Alhamdulillah, sebuah kabar penuh haru datang dari Bekasi. Seorang pemuda bernama Alvian telah berdialog, merenung, dan akhirnya dengan penuh kesadaran mengucapkan dua kalimat syahadat. Ia memilih untuk kembali kepada fitrah, memilih Islam sebagai jalan hidupnya, dan berkomitmen untuk bertauhid, menyembah Allah Ta’ala semata.
Namun kisah ini tidak berhenti pada satu hati yang menemukan cahaya. Kebahagiaan itu semakin lengkap ketika, pada bulan berikutnya, sang ibu pun menyusul memeluk Islam. Sebuah anugerah yang begitu indah, ibu dan anak kembali dalam satu akidah.
Dan yang membuat kisah ini semakin menggetarkan jiwa: beberapa bulan setelah bersyahadat, sang ibu menutup mata untuk terakhir kalinya dalam keadaan beriman.
Bayangkan jika belum sempat bersyahadat. Betapa Allah memberikan kesempatan yang begitu agung sebelum ajal menjemput.
Pemuda yang Gemar Mencari Kebenaran
Alvian bukanlah sosok yang menerima sesuatu begitu saja tanpa berpikir. Sejak kecil, ia dikenal sebagai anak yang gemar bertanya, merenung, dan mencari kebenaran. Perjalanan spiritualnya bukanlah sesuatu yang instan, melainkan hasil dari proses panjang pencarian makna hidup.
Ia tumbuh dalam keluarga yang secara administratif beragama Kristen. Namun, dalam hatinya, ada ruang kosong yang terus bertanya:
“Apakah ini benar-benar keyakinan yang menenangkan?”
Pertanyaan itu semakin kuat seiring waktu. Hingga akhirnya ia berdialog, belajar, dan menemukan ketenangan dalam ajaran Islam.
Dengan penuh kesadaran ia mengucapkan:
Ashadu alla ilaha illallah, wa ashadu anna Muhammadan rasulullah.
Sebuah kalimat yang sederhana di lisan, namun mengubah seluruh arah kehidupan.
Ibu yang Pernah Meninggalkan Islam
Kisah ini menjadi semakin dalam ketika kita mengenal perjalanan sang ibu, Ibu Titik Priti.
Beliau sebenarnya terlahir sebagai seorang Muslim. Namun perjalanan hidup membawanya pada keputusan berat.
Dalam sebuah wawancara, beliau menceritakan bagaimana awal mula meninggalkan Islam:
Ketika masih muda, beliau mengenal seorang pria yang saat itu berstatus Muslim. Mereka menikah secara Islam. Buku nikah ada. Akad nikah sah secara syariat.
Namun setelah sekitar satu setengah tahun, terjadi dinamika keluarga. Suaminya kembali berhubungan dengan keluarganya yang Kristen. Tekanan keluarga mulai muncul. Situasi menjadi sulit.
Sang suami akhirnya kembali ke agama sebelumnya.
Sebagai istri, dalam kondisi tertekan dan situasi keluarga yang tidak mendukung, beliau pun mengikuti suaminya. Status agama di KTP berubah. Anak-anak pun tercatat sebagai Kristen.
Namun, apakah hatinya benar-benar berpindah?
Tidak.
Kerinduan yang Tak Pernah Padam
Selama bertahun-tahun menjalani kehidupan sebagai seorang Kristen secara administratif, ada sesuatu yang tidak pernah hilang dari hati beliau: kerinduan kepada Islam.
Beliau mengaku:
- Shalat pernah dilakukan diam-diam.
- Puasa terkadang dijalankan, meski sembunyi-sembunyi.
- Hatinya selalu bergetar ketika mendengar takbir.
- Air mata sering jatuh ketika malam takbiran.
“Kalau dengar Allahu Akbar mau tarawih itu sedih banget. Pengen banget balik…”
Kerinduan itu seperti bara yang tertutup abu. Tidak terlihat menyala, tetapi tidak pernah benar-benar padam.
Saat pulang ke rumah orang tua, ada rasa bersalah. Ada perasaan seperti “terbuang”. Namun orang tua tetap menerima. Mereka melihat cucu-cucunya dengan penuh kasih.
Sementara itu, beliau hidup dalam situasi yang tidak mudah. Suami dikenal keras. Kehidupan rumah tangga tidak selalu harmonis dalam hal keyakinan. Gereja pun bukan tempat yang membuat hati beliau benar-benar tenang.
Beliau pernah berkata jujur:
“Aku ikut, tapi enggak sampai ke hati.”
Anak-Anak yang Tetap Disunat dan Didekatkan ke Masjid
Meski tercatat sebagai Kristen, ada keputusan penting yang menunjukkan bahwa benih Islam masih hidup dalam keluarga ini.
Kedua anak laki-lakinya tetap disunat.
Bahkan dilakukan dalam program khitanan massal. Alvian sendiri disunat di Kodamar Sunter. Sebuah simbol bahwa nilai-nilai Islam belum sepenuhnya lepas dari kehidupan mereka.
Lebih dari itu, sang ibu sering membawa anak-anaknya ke rumah orang tua — lingkungan yang Muslim. Di sana mereka ikut shalat, ikut jumatan, dan berinteraksi dengan suasana Islam.
Benih itu perlahan tumbuh.
Awalnya mungkin hanya ikut-ikutan. Tapi lama-kelamaan muncul kesadaran.
Anak Lebih Dulu Bersyahadat
Menjelang akhir tahun 2024, adik Alvian lebih dulu mengucapkan syahadat. Keputusan itu murni dari keinginan sendiri, bukan paksaan.
Tak lama kemudian, Alvian pun menyusul.
Bagi seorang ibu, melihat anak-anaknya kembali kepada Islam adalah getaran batin yang luar biasa. Apa yang dulu menjadi kerinduan terpendam kini nyata di depan mata.
Melalui anak-anaknya, Allah membuka kembali pintu hidayah untuk beliau.
Ketakutan Akan Kematian Tanpa Iman
Ada satu kalimat yang begitu menyentuh dari sang ibu:
“Aku takut kalau meninggal nanti bukan diislamkan.”
Kalimat sederhana, tetapi penuh makna. Itu bukan sekadar ketakutan formalitas. Itu adalah kesadaran tentang akhir hidup.
Beliau tidak ingin menutup mata dalam keadaan jauh dari fitrah. Tidak ingin wafat tanpa dua kalimat syahadat.
Dan akhirnya, dengan penuh kesadaran, beliau kembali mengucapkan:
Ashadu alla ilaha illallah.
Tangis haru pecah. Anak-anak menyaksikan sendiri ibunya kembali ke pangkuan Islam.
Sebuah momen yang mungkin tidak akan pernah mereka lupakan sepanjang hidup.
Hidayah Itu Bisa Datang Lewat Siapa Saja
Kisah ini mengajarkan satu pelajaran besar:
Hidayah tidak selalu datang melalui ceramah besar. Tidak selalu melalui perdebatan teologis. Kadang ia datang melalui anak sendiri.
Seorang ibu yang pernah meninggalkan Islam justru kembali karena melihat kesungguhan anak-anaknya dalam mencari kebenaran.
Ini adalah bukti bahwa:
- Doa anak saleh itu nyata.
- Lingkungan kecil bisa menjadi jalan hidayah.
- Kerinduan kepada Allah tidak pernah sia-sia.
Dan yang paling menyentuh, Allah memberikan kesempatan itu sebelum ajal menjemput.
Beberapa bulan setelah bersyahadat, sang ibu wafat dalam keadaan Muslimah.
Menutup mata untuk terakhir kalinya dalam kondisi beriman.
Alhamdulillah.
Seandainya Tidak Sempat Bersyahadat…
Bayangkan jika beliau meninggal sebelum kembali mengucapkan syahadat.
Bayangkan jika kerinduan itu hanya tinggal rindu.
Namun Allah Maha Pengasih. Dia memberi waktu, memberi jalan melalui anak-anaknya. Dia juga memberi kesempatan untuk kembali.
Itulah rahmat yang luar biasa.
Kisah ini bukan hanya tentang perpindahan agama. Ini tentang:
- Pencarian kebenaran
- Tekanan keluarga
- Kerinduan yang terpendam
- Hidayah yang datang perlahan
- Dan akhir hidup yang husnul khatimah
Namun perjalanan ini belum selesai. Masih ada bagian lain dari kisah Alvian dan keluarganya yang belum kita dengar. Masih ada cerita tentang bagaimana proses dialog berlangsung, bagaimana pergolakan batin terjadi lebih dalam, serta bagaimana kehidupan mereka setelah kembali kepada Islam.
Anak-Anak Sudah Salat Sebelum Bersyahadat
Salah satu hal yang menarik dari kisah ini adalah bahwa kedua anaknya, Alvian dan Denis sebenarnya sudah menjalankan salat bahkan sebelum resmi mengucapkan dua kalimat syahadat. Mereka belajar wudu, mereka belajar gerakan salat, mereka mencari tahu kepada ustaz setempat.
Sang ibu menceritakan bahwa mereka bahkan bertanya langsung kepada ustaz di daerah Ciketing. Jawaban yang mereka terima sederhana namun tegas:
“Yang penting baca dua kalimat syahadat.”
Artinya, keyakinan harus ditegaskan. Iman tidak cukup hanya di hati, tetapi harus diikrarkan.
Menariknya, semua itu dilakukan tanpa sepengetahuan ayah mereka. Salat dilakukan di kamar. Diam-diam. Tanpa keributan.
Sang ibu memilih tidak memperbesar konflik. Baginya, yang terpenting adalah hati anak-anaknya.
“Yang penting kita mau salat ya salat.”
Ketika anak-anak sudah dewasa, mereka diberi kebebasan memilih. Tidak ada paksaan. Tidak ada tekanan. Mereka mencari dan menemukan sendiri.
Dan akhirnya… keduanya bersyahadat.
Hidayah yang Mengetuk Hati Sang Ibu
Melihat kedua anaknya kembali kepada Islam membuat hati sang ibu semakin tergugah. Hidayah itu seperti mengetuk kembali pintu yang dulu pernah ia tutup.
Ia tidak dipaksa, ia tidak ditekan, ia hanya dibukakan pemahaman.
Dialog pun terjadi, tentang perbedaan mendasar antara Islam dan Kristen. Tentang konsep ketuhanan. Tentang siapa yang disembah.
Sang ibu menyadari satu hal penting:
Dalam Islam, Allah adalah Maha Tunggal. Tidak terbagi, tidak menjadi manusia, dan tidak disekutukan.
Ia sendiri mengakui bahwa selama mengikuti Kristen, hatinya tidak pernah benar-benar tenang. Tidak ada kewajiban salat lima waktu, tidak ada kedisiplinan ibadah seperti dalam Islam dan tidak ada kedekatan spiritual yang ia rasakan dulu saat masih Muslim.
Kerinduan itu kembali menyeruak.
Ketakutan yang Sangat Manusiawi
Salah satu kalimat paling menyentuh dari Ibu Titik adalah:
“Aku takut kalau meninggal nanti bukan diislamkan.”
Itu bukan sekadar ucapan emosional. Itu adalah kesadaran akan akhir hidup.
Ia menyadari bahwa usia tidak ada yang tahu. Bahwa kematian bisa datang kapan saja. Dan ia tidak ingin kembali kepada Allah dalam keadaan menyekutukan-Nya.
Dialog tentang tauhid semakin memperjelas keyakinannya:
- Allah itu satu.
- Tidak ada Tuhan selain Allah.
- Nabi Isa (Yesus) dihormati dalam Islam sebagai nabi, bukan Tuhan.
- Dosa terbesar adalah menyekutukan Allah.
Konsep ini terasa logis dan menenangkan bagi beliau.
Kesiapan Menghadapi Risiko
Ketika ditanya apakah siap jika suami mengetahui keputusannya, jawabannya tegas:
“Biarin aja.”
Ia sudah berbicara kepada suaminya bahwa anak-anak sudah dewasa. Bahwa mereka berhak memilih jalan hidupnya. Dan ia pun kini memilih dengan sadar.
Tidak ada paksaan. Tidak ada tekanan. Hanya kesadaran dan keyakinan.
Detik-Detik Pengucapan Syahadat
Akhirnya, tibalah momen itu.
Dengan menyebut nama Allah, beliau mengikuti setiap lafaz dengan suara yang bergetar namun mantap:
Ashadu alla ilaha illallah
Wa ashadu anna Muhammadar Rasulullah
Kemudian dalam bahasa Indonesia:
“Aku bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah.
Dan aku bersaksi bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah.”
Tangis pecah.
Pelukan hangat terjadi.
Takbir menggema.
Allahu Akbar.
Sang ibu kini resmi kembali kepada Islam.
Doa untuk Keistikamahan dan Harapan untuk Suami
Setelah bersyahadat, doa pun dipanjatkan:
Semoga beliau istikamah, semoga dosa-dosanya diampuni, dan semoga Allah menjaga imannya hingga akhir hayat.
Dan satu doa besar lainnya:
Semoga sang suami suatu hari menyusul mendapatkan hidayah.
Kini, dua anak telah kembali. Sang ibu telah kembali. Tinggal satu lagi anggota keluarga yang diharapkan Allah bukakan hatinya.
Pelajaran Berharga dari Kisah Ini
Kisah ini mengajarkan banyak hal:
1. Hidayah Bisa Datang Melalui Anak
Siapa sangka, jalan kembali seorang ibu justru melalui anak-anaknya.
2. Kerinduan kepada Kebenaran Tidak Pernah Mati
Meski bertahun-tahun jauh, hati yang pernah mengenal tauhid tetap menyimpan rindu.
3. Jangan Pernah Menunda Taubat
Karena kematian tidak menunggu kesiapan kita.
4. Tauhid Adalah Fondasi Utama
Bukan sekadar ritual, tetapi tentang siapa yang kita sembah.
Husnul Khatimah yang Menggetarkan
Beberapa bulan setelah mengucapkan syahadat, Ibu Titik Priantini wafat.
Namun beliau wafat dalam keadaan Muslimah.
Dalam keadaan telah bersaksi.
Dalam keadaan kembali kepada fitrah.
Betapa besar nikmat itu.
Bayangkan jika ajal datang sebelum sempat bersyahadat.
Bayangkan jika kerinduan itu hanya menjadi penyesalan.
Namun Allah Maha Pengasih. Ia memberi waktu. Ia memberi jalan melalui anak-anaknya.
Semoga kisah ini menjadi pelajaran bagi kita semua:
- Jangan pernah menutup pintu hidayah.
- Jangan pernah merasa terlambat untuk kembali.
- Dan jangan pernah meremehkan doa seorang anak.
Semoga Allah menerima taubat beliau, melapangkan kuburnya, dan mengumpulkan keluarga ini kelak dalam surga-Nya.
Amin ya Rabbal ‘Alamin.
Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
