Kebaikan Hati yang Menyentuh dan Awal Pencarian
Sebuah dialog spiritual yang mendalam terekam, mempertemukan beberapa tokoh agama dengan Bapak Daniel Lukas. Pak Daniel, yang dihormati dan dipanggil “Pak Daniel” oleh para narasumber, adalah seorang penganut Kristen yang aktif di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI), sebuah aliran Pantekosta. Kisah beliau sontak menjadi inspirasi tentang toleransi sejati.
Dengan hati yang lapang, Pak Daniel merelakan dan bahkan membiayai penuh pendidikan Islam istri dan anak-anaknya di pondok pesantren. Sebuah tindakan kebaikan yang luar biasa. Tidak berhenti di situ, Pak Daniel kini sedang berjuang mengumpulkan dana agar bisa mengumrohkan seluruh keluarganya, termasuk anak dan istri yang telah Muslim. Niat mulia ini, yang lahir dari seorang ayah yang berbeda keyakinan, menjadi bukti cinta dan pengorbanan yang tak ternilai.
Kebaikan Dunia dan Kebutuhan Akan Pengabadian Akhirat
Dialog dimulai dengan apresiasi mendalam terhadap kebaikan Pak Daniel. Namun, Ustadz Ipung menyampaikan sebuah poin teologis kritis:
“Kebaikan itu memang harus ada cara untuk mengabadikan. Kebaikan Bapak Pak Daniel Lukas ini hanya terbatas di dunia… mohon maaf ya, kalau beliau meninggal sewaktu-waktu, maka kebaikannya itu hapus, tidak akan sampai ke akhirat.”
Ini bukan untuk meremehkan kebaikan beliau, melainkan untuk menekankan bahwa menurut ajaran Islam, kebaikan yang dapat terabadikan dan berlanjut ke akhirat adalah amal yang didasari oleh Syahadatain (dua kalimat syahadat).
Syahadat adalah pengakuan fundamental tentang keesaan Allah dan pengakuan terhadap utusan-Nya. Syahadat ini, dalam esensinya, adalah ajaran universal seluruh nabi:
- Zaman Nabi Ibrahim: Ashadualla ilaha illallah wa Asyhadu anna Ibrahim Rasulullah.
- Zaman Nabi Musa: Ashadualla ilaha illallah wa Asyhadu anna Musa Rasulullah.
Hal ini kemudian disinkronkan dengan ajaran yang diriwayatkan dari Nabi Isa (Yesus) sendiri, seperti yang tertulis dalam Yohanes Pasal 17 Ayat 3:
“Inilah hidup yang kekal itu, bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar dan mengenal Yesus Kristus yang Kau utus-utusan.”
Frasa ini secara jelas mencerminkan dua pilar Syahadat: pengakuan Allah sebagai satu-satunya Tuhan yang benar (Tauhid) dan pengakuan Yesus Kristus sebagai utusan (Rasul) dari Allah.
Dekonstruksi Historis: Mengapa Yesus Tidak Mengenal Kristen
Diskusi kemudian beralih ke analisis sejarah agama, menegaskan kembali bahwa Yesus (Nabi Isa) tidak pernah mendirikan agama bernama Kristen.
- Yesus Mengajarkan Islam (Ketundukan): Selama Nabi Isa hidup, ajaran yang beliau bawa adalah Tauhid murni, yaitu bersaksi bahwa Allah adalah satu-satunya Tuhan (Ashadualla Ilallah) dan beliau adalah utusan-Nya. Agama yang dijalankan oleh beliau dan murid-muridnya adalah Islam (makna literal: ketundukan total kepada Tuhan).
- Munculnya Kristen: Para narasumber menjelaskan bahwa istilah “Kristen” baru muncul puluhan tahun setelah masa hidup Yesus, sekitar tahun 70 Masehi. Sosok yang diyakini bertanggung jawab atas penamaan dan penyebaran ajaran yang kemudian dikenal sebagai Kristen adalah Paulus.
- Pengikut Yesus vs. Pengikut Paulus: Jika seseorang ingin menjadi pengikut sejati Yesus, ia seharusnya mengikuti ajaran Tauhid yang dikhotbahkan Yesus. Ketika seseorang mulai menyembah Yesus, ini dianggap sebagai manifestasi dari ajaran Paulus, bukan ajaran asli Yesus.
“Maka ketika ajaran Paulus itulah mulai bahwa Yesus yang disembah… Kalau pengikut Yesus itu ya Ashadualla ilaha illallah wa Asyhadu anna Isa Rasulullah.”
Kesaksian Yerusalem: Pengakuan Para Rabbi Yahudi
Untuk memperkuat argumen tentang kesinambungan ajaran para nabi, dibagikanlah sebuah kisah nyata dari Yerusalem, tempat di mana Yesus dilahirkan.
Seorang Pendeta atau Pastor menceritakan bahwa dalam suasana santai dan rileks di Yerusalem, para Ustadz Muslim dan Rabi (guru) Yahudi dapat bersalaman dan merangkul dengan hangat. Namun, ketika Pendeta atau Romo hendak menjabat tangan Rabbi Yahudi, mereka menolak dengan tegas, bahkan menyebutnya “najis”.
Alasan penolakan ini, menurut Rabi, adalah karena Kristen dan ajarannya tidak dikenal dan tidak tercatat dalam kitab suci mereka (Tanakh/Taurat).
Lebih mengejutkan, ketika ditanya tentang Nabi Muhammad ﷺ, Rabbi Yahudi menjawab:
“Itu nama Kudus, itu saudara kami, itu suci.”
Kesaksian ini menunjukkan bahwa dalam pandangan Yudaisme ortodoks, agama yang merupakan akar keyakinan Nabi Isa, ada kontinuitas spiritual yang jelas antara Yudaisme dengan Islam (melalui Nabi Muhammad), namun terdapat diskontinuitas dengan Kekristenan yang muncul belakangan.
Perjanjian Lama, Perjanjian Baru, dan Inti Ajaran
Narasumber juga mengkritisi penamaan “Perjanjian Lama” dan “Perjanjian Baru” yang digunakan dalam Alkitab modern.
- Trik Halus: Pemberian nama “Perjanjian Lama” pada kitab Tanakh atau Taurat dinilai sebagai “trik halus” yang menyakitkan bagi orang Yahudi, seolah-olah firman Allah yang diwahyukan kepada Nabi Musa telah kedaluwarsa dan tidak berlaku lagi.
- Kesinambungan Wahyu: Dalam pandangan Islam, semua wahyu Allah, dari Taurat Nabi Musa hingga Injil Nabi Isa, adalah Firman Allah yang saling menyambung dan tidak ada yang dibatalkan. Al-Qur’an menghormati dan membenarkan kitab-kitab sebelumnya.
- Hukum Roh: Merespons argumen Kristen tentang “hukum lama sudah dibatalkan” pada saat penyaliban, Ustadz menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan Perjanjian Baru dalam Ibrani 10:16 (“hukum Aku berikan kepada batin mereka”) adalah Hukum Roh (Ilham). Ilham ini menerangkan bagaimana Taurat tetap diberlakukan, bukan dibatalkan. Ini termasuk penerangan tentang penyembahan berkiblat (salat) dan sebagainya.
“Tidak ada yang dibatalkan… yang dimaksudkan adalah ada perjanjian baru, artinya ruh dari Allah yang dikaruniakan… menerangkan kitab suci itu.”
Bukti Empiris: Umat Islam Mengamalkan Bibel
Puncak dari dialog logika ini adalah perbandingan eksplisit antara praktik umat Islam dan praktik umat Kristiani terhadap perintah-perintah yang tertulis jelas dalam Alkitab (Bibel), yang dijadikan sebagai “taruhan perjanjian kita dengan Tuhan” di akhirat.
Tabel komparasi yang disajikan menjadi bukti kuat bahwa umat Islam secara konsisten mengamalkan perintah-perintah biblikal, sementara mayoritas umat Kristiani modern justru tidak:
| Perintah Alkitab | Ayat Referensi | Pengamalan Umat Islam | Kontras dengan Mayoritas Umat Kristiani |
| Berpuasa (Merendahkan Diri) | Matius 4:2, Imamat 23:29 | Diamalkan (Puasa wajib di Ramadan) | Tidak ada puasa wajib yang terstruktur |
| Sunat (Perjanjian Agung) | Lukas 2:21, Kejadian 17:9-14 | Wajib dijalankan sejak bayi | Mayoritas tidak bersunat; Paulus melarang sunat |
| Larangan Babi | Imamat 11:7-8 | Diharamkan mutlak | Bebas dikonsumsi |
| Tauhid (Mengesakan Allah) | Markus 12:29 | Tuhan kita Allah itu Satu | Menerima konsep Trinitas |
| Tata Cara Ibadah (Sujud ke Tanah) | Nehemia 8:6 | Salat dengan sujud ke tanah | Beribadah dengan posisi berdiri/duduk |
| Dilarang Minuman Keras | (Diajarkan dalam banyak konteks) | Diharamkan mutlak | Disajikan dalam Perjamuan Kudus (Wine) |
| Doa (Yesus berdoa kepada Allah) | Matius 27:46 | Berdoa hanya kepada Allah (Tuhan) | Berdoa kepada Yesus |
“Justru kami orang Islam ini yang mengamalkan Seluruh ajaran Alkitabnya… karena apa? Justru kami orang Islam ini yang mengamalkan Seluruh ajaran Alkitabnya.”
Hormat Kepada Orang Tua di Atas Perbedaan Agama
Menutup diskusi, Pak Daniel mengakui, “Memang masuk. Islam kan agama Logika dan memang bisa diterima akal.”
Namun, pertimbangan terbesarnya adalah perasaan ibunya yang sangat aktif di gereja. Jika ia masuk Islam, ia khawatir akan menyakiti hati orang tuanya.
Para narasumber menjelaskan ajaran Islam tentang Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua) melalui nasihat Luqmanul Hakim yang diabadikan dalam Al-Qur’an (QS. Luqman: 13-15):
- Jangan Ikuti Kesyirikan: “Janganlah engkau musyrik kepada Allah.” (Perkara menyembah selain Allah tidak boleh diikuti).
- Tetap Wajib Hormat dan Berbuat Baik: “Tetapi kamu harus tetap bersikap baik dan mengerti tentang beliau, tentang dengan orang tua. Gimana kita berkata kasar pun nggak boleh, meskipun itu beda agama. Tetap muliakan mereka.”
Islam mengajarkan keseimbangan: memisahkan urusan akidah (keimanan kepada Allah Yang Esa) dengan urusan muamalah (interaksi sosial). Keyakinan tetap dijaga, tetapi rasa hormat dan kasih sayang kepada orang tua harus tetap dijaga.
Islam yang Ramah dan Menyejukkan Hati
Pak Daniel mengakhiri pertemuan dengan kesan yang mendalam:
“Selama ini kan mungkin di pemikiran saya itu Islam itu yang radikal… padahal kenyataannya ya nggak seperti itu juga… malah saya lebih senang dan lebih mengenal bahwa sebetulnya Islam itu bukan radikal tapi Islam yang ramah… seperti ini yang bisa mengenal di hati kita.”
Beliau juga menceritakan bagaimana ia dan keluarganya didoakan di depan Ka’bah oleh temannya, sebuah isyarat spiritual yang menguatkan perjalanannya.
Kisah Bapak Daniel Lukas adalah cerminan bahwa hidayah datang dari berbagai pintu, seringkali melalui logika, kebaikan, dan keramahan. Semoga Allah SWT mempermudah langkah beliau dalam pencarian kebenaran, agar niatnya mengumrohkan keluarga dapat segera terlaksana, dan beliau pun dapat berdiri bersama mereka di hadapan Ka’bah sebagai hamba yang bersaksi atas keesaan Allah.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
