Dalam Islam, keyakinan tidak boleh dipaksakan. Baik memaksa orang untuk masuk Islam maupun mengiming-imingi dengan janji tertentu agar berpindah keyakinan adalah perbuatan yang salah. Sebab, masuk Islam adalah murni hidayah dari Allah, bukan karena tekanan atau imbalan.
Kisah Stanley: Pencarian Jati Diri dan Keimanan
Dalam sebuah forum dialog, Stanley Golak Kapin, seorang Kristen Protestan, memperkenalkan diri dan menceritakan perjalanan spiritualnya. Ia mengaku sedang berada pada fase pencarian jati diri, merasa kehilangan arah, dan mengalami “futur”, istilah dalam Islam untuk menggambarkan lemahnya iman.
Sejak kecil Stanley tumbuh di lingkungan mayoritas Muslim. Dari pengamatannya, ia menemukan bahwa aturan hidup dalam Islam tampak lebih tertata dan lengkap dibandingkan dengan yang ia rasakan dalam keyakinannya sekarang. Ia pun bertanya-tanya: Apakah karena Islam adalah agama terakhir sehingga memiliki aturan yang lebih sempurna? Apakah lewat Islam ia bisa lebih dekat dengan Sang Pencipta?
Melihat Islam dari Dekat
Stanley terkesan dengan gaya hidup teman-teman Muslimnya. Mereka terlihat menjalani ibadah tanpa beban, meski harus salat lima waktu setiap hari, berpuasa sebulan penuh di Ramadan, dan mematuhi aturan-aturan yang ketat. Baginya, keteraturan itu justru terlihat indah dan membentuk kepribadian yang kuat.
Ustaz yang hadir menanggapi, memuji kecerdasan Stanley dalam mengutarakan pikiran dan pertanyaan. Ia menjelaskan bahwa salat lima waktu bukan sekadar ritual, melainkan bentuk ungkapan cinta kepada Allah. Setiap sujud adalah pernyataan “I love you, ya Allah” yang diulang 34 kali setiap hari. Analogi yang digunakan sederhana: seperti seorang pegawai yang setiap hari memuji dan mendoakan kebaikan untuk atasannya tanpa pamrih, tentu sang pemimpin akan menghargainya dan memberinya yang terbaik.
Salat: Ungkapan Syukur, Bukan Sekadar Permintaan
Dalam Islam, ibadah seperti salat, puasa, dan sedekah bukan semata-mata untuk meminta sesuatu, tetapi sebagai bentuk syukur atas nikmat Allah, kesehatan, umur, keluarga, dan kehidupan yang damai di tengah masyarakat plural seperti Indonesia.
Ustaz menekankan bahwa hubungan dengan Allah dalam Islam dibangun atas rasa cinta, syukur, dan pengakuan bahwa hanya Dia pemilik segala sesuatu. Seorang Muslim yang taat sadar bahwa kapan pun Allah bisa mengambil atau memberi, dan itulah yang membuat ibadah menjadi murni.
Keindahan Aqidah Islam
Stanley juga mengungkapkan kekagumannya pada ketegasan konsep ketuhanan dalam Islam. Allah adalah satu-satunya Tuhan yang layak disembah, tidak beranak dan tidak diperanakkan, sebagaimana ditegaskan dalam Surah Al-Ikhlas. Konsep ini membuat umat Islam memiliki pondasi iman yang kokoh.
Ia juga tersentuh dengan Surah Maryam ayat 30–35, yang mengisahkan Nabi Isa (‘alaihissalam) berbicara sejak bayi untuk membela ibunya, Maryam (‘alaihas-salam), dari fitnah. Dalam ayat itu, Nabi Isa menegaskan bahwa dirinya hanyalah hamba Allah dan seorang nabi, serta mengajak untuk menyembah Allah sebagai jalan yang lurus.
Melawan Stereotip Negatif terhadap Islam
Sayangnya, di luar sana, Islam sering disalahpahami. Media kerap mengaitkan Islam dengan terorisme, intoleransi, atau kekerasan. Kasus-kasus oknum, seperti korupsi atau pelanggaran moral oleh sebagian tokoh berpenampilan islami, juga dimanfaatkan untuk merusak citra Islam. Padahal, perbuatan mereka tidak mencerminkan ajaran Islam yang sejati.
Ustaz menegaskan, umat Islam harus bijak melihat konteks. Indonesia adalah negara plural, sehingga perilaku seorang Muslim harus mempertimbangkan pandangan masyarakat luas, bukan hanya mengikuti kebiasaan di negara mayoritas Muslim.
Islam Mengembalikan Kemuliaan Agama Sebelumnya
Di akhir dialog, Ustaz menegaskan bahwa Islam tidak menghancurkan agama-agama sebelumnya. Sebaliknya, Islam datang untuk mengembalikan kemurnian dan kemuliaan ajaran yang dibawa para nabi terdahulu. Kisah Maryam dalam Al-Qur’an adalah contoh nyata bagaimana Islam meluruskan sejarah dan menjaga kehormatan tokoh-tokoh suci yang juga dihormati dalam agama lain.
Islam Mengembalikan Kebenaran yang Asli
Ustaz menegaskan sejak awal bahwa Islam tidak menghancurkan atau menghapus ajaran para nabi sebelumnya, melainkan mengembalikan kisah dan tatanan asli sebagaimana pertama kali diturunkan oleh Allah. Ibarat makanan, ada versi “original” dan ada yang sudah bercampur bumbu tambahan—Islam hadir untuk mengembalikan cita rasa asli wahyu yang telah diubah oleh tangan manusia.
Sejak zaman Nabi Adam, konsep halal dan haram sudah ada. Contohnya, larangan Allah kepada Adam untuk memakan buah dari pohon tertentu. Namun dalam teks Bibel modern, narasi ini bergeser menjadi ancaman kematian langsung, yang tidak sesuai dengan pesan awal.
Kritik terhadap Konsep Dosa Turunan
Salah satu perbedaan mendasar adalah doktrin dosa turunan. Islam menolak adanya dosa warisan dari Adam kepada seluruh manusia. Dalam pandangan Islam, setiap manusia lahir suci dan tidak memikul dosa orang lain. Sebaliknya, dalam sebagian ajaran Kristen, bayi yang lahir dianggap sudah membawa dosa sejak lahir dan harus ditebus melalui iman kepada Yesus. Ustaz mempertanyakan logika ini: bagaimana nasib bayi yang meninggal sebelum sempat mengucapkan iman tersebut?
Ajaran yang Tercemar Ibarat Sungai Tercemar
Ustaz mengilustrasikan perubahan ajaran agama seperti sungai yang awalnya jernih, namun kemudian tercemar limbah dari pabrik, restoran, dan penginapan di sekitarnya. Firman Allah yang diturunkan kepada para nabi dari Adam hingga Ibrahim awalnya murni, tetapi seiring waktu mulai dimasuki perubahan dan tambahan.
Yesus dan Perintah Mencintai Tuhan
Dalam kajian, Ustaz menunjukkan teks dari Deuteronomy 6:4 dalam bahasa Ibrani: Shema Yisrael, Adonai Elohenu, Adonai Echad , “Dengarlah hai Israel, Tuhan kita, Tuhan itu Esa.” Ayat ini sangat mirip dengan ajaran Islam tentang tauhid, Qul Huwallahu Ahad (Katakanlah, Dialah Allah Yang Maha Esa).
Yesus sendiri mengajarkan untuk mencintai Tuhan dengan segenap hati, jiwa, dan kekuatan. Dalam Islam, pernyataan cinta kepada Allah dilakukan minimal 34 kali sehari dalam salat.
Bibel Bahasa Arab dan Kesamaan dengan Syahadat
Ustaz kemudian membuka teks Injil dalam bahasa Arab dari abad ke-9 Masehi, terjemahan Koptik Ortodoks dari Mesir. Dalam Markus 12:29, Yesus berkata: Almaula ilahuna huallahu ahad , yang berarti “Tuhan kita adalah Allah yang Esa.” Pesan ini identik dengan kalimat tauhid La ilaha illallah.
Yesus dan Praktik Ibadah seperti Salat
Dalam teks-teks Injil bahasa Arab, Ustaz menunjukkan bahwa Yesus melakukan ibadah yang mirip salat:
- Lukas 6:12: Yesus naik ke gunung dan berdoa semalam suntuk kepada Allah.
- Kisah Para Rasul 10:9: Petrus melaksanakan salat zuhur.
- Kisah Para Rasul 3:1: Petrus dan Yohanes pergi ke Baitullah untuk salat asar.
Bahkan dalam studi bahasa, ditemukan kata “Haji” dalam konteks perjalanan ibadah yang mengarah ke Makkah, menunjukkan adanya tradisi ziarah yang telah dikenal sejak masa para nabi.
Yesus sebagai ‘Rabi’
Yesus sering dipanggil “Rabi” (guru) oleh murid-muridnya, seperti Petrus, Andreas, Bartolomeus, dan Matius. Dalam tradisi Yahudi, seorang rabi biasanya menikah, yang semakin menunjukkan bahwa Yesus adalah manusia yang menjalani kehidupan normal, bukan sosok ilahi.
Melalui penelusuran lintas bahasa Ibrani, Aram, Latin, Arab, Ustaz menyampaikan bahwa inti ajaran Yesus sejalan dengan ajaran tauhid dalam Islam: mengesakan Allah, mencintai-Nya sepenuh hati, dan melaksanakan ibadah yang teratur. Islam tidak menghapus ajaran Yesus, tetapi meluruskan kembali kepada bentuk aslinya yang murni.
Baik, berikut artikel website yang saya susun berdasarkan transkrip yang Anda berikan. Saya buat dengan alur yang rapi, menggunakan subjudul, dan mempertahankan inti pembahasan Ustaz Kainama serta pesan dakwahnya.
Pertanyaan “Out of the Box” dan Kegelisahan Pendeta
Ustaz Kainama membuka dengan cerita ringan namun sarat makna: banyak pendeta senior sering merasa kesulitan menghadapi pertanyaan anak muda yang berpikir kritis. Pertanyaan-pertanyaan ini dianggap “out of the box” karena menyentuh topik yang jarang dibahas di gereja.
Menurut beliau, sebagian besar jemaat tidak pernah diajarkan bahasa asli Yesus, yaitu Aram (Aramaik), atau sejarah budaya yang melatarbelakangi ajaran beliau. Padahal, pengetahuan ini bisa mengubah cara pandang terhadap keimanan.
Bahaya Menyembunyikan Fakta
Ustaz Kainama mengingatkan bahwa dalam tradisi gereja, ada banyak informasi yang dianggap berbahaya jika dibuka ke publik, karena dikhawatirkan membuat jemaat mempertanyakan doktrin yang selama ini dianut.
Ia mencontohkan kisah Yesus yang:
- Dikhitan (Lukas 2:21)
- Berpuasa
- Dikafani saat wafat
- Merayakan hari raya kurban
- Bahkan menurut beberapa catatan, pernah mengunjungi Makkah
Semua praktik ini, menurut Kainama, justru sangat dekat dengan tradisi Islam.
Cinta Yesus, Jalan Menuju Syahadat
Kainama menegaskan, jika seseorang benar-benar mencintai Yesus dan mengikuti ajarannya, maka ia akan sampai pada kesimpulan yang sama seperti yang dibawa Islam. Mengutip 1 Yohanes 1:9, ia menekankan bahwa pengampunan dosa datang dari pertobatan, bukan dari kematian Yesus di salib.
Baginya, kembali ke ajaran murni berarti kembali ke dua kalimat syahadat, pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah, dan Muhammad adalah utusan-Nya.
Sungai Kebenaran dan Kontaminasi Ajaran
Dalam analoginya, Kainama menggambarkan ajaran Allah seperti sungai murni yang mengalir dari sumber. Namun, seiring perjalanan, aliran ini terkontaminasi oleh “limbah” berupa penambahan atau perubahan ajaran.
Islam, kata Kainama, mengajak kembali ke muara yang bersih. Bukan memaksa, melainkan menawarkan jalan untuk kembali pada ajaran awal para nabi.
Fitrah Manusia dan Konsep Dosa Waris
Islam memandang setiap bayi lahir dalam keadaan suci (fitrah), sedangkan doktrin Kristen mengajarkan bahwa manusia mewarisi dosa asal sejak lahir. Menurut Kainama, konsep dosa waris adalah hasil distorsi ajaran. Anak-anak yang lahir, meski dari orang tua yang berdosa, tetaplah suci hingga mereka sendiri memilih jalan yang salah.
Seruan untuk Menggali Sumber Asli
Kainama mengajak umat Kristen untuk membaca langsung kitab suci dan menelusuri ajaran Yesus berdasarkan bahasa aslinya Aram atau Ibrani, bukan hanya terjemahan. Ia menegaskan bahwa umat Islam terbiasa mencari sanad (silsilah sumber) hingga menemukan kebenaran yang autentik.
Islam dan Kerukunan Antarumat Beragama
Menutup dialognya, Kainama bersama Ustaz Ipung, Bunda Etika, dan para mualaf menegaskan bahwa Islam tidak memaksa siapapun untuk memeluk agama ini. Pertemuan mereka dengan seorang tamu bernama Stanley hanyalah obrolan santai tentang kebenaran, bukan upaya konversi paksa.
Pesan terakhirnya jelas:
“Jika ingin mencari kebenaran murni tentang Yesus Kristus, Isa Almasih Ibnu Maryam, maka Islam adalah jalan yang mengantarkanmu ke sumber itu. Dan petanya ada di kitabmu sendiri.”
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
