YESUS DALAM PERSPEKTIF TAUHID: JURUS PAMUNGKAS DIALOG DAKWAH

Dalam sebuah kajian yang disampaikan oleh Ustadz dr. H. Anwar Luthfi, beliau membuka materi dengan judul yang terdengar “ngeri-ngeri sedap”: Jurus Pamungkas Ampuh Menang Berdialog dengan Pendeta. Sejak awal, beliau menegaskan bahwa jurus pamungkas itu sebenarnya sangat banyak, salah satunya melalui Yesus. Namun, karena keterbatasan waktu, maka beliau memilih menyampaikan cara yang paling mudah dan paling praktis.

Beliau juga menyampaikan permohonan maaf karena handout berupa buku saku berjudul “Mematahkan Gerakan Taring-Taring Salib di Indonesia” tertinggal di rumah. Meski demikian, beliau menenangkan peserta bahwa materi tetap akan disampaikan dengan cara yang sederhana, mudah dipahami, dan aplikatif.

“Yang sulit itu gampang dihilangkan. Yang gampang-gampang saja. Ini jurus pamungkas cara mudah untuk menaklukkan,” tutur beliau.

Analogi Bela Diri dalam Berdakwah

Untuk memudahkan pemahaman, Ustadz Anwar menggunakan analogi bela diri. Beliau bertanya kepada para peserta tentang pengalaman mereka mengikuti pencak silat, karate, taekwondo, atau aliran bela diri lainnya. Menurut beliau, umat Islam memang dianjurkan untuk menguasai bela diri karena suatu saat manusia akan kembali pada sistem manual akibat kerusakan teknologi.

Setiap aliran bela diri memiliki karakter berbeda:

  • Karate: maju, maju, dan terus menyerang.
  • Pencak silat: menyerang sambil menghindar.
  • Kungfu dan Tapak Suci: menggabungkan seni menghindar dan menyerang.

Lalu beliau mengajukan pertanyaan penting:

“Bagaimana caranya seorang karateka bisa mengalahkan pesilat pencak silat?”

Jawabannya sederhana namun mendalam: mencari kelemahan lawan.

Menguasai Jurus Sendiri dan Kelemahan Lawan

Ustadz Anwar menjelaskan bahwa untuk menjadi ahli dalam suatu bidang, seseorang harus:

  1. Menguasai jurus perguruannya sendiri dengan sempurna.
  2. Mempelajari kelemahan jurus lawan.

Prinsip ini kemudian beliau tarik ke dalam dunia dakwah dan dialog antaragama. Banyak orang berkata:

“Ngapain belajar kristologi atau perbandingan agama? Cukup belajar Al-Qur’an saja.”

Menurut beliau, pernyataan itu tidak salah. Bahkan benar. Seorang Muslim memang wajib menguasai Al-Qur’an karena Al-Qur’an adalah satu-satunya petunjuk menuju keselamatan dunia dan akhirat.

Namun, realitas sosial menunjukkan bahwa umat Islam hidup di tengah masyarakat yang majemuk, dengan berbagai keyakinan dan agama. Dalam kondisi inilah, seorang Muslim — terlebih dai, perlu memahami keyakinan pihak lain, bukan untuk mengikuti, tetapi untuk menjaga akidah dan berdakwah dengan ilmu.

Peringatan Al-Qur’an tentang Ahlul Kitab

Ustadz Anwar mengingatkan firman Allah bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan pernah ridha hingga kaum Muslimin mengikuti jalan mereka. Kata “lan” dalam ayat tersebut menunjukkan penegasan: tidak hari ini, tidak besok, dan tidak sampai kapan pun.

Namun, Allah juga memerintahkan umat Islam untuk tetap berdakwah, bukan hanya kepada sesama Muslim, tetapi juga kepada Ahlul Kitab, yaitu Yahudi dan Nasrani.

Beliau kemudian meminta salah satu peserta untuk membacakan Surah Ali Imran ayat 64:

“Katakanlah: Wahai Ahlul Kitab, marilah kita kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kalian: bahwa kita tidak menyembah selain Allah, tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan tidak menjadikan sebagian kita sebagai tuhan selain Allah…”

Ayat ini menunjukkan bahwa dialog dakwah harus dibangun di atas ajakan tauhid, dengan bahasa yang adil, santun, dan argumentatif.

Dakwah sebagai Benteng Akidah

Menurut Ustadz Anwar, dakwah bukan hanya untuk menguatkan umat Islam dari dalam, tetapi juga sebagai benteng dari upaya pendangkalan akidah dan pemurtadan. Karena itu, seorang dai harus memahami medan dakwahnya, termasuk pemikiran, doktrin, dan kelemahan argumentasi pihak lain.

Dengan cara inilah, jurus pamungkas dalam dialog bukan terletak pada emosi, debat keras, atau serangan pribadi, melainkan pada penguasaan ilmu, logika, dan hikmah.

Jurus Pamungkas Dakwah: Seruan Tauhid yang Aktif

Ustadz Anwar menegaskan bahwa perintah dakwah kepada Ahlul Kitab bukanlah perintah pasif, melainkan perintah aktif. Umat Islam diperintahkan untuk menyeru:

“Wahai Ahlul Kitab, marilah kita kembali kepada satu kalimat yang sama…”

Yakni tiga prinsip utama:

  1. Tidak menyembah kecuali Allah semata.
  2. Tidak menyekutukan Allah dengan apa pun.
  3. Tidak menjadikan manusia sebagai tuhan selain Allah.

Inilah inti dakwah tauhid yang harus terus disampaikan.

Namun, jika setelah dakwah disampaikan mereka tetap berpaling, maka Allah mengajarkan kalimat penegasan:

“Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim.”

Artinya, tugas seorang Muslim bukan memaksa orang lain masuk Islam, tetapi menyampaikan kebenaran dengan tegas, jujur, dan bertanggung jawab.

Dakwah dan Keberanian Menghadapi Risiko

Ustadz Anwar kemudian menyinggung ayat tentang umat terbaik:

Kuntum khaira ummah…

Beliau menjelaskan bahwa urutannya sering terbalik dipahami. Seharusnya:

  1. Beriman kepada Allah.
  2. Berani mencegah kemungkaran.
  3. Baru kemudian mengajak kepada kebaikan.

Orang yang benar-benar beriman pasti berani menghadapi risiko dalam nahi mungkar. Karena justru ketika melarang kemungkaran, resistensi, ancaman, dan penolakan akan muncul.

Beliau mencontohkan, mengajak orang salat sering dianggap remeh. Tetapi ketika melarang kemaksiatan, responnya bisa sangat keras:

“Siapa kamu? Apa backinganmu?”

Bahkan para nabi dan rasul pun mengalami hal serupa. Mereka dicaci, diancam, dan diremehkan. Inilah medan dakwah yang nyata.

Fokus pada Al-Qur’an, Bukan Sekadar Debat

Ustadz Anwar menegaskan kembali bahwa umat Islam tidak dituntut menghafal seluruh isi kitab suci agama lain. Fokus utama tetap Al-Qur’an. Namun, mengenal pola argumentasi lawan sangat penting sebagai bekal dakwah.

Beliau mengajak peserta:

  • Siap fokus mempelajari Al-Qur’an
  • Siap mendalami Al-Qur’an
  • Siap mengamalkan Al-Qur’an

Semua peserta menjawab siap, dan beliau menegaskan bahwa merekalah para “pendekar dakwah” yang telah menguasai jurus utama.

Kisah Pemuda Bersepeda Jengki

Ustadz Anwar kemudian menceritakan sebuah kisah nyata yang pernah dimuat di majalah Suara Muhammadiyah dan Media Dakwah, berjudul “Pemuda Bersepeda Jengki.”

Kisah itu menceritakan tiga mahasiswi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang sedang berjalan pulang menjelang magrib. Tiba-tiba seorang pemuda dengan sepeda jengki berhenti di depan mereka dan bertanya:

“Mbak, maukah menerima Yesus sebagai juru selamat?”

Karena tidak siap secara ilmu dan mental, ketiga mahasiswi itu ketakutan, mempercepat langkah, lalu lari. Pemuda itu malah mengejar sambil mengulangi pertanyaan yang sama.

Akhirnya, mereka menggunakan “jurus pamungkas tertinggi” dalam bela diri: langkah seribu, kabur sambil berteriak:

“Maling! Copet! Tolong!”

Beruntung, adzan magrib berkumandang sehingga pemuda tersebut selamat dari amukan massa.

Jurus Pamungkas Seorang Dai

Ustadz Anwar kemudian memberikan gambaran ideal:

Seandainya pemuda itu mendatangi seorang Muslim yang siap berdakwah, maka jawabannya bukan lari, tetapi dialog.

“Mas, kalau mau ngobrol, jangan di pinggir jalan. Monggo kita duduk yang enak.”

Pemuda itu diajak duduk, disuguhi teh, kopi, bahkan bakso atau soto panas. Semua dilakukan agar dialog berlangsung santai, tidak tegang, dan penuh adab.

Barulah dialog dimulai.

Awal Argumentasi tentang Dosa Waris

Pemuda tersebut lalu mulai menjelaskan doktrin:

Bahwa manusia lahir membawa dosa turunan dari Adam dan Hawa. Karena itu, manusia membutuhkan penebusan dosa, dan satu-satunya penebus adalah Yesus.

Ustadz Anwar lalu memberi contoh jawaban sederhana namun tajam:

“Mas, yang saya tahu itu yang diwariskan adalah harta: sawah, ladang, rumah, emas. Kalau dosa kok diwariskan?”

Beliau menjelaskan bahwa dalam Islam tidak ada konsep dosa warisan. Setiap manusia menanggung dosanya sendiri. Bahkan tradisi jahiliah yang dahulu memperlakukan istri sebagai warisan pun dihapus oleh Rasulullah ﷺ.

Lalu beliau menegaskan:

“Ini kok ada warisan dosa, itu dari mana konsepnya?”

Strategi “Macak Nomblongi”: Jurus Psikologis dalam Dialog

Ustadz Anwar menjelaskan salah satu teknik dialog yang unik namun efektif, yaitu macak nomblongi,  berpura-pura polos agar lawan mau menjelaskan dalilnya secara terbuka.

Ketika pemuda itu menjelaskan tentang dosa warisan, maka jangan langsung membantah, tetapi bertanya dengan santai:

“Oh, gitu ya, Mas. Dalilnya dari mana itu?”

Biasanya, mereka akan merujuk kepada Roma 5:12, yang berbunyi bahwa dosa masuk ke dunia melalui satu orang, dan maut menjalar kepada semua manusia.

Kemudian diperkuat lagi dengan Roma 6:23:

“Upah dosa ialah maut, tetapi karunia Allah ialah hidup kekal dalam Kristus Yesus.”

Dari ayat inilah kemudian dibangun doktrin bahwa semua manusia mewarisi dosa Adam, sehingga pasti mati, dan karena itu membutuhkan penebusan dosa.

Menggiring Logika dengan Tenang

Ustadz Anwar mencontohkan respon yang tenang:

“Berarti kita mati karena dosa Adam ya, Mas?”

Pemuda itu menjawab: iya.

“Berarti Yesus juga mati dong, Mas?”

Pemuda itu mengiyakan.

“Berarti Tuhan pun mati?”

Pemuda itu mulai bingung, namun tetap menjawab bahwa kematian Yesus adalah untuk menebus dosa manusia.

Lalu Ustadz Anwar mengarahkan ke pertanyaan inti:

“Mas, Roma itu apa?”

Sebagian menjawab Roma adalah ibu kota Italia, klub sepak bola, bahkan merek biskuit. Lalu dibukalah Roma pasal 1 ayat 1, yang menjelaskan bahwa Roma adalah surat kiriman Paulus kepada jemaat di Roma.

Maka ditarik kesimpulan sederhana:

Roma bukan firman Tuhan langsung, bukan perkataan Yesus, tetapi surat Paulus.

Paulus Bukan Tuhan

Ustadz Anwar menegaskan bahwa banyak umat Kristen menganggap surat Paulus setara dengan firman Tuhan, dengan alasan Paulus dibimbing Roh Kudus. Namun secara logika, tetap saja itu adalah tulisan manusia.

Maka disampaikan dengan lembut namun tegas:

“Kalau dalil dosa waris itu cuma dari Paulus, bukan dari Yesus, bukan dari Allah, bagaimana kami mau menerimanya?”

Dengan demikian, konsep dosa warisan dianggap cacat dalil, karena tidak berasal dari Tuhan atau Yesus, tetapi hanya dari Paulus.

Dan pada titik ini, menurut beliau, lawan dialog biasanya tidak mampu membantah secara ilmiah.

Siapa yang Menyelamatkan: Yesus atau Paulus?

Ustadz Anwar melanjutkan:

“Yang akan menyelamatkan kalian itu Yesus atau Paulus?”

Jika keselamatan melalui Yesus, maka dalil keselamatan harus berasal dari Yesus, bukan dari Paulus.

Kemudian dibacakan Yohanes 14:6:

“Akulah jalan, kebenaran, dan hidup. Tidak seorang pun datang kepada Bapa kalau tidak melalui Aku.”

Ayat ini digunakan untuk menegaskan bahwa yang membawa keselamatan adalah Yesus, bukan Paulus. Maka mengikuti Paulus tidak menjamin keselamatan menurut teks Injil itu sendiri.

Injil Yohanes dan Status Penulis

Ustadz Anwar juga menyinggung bahwa Injil Yohanes sejatinya adalah Injil karangan Yohanes, bukan tulisan Yesus sendiri. Bahkan di beberapa cetakan modern, kata “karangan” mulai dihilangkan karena sering menjadi titik kritik dalam dialog.

Hal ini menunjukkan bahwa banyak ajaran penting dalam Kristen berasal dari penulis Injil dan surat rasul, bukan langsung dari Yesus.

Skor Dialog: Satu Nol

Ustadz Anwar menyebut tahap ini sebagai satu poin kemenangan dalam dialog, karena:

  1. Dosa waris gugur secara dalil.
  2. Sumbernya hanya dari Paulus.
  3. Bukan dari Yesus dan bukan dari Allah.

Penebusan Dosa: Benarkah Yesus Rela Disalib?

Masuk ke poin kedua: penebusan dosa.

Pemuda itu mengatakan bahwa Yesus rela mati disalib. Namun Ustadz Anwar mengingatkan:

Di Taman Getsemani, Yesus berdoa agar cawan penderitaan diangkat darinya.
Di atas salib, ia berteriak:

“Tuhan, Tuhan, mengapa Engkau meninggalkan aku?”

Menurut Ustadz Anwar, ini menunjukkan bahwa Yesus tidak rela disalib.

Bahkan teriakan tersebut menunjukkan bahwa yang berada di atas salib bukanlah Tuhan, karena ia masih memohon kepada Tuhan.

Penebusan Dosa Kembali ke Paulus

Ustadz Anwar menegaskan bahwa konsep penebusan dosa kembali bersumber dari:

  • Surat Paulus kepada jemaat di Roma
  • Surat Paulus kepada jemaat di Efesus
  • Surat Paulus kepada jemaat di Galatia

Bukan dari ajaran Yesus langsung.

Beliau lalu meminta peserta mencari rujukan Galatia sebagai kelanjutan pembahasan penebusan dosa.

Galatia 3:13 dan Kembali ke Paulus

Ayat Galatia pasal 3 ayat 13 dibacakan:

“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita. Sebab ada tertulis: Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib.”

Ustadz Anwar langsung mengajak peserta membuka awal kitab Galatia, yang kembali menunjukkan bahwa Galatia adalah surat kiriman Paulus kepada jemaat di Galatia. Dengan demikian, konsep penebusan dosa kembali bersumber dari Paulus, bukan dari Yesus.

Maka dua pilar utama doktrin Kristen:

  1. Dosa waris
  2. Penebusan dosa

keduanya kembali kepada sumber yang sama: surat-surat Paulus.

Menurut Ustadz Anwar, jika fondasi ini runtuh, maka keselamatan berbasis Paulus pun ikut runtuh.

Masuk ke Doktrin Trinitas

Pilar ketiga yang sering dibanggakan adalah Trinitas: Tuhan Bapa, Tuhan Anak, dan Roh Kudus.

Dalil yang selalu dijadikan sandaran adalah Matius pasal 28 ayat 19, yang dikenal sebagai amanat agung:

“Pergilah dan jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.”

Ustadz Anwar menegaskan bahwa untuk membantah ayat ini, kuncinya bukan langsung pada isinya, tetapi pada siapa penulis Injil Matius.

Benarkah Injil Matius Ditulis oleh Murid Yesus?

Umat Kristen umumnya meyakini bahwa Injil Matius ditulis oleh Matius, murid Yesus. Namun Ustadz Anwar mengajak peserta membuka Matius pasal 10 ayat 2, yang mencantumkan daftar dua belas rasul, termasuk:

“Matius pemungut cukai.”

Kemudian dibuka Matius pasal 9 ayat 9:

“Yesus melihat seorang yang bernama Matius duduk di rumah cukai, lalu berkata: Ikutlah Aku.”

Di sini muncul kejanggalan besar.

Jika penulis Injil Matius adalah Matius murid Yesus, maka redaksi ayat seharusnya berbunyi:

“Yesus melihatku duduk di rumah cukai…”

Namun yang tertulis adalah:

“Yesus melihat seorang yang bernama Matius…”

Ini menunjukkan bahwa penulis Injil Matius bukan Matius pemungut cukai, melainkan orang lain yang hanya kebetulan bernama sama.

Menurut para ahli Alkitab sendiri, Injil Matius ditulis sekitar 60 tahun setelah Yesus wafat, sehingga tidak mungkin ditulis langsung oleh murid Yesus.

Dengan demikian, Injil Matius bukan kesaksian langsung murid Yesus, tetapi karya penulis lain yang hidup jauh setelah masa Yesus.

Prinsip Muslim terhadap Kitab Sebelumnya

Ustadz Anwar mengingatkan kaidah Rasulullah ﷺ:

  • Jika sesuai dengan Al-Qur’an → diterima
  • Jika bertentangan dengan Al-Qur’an → ditolak

Karena itu, Injil tidak ditolak seluruhnya, tetapi juga tidak diterima seluruhnya.

Kontradiksi Ajaran Yesus

Ustadz Anwar lalu menunjukkan bahwa Matius 28:19 berbicara tentang dakwah global, sedangkan ketika Yesus masih hidup, ajarannya justru berbeda.

Dibacakan Matius pasal 10 ayat 5–6:

“Janganlah kamu pergi ke bangsa-bangsa lain, melainkan kepada domba-domba yang hilang dari Israel.”

Kemudian Matius pasal 15 ayat 24:

“Aku diutus hanya kepada domba-domba yang hilang dari Israel.”

Artinya, misi Yesus menurut Injil sendiri adalah khusus untuk Bani Israel, bukan untuk seluruh bangsa.

Maka timbul pertanyaan besar:

Apakah perintah global dalam Matius 28:19 sejalan dengan ajaran Yesus ketika beliau hidup?
Ataukah justru terjadi kontradiksi internal dalam Injil itu sendiri?

Penampakan Pasca Wafat

Ustadz Anwar menambahkan bahwa Matius 28:19 disampaikan setelah Yesus wafat dan bangkit. Dalam konteks penampakan, para murid sendiri ketakutan. Sehingga perintah tersebut tidak lagi berada dalam situasi pengajaran normal, melainkan dalam kondisi pasca penyaliban.

Sementara ajaran Yesus yang konsisten selama hidupnya justru membatasi misi dakwah hanya kepada Bani Israel.

Kontradiksi Amanat Yesus

Ustadz Anwar kembali menegaskan:

Selama Yesus masih hidup, beliau hanya diutus kepada Bani Israil. Bahkan murid-muridnya dilarang pergi kepada bangsa lain. Maka jika dakwah Yesus ditujukan ke luar Israil, itu justru menyalahi amanat Yesus sendiri.

Pertanyaannya:

Mengapa setelah Yesus wafat, tiba-tiba muncul perintah:

“Pergilah ke seluruh dunia, baptiskanlah mereka atas nama Bapa, Anak, dan Roh Kudus.”

Padahal, penulis Injil Matius sendiri bukan murid Yesus dan tidak pernah bertemu langsung dengan Yesus.

Dalam ilmu hadis, berita seperti ini termasuk berita yang sanadnya terputus. Tidak bisa dijadikan dasar hukum. Jika hadis seperti ini dalam Islam, maka statusnya mardud (tertolak).

Sedangkan ucapan Yesus yang sahih dalam Injil justru berkata:

“Aku hanya diutus untuk Bani Israil.”

Maka dengan akal sehat, lebih pantas mengikuti ucapan Yesus atau ucapan penulis Injil?

Ustadz Anwar menegaskan: orang yang sehat akalnya pasti memilih mengikuti Yesus, bukan penulis Injil.

Jika mengikuti Yesus, maka orang non-Israil tidak termasuk sasaran dakwah beliau.

Nubuat yang Tidak Terjadi

Salah satu ciri kitab suci adalah kebenaran nubuatnya. Nubuat nabi pasti terjadi, karena disampaikan dengan bimbingan wahyu.

Namun Ustadz Anwar menunjukkan Matius pasal 10 ayat 23:

“Sebelum kamu selesai mengunjungi kota-kota Israel, Anak Manusia sudah datang.”

Faktanya:

Semua kota Israel sudah lama dikunjungi manusia. Tetapi Yesus belum datang kembali sampai hari ini.

Maka nubuat itu tidak terjadi.

Jika nubuat tidak terjadi, maka itu bukan ucapan nabi, melainkan karangan manusia.

Nubuat Kedua yang Juga Tidak Terjadi

Kemudian dibacakan Matius pasal 16 ayat 28:

“Di antara orang yang hadir di sini ada yang tidak akan mati sebelum mereka melihat Anak Manusia datang sebagai raja dalam kekuasaan-Nya.”

Sampai hari ini:

  • Yesus belum datang kembali.
  • Semua orang yang hadir saat itu telah wafat.

Maka kabar ini dinyatakan palsu.

Dalam ilmu hadis, berita seperti ini tertolak. Jika kitab suci mengandung berita dusta, maka kitab tersebut tidak layak disebut kitab suci.

Karena kitab suci seharusnya bersih dari kebohongan.

Maka Ustadz Anwar menyimpulkan:

“Kami tidak menyebut kitabmu kitab suci, tapi kitab yang perlu disucikan.”

Siapakah Anak yang Dikurbankan Ibrahim?

Pembahasan lalu berpindah ke Perjanjian Lama dan Al-Qur’an.

Pertanyaannya:

Siapakah anak Nabi Ibrahim yang dikurbankan?

Jawaban umat Islam: Ismail.

Dalilnya diambil dari Surah Ash-Shaffat ayat 100–113.

Allah berfirman:

“Rabbi hab li minas shalihin.”
“Lalu Kami beri kabar gembira dengan seorang anak yang halim (sangat penyabar).”

Kemudian diceritakan perintah penyembelihan anak tersebut, dan Allah menggantinya dengan sembelihan besar.

Setelah itu, baru Allah berfirman:

“Dan Kami beri kabar gembira dengan Ishaq sebagai seorang nabi dari orang-orang yang saleh.”

Artinya:

Anak yang pertama diberi kabar adalah anak yang halim (penyabar), dan itu adalah Ismail.
Sedangkan Ishaq baru disebut setelah peristiwa penyembelihan selesai.

Analisis Huruf “Wau”

Ustadz Anwar menekankan pentingnya huruf wau dalam ayat:

“Wa basyarnahu bi Ishaq…”

Huruf wau di sini adalah wau ‘athaf yang menunjukkan urutan peristiwa berbeda. Artinya:

Peristiwa kelahiran Ismail dan penyembelihannya terjadi lebih dahulu, lalu setelah itu baru kelahiran Ishaq.

Maka urutannya jelas:

  1. Ismail lahir
  2. Ismail diuji dengan penyembelihan
  3. Ismail diselamatkan
  4. Baru setelah itu Ishaq lahir

Sehingga secara bahasa, sejarah, dan struktur ayat, anak yang dikurbankan adalah Ismail, bukan Ishaq.

Penegasan Ismail sebagai Anak yang Dikurbankan

Setelah Ismail diselamatkan dari penyembelihan, barulah Allah memberi kabar gembira kedua kepada Nabi Ibrahim, yaitu kelahiran Ishak.

Hal ini ditegaskan dalam ayat:

“Wa bāraknā ‘alaihi wa ‘alā Isḥāq.”

Kata ganti hi kembali kepada anak yang selamat dari penyembelihan, yaitu Ismail. Kemudian Allah juga memberkahi Ishak.

Lebih jelas lagi pada lanjutan ayat:

“Wa min dzurriyyatihimā”
Dari keturunan keduanya.

Kata himā menunjukkan dua anak: Ismail dan Ishak.

Dari sini ditegaskan bahwa anak yang hampir dikorbankan adalah Ismail.

Ustadz Anwar menekankan:

“Pendekar harus memahami jurus perguruannya. Kita yang punya Al-Qur’an harus memahami seluk-beluk Al-Qur’an.”

Tantangan kepada Alkitab

Ustadz Anwar kemudian meminta ditunjukkan dari Alkitab siapa anak yang dikorbankan. Dibacakan Kejadian 22 ayat 1–2:

“Ambillah anakmu yang tunggal, yang engkau kasihi, yakni Ishak…”

Maka disebutkan bahwa yang dikorbankan adalah Ishak.

Namun Ustadz Anwar langsung menyoroti kata kunci:

“anakmu yang tunggal.”

Jika anak Ibrahim disebut tunggal, berarti saat itu Ibrahim hanya memiliki satu anak.

Maka pertanyaannya:

Jika Ibrahim kelak memiliki dua anak, maka yang disebut “tunggal” pasti adalah anak pertama.

Dan anak pertama Ibrahim adalah Ismail.

Pembuktian Umur Ismail dan Ishak

Dibuka Kejadian 16:16:

“Abraham berumur 86 tahun ketika Hagar melahirkan Ismail.”

Kemudian Kejadian 21:5:

“Abraham berumur 100 tahun ketika Ishak lahir.”

Selisih usia: 14 tahun.
Maka Ismail jelas lebih tua.

Jadi ketika Allah berfirman “anakmu yang tunggal”, secara logika, sejarah, dan teks, seharusnya merujuk kepada Ismail, bukan Ishak.

Klaim: Ismail Bukan Anak Sah?

Ustadz Anwar lalu menceritakan dialog dengan seorang pendeta yang berkata:

“Ismail memang anak Ibrahim, tetapi tidak diakui sebagai anak sah. Yang diakui hanya Ishak.”

Ustadz Anwar kemudian membuka 1 Tawarikh 1:28:

“Anak-anak Ibrahim ialah Ishak dan Ismail.”

Alkitab sendiri mengakui Ismail sebagai anak sah Ibrahim.

Ketika pendeta tetap bersikeras bahwa Tuhan tidak mengakui Ismail, Ustadz Anwar bertanya:

“Berarti ada dua Tuhan dong. Tuhan yang mengakui Ismail, dan Tuhan yang tidak mengakui Ismail.”

Pendeta pun terdiam dan menghentikan diskusi.

Metode Dialog

Ustadz Anwar menegaskan:

“Kita tidak perlu menghujat. Kita patahkan dengan kitab mereka sendiri.”

Jika mereka menyerang Al-Qur’an, maka umat Islam harus siap menjelaskan dengan dalil, bahasa, sejarah, dan hadis Rasulullah ﷺ:

“Ana ibnu dzabbahain.”
“Aku adalah anak dari dua orang yang hampir disembelih, yaitu Ismail dan Abdullah.”

Tentang Perbedaan Versi Alkitab

Di sesi tanya jawab, muncul pertanyaan tentang perbedaan versi Alkitab: TB, TL, BIS, KJV, dan lain-lain.

Ustadz Anwar menjelaskan bahwa perbedaan versi ini justru menunjukkan ketidakkonsistenan teks.

Contoh Kejadian 22:2 dalam bahasa Inggris:

“Take your son, your only son.”

Kata only son menegaskan bahwa anak Ibrahim saat itu masih satu.

Jika tidak ada kata only, maka masih bisa ditafsirkan ganda. Tapi karena ada kata only, maka secara teks Ishak tidak mungkin disebut anak tunggal.

Guru, Tuhan, atau Tuan?

Contoh lain:

Dalam versi tertentu tertulis:

“Kalian menyebut Aku guru dan Tuhan.”

Namun dalam versi lain tertulis:

“Kalian menyebut Aku guru dan tuan.”

Dalam Alkitab Arab digunakan kata sayyidi, yang berarti tuan, bukan Tuhan.

Maka timbul pertanyaan:

Yesus itu disebut Tuhan atau hanya tuan?

Jika versinya berbeda-beda, maka mana yang benar?

Ustadz Anwar menegaskan:

“Kalau kitab suci isinya berubah antara Tuhan dan tuan, berarti ada yang salah dari kitab itu.”

Berbeda dengan Al-Qur’an yang sejak diturunkan hingga hari ini tidak memiliki versi yang berbeda.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

Ribuan orang syahadat


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat 17114

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.