Integrasi al-Qur’an dan Sains dalam Proses Hujan
St. Magfirah Nasir
أَوَلَمْ يَرَ الَّذِينَ كَفَرُوا أَنَّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضَ كَانَتَا رَتْقًا فَفَتَقْنَاهُمَا وَجَعَلْنَا مِنَ الْمَاءِ كُلَّ شَيْءٍ حَيٍّ أَفَلا يُؤْمِنُونَ
Dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi, keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman?.
(Qs. Al-Anbiya’: 30)
Ayat di atas mengingatkan akan sebuah anugerah besar yang dapat disaksikan oleh mata kepala setiap manusia. Anugerah ini adalah air yang menjadi sumber bagi seluruh kehidupan di bumi. Lafal رَتْقًا (ratqan) dalam ayat ini diartikan padat dan keras. Sedangkan lafal فَفَتَقْنَاهُمَا (fafataqnahuma) dalam ayat ini bermakna “kami lembutkan dan belah langit dan bumi. Hal ini sebagaimana penafsiran menurut Ibnu Abbas bahwa ayat ini bercerita, “Dahulu langit dibuat oleh Allah swt dengan bentuk yang padat dan keras sehingga tak ada sedikitpun air hujan yang turun darinya. Begitu juga bumi yang dijadikan tandus dan tak ada sedikitpun benih yang tumbuh. Tak ada tanda kehidupan hingga Allah lembutkan langit sehingga keluar darinya air hujan dan Allah swt belah muka bumi sehingga keluar darinya tumbuh-tumbuhan.”
Berdasarkan hal tersebut, tidak ada satu teori pun yang paling akurat dan disepakati oleh seluruh ahli. Namun demikian, berikut ini sebagai contoh: Teori pertama, berkaitan dengan terciptanya tata surya, menyebutkan bahwa kabut di sekitar matahari akan menyebar dan melebar pada ruangan yang dingin. Butir-butir kecil gas yang membentuk kabut akan bertambah tebal pada atom-atom debu yang bergerak amat cepat. Atom-atom itu kemudian mengumpul, akibat terjadinya benturan dan akumulasi, dengan membawa kandungan sejumlah gas berat. Seiring dengan berjalannya waktu, akumulasi itu semakin bertambah besar hingga membentuk planet-planet, bulan dan bumi dengan jarak yang sesuai. Penumpukan itu sendiri, seperti telah diketahui, mengakibatkan bertambah kuatnya tekanan yang pada gilirannya membuat temperatur bertambah tinggi. Pada saat kulit bumi mengkristal karena dingin dan melalui proses sejumlah letusan larva yang terjadi setelah itu, bumi memperoleh sejumlah besar uap air dan karbon dioksida akibat surplus larva yang mengalir. Salah satu faktor yang membantu terbentuknya oksigen yang segar di udara setalah itu adalah aktivitas dan interaksi sinar matahari melalui asimilasi sinar bersama tumbuhan generasi awal dan rumput-rumputan.
Teori kedua, berkenaan dengan terciptanya alam raya secara umum yang dapat dipahami dari firman Allah swt: “anna al-samâwâti wa al-ardla kânatâ ratqan” yang berarti bahwa bumi dan langit pada dasarnya tergabung secara koheren sehingga tampak seolah satu massa. Hal ini sesuai dengan penemuan mutakhir mengenai teori terjadinya alam raya. Menurut penemuan itu, sebelum terbentuk seperti sekarang ini, bumi merupakan kumpulan sejumlah besar kekuatan atom-atom yang saling berkaitan dan di bawah tekanan sangat kuat yang hampir tidak dapat dibayangkan oleh akal. Selain itu, penemuan mutakhir itu juga menyebutkan bahwa semua benda langit sekarang beserta kandungan-kandungannya, termasuk di dalamnya tata surya dan bumi, sebelumnya terakumulasi sangat kuat dalam bentuk bola yang jari-jarinya tidak lebih dari 3.000.000 mil.
Lanjutan firman Allah swtyang berbunyi “fa fataqnâhumâ” merupakan isyarat tentang apa yang terjadi pada cairan atom pertamanya berupa ledakan dahsyat yang mengakibatkan tersebarnya benda-benda alam raya ke seluruh penjuru, yang berakhir dengan terciptanya berbagai benda langit yang terpisah, termasuk tata surya dan bumi. Sedangkan ayat yang berbunyi “wa ja’alnâ min al-mâ’i kulla syay’in hayyin” telah dibuktikan melalui penemuan lebih dari satu cabang ilmu pengetahuan. Sitologi (ilmu tentang susunan dan fungsi sel). Misalnya, menyatakan bahwa air adalah komponen terpenting dalam pembentukan sel yang merupakan satuan bangunan pada setiap makhluk hidup, baik hewan maupun tumbuhan. Kemudian, biokimia menyatakan bahwa air adalah unsur yang sangat penting pada setiap interaksi dan perubahan yang terjadi di dalam tubuh makhluk hidup. Air dapat berfungsi sebagai media, faktor pembantu, bagian dari proses interaksi, atau bahkan hasil dari sebuah proses interaksi itu sendiri. Sedangkan Fisiologi menyatakan bahwa air sangat dibutuhkan agar masing-masing organ dapat berfungsi dengan baik. Hilangnya fungsi itu akan berarti kematian.
Di sisi lain, adanya perbandingan pandangan al-Qurthubi dalam kitab tafsir al-Jami´ li Ahkam al-Qur´an, penggalan ayat “dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air,” memiliki tiga makna penafsiran sekaligus. Pertama, Allah swt menjadikan seluruh makhluknya dari air. Kedua, Allah swt menjaga kelangsungan hidup seluruh makhluknya dengan air. Ketiga, Allah swt menjadikan air mani sebagai sumber kelangsungan keturunan segenap makhluk hidup. Hujan diartikan sebagai sumber kelangsungan keturunan, hal tersebut dikarenakan hasil penelitian bahwa molekul air hujan dianggap sebagai sumber kelangsungan keturunan segenap makhluk hidup.
Adapun manfat turunnya air hujan secara sains yaitu sumber air bersih, fertilisasi alamiah, tidak hanya itu sebagai penyeimbang ekosistem alam. Sangat relevan dengan mukjizat Allah swt yaitu bentuk rahmat dari sang pencipta, sarana penyucian diri, menghidupkan tanah yang mati. Serta, waktu mustajab untuk berdoa
Dari uraian proses air hujan dan manfaatnya dapat disimpulkan ternyata turunnya air hujan dalam al-Quran sangat penting untuk dipahami dalam kehidupan. Dikarenakan, sekarang ini sebagian orang memaknai hujan sebagai keberkahan, namun tidak sedikit ditemukan kelompok yang mengeluh ketika hujan mulai turun.
Semoga kita termasuk dalam manusia yang pandai mensyukuri nikmat Allah swt.