HINDUISME: MEMPELAJARI AGAMA HINDU UNTUK MAKIN CINTA KEPADA ISLAM

Seminar Dakwah Milenial di Kota Batu Malang

Seminar Dakwah Milenial dengan tema “Menumbuhkan Mental Dakwah di Era Tantangan Zaman” menjadi ruang refleksi dan penguatan peran generasi muda dalam menyampaikan nilai-nilai Islam di tengah perubahan sosial yang begitu cepat. Acara ini diawali dengan suasana khidmat dan penuh keberkahan, mencerminkan keseriusan panitia dan peserta dalam mengikuti rangkaian kegiatan sejak awal.

Pembukaan dan Tilawah Al-Qur’an

Acara dibuka dengan salam dan doa, kemudian dilanjutkan dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang dibacakan oleh saudari Asiah. Tilawah yang dibacakan berasal dari Surah Ali Imran ayat 102 hingga 107, ayat-ayat yang menegaskan pentingnya ketakwaan kepada Allah, persatuan umat, serta kewajiban amar ma’ruf nahi munkar.

Ayat-ayat tersebut mengingatkan bahwa umat Islam diperintahkan untuk berpegang teguh pada tali Allah dan tidak berpecah belah. Nilai inilah yang menjadi landasan utama dakwah, terlebih di era milenial yang penuh tantangan ideologis, budaya, dan spiritual. Dengan tilawah ini, diharapkan seluruh rangkaian acara dapat berjalan dengan lancar dan diridai oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Memasuki Sesi Materi

Setelah tilawah Al-Qur’an, acara dilanjutkan dengan sesi materi pertama yang disampaikan oleh Al-Ustaz Prof. Dr. Mina Ali, didampingi oleh Bapak Guru. Materi ini menjadi pengantar penting sebelum peserta memasuki sesi diskusi yang lebih mendalam.

Dalam sambutannya, Prof. Dr. Mina Ali menyampaikan rasa syukur serta penghormatan kepada para pembimbing dan seluruh peserta, khususnya para mahasiswi Universitas Darussalam Gontor yang hadir di Kota Batu, Malang. Kehadiran peserta dari latar belakang akademik ini menunjukkan bahwa dakwah milenial tidak bisa dilepaskan dari peran intelektual muda.

Pengantar Relasi Hindu dan Islam

Sebagai pengantar materi, Prof. Dr. Mina Ali mengangkat tema yang sangat menarik, yakni relasi antara agama Hindu dan Islam. Menurut beliau, pembahasan ini penting untuk membangun pemahaman lintas agama yang lebih dewasa dan proporsional, terutama dalam konteks dakwah di masyarakat majemuk.

Beliau menampilkan sebuah slide berisi tulisan dalam aksara Dewanagari, yaitu aksara yang digunakan dalam bahasa Sanskerta. Bahasa ini menjadi bagian penting dalam tradisi keagamaan Hindu. Menariknya, Prof. Dr. Mina Ali menjelaskan bahwa banyak kosakata Sanskerta yang sudah mengalami proses “Indonesianisasi” dan digunakan dalam bahasa sehari-hari masyarakat Indonesia, seperti kata surga, neraka, bakti, eka, dan lain sebagainya.

Hal ini menunjukkan bahwa secara kultural dan linguistik, terdapat irisan yang cukup kuat antara tradisi Hindu dan budaya Nusantara yang kini hidup berdampingan dengan Islam.

Kitab Bhagavad Gita dan Konsep Dharma

Lebih lanjut, Prof. Dr. Mina Ali mengutip salah satu ayat terkenal dari Srimad Bhagavad Gita, kitab suci yang sangat dicintai oleh umat Hindu di seluruh dunia, termasuk di Nusantara. Ayat ini dikenal luas dan sering dihafal oleh para penganut Hindu.

Dalam ayat tersebut muncul istilah dharma, yang secara makna dapat diartikan sebagai kebenaran atau hukum yang lurus. Menariknya, Prof. Dr. Mina Ali menjelaskan bahwa dalam terjemahan Bhagavad Gita versi bahasa Arab, istilah dharma diterjemahkan dengan kata ad-dīn, yang dalam Islam berarti agama.

Terjemahan ini dilakukan oleh tokoh penting dalam gerakan Hare Krishna, yakni A.C. Bhaktivedanta Swami, dan menjadi bahan diskusi yang sangat menarik dalam memahami titik temu konseptual antara Islam dan Hindu, khususnya dalam konteks makna agama, kebenaran, dan jalan hidup manusia.

Agama Samawi dan Agama Ardi: Sebuah Diskursus

Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Mina Ali juga menyinggung istilah yang sering digunakan dalam kajian perbandingan agama, yaitu agama samawi dan agama ardi. Islam, Kristen, dan Yahudi sering dikategorikan sebagai agama samawi karena diyakini diturunkan langsung dari Tuhan, sementara Hindu kerap dimasukkan ke dalam kategori agama ardi, yang dianggap lahir dari pemikiran manusia.

Namun, menurut beliau, pembagian ini masih sangat debatable dan perlu dikaji ulang secara lebih adil dan ilmiah. Dalam Al-Qur’an, memang disebutkan kitab-kitab seperti Taurat, Injil, dan Zabur beserta para nabi pembawanya. Akan tetapi, jika ditelaah lebih dalam, terdapat ayat-ayat dalam kitab-kitab lain yang juga mengandung konsep ketuhanan dan penciptaan alam semesta yang sejalan dengan pesan tauhid.

Sebagai contoh, Prof. Dr. Mina Ali mengutip ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, lalu membandingkannya dengan ayat dalam Kitab Taurat yang memiliki pesan serupa, meskipun dengan redaksi yang berbeda.

Pada titik inilah diskusi mengenai relasi Islam dan Hindu menjadi semakin menarik untuk dilanjutkan, terutama dalam konteks dakwah yang mengedepankan dialog, pemahaman, dan kebijaksanaan di tengah masyarakat plural.

Meninjau Ulang Konsep Agama Langit dan Agama Bumi

Prof. Dr. Mina Ali kemudian mengajak peserta untuk meninjau ulang konsep umum tentang agama langit dan agama bumi. Dalam Kitab Taurat terdapat ayat yang berbunyi “Pada mulanya Allah telah menciptakan langit dan bumi” (Bereshit bara Elohim). Karena adanya kesamaan konsep penciptaan ini dengan Al-Qur’an, Taurat kemudian dikategorikan sebagai kitab samawi atau agama langit. Hal ini juga berlaku bagi Al-Qur’an yang secara jelas bersumber dari wahyu Ilahi.

Namun persoalan muncul ketika pertanyaan diajukan: apakah nama kitab suci Weda atau Bhagavad Gita disebutkan secara eksplisit dalam Al-Qur’an? Apakah nama-nama seperti Sri Krishna atau Rama tercantum di dalamnya? Secara tekstual, jawabannya memang tidak ada. Berbeda dengan Taurat, Zabur, dan Injil yang disebutkan secara jelas, termasuk nama-nama nabi dan ayat-ayatnya.

Akan tetapi, Prof. Dr. Mina Ali menegaskan bahwa ketiadaan penyebutan nama secara eksplisit tidak serta-merta meniadakan substansi wahyu. Justru, jika ditelusuri lebih dalam, terdapat ayat-ayat Al-Qur’an yang memiliki relasi makna dan konsep dengan teks-teks dalam kitab suci Hindu.

Harut dan Marut: Relasi Al-Qur’an dan Rigweda

Salah satu contoh yang dikemukakan adalah kisah Harut dan Marut dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Baqarah disebutkan adanya dua malaikat di negeri Babilonia yang bernama Harut dan Marut. Jika ditelusuri melalui kajian ulama klasik seperti Imam Jalaluddin As-Suyuthi dalam kitab Al-Itqan fi Ulumil Qur’an, dijelaskan bahwa dalam Al-Qur’an terdapat sejumlah istilah non-Arab yang mengalami proses arabisasi, berasal dari bahasa Yunani, Ibrani, Persia, dan lainnya.

Istilah Marut sendiri, ketika ditelusuri lebih jauh, ternyata memiliki akar dalam Kitab Rigweda, yang dikenal dengan sebutan Devata Dev Maruta. Dalam bahasa Sanskerta, dev berarti cahaya. Sementara dalam Islam, malaikat diciptakan dari cahaya (nur). Dengan demikian, terdapat kesamaan makna antara dev (cahaya) dan nur (cahaya), yang menunjukkan adanya relasi konseptual antara Al-Qur’an dan Rigweda.

Contoh ini menjadi bukti bahwa terdapat benang merah teologis antara kitab suci Islam dan teks-teks Hindu, meskipun menggunakan istilah dan bahasa yang berbeda.

Siang untuk Bekerja, Malam untuk Istirahat

Contoh lain yang disampaikan adalah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan bahwa Allah menjadikan malam untuk istirahat dan siang untuk mencari rezeki. Konsep ini ternyata juga ditemukan dalam Kitab Manawa Dharma Sastra, salah satu kitab penting dalam tradisi Hindu.

Manawa Dharma Sastra berasal dari tiga kata: Manawa (Manu), Dharma (kebenaran), dan Sastra (kitab suci). Manu dalam tradisi Hindu adalah sosok suci yang diperintahkan Tuhan untuk membuat bahtera besar guna menyelamatkan umat manusia dari banjir besar. Dalam perspektif Islam, sosok ini memiliki kesesuaian dengan Nabi Nuh.

Dalam Manawa Dharma Sastra terdapat ayat yang berbunyi bahwa malam diciptakan untuk istirahat makhluk hidup, dan siang diciptakan untuk bekerja dan berkarya. Makna ayat ini sejalan dengan pesan yang terdapat dalam Al-Qur’an. Kesamaan ini menimbulkan pertanyaan akademik yang serius: jika substansi ajarannya sama, mengapa kitab-kitab tersebut langsung dikategorikan sebagai produk manusia?

Mendiskusikan Ulang Definisi Agama

Dari titik ini, Prof. Dr. Mina Ali menekankan bahwa definisi agama samawi dan agama ardi perlu didiskusikan ulang secara akademik dan objektif. Jika teks-teks dalam kitab Hindu memiliki kesamaan dengan Al-Qur’an, sebagaimana Taurat dan Zabur, maka klasifikasi tersebut tidak bisa diterima begitu saja tanpa kajian mendalam.

Beliau mengajak peserta untuk membandingkan kasus ini dengan Zabur. Dalam Surah Al-Anbiya ayat 105, Al-Qur’an menyebutkan bahwa orang-orang saleh akan mewarisi bumi. Ayat ini juga ditemukan dalam Kitab Zabur, meskipun dalam bahasa Ibrani. Artinya, kesamaan substansi wahyu lintas kitab suci merupakan hal yang nyata dan dapat diverifikasi.

Konsep Ketuhanan dalam Tradisi Hindu dan Islam

Selanjutnya, Prof. Dr. Mina Ali mengulas konsep ketuhanan dalam tradisi Hindu. Dalam teks-teks Hindu terdapat pernyataan “Ekam Brahman” yang berarti Tuhan itu Maha Esa, namun dikenal oleh orang-orang suci dengan berbagai nama. Nama-nama seperti Agni, Yama, Indra, Mitra, hingga Brahma, Wisnu, dan Siwa dipahami sebagai sebutan-sebutan sifat Tuhan.

Dalam Islam, konsep ini dikenal dengan Asmaul Husna, yaitu nama-nama Allah yang indah. Misalnya, Brahma dipahami sepadan dengan Al-Khaliq (Maha Pencipta), sementara Siwa dapat disejajarkan dengan Al-Malik (Maha Raja).

Perbedaannya terletak pada praktik. Dalam Islam, nama-nama Tuhan tidak boleh dipersonifikasikan dalam bentuk gambar atau patung. Sedangkan dalam tradisi Hindu, personifikasi diperbolehkan, khususnya bagi kalangan awam. Namun dalam tradisi Brahmana atau kalangan intelektual Hindu, personifikasi tersebut justru tidak dianjurkan.

Di sinilah terlihat bahwa terdapat persamaan substansi dan perbedaan ekspresi dalam memahami Ketuhanan.

Kesatuan Risalah Para Nabi

Dalam tradisi Islam, seluruh nabi membawa risalah yang sama, yaitu Islam, dalam pengertian teologis: kepasrahan dan kedamaian kepada Tuhan. Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, hingga Nabi Muhammad ﷺ membawa ajaran yang bersumber dari Tuhan yang satu, meskipun kitab dan syariat yang dibawa berbeda-beda.

Al-Qur’an juga menegaskan bahwa setiap kaum memiliki nabi yang berbicara dengan bahasa kaumnya masing-masing. Oleh karena itu, pesan ketuhanan yang sama bisa hadir dalam beragam bahasa dan istilah.

Makna Damai dalam Berbagai Tradisi Agama

Kata Islam sendiri dalam bahasa Arab bermakna damai dan sejahtera. Didalam tradisi Islam dikenal salam Assalamu’alaikum. Dalam bahasa Aram (bahasa Nabi Isa) dikenal kata Shlomo. Di bahasa Ibrani dikenal Shalom. Dalam tradisi Hindu terdapat ungkapan Om Shanti Shanti Shanti Om, yang juga berarti damai sejahtera. Sedangkan dalam tradisi Konghucu dikenal istilah Sanchai, yang memiliki makna serupa.

Semua tradisi ini menunjukkan bahwa pesan utama agama-agama besar dunia adalah kedamaian, meskipun disampaikan dalam bahasa dan simbol yang berbeda-beda.

Bahasa Perdamaian dalam Berbagai Tradisi Agama

Prof. Dr. Mina Ali menegaskan bahwa meskipun istilah yang digunakan berbeda-beda, salam, shalom, shanti, sancai, semuanya bermuara pada satu makna yang sama, yaitu damai sejahtera. Perbedaan bahasa tidak mengubah substansi pesan ketuhanan yang dibawa oleh masing-masing tradisi.

Temuan ini, menurut beliau, merupakan ladang penelitian yang sangat luas dan layak untuk ditindaklanjuti secara akademik. Oleh karena itu, beliau mengajak peserta untuk mulai membaca ulang definisi-definisi klasik yang selama ini digunakan dalam literatur keagamaan, khususnya istilah agama ardi dan agama samawi. Pertanyaannya, apakah klasifikasi tersebut masih relevan jika ditinjau dengan pendekatan ilmu pengetahuan dan penelitian kekinian?

Dalam konteks ini, pembacaan ulang bukan dimaksudkan untuk mengaburkan akidah atau menyamakan semua agama, melainkan untuk memahami mana wilayah persamaan dan mana wilayah perbedaan secara jujur dan ilmiah.

Hindu Jawa dan Hindu India dalam Perspektif Sejarah

Prof. Dr. Mina Ali kemudian menyinggung hasil penelitian Profesor Korn dalam bukunya Hindu-Javanische Geschiedenis yang diterbitkan pada era 1940-an. Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa terdapat perbedaan antara Hindu di Jawa dan Hindu di India, baik dari segi tradisi, ritual, maupun praktik keberagamaannya.

Meski sama-sama berakar pada Kitab Weda, ekspresi keagamaannya berkembang sesuai dengan konteks budaya masing-masing wilayah. Hindu Jawa dan Hindu India menggunakan bahasa ritual yang berbeda, meskipun unsur-unsur Sanskerta tetap hadir di keduanya.

Bahkan, pengaruh bahasa Sanskerta tidak hanya terbatas pada tradisi Hindu, tetapi juga masuk ke dalam bahasa Jawa, bahasa Melayu, dan bahasa Indonesia modern. Termasuk di dalamnya istilah-istilah yang kini akrab dalam kehidupan umat Islam, seperti surga dan neraka yang berasal dari kata svarga dalam Sanskerta.

Demikian pula istilah puasa. Dalam bahasa Arab dikenal dengan shaum, dalam bahasa Jawa menjadi poso, dan dalam bahasa Sanskerta berasal dari kata upavasa. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa dan budaya lintas agama saling berkelindan dan tidak dapat dipisahkan secara kaku.

Agama dari Sumber yang Sama

Dari pemaparan tersebut, Prof. Dr. Mina Ali menyampaikan pandangan bahwa agama-agama di muka bumi pada hakikatnya bersumber dari satu sumber yang sama, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Islam hadir bukan untuk menghapus keberadaan agama-agama sebelumnya, melainkan untuk menyempurnakan dan meluruskan ajaran tauhid.

Penegasan ini disampaikan untuk menghindari kesalahpahaman. Kajian ini bukan bertujuan menyamakan semua agama atau mengaburkan batas akidah, melainkan mendorong umat agar mampu melihat perbedaan dan persamaan secara proporsional dan dewasa.

Memasuki Sesi Diskusi

Setelah pengantar materi disampaikan, sesi dilanjutkan dengan diskusi yang dipandu oleh moderator Ahlan Husin Qardi. Moderator membuka diskusi dengan pertanyaan mengenai perbedaan paling spesifik antara Hindu Jawa dan Hindu India, baik dari segi ibadah maupun tradisi.

Pertanyaan ini kemudian dijawab oleh Pak Sugono, yang berasal dari komunitas Tengger dan memiliki pengalaman langsung sebagai penganut Hindu sebelum memeluk Islam.

Pengalaman Personal sebagai Penganut Hindu Jawa

Pak Sugono mengawali jawabannya dengan memperkenalkan latar belakang dirinya. Ia berasal dari masyarakat Tengger dan dibesarkan dalam tradisi Hindu Jawa hingga tahun 1990 sebelum akhirnya memeluk Islam. Salam yang digunakannya dahulu bukan Assalamu’alaikum, melainkan Om Swastiastu.

Dalam pengalamannya, Hindu Jawa yang ia jalani bersifat sangat sederhana dan berbasis hafalan. Ia tidak pernah diajarkan membaca kitab suci secara tekstual, tidak mempelajari tulisan, bahkan tidak mengenal makna mendalam dari bacaan-bacaan ritual. Praktik keagamaannya dilakukan secara turun-temurun melalui hafalan doa dan ritual adat.

Ia menjelaskan bahwa tempat ibadah yang digunakan bukan pura, melainkan sanggar pamujan, yaitu tempat untuk memuji dan berdoa. Tradisi ini diwariskan oleh orang tua, kakek, dan neneknya yang seluruhnya merupakan penganut Hindu Jawa di kawasan pegunungan Bromo.

Doa dan Ritual dalam Hindu Jawa

Pak Sugono kemudian mencontohkan beberapa doa yang dahulu dihafalnya, yang dilafalkan dalam bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno. Doa-doa tersebut dibaca dalam ritual sembahyang dan penyucian diri, mirip dengan fungsi doa dalam Islam seperti Al-Fatihah atau niat bersuci.

Ia juga menjelaskan bahwa dalam praktik Hindu Jawa yang ia kenal, tidak terdapat pemahaman teologis yang sistematis tentang Tuhan. Yang dikenal hanyalah penyebutan nama-nama ketuhanan seperti Siwa, Mahadewa, dan Iswara sebagai Tuhan Yang Maha Tinggi, tanpa penjelasan konseptual yang mendalam.

Berbeda dengan Hindu modern yang kini banyak dipengaruhi tradisi Bali, lengkap dengan patung, sesaji, dan struktur pura, Hindu Jawa di kawasan Tengger pada masa itu sangat sederhana dan minim simbol visual.

Pendidikan Keagamaan Berbasis Tradisi Lisan

Dalam penutup pengalamannya yang masih menjadi bagian dari diskusi panjang, Pak Sugono menegaskan bahwa Hindu Jawa yang ia jalani merupakan agama berbasis tradisi lisan. Tidak ada pendidikan formal, tidak ada pembelajaran kitab secara tekstual, dan tidak ada kewajiban membaca atau menulis.

Segala bentuk pengajaran dilakukan melalui hafalan doa, ritual bersama, dan nasihat para sesepuh. Pengalaman inilah yang menjadi dasar pemahamannya tentang perbedaan Hindu Jawa dan Hindu India, serta bagaimana agama berkembang sesuai dengan konteks budaya masyarakatnya.

Doa Keselamatan dalam Tradisi Hindu Jawa

Pak Sugono melanjutkan penjelasannya dengan menyebutkan beberapa doa yang masih ia hafal hingga kini. Salah satunya adalah doa keselamatan yang dilafalkan dalam bahasa Jawa Kuno dengan campuran istilah Sanskerta, yang maknanya memohon perlindungan, keselamatan, dan keberkahan dalam menjalani kehidupan. Doa tersebut dibaca agar setiap langkah yang dijalani senantiasa diberi keselamatan oleh Tuhan.

Ia menegaskan bahwa fungsi doa tersebut dalam Hindu Jawa sejatinya memiliki kemiripan dengan Al-Fatihah dalam Islam, yakni sebagai doa utama yang terus dihafal dan diamalkan dari generasi ke generasi. Tradisi hafalan ini sangat kuat, bahkan tetap melekat meskipun seseorang tidak memahami secara tekstual makna setiap lafaznya.

Perubahan Wajah Hindu di Lingkungan Sosial

Pak Sugono juga menggambarkan perubahan kondisi keagamaan di lingkungannya saat ini. Di sekitar tempat tinggalnya kini berdiri pura, gereja, dan masjid yang saling berdampingan. Kehadiran komunitas Hindu Bali membawa warna baru yang berbeda dengan Hindu Jawa yang ia kenal di masa lalu.

Menurutnya, Hindu yang berkembang sekarang tampak lebih modern dan sistematis dibandingkan dengan Hindu Jawa yang ia anut dahulu. Ia menegaskan bahwa pernyataan ini bukan bermaksud merendahkan atau mengolok tradisi tertentu, melainkan sebagai gambaran perubahan zaman dan perbedaan konteks budaya.

Proses Hidayah dan Peralihan Keyakinan

Pak Sugono kemudian menceritakan proses dirinya dan keluarga memeluk Islam pada awal tahun 1990-an. Menariknya, proses tersebut terjadi tanpa adanya dakwah langsung, tanpa kedatangan ustaz, dan tanpa ajakan formal. Ia menyebutnya sebagai hidayah yang datang secara alami dari Allah SWT.

Ayahnya, meskipun saat itu masih beragama Hindu, mewakafkan tanahnya untuk dibangun masjid agar seluruh anaknya dapat belajar Islam. Masjid tersebut kemudian diberi nama Masjid Al-Hidayah, sebagai simbol petunjuk dari Allah. Peristiwa ini menjadi tonggak penting dalam perjalanan spiritual keluarga mereka.

Tak lama setelah masuk Islam, Pak Sugono dikirim untuk belajar di pondok pesantren Al-Fattah di Sidoarjo di bawah asuhan Kiai Haji Ahmad Suboto. Pengalaman mondok ini menjadi fase adaptasi yang tidak mudah, mengingat latar belakang kehidupannya yang berasal dari daerah pegunungan dengan iklim dingin dan budaya yang sangat berbeda.

Kehidupan Beragama dalam Keluarga Multikeyakinan

Dalam ceritanya, Pak Sugono juga mengungkap bahwa keluarganya memiliki latar belakang keyakinan yang beragam. Ia sendiri berasal dari keluarga Hindu, sementara istrinya dahulu beragama Kristen. Sebelum menikah, istrinya masih aktif mengikuti kegiatan gereja dan mengenal tradisi seperti Haleluya dan Shalom.

Namun, sebagaimana pengalamannya sendiri, praktik keagamaan tersebut lebih bersifat tradisi berkumpul dan ritual sosial, tanpa pendalaman teks kitab secara intensif. Hal ini menunjukkan bahwa dalam banyak komunitas, agama dijalani sebagai tradisi hidup yang diwariskan, bukan semata sebagai sistem teologis yang dipelajari secara akademik.

Tantangan Sosial Setelah Masuk Islam

Pak Sugono tidak menutup-nutupi bahwa proses masuk Islam membawa tantangan sosial yang cukup berat. Ia dan keluarganya mendapat pertanyaan, cibiran, dan keheranan dari lingkungan sekitar, terutama karena perubahan praktik ibadah seperti shalat, sujud, rukuk, dan bersuci.

Ia juga menceritakan pengalaman masa lalunya yang terbiasa memelihara babi dan mengonsumsi daging babi, sesuatu yang sangat wajar dalam tradisi sebelumnya. Setelah masuk Islam, kebiasaan tersebut perlahan ditinggalkan melalui proses yang tidak instan. Menurutnya, perubahan keyakinan memang membutuhkan waktu, kesabaran, dan pemahaman yang bertahap.

Pendidikan dan Kesempatan Generasi Muda

Dalam refleksinya, Pak Sugono menekankan pentingnya pendidikan. Ia mengaku tidak pernah mengenyam pendidikan formal sejak kecil dan tidak bisa membaca maupun menulis. Oleh karena itu, ia memandang kesempatan yang dimiliki para mahasiswa sebagai nikmat besar yang patut disyukuri dan dimanfaatkan sebaik-baiknya.

Ia mengajak generasi muda untuk membuka diri terhadap dialog, silaturahmi, dan saling memahami lintas latar belakang. Menurutnya, pengalaman hidupnya menjadi bukti bahwa perjalanan spiritual seseorang sangat dipengaruhi oleh lingkungan, tradisi, dan kesempatan belajar.

Toleransi dalam Tradisi Sosial Masyarakat Desa

Menanggapi pertanyaan peserta mengenai keikutsertaan dalam ritual keagamaan keluarga non-Muslim seperti Ngaben, Pak Sugono menyampaikan pandangan berbasis pengalaman sosial di desa. Ia menekankan bahwa kehadiran dalam acara keluarga atau sosial diperbolehkan selama tidak mengubah keyakinan dan tidak ikut dalam aspek ritual keimanan.

Ia mencontohkan praktik toleransi di desanya, di mana pada perayaan Idulfitri, keamanan masjid justru dibantu oleh warga Kristen dan Hindu. Bagi Pak Sugono, kunci utama dalam kehidupan bermasyarakat adalah saling menghormati tanpa mencampuradukkan keyakinan.

Tanggapan Akademik atas Praktik Hindu Jawa

Menanggapi penjelasan Pak Sugono, Prof. Dr. Mina Ali memberikan catatan akademik terkait praktik doa dan ritual Hindu Jawa. Ia mencermati bahwa doa-doa yang dibacakan mengandung campuran bahasa Sanskerta dan Jawa Kuno, sebuah proses yang disebut jawanisasi.

Menurutnya, fenomena ini serupa dengan cara umat Islam Jawa melafalkan bacaan Arab dengan logat lokal. Bahasa dasarnya tetap sama, tetapi mengalami adaptasi fonetik sesuai budaya setempat. Hal serupa juga terjadi di Bali, di mana Sanskerta mengalami balinisasi dalam pelafalan.

Prof. Dr. Mina Ali menegaskan bahwa meskipun Hindu di Jawa memiliki bentuk ekspresi yang berbeda, akar bahasa dan substansi ajarannya tetap terhubung dengan tradisi Sanskerta yang sama. Contoh konkret ini menunjukkan bahwa agama tidak pernah hadir dalam ruang hampa, melainkan selalu berdialog dengan budaya tempat ia berkembang.

Bahasa Sanskerta sebagai Bahasa Sakral

Pembahasan kemudian ditegaskan kembali dengan contoh konkret bahwa baik Hindu di Jawa maupun Hindu di Bali tidak dapat dilepaskan dari bahasa Sanskerta. Bahasa ini memiliki kedudukan sakral, sebagaimana bahasa Arab dalam Islam, karena termaktub dalam kitab-kitab suci seperti Weda dan Bhagawad Gita.

Dalam konteks ini, bahasa Sanskerta dipahami bukan sekadar alat komunikasi, melainkan medium wahyu dan pengetahuan suci. Oleh karena itu, meskipun mengalami proses lokalisasi, baik menjadi Jawa Kuna maupun Bali, akar Sanskerta tetap menjadi fondasi utama dalam praktik dan istilah keagamaan Hindu.

Asal-Usul Istilah Santri dan Pesantren

Menariknya, pembicara juga menyinggung istilah pesantren yang lazim dikenal dalam tradisi Islam. Secara etimologis, istilah ini berakar dari kata santri, yang dalam bahasa Tamil merujuk pada orang yang belajar kitab suci. Sementara dalam bahasa Sanskerta, istilah yang sepadan adalah śāstrī, yakni orang yang mempelajari śāstra atau kitab suci Weda.

Dengan demikian, śāstra merujuk pada kitab suci, sedangkan śāstrī adalah subjek yang mempelajarinya. Perubahan fonetik dari śāstrī menjadi santri menunjukkan adanya proses lintas budaya dan bahasa yang panjang, serta memperlihatkan kesinambungan tradisi intelektual di Nusantara.

Dominasi Aliran Siwa dalam Hindu Jawa

Dari doa-doa yang diucapkan oleh Pak Sugono, narasumber akademik menangkap indikasi kuat bahwa Hindu Jawa yang berkembang di wilayah tersebut mayoritas beraliran Siwa, bukan Wisnawa. Hal ini terlihat dari dominasi penyebutan mantra Om Namah Śivāya, yang menjadikan Siwa sebagai iṣṭadewatā atau dewa utama dalam pemujaan.

Fenomena ini dijelaskan sebagai sesuatu yang wajar dan sebanding dengan konsep mazhab dalam Islam. Perbedaan aliran tidak menunjukkan perbedaan agama, melainkan variasi penekanan teologis dan ritual dalam satu tradisi besar yang sama.

Unsur Bahasa Jawa dalam Ritual Hindu Jawa

Selain mantra Sanskerta, ditemukan pula istilah-istilah yang bukan berasal dari Sanskerta, melainkan dari bahasa Jawa, seperti Om Kulun atau Om Ulun. Istilah ini dipahami sebagai bentuk salam atau ungkapan penghormatan yang bersifat lokal.

Hal ini menunjukkan bahwa Hindu Jawa memiliki kekuatan tradisi yang sangat kental, bahkan lebih dominan dibandingkan praktik Hindu di India yang cenderung lebih tekstual. Variasi-variasi tersebut muncul dalam konteks budaya dan tradisi, bukan pada tataran ajaran inti yang bersumber dari kitab suci.

Makna Weda dalam Perspektif Akademik

Dalam diskusi lanjutan, muncul perbedaan pemaknaan terhadap istilah Weda. Secara akademik, kata Weda berasal dari akar kata vid atau vidyā yang berarti pengetahuan. Oleh karena itu, Weda dipahami sebagai pengetahuan suci yang bersumber dari Tuhan.

Dalam tradisi Hindu, kajian teologi dikenal sebagai Brahmawidyā, yakni ilmu tentang Brahman (Tuhan). Sementara dalam pemaknaan lokal yang disampaikan Pak Sugono, Weda dipahami sebagai wewaton atau kesopanan dan tata krama hidup. Perbedaan makna ini dipandang sebagai pergeseran semantik akibat tradisi lisan dan kontekstualisasi budaya.

Narasumber menegaskan bahwa perbedaan ini tidak serta-merta dinilai salah atau benar, melainkan menjadi objek kajian akademik yang harus dipahami secara proporsional dan bebas kepentingan.

Konsep Ketuhanan: Sang Hyang Widhi

Pertanyaan selanjutnya menyoroti perbedaan konsep ketuhanan antara Hindu di India dan Hindu di Indonesia, khususnya mengenai istilah Sang Hyang Widhi. Dijelaskan bahwa istilah Hyang berasal dari bahasa Jawa Kuna yang bermakna Tuhan atau Yang Disembah.

Istilah ini tidak bersifat eksklusif, melainkan digunakan secara luas dalam berbagai tradisi keagamaan di Nusantara, termasuk Islam dan Kristen. Kata sembahyang sendiri berasal dari konsep menyembah Hyang, yakni Tuhan, pada waktu-waktu tertentu.

Sang Hyang Widhi dipahami sebagai Tuhan Yang Maha Mengetahui, dengan Widhi yang berakar dari kata Weda (pengetahuan). Istilah ini bersifat umum, sedangkan dalam tradisi Hindu dikenal pula nama-nama khusus seperti Brahma, Wisnu, dan Siwa.

Kesejajaran Istilah dalam Studi Agama

Dalam penjelasan akademik, konsep ketuhanan Hindu ini disejajarkan secara terminologis dengan istilah-istilah dalam Islam seperti Rabb, Ilah, dan Malik sebagaimana terdapat dalam Surah Al-Fatihah. Penegasan diberikan bahwa kesejajaran ini bukan berarti penyamaan, melainkan pendekatan komparatif dalam studi agama.

Pendekatan ini dimaksudkan untuk membangun pemahaman lintas iman tanpa menimbulkan konflik, karena berada dalam konteks kajian ilmiah, bukan dakwah atau ritual.

Sumber Wahyu dan Perbedaan Zaman

Pembahasan semakin mendalam ketika dijelaskan bahwa kesamaan konsep dan istilah antaragama menunjukkan satu sumber wahyu yang sama. Namun Islam dipahami sebagai agama penutup yang datang untuk menyempurnakan dan mengoreksi ajaran sebelumnya.

Contoh diberikan dengan membandingkan ayat-ayat Al-Qur’an dengan kutipan dalam kitab Manawa Dharma Sastra. Dari sudut pandang kronologi sejarah, kitab Hindu tersebut muncul jauh sebelum Al-Qur’an, sehingga kesamaan tersebut dipahami sebagai kesinambungan sumber, bukan plagiasi atau pertentangan.

Makna “Om” dalam Tradisi Hindu

Pertanyaan berikutnya membahas makna kata Om yang selalu hadir dalam doa-doa Hindu. Menurut pengalaman Pak Sugono, Om dipahami sebagai padanan Bismillah, yakni penyebutan nama Tuhan sebelum memulai doa atau aktivitas.

Dalam penjelasan lanjutan, secara substansial makna ini dinilai benar. Secara simbolik, Om merupakan representasi dari nama-nama Tuhan yang agung (sahasranāma), yang dipadatkan dalam satu simbol suara.

Namun secara fikih Islam, penggunaan Om dalam ritual ibadah Muslim tidak diperbolehkan, meskipun secara linguistik dan makna terdapat kesejajaran. Perbedaan ini ditekankan sebagai batas antara kajian akademik dan praktik ritual.

Batas antara Kajian dan Ritual

Sebagai penegasan, diberikan analogi antara ucapan Assalamualaikum dan Shalom. Keduanya memiliki makna yang sama, yakni doa keselamatan. Namun dalam konteks ibadah Islam, penggunaan istilah di luar ketentuan ritual tidak dibenarkan.

Oleh karena itu, pemahaman lintas agama harus disertai kecermatan dalam membedakan mana yang bersifat kajian akademik, mana yang masuk wilayah ritual dan keyakinan. Kesalahan memahami batas ini berpotensi menimbulkan kekeliruan baik secara teologis maupun sosial.

Bahasa Simbol dan Makna “Om” dalam Perspektif Kebahasaan

Diskusi kembali menegaskan bahwa kata Om dalam tradisi Hindu memiliki fungsi kebahasaan yang setara dengan Bismillahirrahmanirrahim dalam Islam. Keduanya merupakan bentuk bahasa simbol yang mengawali doa dengan penyebutan nama Tuhan. Dalam Bismillah, terkandung tiga nama: Allah, Ar-Rahman, dan Ar-Rahim, yang menunjukkan aspek keesaan sekaligus sifat ketuhanan.

Pemahaman ini ditekankan agar dikaji secara arif dan akademik, sehingga dapat dibedakan antara kesamaan makna simbolik dan perbedaan praktik ritual. Dalam konteks kajian keagamaan, bahasa simbol menjadi jembatan pemahaman lintas iman, bukan sarana penyamaan ritual.

Studi Perbandingan Agama sebagai Sarana Memahami Perbedaan

Narasumber juga menyinggung pentingnya kajian perbandingan agama, seperti yang diajarkan dalam mata pelajaran Muqāranatul Adyān di lingkungan pesantren dan perguruan tinggi. Kitab-kitab agama lain seperti Al-Injil Al-Muqaddas, Taurat, hingga teks-teks Hindu, dibahas dengan pendekatan ilmiah dan linguistik.

Menariknya, beberapa kitab Hindu seperti Rg Veda dan teks-teks Dharma Sastra telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. Hal ini membuka peluang riset akademik, khususnya dalam mengkaji apakah istilah-istilah kunci dalam terjemahan Arab memiliki makna yang sejajar dengan istilah aslinya dalam bahasa Sanskerta.

Sebagai contoh, istilah dharma dalam terjemahan Arab sering diterjemahkan sebagai ad-dīn, yang secara konseptual menunjukkan bahwa ajaran moral dan kebenaran ilahi dipahami sebagai satu garis ajaran yang berkesinambungan dari nabi-nabi terdahulu hingga Nabi Muhammad ﷺ.

Dharma dan Adharma dalam Kajian Semantik

Dalam kitab Bhagawad Gita, Sri Krishna menjelaskan bahwa dharma bersifat tetap dan universal, sedangkan yang berubah adalah konteks sosial dan historisnya. Lawan dari dharma adalah adharma, sebagaimana dalam bahasa Arab dikenal pasangan konsep ṣāliḥ (kebaikan) dan fasād (kerusakan).

Pendekatan ini dipandang penting dalam kajian dirāsah lisāniyyah (studi kebahasaan), karena membantu memahami struktur makna lintas agama tanpa harus memasuki wilayah polemik teologis.

Kesamaan Kitab Weda di Berbagai Wilayah

Pertanyaan kemudian mengarah pada perbedaan antara Hindu di India dan Hindu di Indonesia, khususnya terkait kitab Weda. Jawaban yang disampaikan menegaskan bahwa kitab Weda pada dasarnya satu dan sama. Tidak ada Weda yang berbeda secara substansi antara India, Bali, maupun Jawa.

Perbedaan yang muncul lebih bersifat regional, terutama dalam cara membaca, melafalkan mantra, dan praktik ritual. Analogi yang digunakan adalah perbedaan langgam bacaan Al-Qur’an di berbagai daerah, yang tidak mengubah teks maupun makna dasarnya.

Pak Sugono menjelaskan bahwa dirinya dahulu menganut Hindu Jawa (Hindu Kejawen), yang tidak banyak mempelajari Weda secara tekstual seperti di Bali. Namun hal tersebut tidak berarti ajarannya berbeda, melainkan cara transmisinya yang berbeda karena faktor budaya dan tradisi lisan.

Peralihan dari Animisme menuju Agama Terstruktur

Diskusi kemudian menyinggung sejarah awal kepercayaan masyarakat Nusantara yang didominasi animisme dan dinamisme, yakni kepercayaan terhadap roh-roh alam dan leluhur. Dalam masyarakat yang belum mengenal pendidikan formal, praktik keagamaan berkembang secara sederhana dan sering kali bercampur dengan mitos.

Kepercayaan terhadap roh yang bersemayam di pohon besar, batu, atau tempat tertentu dipahami sebagai bentuk keterbatasan pengetahuan manusia pada masa itu. Seiring berkembangnya pendidikan dan masuknya agama-agama besar, pemahaman tersebut perlahan bergeser menuju konsep ketuhanan yang lebih terstruktur.

Bahkan dalam praktik Hindu Jawa dahulu, dikenal pemujaan terhadap entitas lokal seperti Rondo Kuning dan roh-roh penjaga tempat. Namun seiring waktu dan meningkatnya pemahaman keagamaan, kepercayaan semacam ini mulai ditinggalkan.

Tantangan Dakwah dan Pendidikan di Tengah Masyarakat Majemuk

Narasumber menekankan bahwa tantangan utama di masyarakat bukan semata perbedaan agama, melainkan kurangnya pendidikan dan kemauan untuk belajar. Dalam satu desa bisa ditemukan beragam keyakinan: Islam, Hindu, Kristen, hingga kepercayaan kepada dukun atau kekuatan gaib.

Oleh karena itu, mahasiswa dan calon pendakwah diingatkan bahwa realitas lapangan jauh lebih kompleks dibandingkan suasana pesantren atau kampus. Pendekatan keagamaan di masyarakat harus mempertimbangkan latar belakang budaya, tingkat pendidikan, dan pengalaman spiritual masing-masing individu.

Ritual Pensucian Sapi dalam Hindu: Konteks Regional

Pertanyaan berikutnya membahas praktik pensucian sapi dalam agama Hindu. Dijelaskan bahwa tidak semua komunitas Hindu mempraktikkan penyucian sapi secara mutlak. Di beberapa wilayah di Indonesia, khususnya Jawa, praktik tersebut tidak dikenal dan sapi tidak diperlakukan sebagai hewan yang tidak boleh disembelih.

Hal ini menunjukkan bahwa beberapa ritual yang dikenal luas di India bersifat kontekstual dan regional, bukan ajaran universal yang wajib dilakukan oleh seluruh penganut Hindu. Dengan demikian, perlu kehati-hatian dalam menyamaratakan praktik keagamaan lintas wilayah.

Menghormati dan Menyembah: Dua Konsep yang Harus Dibedakan

Pada sesi akhir diskusi, ditegaskan kembali bahwa terdapat perbedaan mendasar antara menghormati dan menyembah dalam tradisi keagamaan. Dalam konteks Hindu, khususnya terkait sapi, penghormatan tidak boleh disalahpahami sebagai bentuk penyembahan.

Bagi umat Hindu, sapi dipandang sebagai simbol ibu karena jasanya memberikan susu yang menopang kehidupan banyak orang. Oleh karena itu, sikap tidak menyembelih sapi, terutama di India merupakan ekspresi penghormatan, bukan keyakinan bahwa sapi adalah Tuhan atau tempat bersemayamnya Tuhan. Kesalahpahaman istilah inilah yang sering memicu konflik dan polemik, terutama ketika tidak disampaikan dengan bahasa yang hati-hati.

Kearifan Dakwah Wali Songo sebagai Teladan Lintas Agama

Diskusi ini juga mengingatkan kembali pada praktik dakwah Wali Songo, khususnya Sunan Kudus, yang menunjukkan kearifan luar biasa dalam menyampaikan Islam di tengah masyarakat mayoritas Hindu pada masanya. Tidak menyembelih sapi saat Idul Adha bukanlah kompromi akidah, melainkan strategi sosial untuk menjaga harmoni dan menghindari konflik horizontal.

Pendekatan ini menjadi bukti bahwa dakwah Islam sejak awal berkembang melalui hikmah, kebijaksanaan, dan pemahaman konteks budaya, bukan dengan pemaksaan atau provokasi.

Sensitivitas Bahasa dalam Komunikasi Lintas Agama

Narasumber menegaskan pentingnya kehati-hatian dalam penggunaan istilah, terutama di ruang publik seperti media sosial dan YouTube. Istilah “menyembah sapi”, jika digunakan secara serampangan, berpotensi menjadi bentuk penistaan agama dan melukai perasaan umat lain.

Sebagai akademisi dan pendakwah, tugas utama bukanlah mencari-cari kesalahan agama lain, melainkan membangun pemahaman yang adil, objektif, dan mendidik. Dengan pendekatan ini, dialog lintas agama dapat berlangsung tanpa ada pihak yang merasa direndahkan.

Istilah Ad-Dīn, Bahasa, dan Kepemilikan Makna

Sesi tanya jawab kemudian membawa diskusi ke ranah linguistik dan teologis, khususnya mengenai istilah ad-dīn. Apakah istilah ini eksklusif milik Islam, atau bersifat universal?

Melalui pendekatan ilmiah, dijelaskan bahwa istilah ad-dīn telah digunakan dalam tradisi Arab sebelum Islam dan juga dipakai dalam terjemahan kitab-kitab agama lain ke dalam bahasa Arab. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa tidak bisa dimonopoli oleh satu kelompok agama.

Analogi yang digunakan sangat kuat: jika Al-Qur’an boleh diterjemahkan menggunakan aksara Dewanagari, aksara yang juga digunakan dalam tradisi Hindu, maka penggunaan istilah umum seperti dīn, surga, neraka, dan Tuhan dalam lintas agama adalah sesuatu yang wajar dalam kajian kebahasaan.

Kesatuan Pesan Ketuhanan dalam Kitab Suci

Salah satu poin terpenting dalam penutup materi adalah penegasan tentang tauhid. Dalam kitab Brahma Sutra disebutkan bahwa Tuhan itu satu, tidak berbilang, dan tidak menyerupai apa pun, sebuah konsep yang sejajar dengan Surah Al-Ikhlas dalam Al-Qur’an.

Kesamaan pesan ini tidak dimaksudkan untuk menyamakan agama, melainkan menunjukkan bahwa Islam hadir sebagai penyempurna risalah para nabi sebelumnya. Al-Qur’an memuat dan mengonfirmasi pesan-pesan kebenaran yang pernah diturunkan dalam Taurat, Zabur, Injil, dan risalah-risalah terdahulu.

Menjadi Muslim yang Lebih Utuh dan Dewasa

Kesimpulan utama dari seluruh rangkaian seminar ini adalah bahwa memahami agama lain secara benar justru memperkokoh keimanan seorang Muslim. Islam tidak menjadi lemah karena dialog, melainkan semakin kuat karena dipahami secara utuh, dewasa, dan berwawasan luas.

Dengan pendekatan seperti ini, umat Islam dapat berdakwah tanpa menyinggung, berdialog tanpa merendahkan, dan berpegang teguh pada akidah tanpa harus memusuhi perbedaan.

Akhirnya, sesi materi Seminar Dakwah Milenial ini ditutup dengan penegasan bahwa perbedaan antara Hindu di Indonesia dan Hindu di India lebih banyak terletak pada tradisi dan praktik budaya, bukan pada sumber ajaran yang berasal dari kitab Weda. Demikian pula, kepercayaan terhadap roh-roh dan praktik animisme dipahami sebagai bentuk kekeliruan pemahaman, bukan inti ajaran agama.

Dengan berakhirnya sesi ini, para peserta diharapkan mampu membawa semangat dakwah yang berlandaskan ilmu, adab, dan kebijaksanaan dalam menghadapi tantangan zaman.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

PRODUK PARFUM AYA SOFYA


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat

DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451

BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.