Pada sebuah malam yang tenang, suasana menjadi haru ketika seorang hamba Allah berniat kembali kepada Islam. Namanya Barata Prawiranegara. Ia berasal dari Surabaya dan sebelumnya memeluk agama Kristen Protestan. Kesaksiannya menggambarkan perjalanan panjang, penuh pencarian, serta kegelisahan batin yang akhirnya membawanya pada keteguhan untuk bersyahadat.
Latar Belakang Keluarga dan Masa Kecil
Barata lahir dari keluarga dengan dua keyakinan. Ayahnya seorang muslim, sementara ibunya seorang Nasrani. Sejak kecil, ia justru tumbuh dalam didikan Nasrani. Ayahnya sering bekerja hingga jarang di rumah, sehingga pendidikan agama diberikan ibunya secara diam-diam agar tidak ketahuan.
Ketika Barata duduk di kelas empat sekolah dasar, sebuah konflik besar terjadi. Ayahnya menemukan kartu keluarga yang menunjukkan semua anak tercatat sebagai Kristen. Kejadian itu memicu pertengkaran dan membuat hubungan kedua orang tuanya semakin renggang. Ayahnya akhirnya kembali ke Bandung. Sejak saat itu, Barata dan ketiga saudaranya hidup sepenuhnya bersama ibu, keluarga besar, serta lingkungan yang seluruhnya Nasrani.
Kehidupan Remaja dalam Lingkungan Gereja
Masa remaja Barata penuh dengan aktivitas keagamaan. Ia tidak hanya mengikuti ibadah, tetapi juga melayani sebagai pemain musik di gereja. Ibunya berprofesi sebagai pendeta, sementara keluarga besar tinggal satu rumah dengan berbagai kerabat yang semuanya Nasrani. Kehidupan Barata saat itu tidak pernah lepas dari kegiatan gerejawi.
Setelah lulus SMA, Barata langsung bekerja sebagai tenaga medis pemasaran yang banyak berhubungan dengan apotek. Meskipun rutinitasnya padat, alasan ia mulai jarang ke gereja bukan karena kesibukan. Ada kegelisahan dalam hatinya yang semakin lama semakin kuat.
Kegelisahan yang Tumbuh dari Pencarian Kebenaran
Kegelisahan itu bermula ketika Barata menonton banyak konten YouTube tentang dialog antaragama, terutama ceramah Dr. Zakir Naik. Salah satu video yang paling membekas adalah ketika seorang pendeta berdebat dengan Dr. Zakir Naik tentang status Yesus. Dr. Zakir berkali kali bertanya ayat mana yang menyatakan bahwa Yesus adalah Tuhan. Sang pendeta tidak bisa menjawab dengan tegas.
Sejak saat itu, hati Barata mulai mempertanyakan keyakinan yang sejak kecil diajarkan kepadanya. Ia mencari, membaca, dan membandingkan ayat ayat dalam Al Quran dan Bible. Meski ia tidak menelan mentah mentah semua konten, kegelisahan itu justru membuatnya semakin ingin mempelajari kebenaran dari sumber yang jelas. Ia berdiskusi dengan teman teman terdekat dan orang tua teman yang sering ia panggil ayah dan ibu.
Keyakinan Mulai Kokoh Tentang Ketauhidan
Dalam proses pencarian panjang itu, Barata menemukan satu hal yang membuat hatinya mantap. Tuhan itu satu. Hanya satu, yaitu Allah. Ia juga menemukan bahwa Yesus yang dulu ia yakini sebagai Tuhan, dalam Islam dipahami sebagai nabi utusan Allah bernama Isa Almasih. Pemahaman ini dianggap lebih masuk akal bagi Barata.
Keyakinannya semakin kuat ketika ia melihat pengakuan seorang artis yang masuk Islam karena kekaguman terhadap cara ibadah umat Islam. Artis tersebut menilai bahwa ibadah dalam Islam dilakukan serentak, penuh kekhusyukan, penuh adab, dan didahului dengan wudu sebagai syarat kesucian.
Kagum pada Kesucian dan Ketertiban Ibadah dalam Islam
Barata merenungkan bahwa seseorang saja ketika menghadap atasan akan berdandan rapi, apalagi saat menghadap Tuhan. Ia mulai membandingkan pengalaman ibadahnya di gereja yang menurutnya kurang menekankan kesucian fisik. Orang masuk gereja langsung dari kamar mandi tanpa bersuci. Lantai najis dari luar terbawa masuk melalui sepatu. Begitu pula cara berpakaian yang terkadang terbuka atau tidak mencerminkan kekhidmatan ibadah.
Sementara dalam Islam, setiap langkah ibadah dilakukan dengan kesucian. Wudu memiliki makna pembersihan lahir dan batin. Masjid dijaga dari najis. Pakaian dipilih yang sopan dan tertutup. Semua itu memberi kesan ibadah yang sakral dan penuh penghormatan kepada Sang Pencipta.
Gerakan Salat dan Maknanya
Selain kesucian, Barata juga mempelajari makna di balik gerakan salat. Ia membaca dan menonton penjelasan tentang manfaat kesehatan dari ruku, sujud, dan berdiri tegak. Semua gerakan itu bukan sekadar ritual tanpa makna tetapi bermanfaat bagi tubuh serta menanamkan kerendahan hati di hadapan Allah.
Perbandingan sederhana muncul dalam benaknya. Bila seseorang rela tampil rapi dan hormat di hadapan manusia, mengapa tidak menunjukkan penghormatan yang jauh lebih besar kepada Tuhan. Pemikiran ini membuat hatinya semakin condong kepada Islam.
Menemukan Kesamaan Ajaran Yesus dengan Islam
Barata juga terkejut mengetahui bahwa Yesus pun sujud dalam ibadah. Dalam Bible disebutkan pada peristiwa di Taman Getsemani, Yesus berdoa kepada Allah dengan bersujud. Ia juga menemukan ayat yang menunjukkan bahwa Yesus disunat saat berusia delapan hari.
Bahkan dalam teks lain disebutkan bahwa Yesus duduk bersama para guru agama dan para alim ulama. Bagi Barata, fakta bahwa Yesus disunat dan sujud dalam ibadah menunjukkan bahwa ajaran yang dibawa Yesus sangat dekat dengan ajaran Islam, bukan seperti yang ia pahami selama hidup sebagai Nasrani.
Ketika Pertanyaan Dasar Dibungkam Gereja
Dalam banyak kesempatan, ada pertanyaan-pertanyaan sederhana yang sebenarnya mampu menggoyahkan keyakinan seseorang jika dijawab secara jujur dan terbuka. Misalnya, ketika seseorang bertanya, “Punya saudara, punya adik, punya saudara perempuan… masa iya harus disembah?” Pertanyaan sederhana ini justru jarang sekali dibahas di gereja. Mengapa? Karena jika umat mulai berpikir, mulai meragukan, mulai mempertanyakan, maka banyak ajaran akan runtuh dengan sendirinya.
Pertanyaan itu menjadi pintu awal bagi banyak orang untuk melihat bahwa logika yang sehat adalah bagian dari kebenaran itu sendiri. Jika Yesus memiliki keluarga, memiliki saudara laki-laki dan perempuan, lalu bagaimana mungkin ia diposisikan sebagai Tuhan?
Inilah sebabnya, topik seperti ini hampir tak pernah muncul dalam khotbah gereja—sebab ketika akal mulai bekerja, tembok doktrin akan mulai retak.
Penciptaan Isa dalam Al-Qur’an: Jelas, Sederhana, Tidak Rumit
Al-Qur’an memberikan penjelasan lugas tentang Nabi Isa. Allah berfirman:
“Sesungguhnya permisalan Isa di sisi Allah seperti Adam. Allah berfirman ‘Kun’, maka jadilah.”
Ayat ini mematahkan banyak kerancuan. Nabi Isa diciptakan melalui firman “Kun fayakun” sama seperti Nabi Adam. Bedanya, Adam bahkan tanpa ayah dan tanpa ibu. Isa memiliki ibu, tetapi tidak memiliki ayah, semata-mata agar manusia merenungkan kekuasaan Allah.
Jika begitu, maka siapa yang lebih layak disembah? Jika logikanya adalah “yang dilahirkan tanpa ayah”, maka Nabi Adam jauh lebih luar biasa karena tak memiliki ibu juga.
Namun tak ada seorang pun yang menyembah Adam. Mengapa? Karena manusia paham bahwa Adam adalah ciptaan.
Begitu pula Isa. Ia bukan Tuhan, ia adalah makhluk yang diciptakan melalui firman Allah.
Firman: Bukan Tuhan yang Menjelma, Melainkan Perintah “Jadilah”
Salah satu kekeliruan terbesar adalah menganggap bahwa “firman Tuhan” sama dengan “Tuhan itu sendiri”. Padahal dalam Al-Qur’an dijelaskan bahwa yang disebut firman itu adalah perintah Allah, bukan Allah yang berubah wujud menjadi firman.
Ketika Allah berkata “Jadilah gunung!”, apakah gunung itu Tuhan? Tentu tidak. Gunung adalah hasil dari firman. Firman adalah perintah. Hasilnya adalah ciptaan.
Begitu pula Isa. Ia adalah hasil dari firman, bukan firman yang menjadi manusia. Isa adalah akibat dari perintah Allah “Kun”, maka jadilah ia.
Kesalahan ini muncul karena sebagian umat hanya menerima apa yang diajarkan gereja tanpa pernah membuka kembali dasar-dasar teks sucinya.
Yesus Bukan Anak Tunggal: Bibel Sendiri Mengatakannya
Banyak umat tidak mengetahui bahwa dalam Bibel, Yesus disebut sebagai anak sulung, bukan anak tunggal. Bahkan disebutkan ia memiliki empat saudara laki-laki dan beberapa saudara perempuan.
Jika begitu, bagaimana mungkin gelar “anak tunggal Allah” diberikan? Bukankah ini kontradiksi dengan teks Bibel sendiri?
Ketidaktahuan ini bukan sepenuhnya kesalahan umat, tetapi karena ajaran seperti ini tidak pernah disampaikan secara lengkap di gereja. Banyak yang menerima doktrin tanpa mencocokkan dengan naskah.
Padahal memahami konteks keluarga Yesus saja sudah cukup untuk menggugurkan konsep ketuhanan.
Yesus Tidak Kenal Kristen, Tidak Mendirikan Gereja, Tidak Menyebut Kata “Kristen”
Fakta lain yang sangat penting namun jarang diketahui adalah bahwa:
Yesus tidak pernah menyebut kata “Kristen”.
Tidak sekali pun.
Bukan hanya itu:
- Yesus tidak pernah membangun gereja.
- Yesus bukan orang Kristen — ia adalah orang Yahudi dari Bani Israil.
- Ibadahnya di sinagoga, tempat ibadah Yahudi.
- Hari sucinya adalah Sabat, bukan Minggu.
Bahkan hingga ia diangkat Allah, atau dalam versi Kristen disalib, agama Kristen belum ada. Maka bagaimana mungkin Yesus dianggap mendirikan agama yang bahkan belum eksis saat itu?
Lebih jauh lagi, bagaimana mungkin Yesus diminta “menanggung dosa Kristen”, sementara Kristen saja belum muncul di masa hidupnya?
Ini bukan sekadar argumen keimanan — ini argumen sejarah.
Jika Mengikuti Yesus dengan Benar, Seseorang Justru Akan Menjadi Muslim
Ketika seseorang mengaku ingin benar-benar mengikuti Yesus, sebenarnya ia sedang mendekat kepada Islam. Mengapa?
Karena:
- Yesus sunat
- Yesus sujud
- Yesus rukuk
- Yesus tidak makan babi
- Yesus dikafani ketika wafat
- Yesus menyembah Allah, bukan dirinya sendiri
Semua ini identik dengan Islam. Maka ketika Barata memilih Islam, ia bukan meninggalkan Yesus, ia justru mengikuti Yesus dengan benar.
Kebingungan Istilah “Iman”, Doktrin, dan Dogma
Dalam Islam, istilah iman memiliki makna jelas. Ada rukun iman yang tegas, tidak berubah, dan bersifat wahyu:
- Beriman kepada Allah
- Malaikat
- Kitab-kitab Allah
- Rasul-rasul
- Hari akhir
- Takdir baik dan buruk
Istilah ini adalah milik Islam.
Sementara dalam Kristen, istilah yang digunakan adalah doktrin dan dogma. Maka tidak tepat menggunakan istilah “iman” untuk agama Kristen, karena definisi iman adalah milik Islam dan merujuk kepada enam hal tersebut.
Percaya kepada doktrin bukan berarti memiliki iman, sebab iman adalah konsep Qur’ani yang memiliki rukun dan strukturnya sendiri.
Penyaliban: Logika, Bukti, dan Ucapan yang Mengungkap Segalanya
Al-Qur’an menyebutkan bahwa Isa tidak disalib, tidak dibunuh, tetapi diselamatkan Allah.
Yang menarik, Bibel justru menguatkan hal ini melalui dua hal penting:
A. Seruan “Eli, Eli lama sabaktani”
Orang yang disalib berteriak:
“Eli, Eli lama sabaktani — Tuhanku, Tuhanku mengapa Engkau meninggalkan aku?”
Ucapan ini menunjukkan seseorang yang jauh dari Tuhan, bukan kekasih Tuhan.
Seorang nabi tidak mungkin merasa ditinggalkan oleh Allah.
Bahkan, Yesus sepanjang hidupnya tidak pernah memanggil Allah dengan “Eli”. Ia selalu memanggil “Bapa”.
Maka orang yang disalib itu bukan Yesus.
B. Murid-murid Melarikan Diri
Jika Yesus benar-benar ingin menebus dosa manusia, tentu ia dan murid-muridnya menerima itu dengan lapang dada. Namun faktanya:
- Murid-muridnya lari semua
- Tidak ada yang bertahan
- Ini menunjukkan bahwa mereka tahu yang ditangkap bukan Yesus
Jika benar Yesus ingin disalib untuk menebus dosa manusia, tentu murid-muridnya akan mendukung, bahkan melindungi, bukan melarikan diri ketakutan.
Logika ini saja sudah cukup untuk membuktikan bahwa yang disalib adalah orang yang diserupakan, bukan Yesus.
Setelah Penyaliban: Doktrin Baru Baru Lahir Bertahun-tahun Kemudian
Konsep “penebus dosa” sebenarnya lahir jauh setelah peristiwa penyaliban. Ia bukan ucapan Yesus, bukan pula perintah Allah. Ia adalah doktrin gereja yang berkembang seiring waktu.
Karena itu, konsep asli ajaran Nabi Isa — tauhid — hilang ditelan sejarah dan digantikan oleh interpretasi manusia.
Ketika Masuk Islam, Seseorang Percaya kepada Semua Kitab, Bukan Menolaknya
Berbeda dengan Kristen yang tidak menerima Al-Qur’an, Islam justru mengajarkan untuk:
- Beriman kepada Taurat
- Beriman kepada Zabur
- Beriman kepada Injil
Namun tentu, bukan Injil versi sekarang, yang merupakan catatan para penulis Yunani tanpa nama asli. Nama “Matius”, “Markus”, “Lukas”, dan “Yohanes” juga bukan nama penulis asli — melainkan penamaan belakangan.
Kitab yang sekarang dikenal sebagai “Injil” hanyalah kumpulan catatan (Biblos). Hanya di Indonesia-lah nama “Injil” ditempelkan agar seolah-olah sesuai dengan keyakinan umat Islam.
Ini strategi penerjemahan yang tidak etis dan bisa menyesatkan orang awam.
Al-Qur’an Tetap Al-Qur’an di Mana Pun
Berbeda dengan Bibel yang namanya berubah-ubah sesuai negara, Al-Qur’an tetap memiliki nama yang sama di seluruh dunia. Ini menunjukkan konsistensi wahyu.
Agama yang benar tentu konsisten. Perintahnya jelas. Ritualnya sama di mana pun.
Masuk Islam berarti memasuki agama yang paling lurus dari segi ajaran, paling konsisten, paling murni, dan paling dekat dengan ajaran para nabi, termasuk Nabi Isa.
Mengikuti Yesus, Mengikuti Para Nabi, Mengikuti Cahaya yang Sama
Pada akhirnya, seseorang yang masuk Islam bukan sedang meninggalkan Yesus, justru sedang mengikuti ajaran Yesus yang asli:
- Menyembah Allah
- Mensucikan diri
- Bersujud
- Tidak makan babi
- Bersunat
- Mengikuti hukum dan syariat
Islam adalah jalan yang dilalui semua nabi: Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, hingga Muhammad ﷺ.
Barata dan siapa pun yang memilih Islam, tidak sedang “berpindah agama”, tetapi sedang menyambung kembali rantai tauhid yang pernah dibawa semua nabi sebelum Muhammad ﷺ.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
