
Pada live yang diadakan oleh Mualaf Center Aya Sofya kali ini, yang bertepatan tanggal 29 Januari 2026, tema yang diambil adalah ”Yesus Duduk di Sebelah Kanan Allah, Siapa yang Melihat?”. Dan ditegaskan bahwa tema ini serta penjelasan dalam live kali ini semua berdasarkan data-data yang valid dan juga sumbernya terkonfirmasi.
Tema “Yesus duduk di sebelah kanan Allah” sering diangkat dalam ajaran Kristen dan dianggap sebagai bagian penting dari doktrin ketuhanan Yesus. Pernyataan ini juga banyak divisualisasikan dalam lukisan-lukisan kuno, terutama era Renaisans, yang menggambarkan Yesus duduk di samping sosok tua yang dilabeli sebagai Allah, dengan burung di antaranya sebagai simbol Roh Kudus. Namun, muncul pertanyaan mendasar: siapa yang menyaksikan peristiwa tersebut?
Pertanyaan Kunci: Siapa yang Melihat?
Jika ditelusuri secara jujur dan kritis, jawabannya adalah tidak ada satu pun saksi mata yang melihat Yesus duduk di sebelah kanan Allah. Tidak ada pernyataan langsung dari Yesus, tidak ada kesaksian murid yang menyaksikan secara nyata, dan tidak ada riwayat historis yang dapat diverifikasi.
Asal Klaim dalam Alkitab
Satu-satunya rujukan yang sering digunakan untuk mendukung klaim ini terdapat dalam Injil Markus 16:19, yang menyatakan bahwa setelah Yesus berbicara kepada para murid, Ia terangkat ke surga dan duduk di sebelah kanan Allah. Ayat ini kemudian dijadikan fondasi teologis oleh kekristenan.
Masalah Keaslian Markus 16:9-20
Dalam kajian kritik teks Alkitab, bagian akhir Injil Markus (pasal 16 ayat 9–20) diakui sebagai tambahan belakangan, bukan bagian asli Injil Markus. Hal ini dikenal luas dalam dunia akademik Kristen dengan istilah The Strange Ending of the Gospel of Mark.
Penelitian manuskrip kuno menunjukkan bahwa Injil Markus awalnya berakhir pada Markus 16:8. Karena akhir ini dianggap terlalu singkat dan tidak memadai secara teologis, para editor dan penyalin naskah kemudian menambahkan beberapa versi penutup, salah satunya memuat klaim bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah.
Pengakuan dari Literatur Kristen Sendiri
Yang perlu ditekankan, temuan ini bukan berasal dari sumber Islam, melainkan dari gereja dan para sarjana Kristen sendiri. Literatur arkeologi dan studi Alkitab menyatakan bahwa akhir Injil Markus ditambahkan untuk “memperbaiki” kekurangan narasi aslinya.
Dengan kata lain, Markus 16:19 tidak memiliki landasan manuskrip yang kuat sebagai teks autentik.
Visualisasi Trinitas dan Masalah Teologis
Gambaran Yesus duduk di sebelah kanan Allah kemudian diperkuat dengan lukisan-lukisan Trinitas: Allah digambarkan sebagai laki-laki tua, Yesus di samping-Nya, dan Roh Kudus sebagai burung. Visualisasi ini sama sekali bukan ajaran Yesus, dan tidak berasal dari tradisi Yahudi tempat Yesus hidup dan mengajar.
Sejarah Doktrin Trinitas
Secara historis, doktrin Trinitas belum eksis pada masa Yesus. Hingga abad ke-4 Masehi, konsep ini masih menjadi perdebatan internal gereja. Bahkan hingga sebelum tahun 380 Masehi, Trinitas belum ditetapkan sebagai dogma resmi. Artinya, ajaran ini merupakan hasil konsensus gereja belakangan, bukan wahyu langsung dari Yesus.
Kesimpulan Sementara
Klaim bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah:
- Tidak disaksikan oleh siapa pun
- Bersumber dari teks Alkitab yang diperdebatkan keasliannya
- Diperkuat oleh doktrin yang lahir jauh setelah masa Yesus
Oleh karena itu, secara historis dan tekstual, pernyataan ini tidak memiliki dasar yang kokoh dan lebih tepat dipahami sebagai konstruksi teologis gereja, bukan ajaran autentik Yesus.
Akhir Tambahan Injil Markus dan Penerimaannya oleh Gereja
Tambahan akhir Injil Markus (Markus 16:9 -19) akhirnya menjadi sangat populer dan diterima luas karena dimasukkan ke dalam King James Version (KJV), Alkitab yang selama sekitar 500 tahun terakhir sangat disukai oleh kalangan Protestan. Selain itu, bagian ini juga masuk dalam terjemahan Latin Fulgata yang digunakan oleh Gereja Katolik.
Akibatnya, bagi jutaan umat Kristen, ayat-ayat ini diperlakukan sebagai kitab suci. Namun secara akademik, bagian tersebut diakui sebagai tambahan dan bukan bagian asli Injil Markus. Artinya, sesuatu yang jelas bermasalah secara tekstual justru diterima luas karena faktor tradisi dan kebiasaan gereja.
Pengakuan Terbuka tentang Kepalsuan Akhir Markus
Literatur kajian Alkitab menyatakan secara tegas bahwa bagian akhir ini jelas palsu, namun tetap dipertahankan. Bahkan pembaca didorong untuk memeriksa Alkitab apa pun yang mereka gunakan, kemungkinan besar Markus 16:9-20 tetap ada di dalamnya, karena gereja secara umum menganggap akhir asli Injil Markus “terlalu kurang”.
Menariknya, meskipun bagian ini dinyatakan tidak autentik, banyak orang justru menyukainya. Hingga hari ini, kalangan Kristen konservatif sering mengecam para sarjana Kristen liberal yang mengungkap fakta pemalsuan ini, dengan tuduhan bahwa mereka ingin menghancurkan firman Tuhan. Padahal yang disampaikan para sarjana tersebut justru berdasarkan data manuskrip gereja sendiri.
Bukan Klaim Islam, tetapi Data dari Gereja
Penting ditekankan bahwa penilaian “palsu” ini bukan datang dari umat Islam, bukan pula dari pendebat lintas agama, melainkan dari situs dan lembaga akademik Kristen, seperti Biblical Archaeology. Di dalamnya terdapat para profesor dan peneliti Alkitab yang secara terbuka menyebut bahwa akhir Injil Markus adalah hasil rekayasa editorial.
Dengan demikian, reaksi emosional yang menolak fakta ini sebenarnya salah sasaran, karena sumbernya adalah internal gereja sendiri.
Mengapa Ayat Ini Dipertahankan?
Alasannya sederhana: ayat tersebut sangat “berharga” secara teologis. Frasa seperti “Yesus duduk di sebelah kanan Allah” menjadi fondasi penting bagi doktrin ketuhanan Yesus. Tanpa ayat-ayat sisipan seperti ini, bangunan teologi Kristen menjadi rapuh.
Karena itu, meskipun dinyatakan palsu secara akademik, ayat ini tetap dipertahankan dan dibela.
Reaksi Kristen terhadap Kritik Teks
Dalam konteks hidup berdampingan, khususnya di Indonesia, sering terlihat reaksi keras ketika ada pihak yang menyebut sebagian ayat Alkitab sebagai tambahan atau tidak asli. Padahal, sekali lagi, yang menyatakan demikian adalah gereja dan para sarjana Kristen sendiri, bukan umat Islam.
Masalahnya bukan pada siapa yang menyampaikan, melainkan pada fakta sejarah dan manuskrip yang tidak bisa dihindari.
Penegasan Kembali: Siapa yang Melihat?
Kita kembali pada tema utama: Yesus duduk di sebelah kanan Allah. Siapa yang melihat?
Jawabannya tetap sama: tidak ada.
Karena klaim tersebut bersumber dari:
- Ayat tambahan yang diakui palsu
- Hasil rekayasa editor dan penyalin
- Bukan kesaksian langsung atau ajaran autentik Yesus
Klaim Serupa dalam Injil Lain
Pendukung doktrin ini sering mengalihkan rujukan ke Injil lain, seperti Matius 26:64 dan Lukas 22:69, yang juga memuat pernyataan tentang “Anak Manusia duduk di sebelah kanan Yang Mahakuasa”.
Namun pertanyaannya: apakah ayat-ayat ini berdiri sendiri, atau sekadar menyalin dari sumber yang sama?
Editorial Fatigue: Bukti Penyalinan Antar Injil
Dalam studi Alkitab dikenal istilah editorial fatigue, yaitu kelelahan redaksional yang menunjukkan bahwa penulis Injil tertentu menyalin dari sumber sebelumnya tanpa konsisten. Kajian ini menunjukkan bahwa Matius dan Lukas menyalin bagian tersebut dari Markus, termasuk bagian yang sudah bermasalah.
Dengan kata lain, jika sumber awalnya palsu, maka salinan-salinannya pun ikut bermasalah.
Injil Markus sebagai Sumber Utama
Secara akademik, Injil Markus dianggap sebagai Injil tertua. Matius dan Lukas banyak menyalin darinya. Maka ketika Markus 16:9-19 dinyatakan sebagai tambahan, otomatis ayat-ayat paralel dalam Matius dan Lukas tidak lagi berdiri sebagai kesaksian independen.
Ini bukan asumsi Islam, melainkan kesimpulan dari arkeologi, teologi, dan kritik teks Alkitab yang dikembangkan oleh gereja sendiri.
Gangguan Teknis dan Penegasan Ulang Tema
Setelah sempat terputus karena kendala teknis, kajian kembali dilanjutkan dengan penegasan tema utama: “Yesus duduk di sebelah kanan Allah: siapa yang melihat?” Jawaban yang terus ditekankan tetap sama, yaitu tidak ada satu pun saksi, karena klaim tersebut bersumber dari ayat-ayat yang secara akademik dinyatakan bermasalah.
Ayat Palsu Menurut Kajian Gereja Sendiri
Penegasan kembali disampaikan bahwa pernyataan Yesus duduk di sebelah kanan Allah dinilai sebagai ayat palsu berdasarkan kajian Biblical Archaeology dan berbagai penelitian Alkitab dari kalangan Kristen sendiri. Ini bukan klaim sepihak, melainkan hasil studi para profesor, arkeolog, teolog, dan peneliti Injil yang masih beragama Kristen hingga hari ini.
Ilustrasi Penyalinan Injil: Matius dan Lukas dari Markus
Dalam kajian Is That in the Bible?, ditampilkan ilustrasi simbolik penulisan Injil:
- Markus sebagai sumber awal
- Matius dan Lukas sebagai penyalin
Matius digambarkan menyalin dengan tidak konsisten, sementara Lukas menyalin dengan lebih serius. Intinya, kedua Injil tersebut bergantung pada Markus, termasuk pada bagian-bagian yang kemudian terbukti sebagai tambahan editorial.
Dengan demikian, jika sumber awalnya bermasalah, maka salinan yang mengikutinya juga tidak dapat dianggap sebagai kesaksian independen.
Penerimaan Akademik tentang Markus sebagai Injil Tertua
Kajian modern Alkitab hampir secara universal menerima bahwa:
- Injil Markus adalah yang paling awal dan paling sederhana
- Injil Matius dan Lukas ditulis setelahnya
- Keduanya menggunakan Markus sebagai sumber utama
Secara statistik, sekitar 97% isi Markus muncul kembali dalam Matius, dan 88% dalam Lukas. Kesamaan ini lebih mudah dijelaskan jika Markus adalah sumber awal, bukan sebaliknya.
Editorial Fatigue: Bukti Penyalinan dan Pengeditan
Fenomena editorial fatigue menjelaskan bagaimana penulis Injil yang menyalin dari sumber lain mulai kehilangan konsistensi. Awalnya mereka mengubah dan menyesuaikan teks, tetapi di bagian selanjutnya justru menyalin mentah-mentah frasa dari Markus, sehingga menimbulkan kontradiksi internal.
Hal ini menunjukkan bahwa proses penulisan Injil:
- Melibatkan perubahan
- Melibatkan penambahan
- Dilakukan sesuai kebutuhan teologis penulis
Implikasi terhadap Klaim “Firman Tuhan”
Jika sebuah teks:
- Disalin
- Diubah
- Ditambahkan seperlunya
maka secara akademik teks tersebut bukan wahyu yang turun utuh, melainkan produk editorial manusia. Kesimpulan ini bukan pendapat polemis, tetapi berasal dari kajian Alkitab modern yang diakui luas.
Para Tokoh Akademik di Balik Kajian Ini
Beberapa nama yang disebut dalam kajian ini antara lain:
- Michael Goulder, pengajar dan peneliti Alkitab dari Britania Raya
- James Tabor, profesor Studi Yudaisme Kuno di University of North Carolina, Amerika Serikat
Keduanya adalah akademisi Kristen yang secara terbuka membahas masalah keaslian teks Injil.
Reaksi Emosional dan Minimnya Argumen
Disebutkan pula bahwa respons sebagian umat Kristen terhadap kajian ini sering kali bukan berupa bantahan ilmiah, melainkan serangan emosional. Hal ini dipahami sebagai tanda bahwa argumen tekstual dan historis sulit dibantah dengan data.
Klaim Terakhir yang Sering Digunakan: Matius 22:43-44
Ketika ayat-ayat lain runtuh, sebagian kalangan Kristen sering mengutip Matius 22:43–44 sebagai dasar bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah. Ayat ini dianggap sebagai “senjata terakhir” dalam debat ketuhanan Yesus.
Konteks Sebenarnya Matius 22:43-44
Dalam ayat tersebut, Yesus tidak sedang berbicara tentang dirinya sendiri. Ia justru mengutip Kitab Mazmur, bukan mengklaim posisi ilahi bagi dirinya.
Yesus berkata bahwa Daud, oleh pimpinan Roh, menyebut seseorang sebagai “tuannya” dan mengutip firman Tuhan:
“Duduklah di sebelah kananku sampai musuh-musuhmu kutaruh di bawah kakimu.”
Yesus Mengutip, Bukan Mengklaim
Poin pentingnya:
- Yesus mengutip firman Tuhan
- Yesus tidak mengatakan bahwa ayat itu tentang dirinya
- Kutipan tersebut berasal dari Mazmur 110:1
Jika Yesus adalah “firman Tuhan yang menjadi manusia” sebagaimana klaim Kristen, maka tidak logis jika ia mengutip firman Tuhan sebagai pihak lain.
Mazmur 110:1 dan Kesalahan Klaim tentang Yesus
Mazmur 110:1 berbunyi:
“Demikianlah firman Tuhan kepada tuanku: Duduklah di sebelah kananku sampai Kubuat musuh-musuhmu menjadi tumpuan kakimu.”
Ayat ini sering diklaim oleh kalangan Kristen sebagai bukti bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah. Namun jika dibaca secara jujur dan dikaji berdasarkan tafsir Yahudi dan kajian akademik, ayat ini sama sekali bukan tentang Yesus.
Mazmur ini adalah Mazmur Daud, dan “tuanku” dalam teks tersebut bukan Yesus, melainkan merujuk kepada figur lain yang dihormati dalam tradisi Yahudi. Mengaitkannya secara langsung kepada Yesus adalah bentuk pemaksaan tafsir teologis, bukan hasil pembacaan teks yang objektif.
Ini Bukan Hujatan, tetapi Kajian Kristologi
Penegasan penting disampaikan bahwa pembahasan ini bukan untuk menghina atau menghujat, melainkan murni kajian kristologi berbasis teks, sejarah, dan akademik. Jika sebuah klaim runtuh ketika diuji dengan data, maka yang perlu dikoreksi adalah klaimnya, bukan orang yang mengujinya.
Tafsir Yahudi: Mazmur 110 Bukan Nubuat tentang Yesus
Dalam tafsir Yahudi klasik, termasuk penjelasan para rabi seperti Rashi (Rabbi Shlomo Yitzhaki), Mazmur 110 tidak dipahami sebagai nubuat mesianik tentang Yesus. Bahkan, dalam beberapa tafsir, ayat tersebut dirujukkan kepada Abraham, leluhur yang sangat dimuliakan.
Rashi menjelaskan bahwa frasa “duduk di sebelah kanan” tidak bermakna posisi literal ilahi, melainkan simbol pertolongan, kemenangan, atau dukungan Allah. Akar kata Ibrani yang digunakan juga bermakna “menunggu” atau “berharap”, bukan menunjuk pada posisi fisik di sisi Tuhan.
Kesalahan Bahasa: Yesbah Bukan Yesua
Salah satu kekeliruan fatal dalam klaim Kristen adalah permainan bunyi kata dalam bahasa Ibrani. Dalam teks Mazmur, kata yang muncul bukan “Yesua” (Yesus), melainkan “Yesbah”, yang memiliki makna dan akar kata berbeda sama sekali.
Kesamaan huruf Ibrani tidak otomatis berarti kesamaan makna atau rujukan. Klaim bahwa ayat ini tentang Yesus hanya karena ada kemiripan huruf adalah kesalahan linguistik serius.
Mazmur 110 sebagai Pujian kepada Abraham
Dalam konteks Yahudi, Mazmur 110 dipahami sebagai pujian Daud kepada nenek moyangnya, Abraham. Ini sejalan dengan tradisi Yahudi yang memuliakan Abraham sebagai bapak para nabi dan umat pilihan.
Dengan demikian, mengklaim Mazmur 110 sebagai dalil ketuhanan Yesus adalah melenceng jauh dari konteks asli teks.
Klaim dari Kisah Para Rasul 7:55–56
Ayat lain yang sering digunakan adalah Kisah Para Rasul 7:55-56, yang menyebutkan bahwa Stefanus melihat Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.
Menariknya, ayat ini sendiri tidak mengatakan duduk, melainkan berdiri, sehingga sudah bertentangan dengan klaim utama “duduk di sebelah kanan Allah”.
Masalah Kepengarangan Kisah Para Rasul
Kisah Para Rasul ditulis oleh Lukas, tokoh yang secara akademik diakui sebagai penyalin Injil Markus dan pengedit narasi sebelumnya. Seperti Injil Lukas, kitab ini juga tidak memiliki kepastian kepengarangan yang solid.
Bahkan hingga hari ini, gereja sendiri belum bisa memastikan apakah penglihatan Stefanus tersebut adalah peristiwa historis, pengalaman subjektif, atau konstruksi teologis belaka.
Pola yang Sama: Menyalin, Mengubah, Menambahkan
Klaim dalam Kisah Para Rasul kembali memperlihatkan pola yang sama:
- Mengambil ide dari Markus
- Mengubah redaksi
- Menambahkan narasi baru
Hal ini memperkuat kesimpulan bahwa narasi “Yesus di sebelah kanan Allah” berkembang secara bertahap melalui proses editorial, bukan berasal dari satu kesaksian autentik yang utuh.
Ketidakpastian Kepengarangan Injil Lukas
Bahkan dalam literatur Katolik sendiri, seperti Catholic Identity, disebutkan bahwa kepengarangan Injil Lukas tidak dapat dipastikan. Artinya, salah satu pilar utama Perjanjian Baru berdiri di atas teks yang:
- Tidak jelas penulisnya
- Tidak pasti sumbernya
- Sarat dengan proses editorial
Kembali ke Pertanyaan Utama
Tema besar kajian ini kembali ditegaskan:
Yesus duduk di sebelah kanan Allah – siapa yang melihat?
Jawabannya tetap sama:
- Tidak ada saksi mata
- Ayat rujukannya bermasalah
- Tafsirnya dipaksakan
- Sumbernya saling menyalin
Pertanyaan Kritis: Jika Banyak Ayat Tidak Asli, Di Mana yang Asli?
Pertanyaan ini sering muncul: jika banyak bagian Alkitab tidak asli, lalu di mana yang asli?
Jawabannya tegas: bukan di tangan umat Islam, bukan pula pada pengkritiknya, melainkan pada otoritas gereja sendiri, khususnya Vatikan, yang sejak awal:
- Mengumpulkan
- Menyeleksi
- Mengkanonisasi
- Menentukan mana yang masuk dan mana yang dikeluarkan
Jika hari ini ditemukan bahwa teks yang beredar adalah hasil seleksi dan perubahan, maka pertanyaan tentang “yang asli” harus diarahkan kepada lembaga yang mengklaim otoritas tersebut, bukan kepada pihak yang sekadar menyampaikan hasil penelitian gereja sendiri.
Otoritas Penentu Kitab: Siapa yang Menyimpan “Yang Asli”?
Bagian penutup diskusi ini kembali menegaskan satu persoalan mendasar yang selama ini selalu dihindari dalam diskursus Kristen arus utama: jika banyak ayat dinyatakan tidak asli, lalu di mana yang asli itu berada?
Jawaban yang disampaikan bukan spekulasi, melainkan konsekuensi logis dari sejarah kanonisasi itu sendiri. Jika umat Kristen bertanya “mana yang asli”, maka pertanyaan tersebut harus diarahkan kepada pihak yang sejak awal memiliki kuasa penuh atas teks, bukan kepada umat Islam atau pengkaji kristologi.
Sejak awal, yang memegang kendali bukan jemaat, bukan rasul, dan bukan saksi mata, melainkan otoritas gereja awal yang bersekutu dengan kekuasaan politik Romawi. Karena itu, jika hari ini teks asli tidak diperlihatkan, bukan karena tidak ada yang bertanya, tetapi karena yang berkuasa atasnya tidak pernah membuka aksesnya.
Tidak Pernah Ada Proses Pengecekan Independen
Pertanyaan kritis berikutnya muncul secara wajar:
“Apakah tidak ada pengecekan keaslian isi Alkitab sebelum diterbitkan?”
Jawabannya disampaikan secara tegas: tidak pernah ada mekanisme pengecekan independen. Alasannya sederhana namun mengerikan—siapa pun yang berbeda pendapat dianggap sesat dan berakhir tragis.
Sejarah mencatat nama-nama seperti Arius dan Marcion, tokoh-tokoh gereja awal yang tidak sepakat dengan isi atau konsep Perjanjian Baru versi resmi. Mereka:
- dicap bidah
- disingkirkan
- dimusuhi
- bahkan dibinasakan
Dalam kondisi seperti itu, pertanyaan “siapa yang mau mengecek?” menjadi tidak relevan. Pengecekan tidak mungkin terjadi ketika perbedaan pendapat dihukum mati.
Konstantin, Eusebius, dan Proyek Alkitab Resmi
Diskusi kemudian mengarah pada fakta sejarah yang sering diabaikan dalam khotbah gereja. Pada tahun 331 M, Kaisar Konstantin secara resmi memerintahkan Eusebius untuk menyusun 50 eksemplar Alkitab.
Ini bukan dugaan, tetapi catatan sejarah gereja sendiri.
Artinya:
- teks dipilih oleh gereja
- disusun oleh gereja
- disalin oleh gereja
- dan disahkan oleh gereja
Maka ketika hari ini ditanyakan “mana yang asli?”, jawaban jujurnya adalah:
yang tahu persis hanyalah mereka yang sejak awal melakukan seleksi dan penyusunan itu.
Narasi Kebangkitan: Tidak Tunggal, Tidak Konsisten
Dalam sesi tanya jawab, muncul pertanyaan penting tentang kebangkitan setelah penyaliban. Menariknya, jawaban yang diberikan tidak bersumber dari Islam, melainkan dari Injil-injil apokrif yang juga merupakan bagian dari sejarah Kristen.
Dalam Injil Nikodemus (abad ke-4 M), diceritakan bahwa:
- Yudas pulang ke rumah
- istrinya sedang memasak ayam
- ia meragukan kebangkitan Yesus
- lalu ayam tersebut hidup kembali dan berkokok
Kisah ini menunjukkan satu hal penting:
bahkan dalam tradisi Kristen sendiri, narasi kebangkitan tidak tunggal dan tidak seragam.
Jika kebangkitan Yesus adalah fondasi iman, maka keberadaan banyak versi justru menimbulkan pertanyaan serius tentang mana yang historis dan mana yang teologis-rekaan.
Asal-usul “Duduk di Sebelah Kanan Tuhan”
Pertanyaan terakhir membawa diskusi pada inti teologis:
“Mengapa penulis Alkitab menulis bahwa Yesus duduk di sebelah kanan Allah?”
Jawaban yang diberikan mengarah pada warisan mitologi Yunani, khususnya figur Hermes, anak Zeus. Dalam mitologi tersebut, Hermes:
- disebut anak Tuhan
- berperan sebagai penyelamat
- dibunuh
- turun ke dunia maut
- bangkit kembali
- lalu duduk di sebelah kanan Zeus
Pola ini sangat mirip dengan narasi Yesus dalam Perjanjian Baru. Kesimpulan yang ditarik bukan ejekan, melainkan analisis sejarah agama:
konsep teologis Kristen berkembang melalui adaptasi budaya dan mitologi yang sudah ada sebelumnya.
Penegasan Sikap: Bukan Menghina, tetapi Menyampaikan Data
Penutup kajian ini kembali menegaskan sikap utama:
kajian ini bukan untuk menghujat, bukan untuk menghina, dan bukan untuk menistakan umat Kristen.
Yang disampaikan adalah:
- data dari ensiklopedia dunia
- kajian arkeologi biblika
- sumber Katolik
- sumber Yahudi
- dan pengakuan akademisi Kristen sendiri
Frasa “Yesus duduk di sebelah kanan Allah” dinyatakan bermasalah bukan menurut Islam, melainkan menurut gereja dan akademisi Kristen itu sendiri.
Tujuan Akhir Kajian Kristologi
Kajian ini memiliki dua tujuan utama:
- Melindungi umat Islam, khususnya generasi muda, dari pemurtadan berbasis klaim teologis yang tidak kokoh
- Mengembalikan dialog Islam-Kristen ke jalur ilmiah, jujur, dan berbasis data
Islam, sebagaimana ditegaskan di akhir kajian, tidak membangun akidah di atas asumsi, tetapi di atas wahyu yang terjaga dan data yang konsisten.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
