Kisah Mualaf dari Amerika: Perjalanan Spiritual Muhammad Brandon Menemukan Islam

Muhammad Brandon adalah seorang mualaf asal Amerika Serikat yang kini aktif dalam kegiatan dakwah Islam. Saat ini, ia juga sedang menimba ilmu agama di sebuah pondok pesantren di Batu, Malang, Jawa Timur. Perjalanan hidupnya menuju Islam bukanlah perjalanan singkat, melainkan proses panjang pencarian kebenaran yang dilandasi oleh kejujuran intelektual dan ketulusan hati.

Sebelum memeluk Islam, Brandon berasal dari keluarga Kristen dan menghabiskan masa kecilnya dalam lingkungan pendidikan agama Kristen yang cukup kuat. Ia mempelajari Alkitab (Bible) secara mendalam sejak usia muda. Namun, seiring berjalannya waktu, muncul pertanyaan-pertanyaan besar dalam benaknya tentang konsep ketuhanan dan makna ibadah yang ia jalani.

Pencarian Kebenaran dan Awal Ketertarikan pada Islam

Brandon menceritakan bahwa sejak muda ia memang didorong untuk mengenal berbagai agama. Seseorang yang dekat dengannya pernah menyarankan agar ia mencoba mempelajari beragam keyakinan, termasuk Islam. Dari sanalah langkah awal perkenalannya dengan Islam dimulai.

Ia pertama kali datang ke masjid di Amerika Serikat bukan karena niat besar untuk berpindah agama, melainkan karena ajakan seorang teman. Bahkan, ia mengaku awalnya tertarik karena alasan yang sangat sederhana: makanan gratis. Namun, dari kunjungan sederhana itulah, hidupnya perlahan berubah.

Di masjid, Brandon bertemu dengan kaum Muslim dari berbagai latar belakang: ada yang berasal dari Amerika sendiri, baik kulit hitam maupun kulit putih, serta imigran dari India, Mesir, Turki, Palestina, Indonesia, dan berbagai negara lainnya. Keberagaman ini sangat membekas dalam hatinya.

Islam dan Persatuan dalam Keberagaman

Salah satu hal yang paling mengagumkan bagi Brandon adalah bagaimana Islam mampu menyatukan orang-orang yang berbeda ras, bangsa, dan budaya. Meski terkadang terdapat perbedaan pendapat, mereka tetap bisa duduk bersama, shalat bersama, dan menjaga persaudaraan.

Ia melihat langsung bagaimana ajaran Nabi Muhammad ﷺ mengajarkan adab dalam berselisih dan cara hidup berdampingan dengan damai. Pengalaman inilah yang membuka matanya bahwa Islam bukan sekadar agama ritual, tetapi juga sistem kehidupan yang mengatur hubungan antar manusia.

Konsep Ketuhanan yang Menyentuh Hati

Salah satu titik balik terbesar dalam perjalanan spiritual Brandon adalah pemahamannya tentang konsep tauhid. Dalam Islam, Tuhan adalah satu, Allah Yang Maha Esa. Tidak terbagi, tidak berbilang.

Ia membandingkan hal ini dengan konsep Trinitas dalam ajaran Kristen yang selama ini ia pelajari. Baginya, konsep “tiga dalam satu” tidak pernah benar-benar masuk akal. Ia menyampaikan dengan sederhana namun tegas bahwa secara logika, tiga tetaplah tiga, bukan satu.

Ketika Brandon mendengar penjelasan Islam tentang keesaan Allah, hatinya merasa mantap. Ia merasa menemukan jawaban atas kegelisahan yang selama ini ia rasakan.

Belajar Adab, Kebersihan, dan Shalat

Setelah semakin sering datang ke masjid, Brandon mulai mempelajari Islam lebih dalam. Brandon belajar tentang adab, yaitu tata krama dan akhlak dalam kehidupan sehari-hari. Ia menyadari bahwa banyak kebiasaan dalam budaya Barat yang ternyata kurang sejalan dengan nilai-nilai kebersihan dan kesucian dalam Islam.

Ia juga belajar bagaimana cara bersuci, menjaga kebersihan, dan yang paling penting: shalat. Untuk pertama kalinya, ia merasakan kedekatan langsung dengan Tuhan melalui ibadah yang teratur dan terarah.

Brandon mengungkapkan bahwa saat itulah ia benar-benar yakin. Sekitar 20 tahun yang lalu, ia mengucapkan dua kalimat syahadat. Sejak saat itu, hidupnya berubah. Dengan penuh rasa syukur, ia berkata, “Alhamdulillah, sekarang saya seorang Muslim.”

Amerika, Keberagaman, dan Latar Belakang Keluarga

Dalam salah satu kesempatan berbagi kisahnya, Brandon juga menceritakan tentang Amerika Serikat, negara asalnya yang sangat besar dan beragam, mirip dengan Indonesia. Ia menunjukkan foto-foto lama, termasuk foto kakek buyutnya di Chicago pada tahun 1926, hampir satu abad yang lalu.

Ia menjelaskan bahwa Amerika memiliki banyak wajah: kota besar seperti New York dengan kawasan Chinatown dan Little Italy, wilayah gurun, pegunungan, hutan hujan, hingga dataran luas. Keberagaman geografis dan budaya ini membentuk cara pandangnya terhadap dunia dan memperkuat ketertarikannya pada Islam sebagai agama yang universal.

Kehidupan di Amerika: Knoxville, Tennessee dan Keberagaman Budaya

Dalam lanjutan ceritanya, Muhammad Brandon mengajak para pendengar mengenal lebih dekat kampung halamannya di Amerika Serikat. Ia berasal dari sebuah kota bernama Knoxville, Tennessee, yang terletak sekitar empat jam perjalanan dari Nashville. Wilayah ini terkenal dengan keindahan alamnya, terutama Pegunungan Great Smoky Mountains yang membentang megah di latar belakang kota.

Brandon menunjukkan berbagai foto lama dan baru tentang kota asalnya. Pegunungan tersebut merupakan salah satu pegunungan tertua secara geologis di dunia dan memiliki keragaman tumbuhan yang sangat tinggi. Melihat foto-foto itu, Brandon mengaku rindu akan kampung halamannya.

Tennessee juga dikenal sebagai salah satu pusat musik di Amerika, khususnya musik country. Ia menyebut nama Hank Williams, legenda musik country yang sangat terkenal, serta Elvis Presley, ikon musik rock and roll dunia yang berasal dari negara bagian yang sama, meskipun dari kota berbeda. Hal ini menunjukkan bahwa budaya Amerika sangat lekat dengan musik dan seni.

Pertemanan, Musik, dan Kehidupan Sosial

Brandon juga menceritakan tentang kehidupan sosialnya di Amerika. Ia memiliki banyak teman dari berbagai latar belakang etnis dan negara. Salah satu temannya berasal dari Armenia dan pandai memainkan alat musik oud, alat musik petik yang mirip gitar dan populer di Timur Tengah. Teman lainnya berasal dari Tiongkok dan memainkan seruling.

Ia memperlihatkan foto-foto kebersamaan mereka, mulai dari bermain musik di ruang tamu, berkumpul sambil makan bersama, hingga menikmati alam di perbukitan Tennessee. Semua itu semakin menegaskan bahwa Amerika adalah negara yang sangat multikultural.

Menurut Brandon, masyarakat Amerika datang dari berbagai penjuru dunia. Mereka hidup berdampingan, saling mengenal budaya satu sama lain, dan membangun pertemanan lintas agama serta bangsa.

Komunitas Muslim di Amerika

Selain kehidupan sosial secara umum, Brandon juga menyoroti keberadaan komunitas Muslim di Amerika. Ia menunjukkan foto kebersamaan komunitas Muslim yang rutin mengadakan pertemuan tahunan di sebuah tempat bernama Coker Creek.

Dalam kegiatan tersebut, mereka melakukan berbagai aktivitas seperti arung jeram, mendaki gunung, bermain basket, dan sepak bola. Kegiatan ini bukan hanya untuk rekreasi, tetapi juga untuk mempererat ukhuwah Islamiyah di tengah minoritas Muslim di Amerika.

Ia menegaskan bahwa meskipun sering ada anggapan negatif tentang Amerika, seperti isu senjata api,secara umum Amerika adalah tempat yang aman dan masyarakatnya dapat hidup rukun. Menurutnya, umat Islam di Amerika pada umumnya diterima dengan baik dan mampu hidup berdampingan dengan masyarakat luas.

Hidup di Amerika dan Pertumbuhan Islam

Dalam sesi tanya jawab, Brandon ditanya tentang bagaimana rasanya hidup di Amerika. Ia menjawab bahwa hidup di Amerika terasa cukup nyaman. Transportasi didominasi oleh mobil, bukan sepeda motor seperti di Indonesia. Pilihan makanan sangat beragam, meskipun tidak semuanya sehat. Ia juga menyoroti perbedaan budaya makan, terutama kebiasaan makan nasi yang jauh lebih sering di Indonesia dibandingkan di Amerika.

Namun, secara emosional, Brandon merasa hidup di Amerika cukup baik. Ia hanya berharap jumlah Muslim di sana semakin bertambah. Ia lalu menyampaikan sebuah fakta penting: Islam adalah agama dengan pertumbuhan tercepat di Amerika, bahkan di seluruh dunia. Pernyataan ini ia sampaikan dengan penuh keyakinan dan rasa syukur.

Keteguhan Iman dan Keimanan kepada Tauhid

Ketika ditanya apakah ia pernah memiliki keinginan untuk kembali memeluk agama Kristen, Brandon menjawab dengan tegas bahwa ia tidak memiliki keinginan tersebut sama sekali. Baginya, setelah mengenal Islam dan meyakini kebenarannya, tidak ada alasan untuk kembali.

Ia menjelaskan bahwa orang-orang yang meninggalkan Islam biasanya bukan karena alasan intelektual, melainkan faktor emosional, seperti tekanan keluarga atau lingkungan. Menurut Brandon, kunci utama dalam menerima Islam adalah ketulusan (sincerity). Jika seseorang benar-benar tulus, maka ia akan menerima kebenaran Islam dan konsep Tauhid, yaitu keyakinan kepada satu Tuhan.

Sekali lagi, ia menegaskan bahwa Allah adalah satu, bukan dua dan bukan tiga. Konsep ketuhanan inilah yang membuat Islam terasa sangat jelas dan logis baginya.

Budaya Sehari-hari di Amerika: Kendaraan, Makanan, dan Hewan Peliharaan

Dalam pertanyaan lainnya, Brandon menjelaskan tentang kehidupan sehari-hari di Amerika. Kendaraan di Amerika bervariasi, mulai dari mobil kecil hingga truk besar beroda 18 yang ukurannya jauh lebih besar dibandingkan truk di Indonesia. Ia sendiri pernah menjadi sopir truk besar di Amerika.

Soal makanan, ia menyebutkan berbagai makanan populer seperti hot dog, hamburger, steak, ayam goreng, pizza, spaghetti, sandwich, serta makanan dari berbagai negara seperti Cina dan Meksiko.

Ketika ditanya tentang hewan peliharaan, Brandon menjelaskan bahwa masyarakat Amerika biasanya memelihara anjing atau kucing. Namun, ada juga yang memelihara hewan eksotis seperti kelinci, ular besar, ikan, bahkan rakun dan possum, hewan yang mirip tikus besar tetapi sebenarnya jinak dan cerdas.

Cinta pada Amerika dan Indonesia

Brandon dengan jujur mengatakan bahwa ia mencintai Amerika karena itulah tanah kelahirannya. Namun, ia juga mengungkapkan kecintaannya pada Indonesia. Menurutnya, orang Indonesia adalah salah satu masyarakat terbaik yang pernah ia temui selama berkeliling dunia.

Ia mengaku rindu Amerika, tetapi merasa sangat nyaman dan bahagia berada di Indonesia.

Awal Kisah Hijrah: Sosok Guru yang Berpengaruh

Menjelang akhir sesi ini, Brandon mulai menceritakan kembali kisah awal dirinya masuk Islam. Ia menyebutkan sosok seorang guru yang sangat ia hormati. Menariknya, guru tersebut bukan seorang Muslim, melainkan penganut agama Sikh, agama besar kelima di dunia yang berasal dari India Utara dan dikenal dengan sorban serta gelang khas di pergelangan tangan.

Dari sosok guru inilah, perjalanan intelektual dan spiritual Brandon semakin berkembang, membuka jalan menuju pemahaman agama-agama dan akhirnya mengantarkannya pada Islam.

Peran Seorang Guru dan Awal Keputusan Memeluk Islam

Muhammad Brandon mengungkapkan bahwa salah satu sosok paling berpengaruh dalam perjalanan spiritualnya adalah seorang guru yang sangat ia hormati. Menariknya, guru tersebut bukanlah seorang Muslim, melainkan penganut agama Sikh, salah satu agama terbesar di dunia yang berasal dari India Utara.

Ia menjelaskan ciri khas pemeluk Sikh yang mengenakan sorban (turban), gelang besi di pergelangan tangan yang disebut kara (dalam transkrip disebut kata), memelihara janggut panjang, serta tidak memotong rambut. Bahkan, sebagian dari mereka membawa simbol belati kecil sebagai bagian dari keyakinan agama mereka.

Guru Sikh inilah yang justru mendorong Brandon untuk mempelajari berbagai agama dengan pikiran terbuka. Dari sekian banyak agama yang ia sarankan untuk dipelajari, Islam menjadi salah satu yang paling direkomendasikan. Brandon kemudian kembali mendatangi masjid, berinteraksi lebih dekat dengan para Muslim, dan akhirnya menemukan kebenaran Islam yang selama ini ia cari.

“Ketika saya mendengar kebenaran Islam, saya langsung menjadi Muslim,” ujarnya singkat, menggambarkan betapa mantap keputusan tersebut diambil.

Doa untuk Orang-Orang Tercinta

Meski telah memeluk Islam dengan keyakinan penuh, Brandon tidak melupakan orang-orang yang ia cintai. Ia dengan rendah hati meminta para pendengar untuk mendoakan gurunya agar suatu hari mendapat hidayah dan memeluk Islam.

Hal yang sama juga ia sampaikan tentang ibunya. Ayah Brandon telah wafat sebelum ia masuk Islam, sementara ibunya masih beragama Kristen dan merupakan seorang penganut yang taat. Awalnya, sang ibu merasa berat menerima keputusan Brandon, namun karena cinta seorang ibu kepada anaknya, akhirnya ia bisa menerima pilihan tersebut.

Dengan penuh harap, Brandon meminta doa agar ibunya suatu hari kelak juga mendapatkan hidayah.

Pengalaman Pertama Menginjakkan Kaki di Indonesia

Saat ditanya tentang pengalaman pertamanya datang ke Indonesia, Brandon menceritakannya dengan penuh humor. Setelah menempuh perjalanan panjang dan tidak tidur selama hampir dua hari, ia tiba di Indonesia pada malam hari dalam kondisi sangat lelah.

Begitu pintu pesawat terbuka, hawa panas langsung menyambutnya, panas yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Belum lagi serangan nyamuk yang membuatnya benar-benar kewalahan. Selama beberapa hari pertama, ia jatuh sakit dan hanya bisa berbaring di tempat tidur.

Perlahan, kondisinya membaik setelah minum air kelapa dan mencicipi makanan khas Indonesia seperti nasi goreng, rendang, dan sate. Sejak saat itu, ia mulai beradaptasi dan jatuh cinta pada Indonesia.

Kehidupan Muslim di Amerika dan Tantangannya

Brandon juga membagikan tantangan yang ia hadapi sebagai seorang Muslim di Amerika. Salah satu tantangan terbesar adalah mencari makanan halal, karena sebagian besar restoran di Amerika belum menyediakan makanan sesuai syariat Islam.

Tantangan lainnya adalah masalah berwudhu di tempat umum. Tidak semua fasilitas umum di Amerika ramah bagi kebutuhan ibadah Muslim, sehingga ia dan Muslim lainnya sering harus beradaptasi dengan kondisi yang ada.

Meski demikian, Brandon menegaskan bahwa tantangan tersebut tidak melemahkan imannya, justru semakin menguatkannya.

Alasan Tinggal di Indonesia dan Menuntut Ilmu

Keputusan Brandon untuk tinggal di Indonesia bukanlah tanpa alasan. Ia pertama kali datang ke Indonesia karena studi akademiknya. Ia mempelajari musik tradisional dari berbagai belahan dunia, termasuk musik tradisional Indonesia.

Selain itu, keinginannya untuk mempelajari Islam lebih dalam juga menjadi alasan utama. Kini, ia menetap di Indonesia dan menimba ilmu agama di sebuah pondok pesantren di Batu, Malang, belajar langsung dari para ustaz dan kiai setiap hari.

Cinta Dua Tanah Air: Amerika dan Indonesia

Dengan jujur, Brandon mengungkapkan bahwa ia mencintai Amerika karena itu adalah tanah kelahirannya. Namun, ia juga sangat mencintai Indonesia. Menurutnya, masyarakat Indonesia adalah orang-orang yang ramah, sabar, dan memiliki hati yang lembut.

Ia menyebut bahwa tempat terbaik di Indonesia bukanlah lokasi wisata terkenal, melainkan masjid. Salah satu pengalaman paling berkesan baginya adalah saat berada di sebuah masjid besar di Solo, berdesakan bersama jamaah lain dalam suasana panas dan penuh sesak, namun justru merasakan kedamaian dan kebersamaan yang luar biasa.

Islam, Kebenaran, dan Perjalanan Hidup

Di akhir kisahnya, Muhammad Brandon menegaskan kembali bahwa Islam adalah kebenaran yang ia temukan melalui pencarian panjang, kejujuran intelektual, dan ketulusan hati. Baginya, Islam bukan sekadar agama, melainkan jalan hidup yang memberikan makna, arah, dan ketenangan.

Perjalanan Brandon dari Amerika Serikat, latar belakang Kristen, pencarian lintas agama, hingga akhirnya menetap di Indonesia dan belajar di pesantren menjadi bukti bahwa hidayah Allah dapat datang melalui jalan yang tak terduga.

Kisah ini bukan hanya tentang perpindahan agama, tetapi tentang keberanian mencari kebenaran dan kesediaan untuk menerima cahaya ketika kebenaran itu datang.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

PRODUK PARFUM AYA SOFYA


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat

DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451

BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.