Bukan Sekadar Hadir, Tapi Membawa Makna
Berdiri di podium bukanlah tentang pencitraan atau memenuhi undangan. Begitu pembuka yang dilontarkan oleh Ustadz Agustinus Christovel Kainama dalam salah satu ceramahnya yang menyentuh dan menggugah nalar. “Saya bukan tipe orang yang senang dilihat di YouTube lalu dilupakan,” ujarnya, menekankan bahwa setiap pertemuan harus melahirkan makna. Ia datang bukan untuk dipuji, tetapi untuk menyampaikan sesuatu yang bisa dibawa pulang, kebenaran, atau setidaknya, dorongan untuk berpikir jujur.
Dari Nama, Ada Jejak Amanah
Perjalanan dakwah Ustaz Kainama bukanlah inisiatif pribadi. Ia membawa amanah dari para gurunya, orang-orang alim yang membimbingnya sejak ia mengucap dua kalimat syahadat pada 26 Agustus 2009. Di bawah bimbingan langsung para ulama seperti Gus Sholah di Tebuireng, Ustaz Anwar Sujana, dan lainnya, beliau ditempa bukan untuk benci, tapi untuk mengajar dengan dasar ilmu. Sebelum boleh bicara, ia diperintahkan belajar. Maka ilmu menjadi landasannya bukan emosi, bukan dendam, bukan reaksi.
Salah satu pesan yang tertanam kuat dari almarhum gurunya:
“Tempatkan hubungan antara Islam, Kristen, dan Katolik pada tempat yang proporsional.”
Dan dari sanalah ia melangkah, bukan sebagai penghapus jejak lama, tapi sebagai penjaga jujur atas kebenaran yang ia temukan.
Toleransi: Antara Prinsip dan Propaganda
Tema toleransi menjadi bagian penting dalam ceramah Ustaz Kainama. Baginya, kata ini sudah terlalu sering digunakan sebagai alat politik, bahkan untuk menyerang Islam. Ia menyayangkan bagaimana umat Islam yang berusaha hidup sesuai syariat justru sering dicap intoleran, ekstremis, bahkan radikal.
Padahal kenyataan yang ia alami justru sebaliknya.
“Hanya umat Islam yang menjalankan syariat secara utuh yang benar-benar toleran,” katanya.
Mengapa? Karena mereka hidup jujur, tidak bermuka dua, dan menempatkan iman di atas segalanya, bukan menyesuaikan iman demi kenyamanan sosial. Namun sejak 2016, kata-kata seperti “mayoritas” dan “minoritas” menjadi alat propaganda yang memecah belah umat. Menurut beliau, itu racun yang perlahan tapi pasti merusak tatanan sosial dan kepercayaan antarumat.
Masuk Islam Karena Jesus
Satu pernyataan yang paling mengejutkan dalam ceramahnya adalah ketika ia menyatakan:
“Saya menjadi Muslim karena diperintahkan oleh Jesus.”
Bukan karena mimpi, bukan karena cinta, bukan karena pernikahan. Tetapi karena penelusuran jujur terhadap teks dan makna. Nama lengkapnya, Agustinus Christovel Kainama, bukan sekadar nama. Agustinus dari Hippo, Christopher berarti pengikut Kristus. Tapi, Kristus bukan berarti Tuhan. Dalam bahasa Yunani, Christos berarti “yang diurapi”, sebuah gelar untuk nabi, bukan ilah.
Dari sinilah ia melihat benang merah antara ajaran Yesus dan ajaran Islam. Menurutnya, mereka yang mengatakan “Saya Kristen” secara literal berarti “Saya pengikut nabi”. Maka, dalam penelusuran intelektual dan spiritualnya, ia menemukan bahwa Muslim sejati sejatinya adalah pengikut ajaran Kristus yang murni karena mereka memuliakan Isa Almasih sebagai nabi, bukan menjadikannya tuhan.
Membongkar Mitos 25 Desember
Dalam bagian lain ceramahnya, Ustaz Kainama membahas kelahiran Yesus. Bukan dari dongeng populer atau tradisi semata, tetapi dari dokumen dan studi langsung ke sumber asli.
Ia pernah mengunjungi Mitzfah Jonathan, dekat Haifa, Israel, dan meneliti perkamen-perkamen kuno. Apa yang ia temukan jauh dari narasi populer: tidak ada langit terbuka, tidak ada malaikat bernyanyi, tidak ada kandang domba, dan tidak ada tanggal 25 Desember.
Ia menjelaskan bahwa di Yudea, suhu pada bulan Desember bisa turun hingga di bawah nol derajat. Tidak logis bayi lahir tanpa penghangat, di kandang hewan yang dingin dan tidak higienis.
Lebih lanjut, ia mengutip Bapak Gereja, Clement of Alexandria, yang menyebut kelahiran Yesus sebenarnya terjadi pada 21 April. Bahkan dalam Al-Qur’an, kisah kelahiran Isa terjadi di bawah pohon kurma, bukan kandang. Sebuah narasi yang secara iklim dan konteks jauh lebih masuk akal.
Mengembalikan Toleransi ke Tempatnya
Di akhir ceramahnya, Ustaz Kainama kembali menegaskan: ia tidak hadir untuk menjadi idola atau selebriti. Bahkan ketika para ibu-ibu memintanya selfie, ia anggap itu sebagai bagian dari keramahan, bukan tujuan.
Tujuan utamanya adalah mengembalikan kata “toleransi” ke tempat yang benar. Bukan sebagai topeng kompromi, bukan alat propaganda, tetapi sebagai bentuk hidup berdasarkan prinsip dan kejujuran.
“Saya dari Ambon. Kalau A ya A, kalau B ya B. Tidak suka manis di depan, tikam di belakang,” tegasnya.
Dan meski ia sadar tidak semua orang akan suka dengan apa yang ia sampaikan, ia tetap memilih untuk terus menyuarakannya. Karena kelak, semua yang ia ucapkan akan ia pertanggungjawabkan di hadapan Allah.
Menembus Batas Narasi: Ustaz Kainama dan Kebenaran yang Ia Temukan
Perjalanan menuju kebenaran kerap kali bukan jalan lurus yang sunyi, melainkan sebuah pencarian penuh konflik, keberanian, dan kejujuran intelektual. Inilah yang tergambar dalam kisah hidup Ustaz Kainama, seorang mualaf yang dengan lantang menyuarakan pentingnya melihat fakta, bukan sekadar warisan keyakinan. Melalui ceramah-ceramahnya, ia tidak hanya berbagi kisah hijrah pribadi, tetapi juga membuka ruang diskusi yang dalam tentang toleransi, narasi mayoritas-minoritas, serta penelusuran ulang terhadap akar-akar ajaran agama yang sering dilupakan.
Mualaf Bukan Berarti Pengkhianat: Sebuah Perjalanan dari Kebingungan ke Keyakinan
Ustaz Kainama membuka ceramahnya dengan menyatakan bahwa menjadi mualaf bukanlah bentuk pengkhianatan terhadap keluarga atau identitas masa lalu. Sebaliknya, itu adalah pilihan sadar seseorang setelah bertanya, meneliti, dan menemukan kebenaran. Dalam perjalanannya, beliau sempat merasa hampa dan kecewa terhadap jawaban-jawaban teologis yang berputar-putar. Alih-alih menuntun pada keyakinan yang kokoh, yang beliau dapatkan justru adalah dogma-dogma yang rapuh dan saling bertentangan.
“Ada momen ketika saya membaca Injil dan saya merasa… ini bukan jawaban, ini justru pertanyaan baru,” tuturnya. Kekecewaan itu bukan karena beliau membenci agamanya dulu, tetapi karena beliau mencintai kebenaran lebih dari sekadar loyalitas buta.
Toleransi yang Asli Bukan Sekadar Slogan
Dalam ceramahnya, Ustaz Kainama juga mengkritik keras pola pikir yang sering mendikotomikan masyarakat dalam kubu mayoritas dan minoritas. Baginya, toleransi bukanlah milik kelompok tertentu. “Toleransi itu bukan berarti kamu harus mengalah atas nama damai. Tapi toleransi adalah kejujuran menghormati tanpa harus menyamakan,” tegasnya.
Beliau mencontohkan bagaimana umat Islam di berbagai daerah tetap merawat kerukunan, meski seringkali media menyorot mereka sebagai intoleran. “Saya yang dulu bukan Muslim, justru merasakan keramahan luar biasa dari umat Islam. Mereka tidak tanya latar belakang saya. Mereka bantu saya belajar. Bahkan dalam kekurangan, mereka berbagi.”
Narasi mayoritas-minoritas yang digaungkan media dan beberapa tokoh, menurut beliau, justru menciptakan sekat baru dalam masyarakat. Sebuah sekat yang tidak mencerminkan realitas di lapangan.
Kelahiran Yesus: Antara Fakta dan Tradisi
Bagian menarik dari ceramah Ustaz Kainama adalah ketika beliau mengulas tentang kelahiran Yesus, bukan dari tradisi semata, tetapi dari fakta-fakta sejarah dan teks asli.
“Coba kita buka Lukas 2:8, di sana disebutkan ada gembala yang menjaga kawanan ternak di padang. Di bulan Desember? Itu musim dingin, mustahil gembala ada di padang,” paparnya.
Ia mengajak hadirin untuk berpikir kritis: apakah benar Yesus lahir pada 25 Desember? Atau apakah tanggal itu hanyalah adopsi dari tradisi penyembahan dewa matahari yang kebetulan jatuh pada winter solstice?
Lebih jauh, beliau mengutip sejumlah sumber dari kalangan ilmuwan Kristen sendiri yang mengakui bahwa tanggal kelahiran Yesus tidak diketahui secara pasti. Bahkan Encyclopaedia Britannica menyebut bahwa gereja baru menetapkan 25 Desember sebagai hari kelahiran Yesus beberapa abad setelahnya, bukan berdasarkan data historis, tetapi untuk menggantikan perayaan pagan.
“Jadi yang saya ingin sampaikan adalah: mari jujur dalam beragama. Jika ada fakta baru, jangan takut untuk mengkaji ulang. Kebenaran tidak akan takut diperiksa,” tegasnya.
Kritik terhadap Warisan Dogma: Beragama Jangan Buta
Ustaz Kainama menutup ceramahnya dengan ajakan bagi semua umat beragama untuk tidak hanya menjadi pewaris, tetapi juga pencari. Menurutnya, banyak orang lahir dalam agama tertentu dan menjalaninya tanpa pernah bertanya, meneliti, atau mempertanyakan dan itu yang membuat agama jadi lemah.
“Agama yang kuat bukan karena banyak pengikut, tapi karena mereka yang mengikutinya benar-benar paham dan yakin. Islam kuat karena ia memberi ruang bertanya. Nabi Muhammad pun diajari lewat pertanyaan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa menjadi mualaf bukan berarti kehilangan identitas, melainkan justru menemukannya. Menjadi Muslim bukan berarti membenci agama lain, tetapi menghargai mereka sembari menunjukkan dengan akhlak dan ilmu, bahwa Islam adalah kebenaran sejati.
Ceramah Ustaz Kainama bukan sekadar kisah seorang mualaf. Itu adalah pengingat bagi siapa pun, baik yang lahir sebagai Muslim maupun non-Muslim, untuk terus mencari, terus bertanya, dan tidak menerima sesuatu hanya karena itu sudah ada sejak kecil.
Dunia butuh lebih banyak keberanian seperti itu: keberanian untuk mengejar kebenaran, meski harus melepas kenyamanan lama.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
