Fenomena masuknya pemikiran-pemikiran asing ke dalam lingkungan kampus Islam kembali menjadi sorotan publik. Kali ini, perbincangan muncul setelah adanya pengakuan seorang mahasiswa jurusan Teknik Elektro di sebuah Universitas Islam Negeri (UIN) yang mengaku sedang mempelajari “Teosofi” sebagai bagian dari perkuliahannya. Pengakuan tersebut memicu diskusi panjang mengenai apa sebenarnya teosofi, dari mana asalnya, dan mengapa istilah itu muncul di lingkungan pendidikan Islam.
Dalam sebuah forum diskusi yang menghadirkan sejumlah tokoh dan ustaz, tema ini dibahas secara serius. Salah satu pembicara menceritakan pengalamannya ketika berdialog dengan seorang mahasiswa UIN yang pemikirannya dianggap mulai berubah dan “aneh” dalam persoalan agama. Setelah didalami, mahasiswa tersebut akhirnya mengaku bahwa dirinya sedang belajar teosofi.
Apa Itu Teosofi?
Secara bahasa, “teosofi” berasal dari dua kata Yunani: theo yang berarti Tuhan, dan sophia yang berarti kebijaksanaan. Dalam forum tersebut dijelaskan bahwa banyak orang mengira teosofi berkaitan langsung dengan teologi Kristen karena adanya unsur kata “Theo”. Namun, salah satu narasumber justru menegaskan bahwa teosofi bukan bagian dari Kristen maupun Katolik.
Menurut penjelasan mereka, teosofi merupakan sebuah aliran pemikiran spiritual yang berdiri di luar sistem agama formal. Teosofi bahkan disebut sengaja membedakan dirinya dari “teologi”. Jika teologi berbicara tentang Tuhan dalam kerangka agama tertentu, maka teosofi mencoba membangun konsep spiritual universal yang tidak terikat agama mana pun.
Pengalaman Masuk ke Gereja Teosofi
Dalam diskusi tersebut, salah satu pembicara juga menceritakan pengalamannya ketika mengunjungi sebuah gereja teosofi di Surabaya. Ia mengaku menemukan berbagai simbol yang dianggap misterius, seperti pilar besar, lantai hitam putih berbentuk kotak-kotak, tali kapal besar, palu hakim, hingga berbagai perlengkapan ritual yang menurutnya tidak lazim ditemukan di gereja biasa.
Ketika ditanya mengenai simbol-simbol tersebut, pihak pengelola disebut memberikan jawaban yang normatif dan tidak menjelaskan makna sebenarnya. Pengalaman itu kemudian memunculkan dugaan adanya ajaran tertentu yang disembunyikan di balik simbol-simbol tersebut.
Teosofi Masuk ke Jurusan Teknik Elektro?
Hal yang paling mengejutkan dalam diskusi tersebut adalah ketika diperlihatkan daftar mata kuliah mahasiswa jurusan Teknik Elektro di Fakultas Sains dan Teknologi. Di tengah mata kuliah seperti rangkaian elektronika, pengukuran listrik, sistem digital, probabilitas, dan statistika, terdapat satu mata kuliah bernama “Teosofi”.
Keberadaan mata kuliah tersebut menimbulkan pertanyaan besar. Mengapa jurusan teknik mempelajari teosofi? Apa relevansinya dengan dunia elektro dan teknologi? Pertanyaan-pertanyaan ini kemudian menjadi bahan diskusi para narasumber yang hadir dalam forum tersebut.
Madam Blavatsky dan Awal Gerakan Teosofi
Dalam pembahasan lanjutan, salah satu narasumber menyebut nama Helena Petrovna Blavatsky atau Madam Blavatsky sebagai tokoh penting dalam lahirnya gerakan teosofi modern. Ia disebut sebagai pelopor utama teosofi yang berasal dari Rusia dan dikenal memiliki ketertarikan besar terhadap dunia mistik, spiritualisme, dan praktik-praktik esoterik.
Menurut narasi dalam forum tersebut, Blavatsky melakukan perjalanan ke berbagai wilayah termasuk Tibet untuk mempelajari ajaran-ajaran spiritual kuno. Dari sinilah kemudian lahir gerakan teosofi yang menyebar ke berbagai negara dan memengaruhi banyak kalangan intelektual.
Teosofi Disebut Tidak Berkaitan dengan Kristen
Dalam lanjutan diskusi tersebut, salah satu narasumber menegaskan bahwa teosofi justru tidak mengakui dirinya sebagai bagian dari Kekristenan. Ia menjelaskan bahwa sebelum kemunculan tokoh Helena Petrovna Blavatsky atau Madam Blavatsky, istilah “teosofi” bahkan belum dikenal luas.
Menurut penjelasannya, di Indonesia gerakan teosofi masuk melalui jalur administratif agama tertentu hanya karena tidak memiliki kategori resmi sendiri. Ia kemudian menyinggung bagaimana sebagian kelompok spiritual akhirnya “menitipkan diri” di bawah lembaga agama demi mendapatkan pengakuan administratif.
Narasi itu kemudian berkembang kepada pembahasan sejarah tokoh-tokoh nasional dan hubungan mereka dengan bacaan-bacaan teosofi. Disebutkan bahwa Presiden pertama Indonesia, Ir. Soekarno, pernah tertarik membaca berbagai buku teosofi yang berada di sebuah gedung di Surabaya.
Dikaitkan dengan Freemason dan Illuminati
Pembicaraan kemudian bergerak lebih jauh dengan menghubungkan teosofi dengan kelompok Freemason dan Illuminati. Narasumber menyebut adanya berbagai simbol tertentu di gedung-gedung tua di Surabaya maupun Jakarta yang menurut mereka berkaitan dengan jaringan tersebut.
Mereka juga mengaitkan sejumlah simbol seperti “one eye”, bentuk bintang tertentu, hingga pola bangunan kota dengan simbolisme Illuminati. Dalam diskusi itu disebutkan bahwa pengaruh kelompok tersebut telah lama masuk melalui kolonialisme Belanda dan VOC.
Selain itu, Nusantara disebut sebagai wilayah yang sejak lama dipandang sangat strategis dan kaya sumber daya sehingga menjadi target penguasaan berbagai kekuatan dunia.
Simbol Teosofi dan Makna Filosofinya
Pada sesi berikutnya, forum membahas simbol resmi teosofi. Salah satu pembicara meminta agar simbol teosofi ditampilkan dan kemudian menjelaskan unsur-unsur yang ada di dalamnya.
Mereka menyoroti tulisan terkenal dalam lambang tersebut:
“There is no religion higher than truth.”
Kalimat itu diterjemahkan sebagai gagasan bahwa tidak ada agama yang lebih tinggi daripada “kebenaran”. Namun dalam forum tersebut, para pembicara menafsirkan slogan itu sebagai bentuk penolakan terhadap seluruh agama formal.
Simbol lain yang dibahas adalah ular melingkar, simbol swastika, lambang “Om”, hingga konsep keseimbangan yin dan yang. Salah satu narasumber menyebut bahwa simbol ular dalam teosofi dihubungkan dengan “Nahas” atau ular dalam kisah Nabi Musa dan kisah Adam-Hawa.
Mereka menyimpulkan bahwa teosofi bukanlah upaya menyatukan agama, melainkan sebuah pemikiran yang ingin menempatkan “humanity” atau kemanusiaan di atas agama-agama formal.
Teosofi Disebut Menargetkan Dunia Islam
Dalam forum itu, salah satu pembicara menyatakan keyakinannya bahwa sasaran utama penyebaran teosofi di Indonesia adalah umat Islam. Menurutnya, teosofi tidak masuk sebagai agama maupun sarana misi Kristen, tetapi sebagai cara untuk mengubah pola pikir masyarakat agar agama dianggap tidak lagi penting.
Ia menilai bahwa konsep “humanity” yang terus dikedepankan pada akhirnya membuat manusia lebih fokus kepada hubungan sosial semata tanpa menjadikan agama sebagai fondasi utama kehidupan.
Pembahasan Ayat dan Konsep Perdamaian
Di akhir bagian transkrip ini, forum mulai membahas ayat-ayat dalam Perjanjian Lama, khususnya Ulangan 20:10 dan pasal-pasal lain yang dianggap berkaitan dengan konsep perdamaian dan penaklukan wilayah.
Ayat tersebut dibacakan dan ditafsirkan sebagai strategi menawarkan perdamaian sebelum suatu wilayah akhirnya dikuasai. Para pembicara kemudian mengaitkan konsep itu dengan apa yang mereka sebut sebagai strategi global dalam penyebaran pengaruh ideologi tertentu.
Teosofi Disebut Sebagai Strategi Penguasaan Pemikiran
Dalam lanjutan diskusi tersebut, pembicara kembali menyinggung ayat-ayat Perjanjian Lama, kali ini dari 1 Samuel 15:3 yang berbicara tentang perang terhadap bangsa Amalek. Ayat itu dibacakan sebagai contoh bagaimana konsep penaklukan dipahami dalam perspektif tertentu.
Salah satu narasumber kemudian menyimpulkan bahwa teosofi bukan sekadar ajaran spiritual biasa, melainkan sebuah gambaran tentang cara menguasai suatu negeri melalui perubahan pola pikir masyarakat. Ia menegaskan bahwa menurut pandangannya, teosofi tidak berkaitan langsung dengan agama tertentu, tetapi lebih kepada pembentukan paradigma baru dalam kehidupan manusia.
Pembahasan lalu kembali menyinggung nama “Theofilus” dalam Injil Lukas. Disebutkan bahwa tokoh tersebut menurut narasumber bukan seorang Kristen dan tidak pernah menjadi Kristen. Hal itu digunakan sebagai penguat argumen bahwa istilah-istilah tertentu yang memiliki unsur “Theo” tidak selalu berkaitan dengan agama Kristen.
Pengakuan tentang Ketertarikan pada Konsep Teosofi
Pada bagian berikutnya, seorang peserta perempuan dalam forum memberikan pengakuan panjang mengenai bagaimana konsep-konsep yang disebut sebagai bagian dari teosofi ternyata sudah memengaruhi cara berpikirnya sejak kecil.
Ia mengaku sejak usia muda tertarik pada simbol-simbol seperti ular yang memakan ekornya sendiri (serpent eating its tail), konsep infinity, keseimbangan antara terang dan gelap, serta gagasan tentang jiwa manusia yang dianggap tidak pernah berakhir.
Menurut pengakuannya, konsep-konsep itu terasa logis dan menarik karena membuat manusia merasa memiliki kekuatan tanpa batas. Ia bahkan menyebut bahwa sejak kecil dirinya sudah diperkenalkan pada simbol infinity dalam lingkungan pendidikan Katolik.
Konsep “Free Will” dan Humanisme
Peserta tersebut kemudian menjelaskan bahwa salah satu inti pemikiran yang paling kuat dalam konsep tersebut adalah gagasan tentang free will atau kebebasan manusia menentukan hidupnya sendiri.
Menurutnya, manusia dipandang memiliki kebebasan absolut untuk memilih jalan hidup tanpa campur tangan Tuhan secara langsung. Kebebasan itulah yang dianggap sebagai hal paling berharga dalam diri manusia.
Ia juga mengaitkan konsep itu dengan humanisme ekstrem, yaitu keyakinan bahwa manusia mampu melakukan apa saja karena dirinya sendiri adalah pusat kekuatan. Dalam pandangan tersebut, manusia dapat merasa superior dan tidak memiliki batas dalam mengejar keinginannya.
Bahaya Pemikiran “Limitless Human”
Lebih jauh, pembicara perempuan itu mengaku pernah merasakan bagaimana konsep tersebut membentuk pola pikir yang sangat keras terhadap kehidupan. Ia mengatakan bahwa ketika seseorang percaya dirinya adalah “infinity” dan tidak memiliki batas, maka segala sesuatu yang menghalangi tujuan hidupnya dapat dianggap sebagai musuh yang harus disingkirkan.
Ia menggambarkan bagaimana humanisme ekstrem dapat melahirkan sikap dingin, kehilangan empati, dan merasa bahwa manusia lain hanyalah penghalang dalam perjalanan hidup. Bahkan, menurut pengakuannya, konsep itu dapat membuat seseorang merasa “superior” dibanding manusia lain.
Dalam forum tersebut, kondisi itu disebut lebih berbahaya daripada sekadar niat jahat biasa, karena dibungkus dengan kecerdasan, logika, kesopanan, dan narasi kemanusiaan.
Simbol Ular dan Konsep Masa Lalu-Masa Depan
Pembahasan kemudian kembali kepada simbol ular yang memakan ekornya sendiri. Simbol tersebut dijelaskan sebagai representasi hubungan antara masa lalu, masa kini, dan masa depan manusia.
Menurut penjelasan dalam forum, kepala ular melambangkan masa kini, tubuhnya melambangkan masa lalu, dan ekornya melambangkan masa depan. Konsep ini dianggap mengajarkan bahwa manusia boleh “mengorbankan” masa lalu demi masa depan yang diinginkan.
Para pembicara menilai bahwa pemikiran seperti ini berpotensi membuat manusia kehilangan standar benar dan salah karena semua keputusan dianggap sah selama mendukung tujuan masa depan.
Disebut Menjadi Ancaman bagi Nilai-Nilai Agama
Di akhir bagian transkrip ini, para narasumber menilai bahwa konsep-konsep tersebut bertentangan dengan ajaran agama, khususnya Islam, karena dianggap mendorong manusia menjadi pusat segalanya dan melemahkan nilai hubungan spiritual dengan Tuhan.
Mereka juga menilai bahwa jika pemikiran tersebut dipadukan dengan kecerdasan, pendidikan tinggi, dan kemampuan intelektual, maka pengaruhnya terhadap generasi muda bisa menjadi sangat kuat dan sulit disadari.
Generasi Muda dan Daya Tarik Konsep “One Power”
Dalam lanjutan forum tersebut, pembicaraan kembali menyoroti simbol “serpent eating its tail” atau ular yang memakan ekornya sendiri. Salah satu peserta menjelaskan bahwa simbol tersebut kini banyak muncul dalam budaya populer, termasuk film-film modern yang membahas konsep kekuatan tanpa batas dan paradoks kehidupan manusia.
Ia kemudian menghubungkan simbol itu dengan konsep “One Power”, yaitu sebuah kekuatan tunggal yang dianggap mengalir dalam seluruh kehidupan dan alam semesta. Menurut penjelasannya, kekuatan itu bukan Tuhan, melainkan energi atau kekuatan besar yang diyakini dapat diakses oleh manusia tertentu.
Dalam forum itu disebutkan bahwa orang-orang yang dianggap mampu mengakses “One Power” adalah mereka yang sangat cerdas, berpengaruh, disukai banyak orang, dan memiliki kemampuan memengaruhi masyarakat.
“Superior Human” dan Bahaya Kesombongan Spiritual
Peserta perempuan yang sebelumnya berbicara kemudian melanjutkan pengakuannya. Ia mengatakan bahwa konsep tersebut membuat seseorang merasa superior dibanding manusia lain. Orang yang merasa memiliki akses kepada “kekuatan” itu akan menganggap dirinya lebih unggul, lebih layak didengar, bahkan lebih layak memimpin dunia.
Namun, ia juga mengaku bahwa dirinya akhirnya menemukan kelembutan dalam Islam yang menurutnya mampu melunakkan pola pikir keras tersebut. Ia menyatakan bahwa Islam mengajarkan manusia untuk tidak tamak dan tidak selalu mengikuti semua keinginan meskipun memiliki kemampuan untuk meraihnya.
Menurutnya, bahaya terbesar muncul ketika orang-orang dengan pola pikir seperti itu menjadi pemimpin dan memengaruhi generasi muda. Ia menilai bahwa jika seseorang merasa memegang “kebenaran” di tangannya sendiri, maka ia akan sulit menerima ajaran agama yang meminta manusia tunduk kepada Tuhan.
Teosofi Dinilai Berbahaya Jika Dijadikan Mata Kuliah
Dalam sesi berikutnya, moderator bertanya secara langsung apakah mata kuliah Teosofi layak diajarkan di kampus Islam. Peserta perempuan tersebut menjawab dengan tegas bahwa menurutnya mata kuliah seperti itu seharusnya dilarang karena dianggap sangat mudah memengaruhi cara berpikir generasi muda.
Ia menjelaskan bahwa ajaran semacam ini dianggap berbahaya karena menawarkan janji kekuatan, kebebasan total, dan rasa superioritas yang mudah diterima oleh mahasiswa yang sedang mengalami pencarian jati diri.
Menurutnya, masalah terbesar bukan sekadar mempelajari teori tersebut, melainkan ketika seseorang mulai mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Dalam pandangannya, hal itu dapat melahirkan manusia yang sangat kejam tetapi merasa dirinya benar.
Pembahasan RPS Mata Kuliah Teosofi di UIN
Forum kemudian masuk pada pembahasan dokumen RPS (Rencana Pembelajaran Semester) mata kuliah Teosofi yang disebut berasal dari program studi Teknik Elektro di salah satu UIN.
Para narasumber mempertanyakan hubungan antara jurusan Teknik Elektro dengan mata kuliah Teosofi. Salah satu ustaz bahkan berseloroh apakah ada kaitannya dengan “kelistrikan”, karena menurutnya topik tersebut lebih dekat dengan filsafat daripada teknik elektro.
Analisis tentang Materi Kuliah Teosofi
Seorang narasumber lain yang mengaku pernah belajar di lingkungan Ushuluddin kemudian mencoba menganalisis isi RPS tersebut. Menurutnya, materi kuliah itu berisi pembahasan tentang berbagai aliran dalam Islam seperti Khawarij, Syiah, Murji’ah, Mu’tazilah, Sunni, dan berbagai firqah lainnya.
Ia menjelaskan bahwa perpecahan dalam Islam sebenarnya memiliki latar belakang politik, bukan perbedaan konsep ketuhanan sebagaimana yang terjadi dalam sejarah Kristen.
Namun menurutnya, jika pembahasan tersebut tidak dijelaskan secara utuh, maka mahasiswa bisa diarahkan pada kesimpulan bahwa agama adalah sumber konflik dan perpecahan manusia.
Agama Dinilai Digiring sebagai Penyebab Konflik
Dalam analisis tersebut disebutkan bahwa narasi yang dibangun seolah-olah menunjukkan bahwa semakin kuat agama mendominasi masyarakat, maka semakin besar potensi konflik dan kehancuran peradaban. Mereka mencontohkan narasi tentang “Dark Age” di Eropa ketika Kristen mendominasi, lalu membandingkannya dengan konflik-konflik dalam sejarah Islam setelah wafatnya Nabi Muhammad SAW.
Dari situlah, menurut mereka, muncul kesimpulan bahwa “kebenaran” tidak berada pada agama, melainkan pada manusia itu sendiri. Narasumber menyebut konsep tersebut sejalan dengan gagasan humanisme dan pluralisme yang menempatkan manusia sebagai pusat nilai dan penentu kebenaran.
Dikaitkan dengan Pluralisme dan Moderasi Beragama
Di bagian akhir transkrip ini, para pembicara juga mengaitkan pembahasan teosofi dengan isu pluralisme dan moderasi beragama. Mereka menilai bahwa konsep moderasi beragama sering digunakan untuk menggiring masyarakat kepada pemahaman bahwa semua agama sama dan tidak ada kebenaran absolut.
Salah satu narasumber menegaskan bahwa toleransi antaragama tetap penting, namun keyakinan terhadap kebenaran agama masing-masing menurutnya tidak boleh dihilangkan. Ia juga menyebut bahwa manusia yang jauh dari kebenaran akan lebih mudah dikendalikan dan diperbudak oleh pihak lain.
Agama Disebut Digiring sebagai Sumber Kekacauan
Dalam bagian lanjutan forum tersebut, salah satu narasumber kembali menyoroti arah pembelajaran teosofi yang menurutnya menggiring mahasiswa kepada kesimpulan bahwa agama merupakan sumber konflik dan kekacauan manusia.
Ia menjelaskan bahwa jika manusia tidak lagi memiliki keyakinan mutlak terhadap agama, maka manusia akan kehilangan pedoman hidup. Dalam konsep yang mereka kritik, manusia dianggap sebagai penentu nilai dan kebenaran itu sendiri.
Menurutnya, pembahasan sejarah konflik dalam berbagai agama, baik Islam, Kristen, maupun agama lain dapat diarahkan untuk membentuk opini bahwa kekerasan lahir dari agama itu sendiri.
Ia mencontohkan bagaimana konflik internal dalam sejarah Islam, seperti kemunculan Khawarij, Syiah, dan berbagai firqah lainnya, dipaparkan tanpa menjelaskan latar belakang politik yang melatarbelakanginya. Akibatnya, mahasiswa bisa diarahkan pada kesimpulan bahwa agama gagal menciptakan kedamaian.
Teosofi Disebut Sebagai Upaya Menghilangkan Keyakinan Absolut
Pembicara tersebut kemudian menegaskan bahwa menurut pandangannya, tujuan akhir dari pola pikir seperti ini adalah mencabut keyakinan absolut umat beragama terhadap ajaran agamanya sendiri.
Ia menyebut bahwa nantinya semua agama akan dianggap relatif kebenarannya, sehingga manusia diarahkan untuk melihat semua keyakinan sebagai sama. Dalam forum itu, gagasan tersebut dikaitkan dengan pluralisme, relativisme kebenaran, dan konsep bahwa “manusia adalah pusat nilai.”
Menurutnya, ketika manusia tidak lagi memiliki keyakinan yang kokoh terhadap agama, maka manusia akan lebih mudah dikendalikan oleh kekuatan lain.
Pembahasan Kabala, Gnosis, dan Tasawuf
Dalam sesi berikutnya, narasumber menyinggung keterkaitan antara Kabala, Gnosis, dan tasawuf. Ia mengaku pernah bertanya kepada dosen ilmu kalam mengenai hubungan konsep-konsep tersebut, namun menurutnya tidak mendapatkan jawaban yang memuaskan.
Pembahasan kemudian berkembang ke topik Freemason di Indonesia yang disebut sudah ada sejak abad ke-18 dan baru dibubarkan pada tahun 1962. Salah satu narasumber juga menyebut adanya buku-buku tertentu yang menurutnya sulit ditemukan karena dianggap sengaja dibatasi penyebarannya.
Klarifikasi tentang Mata Kuliah Teosofi
Forum kemudian membacakan deskripsi resmi mata kuliah Teosofi yang disebut berasal dari salah satu UIN. Dalam deskripsi tersebut dijelaskan bahwa mata kuliah Teosofi dirancang untuk membahas sistem akidah, akhlak, teologi, dan tasawuf berdasarkan Al-Qur’an, hadis, serta logika akal sehat.
Selain itu, tujuan mata kuliah disebut untuk membentuk mahasiswa yang moderat dalam berakidah, memiliki akhlak baik, dan mampu berinteraksi dengan sesama manusia maupun alam sesuai nilai tasawuf Islam.
Namun para pembicara tetap menilai penggunaan istilah “teosofi” bermasalah karena dianggap membawa muatan pemikiran tertentu yang berbeda dari akidah Islam.
Kritik terhadap Istilah Hermeneutika
Salah satu narasumber kemudian membandingkan penggunaan istilah “teosofi” dengan penggunaan istilah “hermeneutika” dalam studi Islam. Ia menilai penggunaan istilah hermeneutika untuk menggantikan tafsir Al-Qur’an merupakan kesalahan fatal.
Menurut penjelasannya, hermeneutika berasal dari konsep Hermes dalam tradisi Yunani, yaitu perantara antara dewa dan manusia. Dari situ muncul gagasan bahwa setiap pesan yang diterima manusia pasti mengalami reduksi makna.
Ia menolak penerapan konsep tersebut terhadap Al-Qur’an karena dianggap menyamakan wahyu Islam dengan teks-teks agama lain yang mengalami proses penulisan dan perubahan manusiawi.
Spiritualitas Dianggap Digiring Menjadi Urusan Pribadi
Dalam analisis lanjutan, narasumber menilai bahwa arah pemikiran semacam ini akan menggiring agama menjadi sekadar urusan spiritual pribadi, bukan lagi pedoman hidup publik.
Menurutnya, pada akhirnya keyakinan absolut terhadap ajaran agama akan dilemahkan dan semua ajaran dianggap relatif. Ia juga menyebut adanya upaya menyamakan akhlak dan etika, padahal menurutnya keduanya berbeda secara mendasar.
Tanggapan Mualaf Mantan Katolik
Di akhir bagian ini, forum menghadirkan seorang mualaf keturunan Tionghoa asal Pontianak yang sebelumnya beragama Katolik dan pernah kuliah di jurusan Teknik Kimia ITB sebelum melanjutkan studi tafsir hadis di kampus Islam.
Ia mengaku heran mengapa mata kuliah Teosofi bisa masuk ke jurusan Teknik Elektro. Menurut pengalamannya ketika kuliah di ITB, mata kuliah agama hanya diajarkan pada semester awal sesuai agama masing-masing mahasiswa. Dan kuliah agama ini tidak masuk terlalu jauh ke pembahasan ideologis.
Menurutnya, jika pembahasan seperti teosofi diberikan kepada mahasiswa umum yang belum memiliki dasar pemahaman agama yang kuat, maka hal itu dapat menjadi sangat berbahaya. Ia menilai materi tersebut lebih cocok dipelajari secara terbatas di lingkungan Ushuluddin atau studi keislaman mendalam.
Kekhawatiran tentang “Brainwashing” Generasi Muda
Dalam bagian lanjutan diskusi ini, para narasumber semakin menegaskan kekhawatiran mereka terhadap keberadaan mata kuliah Teosofi di kampus Islam. Salah satu pembicara menyebut bahwa materi tersebut dianggap berpotensi menjadi bentuk “brainwashing” atau pencucian pola pikir mahasiswa.
Menurutnya, narasi yang dibangun akan menggiring mahasiswa pada kesimpulan bahwa semua agama pada akhirnya sama-sama mengalami konflik dan perpecahan. Ia menilai bahwa jika mahasiswa terus-menerus disuguhkan konflik internal agama tanpa pemahaman konteks yang benar, maka mereka dapat kehilangan keyakinan terhadap agama itu sendiri.
Pembicara itu juga menegaskan bahwa perpecahan dalam Islam sebenarnya lebih banyak dipicu faktor politik dan perebutan kekuasaan. Perpecahan yang terjadi bukan karena ajaran dasar Islam itu sendiri.
Dikhawatirkan Membuat Mahasiswa Tidak Lagi Membutuhkan Agama
Salah satu narasumber yang merupakan mualaf mantan Katolik kemudian menceritakan pengalaman pribadinya sebelum masuk Islam. Ia mengaku pernah berada pada fase berpikir bahwa agama tidak terlalu penting selama seseorang masih berbuat baik kepada sesama.
Namun setelah mempelajari Islam lebih dalam, ia menemukan konsep tujuan hidup yang menurutnya tidak ia temukan sebelumnya. Ia menyinggung ayat Al-Qur’an tentang tujuan penciptaan manusia untuk beribadah kepada Allah sebagai titik yang membuatnya mantap memeluk Islam.
Karena itu, ia khawatir mahasiswa teknik atau jurusan umum yang belum memiliki dasar akidah kuat akan mudah terpengaruh jika langsung diperkenalkan pada konsep seperti teosofi. Menurutnya, hal itu bisa menyeret mereka pada relativisme agama dan humanisme ekstrem.
Pembahasan tentang Tasawuf dan Akidah
Dalam sesi berikutnya, forum membahas penggunaan istilah “tasawuf” dalam RPS mata kuliah Teosofi. Salah satu peserta bertanya apakah wajar mahasiswa umum yang belum memiliki dasar agama kuat langsung diajarkan materi tasawuf secara mendalam.
Menanggapi hal itu, narasumber menjelaskan bahwa tasawuf sebenarnya tidak bermasalah selama tetap berada dalam koridor akidah Islam yang benar. Ia menyebut tasawuf sebagai bagian dari tazkiyatun nafs atau penyucian jiwa, seperti belajar tawakal, ikhlas, syukur, dan mendekatkan diri kepada Allah.
Namun ia mengingatkan bahwa tasawuf juga dapat disalahgunakan jika dipelajari tanpa fondasi akidah yang kuat. Menurut pengalamannya di Ushuluddin, mahasiswa harus belajar akidah hingga bertahun-tahun sebelum mendalami tasawuf.
Karena itu, mereka mempertanyakan alasan mahasiswa Teknik Elektro diperkenalkan pada pembahasan sensitif seperti teosofi dan tasawuf. Padahal, mereka tidak memiliki latar belakang studi keislaman yang mendalam.
Kekhawatiran terhadap Relativisme Kebenaran
Diskusi kemudian kembali kepada konsep relativisme kebenaran. Para pembicara menilai bahwa semua aliran dan keyakinan terus disamaratakan atas nama toleransi dan moderasi. Hal ini membuat mahasiswa akan bingung menentukan mana yang benar dan mana yang salah.
Mereka menyoroti salah satu poin dalam RPS yang berbicara tentang “menghormati keragaman di setiap aliran.” Menurut mereka, penghormatan terhadap perbedaan memang penting, tetapi tidak boleh sampai menghapus konsep kebenaran dalam agama.
Dalam forum tersebut disebutkan bahwa jika konsep “kebenaran relatif” terus ditanamkan. Maka pada akhirnya manusia akan menjadikan dirinya sendiri sebagai sumber kebenaran.
Teosofi Disebut Memakai “Cover Tasawuf”
Salah satu narasumber kemudian menyimpulkan bahwa menurut pandangannya, mata kuliah Teosofi memakai “cover” atau kemasan berupa tasawuf dan keindahan Islam.
Namun setelah dibuka lebih dalam, mereka menilai isi pembahasannya justru mengarah pada pembongkaran konflik-konflik internal agama. Bahkan, mereka tidak memberikan penjelasan historis dan politik secara utuh.
Dari situ, mereka menyebut adanya dugaan bahwa pembahasan tersebut merupakan bagian dari propaganda terstruktur untuk melemahkan keyakinan umat terhadap agamanya sendiri.
Dikaitkan dengan Moderasi Beragama dan Pluralisme
Forum kembali mengaitkan pembahasan ini dengan konsep moderasi beragama dan pluralisme. Menurut para pembicara, konsep tersebut berpotensi disalahgunakan untuk menyamakan semua keyakinan dan mengaburkan batas antara kebenaran agama dan pendapat manusia.
Mereka menyebut bahwa jika manusia dijadikan pusat penentu kebenaran, maka yang berkuasa akan menentukan apa yang dianggap benar. Dalam pandangan mereka, kondisi seperti itu sangat berbahaya karena tidak lagi berpijak pada wahyu ilahi.
Dikaitkan dengan Strategi Melemahkan Perlawanan Islam
Di bagian akhir transkrip ini, diskusi berkembang ke sejarah kolonialisme dan orientalisme. Salah satu narasumber menyinggung nama Snouck Hurgronje yang disebut mempelajari Islam dan masyarakat Aceh untuk membantu Belanda melemahkan perlawanan umat Islam.
Mereka berpendapat bahwa kekuatan suatu bangsa dapat dihancurkan bukan hanya dengan senjata, tetapi juga dengan merusak keyakinan dan pola pikir masyarakatnya. Karena itu, mereka melihat penyebaran konsep-konsep tertentu di dunia pendidikan sebagai sesuatu yang perlu diawasi secara serius.
Klarifikasi dari Mantan Mahasiswa Teologi tentang Teosofi
Pada bagian penutup diskusi, forum menghadirkan seorang mantan Kristen sekaligus lulusan sekolah teologi, yaitu Mulyadi Samuel, penulis buku Dokumen Pemalsuan Alkitab. Kehadirannya dianggap penting karena ia memiliki latar belakang pendidikan teologi Kristen dan pengalaman panjang dalam kajian perbandingan agama.
Ia mengaku cukup terkejut dengan pembahasan teosofi dalam forum tersebut. Menurutnya, “teosofi” yang asli tidak persis sama dengan yang dibahas dalam mata kuliah di UIN itu.
Ia menjelaskan, teosofi secara historis identik dengan pluralisme agama, sinkretisme, dan filsafat perennial. Paham itu menganggap semua agama pada dasarnya menuju kebenaran yang sama.
Ia menjelaskan bahwa baik Islam maupun Kristen sebenarnya sama-sama menolak konsep teosofi semacam itu. Dalam Islam, MUI disebut telah mengeluarkan fatwa tentang haramnya pluralisme agama pada tahun 2005. Sementara di kalangan Kristen, teosofi juga dianggap sebagai bagian dari gerakan New Age, okultisme, dan sinkretisme yang dinilai menyimpang dari ajaran gereja.
Disebut Lebih Dekat dengan “Moderasi Beragama”
Mulyadi Samuel kemudian berpendapat bahwa mata kuliah yang dibahas dalam forum kemungkinan sebenarnya lebih dekat dengan konsep “moderasi beragama” daripada teosofi dalam pengertian klasiknya. Ia menduga penggunaan istilah “teosofi” mungkin hanya kesalahan pemilihan istilah atau dianggap terdengar lebih akademis dan filosofis.
Menurutnya, istilah tersebut perlu diluruskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman yang lebih besar di tengah masyarakat. Ia juga menyebut bahwa praktik serupa sebenarnya sudah muncul di berbagai kampus UIN dengan nama mata kuliah yang berbeda-beda.
Dalam forum itu, para pembicara sepakat persoalan ini perlu ditindaklanjuti secara akademik dan kelembagaan. Mereka juga meminta klarifikasi langsung kepada pihak kampus dan Kementerian Agama.
Kekhawatiran terhadap Pelemahan Iman Generasi Muda
Meski berbeda pandangan soal teosofi, para pembicara punya kekhawatiran yang sama. Mereka menilai ada upaya sistematis untuk melemahkan keyakinan generasi muda terhadap agama.
Menurut mereka, upaya itu dilakukan lewat pendekatan yang tampak indah dan moderat. Namun, cara tersebut perlahan menggiring mahasiswa pada relativisme agama dan anggapan bahwa semua keyakinan sama.
Salah satu pembicara bahkan mengaitkannya dengan strategi kolonialisme masa lalu. Bukan lewat senjata, tetapi dengan melemahkan keyakinan dan identitas masyarakat.
Mereka meminta klarifikasi resmi dari kampus, penyusun kurikulum, dan Kementerian Agama terkait mata kuliah Teosofi. Mereka juga mengajak generasi muda Muslim agar lebih kritis terhadap pemikiran akademik tanpa meninggalkan akidah.
Kesimpulannya:
Perdebatan mengenai teosofi di lingkungan kampus Islam menunjukkan betapa sensitifnya hubungan antara dunia akademik, pemikiran filsafat, dan keyakinan agama di Indonesia. Di satu sisi, kampus merupakan ruang diskusi ilmiah yang terbuka terhadap berbagai pemikiran. Namun di sisi lain, muncul kekhawatiran bahwa sebagian konsep dapat memengaruhi cara pandang mahasiswa terhadap agama dan identitas mereka sendiri.
Terlepas dari pro dan kontra yang muncul, diskusi ini menunjukkan pentingnya keterbukaan akademik dan kejelasan istilah. Selain itu, kemampuan berpikir kritis juga diperlukan dalam membahas isu sensitif seperti pluralisme, tasawuf, moderasi beragama, hingga teosofi. Dengan demikian, masyarakat tidak mudah terjebak pada prasangka, tetapi juga tidak kehilangan kewaspadaan terhadap perkembangan pemikiran yang memengaruhi generasi muda.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 1661
