Dialog Akademis Al-Qur’an vs Bible di Surabaya: Membahas Keaslian Kitab Suci dan Tradisi Penghafalan

Sebuah dialog akademis lintas agama yang mempertemukan tokoh-tokoh dari kalangan Islam dan Kristen digelar di Surabaya pada 29 April 2026. Mengangkat tema “Al-Qur’an versus Bible: Manakah yang Firman Tuhan?”, diskusi ini menghadirkan perwakilan dari kedua agama untuk memaparkan pandangan masing-masing mengenai kitab suci yang mereka yakini.

Pihak Islam diwakili oleh Ustaz Ahmad Kainama dan Ustaz Ipung Atria, sementara pihak Kristen diwakili oleh Pendeta Budi Asali serta Fadilah Hafiz dari Kristen Ortodoks Koptik.

Acara ini menjadi menarik karena menghadirkan dialog yang berlangsung secara terbuka dan akademis. Bahkan, salah satu narasumber Kristen dikenal memiliki kemampuan berbahasa Arab dan membaca Al-Qur’an, sehingga diskusi dapat berlangsung dengan pembahasan yang lebih mendalam.

Dialog untuk Saling Mengenal, Bukan Menang atau Kalah

Dalam pembukaan diskusi, moderator menegaskan bahwa tujuan utama dialog bukanlah untuk menentukan pihak yang menang atau kalah. Sebaliknya, forum ini dimaksudkan sebagai sarana untuk saling mengenal dan memahami keyakinan masing-masing.

Moderator juga menyoroti bahwa baik umat Islam maupun umat Kristen sama-sama menghormati sosok Nabi Isa atau Yesus Kristus. Meskipun terdapat perbedaan pandangan teologis mengenai kedudukan beliau, kedua pihak sepakat bahwa Isa Alaihissalam merupakan figur yang dimuliakan.

Menurut moderator, setiap argumen yang disampaikan dalam forum tersebut pada akhirnya akan dipertanggungjawabkan di hadapan Tuhan, sehingga diskusi diharapkan berlangsung secara ilmiah dan penuh penghormatan.

Pertanyaan Mengenai Keaslian Al-Qur’an

Memasuki sesi tanya jawab, pihak Islam mulai menanggapi sejumlah pertanyaan yang sebelumnya diajukan oleh pihak Kristen. Salah satu topik yang menjadi perhatian adalah mengenai bagaimana Al-Qur’an dapat dipastikan tetap terjaga keasliannya.

Dalam pemaparannya, Ustaz Ahmad Kainama menyinggung perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan (AI). Ia berpendapat bahwa di masa depan berbagai informasi digital dapat dengan mudah diubah atau dimanipulasi.

Karena itu, menurutnya, keberadaan jutaan penghafal Al-Qur’an menjadi salah satu faktor penting yang menjaga keberlangsungan dan keaslian teks Al-Qur’an. Tradisi hafalan yang diwariskan dari generasi ke generasi dianggap sebagai sistem penjagaan yang tidak bergantung sepenuhnya pada media cetak maupun teknologi.

Ia juga membandingkan kondisi tersebut dengan kitab-kitab lain yang menurut pandangannya lebih bergantung pada naskah tertulis dan terjemahan.

Tradisi Membaca dan Menghafal Kitab Suci

Pembicaraan kemudian beralih pada tradisi membaca kitab suci dalam kehidupan beragama. Dalam sesi tersebut disampaikan bahwa umat Islam secara umum dianjurkan untuk membaca, mempelajari, dan menghafal Al-Qur’an tanpa memandang latar belakang kelompok maupun organisasi keagamaan.

Menurut pemaparan pihak Islam, budaya membaca Al-Qur’an secara rutin menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan umat Muslim, baik dalam ibadah sehari-hari maupun kegiatan keagamaan lainnya.

Perbedaan Qiraat dan Pertanyaan tentang Versi Al-Qur’an

Salah satu pertanyaan yang turut dibahas adalah mengenai berbagai qiraat atau cara bacaan Al-Qur’an yang dikenal dalam tradisi Islam.

Menanggapi hal tersebut, Ustaz Ahmad Kainama menjelaskan bahwa qiraat yang paling luas digunakan di dunia Islam saat ini adalah Qiraat Hafs. Menurutnya, qiraat tersebut memiliki jalur periwayatan (sanad) yang sangat kuat dan menjadi bacaan yang umum digunakan di Makkah, Madinah, Indonesia, serta sebagian besar negara Muslim lainnya.

Ia menjelaskan bahwa setelah masa pembukuan Al-Qur’an pada era Khalifah Utsman bin Affan, mushaf kemudian disebarkan ke berbagai wilayah. Seiring perkembangan Islam ke berbagai daerah, muncul variasi bacaan yang tetap berada dalam koridor qiraat yang diakui dalam tradisi Islam.

Dalam pandangannya, keberadaan qiraat yang berbeda tidak berarti terjadi perubahan isi Al-Qur’an, melainkan variasi bacaan yang tetap memiliki makna dan ajaran yang sejalan.

Contoh Perbedaan Bacaan antara Hafs dan Warsh

Untuk memperjelas argumennya, pihak Islam kemudian memberikan beberapa contoh perbedaan bacaan antara riwayat Hafs dan Warsh.

Menurut penjelasan yang disampaikan, terdapat sejumlah ayat yang memiliki variasi pelafalan maupun bentuk kata, namun perbedaan tersebut dinilai tidak mengubah ajaran pokok, tidak melahirkan akidah baru, dan tidak menimbulkan kontradiksi teologis.

Sebagai contoh, dibahas beberapa ayat yang dalam riwayat Hafs menggunakan bentuk kata tertentu, sementara dalam riwayat Warsh menggunakan bentuk kata lain yang masih memiliki makna yang berdekatan.

Pihak Islam menegaskan bahwa perbedaan-perbedaan tersebut lebih berkaitan dengan cara pembacaan yang diwariskan melalui jalur periwayatan yang berbeda, bukan perubahan terhadap substansi wahyu.

Manuskrip Kuno dan Tidak Adanya Tanda Baca

Pembahasan kemudian berlanjut pada manuskrip-manuskrip Al-Qur’an kuno yang ditemukan oleh para peneliti.

Dijelaskan bahwa mushaf-mushaf awal pada masa Islam belum memiliki tanda baca, titik huruf, maupun harakat seperti yang dikenal saat ini. Bentuk tulisan Arab pada masa itu masih sangat sederhana sehingga pembacaan bergantung pada tradisi lisan yang diwariskan dari para penghafal Al-Qur’an.

Menurut pemaparan tersebut, keberadaan qiraat yang berbeda dipandang sebagai konsekuensi dari bentuk tulisan Arab awal yang belum dilengkapi sistem penandaan seperti sekarang.

Pihak Islam kemudian menunjukkan beberapa contoh manuskrip kuno yang menurut mereka memperlihatkan kesamaan struktur teks meskipun belum memiliki harakat dan titik huruf.

Perbandingan dengan Manuskrip Bible

Dalam sesi berikutnya, pihak Islam mulai membandingkan kondisi manuskrip Al-Qur’an dengan manuskrip Bible yang dikenal dalam studi tekstual Kristen.

Mereka menyebut beberapa manuskrip kuno Bible yang sering menjadi bahan kajian akademik, lalu mengemukakan pandangan bahwa terdapat perbedaan bacaan, penambahan, maupun pengurangan ayat dalam sejumlah naskah yang ditemukan.

Perbandingan ini digunakan untuk memperkuat argumen bahwa tradisi transmisi Al-Qur’an dinilai lebih konsisten dibandingkan tradisi penyalinan teks Bible.

Pembahasan mengenai contoh-contoh manuskrip tersebut kemudian berlanjut dengan penjelasan lebih rinci mengenai sejumlah ayat dan variasi bacaan yang menjadi bahan diskusi antara kedua narasumber.

Perdebatan Mengenai Variasi Bacaan dalam Al-Qur’an

Melanjutkan pembahasan mengenai qiraat, pihak Islam kembali memberikan contoh perbedaan bacaan yang terdapat dalam riwayat Hafs dan Warsh. Salah satu contoh yang disampaikan berasal dari Surah Al-Anbiya ayat 4.

Menurut pemaparan yang disampaikan, terdapat perbedaan bentuk bacaan yang menghasilkan variasi susunan kalimat. Namun, perbedaan tersebut dinilai tidak mengubah pokok makna ayat maupun ajaran yang terkandung di dalamnya.

Pihak Islam menegaskan bahwa variasi tersebut muncul karena bentuk tulisan Arab pada masa awal Islam belum memiliki titik, harakat, maupun tanda baca sebagaimana yang digunakan saat ini. Oleh karena itu, tradisi hafalan dan transmisi lisan dianggap memiliki peran penting dalam menjaga cara pembacaan Al-Qur’an.

Dalam pandangan yang disampaikan pada forum tersebut, keberadaan berbagai qiraat justru dipandang sebagai bagian dari sejarah transmisi Al-Qur’an yang tetap berada dalam koridor ajaran yang sama.

Manuskrip Awal dan Peran Harakat

Pembahasan kemudian beralih pada proses pemberian harakat dalam teks Al-Qur’an.

Pihak Islam menjelaskan bahwa mushaf-mushaf awal hanya berisi rangkaian huruf Arab tanpa tanda baca. Penambahan harakat dan titik huruf dilakukan oleh para ulama pada generasi berikutnya sebagai upaya memudahkan pembacaan dan menjaga pelafalan yang benar.

Menurut penjelasan tersebut, apabila seseorang ingin melihat bentuk paling awal dari tulisan Al-Qur’an, maka ia akan menemukan teks tanpa harakat dan tanpa titik huruf.

Dari sudut pandang yang dipaparkan dalam dialog, harakat dipandang sebagai hasil ijtihad ulama dalam membantu pembacaan, sedangkan inti teks Al-Qur’an tetap dipertahankan sebagaimana diwariskan melalui sanad dan hafalan.

Pentingnya Sanad dalam Tradisi Islam

Salah satu tema yang mendapat perhatian cukup besar adalah konsep sanad.

Pihak Islam menilai bahwa kekuatan utama transmisi Al-Qur’an terletak pada rantai periwayatan yang tersambung dari generasi ke generasi hingga kepada Nabi Muhammad SAW. Jalur periwayatan tersebut melibatkan para sahabat yang dikenal sebagai penghafal dan penulis wahyu.

Karena itu, qiraat Hafs disebut sebagai salah satu bacaan yang memiliki sanad sangat kuat dan paling luas digunakan di berbagai wilayah dunia Islam.

Dalam sesi ini, pihak Islam juga membandingkan konsep sanad dengan tradisi transmisi naskah yang menurut mereka tidak ditemukan dalam bentuk yang sama pada tradisi Kristen.

Pembahasan Mengenai Terjemahan dan Revisi Alkitab

Setelah membahas Al-Qur’an, diskusi beralih kepada Bible atau Alkitab.

Pihak Islam mengangkat contoh dari Injil Yohanes pasal 4 yang menceritakan percakapan antara Yesus dan seorang perempuan Samaria. Dalam pembahasan tersebut, mereka menyoroti perbedaan redaksi yang ditemukan pada berbagai versi terjemahan Alkitab.

Menurut argumen yang disampaikan, perubahan-perubahan tertentu dalam terjemahan dianggap sebagai upaya untuk menyesuaikan pemahaman pembaca terhadap konteks teologis yang berkembang.

Pihak Islam menggunakan contoh tersebut untuk mempertanyakan konsistensi naskah dan penerjemahan Alkitab dari waktu ke waktu.

Penjelasan Mengenai Pembakaran Mushaf pada Masa Utsman bin Affan

Salah satu pertanyaan yang diajukan oleh pihak Kristen berkaitan dengan peristiwa pembakaran mushaf pada masa Khalifah Utsman bin Affan.

Menanggapi hal tersebut, pihak Islam menjelaskan bahwa yang dimusnahkan bukanlah Al-Qur’an dalam pengertian wahyu yang berbeda, melainkan catatan-catatan atau lembaran yang tersebar dalam berbagai media penulisan pada masa itu.

Dijelaskan bahwa sebelum proses kodifikasi resmi, ayat-ayat Al-Qur’an ditulis pada berbagai media seperti:

  • Pelepah kurma
  • Tulang hewan
  • Kulit binatang
  • Batu dan media tulis lainnya

Ketika mushaf standar telah selesai disusun dan disebarkan, naskah-naskah yang dianggap berpotensi menimbulkan kebingungan kemudian dimusnahkan sebagai bagian dari proses standardisasi.

Menurut pemaparan pihak Islam, tindakan tersebut dipandang sebagai bentuk penghormatan terhadap Al-Qur’an dan bukan sebagai usaha menghilangkan isi wahyu.

Tradisi Menghormati Mushaf Al-Qur’an

Dalam sesi yang sama, pihak Islam menjelaskan berbagai bentuk penghormatan terhadap mushaf Al-Qur’an yang berkembang di kalangan umat Muslim.

Beberapa contoh yang disebutkan antara lain:

  • Membaca Al-Qur’an dalam keadaan suci atau setelah berwudu.
  • Menyimpan mushaf di tempat yang layak.
  • Tidak membiarkan lembaran Al-Qur’an tercecer atau rusak.
  • Memusnahkan mushaf yang sudah tidak layak pakai dengan cara yang dianggap terhormat.

Pihak Islam juga menyebut bahwa di beberapa negara terdapat fasilitas khusus untuk memusnahkan mushaf yang sudah rusak atau tidak dapat digunakan lagi, sehingga tidak menimbulkan perlakuan yang dianggap tidak pantas terhadap kitab suci.

Manuskrip Al-Qur’an dan Bible dalam Kajian Sejarah

Diskusi kemudian menyentuh temuan-temuan manuskrip kuno yang sering menjadi bahan penelitian sejarah.

Pihak Islam menyinggung penemuan manuskrip Al-Qur’an kuno yang dikenal sebagai Manuskrip Sana’a. Manuskrip tersebut disebut ditemukan saat renovasi sebuah masjid dan kemudian menjadi objek penelitian ilmiah, termasuk pengujian usia naskah menggunakan metode karbon.

Dalam kesempatan yang sama, pihak Islam juga membandingkan temuan tersebut dengan sejumlah manuskrip Bible kuno yang banyak dibahas dalam kajian tekstual Kristen.

Perbandingan ini digunakan untuk mendukung argumen mengenai cara masing-masing tradisi keagamaan memperlakukan dan melestarikan kitab sucinya sepanjang sejarah.

Pembahasan Ayat tentang Matahari Terbenam

Selanjutnya, salah satu kritik yang diarahkan kepada Al-Qur’an berkaitan dengan kisah Zulkarnain dalam Surah Al-Kahfi mengenai matahari yang tampak terbenam di tempat yang berlumpur hitam.

Pihak Islam menjelaskan bahwa ayat tersebut tidak dimaksudkan sebagai penjelasan ilmiah mengenai posisi matahari, melainkan sebagai gambaran tentang apa yang dilihat oleh Zulkarnain dalam perjalanannya.

Menurut penafsiran yang dipaparkan dalam forum, Al-Qur’an sedang menggambarkan perspektif pengamatan manusia, bukan menyatakan bahwa matahari benar-benar tenggelam ke dalam lumpur atau lautan.

Untuk memperkuat argumentasi tersebut, pihak Islam kemudian membandingkannya dengan sejumlah ayat dalam Bible yang dianggap menggunakan bahasa figuratif ketika menggambarkan alam semesta.

Perdebatan Mengenai Sosok Haman dalam Al-Qur’an

Topik berikutnya yang dibahas adalah mengenai tokoh Haman yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai pembantu Firaun.

Pihak Islam menjelaskan bahwa keberadaan tokoh tersebut pernah dipertanyakan oleh sejumlah pengkritik karena dianggap tidak memiliki dasar sejarah yang jelas.

Namun dalam pemaparannya, mereka mengutip sejumlah temuan yang diklaim berkaitan dengan pembacaan prasasti Mesir kuno setelah keberhasilan para ahli menguraikan tulisan hieroglif pada abad ke-19.

Menurut argumen yang disampaikan, beberapa hasil penelitian tersebut dinilai menunjukkan adanya nama yang dianggap memiliki kemiripan dengan Haman dan dikaitkan dengan pekerjaan pembangunan pada masa Mesir kuno.

Karena itu, pihak Islam berpendapat bahwa penyebutan Haman dalam Al-Qur’an memiliki landasan historis yang patut dipertimbangkan dalam kajian akademik.

Pembahasan Mengenai Istilah Salib

Dialog kemudian memasuki pembahasan mengenai istilah salib yang muncul dalam berbagai teks keagamaan.

Pihak Islam menyampaikan pandangan bahwa terdapat perbedaan pemahaman mengenai istilah tersebut ketika diterjemahkan dari bahasa-bahasa kuno ke dalam bahasa modern.

Menurut penjelasan yang diberikan, sebagian perdebatan muncul karena perbedaan makna kata dalam bahasa Arab, Yunani, maupun bahasa-bahasa lainnya yang digunakan dalam tradisi keagamaan.

Mereka berpendapat bahwa beberapa kritik terhadap Al-Qur’an terkait penggunaan istilah salib berasal dari perbedaan interpretasi linguistik, bukan semata-mata persoalan sejarah.

Kembali ke Isu Perubahan Naskah Bible

Menjelang akhir sesi ini, pihak Islam kembali menyoroti sejumlah bagian dalam Injil Markus dan Injil Yohanes yang sering menjadi bahan pembahasan dalam studi kritik teks Alkitab.

Beberapa contoh yang disebut antara lain bagian akhir Injil Markus pasal 16 serta kisah perempuan yang tertangkap berzina dalam Yohanes pasal 7 dan 8.

Menurut argumen yang disampaikan, bagian-bagian tersebut menjadi perhatian para peneliti karena tidak selalu ditemukan dalam seluruh manuskrip kuno yang tersedia.

Untuk mendukung pernyataannya, pembicara kemudian mulai merujuk pada sejumlah manuskrip terkenal yang digunakan dalam kajian sejarah teks Kristen dan mengajak peserta melihat langsung data yang tersedia mengenai naskah-naskah tersebut.

Kritik Teks Alkitab dan Perdebatan Mengenai Keaslian Beberapa Ayat

Dalam sesi berikutnya, pembahasan kembali berfokus pada naskah-naskah Alkitab dan kajian kritik teks yang berkembang di kalangan akademisi.

Pihak Islam menyoroti sejumlah bagian dalam Injil yang menurut mereka menjadi bahan diskusi para peneliti karena tidak selalu ditemukan dalam seluruh manuskrip kuno yang tersedia. Salah satu contoh yang disebut adalah kisah perempuan yang tertangkap berzina dalam Injil Yohanes pasal 7 hingga pasal 8.

Menurut pemaparan yang disampaikan, beberapa manuskrip kuno yang sering dijadikan rujukan dalam studi kritik teks tidak memuat bagian tersebut. Karena itu, mereka mempertanyakan asal-usul sejumlah ayat yang muncul dalam versi Alkitab modern.

Dalam kesempatan yang sama, pihak Islam juga mengutip berbagai catatan kaki dan keterangan yang terdapat dalam beberapa edisi Alkitab yang menyebut adanya ayat-ayat yang dianggap tidak terdapat dalam naskah tertua atau diduga merupakan tambahan pada periode tertentu.

Bagi pihak Islam, temuan-temuan tersebut digunakan untuk memperkuat argumen bahwa teks Alkitab mengalami proses transmisi yang lebih kompleks dibandingkan Al-Qur’an.

Pembahasan Mengenai Sebutan “Saudara Harun” dalam Al-Qur’an

Topik selanjutnya menyentuh salah satu pertanyaan yang sering muncul dalam dialog Islam-Kristen, yaitu mengenai penyebutan Maryam sebagai “saudara perempuan Harun” dalam Al-Qur’an.

Pihak Islam berpendapat bahwa persoalan tersebut perlu dilihat dalam konteks penggunaan bahasa dan tradisi penyebutan keturunan atau garis keluarga dalam budaya Semitik.

Dalam penjelasannya, mereka mengutip beberapa contoh penggunaan istilah kekerabatan dalam teks-teks keagamaan yang tidak selalu menunjukkan hubungan biologis secara langsung, tetapi juga dapat merujuk pada garis keturunan, kelompok, atau tradisi tertentu.

Karena itu, mereka menilai bahwa penyebutan tersebut tidak dapat langsung dipahami sebagai kesalahan sejarah tanpa memperhatikan konteks bahasa dan budaya pada masa itu.

Perdebatan Mengenai Nubuat Nabi Muhammad dalam Kitab-Kitab Sebelumnya

Pembahasan kemudian berkembang ke topik yang cukup sering muncul dalam polemik lintas agama, yakni mengenai keberadaan nubuat tentang Nabi Muhammad dalam kitab-kitab sebelumnya.

Pihak Islam berpendapat bahwa sejumlah teks dalam tradisi Yahudi dan Kristen mengandung petunjuk yang merujuk kepada kedatangan Nabi Muhammad. Mereka juga menyampaikan bahwa sebagian kalangan Muslim memandang keberadaan nubuat tersebut sebagai bagian dari keyakinan yang didasarkan pada keterangan Al-Qur’an.

Dalam sesi tersebut, pembicara mengutip beberapa sumber yang menurutnya menunjukkan adanya hubungan antara wilayah Arab, konsep pujian kepada Tuhan, dan figur yang akan datang pada masa berikutnya.

Pihak Islam juga menegaskan bahwa perbedaan pandangan mengenai penafsiran teks-teks tersebut menjadi salah satu alasan mengapa perdebatan mengenai nubuat masih terus berlangsung hingga saat ini.

Isu Penomoran dan Susunan Ayat dalam Kitab Suci

Dalam argumen berikutnya, pihak Islam menyinggung persoalan penomoran ayat dan susunan teks dalam kitab-kitab keagamaan.

Menurut mereka, perubahan penomoran atau variasi susunan ayat bukanlah fenomena yang hanya ditemukan dalam Al-Qur’an, melainkan juga dapat ditemukan dalam berbagai tradisi naskah keagamaan lainnya.

Pembahasan ini muncul sebagai tanggapan terhadap kritik yang diarahkan kepada Al-Qur’an mengenai perbedaan susunan tertentu dalam beberapa riwayat qiraat maupun manuskrip kuno.

Menurut pihak Islam, studi terhadap sejarah teks keagamaan menunjukkan bahwa persoalan penomoran dan pembagian ayat merupakan bagian dari perkembangan tradisi penyalinan naskah yang juga terjadi dalam berbagai kitab suci.

Keyakinan Muslim tentang Nama Nabi Muhammad dalam Kitab Sebelumnya

Salah satu bagian yang cukup menarik perhatian peserta adalah ketika pembicara membahas keyakinan sebagian umat Islam mengenai keberadaan nama atau petunjuk tentang Nabi Muhammad dalam kitab-kitab terdahulu.

Ia menyampaikan bahwa menurut keyakinan Islam, Al-Qur’an telah memberikan informasi mengenai kabar kedatangan Nabi Muhammad yang terdapat dalam wahyu-wahyu sebelumnya.

Karena itu, sebagian Muslim meyakini bahwa petunjuk tersebut pada akhirnya dapat ditemukan melalui penelitian dan kajian terhadap berbagai teks kuno.

Meski demikian, pandangan ini tentu tidak diterima secara universal oleh semua kalangan, baik di dalam maupun di luar komunitas Muslim, sehingga tetap menjadi salah satu tema yang terus diperdebatkan dalam dialog antaragama.

Pertanyaan Balik Mengenai “Injil yang Diberitakan Yesus”

Setelah cukup lama menjawab pertanyaan dari pihak Kristen, pembicara dari pihak Islam akhirnya mengajukan pertanyaan balik yang menjadi salah satu fokus utama dalam sesi tersebut.

Ia mengutip sejumlah ayat dari Injil Matius, Markus, dan Lukas yang menyebut bahwa Yesus berkeliling memberitakan Injil kepada masyarakat.

Beberapa ayat yang disebutkan menggambarkan Yesus dan para muridnya yang mengabarkan Injil Kerajaan Allah, menyerukan pertobatan, serta mengajak manusia untuk percaya kepada Injil.

Berdasarkan ayat-ayat tersebut, pihak Islam mengajukan pertanyaan yang menurut mereka mendasar:

Jika Yesus dan para murid telah memberitakan Injil sejak masa hidup Yesus, maka Injil yang dimaksud sebenarnya merujuk pada kitab yang mana?

Pertanyaan ini kemudian dikembangkan dengan argumen bahwa Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes umumnya diyakini ditulis beberapa dekade setelah masa pelayanan Yesus.

Karena itu, mereka mempertanyakan keberadaan bentuk Injil yang telah diberitakan sebelum penulisan keempat Injil tersebut.

Menurut pihak Islam, pertanyaan ini menjadi penting untuk menjelaskan hubungan antara Injil yang disebut dalam perkataan Yesus dan teks-teks Injil yang dikenal oleh umat Kristen saat ini.

Diskusi Mengenai Huruf Muqatha’ah dalam Al-Qur’an

Pembahasan berikutnya beralih kepada huruf-huruf muqatha’ah yang terdapat pada awal sejumlah surah dalam Al-Qur’an, seperti:

  • Alif Lam Mim
  • Ya Sin
  • Kaf Ha Ya Ain Shad
  • Shad

Pihak Islam menjelaskan bahwa huruf-huruf tersebut termasuk bagian yang makna pastinya tidak diketahui secara pasti oleh manusia dan menjadi bagian dari ayat-ayat mutasyabihat.

Namun dalam pemaparan yang disampaikan, huruf-huruf tersebut juga dipandang memiliki fungsi tertentu, baik sebagai penanda, kode, maupun bentuk tantangan sastra yang menunjukkan keunikan Al-Qur’an.

Menurut penjelasan tersebut, keberadaan huruf muqatha’ah menjadi salah satu ciri khas Al-Qur’an yang tidak ditemukan dalam kitab-kitab lain.

Pihak Islam berargumen bahwa huruf-huruf tersebut menunjukkan bahwa meskipun Al-Qur’an tersusun dari huruf-huruf Arab yang sama dengan bahasa sehari-hari, tidak ada karya manusia yang dianggap mampu menghasilkan teks yang setara dengannya.

Tantangan Membaca Teks Arab dari Alkitab

Menjelang akhir sesi yang terekam dalam bagian ini, pembicara dari pihak Islam mengajukan sebuah tantangan kepada lawan diskusinya yang dikenal memiliki kemampuan membaca bahasa Arab.

Ia kemudian menunjukkan sebuah kutipan dari Alkitab berbahasa Arab dan meminta agar teks tersebut dibaca serta diterjemahkan secara langsung di hadapan peserta dialog.

Ayat yang mulai dibahas berasal dari Kitab Yesaya pasal 28 ayat 10. Pembicara menyampaikan bahwa contoh tersebut akan digunakan untuk melanjutkan diskusi mengenai bahasa, penerjemahan, dan pemahaman terhadap teks-teks keagamaan.

Suasana forum pun menjadi semakin dinamis ketika para peserta menunggu tanggapan dari pihak Kristen terhadap tantangan tersebut, sementara moderator berupaya menjaga jalannya diskusi tetap tertib dan sesuai dengan format dialog akademis yang telah disepakati.

Tantangan Mengenai Penafsiran Teks dalam Kitab Yesaya

Melanjutkan sesi tanya jawab, pihak Islam mengarahkan perhatian kepada Kitab Yesaya pasal 28 ayat 10 dan ayat 13. Dalam bagian ini, mereka meminta pihak Kristen untuk menjelaskan makna dari sejumlah frasa yang terdapat dalam teks tersebut, termasuk ketika ayat tersebut diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa.

Menurut pihak Islam, beberapa terjemahan modern memberikan kesan bahwa teks tersebut berisi pengulangan kata-kata yang sulit dipahami secara langsung oleh pembaca umum. Mereka mempertanyakan bagaimana bagian tersebut dipahami sebagai firman Tuhan dan apa makna yang sebenarnya ingin disampaikan oleh ayat tersebut.

Pertanyaan ini diajukan sebagai bagian dari kritik terhadap metode penafsiran yang digunakan dalam memahami kitab suci, khususnya ketika sebuah teks dianggap memerlukan penjelasan tambahan agar dapat dipahami secara utuh.

Pihak Islam kemudian meminta agar pembahasan mengenai ayat tersebut dijelaskan lebih rinci oleh pihak Kristen pada sesi berikutnya.

Tanggapan Pendeta Budi Asali Mengenai Qiraat Al-Qur’an

Memasuki sesi jawaban, Pendeta Budi Asali mulai menanggapi sejumlah argumentasi yang sebelumnya disampaikan oleh pihak Islam.

Ia menyoroti pernyataan bahwa qiraat Hafs dianggap sebagai bacaan Al-Qur’an yang paling kuat dan paling benar. Menurutnya, pandangan tersebut sangat dipengaruhi oleh wilayah tempat seseorang tinggal dan tradisi bacaan yang berkembang di daerah masing-masing.

Sebagai contoh, ia menyebut bahwa umat Islam di Maroko dan sejumlah wilayah Afrika Utara lebih banyak menggunakan qiraat Warsh dibandingkan Hafs. Oleh karena itu, ia mempertanyakan apakah masyarakat di wilayah tersebut akan memberikan jawaban yang sama ketika ditanya mengenai qiraat yang paling benar.

Menurutnya, keberadaan berbagai qiraat menunjukkan adanya perbedaan bacaan yang tetap menjadi bahan diskusi dalam studi Al-Qur’an.

Pertanyaan Mengenai Perubahan dalam Al-Qur’an

Pendeta Budi Asali kemudian mengajukan pertanyaan yang menurutnya penting untuk diperjelas.

Ia mempertanyakan apakah umat Islam meyakini bahwa teks Al-Qur’an sama sekali tidak mengalami perubahan sejak masa awal hingga sekarang, ataukah yang dimaksud tidak berubah adalah ajarannya secara umum.

Pertanyaan tersebut diajukan karena sebelumnya telah dibahas mengenai variasi qiraat, perbedaan bacaan, serta perkembangan sistem penulisan dan pemberian harakat dalam mushaf Al-Qur’an.

Menurutnya, perbedaan-perbedaan tersebut perlu dijelaskan secara lebih rinci agar posisi masing-masing pihak menjadi lebih jelas.

Menanggapi Isu Penyaliban dan Sejarah Romawi

Topik berikutnya menyentuh persoalan penyaliban yang sebelumnya menjadi bahan diskusi.

Pendeta Budi Asali menjelaskan bahwa praktik penyaliban sebagai bentuk hukuman memang dikenal luas dalam Kekaisaran Romawi. Oleh karena itu, menurutnya, pembahasan mengenai penyaliban pada masa Romawi tidak dapat langsung dikaitkan dengan periode Firaun di Mesir kuno.

Ia juga mempertanyakan penggunaan istilah tertentu yang menurutnya berasal dari bahasa Arab untuk menjelaskan konsep yang berkembang dalam konteks sejarah Romawi.

Menurutnya, pembahasan sejarah harus dibedakan dari persoalan penerjemahan istilah keagamaan ke dalam bahasa-bahasa lain.

Pandangan Mengenai Markus 16 dan Bagian-Bagian yang Diperdebatkan

Terkait isu kritik teks Alkitab yang sebelumnya disampaikan oleh pihak Islam, Pendeta Budi Asali menyatakan bahwa dirinya memang mengakui adanya perdebatan mengenai beberapa bagian tertentu dalam Alkitab, termasuk bagian akhir Injil Markus pasal 16.

Menurutnya, di kalangan Kristen sendiri terdapat beragam pandangan mengenai status beberapa bagian yang dipersoalkan dalam studi kritik teks.

Ia menjelaskan bahwa sebagian kalangan menerima bagian-bagian tersebut sebagai bagian dari Alkitab, sementara sebagian lainnya memandangnya secara berbeda berdasarkan kajian manuskrip kuno yang tersedia.

Karena itu, menurutnya, keberadaan perdebatan tersebut bukanlah sesuatu yang disembunyikan dalam tradisi Kristen, melainkan telah lama menjadi bagian dari diskusi akademik dan teologis.

Menolak Klaim Konstantin Sebagai Pendiri Kristen

Dalam kesempatan yang sama, Pendeta Budi Asali juga menanggapi pernyataan yang menyebut Kaisar Konstantin sebagai pendiri agama Kristen.

Menurutnya, klaim tersebut tidak sesuai dengan data sejarah.

Ia menjelaskan bahwa istilah “Kristen” telah digunakan jauh sebelum masa Konstantin. Sebagai dasar argumen, ia merujuk pada Kisah Para Rasul pasal 11 ayat 26 yang menyebut bahwa para pengikut Yesus pertama kali disebut sebagai orang Kristen di Antiokhia.

Karena itu, menurutnya, keberadaan komunitas Kristen telah tercatat sejak abad pertama Masehi, sedangkan Konstantin hidup pada abad keempat.

Dengan demikian, ia menolak anggapan bahwa Konstantin merupakan pendiri agama Kristen.

Perbedaan antara “Injil” dan “Kitab Injil”

Salah satu tanggapan terpanjang yang disampaikan Pendeta Budi Asali berkaitan dengan pertanyaan pihak Islam mengenai “Injil yang diberitakan Yesus”.

Menurutnya, terdapat perbedaan penting antara istilah “Injil” dan “kitab Injil”.

Ia menjelaskan bahwa Injil pada dasarnya berarti “kabar baik”, yaitu berita mengenai keselamatan yang menurut keyakinan Kristen diberikan melalui pengorbanan Yesus Kristus.

Sementara itu, kitab-kitab Injil seperti Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes merupakan catatan tertulis mengenai kehidupan, pelayanan, kematian, dan kebangkitan Yesus.

Karena itu, menurutnya, ketika Yesus dan para murid memberitakan Injil, yang dimaksud bukanlah menyebarkan sebuah buku atau naskah tertentu, melainkan menyampaikan pesan keselamatan yang menjadi inti ajaran Kristen.

Pandangan tersebut diajukan sebagai jawaban atas pertanyaan mengenai keberadaan “Injil” sebelum penulisan keempat Injil kanonik.

Doktrin Keselamatan dalam Kekristenan

Pembahasan kemudian berkembang ke tema keselamatan.

Pendeta Budi Asali menjelaskan bahwa menurut keyakinan Kristen, keselamatan diperoleh melalui iman kepada Yesus Kristus yang diyakini telah menebus dosa manusia melalui kematian-Nya di kayu salib.

Ia menegaskan bahwa manusia tidak diselamatkan karena kesempurnaan amal perbuatannya, melainkan karena anugerah Tuhan yang diterima melalui iman.

Dalam penjelasannya, ia mengutip sejumlah ayat Perjanjian Baru yang menurutnya menjadi dasar keyakinan tersebut, termasuk ajaran bahwa tidak ada penghukuman bagi mereka yang berada dalam Kristus.

Pernyataan ini sekaligus menjadi tanggapan terhadap ajakan pihak Islam agar lawan debatnya kembali memeluk Islam.

Kritik terhadap Penjelasan Huruf Muqatha’ah

Topik berikutnya kembali mengarah kepada huruf-huruf muqatha’ah dalam Al-Qur’an.

Pendeta Budi Asali mengutip keterangan yang terdapat dalam catatan kaki terbitan Kementerian Agama Republik Indonesia yang menyebut bahwa makna pasti huruf-huruf tersebut hanya diketahui oleh Allah.

Menurutnya, hal tersebut menimbulkan pertanyaan mendasar mengenai fungsi wahyu.

Ia berargumen bahwa wahyu pada dasarnya merupakan sesuatu yang diungkapkan atau disingkapkan kepada manusia. Oleh karena itu, ia mempertanyakan bagaimana suatu bagian dapat disebut wahyu apabila maknanya tidak diketahui oleh manusia dan hanya diketahui oleh Tuhan semata.

Selain itu, ia juga mempertanyakan penjelasan yang menyebut huruf-huruf tersebut sebagai sarana untuk menarik perhatian atau menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an.

Menurutnya, alasan-alasan tersebut masih memerlukan penjelasan lebih lanjut.

Pertanyaan Mengenai Ayat-Ayat yang Menyebut Perubahan Bentuk Manusia

Menjelang akhir sesi ini, Pendeta Budi Asali mengangkat beberapa ayat Al-Qur’an yang menyebut hukuman terhadap sekelompok manusia yang dijadikan kera karena melanggar ketentuan Tuhan.

Ia mempertanyakan siapa kelompok yang dimaksud, kapan peristiwa tersebut terjadi, serta di mana peristiwa itu berlangsung.

Selain itu, ia juga menyinggung sejumlah ayat lain yang menurutnya memerlukan penjelasan historis yang lebih rinci, termasuk ayat-ayat yang berbicara tentang perubahan bentuk fisik manusia sebagai hukuman ilahi.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut kemudian diajukan kepada pihak Islam untuk dijawab pada sesi berikutnya, yang diperkirakan akan membahas lebih jauh mengenai tafsir Al-Qur’an, konteks sejarah, dan pemahaman terhadap ayat-ayat yang dianggap kontroversial dalam dialog lintas agama.

Kritik Mengenai Ayat-Ayat yang Menyebut Perubahan Bentuk Manusia

Melanjutkan pemaparannya, Pendeta Budi Asali kembali menyoroti sejumlah ayat Al-Qur’an yang menyebut adanya kelompok manusia yang dijadikan kera atau babi sebagai bentuk hukuman dari Tuhan.

Ia mengutip beberapa ayat yang menurutnya memerlukan penjelasan lebih lanjut mengenai konteks sejarah dan identitas kelompok yang dimaksud.

Menurutnya, pertanyaan yang perlu dijawab adalah kapan peristiwa tersebut terjadi, siapa yang mengalami hukuman tersebut, dan bagaimana peristiwa itu dipahami dalam tradisi tafsir Islam.

Topik ini kemudian menjadi bagian dari daftar pertanyaan yang diajukan kepada pihak Islam untuk dijelaskan secara lebih rinci.

Tuduhan Kontradiksi dalam Al-Qur’an

Memasuki bagian berikutnya, Pendeta Budi Asali menyampaikan sejumlah contoh yang menurutnya menunjukkan adanya kontradiksi dalam Al-Qur’an.

Salah satu contoh yang ia angkat adalah kisah perintah Allah kepada para malaikat untuk bersujud kepada Adam.

Menurutnya, apabila sujud dipahami sebagai bentuk penyembahan, maka perintah tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip bahwa penyembahan hanya boleh ditujukan kepada Tuhan.

Ia berpendapat bahwa Iblis justru menolak melakukan tindakan tersebut, sehingga muncul pertanyaan mengapa penolakannya dianggap sebagai kesalahan.

Dalam argumennya, ia membandingkan hal tersebut dengan keyakinan Kristen mengenai Yesus Kristus. Menurutnya, umat Kristen tidak menyembah sisi kemanusiaan Yesus, melainkan menyembah keilahian-Nya.

Perdebatan Mengenai Proses Penciptaan Alam Semesta

Topik berikutnya berkaitan dengan penciptaan langit dan bumi.

Pendeta Budi Asali menyoroti beberapa ayat Al-Qur’an yang menurutnya memberikan keterangan berbeda mengenai lamanya proses penciptaan alam semesta.

Ia membandingkan ayat-ayat yang menyebut penciptaan dalam enam masa dengan ayat lain yang menurut penafsirannya menunjukkan jumlah waktu yang berbeda.

Selain itu, ia juga mempertanyakan urutan penciptaan antara langit dan bumi yang menurutnya tampak berbeda dalam beberapa ayat.

Bagi pihak Kristen, hal tersebut dianggap sebagai persoalan yang memerlukan penjelasan agar tidak menimbulkan kesan adanya pertentangan internal dalam teks.

Siapakah Muslim Pertama?

Dalam bagian lain, Pendeta Budi Asali mengangkat pertanyaan mengenai siapa yang dapat disebut sebagai Muslim pertama menurut Al-Qur’an.

Ia menunjukkan bahwa beberapa tokoh berbeda disebut sebagai orang yang berserah diri kepada Tuhan, termasuk Nabi Adam, Nabi Ibrahim, Nabi Musa, dan Nabi Muhammad.

Menurutnya, apabila masing-masing tokoh disebut sebagai Muslim, maka perlu dijelaskan siapa yang sebenarnya dimaksud sebagai Muslim pertama.

Pertanyaan tersebut diajukan untuk menguji konsistensi penggunaan istilah “Muslim” dalam Al-Qur’an.

Perdebatan Mengenai Dosa Syirik

Topik berikutnya membahas persoalan syirik.

Pendeta Budi Asali mengutip sejumlah ayat yang menurutnya memberikan kesan berbeda mengenai kemungkinan diampuninya dosa syirik.

Menurut pemaparannya, terdapat ayat yang menyatakan bahwa syirik tidak akan diampuni, sementara ayat lain dianggap membuka kemungkinan pengampunan.

Ia kemudian meminta penjelasan mengenai bagaimana kedua kelompok ayat tersebut dipahami dalam kerangka teologi Islam.

Asal Penciptaan Manusia

Pembahasan kemudian bergeser pada ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan asal-usul manusia.

Pendeta Budi Asali mengutip sejumlah ayat yang menyebut manusia diciptakan dari:

  • Tanah
  • Lumpur
  • Air
  • Setetes mani
  • Segumpal darah
  • Keadaan yang sebelumnya tidak ada

Menurutnya, berbagai deskripsi tersebut tampak berbeda satu sama lain dan menimbulkan pertanyaan mengenai asal penciptaan manusia yang sebenarnya.

Topik ini kemudian dimasukkan ke dalam daftar yang menurutnya perlu dijelaskan oleh pihak Islam.

Keselamatan Yahudi dan Kristen dalam Al-Qur’an

Selanjutnya, ia membandingkan beberapa ayat yang berbicara mengenai keselamatan.

Menurut penafsirannya, terdapat ayat yang memberikan harapan keselamatan bagi orang-orang Yahudi dan Kristen yang beriman kepada Tuhan dan beramal saleh.

Namun di sisi lain, ia juga mengutip ayat yang menurutnya menegaskan bahwa hanya Islam yang diterima oleh Tuhan.

Berdasarkan hal tersebut, ia mempertanyakan bagaimana kedua kelompok ayat tersebut dipahami secara bersamaan.

Perdebatan Mengenai Syafaat

Pendeta Budi Asali juga menyoroti persoalan syafaat pada Hari Penghakiman.

Menurutnya, terdapat ayat-ayat yang menyebut adanya syafaat dengan izin Tuhan, sementara ayat lain tampak menolak kemungkinan syafaat.

Ia mempertanyakan bagaimana kedua kelompok ayat tersebut dapat dipadukan dalam pemahaman teologis Islam.

Nasib Firaun

Topik berikutnya menyentuh kisah Firaun dalam Al-Qur’an.

Menurut Pendeta Budi Asali, terdapat ayat yang menyebut jasad Firaun diselamatkan sebagai pelajaran bagi generasi berikutnya, sementara ayat lain menggambarkan Firaun ditenggelamkan.

Ia mempertanyakan bagaimana kedua keterangan tersebut dipahami dan apakah keduanya dapat dipadukan tanpa menimbulkan pertentangan.

Tidak Ada Paksaan dalam Agama?

Salah satu tema yang cukup banyak mendapat perhatian adalah persoalan kebebasan beragama.

Pendeta Budi Asali membandingkan ayat yang menyatakan bahwa tidak ada paksaan dalam agama dengan sejumlah ayat lain yang berbicara mengenai peperangan terhadap kelompok tertentu.

Menurutnya, kedua kelompok ayat tersebut sering menjadi bahan perdebatan dalam diskusi mengenai hubungan Islam dengan pemeluk agama lain.

Ia kemudian meminta penjelasan mengenai bagaimana ayat-ayat tersebut dipahami dalam konteks sejarah maupun hukum Islam.

Perdebatan Mengenai Alkohol

Dalam daftar yang sama, ia juga menyinggung persoalan minuman keras.

Menurutnya, terdapat ayat yang melarang umat Islam melaksanakan salat dalam keadaan mabuk, sementara ayat lain melarang khamar secara lebih tegas.

Ia mempertanyakan apakah hal tersebut menunjukkan perubahan aturan atau adanya kontradiksi dalam teks.

Hukuman bagi Pelanggaran Seksual

Pendeta Budi Asali kemudian membandingkan beberapa ayat yang berbicara mengenai hukuman terhadap pelanggaran seksual.

Menurutnya, terdapat ayat yang menyebut pengurungan, sedangkan ayat lain menyebut hukuman cambuk.

Ia mempertanyakan hubungan antara kedua ketentuan tersebut dan bagaimana para ulama memahami perbedaannya.

Kisah Anak Nabi Nuh

Pembahasan juga menyentuh kisah banjir pada masa Nabi Nuh.

Pendeta Budi Asali menunjukkan bahwa terdapat ayat yang menggambarkan keselamatan keluarga Nabi Nuh, sementara ayat lain menceritakan adanya salah satu anak Nabi Nuh yang tidak selamat karena menolak mengikuti perintah ayahnya.

Menurutnya, hal tersebut memerlukan penjelasan agar tidak menimbulkan kesan pertentangan narasi.

Jin Diciptakan dari Apa?

Dalam kritik berikutnya, ia membandingkan ayat yang menyatakan bahwa segala sesuatu yang hidup diciptakan dari air dengan ayat yang menjelaskan bahwa jin diciptakan dari api.

Menurutnya, apabila segala sesuatu berasal dari air, maka muncul pertanyaan mengenai posisi jin dalam kategori tersebut.

Apakah Tuhan Islam dan Tuhan Kristen Sama?

Menjelang akhir sesi, Pendeta Budi Asali mengangkat pertanyaan yang lebih bersifat teologis.

Ia mengutip ayat Al-Qur’an yang menyebut bahwa Tuhan umat Islam dan Tuhan Ahli Kitab adalah Tuhan yang sama.

Namun menurutnya, konsep ketuhanan dalam Islam dan Kristen memiliki perbedaan mendasar, terutama terkait doktrin Tritunggal.

Karena itu, ia mempertanyakan dalam pengertian apa kedua tradisi tersebut dapat dikatakan menyembah Tuhan yang sama.

Tanggapan Fadilah Hafiz

Setelah berbagai kritik dan pertanyaan disampaikan, Fadilah Hafiz turut memberikan tanggapan singkat.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah istilah Arab yang sebelumnya diperdebatkan memiliki makna yang jelas dalam tata bahasa Arab dan tidak dapat begitu saja disederhanakan menjadi rangkaian bunyi tanpa arti.

Selain itu, ia juga menanggapi pembahasan mengenai penyebutan keturunan Harun dalam Injil Lukas dan menjelaskan bahwa istilah yang digunakan dapat dipahami sebagai rujukan kepada garis keturunan, bukan selalu hubungan langsung antara anak dan orang tua.

Mengenai istilah Injil, ia menyatakan bahwa pihak Kristen membedakan antara Injil sebagai kabar baik yang diberitakan dan kitab-kitab Injil yang kemudian ditulis oleh para rasul.

Pihak Islam Mulai Menjawab

Memasuki bagian akhir sesi ini, giliran pihak Islam kembali diberikan kesempatan untuk menanggapi berbagai pertanyaan yang telah diajukan.

Ustaz Ipung membuka jawabannya dengan mengingatkan bahwa menurutnya masih terdapat beberapa pertanyaan yang belum dijawab oleh pihak Kristen, termasuk mengenai pembahasan Kitab Yesaya serta pertanyaan tentang keberadaan Injil yang diberitakan pada masa Yesus.

Ia kemudian mulai menanggapi salah satu kritik yang cukup sering diarahkan kepada Islam, yaitu mengenai Surah Maryam ayat 71 yang berbicara tentang seluruh manusia yang akan mendatangi neraka.

Menurut penjelasannya, ayat tersebut tidak berarti seluruh manusia akan masuk dan disiksa di dalam neraka.

Ia menjelaskan bahwa dalam pemahaman Islam, seluruh manusia akan melewati shirath yang berada di atas neraka pada Hari Kiamat. Orang-orang beriman akan diselamatkan dan melewatinya dengan selamat, sedangkan orang-orang yang ingkar akan terjatuh ke dalamnya.

Untuk mendukung penjelasan tersebut, ia mengajak peserta dialog memperhatikan ayat berikutnya yang menjelaskan keselamatan orang-orang bertakwa serta nasib orang-orang zalim yang tetap berada di dalam neraka.

Setelah menjelaskan persoalan tersebut, pihak Islam bersiap melanjutkan jawaban terhadap berbagai tuduhan kontradiksi dan pertanyaan lain yang sebelumnya diajukan oleh pihak Kristen.

Tanggapan Islam Mengenai Jaminan Keselamatan

Melanjutkan jawabannya, Ustaz Ipung menolak anggapan bahwa umat Islam tidak memiliki jaminan keselamatan dalam ajaran mereka.

Menurutnya, Al-Qur’an memuat banyak ayat yang menjanjikan surga bagi orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Ia menyebut sejumlah ayat yang berbicara mengenai pahala, pengampunan dosa, serta kehidupan abadi di surga bagi mereka yang menaati perintah Allah.

Sebagai contoh, ia mengutip ayat-ayat yang menjelaskan bahwa orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan akan dihapus kesalahan-kesalahannya dan dimasukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.

Berdasarkan hal tersebut, ia menegaskan bahwa konsep keselamatan dalam Islam tidak bergantung pada penebusan dosa melalui penyaliban, melainkan pada iman, ketaatan, rahmat Allah, dan amal saleh yang dilakukan selama hidup.

Perdebatan Mengenai Keselamatan dalam Kekristenan

Dalam bagian yang sama, Ustaz Ipung mengutip Matius 7:21–23 untuk mempertanyakan keyakinan bahwa seluruh orang yang mengaku mengikuti Yesus otomatis akan diselamatkan.

Ia menunjukkan bahwa dalam bagian tersebut Yesus berbicara mengenai orang-orang yang memanggil-Nya “Tuhan”, melakukan berbagai perbuatan atas nama-Nya, tetapi pada akhirnya tetap ditolak.

Menurutnya, ayat tersebut menunjukkan bahwa persoalan keselamatan tidak sesederhana sekadar pengakuan iman.

Namun pembahasan ini tidak sempat berkembang lebih jauh karena waktu yang tersedia semakin terbatas.

Klarifikasi Mengenai Yesaya 28

Ketika sesi hampir berakhir, Fadilah Hafiz kembali menanggapi pembahasan mengenai Yesaya pasal 28 yang sebelumnya menjadi bahan perdebatan.

Ia menjelaskan bahwa istilah-istilah Arab yang dikutip dalam diskusi tersebut memiliki makna yang jelas dalam tata bahasa Arab dan tidak dapat disamakan dengan sekadar rangkaian bunyi tanpa arti.

Menurutnya, kata-kata yang dipersoalkan berkaitan dengan konsep perintah, peringatan, dan instruksi, sehingga penafsiran yang menyederhanakannya menjadi “kata-kata tanpa makna” dianggap tidak tepat.

Ia juga mengingatkan bahwa pemahaman terhadap teks keagamaan perlu mempertimbangkan bahasa aslinya serta konteks penggunaannya.

Pembelaan Kristen terhadap Doktrin Penebusan

Dalam kesempatan terakhir yang dimilikinya, Pendeta Budi Asali kembali menjelaskan mengapa doktrin penebusan dosa menjadi inti keyakinan Kristen.

Menurutnya, Allah yang adil tidak dapat begitu saja menghapus dosa tanpa adanya penghukuman. Jika dosa dibiarkan tanpa konsekuensi, maka keadilan Tuhan dipandang tidak terpenuhi.

Karena itu, ia menjelaskan bahwa dalam teologi Kristen, Yesus Kristus menanggung hukuman yang seharusnya diterima manusia berdosa.

Menurut pemaparannya, peristiwa salib dipahami sebagai titik pertemuan antara kasih, keadilan, dan kekudusan Allah. Hukuman atas dosa tetap dijalankan, tetapi ditanggung oleh Kristus demi keselamatan manusia.

Pandangan tersebut menjadi dasar utama mengapa umat Kristen memandang kematian Yesus sebagai peristiwa sentral dalam sejarah keselamatan.

Perdebatan Mengenai Respons Ahli Kitab terhadap Al-Qur’an

Pendeta Budi Asali juga menyinggung ayat Al-Qur’an yang menyatakan bahwa sebagian Ahli Kitab akan beriman kepada Al-Qur’an.

Menurutnya, realitas yang ia lihat menunjukkan bahwa mayoritas umat Kristen tidak menerima Al-Qur’an sebagai wahyu dari Tuhan.

Karena itu, ia mempertanyakan bagaimana ayat tersebut dipahami dalam konteks sejarah maupun realitas hubungan antaragama saat ini.

Argumen tentang Keaslian dan Otoritas Alkitab

Menjelang akhir acara, Pendeta Budi Asali menyampaikan dua alasan utama mengapa ia meyakini Alkitab sebagai firman Tuhan.

Pertama, ia menyoroti fakta bahwa Alkitab ditulis oleh banyak penulis yang hidup pada periode berbeda selama rentang waktu yang sangat panjang. Menurutnya, meskipun berasal dari latar belakang yang beragam, tulisan-tulisan tersebut tetap membentuk satu narasi besar yang dianggap konsisten dan berpusat pada sosok Kristus.

Kedua, ia mengemukakan argumen mengenai nubuat-nubuat dalam Alkitab.

Ia menyebut sejumlah bagian Perjanjian Lama yang dalam keyakinan Kristen dianggap menubuatkan kelahiran, pelayanan, penderitaan, kematian, dan kebangkitan Yesus Kristus jauh sebelum peristiwa tersebut terjadi.

Bagi Pendeta Budi Asali, keberadaan nubuat-nubuat tersebut merupakan salah satu bukti bahwa Alkitab berasal dari Tuhan.

Ia kemudian menyimpulkan bahwa apabila Alkitab dan Al-Qur’an memberikan ajaran yang saling bertentangan pada beberapa poin mendasar, maka menurut pandangannya keduanya tidak mungkin sama-sama berasal dari sumber ilahi yang sama.

Pernyataan Penutup dari Fadilah Hafiz

Sebelum sesi berakhir, Fadilah Hafiz kembali mengingatkan peserta mengenai pembahasan seputar qiraat Al-Qur’an dan perbedaan bacaan yang sebelumnya menjadi topik perdebatan.

Ia menyarankan agar peserta yang ingin mendalami persoalan tersebut merujuk kepada literatur dan sumber-sumber kajian Islam yang membahas sejarah qiraat secara lebih komprehensif.

Selain itu, ia juga menegaskan bahwa beberapa pertanyaan yang diajukannya terkait tata bahasa Arab menurutnya belum memperoleh jawaban yang memuaskan selama berlangsungnya dialog.

Dengan waktu yang tersisa sangat sedikit, ia kemudian mengakhiri pernyataannya dan menyampaikan salam penutup kepada seluruh peserta.

Akhir Diskusi dan Sesi Interaksi Audiens

Setelah seluruh waktu debat habis, moderator mengumumkan berakhirnya sesi utama dan mengajak peserta memberikan apresiasi kepada para narasumber.

Meski demikian, suasana diskusi masih berlanjut ketika beberapa peserta audiens mulai mengajukan pertanyaan dan komentar dari tempat duduk mereka.

Salah satu topik yang kembali muncul adalah klaim mengenai hubungan antara Al-Qur’an, Taurat, dan tradisi Yahudi. Sejumlah peserta meminta agar setiap klaim yang disampaikan selama debat didukung dengan data, sumber, dan rujukan yang jelas sehingga dapat diuji secara akademis.

Perdebatan yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut pada akhirnya memperlihatkan perbedaan mendasar antara perspektif Islam dan Kristen dalam memahami wahyu, kitab suci, keselamatan, kenabian, serta sejarah agama.

Meskipun tidak menghasilkan kesepakatan, dialog tersebut memberikan gambaran mengenai berbagai argumen yang sering muncul dalam diskusi lintas agama, sekaligus menunjukkan pentingnya memahami keyakinan pihak lain melalui kajian yang mendalam, penggunaan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan, dan sikap saling menghormati dalam menyampaikan perbedaan pandangan.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

PRODUK PARFUM AYA SOFYA


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat

DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.