
link youtube: https://www.youtube.com/live/a-96DbzosVQ?si=HAWJQ3KHDjEKdBsa
Pemateri: Ustadzah Etika Noor
Mengenal Nabi Yesaya dan Kondisi Israel pada Masanya
Nabi Yesaya hidup sekitar abad ke-8 sebelum Masehi, pada suatu periode penting dalam sejarah bangsa Israel. Pada masa tersebut, bangsa Israel telah mengalami perpecahan kerajaan sehingga terbentuk dua kerajaan, yaitu Kerajaan Israel Utara dan Kerajaan Yehuda di Selatan.
Kehidupan Nabi Yesaya berlangsung di tengah berbagai persoalan yang kompleks, mulai dari pergantian raja, peperangan, ancaman dari kerajaan lain, hingga persoalan keagamaan yang dihadapi bangsa Israel.
Karena itu, untuk memahami kitab Yesaya dengan baik, penting untuk terlebih dahulu memahami kondisi sejarah dan politik pada masa Nabi Yesaya.
Dalam kitab Yesaya pasal 1 ayat 1 disebutkan bahwa penglihatan Nabi Yesaya berkaitan dengan Yehuda dan Yerusalem pada zaman empat raja Yehuda, yaitu:
- Raja Uzia
- Raja Yotam
- Raja Ahas
- Raja Hizkia
Keempat raja tersebut merupakan tokoh penting untuk memahami periode kehidupan dan pelayanan Nabi Yesaya.
Mengapa Israel dan Yehuda Menjadi Dua Kerajaan?
Untuk memahami mengapa terdapat Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda, kita perlu melihat sejarah kerajaan Israel sebelum masa Nabi Yesaya.
Dalam sejarah bangsa Israel, Raja Daud merupakan salah satu raja yang memiliki peranan besar dalam membangun kerajaan tersebut. Setelah Daud, pemerintahan dilanjutkan oleh putranya, Raja Sulaiman.
Pada masa Daud dan Sulaiman, kerajaan Israel mengalami masa kejayaan. Namun, setelah Sulaiman meninggal dunia, kerajaan tersebut mengalami perpecahan akibat persoalan kekuasaan.
Kerajaan yang sebelumnya merupakan satu kesatuan kemudian terbagi menjadi dua kerajaan.
Pembagian tersebut dapat digambarkan secara sederhana sebagai berikut:
Kerajaan Israel → terpecah menjadi → Israel Utara dan Yehuda
Kerajaan yang berada di wilayah utara kemudian dikenal sebagai Kerajaan Israel atau Efraim, sedangkan kerajaan di wilayah selatan dikenal sebagai Kerajaan Yehuda.
Kerajaan Israel Utara atau Efraim
Kerajaan Israel Utara terdiri atas sebagian besar suku Israel, yaitu sekitar sepuluh suku. Karena suku Efraim menjadi kelompok yang dominan di wilayah tersebut, kerajaan Israel Utara juga sering disebut sebagai Efraim.
Ibu kota kerajaan ini adalah Samaria.
Sistem pergantian raja di Israel Utara juga berbeda dengan Kerajaan Yehuda. Para raja di kerajaan utara tidak selalu berasal dari satu garis keturunan yang sama. Pergantian kekuasaan di sana berlangsung dengan sejarah yang lebih kompleks.
Kerajaan Yehuda
Kerajaan yang berada di bagian selatan dikenal sebagai Kerajaan Yehuda. Kerajaan ini berkaitan terutama dengan suku Yehuda dan Benyamin, dengan Yerusalem sebagai ibu kotanya.
Berbeda dengan kerajaan Israel Utara, Kerajaan Yehuda mempertahankan garis keturunan kerajaan Daud.
Karena itu, raja-raja Yehuda pada masa berikutnya masih berada dalam garis keturunan Daud. Misalnya, terdapat rangkaian:
Uzia → Yotam → Ahas → Hizkia
Uzia memiliki anak bernama Yotam. Yotam kemudian memiliki anak bernama Ahas, dan Ahas memiliki anak bernama Hizkia.
Garis keturunan inilah yang menjadi salah satu hal penting dalam memahami sejarah Kerajaan Yehuda pada masa Nabi Yesaya.
Raja dan Nabi dalam Sejarah Israel
Dalam sejarah bangsa Israel, para raja tidak hidup sendirian. Pada masa pemerintahan mereka terdapat pula nabi-nabi yang menjalankan tugas menyampaikan pesan dan teguran kepada bangsa maupun para penguasa.
Pada masa Raja Daud, misalnya, terdapat Nabi Samuel. Pada masa-masa berikutnya juga terdapat nabi-nabi yang hidup pada zaman para raja tertentu, termasuk nabi-nabi yang berkaitan dengan Kerajaan Israel Utara.
Dengan demikian, sejarah kerajaan Israel dapat dilihat dari dua sisi. Di satu sisi terdapat catatan mengenai politik, kerajaan, peperangan, dan pergantian kekuasaan. Di sisi lain terdapat pesan-pesan kenabian yang memberikan pandangan keagamaan terhadap berbagai peristiwa tersebut.
Memahami Kitab Yesaya melalui Latar Belakang Sejarah
Kitab Yesaya memiliki karakter yang berbeda dari sekadar catatan kronologis mengenai peperangan dan pergantian raja.
Berbagai peristiwa sejarah yang juga tercatat dalam kitab-kitab seperti Raja-Raja dan Tawarikh dapat ditemukan kembali dalam kitab Yesaya, tetapi Nabi Yesaya memberikan perhatian yang lebih kuat terhadap sisi teologis dari peristiwa tersebut.
Artinya, sebuah peristiwa tidak hanya dilihat sebagai kejadian politik atau peperangan, tetapi juga dikaitkan dengan hubungan manusia dan bangsa Israel dengan Tuhan.
Sebagai contoh, kitab Yesaya menggunakan berbagai bahasa metaforis dan perumpamaan. Salah satu bagian yang dapat terasa membingungkan apabila dibaca tanpa mengetahui konteks sejarah adalah gambaran mengenai pisau cukur dalam Yesaya 7:20.
Di dalam ayat tersebut terdapat gambaran tentang pisau cukur yang dikaitkan dengan Raja Asyur. Jika dibaca secara terpisah, pembaca mungkin bertanya-tanya mengenai maksud gambaran tersebut.
Namun, ketika latar belakang sejarah mengenai kerajaan-kerajaan pada masa itu dipahami, gambaran tersebut dapat ditempatkan dalam konteks yang lebih jelas.
Karena itu, memahami kitab Yesaya membutuhkan pemahaman terhadap sejarah kerajaan Israel dan Yehuda. Tanpa mengetahui siapa raja yang sedang berkuasa, siapa musuh yang dihadapi, serta bagaimana kondisi politik pada masa tersebut, beberapa bagian dalam kitab Yesaya akan sulit dipahami secara menyeluruh.
Empat Raja Yehuda pada Masa Nabi Yesaya
Kitab Yesaya pasal 1 ayat 1 memberikan keterangan mengenai periode pelayanan Nabi Yesaya. Di sana disebutkan bahwa penglihatan Yesaya berkaitan dengan Yehuda dan Yerusalem pada zaman:
Raja Uzia, Raja Yotam, Raja Ahas, dan Raja Hizkia.
Keempat nama tersebut menjadi dasar penting untuk mengetahui rentang masa pelayanan Nabi Yesaya.
Secara berurutan:
Uzia → Yotam → Ahas → Hizkia
Keempatnya merupakan raja Kerajaan Yehuda yang berada dalam garis keturunan Daud.
Karena fokus pembahasan ini adalah sejarah yang berkaitan dengan Nabi Yesaya, perhatian utama diberikan kepada Kerajaan Yehuda. Kerajaan Israel Utara tetap memiliki kaitan dengan situasi pada masa itu, tetapi pembahasan mengenai raja-raja yang menjadi fokus utama berada pada kerajaan Yehuda.
Garis Keturunan Daud dan Kerajaan Yehuda
Salah satu alasan Kerajaan Yehuda menjadi bagian penting dalam pembahasan ini adalah keberlanjutan garis keturunan Daud.
Dalam tradisi sejarah kerajaan tersebut, pemerintahan Yehuda tetap berkaitan dengan keturunan Daud. Hal ini berbeda dengan Kerajaan Israel Utara yang mengalami pergantian raja melalui berbagai jalur kekuasaan.
Karena itu, ketika kitab Yesaya menggunakan istilah yang berkaitan dengan keluarga Daud, konteks sejarah Kerajaan Yehuda menjadi penting untuk diperhatikan.
Dengan memahami garis keturunan para raja tersebut, pembaca dapat melihat hubungan antara satu raja dengan raja berikutnya:
Daud → Sulaiman → … → Uzia → Yotam → Ahas → Hizkia
Rangkaian ini membantu menjelaskan mengapa sejarah kerajaan Yehuda memiliki keterkaitan yang kuat dengan keturunan Daud.
Mengapa Sejarah Raja-Raja Ini Perlu Dipelajari?
Mempelajari raja-raja yang hidup pada masa Nabi Yesaya bukan sekadar menghafalkan nama dan urutan pemerintahan.
Sejarah tersebut menjadi latar belakang untuk memahami pesan Nabi Yesaya.
Nabi Yesaya menyampaikan berbagai pesan dan nubuat ketika Yehuda menghadapi persoalan politik, ancaman dari kerajaan lain, peperangan, serta berbagai persoalan keagamaan. Oleh sebab itu, pesan-pesan tersebut tidak dapat dilepaskan sepenuhnya dari keadaan masyarakat dan pemerintahan pada zamannya.
Untuk memahami suatu bagian dalam kitab Yesaya secara lebih menyeluruh, beberapa pertanyaan penting yang perlu diperhatikan antara lain:
- Siapa raja yang sedang memerintah?
- Bagaimana kondisi Kerajaan Yehuda pada saat itu?
- Siapa musuh atau kerajaan yang sedang dihadapi?
- Apa yang sedang terjadi secara politik?
- Bagaimana kondisi keagamaan masyarakat?
- Apa pesan yang disampaikan Nabi Yesaya terhadap keadaan tersebut?
Dengan melihat pertanyaan-pertanyaan tersebut, pembacaan kitab Yesaya dapat dilakukan dengan mempertimbangkan konteks sejarahnya, bukan hanya membaca satu ayat secara terpisah.
Raja Uzia: Raja yang Baik tetapi Jatuh karena Kesombongan
Setelah memahami pembagian Kerajaan Israel menjadi dua bagian, pembahasan berikutnya masuk kepada raja-raja Yehuda yang hidup pada masa Nabi Yesaya. Raja pertama yang dibahas adalah Raja Uzia.
Nabi Yesaya tidak menjalankan masa kenabiannya sepanjang pemerintahan Uzia. Ia diperkirakan hidup pada bagian akhir masa pemerintahan Raja Uzia sehingga masa kebersamaan keduanya tidak berlangsung lama. Hal ini juga terlihat dari kitab Yesaya yang tidak banyak memberikan gambaran mengenai pemerintahan Uzia.
Meskipun demikian, kisah Uzia dalam kitab Raja-Raja dan Tawarikh memberikan gambaran bahwa ia pada awalnya merupakan raja yang baik dan memperhatikan rakyatnya. Pada masa pemerintahannya, Yehuda mengalami perkembangan dan menjadi kerajaan yang besar.
Namun, keberhasilan tersebut kemudian membawa Uzia kepada sebuah kesalahan besar, yaitu kesombongan.
Kesombongan Raja Uzia
Kesalahan Uzia berkaitan dengan ibadah di Bait Suci.
Pada masa itu, Bait Suci masih berdiri dan menjadi pusat kehidupan ibadah bangsa Israel. Berbagai kegiatan keagamaan dilaksanakan di sana, termasuk persembahan, korban, puji-pujian, serta berbagai ritual ibadah.
Dalam sistem ibadah tersebut terdapat pembagian tugas yang jelas. Ada tugas-tugas tertentu yang hanya boleh dilakukan oleh orang-orang dari kelompok tertentu, terutama para imam dari suku Lewi.
Namun, Uzia kemudian mengambil tindakan yang bukan menjadi haknya. Ia melakukan ritual ukupan, yaitu membakar ukupan di Bait Suci, padahal tugas tersebut bukanlah wewenangnya sebagai raja.
Kesalahan ini menunjukkan bahwa Uzia telah melampaui batas tugas yang diberikan kepadanya. Ia adalah raja dan memiliki kekuasaan, tetapi kekuasaan tersebut tidak membuatnya berhak mengambil alih tugas keagamaan yang telah ditetapkan.
Dengan demikian, kisah Uzia memberikan gambaran bahwa seseorang dapat menjadi pemimpin yang baik dan memiliki banyak keberhasilan, tetapi tetap dapat jatuh ketika keberhasilan tersebut melahirkan kesombongan.
Peran Suku Lewi dalam Bait Suci
Untuk memahami kesalahan Uzia, perlu dipahami terlebih dahulu kedudukan suku Lewi dalam kehidupan ibadah bangsa Israel.
Dalam tradisi Israel, suku Lewi memiliki tugas khusus untuk melayani dalam kehidupan keagamaan. Suku ini tidak memperoleh bagian tanah seperti suku-suku lainnya karena mereka dikhususkan untuk menjalankan pelayanan keagamaan.
Para imam berasal dari suku Lewi. Di dalam suku Lewi sendiri terdapat beberapa kelompok atau klan, termasuk keturunan Harun.
Tokoh-tokoh seperti Musa dan Harun juga berasal dari suku Lewi. Dalam pembahasan ini disebutkan pula bahwa Zakaria berasal dari kelompok tersebut.
Di antara para imam terdapat kedudukan imam yang paling tinggi, yang dikenal sebagai Kohen Gadol, atau imam besar. Kedudukan imam besar memiliki aturan khusus dan berkaitan dengan keturunan Harun.
Ritual di Bait Suci
Bait Suci merupakan pusat ibadah bangsa Israel pada masa itu. Di dalamnya berlangsung berbagai ritual keagamaan, termasuk persembahan dan korban.
Dalam pelaksanaan ritual tersebut terdapat aturan dan tahapan tertentu yang harus dilakukan. Misalnya, pembakaran ukupan dan pelaksanaan korban dilakukan dengan tata cara yang telah ditentukan.
Terdapat pula bagian paling khusus yang dikenal sebagai Ruang Maha Kudus. Ruang tersebut berkaitan dengan tempat penyimpanan Tabut Perjanjian.
Ruang Maha Kudus bukanlah tempat yang dapat dimasuki sembarang orang. Ritual tertentu di dalamnya memiliki aturan yang sangat ketat dan berkaitan dengan imam besar.
Dalam pembahasan ini, bahkan disebutkan bahwa imam besar hanya memasuki ruang tersebut pada waktu tertentu dalam ritual tahunan dengan berbagai persiapan dan prosedur yang telah ditetapkan.
Karena itu, tugas keagamaan di Bait Suci bukanlah sesuatu yang dapat dilakukan berdasarkan keinginan pribadi. Setiap orang memiliki peran dan batas tugas masing-masing.
Hukuman yang Dialami Uzia
Ketika Uzia tetap melakukan ritual yang bukan menjadi haknya, ia kemudian mendapatkan hukuman.
Kusta mulai muncul pada dahinya dan kemudian menyerang tubuhnya. Pada masa itu, orang yang terkena penyakit tersebut harus dipisahkan dari masyarakat karena dianggap tidak tahir dan juga karena penyakit tersebut dipandang dapat menular.
Akibatnya, Uzia harus menjalani sisa hidupnya dalam pengasingan.
Dengan demikian, akhir kehidupan Uzia berbeda dengan masa awal pemerintahannya. Ia dikenal sebagai raja yang baik dan berhasil membawa Yehuda menjadi besar, tetapi kesombongannya membuatnya melanggar batas yang telah ditetapkan.
Kisah ini menjadi pengingat bahwa kekuasaan dan keberhasilan tidak boleh membuat seseorang merasa dapat melakukan segala sesuatu sesuka hati.
Raja Yotam: Raja yang Taat
Setelah Uzia, pemerintahan Yehuda dilanjutkan oleh Raja Yotam, yang merupakan anak Uzia.
Sebagai kerajaan yang mempertahankan garis keturunan Daud, pergantian raja di Yehuda berlangsung melalui garis keluarga kerajaan. Karena itu, Yotam melanjutkan pemerintahan setelah ayahnya.
Berbeda dengan kisah akhir pemerintahan Uzia, Yotam dikenal sebagai raja yang baik dan taat kepada Tuhan.
Kisah Yotam menjadi menarik karena kondisi masyarakat pada masa pemerintahannya tidak sepenuhnya mencerminkan ketaatan sang raja.
Raja yang Baik di Tengah Masyarakat yang Menyimpang
Meskipun Yotam dikenal sebagai raja yang taat, sebagian rakyatnya masih melakukan penyembahan berhala.
Dalam sejarah bangsa Israel, persoalan penyembahan berhala bukanlah sesuatu yang baru. Bahkan sejak masa Nabi Musa, terdapat kisah mengenai sebagian Bani Israel yang membuat patung dan menjadikannya sebagai objek penyembahan.
Salah satu persoalan yang muncul adalah keinginan manusia untuk memiliki gambaran fisik mengenai Tuhan. Berbeda dengan keyakinan kepada Tuhan yang tidak dapat dilihat secara fisik, berhala-berhala seperti Baal digambarkan dalam bentuk patung.
Karena itu, penyembahan berhala menjadi salah satu persoalan keagamaan yang berulang dalam sejarah Israel.
Pada masa Yotam, sebagian masyarakat masih melakukan praktik tersebut. Namun, Yotam sebagai raja tetap berusaha menjalankan ketaatan kepada Tuhan dan memberikan pengaruh kepada sebagian rakyatnya untuk kembali menyembah Tuhan.
Dengan demikian, seorang pemimpin dapat tetap berusaha menjaga ketaatannya meskipun masyarakat yang dipimpinnya belum seluruhnya mengikuti jalan yang sama.
Akhir Pemerintahan Yotam
Kisah Yotam berakhir dengan lebih baik dibandingkan kisah ayahnya, Uzia.
Yotam meninggal dan dimakamkan di Yerusalem. Ia tidak mengalami akhir kehidupan seperti Uzia yang harus menjalani pengasingan karena penyakit kusta.
Setelah Yotam, pemerintahan Yehuda kemudian diteruskan oleh anaknya, yaitu Raja Ahas.
Raja Ahas: Raja yang Membangkang
Setelah Yotam, tampuk pemerintahan Kerajaan Yehuda beralih kepada Raja Ahas.
Ahas merupakan anak Yotam dan masih berada dalam garis keturunan Daud. Namun, berbeda dengan ayahnya yang dikenal taat, Ahas justru dikenal sebagai raja yang membangkang dan tidak taat kepada Tuhan.
Ahas melakukan penyembahan terhadap berhala dan mengikuti praktik keagamaan yang bertentangan dengan perintah Tuhan.
Dengan demikian, meskipun ia berasal dari garis keturunan raja-raja Yehuda, ketaatan seseorang tidak otomatis diwariskan hanya karena ia berasal dari keluarga yang baik.
Penyembahan Berhala pada Masa Ahas
Ahas digambarkan sebagai raja yang hidup jauh dari ketaatan kepada Tuhan. Ia menyembah berhala dan tidak menjalankan perintah Tuhan sebagaimana mestinya.
Ketika seorang raja melakukan penyimpangan, pengaruhnya juga dapat menjalar kepada masyarakat yang dipimpinnya. Karena itu, kondisi keagamaan rakyat Yehuda pada masa Ahas turut mengalami kemunduran.
Dalam konteks tersebut, hukuman kemudian menimpa kerajaan Yehuda.
Salah satu peristiwa yang terjadi adalah serangan terhadap Yehuda oleh Kerajaan Israel Utara, yang sebenarnya merupakan kerajaan saudara mereka sendiri.
Yehuda Diserang Israel Utara
Pada masa pemerintahan Ahas, Yehuda pernah mengalami serangan dari Kerajaan Israel Utara.
Serangan tersebut menyebabkan kekalahan besar bagi Yehuda. Dalam pembahasan ini disebutkan bahwa sekitar 128.000 tentara Yehuda tewas dalam peperangan tersebut.
Peristiwa ini menunjukkan bahwa perpecahan kerajaan Israel tidak hanya menghasilkan dua pemerintahan yang berbeda, tetapi juga dapat membawa keduanya ke dalam konflik dan peperangan.
Kerajaan Israel Utara dan Yehuda sama-sama berasal dari bangsa Israel, tetapi pada masa tertentu mereka dapat saling berhadapan sebagai kekuatan politik dan militer.
Bagi Yehuda, keadaan tersebut menjadi semakin berat karena kerajaan yang seharusnya menjadi contoh dalam hal ketaatan juga mengalami kemerosotan di bawah pemerintahan Ahas.
Ahas dan Pengorbanan Anak
Salah satu tindakan paling berat yang dikaitkan dengan Raja Ahas adalah praktik mengorbankan anaknya sendiri sebagai korban bakaran.
Dalam pembahasan ini, tindakan tersebut disebut sebagai salah satu bentuk penyimpangan Ahas dalam mengikuti praktik penyembahan berhala.
Pengorbanan anak merupakan praktik yang sangat bertentangan dengan ketaatan kepada Tuhan. Kisah ini menunjukkan sejauh mana penyimpangan keagamaan pada masa Ahas telah berlangsung.
Dengan demikian, masa pemerintahan Ahas menjadi salah satu periode yang sangat berbeda dari pemerintahan ayahnya, Yotam.
Jika Yotam dikenal sebagai raja yang taat di tengah masyarakat yang masih melakukan penyembahan berhala, maka Ahas justru menjadi bagian dari kemerosotan tersebut.
Pada masa Ahas pula, Yehuda mengalami tekanan militer yang berat, termasuk serangan dari Kerajaan Israel Utara.
Raja Ahas dan Ancaman dari Dua Kerajaan
Pada masa pemerintahan Raja Ahas, Kerajaan Yehuda berada dalam situasi yang sangat berat. Yehuda menghadapi serangan dari dua kerajaan sekaligus, yaitu Kerajaan Israel Utara dan Kerajaan Aram atau Syria.
Kerajaan Israel Utara pada masa itu dipimpin oleh Raja Pekah, sedangkan Kerajaan Aram dipimpin oleh Raja Resin.
Perlu diperhatikan bahwa Aram atau Syria berbeda dengan Asyur. Keduanya merupakan kerajaan yang berbeda. Kerajaan Aram dalam kisah ini berada dalam posisi yang bersekutu dengan Kerajaan Israel Utara untuk menghadapi Yehuda.
Keadaan tersebut membuat posisi Yehuda menjadi sangat terdesak. Kerajaan yang dipimpin Ahas harus menghadapi dua kekuatan sekaligus.
Secara sederhana, keadaan politik pada saat itu dapat digambarkan sebagai:
Kerajaan Israel Utara + Kerajaan Aram → menyerang → Kerajaan Yehuda
Menariknya, meskipun Yehuda diserang oleh dua kerajaan, mereka tidak berhasil mengalahkan Yehuda.
Mengapa Israel Utara dan Aram Menyerang Yehuda?
Kerajaan Israel Utara dan Aram memiliki kepentingan politik untuk membentuk suatu aliansi yang lebih kuat. Yehuda berada dalam posisi yang tidak mengikuti keinginan mereka.
Tujuannya bukan hanya mengalahkan Yehuda, tetapi juga menggulingkan pemerintahan yang ada dan menggantinya dengan pemerintahan yang dapat diajak bekerja sama.
Pada masa tersebut, kerajaan-kerajaan seperti Yehuda, Israel, dan Aram merupakan kerajaan yang relatif kecil jika dibandingkan dengan kekuatan besar yang berada di sekitarnya.
Salah satu kekuatan besar yang sangat ditakuti pada masa itu adalah Kerajaan Asyur. Dalam istilah yang digunakan dalam pembahasan sejarah, Asyur merupakan sebuah kekaisaran atau empire, sedangkan Yehuda, Israel, dan Aram merupakan kerajaan-kerajaan yang lebih kecil.
Kerajaan-kerajaan kecil pada masa tersebut harus memperhitungkan keberadaan Asyur sebagai kekuatan besar yang dapat memberikan tekanan kepada mereka.
Karena itu, hubungan antar kerajaan pada masa tersebut tidak hanya berkaitan dengan masalah agama, tetapi juga dengan politik, keamanan, kekuasaan, dan aliansi militer.
Ketakutan Raja Ahas dan Rakyat Yehuda
Situasi tersebut tentu membuat Raja Ahas dan rakyat Yehuda ketakutan.
Kitab Yesaya menggambarkan kondisi mereka dengan perumpamaan yang sangat kuat. Hati Ahas dan rakyatnya digambarkan seperti pohon-pohon hutan yang bergoyang ketika ditiup angin.
Gambaran tersebut digunakan untuk menunjukkan betapa besar rasa takut yang mereka alami.
Mereka sebelumnya sudah mengalami peperangan yang berat. Dalam pembahasan sebelumnya disebutkan bahwa puluhan ribu tentara Yehuda telah meninggal dalam serangan yang dilakukan oleh Kerajaan Israel Utara.
Karena itu, ketika kemudian Yehuda menghadapi serangan dari dua kerajaan sekaligus, rasa takut tersebut menjadi semakin besar.
Gambaran pohon-pohon yang bergoyang ditiup angin menjadi sebuah metafora untuk menunjukkan keadaan mental Ahas dan rakyatnya yang berada dalam ketakutan.
Nabi Yesaya di Tengah Krisis Yehuda
Di tengah keadaan yang penuh ketakutan tersebut, Nabi Yesaya memiliki peran penting.
Sebagai seorang nabi, Yesaya meminta petunjuk kepada Tuhan mengenai apa yang harus dilakukan dalam situasi tersebut. Dalam pembahasan ini dijelaskan bahwa Yesaya mengetahui bahwa Yehuda tidak akan dikalahkan oleh dua kerajaan yang sedang menyerangnya.
Namun, Raja Ahas sendiri tidak memiliki keyakinan yang sama.
Ahas merupakan raja yang sebelumnya telah dikenal sebagai raja yang tidak taat kepada Tuhan. Karena itu, ketika menghadapi ancaman besar, ia tidak menunjukkan kepercayaan kepada pertolongan Tuhan.
Nabi Yesaya kemudian meminta Ahas untuk meminta petunjuk kepada Tuhan. Akan tetapi, Ahas menolak.
Meskipun Ahas menolak, pertolongan tetap diberikan. Dalam konteks inilah muncul pembahasan mengenai tanda atau pertanda yang diberikan Tuhan kepada Ahas melalui Nabi Yesaya.
Yesaya 7: Pertanda bagi Raja Ahas
Bagian ini berkaitan erat dengan Yesaya 7:14, salah satu ayat yang sering menjadi bahan pembahasan dalam kajian mengenai kitab Yesaya.
Untuk memahami ayat tersebut, konteks sejarahnya perlu diperhatikan terlebih dahulu.
Peristiwa dalam Yesaya 7 terjadi pada zaman Ahas bin Yotam bin Uzia, raja Yehuda.
Pada saat itu, Raja Resin dari Aram dan Raja Pekah bin Remalya dari Israel maju ke Yerusalem untuk berperang melawan Yehuda.
Namun, meskipun kedua kerajaan tersebut menyerang bersama-sama, mereka tidak berhasil mengalahkan Yerusalem.
Keterangan ini penting karena menunjukkan bahwa ayat tersebut muncul dalam sebuah situasi sejarah yang konkret, yaitu ketika Yehuda sedang menghadapi ancaman militer dari Aram dan Israel Utara.
Dengan memahami situasinya, pembaca dapat melihat bahwa pembahasan Yesaya 7 tidak berdiri sendiri, melainkan berada di tengah konflik politik dan militer yang sedang berlangsung.
Tanda yang Diberikan kepada Ahas
Karena Ahas tidak meminta tanda kepada Tuhan, kemudian Tuhan sendiri yang memberikan suatu pertanda.
Dalam Yesaya 7:14 terdapat pemberitaan bahwa seorang perempuan muda akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki yang akan dinamai Imanuel.
Dalam pembahasan ini, kata yang menjadi perhatian adalah istilah almah, yang dijelaskan sebagai perempuan muda.
Pertanda tersebut berkaitan dengan keadaan Yehuda pada masa Ahas. Anak yang disebut dalam tanda tersebut diberikan nama Imanuel.
Makna Nama Imanuel
Nama Imanuel berkaitan dengan ungkapan “Tuhan beserta kita”.
Namun, penggunaan nama yang mengandung unsur nama Tuhan tidak otomatis berarti bahwa orang yang memiliki nama tersebut adalah Tuhan.
Dalam tradisi penamaan bangsa Israel, terdapat banyak nama yang memiliki unsur yang berkaitan dengan Tuhan.
Sebagai contoh, nama-nama seperti Ismail, Elia, Tovia, dan nama lainnya memiliki makna yang berkaitan dengan Tuhan.
Karena itu, nama Imanuel dipahami sebagai sebuah nama yang memiliki makna simbolik.
Dalam konteks pembahasan Yesaya 7, nama tersebut menggambarkan bahwa Tuhan menyertai Yehuda di tengah ancaman yang sedang mereka hadapi.
Dengan demikian, pertanda mengenai Imanuel berkaitan dengan pesan bahwa Yehuda tidak akan ditinggalkan dalam situasi peperangan tersebut.
Imanuel sebagai Tanda dalam Konteks Yehuda
Jika kembali kepada konteks awalnya, Yehuda sedang berada dalam kondisi yang sangat menakutkan.
Ahas dan rakyatnya melihat dua kerajaan yang datang untuk menyerang mereka. Secara manusiawi, keadaan tersebut membuat mereka merasa bahwa kekalahan hampir pasti terjadi.
Namun, pesan yang disampaikan melalui Nabi Yesaya justru memberikan gambaran sebaliknya.
Pertanda tersebut menjadi bagian dari pesan bahwa Yehuda akan tetap berada dalam penyertaan Tuhan, meskipun sedang menghadapi ancaman dari dua kerajaan.
Karena itu, nama Imanuel dalam konteks pembahasan ini tidak hanya dipahami sebagai sebuah nama pribadi, tetapi juga sebagai tanda atau simbol penyertaan Tuhan terhadap Yehuda.
Tanda dan Fungsi Nubuat
Salah satu hal yang perlu diperhatikan dalam memahami nubuat adalah bahwa nubuat sering kali disertai dengan tanda.
Tanda tersebut membantu orang yang menerima pesan untuk memahami bahwa apa yang disampaikan benar-benar akan terjadi.
Dalam pembahasan ini digunakan contoh Nabi Zakaria untuk menggambarkan fungsi sebuah tanda. Ketika Zakaria menerima pemberitahuan mengenai kelahiran seorang anak dalam keadaan yang secara manusiawi tampak tidak mungkin, ia kemudian mendapatkan sebuah tanda.
Tanda tersebut menjadi bagian dari penegasan terhadap pesan yang disampaikan.
Demikian pula dalam kisah Ahas. Ketika Ahas tidak percaya bahwa Yehuda dapat selamat dari ancaman dua kerajaan, diberikanlah sebuah tanda yang berkaitan dengan kelahiran seorang anak yang akan dinamai Imanuel.
Dengan demikian, tanda tersebut berkaitan langsung dengan situasi yang sedang dihadapi Yehuda pada masa Ahas.
Memahami Imanuel Tanpa Melepaskan Konteks Sejarah
Pembahasan mengenai Imanuel perlu ditempatkan kembali dalam konteks sejarah Yesaya 7.
Pada saat itu:
- Raja Ahas sedang memerintah Yehuda.
- Yehuda sedang menghadapi ancaman militer.
- Kerajaan Israel Utara bersekutu dengan Kerajaan Aram.
- Yerusalem menjadi sasaran serangan.
- Ahas dan rakyatnya berada dalam ketakutan.
- Nabi Yesaya menyampaikan pesan dan pertanda dari Tuhan.
Dengan memahami rangkaian tersebut, pembaca dapat melihat bahwa pembahasan mengenai Imanuel muncul di tengah krisis politik dan militer yang sedang dialami Yehuda, bukan sebagai bagian yang berdiri terpisah dari keadaan tersebut.
Dalam konteks inilah nama Imanuel memiliki fungsi sebagai tanda bahwa Tuhan menyertai Yehuda.
Pembahasan mengenai tanda tersebut kemudian berlanjut kepada keterangan mengenai anak yang dilahirkan dan keadaan yang akan terjadi setelah kelahirannya…
Tanda dalam Nubuat Yesaya 7 dan Hubungannya dengan Keadaan Yehuda
Pembahasan mengenai Yesaya 7 tidak berhenti pada pemberitaan bahwa seorang perempuan akan mengandung dan melahirkan seorang anak. Terdapat beberapa tanda yang saling berkaitan dalam nubuat tersebut.
Anak yang akan lahir itu disebutkan akan makan dadih dan madu sampai ia mengetahui bagaimana menolak yang jahat dan memilih yang baik.
Dadih merupakan bagian susu yang diolah dan dapat digunakan untuk membuat keju. Dalam konteks ayat tersebut, makanan berupa dadih dan madu menggambarkan keadaan negeri yang berlimpah dan makmur.
Artinya, ketika anak tersebut lahir, keadaan Yehuda yang sebelumnya berada dalam ketakutan akan berubah. Negeri itu akan memiliki hasil dan ternak yang melimpah sehingga masyarakat dapat menikmati makanan yang baik.
Dengan demikian, gambaran tentang dadih dan madu tidak berdiri sendiri. Gambaran tersebut menjadi bagian dari tanda mengenai keadaan Yehuda setelah ancaman dua kerajaan tersebut berakhir.
Dua Kerajaan yang Ditakuti Ahas Akan Ditinggalkan Kosong
Tanda berikutnya terdapat dalam keterangan bahwa sebelum anak tersebut mengetahui bagaimana menolak yang jahat dan memilih yang baik, negeri yang kedua rajanya ditakuti oleh Ahas akan ditinggalkan kosong.
Dua kerajaan yang dimaksud adalah:
- Kerajaan Aram, yang rajanya bernama Resin.
- Kerajaan Israel Utara, yang rajanya bernama Pekah bin Remalya.
Keterangan tersebut menjadi penting karena ancaman yang sedang dihadapi Ahas memang berasal dari dua kerajaan tersebut.
Dengan demikian, nubuat tersebut berkaitan langsung dengan keadaan politik yang sedang dihadapi Yehuda.
Raja Ahas dan rakyat Yehuda pada awalnya berada dalam ketakutan karena mereka menghadapi serangan dari dua kerajaan. Namun, tanda yang diberikan melalui Nabi Yesaya menunjukkan bahwa kedua kerajaan tersebut pada akhirnya tidak akan lagi menjadi ancaman bagi Yehuda.
Istri Nabi Yesaya dan Tanda yang Mulai Terwujud
Pembahasan mengenai tanda tersebut kemudian berlanjut dalam Yesaya 8:3.
Dalam ayat tersebut, Nabi Yesaya menghampiri istrinya dan kemudian istrinya mengandung serta melahirkan seorang anak.
Peristiwa tersebut menjadi penting dalam memahami rangkaian tanda yang disampaikan dalam kitab Yesaya.
Kehamilan tersebut menunjukkan bahwa tanda yang telah disampaikan sebelumnya mulai memasuki tahap penggenapan dalam konteks sejarah yang sedang berlangsung.
Dengan adanya kehamilan tersebut, tanda yang diberikan kepada Ahas tidak lagi hanya berupa perkataan atau nubuat, tetapi mulai terlihat melalui sebuah peristiwa nyata.
Hal tersebut juga berkaitan dengan keadaan rakyat Yehuda yang sebelumnya berada dalam ketakutan. Tanda tersebut dimaksudkan untuk memberikan ketenangan bahwa ancaman yang sedang mereka hadapi tidak akan berakhir dengan kehancuran Yehuda.
Tanda yang Berkaitan Satu Sama Lain
Dalam pembahasan ini, tanda dalam Yesaya 7 dapat dipahami sebagai satu rangkaian:
Seorang perempuan mengandung → anak dilahirkan → anak memakan dadih dan madu → sebelum anak mampu membedakan yang baik dan yang jahat, dua kerajaan yang ditakuti Ahas akan kehilangan kekuatannya.
Rangkaian tersebut tidak seharusnya dipisahkan menjadi bagian-bagian yang berdiri sendiri.
Konteksnya adalah keadaan Yehuda pada masa Raja Ahas ketika menghadapi ancaman dari Israel Utara dan Aram.
Ahas Meminta Pertolongan kepada Asyur
Lalu, bagaimana kedua kerajaan yang ditakuti Ahas tersebut akhirnya mengalami kehancuran?
Salah satu bagian penting dari jawabannya terdapat dalam keputusan Ahas untuk meminta pertolongan kepada Kerajaan Asyur.
Asyur pada masa itu merupakan kekuatan besar yang jauh lebih kuat dibandingkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitarnya. Dalam pembahasan ini, kekuatan Asyur digambarkan sebagai kekuatan super power pada zamannya.
Sementara itu, Aram dan Israel merupakan kerajaan-kerajaan yang lebih kecil.
Karena merasa terdesak oleh serangan dua kerajaan tersebut, Ahas kemudian mengirim utusan kepada Raja Asyur untuk meminta bantuan.
Raja Asyur yang dimaksud adalah Tiglat-Pileser.
Namun, permintaan bantuan tersebut bukanlah permintaan yang diberikan secara cuma-cuma. Ahas mengirimkan perak dan emas yang berasal dari rumah Tuhan dan perbendaharaan istana raja sebagai persembahan atau upeti kepada Raja Asyur.
Dalam catatan 2 Raja-Raja 16, Ahas menyampaikan permintaan kepada Raja Asyur agar ia diselamatkan dari tangan Raja Aram dan Raja Israel yang sedang menyerangnya.
Dengan demikian, Ahas mengambil keputusan politik dengan meminta bantuan kepada kekuatan besar Asyur untuk menghadapi dua kerajaan yang sedang mengancam Yehuda.
Asyur Menyerang Aram
Permintaan Ahas kemudian ditanggapi oleh Raja Asyur.
Asyur bergerak menyerang Damsyik, ibu kota Kerajaan Aram.
Kerajaan Aram yang sebelumnya menjadi salah satu kekuatan yang menakutkan bagi Yehuda akhirnya mengalami kekalahan.
Damsyik direbut dan penduduknya diangkut sebagai tawanan ke Kir. Sementara itu, Raja Resin, raja Aram, dibunuh.
Dengan demikian, salah satu dari dua kerajaan yang ditakuti Ahas telah kehilangan rajanya.
Rangkaian peristiwa tersebut menjadi penting karena sesuai dengan tanda yang sebelumnya disampaikan dalam konteks Yesaya 7: sebelum anak tersebut mengetahui bagaimana memilih yang baik dan menolak yang jahat, negeri dari kedua raja yang ditakuti Ahas akan ditinggalkan kosong.
Kejatuhan Raja Pekah
Setelah Raja Resin dari Aram dibunuh, perhatian beralih kepada kerajaan kedua yang ditakuti Ahas, yaitu Kerajaan Israel Utara.
Kerajaan tersebut pada masa itu dipimpin oleh Pekah bin Remalya.
Namun, Pekah kemudian menghadapi pemberontakan dari Hosea bin Ela.
Hosea mengadakan persepakatan melawan Pekah dan kemudian membunuhnya. Setelah Pekah terbunuh, Hosea menjadi raja menggantikannya.
Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa kekuasaan Kerajaan Israel Utara juga mulai mengalami perubahan dan ketidakstabilan.
Dengan terbunuhnya Resin dan kemudian Pekah, kedua raja yang sebelumnya menjadi sumber ketakutan bagi Ahas akhirnya tidak lagi memerintah.
Kronologi Kejatuhan Dua Raja
Jika diringkas, rangkaian peristiwanya dapat dilihat sebagai berikut:
Raja Ahas menghadapi ancaman
↓
Israel Utara dan Aram menyerang Yehuda
↓
Ahas meminta bantuan kepada Raja Asyur
↓
Ahas memberikan emas dan perak sebagai upeti
↓
Asyur menyerang Damsyik
↓
Raja Resin dari Aram dibunuh
↓
Kerajaan Aram mengalami kehancuran dan penduduknya ditawan
↓
Hosea memberontak terhadap Pekah
↓
Pekah dibunuh
↓
Hosea menggantikannya sebagai raja
Dengan demikian, dua kerajaan yang sebelumnya ditakuti oleh Ahas akhirnya kehilangan kekuatan dan rajanya.
Raja Asyur sebagai “Pisau Cukur” dalam Yesaya
Peristiwa tersebut juga membantu menjelaskan bahasa metaforis dalam Yesaya 7:20.
Dalam ayat tersebut digunakan gambaran tentang pisau cukur yang dipinjam dari seberang sungai Efrat, yaitu Raja Asyur.
Gambaran tersebut tentu tidak berarti bahwa Tuhan benar-benar membutuhkan pisau cukur secara harfiah.
Ungkapan tersebut merupakan bahasa metaforis.
Raja Asyur digambarkan seperti pisau cukur yang digunakan untuk “mencukur” negeri tersebut. Maksudnya, Asyur digunakan sebagai alat untuk menghancurkan atau menaklukkan kerajaan-kerajaan yang menjadi ancaman.
Kepala, bulu paha, dan janggut dalam gambaran tersebut menjadi bagian dari metafora yang menunjukkan kehancuran secara menyeluruh.
Dengan kata lain:
Pisau cukur → Raja Asyur
Mencukur → tindakan Asyur menghancurkan musuh Yehuda
Jadi, yang dimaksud bukanlah penggunaan pisau secara literal, melainkan gambaran simbolis mengenai tindakan Kerajaan Asyur.
Nubuat dan Peristiwa Sejarah
Jika seluruh rangkaian tersebut diperhatikan, terlihat hubungan yang erat antara nubuat Nabi Yesaya dengan peristiwa sejarah yang terjadi setelahnya.
Pada awalnya, Ahas dan rakyat Yehuda berada dalam ketakutan karena menghadapi dua kerajaan.
Kemudian Ahas meminta bantuan kepada Asyur.
Asyur menyerang Aram dan membunuh Raja Resin. Setelah itu, Kerajaan Israel Utara juga mengalami pergantian kekuasaan ketika Pekah dibunuh oleh Hosea.
Dengan demikian, kedua kerajaan yang sebelumnya ditakuti Ahas akhirnya kehilangan raja mereka.
Dalam kerangka pembahasan ini, rangkaian tersebut dipandang sebagai penggenapan dari tanda yang disampaikan dalam nubuat Yesaya.
Mengapa Konteks Ini Penting dalam Memahami Yesaya 7?
Konteks sejarah menjadi sangat penting karena Yesaya 7 tidak hanya berbicara mengenai seorang anak yang akan lahir.
Ada rangkaian peristiwa yang menyertai tanda tersebut:
- Ahas sedang menjadi raja Yehuda.
- Yehuda sedang menghadapi ancaman dari Aram dan Israel Utara.
- Ahas berada dalam ketakutan.
- Nabi Yesaya menyampaikan tanda.
- Seorang perempuan akan mengandung.
- Anak tersebut akan memakan dadih dan madu.
- Dua kerajaan yang ditakuti Ahas akan kehilangan kekuatannya.
- Ahas kemudian meminta pertolongan kepada Asyur.
- Raja Resin dari Aram dibunuh.
- Raja Pekah dari Israel Utara kemudian dibunuh.
- Ancaman terhadap Yehuda pun berakhir.
Karena itu, ayat-ayat tersebut perlu dibaca sebagai sebuah rangkaian sejarah dan nubuat, bukan dengan mengambil satu bagian secara terpisah.
Persoalan Penafsiran tentang Imanuel
Dalam pembahasan mengenai Yesaya 7:14, terdapat pula perbedaan dalam memahami siapa yang dimaksud dengan anak yang disebut Imanuel.
Salah satu pandangan mengaitkan Imanuel dengan Yesus. Namun, dalam materi ini perhatian diarahkan kembali kepada konteks sejarah Yesaya 7.
Pertanyaannya adalah: apabila tanda tersebut diberikan kepada Ahas untuk menenangkan dirinya dan rakyat Yehuda yang sedang menghadapi ancaman, bagaimana tanda tersebut berkaitan dengan peristiwa yang terjadi pada masa Ahas?
Tanda tersebut terdiri dari rangkaian yang saling berhubungan: perempuan mengandung, anak lahir, anak makan dadih dan madu, kemudian sebelum anak tersebut mampu membedakan yang baik dan yang jahat, dua kerajaan yang ditakuti Ahas akan kehilangan rajanya.
Dalam konteks tersebut, peristiwa kehamilan dan kelahiran anak berlangsung sebagai bagian dari tanda bagi keadaan yang sedang dihadapi Yehuda pada masa itu.
Karena itu, pemahaman terhadap Yesaya 7 perlu mempertimbangkan siapa penerima tanda, kapan tanda diberikan, keadaan apa yang sedang terjadi, serta peristiwa apa yang kemudian mengikuti tanda tersebut.
Pembahasan ini kemudian membawa kita kepada pertanyaan berikutnya: bagaimana hubungan antara tanda tersebut dengan kronologi pemerintahan raja-raja Yehuda dan apa yang terjadi setelah masa Raja Ahas…
Memahami Nubuat dalam Konteks Sejarah
Dalam memahami sebuah nubuat dalam kitab suci, konteks menjadi hal yang sangat penting. Sebuah ayat tidak seharusnya dilepaskan begitu saja dari ayat-ayat sebelumnya, apalagi jika ayat tersebut merupakan bagian dari suatu rangkaian peristiwa sejarah.
Salah satu pembahasan yang sering muncul adalah mengenai nubuat dalam kitab Yesaya tentang seorang anak yang akan lahir dan disebut dengan nama Immanuel. Ayat tersebut kerap dikaitkan secara langsung dengan Yesus. Namun, jika dibaca secara utuh, terdapat pertanyaan penting: kepada siapa sebenarnya nubuat tersebut ditujukan dan dalam situasi apa nubuat itu disampaikan?
Pembahasan ini berkaitan erat dengan kisah Raja Ahas, kerajaan Yehuda, kerajaan Israel, kerajaan Aram, serta ancaman peperangan yang sedang terjadi pada masa itu.
Kisah Raja Ahas dan Ancaman Dua Kerajaan
Dalam konteks Yesaya 7, Raja Ahas memerintah kerajaan Yehuda ketika menghadapi ancaman dari dua kerajaan, yaitu Aram dan Israel.
Aram dipimpin oleh Raja Rezin, sedangkan Israel dipimpin oleh Pekah bin Remalya. Kedua kerajaan tersebut bergerak menyerang Yehuda.
Karena itu, ketika membaca nubuat yang disampaikan kepada Ahas, penting untuk memperhatikan siapa yang sedang berbicara, kepada siapa perkataan itu ditujukan, serta peristiwa apa yang sedang terjadi.
Nubuat tersebut juga memberikan tanda yang berkaitan dengan kelahiran seorang anak. Anak itu akan mengalami kondisi tertentu sebelum dua kerajaan yang sedang mengancam Yehuda mengalami kehancuran.
Di sinilah muncul persoalan penafsiran.
Jika nubuat tersebut sepenuhnya dipindahkan ke masa Yesus, maka perlu dijelaskan bagaimana tanda-tanda yang disebutkan dalam nubuat itu sesuai dengan peristiwa pada masa Yesus. Misalnya, siapa dua raja yang dimaksud, kerajaan mana yang akan ditinggalkan, dan bagaimana kondisi yang disebutkan dalam nubuat tersebut terpenuhi.
Dengan demikian, pertanyaan mengenai konteks waktu menjadi sangat penting.
Apakah Nubuat Itu Memiliki Dua Penggenapan?
Salah satu jawaban yang kerap digunakan dalam perdebatan mengenai bagian ini adalah konsep double prophecy atau nubuat ganda.
Menurut pandangan tersebut, nubuat dapat memiliki penggenapan pertama pada masa Ahas, tetapi kemudian memiliki penggenapan lain yang dikaitkan dengan Yesus.
Namun, pandangan ini kembali menghadirkan pertanyaan: apakah sebuah nubuat yang sangat spesifik mengenai suatu keadaan sejarah memang harus dipahami sebagai nubuat untuk dua masa yang berbeda?
Jika nubuat tersebut menyebutkan keadaan tertentu, misalnya kelahiran seorang anak, kondisi negeri, serta kematian atau kehancuran pihak-pihak tertentu, maka setiap unsur tersebut perlu diperiksa berdasarkan konteksnya.
Dengan kata lain, jangan sampai sebuah nubuat disebut sebagai nubuat ganda hanya karena penggenapan pertama dianggap sudah terjadi, sementara kemudian ayat yang sama ingin diarahkan kepada tokoh lain pada masa yang jauh berbeda.
Pentingnya Membaca Ayat Secara Utuh
Kesalahan yang sering terjadi dalam memahami teks keagamaan adalah mengambil satu ayat yang dianggap mendukung suatu kesimpulan, kemudian mengabaikan ayat-ayat yang mengelilinginya.
Padahal, satu ayat merupakan bagian dari keseluruhan cerita.
Dalam kasus nubuat Yesaya, ayat pertama dari bagian tersebut memberikan informasi mengenai keadaan politik pada masa itu. Ada Raja Ahas, Raja Aram, Raja Israel, dan ancaman terhadap Yehuda.
Karena itu, ayat mengenai anak yang akan lahir seharusnya dibaca sebagai bagian dari rangkaian peristiwa tersebut.
Membaca ayat secara terpisah dapat membuat pembaca kehilangan informasi mengenai siapa yang dimaksud, kapan peristiwa terjadi, dan apa tanda yang sedang dibicarakan.
Prinsip ini sebenarnya berlaku dalam membaca berbagai kitab suci. Ketika membaca Al-Qur’an, misalnya, konteks ayat juga penting untuk memahami maksud sebuah pembicaraan. Demikian pula ketika membaca Injil atau kitab-kitab dalam Alkitab, pembaca perlu memahami konteks teks berdasarkan keseluruhan narasinya.
Dari Ahas kepada Hizkia
Pembahasan kemudian berlanjut kepada Raja Hizkia, yang merupakan anak Raja Ahas.
Berbeda dengan Ahas yang digambarkan mengambil keputusan dengan meminta bantuan kerajaan Asyur, Hizkia dikenal sebagai raja yang sangat taat dan mengandalkan Tuhan.
Hizkia menjadi salah satu tokoh penting dalam sejarah kerajaan Yehuda. Ia digambarkan sebagai seorang raja yang tidak hanya taat, tetapi juga memiliki keberanian untuk tidak bergantung kepada kekuatan politik asing.
Hal ini terlihat ketika kerajaan Asyur, di bawah pemerintahan Sanherib, menyerang Yehuda.
Ketika Yerusalem Dikepung Kerajaan Asyur
Kerajaan Asyur pada masa itu merupakan kekuatan besar. Pasukannya bergerak menuju wilayah Yehuda dan mengancam Yerusalem.
Situasinya sangat genting. Secara manusiawi, Yehuda menghadapi kekuatan militer yang jauh lebih besar.
Namun, Hizkia tidak memilih untuk menyerahkan kepercayaannya kepada kekuatan politik lain. Ia berdoa dan memohon pertolongan Tuhan.
Dalam kisah yang terdapat dalam kitab Tawarikh, pasukan Asyur yang mengepung Yerusalem akhirnya mengalami kehancuran. Kisah tersebut menggambarkan bahwa Tuhan memberikan pertolongan kepada Yehuda tanpa harus terjadi pertempuran besar yang melibatkan rakyat Yerusalem.
Jumlah pasukan Asyur yang disebut dalam kisah tersebut sangat besar. Karena itu, peristiwa tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam kisah pemerintahan Hizkia.
Hizkia dan Gambaran “Raja Damai”
Kisah kemenangan Hizkia atas ancaman Asyur kemudian dikaitkan dengan gambaran mengenai seorang raja yang membawa kedamaian.
Menariknya, kemenangan tersebut tidak digambarkan sebagai kemenangan melalui kekuatan militer Yehuda sendiri. Dalam narasi tersebut, pertolongan Tuhan menjadi faktor utama.
Hizkia tetap bertahan dan berdoa ketika menghadapi ancaman yang secara manusiawi tampak mustahil untuk dihadapi.
Karena itulah, kisah Hizkia kemudian menjadi bagian penting ketika membahas beberapa gelar yang terdapat dalam nubuat Yesaya, termasuk gambaran tentang “Allah yang perkasa”, “Bapa yang kekal”, dan “Raja Damai”.
Di sinilah muncul pertanyaan lain dalam penafsiran: apakah seluruh gelar tersebut harus dipahami sebagai nubuat yang hanya merujuk kepada Yesus, ataukah sebagian memiliki konteks historis yang berkaitan dengan tokoh dan peristiwa pada zaman Yesaya?
Mengapa Konteks Sejarah Tidak Boleh Diabaikan?
Yesaya hidup dan menyampaikan pesan-pesannya dalam konteks sejarah kerajaan Yehuda. Karena itu, memahami sejarah kerajaan tersebut membantu pembaca memahami pesan yang disampaikan.
Ada kerajaan Yehuda, Israel, Aram, dan Asyur yang saling berhubungan dalam berbagai konflik politik dan militer.
Tanpa mengetahui latar belakang tersebut, pembaca dapat dengan mudah menganggap sebuah ayat berbicara tentang masa yang jauh lebih kemudian, padahal ayat tersebut sedang membicarakan peristiwa yang berlangsung pada zaman nabi itu sendiri.
Inilah alasan mengapa membaca kitab suci secara kontekstual menjadi penting.
Sebuah ayat tidak berdiri sendirian.
Ia memiliki konteks sebelum dan sesudahnya, memiliki latar sejarah, memiliki tokoh yang terlibat, serta memiliki situasi tertentu ketika perkataan tersebut disampaikan.
Belajar dari Perbedaan Penafsiran
Perbedaan penafsiran terhadap nubuat merupakan bagian yang sering muncul dalam diskusi antara umat beragama maupun di dalam komunitas keagamaan sendiri.
Perbedaan tersebut tidak harus selalu berakhir dengan saling menghujat.
Jika seseorang memiliki pandangan berbeda, yang lebih penting adalah menunjukkan dasar argumentasinya: ayat yang digunakan, konteksnya, latar sejarahnya, serta bagaimana hubungan antara satu bagian dengan bagian lainnya.
Dengan demikian, perdebatan mengenai teks keagamaan dapat dilakukan dengan ilmu dan sikap yang bijaksana.
Kita boleh setuju atau tidak setuju dengan suatu penafsiran. Namun, perbedaan pendapat sebaiknya tetap disampaikan dengan cara yang baik, karena tujuan mempelajari kitab suci bukan sekadar memenangkan perdebatan, melainkan memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh teks tersebut.
Dan untuk memahami pembahasan mengenai nubuat Yesaya secara lebih utuh, kisah Ahas, Hizkia, kerajaan Yehuda, serta hubungan mereka dengan kerajaan-kerajaan di sekitarnya masih perlu dilihat lebih jauh dari keseluruhan rangkaian sejarahnya.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
