Sebuah peristiwa langka terjadi dalam dunia dialog antaragama di Indonesia: perdebatan terbuka antara Ustaz Ahmad Kainama dan Pendeta Esra Soru. Debat yang berlangsung dengan damai tersebut menyedot perhatian publik, khususnya mereka yang tertarik pada kajian kritis kitab suci dan perbandingan agama. Di tengah antusiasme penonton, muncul satu pesan kuat: Islam tidak membenci umat Kristen, yang diangkat adalah ilmu, bukan emosi.
Namun, di balik kesan damai itu, tersimpan kritik tajam dan keluh kesah dari pihak Muslim terhadap kesulitan menjalin dialog akademik dengan para pendeta Kristen. Menurut Ustaz Kainama dan rekannya, mencari pendeta yang bersedia berdialog terbuka adalah hal yang amat sulit. Bahkan ketika diajukan ajakan resmi, banyak yang menolak atau menghindar. Hal ini menimbulkan pertanyaan besar: mengapa dialog yang seharusnya berlangsung ilmiah dan beradab justru dianggap momok oleh sebagian pihak?
Dialog yang Terbuka, Tapi Tertutup?
Ustaz Mas’ud, salah satu narasumber dalam pertemuan tersebut, menceritakan pengalamannya berdialog dengan pendeta Muriwali di Surabaya. Meski mengaku terbuka untuk dialog, emosi sang pendeta masih sangat tinggi dan enggan berdiskusi secara ilmiah. Bahkan ketika diminta bersedia untuk berdialog kembali, sang pendeta langsung menolak. Yang lebih mengejutkan, banyak dari mereka hanya bersedia berdebat jika lawan bicara berasal dari kalangan profesor atau doktor kampus, padahal topik pembahasan bukan hanya soal akademis, tapi juga keyakinan dan logika iman.
Hal serupa juga terjadi pada Pendeta Budi Asali. Dalam dialog sebelumnya, ia mengakui bahwa Markus 16:9-20 adalah bagian tambahan yang tidak ada dalam manuskrip awal. Padahal, bagian tersebut memuat kisah penting seperti kenaikan Yesus ke langit dan duduk di sisi kanan Tuhan. Jika bagian tersebut adalah tambahan, bagaimana bisa dianggap wahyu ilahi?
Pengakuan semacam ini sebenarnya bukan hal baru. Pada tahun 1993, Pastor Situmorang di Probolinggo juga mengakui hal yang sama. Ini menimbulkan keraguan besar tentang keaslian teks-teks Perjanjian Baru, khususnya Injil.
Kasus Salah Tangkap: Yesus atau Orang Lain?
Salah satu argumen paling tajam yang diangkat oleh Ustaz Mas’ud adalah soal penangkapan Yesus. Dalam Injil Yohanes, ketika Yesus bertanya, “Siapa yang kamu cari?”, para tentara Romawi dan utusan imam-imam Yahudi menjawab, “Yesus dari Nazaret.” Jika mereka benar-benar tahu wajah Yesus, mengapa mereka tidak langsung mengenali-Nya?
Fakta bahwa Yudas harus mencium Yesus sebagai tanda bagi para penangkap menunjukkan satu hal: para penangkap tidak mengenali wajah Yesus. Hal ini membuka ruang interpretasi bahwa bisa saja yang ditangkap adalah orang lain. Dalam versi Islam, seperti dijelaskan dalam Al-Qur’an, Yesus tidak disalib melainkan diserupakan dengan orang lain, kemungkinan yang semakin masuk akal jika kita mencermati kejanggalan-kejanggalan narasi Injil.
Banyak Versi, Banyak Kontradiksi
Ustaz Ahmad Kainama kemudian menyoroti kebingungan dalam kisah kebangkitan Yesus. Di Injil Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes, terdapat perbedaan versi tentang siapa yang datang ke kubur, kapan waktunya, dan siapa yang ditemui. Apakah sebelum atau sesudah matahari terbit? Apakah malaikat ditemui di dalam atau di luar kubur? Mana yang benar?
Kontradiksi seperti ini tidak bisa dianggap enteng, apalagi jika narasi kebangkitan dianggap sebagai dasar iman Kristen. Jika kesaksian para murid berbeda-beda, bagaimana bisa dipastikan kebenarannya? Maka sangat wajar jika sebagian pihak, termasuk Ustaz Kainama, menyebut ketiadaan bukti yang konsisten sebagai bukti adanya kebohongan sistematis.
Markus 16: Ayat Tambahan, Iman Tambahan?
Markus 16:9–20 menjadi topik panas lain dalam debat ini. Di dalamnya disebutkan bahwa orang beriman bisa minum racun dan tidak mati, serta menyembuhkan orang sakit dengan meletakkan tangan. Maka, Ustaz Kainama menantang para pendeta yang mengklaim ayat itu sebagai wahyu: mampukah mereka membuktikannya?
Tantangan itu bukan semata provokatif, tetapi ingin menunjukkan bahwa klaim iman tanpa bukti adalah bentuk manipulasi spiritual. Jika benar ayat itu adalah wahyu Tuhan, maka seharusnya dapat dibuktikan dalam kenyataan.
Namun yang terjadi, banyak yang justru menghindar dari pembuktian, bahkan membentak rekan seiman sendiri. Seperti yang dikisahkan, ada pendeta yang mencaci Budi Asali hanya karena ia jujur mengakui adanya ayat tambahan. Bukannya berdiskusi secara ilmiah, mereka malah terjebak dalam cacian dan celaan.
Kritik Pedas terhadap Apologet Kristen
Pada bagian akhir, Ustaz Kainama menyampaikan kritik tajam terhadap para apologet Kristen. Ia menyayangkan metode debat yang lebih banyak menyerang secara emosional dan tidak ilmiah. Ia menyebut bahwa dalam dialog-dialog tersebut, apologet Kristen sudah menyiapkan narasi klasik seperti teori substitusi (Yesus digantikan oleh Yudas), namun tetap menolak logika Islam.
Ustaz Kainama sendiri menolak pendekatan debat model interogatif, yakni menjebak lawan seolah bersalah. Ia menekankan pentingnya menjaga kebanggaan sebagai Muslim dan menunjukkan elegansi dalam berdialog. Baginya, jika para pendeta ingin membawa pembuktian berdasarkan “penglihatan” atau klaim supranatural, maka umat Islam juga punya hak untuk mempertanyakan dasar klaim tersebut.
Salah satu pernyataan paling menyentuh dari Ustaz Kainama adalah tentang bagaimana perbedaan konsep dialog antara Islam dan Kristen. Ia menyayangkan bahwa ketika umat Islam menguasai ayat dan sejarah kitab suci lawan bicara, tetap saja mereka dianggap remeh. Padahal, dialog seharusnya jadi ajang saling uji secara intelektual, bukan tempat melampiaskan kebencian atau kebingungan.
Dialog antara Ustaz Ahmad Kainama dan Pendeta Esra Soru menjadi salah satu tonggak penting dalam wacana perbandingan agama di Indonesia. Sayangnya, tantangan yang dihadapi sangat besar, karena banyak pendeta enggan membuka ruang diskusi. Di sisi lain, umat Islam seperti Ustaz Kainama justru siap menghadapi siapa pun secara terbuka, bahkan tanpa mempersiapkan topik terlebih dahulu demi menjaga kejujuran intelektual.
Lanjutan Kritik terhadap Kitab Yehezkiel dan Lukas
Dalam pembahasan yang melanjutkan kritik terhadap Injil, Ustaz Ahmad Kainama menyampaikan bahwa kitab Yehezkiel pasal 4 ayat 12-13 menyatakan perintah yang menjijikkan dari Tuhan kepada nabi-Nya. Dalam ayat tersebut dikisahkan bahwa roti harus dibakar di atas kotoran manusia. Ketika Yehezkiel menolak karena menganggapnya najis, barulah Tuhan mengubahnya menjadi kotoran lembu. Namun tetap saja, substansi perintah tersebut menyiratkan tindakan yang dianggap menjijikkan dan tidak layak untuk dilekatkan pada sosok Tuhan Yang Maha Suci.
“Roti dibakar pakai tai manusia, terus diganti tai lembu. Apa pantas ini dari Tuhan?” tegas Ustaz Kainama sambil menunjukkan ayatnya.
Ayat ini juga dipertontonkan kepada para pemirsa agar bisa discreenshot sebagai bukti, menunjukkan bahwa kritik yang diajukannya bukanlah tuduhan kosong, melainkan berdasarkan teks tertulis dalam Alkitab yang beredar di masyarakat.
Selanjutnya, Ustaz Kainama juga menyinggung pernyataan Pendeta Esra Soru yang menggunakan kitab Lukas sebagai landasan pengajaran. Namun menurutnya, penulis kitab Lukas sendiri bukanlah saksi mata kehidupan Yesus. Ia menyoroti fakta bahwa Lukas mengumpulkan informasi dari cerita-cerita yang beredar tanpa mengalami peristiwa tersebut secara langsung.
Kritik terhadap Pendeta yang Menyitir Lukas: Penulis yang Bukan Saksi Mata
Ustaz Kainama mengutip Lukas pasal 1 ayat 1–3 untuk menunjukkan bahwa penulis Injil ini menulis berdasarkan cerita dari orang lain. Dalam ayat itu disebutkan:
“Teofilus yang mulia, banyak orang telah berusaha menyusun suatu berita tentang peristiwa-peristiwa yang telah terjadi di antara kita…”
Dengan nada sarkastik, Ustaz Kainama mempertanyakan bagaimana mungkin pendeta-pendeta seperti Esra Soru mengandalkan tulisan dari orang yang bukan saksi mata langsung untuk mengajarkan kebenaran.
“Lukas bukan murid Yesus. Dia cuma denger-denger cerita. Lalu Esra kutip Lukas? Aneh!” katanya.
Ia membandingkan hal ini dengan metode keilmuan dalam Islam, yang sangat ketat dalam menerima riwayat hadis. Jika sanad-nya tidak jelas atau tidak sampai kepada Nabi Muhammad, maka hadis itu ditolak. Namun dalam kekristenan, tampaknya tidak demikian. Bahkan tulisan dari pihak ketiga yang tidak menyaksikan langsung pun dianggap sahih.
Poin Penting: Kritik Berdasarkan Fakta Tertulis, Bukan Kebencian
Ustaz Ahmad Kainama menegaskan bahwa kritiknya bukan berdasarkan kebencian terhadap individu atau agama tertentu. Ia mengatakan bahwa yang dikritik adalah isi kitab yang dianggap bertentangan dengan akal sehat dan sifat Tuhan yang suci.
Ia juga memberikan contoh ayat-ayat lain yang menurutnya kontroversial atau tidak logis, dan mendesak umat Kristen untuk membuka mata serta membaca langsung isi kitab mereka sendiri, bukan hanya mendengar dari mimbar gereja.
“Buka kitabmu, screenshot, lihat sendiri. Jangan cuma dengar pendeta,” ujarnya kepada pemirsa.
Di akhir sesi ini, Ustaz Kainama mengajak para pemirsa untuk melakukan screenshot terhadap kitab Yehezkiel dan Lukas yang sedang dikritisi. Ia menyebut nomor slide dan membimbing pemirsa untuk mencatat atau menyimpan bukti tersebut agar tidak menuduhnya membuat-buat.
“Screenshot ya, 1 2 3… Yang nomor 12, itu Ustaz Dani Sukran juga sudah bahas.”
Ajakan ini menunjukkan bahwa metode yang dipakai bersifat terbuka dan transparan. Bukan sekadar opini, tetapi berdasarkan teks tertulis dari kitab yang dia kritisi.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
