Isa dalam Perspektif Tauhid: Dakwah Dr. Anwar Luthfi Membela Akidah

Di tengah kenyamanan karier sebagai Aparatur Sipil Negara (ASN), seorang dokter dari Sumenep, Jawa Timur, justru mengambil langkah yang tidak biasa. Dr. Anwar Luthfi memilih mengundurkan diri dari jabatan PNS untuk fokus berdakwah dan mendalami kajian kristologi sebagai bagian dari pembelaan terhadap akidah Islam. Keputusan tersebut terdengar mengejutkan. Namun bagi beliau, itu adalah panggilan jiwa.

Dari Dokter ASN Menjadi Dai Apologet

Dr. Anwar Luthfi dikenal sebagai dokter yang telah mapan dalam profesinya. Namun, kegelisahannya melihat fenomena pemurtadan dan berbagai tuduhan serta hujatan terhadap Islam membuatnya mengambil keputusan besar dalam hidupnya.

Ia merasa terpanggil untuk ikut serta dalam membela Islam melalui jalur intelektual dan dialog lintas agama. Baginya, profesi sebagai dai adalah profesi yang sangat mulia, terutama ketika bertujuan menjaga akidah umat.

Menariknya, meski mengundurkan diri dari jabatan ASN, beliau tidak sepenuhnya meninggalkan dunia kedokteran. Profesi dokter tetap dijalani, bahkan putri-putrinya juga dikaderkan untuk mengikuti jejak yang sama.

Di sisi lain, kapasitas intelektualnya dalam kajian kitab suci agama lain menjadi sorotan. Ia dikenal memiliki hafalan Bibel yang sangat kuat, bahkan disebut di atas rata-rata para pendeta. Kemampuan analisisnya tajam dan sistematis, “seperti kalkulator,” sebagaimana digambarkan dalam pengantar kajian tersebut.

Memahami Isa dan Yesus: Satu Sosok, Dua Penyebutan

Dalam sebuah kajian bertema “Yesus dalam Pandangan Muslim”, dibahas satu persoalan mendasar yang sering menjadi titik salah paham di kalangan umat Islam sendiri: perbedaan penyebutan Isa dan Yesus.

Banyak umat Islam yang tidak menyadari bahwa Isa dan Yesus adalah sosok yang sama.

Akibatnya, ketika terjadi diskusi lintas agama, sebagian umat Islam terjebak dalam sikap yang tidak tepat, bahkan tanpa sadar bisa terjerumus pada sikap yang merendahkan Nabi Isa ‘alaihis salam.

Padahal, dalam ajaran Islam, Nabi Isa adalah salah satu nabi dan rasul yang sangat dimuliakan.

Asal-Usul Nama Isa dan Yesus

Secara linguistik, nama “Isa” dalam bahasa Arab merupakan serapan dari bahasa rumpun Semitik, seperti Aram dan Ibrani. Dalam bahasa aslinya, dikenal sebagai Yeshua atau Yasua. Bahasa Arab, Ibrani, dan Aram sama-sama berasal dari rumpun bahasa Semit.

Karena itu, perubahan fonetik dalam penyebutan adalah hal yang wajar.

Sebagaimana nama “Musa” juga merupakan bentuk serapan, bukan kata asli bahasa Arab murni, demikian pula “Isa”. Maka Isa dan Yesus merujuk pada satu pribadi yang sama, perbedaannya hanya pada bahasa.

Kesadaran ini penting agar umat Islam tidak terjebak dalam narasi yang memisahkan keduanya secara identitas, apalagi sampai terpengaruh pada penghinaan terhadap Nabi Isa.

Kedudukan Nabi Isa dalam Islam

Dalam Islam, Nabi Isa termasuk dalam golongan Ulul Azmi, yaitu lima nabi yang memiliki keteguhan, kesabaran, dan perjuangan luar biasa dalam menghadapi kaumnya.

Kelima nabi tersebut adalah:

  1. Nabi Nuh ‘alaihis salam
  2. Nabi Ibrahim ‘alaihis salam
  3. Nabi Musa ‘alaihis salam
  4. Nabi Isa ‘alaihis salam
  5. Nabi Muhammad ﷺ

Masing-masing menghadapi ujian berat dalam dakwahnya.

  • Nabi Nuh berdakwah selama ratusan tahun dengan pengikut yang sangat sedikit.
  • Nabi Ibrahim menghadapi ancaman pembakaran dan perintah pengorbanan yang berat.
  • Nabi Musa berhadapan dengan Bani Israil yang dikenal keras kepala dan sulit diarahkan.
  • Nabi Isa pun menghadapi kaumnya yang penuh perdebatan dan penolakan.

Dakwah Nabi Isa kepada Bani Israil

Nabi Isa diutus kepada Bani Israil untuk menyeru mereka kembali kepada tauhid, menyembah Allah semata.

Namun dalam perjalanan sejarah, sebagian manusia justru mengangkat beliau ke derajat ketuhanan. Dalam perspektif Islam, hal ini menjadi persoalan teologis yang sangat serius.

Al-Qur’an menggambarkan sebuah peristiwa di hari kiamat, ketika Allah bertanya kepada Nabi Isa:

“Wahai Isa putra Maryam, apakah engkau mengatakan kepada manusia: Jadikanlah aku dan ibuku sebagai dua Tuhan selain Allah?”

Pertanyaan ini bukan karena Allah tidak mengetahui, melainkan sebagai bentuk penegasan di hadapan manusia.

Nabi Isa menjawab dengan penuh ketundukan:

“Maha Suci Engkau. Tidak patut bagiku mengatakan sesuatu yang bukan hakku. Jika aku pernah mengatakannya, tentu Engkau telah mengetahuinya. Engkau mengetahui apa yang ada dalam diriku, dan aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu.”

Jawaban tersebut menegaskan bahwa Nabi Isa tidak pernah menyerukan penyembahan terhadap dirinya maupun ibunya. Dakwahnya adalah dakwah tauhid, mengajak manusia untuk menyembah Allah semata.

Penegasan Tauhid Nabi Isa dalam Al-Qur’an

Kelanjutan dialog di hari kiamat yang dikisahkan dalam Al-Qur’an semakin memperjelas posisi Nabi Isa ‘alaihis salam.

Beliau menjawab pertanyaan Allah dengan penuh ketundukan:

“Engkau mengetahui apa yang ada pada diriku, sementara aku tidak mengetahui apa yang ada pada diri-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui segala yang gaib.”

Kemudian Nabi Isa menegaskan:

“Aku tidak pernah mengatakan kepada mereka kecuali apa yang Engkau perintahkan kepadaku, yaitu: Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.”

Dari ayat ini, jelas bahwa dakwah Nabi Isa sama dengan dakwah seluruh nabi dan rasul: dakwah tauhid. Mengajak manusia menyembah Allah semata, tanpa sekutu.

Kalimat inti dakwah para nabi sejak Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ adalah:

“Sembahlah Allah, Tuhanku dan Tuhanmu.”

Tidak ada ajaran untuk menyekutukan Allah. Tidak ada ajakan untuk menuhankan nabi.

Karena itu, dalam perspektif Al-Qur’an, Nabi Isa adalah seorang hamba Allah yang taat, seorang nabi yang menyeru kepada tauhid.

Kisah Maryam: Ujian dan Kemuliaan

Al-Qur’an juga mengisahkan bagaimana Siti Maryam mengandung tanpa suami. Ia mengasingkan diri karena khawatir terhadap cemoohan kaumnya, Bani Israil.

Maryam adalah wanita suci yang dibimbing langsung oleh Nabi Zakaria ‘alaihis salam. Ia ditempatkan di mihrab khusus di Baitul Maqdis dan dijaga kehormatannya.

Namun ketika ia kembali dengan menggendong bayi Isa, kaumnya mencemooh:

“Wahai saudara perempuan Harun! Ayahmu bukan orang jahat dan ibumu bukan pezina. Bagaimana mungkin engkau memiliki anak?”

Di sinilah muncul tuduhan bahwa Al-Qur’an keliru karena menyebut Maryam sebagai “saudara perempuan Harun”, padahal Nabi Harun hidup jauh sebelum Maryam.

Padahal dalam tradisi Semitik, penyebutan seperti itu bukan berarti saudara kandung secara langsung, melainkan penyandaran kepada garis keturunan atau kepada sosok saleh terdahulu.

Maryam disebut “saudara perempuan Harun” karena kesalehan dan keturunannya dari keluarga yang dikenal menjaga agama, sebagaimana Nabi Harun.

Ini adalah bentuk sindiran dan cemoohan dari Bani Israil:
“Kamu berasal dari keluarga orang saleh, tapi mengapa bisa membawa anak tanpa suami?”

Maryam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberi isyarat kepada bayi yang digendongnya.

Dan dengan izin Allah, bayi Isa berbicara:

“Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia memberiku kitab dan menjadikanku seorang nabi. Dia memerintahkanku mendirikan salat dan menunaikan zakat. Dan berbakti kepada ibuku.”

Penegasan pertama Nabi Isa ketika masih bayi adalah:

“Aku adalah hamba Allah.”

Bukan Tuhan. Bukan anak Tuhan. Melainkan hamba dan nabi.

Isa dan Maryam: Muslim dalam Perspektif Al-Qur’an

Dalam pandangan Islam, Nabi Isa dan Maryam adalah sosok yang tunduk dan patuh kepada Allah, artinya secara makna mereka adalah muslim dan muslimah (orang yang berserah diri kepada Allah).

Namun apakah pemahaman ini diterima oleh kalangan di luar Islam?

Tentu tidak mudah.

Sebagian berpendapat bahwa karena Isa dan Maryam hidup di tengah komunitas Bani Israil, maka mereka disebut sebagai Yahudi.

Di sinilah penting memahami istilah.

Yahudi dan Bani Israil

Istilah “Yahudi” dinisbatkan kepada Yahuda, salah satu putra Nabi Ya’qub. Karena keturunannya paling dominan, maka istilah itu kemudian digunakan untuk menyebut kelompok tersebut.

Namun para nabi seperti Musa, Harun, Zakaria, dan Isa berasal dari suku Lewi, bukan dari suku Yahuda.

Artinya, penyebutan “Yahudi” lebih kepada identitas etnis atau kabilah, bukan nama agama yang dibawa para nabi.

Asal Usul Istilah Nasrani

Mengapa disebut Nasrani?

Para ahli tafsir menjelaskan setidaknya dua kemungkinan.

Pertama, berasal dari kata anshar (penolong), sebagaimana disebut dalam Al-Qur’an ketika para hawariyun (pengikut setia Nabi Isa) berkata:

“Kami adalah penolong-penolong agama Allah.”

Dari kata ansharullah inilah muncul istilah Nasrani, orang-orang yang menolong perjuangan Nabi Isa dalam menyampaikan ajaran tauhid.

Islam: Awalnya Bukan Nama Agama

Menariknya, istilah “Islam” pada awalnya bukanlah nama formal sebuah agama sebagaimana sekarang dipahami.

Sejak Nabi Adam hingga Nabi Isa, Islam berarti sikap berserah diri kepada Allah.

Nabi Ibrahim sendiri disebut dalam Al-Qur’an sebagai:

“Hanifan musliman”, seorang yang lurus dan berserah diri.

Kisah pencarian Tuhan oleh Nabi Ibrahim menunjukkan proses perenungan: melihat bintang, bulan, matahari, dan menyadari semuanya tenggelam dan tidak layak menjadi Tuhan.

Akhirnya beliau menyatakan:

“Aku hadapkan wajahku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi, dalam keadaan lurus dan berserah diri, dan aku bukan termasuk orang-orang yang menyekutukan Allah.”

Inilah esensi Islam: berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan tidak menyekutukan-Nya.

Ujian Terbesar Nabi Ibrahim

Ketundukan Nabi Ibrahim tidak berhenti pada pengakuan lisan. Ia diuji dengan perintah yang sangat berat.

Setelah sekian lama berdoa memohon keturunan, Allah mengaruniakan seorang anak yang saleh. Namun ketika anak itu telah tumbuh dan mampu membantu ayahnya, datanglah perintah:

“Sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.”

Nabi Ibrahim menyampaikan hal itu kepada anaknya dan meminta pendapatnya.

Di sinilah terlihat puncak ketundukan dan keimanan keluarga ini.

Apakah sang anak membantah? Apakah ia menolak?

Keteladanan Ismail: Puncak Kepatuhan kepada Allah

Ketika Nabi Ibrahim menyampaikan mimpinya kepada sang anak:

“Wahai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu?”

Jawaban Nabi Ismail menjadi salah satu potret ketundukan paling luar biasa dalam sejarah kenabian:

“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”

Tidak ada bantahan. Tidak ada penolakan. Yang ada hanyalah kepatuhan total kepada perintah Allah.

Inilah karakter para nabi dan keluarga mereka: tunduk, patuh, berserah diri.

Nabi Ya’qub (Isra’il) dan Wasiat Tauhid

Nabi Ibrahim memiliki dua putra: Ismail dan Ishak. Dari Ishak lahirlah Ya’qub, yang kemudian dikenal dengan gelar Isra’il.

Menjelang wafatnya, Nabi Ya’qub mengumpulkan anak-anaknya dan memberikan wasiat yang sangat penting. Beliau bertanya:

“Apa yang akan kalian sembah sepeninggalku nanti?”

Anak-anaknya menjawab:

“Kami akan menyembah Tuhanmu, Tuhan nenek moyangmu Ibrahim, Ismail, dan Ishak. Tuhan Yang Maha Esa. Dan kami kepada-Nya berserah diri (muslimun).”

Pernyataan ini menegaskan bahwa ajaran yang diwariskan dari generasi ke generasi adalah tauhid. Dan istilah muslimun di sini menunjukkan makna berserah diri kepada Allah.

Artinya, menurut Al-Qur’an, keturunan Ya’qub adalah orang-orang yang tunduk kepada Allah.

Tuduhan terhadap Para Nabi dalam Kitab Sebelumnya

Dalam kajian ini juga disampaikan bahwa sebagian riwayat dalam kitab sebelumnya menggambarkan para nabi dengan tuduhan yang sangat berat.

Beberapa nabi dikisahkan melakukan perbuatan yang tidak pantas bagi seorang utusan Tuhan, seperti:

  • Tuduhan zina terhadap Nabi Luth
  • Tuduhan manipulasi dan intrik terhadap Nabi Dawud
  • Tuduhan penyimpangan terhadap Nabi Sulaiman
  • Tuduhan tidak terhormat terhadap leluhur Bani Israil

Dalam perspektif Islam, tuduhan-tuduhan seperti ini ditolak. Al-Qur’an hadir untuk membersihkan dan memuliakan para nabi dari berbagai fitnah tersebut.

Contohnya, Nabi Sulaiman difitnah sebagai tukang sihir. Al-Qur’an menegaskan bahwa beliau bukan penyihir, melainkan nabi yang diberi kerajaan dan hikmah.

Demikian pula Nabi Isa dan ibunya, Maryam. Ketika dituduh sebagai anak hasil perzinaan, Al-Qur’an membela dan membersihkan keduanya.

Salah satu fungsi Al-Qur’an adalah sebagai muhayminan (pembenar dan pengoreksi) terhadap kitab-kitab sebelumnya.

Islam sebagai Agama yang Disahkan

Semua nabi membawa ajaran tauhid. Namun pada masa Nabi Muhammad ﷺ, Allah menegaskan Islam bukan hanya sebagai sikap berserah diri, tetapi juga sebagai nama agama yang diridai.

Dalam peristiwa Haji Wada’, turun ayat:

“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, telah Aku cukupkan nikmat-Ku atas kalian, dan telah Aku ridhai Islam sebagai agama bagi kalian.”

Sejak saat itu, Islam secara resmi menjadi nama agama yang disahkan Allah.

Islam bukan berarti “pengikut Muhammad”. Islam adalah agama yang dibawa seluruh nabi dan disempurnakan pada masa Nabi Muhammad ﷺ.

Karena itu, seorang muslim meyakini seluruh nabi adalah muslim: tunduk dan patuh kepada Allah.

Pandangan Injil tentang Nabi Isa

Menariknya, dalam kajian ini juga dikutip beberapa ayat dalam Injil yang menunjukkan bahwa Nabi Isa menyatakan dirinya sebagai utusan, bukan Tuhan.

Dalam Injil Yohanes 5:30 disebutkan:

“Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diriku sendiri… Aku tidak menuruti kehendakku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku.”

Kalimat ini menunjukkan adanya yang mengutus dan yang diutus.

Kemudian dalam Injil Markus 12:29-30, ketika ditanya tentang hukum yang terutama, Yesus menjawab:

“Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa.”

Penegasan keesaan Tuhan ini sejalan dengan ajaran tauhid.

Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa istilah “Bapak” dan “Anak” dalam bahasa Ibrani sering digunakan sebagai ungkapan kedekatan atau kemuliaan, bukan dalam arti biologis. Namun ketika diterjemahkan ke dalam bahasa Yunani dan dipahami secara literal, maknanya mengalami pergeseran.

Nubuat tentang Utusan Setelah Isa

Disebutkan pula adanya janji tentang datangnya seorang penolong atau “roh kebenaran” yang akan memimpin kepada seluruh kebenaran dan tidak berbicara dari dirinya sendiri, melainkan menyampaikan apa yang didengarnya.

Dalam tafsir kajian ini, nubuat tersebut dipahami sebagai isyarat tentang datangnya Nabi Muhammad ﷺ.

Disebutkan bahwa sosok yang dinubuatkan:

  • Tidak berbicara dari kehendaknya sendiri
  • Menyampaikan apa yang didengarnya
  • Membawa petunjuk kepada seluruh kebenaran

Hal ini disandingkan dengan ayat Al-Qur’an:

“Dan tidaklah ia (Muhammad) berbicara menurut hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan.”

Karena itu, dakwah tauhid dipandang sebagai satu mata rantai yang berkesinambungan dari Nabi Adam hingga Nabi Muhammad ﷺ.

Tanggung Jawab Dakwah

Pada bagian akhir sesi ini ditegaskan bahwa menjadi tugas umat Islam untuk berdakwah:

  • Menguatkan pemahaman internal umat
  • Meluruskan kesalahpahaman
  • Menjelaskan posisi para nabi secara proporsional

Termasuk menjelaskan bahwa Nabi Isa ‘alaihis salam adalah nabi dan rasul Allah yang menyeru kepada tauhid, bukan kepada penyembahan dirinya.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

PRODUK PARFUM AYA SOFYA


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat

DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451

BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.