Alhamdulillah, pada sebuah malam yang penuh berkah, terjadi sebuah pemandangan spiritual yang mengharukan. Setelah sebelumnya sang suami, Bapak Triojka, telah lebih dulu mengucapkan syahadat dan kembali ke agama Islam, kini giliran sang istri, Ibu Eva Ira Puji Astuti (Bu Ira), menyusul untuk memeluk Islam.
Keputusan mulia ini diambil hanya berselang satu pekan setelah syahadat suaminya, menandai kembalinya pasangan ini ke “kampung halaman” spiritual mereka.
Latar Belakang Keagamaan Bu Ira
Dalam perbincangan, Bu Ira menceritakan latar belakangnya yang pernah dibaptis dan menjalani kehidupan sebagai seorang Kristen. Bu Ira menunjukkan surat baptisan dari Gereja Bethel Tabernakel Rehobot, tempat ia dibaptis pada hari Sabtu, 19 April 2025. Surat baptisan tersebut mengutip Roma pasal 6 ayat 4:
“Dengan demikian, kita telah dikuburkan bersama-sama dengan Dia oleh baptisan dalam kematian, supaya sama seperti Kristus telah dibangkitkan dari antara orang mati oleh kemuliaan Bapa, demikian juga kita akan hidup dalam hidup yang baru.”
Berdasarkan surat baptisan tersebut, Bu Ira dibaptis di gereja yang diasuh oleh Pendeta Erastus Sabdono dan dilayani oleh Pendeta Ekoseno, S.Th.
Sama seperti suaminya, Pak Triojka, mereka berdua dibaptis melalui metode ditenggelamkan (baptis selam) di gereja yang sama.
Rasa Rindu yang Menyeruak dan Keputusan Sendiri
Bu Ira menjelaskan bahwa keputusan untuk kembali memeluk Islam adalah keputusan sendiri, bukan paksaan dari suami. Setelah menjalani kehidupan Kristen, ia merasakan rasa rindu yang menyeruak di dalam dada untuk kembali.
- Pemicu Awal: Sejak awal, Bu Ira meyakini Allah Subhanahu wa Ta’ala sebagai Tuhannya.
- Aktivitas Gereja: Meskipun aktif ke gereja, bahkan sampai didatangi pendeta ke rumah jika tidak hadir, Bu Ira mengakui bahwa ia tidak pernah meyakini ajaran tersebut dari hati.
- Perasaan di Gereja: Ia bahkan menyamakan kunjungannya ke gereja seperti “masuk tempat karaoke” yang hanya untuk senang-senang (happy-happy). Ia seringkali tidak mendengarkan pelajaran Alkitab.
- Doa Batin: Bu Ira mengaku sering berdoa dalam hati saat berada di gereja: “Ya Allah, bubarkan pesta ini,” bahkan sampai menangis. Di dalam hatinya, ia sering menyebut asma Allah seperti Allahu Akbar, Subhanallah, dan Insya Allah saat bersama jemaat.
“Tuhan saya itu Allah. Kita ke sana itu enggak meyakini dari hati… Ya, itu tadi saya cuma seperti masuk tempat karaoke gitu aja. Happy-happy.”
Teguran dan Introspeksi Diri
Titik balik utama Bu Ira adalah ketika ia diuji dengan sakit yang parah selama lima bulan, yang ia sebut rasanya seperti “hidup di neraka” dan sempat mengganggu penglihatannya. Ia menganggap ini adalah teguran dari Allah SWT.
Bu Ira merasa bersalah karena telah salah jalan dan ingin kembali menjadi istri terbaik bagi suaminya, sekaligus berusaha menyadarkan suaminya.
“Ya Allah aku sudah jalan jalanku sudah salah. Terutama suamiku yang mendampingi aku… Saya intropeksi diri. Masih syukur, alhamdulillah saya dikasih sakit sebenan [sebenarnya].”
Ia juga mengungkapkan bahwa kekecewaan terbesarnya adalah menyaksikan sang anak yang selama ini ia impikan menjadi panutan, mengalami kegagalan dalam imannya. Keinginan utama Bu Ira kembali ke Allah adalah agar keluarganya kembali lagi seperti dulu, yang tidak pernah mengalami pertengkaran.
Refleksi Kristiani: Pedang atau Perdamaian?
Dalam sesi tanya jawab, Ustaz Ipung sempat mengajukan pertanyaan reflektif kepada Bu Ira mengenai ajaran Kristen. Ustaz Ipung membacakan sebuah ayat dari Bible (Kitab Suci Kristen) dalam Bahasa Arab (Matius pasal 10 ayat 34), yang kemudian diterjemahkan:
“Janganlah engkau menyangka aku datang ke muka bumi ini untuk membawa perdamaian, tapi aku datang ke atas muka bumi ini untuk membawa pedang.”
Ustaz Ipung meminta Bu Ira untuk berkomentar secara objektif, apakah ayat tersebut terkesan kasar atau halus, dan apakah mengajak perdamaian atau perang.
Bu Ira dengan jujur menjawab bahwa ayat tersebut terasa kasar dan mengajak perang.
Di akhir sesi tersebut, Ustaz Ipung menegaskan bahwa ayat tersebut adalah perkataan Yesus dalam Injil Matius, bukan dari Al-Qur’an. Ini bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada Bu Ira bahwa ajaran yang ia jalani sebelumnya juga memiliki sisi yang mungkin ia anggap keras, sekaligus menghilangkan keraguan Bu Ira terhadap Islam, yang ia cari sebagai “agama yang benar-benar jadi panutan.”
Akhir Perjalanan: Kembali ke Fitrah
Setelah melalui berbagai pergulatan batin, termasuk perasaan dihantui dosa selama di gereja, Bu Ira akhirnya membulatkan tekad untuk kembali ke Islam. Suaminya, Pak Triojka, yang sempat ia sarankan untuk mencari jalannya sendiri, kini telah bersyahadat dan menjadi imam yang baik.
Bu Ira mengungkapkan kebahagiaannya karena suaminya telah terbuka sendiri tanpa paksaan darinya, menunjukkan bahwa hidayah itu datang dari Allah SWT.
Tentu, berikut adalah lanjutan dari artikel di atas, berfokus pada diskusi Ustaz Ipung dan Bu Ira mengenai ayat Alkitab dan pemahaman tentang sosok Yesus Kristus.
Diskusi Kritis: Yesus Membawa Pedang, Bukan Damai?
Dalam momen yang paling mengejutkan, Ustaz Ipung mengungkap kebenaran yang jarang diketahui jemaat Kristen. Setelah Bu Ira dengan jujur mengakui bahwa ayat yang dibacakan Ustaz terkesan kasar dan mengajak perang, Ustaz Ipung mengklarifikasi sumber ayat tersebut.
Ayat itu ternyata bukan dari Al-Qur’an, melainkan dari Bible (Kitab Suci Kristen) di Matius pasal 10 ayat 34, dan yang mengucapkannya adalah Yesus Kristus sendiri.
Ustaz Ipung kemudian membacakan versi Bahasa Indonesia dari ayat tersebut:
“Jangan kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk membawa damai di atas bumi; Aku datang bukan untuk membawa damai, melainkan pedang.” (Matius 10:34)
Lanjutan ayat tersebut semakin memperjelas ketegasan pesan tersebut:
“Sebab Aku datang untuk memisahkan orang dari ayahnya, anak perempuan dari ibunya, menantu perempuan dari ibu mertuanya, dan musuh orang ialah orang-orang seisi rumahnya. Barangsiapa mengasihi bapa atau ibunya lebih daripadaku, ia tidak layak bagiku. Dan barangsiapa mengasihi anaknya laki-laki atau perempuan lebih daripadaku, ia tidak layak bagiku.” (Matius 10:35–37)
Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa Yesus yang sebenarnya—seperti yang tertulis dalam Alkitab—jauh lebih tegas dan berbeda dari gambaran Yesus yang selama ini disampaikan oleh para pendeta, yang cenderung menekankan kasih tanpa syarat semata. Ini bertujuan agar Bu Ira dan jamaah mengetahui Yesus yang jujur dan tidak pernah berbohong sesuai dengan yang tertulis.
Fakta-Fakta Tentang Yesus yang Tersembunyi dalam Bibel
Ustaz Ipung kemudian memaparkan beberapa fakta penting mengenai Yesus yang termaktub dalam Bibel, yang ternyata sangat selaras dengan ajaran Islam:
1. Yesus Dimakamkan Layaknya Seorang Muslim
Yesus yang sebenarnya dimakamkan bukan dengan peti mati, jas, atau sepatu, melainkan dikafani dengan kain kafan putih bersih.
- Dasar Alkitab: Matius pasal 27 ayat 59 menyatakan bahwa setelah Yesus wafat, Yusuf dari Arimatea mengambil mayat-Nya, mengafaninya dengan kain lenan yang putih bersih.
- Relevansi dengan Islam: Proses pemakaman dengan dimandikan dan dikafani adalah praktik standar dalam ajaran Islam.
2. Yesus Tidak Mau Disebut Tuhan
Ustaz Ipung menantang siapapun untuk menemukan satu ayat pun di seluruh Bibel di mana Yesus sendiri secara tegas, lugas, dan tanpa kata ganti, menyatakan: “Aku Yesus, Aku adalah Tuhan atau Aku Yesus, Aku adalah Allah.” Tantangan ini diberikan dengan hadiah 1 triliun, yang menunjukkan fakta bahwa ayat tersebut memang tidak ada.
Justru sebaliknya, Yesus menegaskan bahwa ia tidak mau disebut sebagai Tuhan:
- Dasar Alkitab: Matius pasal 7 ayat 21 menyatakan: “Bukan setiap orang yang berseru kepadaku: Tuhan, Tuhan, akan masuk ke dalam Kerajaan Sorga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapakku yang di sorga.”
- Implikasi: Ayat ini menunjukkan bahwa orang yang menyebut Yesus Tuhan justru diancam tidak akan masuk surga, melainkan yang masuk adalah mereka yang taat kepada kehendak Allah.
- Klarifikasi Kiamat: Yesus bahkan diprediksi akan menolak orang-orang Kristen yang berseru “Tuhan, Tuhan” pada hari terakhir, dan berkata: “Aku tidak pernah mengenal kamu. Enyahlah daripadaku, kamu sekalian pembuat kejahatan.” (Matius 7:23)
3. Yesus Mengajak Menyembah Allah yang Esa
Yesus tidak pernah mengajarkan dirinya adalah Tuhan, melainkan mengajak umatnya untuk menyembah Allah yang Esa (Satu).
- Dasar Alkitab: Markus pasal 12 ayat 29 mencatat perkataan Yesus: “Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.” (Dalam Bahasa Ibrani: Adonai Ehad yang setara dengan Allahu Ahad dalam Surah Al-Ikhlas).
- Konsistensi: Ajaran ini sama dengan Nabi Musa (Ulangan 6 ayat 4) dan Nabi Muhammad (Qul Huwallahu Ahad), membuktikan ajaran para Nabi memiliki akar yang sama.
4. Yesus Melakukan Sunat
Yesus disunat, yang merupakan praktik wajib dalam Islam dan Yahudi, tetapi dilarang dalam ajaran Kristen yang didirikan Paulus.
- Dasar Alkitab: Lukas pasal 2 ayat 21 mencatat: “Dan ketika genap 8 hari dan ia harus disunatkan, ia diberi nama Yesus…”
- Perjanjian Agung: Hukum sunat adalah perjanjian agung yang diberikan Allah kepada Nabi Ibrahim (Abraham) dan keturunannya (Kejadian 17:9-14), yang berlaku kekal hingga hari kiamat.
- Paulus Melarang Sunat: Kontradiksi terjadi ketika Paulus, pendiri agama Kristen, menyatakan: “Jikalau kamu menyunatkan dirimu, Kristus sama sekali tidak akan berguna bagimu.” (Galatia 5:2)
5. Yesus Tidak Pernah Makan Babi
Sepanjang hidupnya, Yesus tidak pernah mengonsumsi babi. Catatan Alkitab seringkali menyebut Yesus makan ikan.
- Dasar Alkitab: Lukas pasal 24 ayat 42 mencatat bahwa para murid memberikan-Nya “sepotong ikan goreng” (atau bakar) untuk dimakan.
- Relevansi dengan Islam: Larangan makan babi juga merupakan ajaran yang tegas dalam Islam, menunjukkan keselarasan dalam hukum makanan yang dianut Yesus.
Tentu, berikut adalah lanjutan dari artikel Anda, berfokus pada diskusi mengenai kontradiksi ajaran Kristen dengan Alkitab, ritual shalat Yesus, dan kesaksian syahadat Bu Ira dan Pak Triojka.
Yesus Melarang: Babi, Khamr, dan Taklid Buta
Diskusi berlanjut mengenai keselarasan Yesus dengan ajaran Islam, khususnya terkait hukum makanan dan minuman.
1. Larangan Makanan dan Minuman
Ustaz Ipung menegaskan bahwa Yesus tidak pernah makan babi dan tidak pernah mengajarkan minum khamr (minuman keras, termasuk anggur yang memabukkan), yang dilarang keras dalam Islam.
- Kontradiksi: Anehnya, praktik-praktik tersebut justru menjadi hal umum dalam ajaran Kristen, bahkan anggur digunakan dalam perjamuan kudus.
- Logika Pendeta: Ustaz Ipung menyinggung adanya pendeta yang secara terbuka menyatakan bahwa mereka tidak tertarik masuk Islam karena masih suka makan babi, menunjukkan konflik antara ajaran pribadi pendeta dengan kesalehan Yesus.
2. Bukan 100% Tuhan, 100% Manusia
Ustaz Ipung kembali menantang doktrin sentral Kristen bahwa Yesus adalah 100% Tuhan dan 100% Manusia. Doktrin ini sering digunakan oleh pendeta untuk menjelaskan inkonsistensi sifat Yesus (misalnya, Yesus lapar atau haus).
- Tantangan: “Kalau ada ayat di Bibel yang menyatakan Yesus 100% Tuhan, 100% manusia, saya kembali ke Kristen, Pak.”
- Taklid Buta: Ustaz Ipung mengkritik cara berpikir yang hanya menggunakan kata “pokoknya” dalam beragama (misalnya: “pokoknya kalau lapar, manusianya keluar”). Dalam Islam, pola pikir yang disebut Taklid Buta ini dilarang. Islam selalu mengajak umatnya untuk berpikir, menggunakan logika, dan memastikan semuanya masuk akal serta bisa dijelaskan.
Yesus Mengajarkan Salat (Beribadah)
Yesus menunjukkan pola ibadah yang sangat menyerupai shalat dalam Islam, membuktikan bahwa ia adalah seorang hamba Allah yang saleh, bukan Tuhan yang disembah.
1. Salat Fajar (Subuh)
Yesus bangun sebelum subuh (waktu hari masih gelap) untuk beribadah di tempat yang sunyi.
- Dasar Alkitab: Markus 1 ayat 35 menyebutkan: “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, ia bangun dan pergi keluar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”
- Versi Bahasa Arab: Dalam Bibel versi Bahasa Arab (yang bahasanya lebih dekat dengan Yesus), kata “berdoa” diterjemahkan sebagai “Yusalli” (salat).
- Logika: Tuhan tidak perlu berdoa kepada dirinya sendiri. Tindakan Yesus yang berupaya (effort) bangun pagi-pagi dalam keadaan gelap untuk pergi ke Bait Allah (musala) dan salat (berdoa) adalah tindakan seorang hamba yang taat.
2. Salat Tahajud (Doa Semalam-malaman)
Yesus juga melakukan ibadah semalam suntuk di bukit.
- Dasar Alkitab: Lukas 6 ayat 12 menyatakan: “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa, dan semalam-malaman ia berdoa kepada Allah.“
- Versi Bahasa Arab: Ayat ini diterjemahkan sebagai Yesus “menghabiskan malamnya semuanya itu untuk salat kepada Allah Subhanahu wa taala.”
- Kesimpulan: Yesus adalah seorang Rasul/Nabi yang mencontohkan kepada umatnya untuk menjalankan ibadah, termasuk salat Subuh dan Tahajud.
3. Tata Cara Salat Para Nabi
Ustaz Ipung menunjukkan bahwa tata cara shalat yang melibatkan berdiri, rukuk, dan sujud sudah diajarkan oleh para Nabi terdahulu, yang juga diikuti oleh Nabi Muhammad.
- Dasar Alkitab: Nehemia 8 ayat 6 (Perjanjian Lama) mengisahkan Nabi Ezra (Uzair) yang memimpin ibadah:
- Umat bangkit berdiri (seperti berdiri dalam shalat).
- Ezra memuji Tuhan: “Allah yang maha besar” (setara dengan Allahu Akbar).
- Umat menyambut dengan “Amin, Amin” sambil mengangkat tangan (setara dengan Takbiratul Ihram atau Samiallahu Liman Hamidah).
- Kemudian mereka berlutut dan sujud menyembah kepada Tuhan dengan muka sampai ke tanah.
- Fakta: Gerakan-gerakan ini (berdiri, rukuk, sujud) adalah persis gerakan dalam shalat umat Islam, yang tidak pernah diajarkan di gereja.
Perjanjian Lama vs. Perjanjian Baru
Pak Triojka meminta penjelasan mengenai perbedaan Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru, yang sangat penting untuk memahami mengapa ajaran Kristen modern bertentangan dengan Alkitab itu sendiri.
- Perjanjian Lama (PL) – Injil Yahudi:
- Ini adalah Kitab Sucinya orang Yahudi (Tanakh) yang dicuri oleh orang Kristen.
- Tuhan: Satu (Allah yang Esa).
- Ajaran: Mengajarkan kaidah-kaidah menjadi Muslim (bersunat wajib, shalat, menyembah Allah saja).
- Yesus: Belum Lahir (datangnya terlambat, menunjukkan Ia bukan Tuhan). Ezra dan Nabi lainnya hidup di zaman ini.
- Perjanjian Baru (PB) – Injil Kristen:
- Ditulis oleh orang-orang (Matius, Markus, Lukas, Yohanes, Paulus) yang tidak pernah bertemu dan mengenal Yesus yang sebenarnya.
- Tuhan: Tiga (Trinitas).
- Ajaran: Mulai berubah dan tidak sesuai dengan ajaran PL (misalnya mengharamkan sunat).
Hal ini menjelaskan mengapa Alkitab sendiri dianggap musuh bagi orang Kristen. Hal ini karena isinya yang asli (PL) sangat bertentangan dengan doktrin inti agama Kristen (PB).
Syahadat: Kunci Kehidupan Kekal
Sebagai penutup, Ustaz Ipung menunjukkan bahwa Yesus mengajarkan Syahadat sebagai jalan menuju hidup yang kekal.
- Dasar Alkitab: Yohanes pasal 17 ayat 3 mencatat ucapan Yesus: “Inilah hidup yang kekal itu, yaitu bahwa mereka mengenal Engkau, satu-satunya Allah yang benar, dan mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus.“
- Inti Syahadat: Kalimat ini secara langsung berarti:
- Mengenal Engkau satu-satunya Allah yang benar ($\rightarrow$ Ashadu alla ilaha illallah).
- Mengenal Yesus Kristus yang telah Engkau utus ($\rightarrow$ wa ashadu anna Isa ibnu Maryam Rasulullah).
- Yesus adalah Utusan: Yesus menegaskan bahwa Ia hanyalah utusan Allah, bukan setara dengan Allah, sama seperti utusan Presiden yang membawa risalah, bukan Presiden itu sendiri.
Pengucapan Dua Kalimat Syahadat
Setelah meyakini kebenaran-kebenaran tersebut, Bu Ira menyatakan keyakinan penuhnya bahwa Allah adalah satu-satunya sesembahan, dan Yesus bukan Tuhan atau yang disalibkan.
Dengan dipimpin oleh Kiai, Bu Ira dan Pak Triojka mengucapkan:
“Ashadu alla ilaha illallah, wa anna muhammadan rasulullah.”
(Saya bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Nabi Muhammad adalah utusan Allah)
Keduanya kini resmi menjadi pengikut Yesus yang sejati (Muslim) dan telah kembali kepada Islam.
Komitmen dan Harapan
Pak Triojka menyampaikan kekhawatiran terakhirnya: meskipun sudah bersyahadat, ia khawatir jika meninggal akan dimakamkan secara Kristen karena identitas di KTP.
- Pesan Penting: Pak Triojka meminta agar video ini menjadi saksi bagi siapapun, bahwa jika ia atau istrinya meninggal, mereka harus dimakamkan secara Muslim sesuai dengan agama mereka saat ini.
- Cinta Kepada Yesus: Ustaz Ipung menutup dengan pesan bahwa orang Islam jauh lebih menghormati Yesus daripada orang Kristen dan Katolik, karena Islam menolak penghinaan bahwa Nabi yang mulia seperti Yesus harus disalib, disiksa, dan ditelanjangi sebagai penebus dosa.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
