
Narasi Mayoritas-Minoritas: Proyek Lama untuk Menekan Umat Islam
“Mayoritas kok intoleran,” begitu kata mereka. Sebuah frasa yang sering digoreng media, digunakan oleh tokoh-tokoh tertentu, dan diulang-ulang dalam berbagai forum. Ustadz Kainama mengajak kita untuk berpikir lebih kritis terhadap narasi ini dan juga mengajak untuk menelusuri lagi tentang kelahiran Yesus.
Apakah umat Islam sebagai mayoritas benar-benar tidak toleran? Mengapa framing yang dibangun selalu menjadikan umat Islam sebagai tertuduh, padahal dalam praktik sosial sehari-hari, umat Islam justru paling banyak memberi ruang kepada kelompok lain?
Lihatlah betapa banyak gereja berdiri di tengah perkampungan Muslim. Betapa banyak sekolah Katolik dan Kristen berdiri megah dan bebas di Indonesia, dengan siswa mayoritas Muslim. Bandingkan dengan negara-negara sekuler seperti Prancis atau Jerman, yang justru melarang jilbab di ruang publik. Tapi mengapa umat Islam di Indonesia yang justru dituding sebagai intoleran?
Narasi mayoritas-minoritas, menurut Ustadz Kaynama, bukan sekadar label. Ia adalah proyek besar, warisan kolonial, yang terus digunakan untuk memecah-belah umat Islam dari dalam. Dan yang paling menyedihkan, banyak Muslim sendiri yang tidak sadar sedang digiring dalam wacana ini.
Membongkar Fakta Sejarah: Di Mana dan Kapan Yesus Dilahirkan?
Ustaz Kainama lalu beralih ke diskusi yang lebih historis dan teologis: kelahiran Yesus. Salah satu kejanggalan besar yang sering terabaikan adalah soal tanggal dan tempat kelahiran Yesus. Selama ini, dunia Kristen menerima tanggal 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus. Tapi benarkah begitu?
Menurut kajian sejarah dan sumber-sumber asli, tanggal 25 Desember justru bukan hari kelahiran Yesus, melainkan hari kelahiran dewa matahari dalam agama Romawi kuno, Sol Invictus. Ketika agama Kristen menjadi agama resmi Romawi di masa Kaisar Konstantin, banyak ajaran pagan diserap ke dalam liturgi Kristen, termasuk tanggal 25 Desember. Hal ini tercatat dalam berbagai ensiklopedia sejarah, baik Britannica maupun sumber-sumber Katolik sendiri.
Lalu bagaimana dengan lokasi kelahiran? Dalam Lukas 2:4-7, disebutkan bahwa Yesus lahir di Betlehem, di sebuah kandang karena tidak ada tempat di penginapan. Namun sumber-sumber asli dari Palestina sendiri menyebutkan bahwa pada bulan Desember, daerah Betlehem biasanya ditutup salju, dan para gembala tidak mungkin sedang menjaga ternak di padang seperti dikisahkan dalam Injil.
Fakta-fakta ini mengarah pada satu kesimpulan: narasi kelahiran Yesus sebagaimana diperingati saat ini, banyak dipengaruhi oleh budaya luar, bukan bersumber murni dari nash suci. Inilah yang membuat Ustaz Kaynama semakin yakin bahwa Islam adalah penyempurna wahyu, bukan pesaing agama-agama sebelumnya.
Islam Bukan Agama Asing di Nusantara
Ustaz Kainama juga menolak keras anggapan bahwa Islam datang belakangan ke Nusantara. Justru Islam adalah agama yang membebaskan rakyat dari penindasan, bukan penjajah. Siapa yang datang membawa penjajahan? Bukan ulama. Bukan pedagang Arab. Tapi bangsa Eropa yang datang dengan kapal, membawa senapan, dan menyebarkan agama melalui kolonialisme.
Islam masuk lewat jalur damai, melalui para saudagar, ulama, dan dakwah. Tapi ironisnya, umat Islam malah diframing sebagai kelompok yang “menyerang toleransi”. Inilah ketidakadilan wacana yang harus dilawan dengan narasi balik yang berbasis data, bukan sekadar emosi.
Kembali ke Fitrah, Kembali ke Al-Qur’an
Sebagai mualaf, Ustaz Kaynama tidak memaksa orang lain untuk ikut jejaknya. Tapi dia mengajak siapa pun dari agama apa pun untuk berpikir kritis terhadap apa yang mereka imani. Jangan hanya menerima warisan agama secara membuta, tetapi kaji, baca, dan cari sumber asli. Karena jika seseorang sungguh-sungguh mencari kebenaran, Allah akan tunjukkan jalannya.
Al-Qur’an tidak datang untuk membatalkan kitab-kitab sebelumnya, tetapi untuk menyempurnakannya. Banyak ayat Al-Qur’an yang justru mengonfirmasi ajaran tauhid para nabi terdahulu, termasuk Nabi Isa. Namun, ajaran tersebut telah banyak dikaburkan dalam sejarah gereja.
Terima kasih atas konfirmasinya, Lumbantoruan. Berikut ini saya buatkan artikel lanjutan dari transkrip ceramah YouTube Ustaz Kaynama yang membahas:
- Pengalaman pribadi sebagai mualaf,
- Pentingnya toleransi,
- Kritik terhadap narasi mayoritas-minoritas,
- Penelusuran ulang fakta-fakta kelahiran Yesus berdasarkan sumber asli.
Merenungi Ulang Kelahiran Yesus dan Toleransi: Sebuah Refleksi dari Pengalaman Mualaf
Menjadi mualaf bukanlah perkara sederhana. Bukan hanya soal mengucap dua kalimat syahadat, melainkan sebuah proses panjang yang menyentuh nalar, nurani, dan sejarah diri. Ustaz Kaynama, dalam ceramahnya yang penuh refleksi, membagikan kisah perjalanan spiritualnya yang membuka mata tentang arti toleransi, kebenaran, dan ketenangan batin. Ia tumbuh dalam tradisi Kristen, menghafal ayat-ayat Injil sejak kecil, namun hatinya selalu gelisah ketika menemukan kontradiksi dalam ajaran yang ia pelajari.
“Kenapa Tuhan harus dilahirkan seperti manusia biasa? Kenapa Yesus disebut Tuhan, tapi juga disebut anak Tuhan, dan juga disebut nabi?” pertanyaan-pertanyaan itu terus bergema dalam benaknya. Tidak ada satu jawaban pun dari para pendeta yang benar-benar memuaskannya. Sampai pada akhirnya, ia menemukan Al-Qur’an, yang tidak hanya menyentuh akal sehatnya, tetapi juga menenangkan jiwanya.
Toleransi yang Sejati: Bukan Sekadar Slogan
Ustaz Kaynama menekankan bahwa toleransi sejati tidak pernah datang dari propaganda mayoritas dan minoritas. Ia mengatakan bahwa narasi seperti ini justru membahayakan karena mengasumsikan bahwa yang minoritas selalu benar dan tertindas, sementara yang mayoritas selalu menindas.
“Dulu saya diajarkan bahwa umat Islam itu kasar. Bahwa agama Islam disebarkan dengan pedang. Tapi setelah saya masuk Islam dan belajar sejarah secara langsung, ternyata justru yang paling menghargai perbedaan adalah Islam,” ungkapnya.
Islam mengajarkan untuk menghormati ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani), selama mereka tidak memerangi umat Islam. Bahkan, Rasulullah SAW sendiri pernah menerima delegasi Nasrani dari Najran di Masjid Nabawi dan memperbolehkan mereka beribadah sesuai kepercayaannya di dalam masjid.
Jadi, menurut Ustaz Kaynama, jika ingin berbicara tentang toleransi, maka Islam-lah yang selama ribuan tahun telah memberikan teladan terbaik, bukan hanya dalam konsep, tetapi juga praktik.
Membongkar Fakta Sejarah Kelahiran Yesus
Ceramah Ustaz Kaynama juga menyentuh satu tema menarik: kelahiran Yesus. Banyak yang meyakini bahwa Yesus lahir pada 25 Desember, di sebuah kandang di Bethlehem, di tengah salju musim dingin. Namun, jika kita menelusuri sumber-sumber asli, baik dari Alkitab maupun sejarah Yahudi dan Palestina, narasi ini menjadi sangat meragukan.
Pertama, kitab Lukas dalam Alkitab menyebut bahwa saat Yesus lahir, para gembala sedang berada di padang bersama domba mereka (Lukas 2:8). Dalam konteks geografis Palestina, hal ini tidak masuk akal jika terjadi pada musim dingin karena di bulan Desember, para gembala justru membawa ternaknya masuk ke dalam kandang karena suhu yang sangat dingin.
Kedua, sensus yang disebutkan dalam Lukas 2:1-3, yang membuat Yusuf dan Maria harus kembali ke Bethlehem, kemungkinan besar tidak dilakukan saat musim dingin. Dalam sejarah Romawi, sensus semacam itu lebih sering dilakukan pada musim semi atau gugur—waktu ketika cuaca lebih bersahabat untuk perjalanan panjang.
Ketiga, Al-Qur’an juga memberikan petunjuk menarik tentang peristiwa kelahiran Isa Al-Masih. Dalam Surah Maryam ayat 23-25, Maryam diperintahkan untuk menggoyangkan pohon kurma yang sedang berbuah untuk mendapatkan makanan. Ini menunjukkan bahwa kelahiran Nabi Isa terjadi saat pohon kurma sedang berbuah, yaitu sekitar musim panas.
Membangun Toleransi Melalui Kejujuran Ilmiah
Bagi Ustaz Kaynama, memperjuangkan toleransi tidak bisa dilakukan dengan memelihara mitos atau kebohongan sejarah. Justru kejujuran akademik dan keberanian menyampaikan kebenaranlah yang menjadi pondasi toleransi sejati. Jika kebenaran tentang kelahiran Yesus saja bisa ditelusuri dan dikritisi, mengapa kita masih menutup diri?
“Mengapa kita harus takut meneliti kebenaran sejarah? Jika kita jujur, kita akan melihat bahwa kebenaran itu tidak akan pernah bertentangan dengan akal sehat. Dan saya menemukan itu dalam Islam,” tegasnya.
Islam Bukan Agama Minoritas
Narasi yang kerap dibangun oleh media dan tokoh-tokoh tertentu adalah bahwa umat Islam adalah kelompok mayoritas yang intoleran. Namun menurut Ustaz Kaynama, narasi ini sangat menyesatkan.
“Kalau kita lihat sejarah, yang pertama kali melakukan kolonialisasi, menjajah negeri-negeri kaum Muslimin, adalah bangsa-bangsa Kristen. Mulai dari Portugis, Spanyol, Belanda, Inggris, sampai Prancis. Umat Islam di Nusantara bukan penindas, justru yang ditindas.”
Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak dalam permainan kata ‘minoritas’ dan ‘mayoritas’ yang dijadikan alat politik. Karena dalam Islam, yang dilihat adalah keadilan, bukan jumlah. Islam tidak pernah membenarkan tindakan zalim, meskipun dilakukan oleh mayoritas.
Mualaf dan Realitas Sosial yang Tak Mudah
Menjadi mualaf bukan sekadar berpindah keyakinan. Ustaz Kaynama membuka ceramahnya dengan kisah pribadi yang menggetarkan. Ia bukan hanya harus menghadapi pertanyaan dan kecurigaan dari keluarga, tetapi juga harus meluruskan pandangan masyarakat Muslim sendiri. Sebab masih banyak orang yang menganggap para mualaf tidak sepenuhnya bisa dipercaya, atau sekadar ‘pindah karena masalah pribadi’, padahal perjuangan batin dan intelektual yang dilalui luar biasa berat.
Ketika seseorang memutuskan untuk meninggalkan agama yang dianut sejak kecil, lalu menerima Islam yang asing secara budaya dan sosial, maka itu bukan langkah kecil. Ustaz Kaynama menekankan, ini adalah proses pencarian kebenaran yang panjang, menyakitkan, dan penuh resiko. Tapi dari pengalaman itu pula lahir kesadaran bahwa Islam adalah agama yang paling masuk akal secara akidah dan paling tulus secara misi: menegakkan tauhid.
Toleransi Bukan Berarti Menerima Segala Klaim
Dalam ceramahnya, Ustaz Kaynama juga menekankan bahwa toleransi dalam Islam tidak berarti menerima semua ajaran sebagai benar, melainkan menghormati hak orang lain untuk berbeda, tanpa harus ikut menyetujui keyakinan mereka. Ia mengkritik keras kampanye toleransi di media yang seringkali malah memaksakan narasi bahwa semua agama sama, semua jalan menuju Tuhan.
“Kalau semua agama sama,” katanya tegas, “mengapa Nabi Muhammad diutus untuk meluruskan akidah umat sebelumnya?”
Ia menunjukkan bahwa Islam mengajarkan untuk mengajak dengan hikmah dan nasihat yang baik, bukan dengan caci maki atau kekerasan, tetapi juga tidak membiarkan kebatilan disebut sebagai kebenaran demi kata ‘toleransi’. Umat Islam justru diajarkan untuk menjaga akidah dengan hujah dan penjelasan, bukan dengan menyerang keyakinan lain, tetapi juga tidak tunduk pada relativisme.
Membongkar Narasi Mayoritas-Minoritas yang Memecah Umat
Ustaz Kaynama kemudian mengajak jamaah untuk jernih berpikir soal isu mayoritas dan minoritas. Ia menyebut bahwa politik identitas mayoritas-minoritas adalah proyek warisan kolonial yang hingga kini dijaga oleh pihak-pihak tertentu agar umat terus saling mencurigai.
“Sejak kapan Islam jadi agama mayoritas di Indonesia hanya untuk diam terhadap ketidakadilan pada umat sendiri?” tanyanya retoris. Ia menunjukkan, justru umat Islam sering diframing seolah intoleran, padahal secara historis umat Islam telah hidup berdampingan dengan berbagai pemeluk agama lain selama berabad-abad.
Ia menyindir: jika seorang Muslim membela keyakinannya, maka dicap radikal. Tapi kalau non-Muslim yang menyatakan akidahnya dengan keras, dianggap bagian dari hak berekspresi. Padahal keadilan itu harus diterapkan sama. Tidak bisa ditimbang dari siapa yang bicara, tetapi dari isi kebenaran yang dibawanya.
Melacak Kembali Fakta Kelahiran Yesus dari Sumber Asli
Bagian paling mendalam dari ceramah Ustaz Kaynama adalah penelusuran ulang tentang kelahiran Yesus (Isa al-Masih). Menurutnya, banyak umat Kristen sendiri tidak menyadari bahwa kelahiran Yesus tanggal 25 Desember tidak pernah disebut dalam Injil mana pun, bahkan bertentangan dengan logika cuaca Palestina saat itu.
Ia menyebut bahwa Kitab Lukas dan Matius tidak sepakat soal kelahiran Yesus, bahkan menyajikan dua narasi yang sangat berbeda. Dalam Lukas, diceritakan bahwa para gembala sedang menjaga ternak mereka di padang (yang tak mungkin terjadi di bulan Desember yang dingin), sementara dalam Matius ada bintang yang dilihat oleh orang Majus, tapi tidak disebutkan oleh Lukas.
Lebih jauh lagi, Ustaz Kainama menyebut sumber-sumber asli seperti Ensiklopedia Katolik, yang secara jujur mengakui bahwa tanggal 25 Desember diadopsi dari perayaan Dewa Matahari di Romawi kuno, Dies Natalis Solis Invicti.
“Jadi kita ini sedang memperingati kelahiran Nabi Isa atau merayakan ritual pagan Romawi?” tanya Ustaz Kaynama dengan tajam.
Dalam perspektif Islam, kelahiran Nabi Isa tidak dijadikan fondasi penyembahan, melainkan hanya sebagai salah satu tanda keajaiban kekuasaan Allah. Isa adalah manusia, bukan Tuhan. Maka penelusuran ulang fakta-fakta sejarah ini, menurut Ustaz Kaynama, bukan sekadar debat teologis, tetapi cara untuk membebaskan umat dari kebohongan yang diwariskan turun-temurun.
Islam: Agama Rasional, Agama Hidayah
Ustaz Kaynama mengakhiri ceramahnya dengan pesan menyejukkan: bahwa Islam tidak memaksa siapa pun masuk ke dalamnya, tetapi siapa pun yang mencari kebenaran dengan jujur, maka akan dipertemukan dengan Al-Qur’an — kitab suci yang tidak berubah sejak diturunkan dan masih bisa diverifikasi keasliannya hingga hari ini.
Ia menyerukan agar umat Islam tidak lelah menjelaskan kebenaran dengan cara yang baik, karena dakwah adalah warisan para nabi. Jangan sampai karena tekanan sosial, umat ini malah ikut larut dalam narasi pluralisme yang membingungkan.
“Toleransi itu penting,” tutupnya, “tapi kebenaran itu lebih penting.”
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
