Dari Jepang ke Bekasi: Perjalanan Spiritual Nangata Katsuya Menemukan Islam di Indonesia

Malam itu suasana terasa berbeda. Seorang pemuda gagah asal Jepang duduk dengan tenang, siap membagikan kisah hidupnya. Namanya Nangata Katsuya, seorang pria berusia 35 tahun yang kini bekerja di Indonesia sebagai manajer lembaga pelatihan kerja.

Ia tidak datang sebagai turis biasa. Ia datang dengan perjalanan yang tanpa ia sadari di awal, akan mengubah hidupnya selamanya.

Dari Negeri Sakura ke Tanah Nusantara

Katsuya pertama kali menginjakkan kaki di Indonesia pada Januari 2024. Awalnya, ia datang hanya untuk berwisata. Indonesia baginya adalah negeri tropis yang hangat, dengan budaya yang ramah dan masyarakat yang penuh senyum.

Namun siapa sangka, kunjungan wisata itu berubah menjadi ketertarikan mendalam.

Tiga bulan kemudian, tepatnya pada April 2024, ia mulai bekerja di sebuah lembaga pelatihan kerja bernama LPK Hinata Indonesia yang berlokasi di kawasan Deltamas, Bekasi.

Di lembaga ini, para pemuda Indonesia dibimbing untuk belajar bahasa Jepang dan mendapatkan pelatihan sebelum bekerja di Jepang. Sebuah jembatan antara dua negara. Dan kini, jembatan itu justru membawanya pada perjalanan spiritual.

Mengapa Memilih Indonesia?

Pertanyaan yang menggelitik banyak orang:
Mengapa seorang pemuda Jepang memilih tinggal dan bekerja di Indonesia?

Bukankah Jepang lebih maju secara ekonomi dan teknologi?

Katsuya tidak menyangkal bahwa Jepang adalah negara maju. Namun ia menemukan sesuatu di Indonesia yang tidak ia temukan di negaranya sendiri: kehidupan religius yang hidup dan terasa nyata dalam keseharian.

Di Jepang, pendidikan agama formal hampir tidak ada dalam kurikulum umum. Praktik keagamaan memang ada, seperti Shinto atau Buddha, namun pemahaman mendalam tentang konsep ketuhanan sering kali tidak menjadi pusat kehidupan sehari-hari.

Di Indonesia, ia melihat sesuatu yang berbeda.

Ia melihat azan berkumandang lima kali sehari, melihat orang-orang berhenti dari kesibukan untuk beribadah, dan melihat keluarga yang membiasakan doa sebelum makan.

Semua itu meninggalkan kesan yang kuat.

Awal Ketertarikan pada Islam

Ketertarikan Katsuya pada Islam tidak datang secara tiba-tiba. Ia mulai bertanya kepada rekan-rekan kerjanya di LPK.

Bagaimana cara masuk Islam?
Apa itu syahadat?
Bagaimana cara salat?
Bagaimana konsep Tuhan dalam Islam?

Ia menemukan satu konsep yang sangat menyentuh hatinya: bahwa Allah memberi petunjuk kepada manusia.

Bukan manusia yang harus mencari Tuhan sendirian tanpa arah, tetapi Tuhanlah yang memberikan bimbingan. Konsep ini terasa logis dan menenangkan baginya. Jika bimbingan datang dari Yang Maha Mengetahui, maka manusia tidak akan tersesat.

Motifnya pun sangat manusiawi. Ia tertarik untuk menikahi seorang muslimah Indonesia. Dan dalam Islam, pernikahan bukan sekadar hubungan sosial, tetapi ikatan ibadah yang suci.

Menjadi muslim demi menikah bukanlah sesuatu yang dilarang, selama keimanan itu dipelajari dan dijalani dengan sungguh-sungguh. Dan Katsuya memilih untuk belajar, bukan sekadar formalitas.

Fenomena Syahadat di Indonesia

Menariknya, kisah Katsuya bukanlah kasus yang berdiri sendiri.

Menurut data statistik nasional yang disebutkan dalam diskusi tersebut, setiap hari di Indonesia setidaknya dua orang mengucapkan syahadat. Dan Indonesia menjadi salah satu negara yang paling banyak didatangi warga asing untuk memeluk Islam.

Bukan Arab Saudi, Qatar, atau Uni Emirat Arab. Tetapi Indonesia.

Negara ini menjadi tujuan bagi warga dari berbagai belahan dunia Afrika, Eropa, Amerika, Australia, Jepang, Korea, Taiwan, hingga negara-negara Asia Tenggara.

Beberapa negara dengan angka signifikan di antaranya Filipina, Taiwan, Pantai Gading, Belanda, dan Jerman. Jepang sendiri berada di urutan ke-14, mengingat jumlah populasinya yang tidak terlalu besar.

Mengapa Indonesia?

Karena banyak dari mereka pertama kali datang sebagai turis. Mereka mengamati kehidupan sosial umat Islam Indonesia: cara berinteraksi, cara beribadah, cara bermasyarakat.

Dan sering kali, kunjungan kedua atau ketiga bukan lagi sekadar wisata.

Melainkan untuk bersyahadat.

Tanggung Jawab Umat Islam Indonesia

Di sinilah muncul pertanyaan penting:
Siapkah umat Islam Indonesia menjadi wajah Islam bagi dunia?

Bagi para mualaf dari luar negeri, pengalaman pertama mereka terhadap Islam bukan melalui buku. Bukan melalui teori. Tetapi melalui perilaku umat Islam Indonesia.

Jika mereka melihat ketulusan, kejujuran, dan akhlak yang baik, mereka semakin yakin.
Namun jika mereka melihat ketidakadilan, korupsi, atau perilaku yang bertentangan dengan ajaran Islam, mereka bisa saja mundur.

Karena bagi orang luar, kesan pertama sangat menentukan.

Indonesia kini bukan hanya panggung nasional. Ia telah menjadi panggung internasional dalam dakwah global.

Setiap muslim Indonesia membawa tanggung jawab besar: menjadi representasi akhlak Islam yang sebenarnya.

Malam yang Menentukan

Pada malam itu, Katsuya dihadapkan pada satu langkah besar: mengucapkan dua kalimat syahadat.

Ia ditanya dengan jelas:
Apakah ada yang memaksanya?
Atau, apakah ada ancaman?
Apakah ada bujukan materi?

Jawabannya tegas: tidak.

Keputusan itu murni dari hatinya sendiri.

Di hadapan para saksi, di hadapan para ustaz, dan yang terpenting, di hadapan Allah SWT ia bersiap menyatakan keimanannya.

Dan malam itu menjadi titik balik dalam hidup seorang pemuda dari Negeri Sakura yang menemukan cahaya di Tanah Nusantara.

Detik-Detik Syahadat: Langkah Besar Seorang Katsuya

Suasana malam itu semakin hening. Pertanyaan terakhir kembali ditegaskan kepada Katsuya:

Apakah ada paksaan, ancaman atau bujukan?

Jawabannya tetap sama: tidak ada.

Semua murni dari hati.

Ia menyatakan dengan mantap bahwa keputusan ini adalah keputusan pribadi. Sebuah langkah besar yang lahir dari pencarian, pengamatan, dan keyakinan.

“Hold my hands,” ujar sang ustaz dengan lembut.
“Dengarkan dan ulangi dengan jelas, agar semua menjadi saksi.”

Karena makna syahadat adalah persaksian, bersaksi di hadapan manusia, malaikat, dan Allah SWT.

Dengan suara yang tenang namun tegas, Katsuya mengucapkan:

Bismillahirrahmanirrahim
Ashadu alla ilaha illallah
Wa ashadu anna Muhammadan Rasulullah

Kemudian dalam bahasa Inggris ia menegaskan maknanya:

I bear witness that there is no god worthy of worship except Allah,
and I bear witness that Prophet Muhammad is the Messenger of Allah.

Saat itu, statusnya berubah.
Dari pencari menjadi bagian dari umat.
Dari pengamat menjadi saksi.

Tangis haru dan takbir pun menggema.

“Allahu Akbar!”

Ketika ditanya kembali,
“What is your religion now, brother?”

Ia menjawab singkat namun penuh makna:

Muslim.

Hidayah Adalah Anugerah

Dalam momen refleksi setelah syahadat, disampaikan sebuah pengingat penting: hidayah adalah anugerah yang tidak semua orang mendapatkannya.

Bahkan dalam sejarah Islam, ada orang-orang yang sangat dekat dengan Nabi Muhammad SAW namun tidak menerima Islam. Itu menunjukkan bahwa hidayah bukan soal kedekatan fisik, melainkan keterbukaan hati.

Katsuya termasuk orang yang Allah pilih untuk menerima cahaya itu.

Ia sendiri menyampaikan sebelumnya bahwa aturan dari Allah pasti benar, karena Allah Maha Mengetahui. Sementara aturan manusia bisa saja salah, bisa menyesatkan, bisa membawa kerugian.

Keyakinan inilah yang menguatkan langkahnya.

Islam dan Perkembangannya di Dunia

Satu hal menarik yang juga dibahas dalam acara tersebut adalah perkembangan Islam secara global.

Seiring kemajuan sains, teknologi, sejarah, dan kajian sosial, semakin banyak orang menemukan bahwa ajaran-ajaran dalam Al-Qur’an selaras dengan fakta ilmiah dan realitas kehidupan.

Islam bukan agama yang menyusut. Justru semakin berkembang.

Di Amerika, Eropa, bahkan Jepang, populasi Muslim meningkat. Jumlah masjid dan musala bertambah. Restoran halal semakin banyak.

Di Jepang sendiri, yang dulu hanya memiliki sedikit masjid seperti di Kobe dan Tokyo, kini jumlahnya telah bertambah pesat. Rumah makan halal juga meningkat. Ini menunjukkan bahwa pertumbuhan Islam bukan fenomena lokal, tetapi global.

Dan kini, salah satu bagian dari pertumbuhan itu adalah seorang pemuda Jepang bernama Katsuya yang bersyahadat di Indonesia.

Belajar dari Nol: Rukun Iman dan Rukun Islam

Setelah syahadat, perjalanan baru dimulai.

Katsuya mulai diperkenalkan dengan dasar-dasar Islam:

Rukun Iman

  1. Iman kepada Allah
  2. Iman kepada malaikat
  3. Iman kepada kitab-kitab Allah
  4. Iman kepada para rasul
  5. Iman kepada hari akhir
  6. Iman kepada takdir
Rukun Islam
  1. Syahadat
  2. Salat lima waktu (Subuh, Zuhur, Asar, Magrib, Isya)
  3. Puasa Ramadan
  4. Zakat
  5. Haji bagi yang mampu

Semua itu tentu tidak langsung dikuasai dalam satu malam. Tetapi semangatnya untuk belajar sangat terasa.

Ia sadar bahwa menjadi Muslim bukan hanya mengucapkan dua kalimat syahadat, tetapi memahami, mengamalkan, dan menjadikannya pedoman hidup.

Harapan untuk Masa Depan

Doa pun dipanjatkan untuknya.

Semoga ia mendapatkan pemahaman Islam yang semakin dalam, semoga ia mampu mengamalkannya dengan baik, semoga ia kelak didampingi istri yang salehah, dan semoga rumah tangganya menjadi sakinah, mawaddah, warahmah.

Dukungan umat sangat penting bagi para mualaf. Mereka membutuhkan bimbingan, lingkungan yang baik, dan keteladanan.

Karena perjalanan setelah syahadat justru lebih panjang daripada sebelum syahadat.

Indonesia sebagai Wajah Islam Dunia

Kisah Katsuya menjadi cermin bagi umat Islam Indonesia.

Dunia sedang melihat.

Orang-orang dari Jepang, Filipina, Taiwan, Eropa, bahkan Rusia dan Inggris mengikuti perkembangan Islam melalui berbagai media, termasuk kanal dakwah seperti Sofya Mualaf Center Nasional.

Indonesia kini bukan hanya negara dengan populasi Muslim terbesar, tetapi juga menjadi gerbang masuknya banyak mualaf dunia.

Maka pertanyaannya kembali kepada kita:

Apakah kita sudah menjadi representasi Islam yang baik?
Apakah akhlak kita sudah mencerminkan Al-Qur’an dan sunnah?

Karena bisa jadi, satu senyuman tulus, satu kejujuran kecil, atau satu kebaikan sederhana menjadi sebab seseorang mendapatkan hidayah.

Sebuah Awal, Bukan Akhir

Perjalanan Nangata Katsuya bukanlah akhir cerita. Ini adalah permulaan.

Permulaan sebagai Muslim, sebagai penuntut ilmu, serta permulaan sebagai calon kepala keluarga yang ingin membangun rumah tangga di atas nilai-nilai Islam.

Dan kisah seperti ini akan terus ada. Setiap hari. Di berbagai penjuru Indonesia.

Karena hidayah selalu menemukan jalannya.

Wallahu a’lam bishawab.


Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

PRODUK PARFUM AYA SOFYA


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat

DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451

BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.