllah, wa ashadu anna Muḥammad ar-rasūlullāh.
(Saya bersaksi bahwa tidak ada sesembahan kecuali Allah, dan saya bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.)
Mulai hari itu, agama Bapak Andreas adalah Islam. Ia berikrar akan menjauhi segala yang diharamkan (seperti babi dan minuman keras) dan menegaskan kecintaannya kepada Nabi Isa (Yesus) sebagai Nabi Allah, karena seorang Muslim sejati harus mencintai Nabi Isa (Rukun Iman kepada para Rasul).
Dengan demikian, Bapak Andreas Situmeang telah menjadi seorang Muslim sejati, kembali kepada fitrah yang diyakininya: mengesakan Allah yang Maha Tunggal.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
