
Alhamdulillah, pada kesempatan malam hari itu, channel Mualaf Center Ayah Sofya kembali menghadirkan kajian kristologi bersama Ustaz Ahmad Kainama. Tema yang diangkat cukup unik sekaligus menantang: “Yesus Akan Turun Lagi Pasca Kerusuhan di Indonesia.”
Kajian ini bukan sekadar menyoroti isu seputar teologi Kristen, tetapi juga mengajak umat Islam untuk melihat bagaimana sejarah, bahasa, dan pemahaman kitab suci ditafsirkan, khususnya dalam konteks kerusuhan sosial serta janji kedatangan Yesus yang kedua kali.
Makna “Pasca” dan Kerusuhan dalam Perspektif Bahasa
Sebelum masuk ke inti pembahasan, Ustaz Kainama mengulas istilah “pasca” yang kerap disalahgunakan. Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia dan rujukan bahasa Sanskerta, kata yang benar adalah “pasca” (bukan “paska”), dengan arti sesudah atau setelah.
Dengan pemahaman ini, frasa “pasca kerusuhan di Indonesia” berarti “setelah kerusuhan di Indonesia.”
Dari berbagai kamus, baik bahasa Indonesia, global, maupun rujukan bahasa Yunani, kerusuhan dimaknai sebagai rebellion atau pemberontakan rakyat banyak yang sudah tidak tahan terhadap ketidakadilan. Kerusuhan terjadi ketika rakyat bergerombol, mengepung, dan melakukan tindakan anarkis karena kebenaran ditekan atau bahkan “dibunuh.”
Kristologi dan “Umat Terjemahan”
Ustaz Ahmad Kainama menegaskan bahwa setiap kali membicarakan kristologi di Indonesia, umat Islam berhadapan dengan apa yang beliau sebut sebagai “umat terjemahan.” Maksudnya, umat Kristen kerap menafsirkan kitab sucinya secara berbeda-beda, bahkan di antara mereka sendiri.
Beliau memberi contoh sederhana: jika ada 10 orang Kristen ditanya satu kosakata dari kitab suci, maka kemungkinan besar akan muncul 11 jawaban berbeda. Hal ini memperlihatkan betapa tafsir pribadi sering lebih dominan ketimbang rujukan asli.
Karena itu, kristologi dipandang penting bukan untuk menyerang, tetapi untuk menjadi pagar iman bagi generasi Muslim agar tidak terjebak dalam toleransi yang tidak proporsional.
Kerusuhan dalam Alkitab
Menariknya, kerusuhan ternyata juga disebut dalam kitab suci Kristen. Dalam Injil Matius 26, diceritakan bagaimana imam-imam kepala Yahudi, para tua-tua bangsa, hingga Sanhedrin (lembaga tinggi setingkat parlemen) berunding untuk menangkap Yesus dengan tipu muslihat dan membunuhnya.
Rakyat yang mengetahui adanya upaya membunuh kebenaran itu pun melawan. Maka, timbullah kerusuhan sebagai bentuk pemberontakan rakyat yang sudah tidak tahan dengan penindasan.
Ustaz Kainama menekankan: di mana pun dan kapan pun, kerusuhan selalu lahir ketika kebenaran ditekan dan rakyat tidak tahan lagi.
Yesus Akan Turun Lagi
Bagian paling menarik dari kajian ini adalah penjelasan tentang kalimat pertama tema: “Yesus akan turun lagi.”
Kalimat ini menegaskan bahwa Yesus memang pernah datang ke bumi. Menurut Alkitab, kedatangannya adalah untuk Bani Israil di tanah Yudea dan Galilea. Saat itu, umat tauhid mengalami penindasan dari penguasa Romawi. Mereka dipaksa menyembah berhala. Jika menolak, mereka dibunuh.
Yesus hadir untuk memperbaiki iman, moral, serta keadaan umat yang terzalimi. Itu adalah kedatangan pertama.
Adapun kedatangan kedua sebagaimana diyakini dalam doktrin Kristen akan terjadi di masa depan. Namun, sebagaimana tercatat dalam Matius 24:36, tidak seorang pun mengetahui waktunya: tidak malaikat, tidak anak (Yesus), hanya Bapa yang tahu.
Maka ketika dikatakan “Yesus akan turun lagi pasca kerusuhan di Indonesia,” itu bukan berarti menentukan waktu yang pasti. Artinya, setelah sebuah peristiwa kerusuhan terjadi, kehidupan akan kembali normal, masyarakat akan berbenah, dan keyakinan eskatologis tetap berlaku: Yesus pasti akan turun lagi, hanya saja waktunya tidak diketahui.
Relevansi untuk Indonesia
Ustaz Ahmad Kainama mengingatkan, pembahasan ini murni dalam kerangka kristologi, bukan menyangkut politik praktis Indonesia. Namun, ada pelajaran besar yang bisa dipetik:
- Kerusuhan lahir dari ketidakadilan.
- Rakyat akan memberontak bila kebenaran ditindas.
- Sejarah selalu berulang.
Bagi umat Islam, ini menjadi cermin agar selalu berhati-hati menjaga iman dan tidak mudah terprovokasi. Sementara bagi umat Kristen, ini bisa menjadi bahan refleksi tentang tafsiran kitab suci dan janji kedatangan Yesus yang kedua.
Revolusi Yahudi Pertama, Kekacauan Yerusalem, dan Pelajaran untuk Umat Islam
Sejarah selalu menyimpan pelajaran besar bagi manusia. Salah satunya adalah Revolusi Yahudi Pertama yang terjadi pada abad pertama Masehi (66–73 M). Peristiwa ini bukan sekadar catatan sejarah, melainkan gambaran bagaimana ketidakadilan, penindasan, dan kesewenang-wenangan kekuasaan selalu melahirkan perlawanan.
Di tengah kondisi kacau itulah Yesus (Isa ‘alaihis salam) hadir. Beliau lahir di negeri yang rusuh, di mana rakyat ditindas dengan pajak yang mencekik, dibunuh, dijarah, hingga bait suci mereka pun dinodai. Sejarah ini tercatat dalam berbagai literatur, mulai dari Flavius Yosefus, seorang sejarawan Yahudi yang menulis The Jewish War, hingga teks-teks keagamaan Yahudi seperti Kitab Makabe.
Namun, yang menarik, kisah itu bukan hanya sejarah masa lalu. Ia menjadi gambaran bagaimana pola penindasan selalu berulang, bahkan sampai zaman kita hari ini.
Kondisi Yudea: Tanah yang Tak Pernah Damai
Yesus lahir di tengah tanah Yudea yang tidak pernah mengenal kedamaian. Dari tahun 0 hingga 73 M, rakyat hidup di bawah tekanan:
- Pajak berat menjerat rakyat kecil.
- Para pemimpin lokal justru menjadi antek Romawi.
- Penindasan, pembunuhan, perampokan, hingga pemerkosaan merajalela.
- Ekonomi hancur, moral runtuh, dan bait suci dicemari praktik penyembahan pagan.
Dalam situasi seperti itu, lahirlah kelompok-kelompok perlawanan. Salah satunya adalah Zelot, kelompok religius sekaligus nasionalis yang menolak tunduk pada Romawi. Mereka dipimpin tokoh seperti Eleazar yang berani menentang kewajiban persembahan harian untuk kaisar Romawi.
Penyebab Revolusi Yahudi Pertama
Banyak sejarawan sepakat bahwa penyebab utama pemberontakan Yahudi terhadap Romawi adalah ketidakadilan yang menumpuk.
Beberapa faktor utamanya:
- Prokurator Romawi yang korup dan kejam
Setelah wafatnya Herodes Agripa I (44 M), Judea dipimpin oleh pejabat-pejabat Romawi yang tidak kompeten. Mereka menindas rakyat, merampas harta, dan tidak peduli dengan nilai-nilai agama Yahudi. - Permusuhan dengan pagan Romawi
Di berbagai kota, terutama Kaisarea Maritima, ketegangan antara Yahudi dan kaum pagan Romawi semakin memuncak. - Frustrasi rakyat yang meledak
Ketidakadilan yang menahun membuat rakyat bergabung dengan kaum Zelot, hingga akhirnya meletuslah Revolusi Yahudi Pertama.
Ketika garnisun Romawi dibantai di Yerusalem, Kaisar Nero segera mengirim pasukan besar di bawah pimpinan Vespasianus dan Titus.
Catatan Flavius Yosefus: Yerusalem Hancur
Sejarawan Yahudi, Flavius Yosefus, dalam bukunya The Jewish War menggambarkan betapa mengerikannya kehancuran Yerusalem.
- Rumah-rumah dijarah, lalu dibakar.
- Bayi, orang tua, perempuan, hingga anak-anak dibantai tanpa belas kasihan.
- Darah menggenang di jalan-jalan, mayat bertumpuk di mana-mana.
- Dalam beberapa hari, puluhan ribu orang tewas.
Inilah harga yang dibayar sebuah bangsa ketika berhadapan dengan kekuasaan zalim. Ironisnya, Romawi yang menindas justru memainkan peran sebagai korban—playing victim, sebuah taktik yang juga sering muncul dalam konflik modern.
Pelajaran dari Kitab Makabe
Selain Yosefus, Kitab Makabe dalam tradisi Yahudi juga mencatat bagaimana bait suci dinodai. Korban bakaran dihentikan, hari-hari raya dihina, dan altar dipakai mempersembahkan babi serta binatang haram lainnya. Anak-anak dilarang disunat, kitab Taurat dibakar, dan siapa pun yang menolak aturan pagan dihukum mati.
Ini bukan hanya serangan fisik, tapi juga upaya membuat generasi muda lupa pada hukum Tuhan. Cara-cara itu mirip dengan yang kita saksikan hari ini: generasi dirusak lewat modernisasi tanpa batas, kesucian agama dinodai, dan kitab suci dilecehkan.
Yesus, Akhir Zaman, dan Nubuat Islam
Umat Islam meyakini bahwa Yesus (Isa ‘alaihis salam) akan turun kembali menjelang kiamat. Beliau akan melanjutkan perjuangan tauhid dengan misi yang jelas:
- Membunuh Dajjal.
- Menghancurkan salib.
- Menghapus pajak yang menindas.
- Mengharamkan babi dan meluruskan kembali hukum Allah.
Misi ini menunjukkan kesinambungan ajaran tauhid sejak Nabi Ibrahim hingga Nabi Muhammad ﷺ. Islam tidak mencari pembenaran dari Taurat atau Injil, karena Islam adalah penyempurna wahyu sebelumnya.
Islam, Yahudi, dan Kristen: Perbedaan Tauhid
Transkrip sejarah juga menegaskan perbedaan mendasar antara Yahudi, Islam, dan Kristen.
- Yahudi sejak awal menegaskan Tuhan itu satu.
- Islam melanjutkan ajaran tauhid ini: Qul huwallahu ahad – Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa.
- Kristen justru mengambil Taurat dan kitab Yahudi, lalu menempelkannya ke Perjanjian Baru, membangun doktrin Trinitas yang tidak pernah diakui oleh Yahudi.
Bahkan banyak rabi Yahudi menyebut bahwa Kristen adalah agama pagan, karena mengajarkan ketuhanan Yesus yang tidak pernah dikenal dalam tauhid Ibrahim.
Sejarah Selalu Berulang
Dari pembakaran Taurat di masa lalu hingga pembakaran Al-Qur’an di zaman modern, pola penindasan terhadap ajaran tauhid selalu berulang.
- Dulu kitab Taurat disobek dan dibakar.
- Kini Al-Qur’an diinjak, dirobek, bahkan dibakar di depan umum.
- Dulu umat dipaksa makan babi dan meninggalkan hukum Tuhan.
- Kini umat didorong menjauhi syariat, dianggap ekstrem bila taat pada agamanya.
Sejarah menunjukkan bahwa pihak yang menindas selalu berusaha menghapus iman, lalu berpura-pura sebagai korban ketika ada perlawanan.
Revolusi Yahudi Pertama bukan sekadar kisah bangsa Yahudi melawan Romawi. Ia adalah pelajaran universal: ketidakadilan selalu melahirkan perlawanan, dan penindasan agama selalu berakhir dengan kehancuran.
Sejarah Penyaliban dan Pertumpahan Darah
Salah satu poin yang ditekankan adalah fakta bahwa penyaliban di masa Romawi bukanlah sesuatu yang kecil. Sumber-sumber sejarah mencatat ribuan orang Yahudi disalib dalam satu momen, bukan hanya tiga orang seperti yang digambarkan dalam narasi Kristen. Misalnya:
- Pada masa Pontius Pilatus, tercatat ribuan orang disalib setiap kali perayaan Paskah.
- Pada era kekaisaran Romawi berikutnya, dari Vespasianus hingga Titus, eksekusi massal dengan salib menjadi hal yang lumrah.
Maka, tidak masuk akal jika Yesus hanya disalib bersama dua orang. Sejarah menunjukkan bahwa penyaliban adalah bentuk hukuman massal, bukan simbolisasi khusus bagi Yesus.
Lebih dari itu, Islam menolak penyaliban Yesus. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa Isa putra Maryam tidak dibunuh dan tidak disalib, melainkan Allah mengangkatnya dengan penuh kemuliaan. Bagi umat Islam, penyaliban bukan hanya tidak masuk akal secara sejarah, tetapi juga bertentangan dengan kemuliaan seorang nabi pilihan Allah.
Mengapa Umat Islam Tidak Percaya pada Penyaliban
Dalam pandangan Islam, penyaliban adalah sebuah kutukan. Tidak mungkin seorang nabi mulia yang diangkat derajatnya oleh Allah berakhir di kayu salib dengan status terkutuk. Justru, umat Islam meyakini bahwa Yesus dimuliakan Allah, diselamatkan dari makar orang-orang Yahudi, dan akan kembali turun di akhir zaman untuk menegakkan kebenaran.
Sementara itu, sejarah Yahudi sendiri mengenal tradisi penyaliban besar-besaran. Dari Antiokhus Epifanes, Pompeius, hingga Nero, penyaliban orang Yahudi adalah peristiwa biasa. Satu kali eksekusi bisa mencapai puluhan bahkan ratusan orang. Hal ini membuka mata bahwa penyaliban bukanlah sesuatu yang unik atau istimewa bagi Yesus, melainkan praktik kekejaman Romawi terhadap orang Yahudi.
Yahudi dan Dua Konsep Almasih
Dalam literatur Yahudi, terdapat keyakinan mengenai dua figur Mesias (Almasih):
- Mesias bin Yusuf (atau bin Yosef) – tokoh yang akan menderita, bahkan mati terbunuh, dipaku, atau ditusuk.
- Mesias bin Daud (David) – tokoh penyelamat yang akan datang di akhir zaman, membangun kembali Bait Suci, dan memimpin kemenangan Israel.
Menurut sebagian tafsir Yahudi, Mesias bin Yusuf adalah figur yang mati dalam penderitaan, sedangkan Mesias bin Daud adalah pahlawan yang menegakkan kejayaan.
Ustaz Kainama menjelaskan, narasi ini sering dikacaukan dalam tradisi Kristen, sehingga Yesus dipaksakan untuk masuk dalam dua figur sekaligus. Padahal, dalam pandangan Islam, Yesus adalah seorang nabi mulia, bukan Tuhan yang mati di kayu salib.
Kedatangan Kembali Yesus di Akhir Zaman
Islam dengan tegas meyakini bahwa Yesus akan turun kembali menjelang kiamat. Dalam hadis-hadis sahih, dijelaskan tanda-tanda turunnya Yesus:
- Beliau akan turun menjelang salat Subuh, diiringi malaikat, dengan rambut basah bagaikan baru selesai berwudu.
- Beliau akan menolak menjadi imam salat, dan mempersilakan Imam Mahdi untuk memimpin.
- Setelah salat, Yesus akan keluar bersama umat Islam untuk menghadapi Dajjal.
- Yesus akan membunuh Dajjal, mematahkan salib, menghapuskan jizyah (pajak), dan menegaskan kembali bahwa babi haram dimakan.
Dengan ini, Islam menempatkan Yesus sebagai pembela kebenaran di akhir zaman, bukan sosok yang mati terkutuk di kayu salib.
Kekristenan dan Akar Paganisme
Salah satu pertanyaan yang muncul dari jamaah adalah: Jika kekristenan dan kekatolikan berakar dari ajaran pagan Romawi-Yunani, mengapa mereka menempelkan ajaran Yahudi dan Yesus ke dalam agama tersebut?
Ustaz Kainama menjawab, hal ini dilakukan karena jika berdiri sendiri, kekristenan sebagai agama pagan tidak akan laku. Agar diterima sebagai agama monoteis, maka kekristenan “mengimplan” ajaran Yahudi dan sosok Yesus ke dalam doktrinnya.
Sejarah mencatat, Kaisar Konstantinlah yang mengukuhkan agama Kristen sebagai agama resmi Romawi dengan mencampurkan unsur paganisme Romawi, tradisi Yahudi, dan tokoh Yesus. Namun, hingga kini, Yahudi sendiri tidak pernah mengakui Yesus sebagai Mesias.
Apakah Kristen Agama Penjajah?
Seorang jamaah juga bertanya, mengapa orang Kristen tidak mau mengakui bahwa Kristen adalah agama penjajah?
Ustaz Kainama menegaskan bahwa hal ini karena adanya upaya menutupi fakta sejarah. Kekristenan memang hadir ke Nusantara bersamaan dengan kolonialisme Barat. Namun, untuk menjaga citra, banyak yang berusaha menutupi atau memoles fakta ini.
Menurut beliau, umat Islam tidak boleh membenci umat Kristen. Justru, umat Islam didorong untuk menyayangi dan memberi semangat kepada saudara-saudara Kristen agar berani berkata jujur: bahwa kekristenan bukanlah agama yang dibawa Yesus, bukan agama samawi, melainkan hasil dari paganisme Romawi.
Sejarah Membuka Mata
Ustaz Kainama menegaskan bahwa sejarah bukan untuk menyerang atau menghina, melainkan untuk membuka mata. Dengan sejarah, kita bisa memahami akar keyakinan, membedakan kebenaran dari kebatilan, serta menjaga iman kita agar tidak tergoyahkan.
Umat Islam diminta untuk bersikap santun, tidak membenci umat Kristen, melainkan justru memberi semangat agar mereka berani jujur terhadap sejarah agamanya.
Sejarah membuka mata kita bahwa:
- Yesus (‘Isa putra Maryam) adalah nabi mulia, bukan Tuhan yang mati di kayu salib.
- Kekristenan lahir dari perpaduan ajaran pagan Romawi dan tempelan keyahudian.
- Umat Islam wajib menjaga tauhid, memuliakan semua nabi Allah, dan menantikan turunnya kembali Yesus di akhir zaman untuk menegakkan kebenaran.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
