
Kajian kristologi kembali disampaikan melalui kanal YouTube Mualaf Center Aya Sofya bersama Ustaz Ahmad Kainama. Pada sesi kali ini, pembahasan mengangkat tema yang kerap menjadi polemik menjelang 25 Desember, yakni “Yesus Lahir di Bawah Pohon Kurma: Fixed!! Yasus Orang Arab”. Sebuah topik yang bersumber dari Al-Qur’an Surah Maryam ayat 16–30 dan sering disalahpahami, bahkan dihujat, oleh sebagian kalangan.
Acara dipandu oleh Sari Rosa Sihombing dan dibuka dengan sapaan kepada para sahabat Aya Sofya dari berbagai daerah. Kajian ini tidak hanya membahas aspek teologis kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam, tetapi juga menyinggung persoalan toleransi beragama yang dinilai keliru dan tidak proporsional, khususnya dalam konteks perayaan Natal di ruang publik.
Pembukaan Kajian dan Latar Belakang Tema
Ustaz Ahmad Kainama mengawali kajian dengan permohonan maaf karena keterlambatan acara yang disebabkan oleh faktor cuaca. Setelah pembacaan hamdalah, shalawat, dan ayat-ayat suci Al-Qur’an, beliau menyampaikan rasa syukur kepada Allah SWT serta apresiasi kepada pemirsa yang setia mendukung dakwah Mualaf Center Aya Sofya.
Menjelang akhir tahun dan mendekati tanggal 25 Desember, Ustaz Ahmad Kainama menjelaskan bahwa dirinya banyak berkeliling di wilayah Jawa Barat dan DKI Jakarta untuk menyampaikan satu pesan penting: konsep toleransi beragama harus dipahami dan dipraktikkan secara benar, bukan sekadar mengikuti arus atau tekanan sosial.
Toleransi Beragama Menurut Perspektif Islam
Dalam pandangan Ustaz Ahmad Kainama, toleransi sejati bukanlah dengan ikut terlibat dalam ritual atau perayaan ibadah agama lain, melainkan dengan sikap saling menghormati tanpa mencampuradukkan akidah. Beliau menegaskan bahwa bagi seorang Muslim, tidak mengucapkan selamat Natal pada 25 Desember justru merupakan bentuk toleransi yang paling jujur dan konsisten terhadap keyakinan Islam.
Beliau mengkritisi fenomena sejumlah pejabat publik Muslim di DKI Jakarta yang ikut serta dalam kegiatan joget dan perayaan Natal di ruang publik bersama umat Kristen dan Katolik. Menurutnya, tindakan tersebut bukanlah toleransi, melainkan bentuk kekeliruan yang justru merusak makna toleransi itu sendiri.
“Toleransi itu bukan ikut beribadah bersama, bukan ikut bernyanyi atau berjoget dalam perayaan agama lain. Toleransi adalah menghormati, menjaga keamanan, dan memberikan ruang agar mereka beribadah dengan tenang,” tegas beliau.
Kritik terhadap Pejabat Publik dan Sinkretisme
Ustaz Ahmad Kainama menyampaikan kritik tajam namun dengan nada keprihatinan terhadap pejabat daerah yang dinilai memberikan contoh toleransi yang salah. Ia menilai bahwa keterlibatan pejabat Muslim dalam perayaan Natal justru menciptakan sinkretisme—pencampuran akidah—yang bertentangan dengan prinsip tauhid dalam Islam.
Beliau mengingatkan bahwa akidah seorang Muslim jelas ditegaskan dalam Surah Al-Ikhlas: Qul huwallahu ahad, Allahush-shamad, lam yalid wa lam yulad. Ketika seorang Muslim ikut membenarkan atau merayakan konsep teologis yang bertentangan dengan ayat tersebut, maka sesungguhnya ia sedang merusak fondasi keimanannya sendiri.
Lebih jauh, Ustaz Ahmad Kainama menyebut bahwa umat Kristen dan Katolik sendiri sejatinya tidak menginginkan umat Islam ikut masuk ke dalam ritual ibadah mereka, karena mereka memahami perbedaan mendasar dalam konsep ketuhanan.
Polemik Kelahiran Yesus dan Tuduhan terhadap Al-Qur’an
Memasuki inti tema kajian, Ustaz Ahmad Kainama menyoroti hujatan sejumlah YouTuber dan TikToker Kristen terhadap Al-Qur’an, khususnya Surah Maryam ayat 16–30 yang menjelaskan kelahiran Nabi Isa ‘alaihissalam di bawah pohon kurma.
Menurut beliau, tuduhan bahwa Al-Qur’an menghina Yesus adalah tuduhan yang keliru dan tidak berdasar. Justru sebaliknya, Islam memuliakan Nabi Isa dengan menyebutkan bahwa beliau lahir di tempat yang baik, bersih, dan layak, di bawah pohon kurma, bukan di kandang hewan yang tidak higienis.
“Yang menghina Yesus itu siapa sebenarnya? Apakah Al-Qur’an yang mengatakan beliau lahir di tempat yang baik, atau narasi yang menyebut beliau lahir di kandang ternak dan diletakkan di palungan tempat makan hewan?” ujar beliau dengan nada tegas.
Dasar Historikal, Biblikal, dan Teologikal
Ustaz Ahmad Kainama menegaskan bahwa narasi kelahiran Yesus di kandang hewan tidak memiliki dasar historikal, biblikal, maupun teologikal yang kuat. Ia menyebut bahwa klaim tersebut lebih banyak bersandar pada tradisi dan cerita populer, bukan pada data yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah maupun teks suci yang otentik.
Sebaliknya, Al-Qur’an memberikan gambaran kelahiran Nabi Isa yang lebih manusiawi, bermartabat, dan selaras dengan penghormatan terhadap seorang nabi pilihan Allah SWT. Oleh karena itu, hujatan terhadap Al-Qur’an terkait kisah ini dinilai sebagai bentuk ketidaktahuan sekaligus penghinaan terhadap Nabi Isa ‘alaihissalam itu sendiri.
Seruan untuk Meluruskan Makna Toleransi
Di akhir bagian kajian ini, Ustaz Ahmad Kainama kembali menyerukan kepada umat Islam, khususnya mereka yang memiliki akses kepada pejabat publik, agar menyampaikan pesan ini dengan jujur dan bertanggung jawab. Ia menekankan bahwa toleransi harus dirajut kembali secara proporsional, bukan dikacaukan oleh tindakan simbolik yang menyesatkan.
Menurut beliau, ketika seorang Muslim ikut serta dalam perayaan Natal dan membenarkan narasi teologis yang tidak sesuai dengan Islam, maka secara tidak sadar ia ikut serta dalam penghinaan terhadap Nabi Isa ‘alaihissalam yang justru sangat dimuliakan dalam Al-Qur’an.
Penegasan Kesalahan Penetapan 25 Desember dan Lokasi Kelahiran Yesus
Ustaz Ahmad Kainama melanjutkan kajiannya dengan penegasan bahwa perayaan kelahiran Yesus pada tanggal 25 Desember sama sekali tidak memiliki dasar data dan bukti yang sahih. Baik secara historikal, teologikal, maupun biblikal, tidak ada satu pun rujukan kuat yang menyatakan bahwa Nabi Isa ‘alaihissalam lahir pada tanggal tersebut.
Beliau menegaskan bahwa rujukan yang benar justru terdapat dalam Al-Qur’an Surah Maryam ayat 17 serta ayat 22 hingga 30, yang memberikan gambaran jelas tentang proses kelahiran Nabi Isa. Penetapan 25 Desember dinilai sebagai konstruksi tradisi belakangan yang terus diwariskan tanpa dasar ilmiah.
Menurut Ustaz Ahmad Kainama, ironisnya banyak kalangan Kristen sendiri yang memahami bahwa tanggal 25 Desember bukanlah tanggal kelahiran Yesus yang sebenarnya. Oleh karena itu, ketika pejabat Muslim ikut membenarkan dan merayakannya, mereka justru berpotensi menjadi bahan ejekan dan memperlihatkan ketidaktahuan terhadap sejarah serta teologi agama lain.
Musim Dingin, Gembala, dan Bantahan Natal Desember
Dalam kajian ini turut dikemukakan fakta sejarah mengenai para gembala dan kawanan domba di wilayah Palestina. Dijelaskan bahwa pada bulan Kislev hingga musim dingin ekstrem—sekitar Desember—para gembala tidak berada di padang rumput. Kawanan domba biasanya telah dipulangkan ke kandang sejak bulan Adar hingga Kaiswan, yakni antara Maret hingga November.
Ustaz Ahmad Kainama mengutip pandangan tokoh Kristen awal seperti Clement of Alexandria yang menyebutkan bahwa kelahiran Yesus diperkirakan terjadi pada 21 atau 22 April, bahkan ada pendapat lain yang menyebut sekitar 20 Mei. Fakta ini semakin menguatkan bahwa Desember bukanlah waktu yang masuk akal untuk peristiwa kelahiran tersebut, terlebih dengan kondisi suhu Betlehem yang dapat mencapai di bawah nol derajat pada musim dingin.
Doktrin Tuhan Menjadi Manusia dalam Kritik Teologis
Kajian kemudian beralih pada kritik mendasar terhadap doktrin ketuhanan dalam Kekristenan, khususnya ajaran bahwa Tuhan menjelma menjadi manusia dalam diri Yesus. Ustaz Ahmad Kainama membacakan pandangan keras dari Rabai Moshe ben Maimon (Maimonides), yang menilai konsep tersebut sebagai bentuk kesesatan teologis dan penghujatan tingkat tinggi.
Dalam pandangan Rabai tersebut, gagasan bahwa Tuhan Yang Maha Kuasa, pencipta langit dan bumi, dapat berubah menjadi makhluk yang lemah, berdarah, dan tunduk pada hukum ciptaan-Nya sendiri adalah konsep yang absurd. Hal ini dinilai bertentangan dengan ajaran Taurat yang menegaskan keterbatasan manusia dalam mengenal hakikat Tuhan.
Penjelasan ini digunakan untuk menunjukkan bahwa konsep inkarnasi tidak hanya bermasalah dalam perspektif Islam, tetapi juga mendapatkan penolakan keras dari tradisi Yahudi sendiri.
Bantahan terhadap Narasi Kelahiran di Kandang
Ustaz Ahmad Kainama kemudian memaparkan kajian dari sumber-sumber teologi Kristen modern yang menyatakan bahwa gambaran Yesus lahir di kandang ternak adalah penyederhanaan yang keliru. Berdasarkan analisis tekstual dan arkeologis, kelahiran Yesus lebih mungkin terjadi di sebuah rumah keluarga yang penuh sesak oleh kerabat, bukan di kandang bersama hewan.
Pendapat ini sejalan dengan kajian dari The Biblical Mind yang menyebut bahwa istilah yang selama ini diterjemahkan sebagai “penginapan” dalam Injil sesungguhnya merujuk pada ruang tamu rumah keluarga. Dengan demikian, narasi kandang dan palungan dipandang sebagai konstruksi teologis dan artistik belaka, bukan fakta sejarah.
Kritik terhadap Simbolisme Lagu dan Perayaan
Dalam konteks toleransi yang dinilai keliru, Ustaz Ahmad Kainama juga mengkritisi penggunaan lagu Jingle Bells dalam perayaan yang dianggap Natal. Dijelaskan bahwa lagu tersebut ditulis oleh James Lord Pierpont pada tahun 1857 untuk perayaan Thanksgiving, bukan Natal. Oleh karena itu, penggunaan lagu tersebut dalam perayaan keagamaan dinilai semakin menunjukkan kekacauan pemahaman sejarah dan simbolisme.
Beliau kembali menyerukan kepada umat Islam agar tidak ikut membenarkan kebohongan teologis yang telah diwariskan selama ratusan tahun. Menurutnya, toleransi tidak boleh dibangun di atas dusta, apalagi sampai mengorbankan prinsip akidah Islam dan penghormatan terhadap Nabi Isa ‘alaihissalam.
Kritik terhadap Konsep Toleransi yang Keliru
Ustaz Ahmad Kainama menekankan bahwa toleransi tidak berarti ikut mengamini atau merayakan ritual yang bertentangan dengan akidah Islam. Menghormati umat Kristen sebagai sesama manusia tidak sama dengan mengucapkan selamat atas keyakinan teologis yang diyakini keliru.
Ia menegaskan bahwa Islam melarang penghinaan, namun juga melarang pembenaran kebohongan. Oleh karena itu, umat Islam diminta bersikap tegas namun beradab, jujur pada sejarah, dan konsisten menjaga tauhid.
Membela Kemuliaan Nabi Isa ‘Alaihissalam
Kajian ini ditutup dengan penegasan bahwa Nabi Isa dalam Islam adalah nabi yang mulia, lahir secara suci, dan bukan Tuhan maupun anak Tuhan. Al-Qur’an hadir untuk memuliakan beliau, bukan menurunkannya ke dalam mitos, ritual pagan, atau komoditas budaya tahunan.
Dengan memahami sejarah secara jujur dan proporsional, umat Islam diharapkan mampu membangun toleransi yang bermartabat. Artinya, menghormati tanpa mencampuradukkan akidah, serta mencintai para nabi tanpa melanggar batas tauhid.
Sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ikhlas. Allah Maha Esa, tidak beranak dan tidak diperanakkan, dan tidak ada satu pun yang setara dengan-Nya.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
