Al-Qur’an sebagai Tolok Ukur: Dialog Terbuka Menelaah Kitab Suci

Alhamdulillah, kembali kita jumpa dalam obrolan santai namun sarat makna bersama Ustadz Ipung Atria, Ustadz Ahmad Kainama, dan Abang Stanley, seorang pria asal Ambon. Ini merupakan pertemuan ketiga, yang kali ini berlangsung di wilayah Jakarta Timur. Dan, pembahasan kali ini tentu tidak jauh dari Alkitab maupun Al-Qur’an.

Pertemuan ini bukan sekadar diskusi biasa, melainkan sebuah dialog terbuka untuk saling bertukar informasi dan sudut pandang, khususnya terkait bagaimana cara memandang sebuah kitab yang diklaim sebagai kitab suci.

Pendekatan Sederhana dalam Menilai Kitab Suci

Ustadz Ipung membuka pembahasan dengan pendekatan yang sangat sederhana dan personal:
bagaimana cara seseorang menilai bahwa sebuah kitab benar-benar merupakan firman Tuhan, bukan sekadar tulisan manusia?

Pendekatan ini tidak dimulai dari perdebatan teologis yang rumit, melainkan dari hal paling mendasar, bagian pembuka sebuah kitab.

Pengalaman Abang Stanley dengan Al-Qur’an

Abang Stanley mengakui bahwa ia pernah membaca Al-Qur’an, meski masih dalam bentuk terjemahan latin. Ia mendapatkan Al-Qur’an tersebut dari seorang temannya dan sempat membaca beberapa bagian.

Ustadz Ipung kemudian mengajak melihat lembar pertama Al-Qur’an, dimulai dari cara membukanya yang khas dari kanan ke kiri, serta memperkenalkan Surah Al-Fatihah sebagai surah pertama.

Menariknya, meskipun belum bisa membaca huruf Arab, Abang Stanley sudah mengenal bacaan “Bismillahirrahmanirrahim”, yang berarti Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.

Nama Tuhan sebagai Pembuka Al-Qur’an

Ustadz Ipung menegaskan bahwa dalam Al-Qur’an, nama Allah selalu diagungkan sejak awal. Hampir seluruh surah diawali dengan lafaz Bismillahirrahmanirrahim.

Beberapa contoh ditunjukkan secara acak, seperti:

  • Surah Al-Fatihah
  • Surah Ali Imran
  • Surah An-Nisa

Semuanya konsisten menyebut dan mengagungkan nama Allah sejak kalimat pertama.

Perbandingan dengan Struktur Alkitab

Diskusi kemudian berlanjut pada Alkitab, yang menurut Abang Stanley terdiri dari Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru.

Perjanjian Lama

Ketika membuka Kitab Kejadian, kalimat awal berbunyi:

“Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi.”

Nama Allah disebut sebagai pencipta sejak awal, yang dianggap masih selaras dengan konsep pengagungan Tuhan.

Perjanjian Baru

Namun ketika membuka Kitab Lukas, yang pertama kali disebut justru adalah:

“Teofilus yang mulia…”

Hal ini menunjukkan bahwa kitab tersebut berbentuk surat manusia kepada manusia, bukan langsung berupa firman Tuhan. Bahkan dalam kitab Kisah Para Rasul, yang juga ditulis oleh Lukas, nama Teofilus kembali disebut sebagai pihak yang dituju.

Dari sini, Ustadz Ipung menekankan bahwa struktur tersebut menunjukkan adanya campur tangan manusia sebagai penulis, berbeda dengan pola Al-Qur’an.

Surat-Surat Paulus dan Unsur Kemanusiaan

Contoh lain diambil dari Kitab Efesus, yang diawali dengan nama Paulus sebagai pengarang. Menurut Ustadz Ipung, ini semakin menguatkan bahwa banyak bagian Perjanjian Baru merupakan tulisan manusia, bukan firman Tuhan yang langsung mengagungkan nama-Nya di awal.

Fenomena “Al-Qur’an Tandingan”

Diskusi semakin menarik ketika dibahas adanya upaya membuat Al-Qur’an tandingan oleh kalangan tertentu. Salah satu yang disebut adalah kitab berjudul Al-Furqan Al-Haq (The True Furqan), yang dikarang oleh seorang pendeta bernama Anis Shorrosh.

Kitab ini disusun menyerupai format Al-Qur’an:

  • Menggunakan bahasa Arab
  • Memiliki pembagian surah
  • Diawali dengan lafaz mirip basmalah

Namun isi dan maknanya dipelintir untuk memasukkan konsep Trinitas. Contohnya kalimat pembuka yang menyebut Bapa, Firman, dan Roh Kudus dalam satu rangkaian, namun tetap mengklaim sebagai “satu-satunya Tuhan yang benar”, yang justru menimbulkan kontradiksi logis.

Menurut Ustadz Ipung, upaya ini menunjukkan bahwa format Al-Qur’an diakui memiliki kekuatan, hingga harus ditiru, meskipun isinya diselewengkan.

Fenomena Jimat Bertuliskan Arab dan Kesalahpahaman Umat

Ustadz Ahmad Kainama melanjutkan ceritanya dengan sebuah pengalaman nyata yang cukup menggemparkan satu rumah. Saat ia mencoba menurunkan sebuah benda yang selama bertahun-tahun digantung di atas pintu, seluruh penghuni rumah panik dan berteriak ketakutan.

Mereka khawatir akan terjadi musibah—bahkan sampai mengatakan takut Ustadz Kainama akan tertabrak mobil. Ketakutan itu, menurut beliau, bahkan lebih besar daripada doa-doa yang biasanya diarahkan kepadanya oleh sebagian kalangan Kristen yang berharap ia mengalami nasib seperti Yahya Waloni.

Namun Ustadz Kainama justru menyatakan bahwa wafat dalam keadaan berdakwah, di atas mimbar, pada hari Jumat atau hari raya, adalah sesuatu yang mulia dan tidak perlu ditakuti.

Isi Jimat yang Dibongkar: Bukan Doa, Hanya Pelajaran Bahasa Arab

Dengan tenang, Ustadz Kainama membuka jimat tersebut. Lapisan demi lapisan kain dibuka, mulai dari kain luar, kulit kambing berwarna hitam, hingga kain putih pembungkus kertas di bagian dalam.

Saat kertas itu dibentangkan, ternyata isinya bukan ayat doa, bukan pula wirid atau dzikir. Yang tertulis hanyalah pelajaran dasar bahasa Arab, seperti:

  • kata ganti orang (hua, hiya, hum, hunna),
  • penunjuk (hadza, hadzihi, tilka),
  • serta contoh kosakata sederhana seperti hadzihi sayyarah (ini mobil).

Tulisan-tulisan itu disusun kecil-kecil, terpisah dengan spasi, mirip buku latihan bahasa Arab tingkat dasar.

Ironisnya, benda tersebut telah digantung selama empat tahun, dipercaya sebagai penolak bala dan pembawa rezeki. Padahal isinya tidak lebih dari materi pembelajaran bahasa, sebagaimana “he is, she is” dalam bahasa Inggris.

Kesedihan Pemilik Rumah dan Klarifikasi Hakikat Doa

Ketika Ustadz Kainama menjelaskan bahwa benda tersebut bukan doa dan tidak memiliki kekuatan apa pun, pemilik rumah menangis. Mereka takut dimarahi ustaz yang memberikan jimat itu.

Ustadz Kainama menenangkan mereka dan berkata bahwa jika memang ingin mengajarkan bahasa Arab, seharusnya menggunakan buku dengan tulisan yang lebih besar dan jelas—bukan menyamarkannya sebagai jimat.

Ia menegaskan bahwa Allah Maha Pengasih dan Maha Penyayang, dan ajaran agama tidak dibangun di atas ketakutan dan benda-benda mistis seperti itu.

Kitab Suci sebagai Surat Cinta Sang Pencipta

Dari pengalaman tersebut, Ustadz Kainama menarik satu benang merah penting:
kitab suci seharusnya terasa sebagai surat cinta dari Sang Pencipta kepada ciptaan-Nya.

Kitab suci adalah komunikasi yang jujur, murni, penuh kasih, dan mudah dikenali oleh hati manusia yang sehat. Jika sejak awal isinya tidak mencerminkan cinta itu, maka keganjilannya akan terasa dengan sendirinya.

Inilah sebabnya, menurut beliau, mengapa upaya membuat “Al-Qur’an tandingan” seperti karya Anis Shorrosh terasa janggal. Bahkan secara bahasa Arab pun banyak kesalahan penyambungan huruf yang mudah dikenali oleh orang yang mempelajarinya.

Pembuka Kitab dan Masalah Struktur Teks

Ustadz Kainama kemudian kembali menyoroti pembukaan kitab-kitab dalam Perjanjian Baru. Salah satu contoh yang diangkat adalah Matius pasal 1, yang dibuka dengan judul dan ayat:

“Inilah daftar nenek moyang Yesus Kristus.”

Beliau mempertanyakan, bagaimana mungkin sebuah ayat suci dibuka dengan daftar silsilah manusia, bukan salam, bukan pujian kepada Tuhan, dan bukan ungkapan kasih ilahi.

Ia memberikan analogi sederhana:
Jika seseorang menulis surat cinta kepada orang yang dicintainya, tentu ia akan memulai dengan sapaan penuh kasih, bukan dengan daftar keluarga.

Sebaliknya, Al-Qur’an selalu membuka pembahasan dengan menyebut nama Sang Pencipta, dan tradisi ini konsisten sejak lebih dari 1.400 tahun lalu tanpa perubahan.

Perbandingan dengan Hadis dan Standar Keotentikan

Menanggapi pernyataan bahwa struktur Injil “mirip hadis”, Ustadz Kainama menolak anggapan tersebut. Bahkan menurutnya, teks-teks tersebut tidak setara dengan hadis, apalagi dengan Al-Qur’an.

Hadis dalam Islam:

  • dikumpulkan, bukan dibuat,
  • diteliti sanad dan perawinya,
  • diklasifikasikan secara ketat (shahih, hasan, dhaif, munkar, hingga mutawatir).

Sebagai contoh, hadis tentang usia Aisyah saat menikah pun masih menjadi bahan kajian dan perdebatan ilmiah karena kualitas periwayatnya.

Sementara itu, kisah-kisah kontroversial yang sering dituduhkan kepada Islam—seperti ayat dimakan kambing atau menyusui orang dewasa—memiliki hadis, namun klasifikasinya sangat lemah dan tidak dijadikan dasar ajaran.

Masalah Silsilah Yesus dalam Injil

Pembahasan kemudian kembali pada persoalan silsilah dalam Injil. Dalam Matius, silsilah Yesus ditarik melalui Yusuf hingga Daud, bahkan sampai Adam. Namun dalam Lukas pasal 3, nama ayah Yusuf berbeda.

Jika Injil dipahami sebagai firman Tuhan yang mutlak benar, maka muncul pertanyaan besar:

  • Apakah Yesus memiliki ayah biologis?
  • Mengapa silsilahnya berbeda-beda?
  • Mengapa kitab suci justru menimbulkan kebingungan mendasar?

Menurut Ustadz Kainama, jika kitab suci membuat manusia bingung dalam persoalan akidah paling dasar, maka klaim sebagai firman Tuhan patut dipertanyakan.

Tradisi Silsilah Keluarga dan Konteks Budaya Ambon

Ustadz Ahmad Kainama kemudian memberikan contoh silsilah keluarganya sendiri sebagai orang Ambon. Ia menjelaskan bahwa dalam tradisi Ambon, garis keturunan biasanya ditarik dari laki-laki ke laki-laki, mulai dari ayah, kakek, hingga para leluhur sebelumnya.

Ia menyebut nama-nama seperti Yakobus Domingus Kainama, Paulus Kainama, hingga Dertius Kainama, dan berhenti pada generasi tertentu karena keterbatasan literasi pada masa penjajahan Portugis dan Belanda. Saat itu, belum semua orang mengenal tulisan, dan pencatatan silsilah masih sangat terbatas.

Di Ambon sendiri, lanjutnya, satu kampung bisa terdiri dari 12 fam (marga), mirip dengan konsep 12 suku Bani Israel atau 12 murid Yesus. Pola ini masih dapat ditemukan di berbagai wilayah seperti Soya, Hila, Haruku, hingga Pulau Geser.

Kontradiksi Silsilah Yesus dalam Injil

Dari contoh silsilah tersebut, Ustadz Kainama kembali menegaskan persoalan mendasar dalam Injil. Jika Yesus memiliki silsilah, maka secara logis ia memiliki bapak biologis. Hal ini, menurut beliau, bertentangan dengan doktrin bahwa Yesus dikandung oleh Roh Kudus.

Jika Yesus benar-benar berasal dari Roh Kudus, maka ia seharusnya tidak masuk dalam silsilah manusia. Namun Injil justru menyajikan silsilah Yusuf, yang disebut sebagai suami Maria.

Masalah semakin kompleks ketika dibandingkan antara:

  • Matius pasal 1, yang menyebut Yusuf sebagai anak Yakub
  • Lukas pasal 3, yang menyebut Yusuf sebagai anak Eli

Perbedaan nama ayah Yusuf ini dinilai sebagai kontradiksi serius, terlebih karena muncul di halaman-halaman awal Perjanjian Baru.

Data Akademik tentang Banyaknya Pertentangan Teks

Ustadz Kainama menyebutkan bahwa persoalan ini bukan sekadar asumsi pribadi. Ia mengutip sebuah majalah Kristen tahun 1954 yang menyatakan adanya lebih dari 50.000 pertentangan dan kesalahan arti dalam Perjanjian Baru.

Lebih lanjut, ia juga menyebut hasil riset terbaru dari Prof. Dr. Jonathan Purnomo, seorang akademisi Kristen dan tokoh penting di Badan Pendidikan Tinggi Teologia Kristen Indonesia (BPTTKI). Dalam waktu riset sekitar dua bulan, ditemukan ratusan kesalahan tekstual, dan menurut beliau jumlah itu belum final.

Menariknya, meskipun temuan-temuan tersebut diakui secara akademik, para penelitinya tetap berada dalam agama Kristen. Hal ini, menurut Ustadz Kainama, menunjukkan bahwa persoalan ini sebenarnya sudah lama diketahui di kalangan internal, namun jarang dibahas secara terbuka kepada jemaat awam.

Masalah “Original Text” dan Rantai Terjemahan Alkitab

Pembahasan kemudian masuk ke pertanyaan penting:
di mana teks Alkitab yang benar-benar orisinal?

Ustadz Kainama menjelaskan bahwa Alkitab versi Indonesia berasal dari bahasa Belanda, yang merupakan terjemahan dari King James Version (1611). Namun King James Version sendiri ternyata merupakan terjemahan dari Bible Latin (Douay–Rheims), yang juga masih berupa terjemahan.

Bahasa Latin tersebut kemudian ditelusuri kembali ke manuskrip Yunani kuno, yang disebut sebagai teks tertua yang tersedia.

Codex Sinaiticus dan Status Manuskrip Tertua

Salah satu manuskrip Yunani tertua yang disebut adalah Codex Sinaiticus, yang ditulis sekitar abad ke-4 Masehi (sekitar tahun 400 M). Manuskrip ini sering disebut sebagai salinan Perjanjian Baru tertua yang paling lengkap.

Namun Ustadz Kainama menekankan satu hal penting:
Codex Sinaiticus tetaplah salinan (copy), bukan naskah asli wahyu.

Ketika daftar isi Codex Sinaiticus ditelusuri, ditemukan sejumlah kejanggalan:

  • Ada kitab yang hilang atau tidak berurutan
  • Ada fragmen yang tidak dapat diidentifikasi
  • Terdapat kitab-kitab yang tidak lagi diakui dalam kanon Alkitab modern, seperti Shepherd of Hermas dan Barnabas

Hal ini menunjukkan bahwa kanonisasi kitab-kitab Injil mengalami proses panjang dan seleksi manusia.

Perbandingan dengan Konsistensi Al-Qur’an

Sebagai perbandingan, Ustadz Kainama menggambarkan bagaimana Al-Qur’an dikenal secara konsisten oleh umatnya, bahkan oleh anak-anak.

Istilah sederhana seperti “tiga qul” langsung dipahami oleh anak Muslim sebagai Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas. Urutan bacaan, pembukaan dengan basmalah, serta struktur ayatnya dikenal luas dan seragam.

Menurut beliau, hal ini menunjukkan adanya kekuatan dan konsistensi internal yang tidak bergantung pada terjemahan atau manuskrip salinan yang saling bertentangan.

Kekuatan “Vibes” Kitab Suci

Ustadz Kainama lalu menyampaikan pengalaman personal tentang seseorang yang baru masuk Islam dan mengatakan bahwa ia “tidak mendapatkan vibes” dari kitab sebelumnya.

Ia menjelaskan bahwa kitab suci sejati memiliki getaran batin (vibes) yang dapat dirasakan, bahkan oleh orang yang:

  • tidak memahami bahasanya,
  • tidak mengetahui artinya,
  • bahkan belum bisa membacanya.

Menurutnya, ayat-ayat Al-Qur’an memiliki daya spiritual yang langsung menyentuh jiwa karena berasal dari Pencipta kepada ciptaan, bukan sekadar tulisan manusia.

Kitab Suci, Gelombang Makna, dan Metanoia

Ia menutup bagian ini dengan menjelaskan konsep metanoia, berbalik arah dan melihat kembali secara jujur. Dialog ini, menurutnya, bukan untuk memotong atau mendebat lawan bicara, melainkan menyampaikan satu pesan utama:

Jika sebuah kitab diklaim sebagai kitab suci, maka harus berani diuji:

  • dari struktur,
  • dari konsistensi,
  • dari sejarah teks,
  • dan dari dampak spiritualnya.

Pada titik inilah pembahasan kembali mengarah pada pengalaman langsung saat ayat-ayat suci dibacakan, yang menurut Ustadz Kainama selalu menghadirkan “gelombang” tertentu pada orang yang mendengarnya, sebuah pembahasan yang masih akan berlanjut.

Gelombang Spiritual dalam Bacaan Suci dan Fenomena Azan

Ustadz Ahmad Kainama melanjutkan penjelasannya tentang “gelombang” atau getaran batin yang muncul setiap kali ayat-ayat suci dibacakan. Ia mencontohkan azan, yang seluruh lafaznya sejatinya bersumber dari Al-Qur’an.

Kalimat seperti Allahu Akbar, Laa ilaaha illallah, hingga syahadat Muhammad sebagai Rasul Allah, semuanya terdapat di dalam Al-Qur’an. Ketika rangkaian kalimat ini disatukan menjadi azan, ia membentuk satu kesatuan spiritual yang sangat kuat.

Menariknya, banyak orang yang tidak memahami bahasa Arab, bahkan baru pertama kali mendengarnya, justru menangis saat mendengar azan. Ustadz Kainama menceritakan kisah seorang perempuan asing yang pertama kali tiba di Doha. Ia tidak tahu apa itu azan, tidak tahu maknanya, tetapi tiba-tiba menangis tanpa bisa menjelaskan alasannya.

Tangisan itu muncul begitu saja, dari dalam dirinya, tanpa pemahaman rasional. Ketika ia mengikuti orang-orang yang sedang shalat, ia kembali menangis dan merasa seperti “terlahir kembali”. Menurut Ustadz Kainama, inilah bukti adanya sentuhan batin yang tidak bisa dijelaskan hanya dengan logika bahasa.

Islam dan Sikap terhadap Umat Kristen

Dalam konteks dialog ini, Ustadz Kainama menegaskan bahwa umat Islam justru memiliki perhatian besar terhadap umat Kristen. Salah satunya dengan cara mengajak membaca dan mengkaji kitab, bukan sekadar mengikuti tradisi tanpa pemahaman.

Ia menyampaikan kritik bahwa banyak orang Kristen jarang membaca Alkitab secara mendalam. Salah satu alasannya, menurut beliau, karena struktur Alkitab memang sulit dibaca, sulit dihafal, dan membingungkan, sehingga secara tidak sadar membuat pembacanya malas untuk mendalami isinya.

Contoh Yohanes 4:19 dan Perbedaan Terjemahan

Sebagai contoh konkret, Ustadz Kainama mengajak melihat Yohanes 4:19 dalam berbagai versi terjemahan paralel. Dalam Terjemahan Baru (TB), ayat tersebut berbunyi kurang lebih:

“Tuhan, nyata sekarang padaku bahwa Engkau seorang nabi.”

Menurut beliau, penggunaan kata “Tuhan” di sini menimbulkan masalah teologis, karena seorang nabi adalah manusia pilihan, bukan Tuhan. Untuk mengatasi kebingungan ini, versi lain memberikan catatan kaki atau terjemahan alternatif:

  • “Tuan, aku tahu Engkau seorang nabi”
  • “Sir, I know that you are a prophet”
  • “Saya menduga bahwa Engkau seorang nabi”
  • “Hamba rasa Engkau seorang nabi”

Perbedaan redaksi ini, menurut Ustadz Kainama, menunjukkan adanya upaya koreksi makna, namun justru memperlihatkan ketidakkonsistenan terjemahan dalam satu ayat yang sama.

Ia menekankan bahwa kitab suci tidak seharusnya menimbulkan kebingungan makna, apalagi dalam persoalan mendasar tentang siapa yang disebut Tuhan dan siapa yang disebut nabi.

Yohanes 20:17 dan Relasi Yesus dengan Tuhan

Contoh berikutnya adalah Yohanes 20:17, yang juga dibaca dalam beberapa versi. Dalam ayat ini, Yesus disebut berkata bahwa ia akan pergi kepada Bapaku dan Bapamu, kepada Allahku dan Allahmu.

Menurut Ustadz Kainama, ayat ini menunjukkan bahwa Yesus sendiri memiliki Tuhan yang ia sembah. Hal ini kembali menimbulkan pertanyaan besar jika Yesus dipahami sebagai Tuhan itu sendiri.

Yohanes 13:13 dan Istilah “Tuhan” vs “Junjungan”

Pembahasan berlanjut ke Yohanes 13:13, di mana Yesus disebut sebagai “Guru dan Tuhan”. Namun ketika ditelusuri ke versi-versi terjemahan lama dan teks Yunani, muncul variasi istilah seperti:

  • Guru dan Tuhan
  • Guru dan Tuan
  • Guru dan Junjungan

Perbedaan istilah ini, menurut Ustadz Kainama, sangat menentukan makna. Ia menekankan bahwa istilah “tuan” atau “junjungan” tidak otomatis berarti Tuhan dalam pengertian ilahi.

Kitab Suci sebagai Surat Cinta Ruhani

Ustadz Kainama kemudian kembali pada konsep utama:
kitab suci adalah surat cinta ruhani.

Kitab suci berbicara langsung kepada roh manusia. Jika sejak awal ayat-ayatnya sudah ditolak oleh akal sehat karena kontradiksi atau kebingungan makna, maka pesan itu akan sulit sampai ke hati.

Menurutnya, Al-Qur’an bekerja dengan cara yang berbeda: ayat-ayatnya dapat langsung diterima oleh hati, bahkan sebelum dipahami oleh akal.

Wahyu 1:18 dan Konsep “Kerajaan Maut”

Ia kemudian menyinggung Wahyu 1:18, yang menyebut bahwa Yesus memegang kunci maut dan kerajaan maut. Ketika istilah “kerajaan maut” ditelusuri ke catatan kaki, ditemukan kata Hades, yang dalam konteks Yunani merupakan nama dunia orang mati.

Ustadz Kainama mempertanyakan bagaimana mungkin seseorang dianggap Tuhan, namun digambarkan memegang kunci neraka—yang secara logika berarti ia berada dalam sistem tersebut.

Menurut beliau, ini bukan untuk menyerang, melainkan menunjukkan bahwa banyak orang Kristen berusaha mempertahankan sesuatu yang sejak awal sudah tidak rapi secara struktur teks.

Ajakan Kembali kepada Kajian Teologi yang Serius

Di akhir bagian ini, Ustadz Kainama mengajak umat Kristen untuk kembali belajar kepada pendeta dan teolog yang memiliki pendidikan formal, bukan figur instan di media sosial.

Ia menyebut sejumlah nama pendeta dan akademisi Kristen yang diakui kapasitas keilmuannya, serta menekankan bahwa mengikuti mereka jauh lebih sehat secara intelektual dan spiritual.

Menurut beliau, para pendeta tersebut juga tidak pernah malu mengakui bahwa tradisi Kristen sangat dipengaruhi oleh pemikiran Paulus. Bahkan dalam teks Yunani 1 Korintus 11:1, istilah kago Christos jika diterjemahkan secara harfiah menunjukkan konsep “aku milik Kristus”, yang kembali membuka ruang diskusi tentang siapa sebenarnya yang dimaksud sebagai Kristus dalam tradisi tersebut.

Detail Kecil dalam Teks Yunani dan Pertanyaan Besar Teologi

Ustadz Ahmad Kainama menutup paparan panjangnya dengan menyinggung kembali hasil terjemahan teks Yunani, seperti frasa kago Christos yang diterjemahkan menjadi “aku milik Kristus”. Menurut beliau, justru detail-detail kecil seperti inilah yang memunculkan banyak pertanyaan besar dalam teologi Kristen.

Hal-hal tersebut, lanjutnya, telah lama menjadi bahan kajian para profesor dan doktor teologi. Namun persoalannya, jemaat awam sering kali tidak siap menerima temuan-temuan akademik itu, sehingga jarang dibicarakan secara terbuka.

Pertanyaan Penutup: Maryam dalam Al-Qur’an dan Maria dalam Injil

Menjelang akhir dialog, Bung Stanley akhirnya mengajukan satu pertanyaan yang menurutnya paling mendasar:
jika dalam Injil Maria disebut menikah dengan Yusuf, lalu bagaimana dengan Maryam dalam Al-Qur’an? Apakah ia diceritakan menikah atau memiliki kehidupan rumah tangga setelah melahirkan Isa?

Ustadz Kainama menjawab dengan tegas: tidak ada penjelasan lanjutan tentang pernikahan Maryam dalam Al-Qur’an.

Menjaga Kesucian Maryam sebagai Mukjizat Ilahi

Menurut Ustadz Kainama, justru di situlah letak kesempurnaan Al-Qur’an. Maryam dimuliakan sebagai perempuan suci yang dipilih Allah untuk menjadi bukti kekuasaan-Nya, mengandung tanpa sperma, sebuah keajaiban ilahi.

Jika kehidupan Maryam setelah kelahiran Isa dijelaskan terlalu jauh, dikhawatirkan akan muncul:

  • asumsi-asumsi liar,
  • penggiringan makna yang tidak pantas,
  • atau pengaburan kesucian Maryam itu sendiri.

Karena itulah Al-Qur’an menghentikan kisah Maryam sampai kelahiran Isa, tanpa membuka ruang bagi spekulasi manusia.

Bahkan tempat wafat dan makam Maryam pun tidak dijelaskan, agar tidak terjadi pengkultusan atau penyimpangan akidah.

Al-Qur’an dan Tuduhan Kekerasan

Menanggapi tuduhan bahwa Al-Qur’an mengajarkan kekerasan, Ustadz Kainama menjelaskan bahwa ayat-ayat perang selalu memiliki konteks.

Perang dalam Islam bukan agresi, melainkan:

  • respons terhadap penindasan,
  • pembelaan diri,
  • dan memiliki aturan ketat.

Musuh yang menyerah tidak boleh dibunuh. Tawanan tidak boleh disakiti. Bahkan orang yang telah mengucapkan syahadat haram untuk dilukai.

Menurut beliau, banyak ayat Al-Qur’an yang dipotong dari konteksnya lalu dijadikan “senjata” oleh sebagian apologet Kristen.

Ritual Keagamaan dan Standar Ganda

Ia juga menyinggung tuduhan terhadap umat Islam yang mencium Hajar Aswad. Menurutnya, praktik serupa juga ditemukan dalam tradisi agama lain, seperti:

  • orang Yahudi yang mencium batu di Tembok Ratapan,
  • Paus yang mencium batu suci di Tanah Suci.

Namun hanya praktik Islam yang sering disorot dan dipelintir maknanya, padahal mencium Hajar Aswad bukan untuk menghapus dosa, melainkan mengikuti sunnah Nabi dan sebagai simbol kiblat.

Kesempurnaan Al-Qur’an sebagai Penjaga Makna

Ustadz Kainama menegaskan bahwa kesempurnaan Al-Qur’an bukan pada banyaknya detail, tetapi pada ketepatan informasi. Allah tidak menyampaikan firman-Nya dengan kata-kata kotor, ambigu, atau merendahkan martabat manusia.

Apa yang tidak perlu diketahui manusia, memang tidak dijelaskan, dan itulah bentuk penjagaan terhadap kemurnian makna wahyu.

Tentang Syahadat dan Proses Pencarian

Dialog kemudian beralih kepada Ustadz Ipung yang bertanya langsung kepada Bung Stanley, mengapa ia belum bersyahadat.

Bung Stanley menjawab dengan jujur bahwa ia ingin mengenal Islam lebih dalam terlebih dahulu. Ia tidak ingin bersyahadat hanya secara lisan, tetapi ingin merasakan keyakinan itu benar-benar hadir di hatinya.

Ia menggambarkan dirinya seperti “bayi yang baru lahir”, yang perlu waktu untuk belajar, memahami, dan merasakan “vibes” sebelum benar-benar siap menjalani ibadah.

Proses, Bukan Paksaan

Dialog ini ditutup dengan suasana hangat dan penuh penghormatan. Tidak ada paksaan, tidak ada tekanan, hanya proses pencarian yang jujur.

Ustadz Ipung dan tim melanjutkan agenda dakwah mereka, sementara Bung Stanley tetap membuka diri untuk belajar dan memahami lebih jauh.

Sebagaimana disimpulkan dalam perbincangan tersebut, iman bukan hasil debat, melainkan hasil pertemuan antara hati, akal, dan kejujuran dalam mencari kebenaran.Dan pencarian itu, bagi setiap manusia, memiliki waktunya masing-masing.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

PRODUK PARFUM AYA SOFYA


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat

DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451

BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.