Awal Pertemuan dan Latar Belakang
Siang yang cerah di Kota Semarang menjadi saksi sebuah momen bersejarah: Agustinus Lintang Wicaksono, seorang anak tunggal dari pasangan guru Katolik, resmi mengucapkan dua kalimat syahadat. Pemuda kelahiran Semarang ini sebelumnya dikenal dengan panggilan Soni, dan telah hidup dalam lingkungan Katolik sejak lahir. Namun, perjalanan batin dan pencarian kebenaran membawanya pada keyakinan baru: Islam.
Pertemuan Lintang dengan sang ustaz terjadi di kampus Universitas Diponegoro (Undip), tempat ia akan menempuh pendidikan. Keputusan untuk bersyahadat diambil sebelum ia secara resmi memulai perkuliahan, bahkan sebelum ia mengetahui diterima di Undip.
Awal Keraguan: Konsep Trinitas yang Sulit Diterima
Lintang mulai merasakan keraguan sejak duduk di bangku SMP. Ia mempertanyakan dasar keimanan Katolik yang diajarkan kepadanya, khususnya konsep Trinitas, kepercayaan bahwa Tuhan adalah satu dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus.
Dalam doktrin Katolik, ketiga pribadi ini dianggap setara dan kekal, namun tetap satu Tuhan. Bagi Lintang, rumusan ini membingungkan. Ia menganggap jika Bapa adalah Tuhan, Anak adalah Tuhan, dan Roh Kudus adalah Tuhan, maka secara logis ada tiga Tuhan. Penjelasan bahwa “tiga pribadi satu hakikat” tidak memuaskan rasa ingin tahunya.
“Saya ingin keyakinan yang logis dan masuk akal. Trinitas tidak bisa dijelaskan dengan logika, bahkan matematika sederhana sekalipun,” ungkapnya.
Pertanyaan Logis tentang Ketuhanan Yesus
Seiring waktu, Lintang semakin kritis. Ia membaca kitab Injil dan menemukan hal-hal yang, menurutnya, tidak sejalan dengan sifat Tuhan yang Maha Sempurna. Ia menyoroti kisah Yesus yang merasa lapar (Markus 11:12-14), marah pada pohon ara karena tidak berbuah, dan tidak tahu musim berbuahnya.
Bagi Lintang, Tuhan tidak mungkin mengalami keterbatasan biologis atau ketidaktahuan. Hal ini bertentangan dengan sifat ketuhanan yang ia pahami: Maha Tahu, Maha Kuasa, dan tidak bergantung pada makhluk.
“Kalau Yesus itu Tuhan, mengapa dia berdoa? Bukankah doa berarti meminta kepada yang lebih tinggi?” tanyanya suatu kali dalam diskusi.
Perbandingan Ajaran: Trinitas vs Tauhid
Dalam Islam, Lintang menemukan konsep ketuhanan yang sederhana namun tegas: Tauhid.
- Islam: Allah adalah satu, tidak beranak, tidak diperanakkan, dan tidak ada sekutu bagi-Nya (QS. Al-Ikhlas: 1-4).
- Katolik: Tuhan adalah satu dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, Roh Kudus.
Bagi Lintang, Tauhid mudah dipahami dan selaras dengan akal sehat. Dalam pandangannya, ajaran Trinitas membutuhkan “iman tanpa logika”, sementara Islam mengajarkan iman yang diperkuat oleh argumentasi rasional dan bukti wahyu.
Peralihan Lingkungan dan Munculnya Ketertarikan pada Islam
Pindah dari sekolah Katolik ke SMA negeri menjadi titik penting. Di sekolah barunya, Lintang kerap mendengar azan dan melihat teman-temannya melaksanakan shalat. Ia juga menyaksikan peringatan Maulid Nabi dan kegiatan keagamaan Islam lainnya. Semua itu menumbuhkan rasa nyaman dan kedamaian dalam hatinya.
Di sisi lain, interaksi dengan Romo dan jemaat di gereja tidak memberi jawaban atas pertanyaannya. Hubungan jemaat-pemimpin gereja terasa berjarak, sehingga ia enggan bertanya lebih jauh.
Momen Bersyahadat di Undip
Perkenalan Lintang dengan ustaz pembimbingnya berawal dari diskusi daring via Zoom. Setelah tanya-jawab yang panjang, Lintang memutuskan untuk bersyahadat. Pemilihan lokasi di kampus Undip bertujuan agar ia dapat berbaur dengan komunitas mahasiswa muslim sejak awal.
Momen itu terjadi ketika ia baru lulus SMA, bahkan sebelum mengetahui hasil seleksi masuk perguruan tinggi. Bagi Lintang, ini adalah komitmen penuh yang ia ambil dengan kesadaran akan konsekuensinya.
Ujian dari Orang Tua
Keputusan ini mendapat penolakan keras dari keluarganya. Buku-buku kristologi yang dikirimkan ustaz, termasuk 101 Bukti Yesus Bukan Tuhan, dibakar oleh orang tuanya. Ia bahkan diisolasi di rumah, dilarang mengakses internet, dan diambil uang sakunya.
Lintang menolak kembali mengikuti kebaktian atau membaca buku Katolik, meskipun mendapat tekanan. Ia juga menolak menyerahkan “persepuluhan” gereja, karena dalam Islam kewajiban sedekah dan zakat memiliki aturan yang berbeda.
Hubungan Keluarga yang Mulai Membaik
Seiring waktu, ibunya mulai melunak dan memilih membiarkannya menjalani keyakinannya. Namun, hubungan dengan ayahnya masih tegang. Meski begitu, Lintang tetap memegang prinsip Birrul Walidain, berbakti kepada orang tua sebagai kewajiban yang tidak gugur meskipun berbeda agama.
Kehidupan Baru sebagai Mahasiswa Muslim
Kini, Lintang aktif menempuh pendidikan di Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Diponegoro. Ia sukses mempertahankan prestasi akademik dengan IPK 3,766 pada semester pertama dan 3,88 di semester kedua.
Selain kuliah, ia mengembangkan keterampilan fotografi, videografi, editing, dan desain, serta membantu UMKM membuat konten media sosial.
Hidayah yang Dijaga
Perjalanan Lintang adalah kisah tentang pencarian kebenaran yang penuh rintangan: dari keraguan akan Trinitas, pencarian jawaban logis, hingga mantap memilih Tauhid.
Keputusan ini bukan sekadar perubahan agama, tetapi transformasi hidup. Ia kini menjalani kehidupan barunya dengan keyakinan bahwa hidayah adalah amanah yang harus dijaga, meskipun ujian akan selalu datang.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
