Pada sebuah malam yang sejuk, dalam sebuah siaran dakwah, Ustaz membuka acara dengan memperkenalkan seorang pemuda berusia 21 tahun bernama Jian Ruben Prisma Lakunsing. Wajahnya teduh, suaranya tenang, dan dari sikapnya terpancar hormat serta kerendahan hati. Jian adalah seorang mahasiswa Universitas Negeri Malang (UM), dulu dikenal sebagai IKIP Malang, sebuah kampus yang berdampingan dengan Universitas Brawijaya.
Sosok Jian: Mahasiswa Gizi yang Penuh Ketelitian
Jian saat ini menempuh studi Jurusan Gizi. Ia menjelaskan bahwa profesi gizi tidak hanya mengatur makanan, tetapi juga memberikan terapi diet bagi pasien. Jika dokter mengobati dengan obat-obatan, ahli gizi menolong pasien melalui makanan yang tepat—menu yang diatur sesuai usia, penyakit, pantangan, hingga kebutuhan cairan. Ia sekarang memasuki semester lima dan bersiap magang di Rumah Sakit Lavalette, sebuah tahap penting sebelum KKN dan penulisan skripsi.
Namun, yang lebih menarik dari pemuda ini bukan hanya perjalanan akademiknya, tetapi perjalanan spiritual yang penuh gejolak di balik wajahnya yang tenang.
Awal Pertemuan: Ketika Sebuah Keluarga Menemukan Cahaya
Perkenalan Jian dengan Ustaz berjalan tidak biasa. Awalnya, yang menghubungi Ustaz adalah ibunya—seorang ibu yang menginginkan seluruh keluarganya mendapat hidayah dan bersyahadat. Di rumah mereka di Subang, ibu dan adik Jian telah lebih dulu mengucapkan kalimat syahadat. Namun Jian, meski berada di rumah yang sama, sempat menghindar dan tak ingin bertemu langsung dengan Ustaz.
Saat pertama kali Ustaz datang ke rumahnya, Jian terlihat menyambut sebentar lalu menghilang entah ke mana. Ustaz pun sempat bertanya kepada sang ibu, “Yang laki-laki tadi siapa? Kenapa tidak mau bertemu?”
Sang ibu menjelaskan bahwa Jian memang sedang mengalami pergulatan batin. Baru kehilangan ayah, lalu tiba-tiba harus membuat keputusan besar tentang agama, tentu bukan hal yang mudah.
Perasaan Berat di Tengah Duka
Jian mengakui dengan jujur bahwa saat itu hatinya masih sangat berat. Bukan karena menolak Islam, tetapi karena ia baru saja kehilangan sosok ayah yang sangat dekat dengannya. Ayahnya adalah seorang Kristen yang sangat tegas dalam ketataatan beragama. Tidak ke gereja berarti dimarahi, dan sejak kecil Jian tumbuh dalam didikan Kristen yang disiplin.
Karena itu, ketika keluarga mulai mendekati Islam tepat setelah ayah meninggal, Jian merasa takut dianggap tidak menghargai almarhum ayahnya. Ada rasa bersalah, seolah berpindah agama adalah bentuk pengkhianatan.
Namun ia menegaskan:
“Bukan saya tidak mau, tapi hati saya waktu itu belum srek. Masih ada rasa tidak enak kepada ayah.”
Kegelisahan: Takut Dipaksa, Takut Salah Langkah
Ketika ibunya menyampaikan bahwa mereka akan bersyahadat, Jian memilih menghindar. Ia takut jika bertemu Ustaz, dirinya bakal dipaksa. Bukan karena Islam menakutkan baginya, tetapi karena ia ingin keputusannya murni, tanpa tekanan.
Seiring waktu, Jian memikirkan pilihannya berulang-ulang. Ia mempertanyakan:
- Apakah saya benar-benar ingin masuk Islam?
- Apa saya sanggup meninggalkan agama ayah?
- Bagaimana bila ini dianggap tidak menghormati beliau?
Namun semakin lama ia merenung, semakin kuat perasaan di dalam hatinya: bahwa ia memang ingin masuk Islam.
Sebuah Ikrar yang Datang dari Niat Murni
Dalam perenungan panjang itu, Jian juga sempat berdiskusi dengan teman-temannya. Ia menanyakan hal-hal dasar:
- Masuk Islam itu seperti apa?
- Apa yang harus dilakukan?
- Bagaimana pandangan Islam terhadap Yesus?
Temannya menjelaskan dengan sabar, memperluas pemahaman Jian tentang nilai-nilai Islam. Penjelasan itu membuat hatinya semakin mantap.
Akhirnya ia menghubungi ibunya dan berkata:
“Ma, minta nomor Ustaz yang kemarin. Aku mau ketemu.”
Ia menegaskan bahwa keinginannya bukan karena dipaksa, tetapi lahir dari dirinya sendiri. Ketika akhirnya bertemu dengan Ustaz di Malang—bahkan sempat direkam dalam video—justru pertemuan itu semakin menenangkan hatinya. Ada rasa yakin yang tumbuh.
Dan di situlah, di Kota Malang, ia mantap mengucapkan kalimat syahadat.
Clue Hidayah: Ketika Mencari Yesus, Ia Menemukan Islam
Ustaz bertanya kepada Jian apakah terdapat satu “clue”—suatu momen khusus—yang membuatnya benar-benar yakin meninggalkan keraguannya. Jian kemudian menceritakan kisah yang ia simpan sendirian sejak SMA.
Meski beragama Kristen, setiap kali ada pelajaran agama Islam di sekolah, guru mempersilakannya keluar kelas. Namun Jian tidak pernah keluar. Ia memilih tetap duduk, mendengarkan, dan menyimak semua yang disampaikan guru agama Islamnya.
Suatu hari, sang guru menyampaikan sesuatu yang mengguncang pikirannya:
“Yesus itu bukan Tuhan, tetapi utusan Allah.”
Kalimat itu menempel di kepalanya bertahun-tahun. Ia penasaran—benarkah begitu? Saat SMA boleh membawa HP, Jian mulai mencari sendiri.
Ia membuka Alkitab, mencari dalam bahasa Indonesia dan Inggris, membaca penjelasan dari berbagai sumber. Ternyata ia menemukan banyak ayat yang menunjukkan bahwa Yesus adalah utusan, bukan Tuhan itu sendiri. Dari situ, sebuah pintu kecil dalam hatinya terbuka, meski belum cukup kuat untuk membuatnya berpindah.
Namun ia selalu ingat kalimat itu. Ia simpan dalam hati, sampai bertahun-tahun kemudian rasa penasaran itu berubah menjadi hidayah.
Mencari Kebenaran dari Sumber Asli: Ketika Hati Mulai Terbuka
Pencarian kebenaran itu tidak terjadi dalam satu malam. Sejak masa SMA, narasumber telah menemukan banyak informasi dari internet dan berbagai literatur yang membuatnya berpikir ulang. Salah satu titik perubahan terbesar adalah ketika ia memahami bahwa Alkitab sendiri tidak pernah menuliskan secara eksplisit bahwa Yesus adalah Tuhan.
Alih-alih mendukung konsep ketuhanan Yesus, ia justru menemukan banyak ayat yang menunjukkan bahwa Yesus sendiri berdoa, bersujud, dan menyembah kepada Bapa, yang dalam Islam dipahami sebagai Allah. Bagi dirinya, itu menjadi “clue” pertama, tanda bahwa pemahamannya selama ini perlu ditinjau ulang.
Yang awalnya sekadar rasa penasaran, lambat laun berubah menjadi kegelisahan intelektual. “Kalau Yesus menyembah Tuhan, berarti Yesus bukan Tuhan,” begitulah ia memikirkan logika dasarnya.
Namun ia tidak tergesa-gesa membuat keputusan. Ia tahu bahwa langkah itu berat, bukan hanya secara spiritual, tetapi juga karena keberadaan almarhum ayahnya, yang sangat ia hormati. Selama orang tuanya masih hidup dan membiayai pendidikannya, ia menjaga perasaannya baik-baik. Ia ingin menghormati mereka tanpa membuat luka di tengah keluarga.
Hidayah yang Menguatkan: “Saya Sama Sekali Tidak Menyesal”
Setelah orang tuanya tiada, ia mulai menata ulang hidupnya. Dan ketika pintu hidayah benar-benar terbuka, ia merasakan keyakinan yang bulat—tanpa keraguan sedikit pun.
Ketika ditanya apakah ia menyesal setelah menjadi muslim, wajahnya langsung berubah tegas.
“Seratus persen tidak menyesal. Sama sekali tidak,” ujarnya mantap.
Ujian hidup memang datang silih berganti. Bahkan sekarang keluarganya sedang berada pada masa-masa sulit. Tetapi itu tidak membuatnya goyah. Ia diberi pertanyaan berat oleh Ustaz:
“Kalau kamu tidak punya uang, bahkan untuk makan pun harus berhutang, lalu ada keluarga yang menawarkan 5 miliar asalkan kamu kembali ke Kristen—apa yang kamu pilih?”
Jawabannya tidak bergeser sedikit pun.
“Saya tidak akan kembali. Walaupun mereka menawarkan uang sebanyak apa pun.”
Ia memilih Islam bukan karena keuntungan duniawi. Ia memilih Islam karena kebenaran yang ia rasakan langsung mengisi hatinya.
Tidak Meninggalkan Yesus—Justru Mengenal Beliau dengan Lebih Murni
Salah satu ketakutan terbesar banyak orang Kristen yang ingin belajar Islam adalah:
“Apakah saya meninggalkan Yesus?”
Namun justru di sinilah ia menemukan kedamaian terbesar.
“Saya tidak merasa meninggalkan Yesus,” katanya.
Ia baru memahami bahwa dalam Islam, Yesus bukan dihapuskan atau diremehkan—tetapi dimuliakan dengan gelar Nabi Isa Al-Masih, utusan agung yang membawa wahyu suci, lahir tanpa ayah, dan penuh mukjizat. Baginya, itu adalah pencerahan yang menenangkan, bukan ancaman.
Justru setelah masuk Islam, ia memahami Yesus lebih dekat dengan identitas asli beliau. Ia mengetahui bahwa:
- Yesus adalah nama Latin/Yunani;
- Isa adalah nama asli dalam bahasa Ibrani–Arab yang lebih mendekati nama kelahiran beliau;
- Banyak gereja di Indonesia bahkan masih menggunakan nama “Gereja Isa Almasih” sebelum proyek perubahan nama dilakukan.
Ini membuat ia semakin yakin bahwa Isa dalam Islam dan Yesus dalam kekristenan adalah pribadi yang sama, hanya berbeda pemahaman tentang peran dan ketuhanannya.
Mendalami Islam: Dari Salat hingga Mengaji
Setelah bersyahadat, ia tidak berhenti di gerbang masuk. Ia melangkah semakin dalam, mempelajari satu per satu kewajiban dan ibadah dalam Islam.
Kini ia sudah:
- mampu salat lengkap dengan bacaannya,
- berpuasa Ramadan penuh,
- belajar mengaji,
- dan belajar adzan meski belum lancar.
Ketika diminta membaca Surah Al-Fatihah, suaranya bergetar tetapi lancar. Ustaz memuji, bukan hanya karena hafalannya, tetapi karena ketulusan yang terpancar dari cara ia membaca.
Islam Mengubah Kebiasaannya: Menjadi Lebih Bersih, Lebih Disiplin, Lebih Teratur
Perubahan yang paling ia rasakan bukan hanya pada akidah, melainkan juga pada gaya hidup.
Islam mengajarkannya tentang:
- kebersihan, mulai dari tata cara buang air hingga menjaga pakaian dari najis;
- halal dan haram, terutama makanan dan minuman yang berdampak buruk bagi tubuh;
- disiplin waktu, terutama karena salat Subuh memaksanya bangun pagi setiap hari;
- kesadaran diri, sebab ia belajar bahwa larangan Allah bukan untuk menyulitkan, tetapi menjaga manusia.
Ia bahkan menghubungkan pengetahuan gizi yang dipelajarinya di kampus dengan hikmah syariat—bahwa banyak yang diharamkan ternyata memang terbukti merusak kesehatan.
Baginya, Islam bukan sekadar agama. Islam adalah sistem hidup yang membuatnya menjadi manusia yang lebih baik.
Mengapa Takut Meninggalkan Yesus?
Menjelang akhir percakapan, Ustaz menyampaikan sebuah pesan penting. Banyak orang Kristen yang ingin belajar Islam tetapi takut bersyahadat karena mengira mereka meninggalkan Yesus.
Padahal, sebagaimana narasumber ini rasakan, masuk Islam bukan meninggalkan Yesus—tetapi meninggalkan konsep ketuhanan Yesus, dan kembali kepada ajaran tauhid yang juga diajarkan para nabi, termasuk Isa sendiri.
Nanti di bagian berikutnya, Ustaz akan menyampaikan jawaban lengkap bagi siapa saja yang masih bertanya-tanya:
“Apakah saya meninggalkan Yesus jika masuk Islam?”
Jawaban itu akan menjadi penutup yang menenangkan, bukan hanya bagi narasumber ini, tetapi juga bagi pembaca yang mungkin merasakan hal yang sama.
Keanehan-keanehan dalam Narasi Penyaliban: Antara Akal Sehat, Rigor Mortis, dan Kesaksian Al-Kitab
Setelah menegaskan ayat penting dalam Surah An-Nisa ayat 157, ceramah Ustaz kemudian memasuki analisis logis mengenai penyaliban Yesus berdasarkan Alkitab, sains dasar tentang tubuh manusia, serta kronologi peristiwa penangkapan. Ia menekankan bahwa Al-Qur’an sudah memberikan jawaban tegas—bahwa Yesus tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan ada seseorang lain yang diserupakan dengannya. Namun, untuk orang-orang Kristen sendiri, keraguan justru datang dari naskah mereka sendiri, dari kronologi yang tidak solid, hingga dari reaksi Yesus ketika menghadapi ancaman kematian.
Rigor Mortis dan Kematian yang Tidak Sukarela
Ustaz menghubungkan konsep penyaliban dengan ilmu Rigor mortis, yaitu proses kekakuan tubuh setelah mati. Dalam dunia gizi dan kelautan, rigor mortis menentukan cepat atau lambatnya pembusukan daging. Ikan yang mati secara terkejut, tersiksa, dan “berteriak tanpa suara”, akan membusuk lebih cepat karena tubuhnya memasuki fase kekakuan ekstrem.
Analogi ini membawa pada satu pertanyaan besar:
Jika Yesus benar-benar disalib setelah melalui pengejaran, penolakan, ketakutan, dan keengganan untuk mati—bukankah itu kematian yang penuh penderitaan, bukan pengorbanan sukarela?
Narasi Alkitab menunjukkan bahwa Yesus tidak tenang dalam menghadapi kematian. Ia bukan datang kepada tentara dengan menyerahkan diri, tetapi justru bersembunyi, dikejar, dan berdoa dengan penuh kecemasan. Ini berlawanan dengan konsep “pengorbanan sukarela”.
Yesus Tidak Mau Mati: Doa Memohon Diselamatkan
Dalam buku First Bible Stories—yang memuat rangkuman Alkitab beserta ayat-ayat rujukannya—terdapat adegan penting dari Matius 26:39:
“Bapa, jika mungkin, selamatkanlah aku dari kematian ini.”
Buku itu merangkum bahwa Yesus berulang kali memohon agar kematian tersebut dijauhkan darinya. Ia gelisah, berdoa lebih jauh ke taman, dan kembali mendapati murid-muridnya tertidur ketika ia sedang menghadapi ketakutan paling besar dalam hidupnya.
Logika sederhana kemudian muncul:
Jika Yesus sendiri meminta diselamatkan dari kematian, maka siapa sebenarnya yang mati di kayu salib?
Inilah pertanyaan yang tetap menggantung dalam teologi Kristen selama ribuan tahun.
Kegelapan, Ciuman Yudas, dan Identitas yang Tidak Jelas
Ustaz kemudian membahas detail penting dalam peristiwa penangkapan:
- Kondisinya gelap.
- Yudas berkata bahwa ia akan memberikan tanda melalui ciuman.
- Dalam kegelapan, tidak jelas siapa mencium siapa.
- Tentara datang “asal tangkap” berdasarkan tanda yang samar.
Fakta bahwa kondisi itu kacau, gelap, dan tidak pasti membuka peluang besar terjadinya kesalahan identitas—yang oleh Al-Qur’an disebut sebagai peristiwa tasybih, yaitu adanya seseorang yang diserupakan sebagai Yesus.
Kontradiksi dalam Sikap Kristen: Mengutuk Pelaku, Tetapi Merayakan Hasilnya
Masuk pada bagian yang paling menarik, Ustaz menggambarkan satu ironi besar:
- Dalam teologi Kristen, penyaliban Yesus dianggap penebusan dosa dan peristiwa yang membawa keselamatan.
- Namun orang-orang yang berperan dalam penyaliban itu dikutuk, dianggap jahat, dan dipandang sebagai musuh.
Padahal jika benar penyaliban adalah misi keselamatan, maka:
- Iblis,
- Yudas Iskariot,
- imam-imam Yahudi,
- Pontius Pilatus,
- dan tentara Romawi,
harusnya dipuji karena “berjasa besar” untuk menyukseskan penyaliban.
Tetapi faktanya, kelima pihak itu justru dihujat dalam doktrin gereja.
Ini adalah ironi yang menunjukkan disharmoni teologis: sesuatu yang dianggap “jalan keselamatan” tetapi justru dikerjakan oleh pihak yang dianggap “jahat”.
Yudas: Pengkhianat atau Pahlawan?
Dalam buku First Bible Stories, Yudas digambarkan diliputi rasa bersalah setelah menyadari bahwa orang yang ia laporkan “tidak bersalah”. Ia mengembalikan 30 keping perak dan akhirnya menggantung diri.
Di sini muncul pertanyaan kritis dari Ustaz:
- Jika Yudas menyebabkan Yesus ditangkap dan terbunuh, dan jika kematian itu diperlukan untuk menebus dosa dunia, bukankah Yudas berjasa?
- Mengapa ia justru dianggap pengkhianat?
- Mengapa ia masuk daftar tokoh jahat, padahal tanpa tindakannya, penyaliban—yang dianggap inti keselamatan Kristen—tidak akan terjadi?
Ustaz menegaskan bahwa menilai Yudas sebagai pengkhianat justru tidak selaras dengan doktrin penebusan, dan itu menunjukkan adanya keganjilan mendasar.
Misteri Sejarah yang Terus Dikaji
Kisah Yudas, penyaliban Yesus, dan perdebatan mengenai penebusan dosa adalah rangkaian sejarah yang hingga kini masih menyisakan banyak pertanyaan. Para peneliti, akademisi, hingga mahasiswa lintas jurusan terus mengkaji ulang titik-titik sejarah yang terputus, mencari jawaban melalui metode ilmiah dan pendekatan teologis.
Dalam Islam maupun Kristen, sosok Yesus Kristus memiliki posisi sentral. Justru karena “diperebutkan” dua agama besar, kajian tentang beliau menjadi ladang penelitian yang tak pernah berhenti. Perbandingan agama (comparative religion) hadir bukan untuk memicu pertentangan, namun untuk memperjelas fakta, meluruskan kekeliruan, serta menunjukkan bagaimana kebenaran wahyu berdiri di atas dasar yang kokoh.
Melihat Yesus dalam Perspektif Islam dan Kristen
Diskusi mengenai apakah Yesus benar-benar disalib, apakah ada penebusan dosa, atau mengapa tokoh seperti Yudas dianggap penjahat padahal dalam logika narasi justru ‘berjasa’, adalah hal-hal yang sering ditanyakan oleh banyak umat Kristen kepada para dai. Bukan untuk menyudutkan keyakinan tertentu, tetapi untuk menemukan konsistensi sejarah dan kebenaran teologis.
Islam datang meluruskan, bukan menghina. Al-Qur’an memberikan gambaran yang tegas bahwa Allah tidak menzalimi Nabi-Nya. Sementara banyak penganut Kristen masih menggali kembali fondasi kisah penyaliban, mencoba memahami apakah narasi itu runtut atau menyimpan celah logika. Diskusi seperti ini bukan konflik, melainkan proses pencarian kebenaran.
Pengabdian untuk Para Mualaf: Kisah Mas Jian
Pada bagian akhir kajian ini, perhatian dialihkan kepada kisah nyata Mas Jian—seorang mahasiswa Universitas Negeri Malang, mualaf yang dibina oleh Mualaf Center Ayasofia. Cerita tentang perjalanan pendidikannya, kondisi keluarganya yang hidup sangat sederhana, serta perjuangannya menyelesaikan kuliah di tengah keterbatasan ekonomi adalah potret nyata bagaimana hidayah datang bersama ujian.
Keluarga Mas Jian, setelah bersyahadat, hidup sebagai keluarga muslim baru yang terus belajar. Ketika tim Mualaf Center bertemu mereka, terlihat jelas bahwa kehidupan mereka jauh dari kata cukup, namun semangat untuk berubah dan bertahan begitu besar. Dengan UKT yang mencapai jutaan rupiah setiap semester, biaya makan, transportasi, dan kebutuhan kuliah lainnya, Mas Jian menghadapi pergulatan yang tidak ringan.
Namun Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya. Melalui upaya penurunan UKT, bantuan UPZ Masjid Al-Hikmah, serta dukungan sepeda motor dari Mualaf Center, jalan untuk terus belajar perlahan terbuka. Mas Jian menjalani semuanya dengan sabar, tekun mengikuti kegiatan-kegiatan keagamaan agar tetap berhak menerima bantuan. Inilah hidayah yang dirawat dengan kerja keras, bukan sekadar diterima begitu saja.
Doa dan Harapan untuk Masa Depan
Dengan semua perjalanan ini, perdebatan sejarah, kajian keagamaan, hingga kisah kemanusiaan seorang mualaf, kita belajar bahwa kebenaran hanya bisa ditegakkan dengan akal sehat, bukan dengan memaksakan narasi yang “basah” atau rapuh.
Kisah Yesus Kristus dalam perbandingan agama memberikan ruang refleksi. Sementara kisah Mas Jian memberikan ruang empati. Dua-duanya mengajarkan bahwa cahaya hidayah datang bukan untuk dipajang, tetapi untuk diperjuangkan.
Mualaf Center Ayasofia terus mengajak masyarakat yang memiliki kelapangan rezeki untuk menjadi orang tua asuh bagi para mualaf yang sedang menempuh pendidikan. Bagi mereka yang ingin membantu Menegakkan benang basah tidak mungkin; yang mungkin adalah menegakkan akal sehat, membela kebenaran, dan menguatkan sesama.
Semoga Allah SWT memberikan kekuatan kepada setiap pencari kebenaran, membimbing setiap langkah para mualaf yang sedang belajar, serta membuka hati seluruh umat manusia agar mau mengkaji sejarah dengan jujur.
Kisah ini bukan sekadar catatan sejarah atau dokumentasi dakwah. Ini adalah cermin tentang bagaimana kita memandang iman, perjuangan, dan kemanusiaan.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
