Injil Thomas Dibuka: Mengapa Ditolak Gereja dan Apa Dampaknya bagi Dunia?

injil thomas yang hilang dari alkitab, injil thomas palsu, injil thomas ditulis tahun berapa, injil thomas tahun berapa, injil thomas bahasa indonesia, buku injil thomas, thomas injil, kenapa injil thomas ditolak, kenapa injil thomas tidak diterima, mengapa injil thomas tidak diakui, injil thomas 114 1 3, kapan injil thomas ditulis, sejarah injil thomas,
injil thomas yang hilang dari alkitab: https://www.youtube.com/live/sQaIwRSL3yQ?si=qgXsqPK-mdnZkIuv

Alhamdulillah, pada kesempatan malam hari ini umat Islam kembali dapat mengikuti kajian kristologi secara virtual bersama Ustaz Ahmad Kainama. Kajian ini diselenggarakan oleh Ayah Sofia Mualaf Center Nasional melalui kanal YouTube yang menjangkau pemirsa dari Sabang sampai Merauke, dari Miangas hingga Rote, bahkan hingga berbagai negara di dunia.

Tema besar yang diangkat pada kajian kali ini adalah “Injil Thomas Dibuka: Seluruh Dunia Akan Masuk Islam”, sebuah tema yang memancing rasa ingin tahu sekaligus perenungan mendalam. Melalui kajian ini, Ustaz Ahmad Kainama mengajak umat Islam untuk memahami kristologi secara akademik, historis, teologis, dan biblikal, bukan untuk menyerang atau menghujat agama lain, melainkan sebagai bentuk penguatan akidah dan penjagaan umat dari gelombang pemurtadan.

Kristologi sebagai Benteng Umat

Kajian kristologi yang disampaikan bukanlah bentuk kebencian terhadap umat Kristen dan Katolik. Sebaliknya, kajian ini bertujuan membangun pemahaman yang proporsional agar umat Islam mampu bersikap toleran tanpa kebablasan. Toleransi yang dibangun adalah toleransi yang berlandaskan ilmu, bukan toleransi karena ketidaktahuan.

Ustaz Ahmad Kainama menegaskan bahwa pemahaman tentang dasar-dasar teologi Kristen, baik dari sisi historikal maupun biblikal, menjadi penting agar umat Islam, khususnya generasi muda, tidak mudah terpengaruh oleh narasi-narasi misionaris yang kini marak di berbagai platform digital seperti YouTube dan TikTok.

Kitab-Kitab yang Tidak Masuk Kanon Alkitab

Salah satu poin penting dalam kajian ini adalah fakta bahwa terdapat sejumlah kitab yang diakui pernah beredar di kalangan awal Kristen, namun kemudian tidak dimasukkan ke dalam kanon Alkitab karena dianggap sesat atau menyesatkan. Salah satu kitab yang paling kontroversial adalah Injil Thomas (The Gospel of Thomas).

Menariknya, Injil Thomas bukan dibuka oleh umat Islam, melainkan oleh pihak gereja sendiri. Namun, ketika Injil ini dibuka dan isinya dikaji, justru banyak umat Kristen yang menolaknya. Hal ini memunculkan pertanyaan besar: ada apa sebenarnya dengan Injil Thomas?

Mengapa Injil Thomas Ditolak?

Menurut pandangan Kristen arus utama, Injil Thomas ditolak karena beberapa alasan utama:

  1. Dianggap bersifat gnostik, yakni menekankan pengetahuan rahasia sebagai jalan keselamatan.
  2. Tidak memuat kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus, yang dianggap sebagai fondasi iman Kristen.
  3. Dianggap bukan tulisan asli Rasul Thomas.
  4. Bertentangan dengan ajaran keselamatan Ortodoks, yang menegaskan keselamatan hanya melalui Yesus, bukan dari dalam diri manusia.
  5. Tidak pernah diakui secara luas oleh gereja-gereja awal sebagai bagian dari kanon Alkitab.

Alasan-alasan ini diakui sendiri oleh kalangan Kristen. Namun, di sinilah letak keanehannya. Rasul Thomas justru sering dijadikan rujukan oleh umat Kristen sebagai figur yang mengakui ketuhanan Yesus. Akan tetapi, kitab yang dikaitkan dengan namanya justru ditolak dan tidak diakui.

Kontradiksi dalam Penolakan Injil Thomas

Ustaz Ahmad Kainama menyoroti kontradiksi besar ini. Injil Thomas ditolak karena tidak memuat kisah penyaliban dan kebangkitan Yesus. Seolah-olah, ukuran kebenaran sebuah kitab bukan pada keaslian sejarah atau kedekatannya dengan para murid, melainkan apakah kitab tersebut menyatakan Yesus mati atau tidak.

Lebih jauh lagi, Injil Thomas dianggap bukan tulisan asli Rasul Thomas. Padahal, hingga saat ini, empat Injil kanonik: Matius, Markus, Lukas, dan Yohanes juga tidak dapat dipastikan secara akademik siapa penulis aslinya. Namun, kitab-kitab tersebut tetap diterima karena memuat narasi Yesus disalib.

Dari sini muncul pertanyaan mendasar:
Apakah standar kebenaran dalam kekristenan adalah keaslian sejarah, ataukah narasi kematian Yesus semata?

Jika sebuah ajaran, kitab, atau iman tidak menyatakan Yesus mati, maka otomatis dianggap sesat. Sebaliknya, selama memuat kisah kematian Yesus, maka ia dapat diterima, meskipun asal-usul penulisnya tidak jelas.

Pertanyaan ini membawa kita pada perenungan yang lebih dalam:
apakah agama yang mengklaim sebagai agama kasih benar-benar berdiri di atas kasih, atau justru di atas doktrin yang tidak boleh dipertanyakan?

Standar Kebenaran: Yesus Harus Mati?

Pada titik ini, Ustaz Ahmad Kainama mengajak kita bertanya dengan jujur: apakah kekristenan benar-benar agama kasih, atau agama yang mensyaratkan kematian Yesus sebagai satu-satunya standar kebenaran?

Umat Islam dituntut untuk bersikap toleran, namun toleransi itu harus proporsional. Realitas yang dihadapi umat Islam di Indonesia adalah hidup berdampingan dengan keyakinan yang menolak semua tulisan, bahkan yang dinisbatkan kepada rasul, apabila di dalamnya menyatakan bahwa Yesus tidak mati. Sekalipun sebuah teks berasal dari rasul, selama tidak menyebut Yesus wafat dan disalib, maka langsung dicap sesat dan ditolak.

Yang menjadi ironi, empat Injil kanonik sendiri hingga hari ini tidak diketahui siapa penulis aslinya. Namun karena di dalamnya terdapat kisah penyaliban Yesus, maka Injil-injil tersebut diterima dan dijadikan kitab suci. Seolah-olah ukuran keabsahan kitab bukan pada keaslian penulis atau kedekatan historis, melainkan pada satu syarat mutlak: Yesus harus mati.

Jika Yesus tidak mati, maka kitab itu bukan kitab. Jika ada pemikiran bahwa Yesus tidak mati, maka pemikiran itu dianggap sesat. Sebuah pola berpikir yang, menurut Ustaz Ahmad Kainama, sangat problematik dan mengundang tanda tanya besar.

Siapa Penulis Empat Injil?

Untuk memperjelas persoalan ini, dibacakanlah keterangan resmi dari sumber Katolik mengenai penulis empat Injil:

  • Injil Markus: penulisnya tidak diketahui
  • Injil Matius: penulisnya tidak dapat dipastikan
  • Injil Lukas: penulisnya juga tidak pasti
  • Injil Yohanes: penulisnya masih menjadi misteri

Tidak ada satu pun yang benar-benar diketahui secara pasti. Namun keempat Injil ini diterima sebagai kitab utama. Alasannya kembali satu: karena di dalamnya Yesus digambarkan disiksa, dihina, ditelanjangi, dan mati di kayu salib.

Bahkan dalam Surat Galatia 3:13 disebutkan bahwa Kristus menjadi kutuk karena manusia:

“Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita. Sebab ada tertulis: Terkutuklah orang yang digantung pada kayu salib.”

Dari sini muncul pola yang sangat jelas: selama Yesus digambarkan terkutuk dan mati, maka ajaran itu diterima.

Pengakuan yang Mengguncang

Dalam salah satu perdebatan yang terjadi di Surabaya, seorang pendeta secara terbuka menyatakan bahwa umat Kristen mengimani Yesus mati dalam keadaan terkutuk di kayu salib. Pernyataan ini bahkan terekam dalam video dan tersebar luas di berbagai kanal YouTube.

Pernyataan tersebut mengundang reaksi keras, bukan hanya dari umat Islam, tetapi juga dari hati nurani siapa pun yang masih memiliki rasa hormat terhadap sosok mulia putra Maryam. Ustaz Ahmad Kainama mengungkapkan kegundahan hatinya, seraya berdoa agar dirinya, keturunannya, dan umat Islam tidak pernah sampai meyakini bahwa seorang nabi mulia dianggap terkutuk.

Kembali ke Injil Thomas

Setelah itu, pembahasan kembali diarahkan pada tema utama: penolakan Injil Thomas. Dari berbagai alasan yang dikemukakan, semakin jelas bahwa faktor penentu penolakan Injil Thomas adalah karena tidak adanya kisah sengsara, wafat, dan kebangkitan Yesus di dalamnya.

Padahal, sosok Thomas sendiri sering dijadikan sandaran utama oleh umat Kristen ketika ditanya tentang pengakuan ketuhanan Yesus. Ayat Yohanes 20:28 kerap dikutip:

“Ya Tuhanku dan Allahku.”

Ayat ini digunakan sebagai bukti utama bahwa Thomas mengakui Yesus sebagai Tuhan. Namun keanehannya, Injil Thomas justru tidak dimasukkan ke dalam kanon Alkitab. Pengakuannya dipakai, tetapi kitabnya dibuang.

Sebuah kontradiksi besar.

Apakah Yohanes 20:28 Benar-Benar Bukti Ketuhanan Yesus?

Menurut kajian yang dirujuk dari berbagai komentar Alkitab, termasuk Bible Hub dan Benson Commentary, Yohanes 20:28 tidak secara tegas menyatakan bahwa Thomas mengakui Yesus sebagai Tuhan pencipta langit dan bumi.

Bahkan hingga akhir hayatnya di India, Thomas tetap memandang Yesus sebagai Al-Masih, Mesias, orang yang diurapi, seorang nabi dan utusan Allah. Thomas wafat di India dalam keadaan ditombak, dan keyakinannya tentang Yesus tidak pernah berubah.

Namun pandangan seperti ini jelas tidak dapat diterima oleh Kristen arus utama. Apa pun caranya, Yesus harus tetap mati disalib agar ajaran dianggap benar.

Tuduhan Gnostik: Alasan Paling Utama

Akhirnya, alasan paling utama yang selalu dikedepankan dalam penolakan Injil Thomas adalah satu kata: gnostik.

Injil Thomas dicap sebagai gnostik, dan karena itu dianggap sesat. Namun pertanyaan mendasarnya adalah:
apa sebenarnya arti gnostik itu?
Apakah gnostik otomatis berarti sesat?
Dari mana asal istilah ini, dan apa makna aslinya secara etimologis?

Untuk menjawabnya, Ustaz Ahmad Kainama kemudian mengarahkan pembahasan pada asal-usul istilah “gnosis” berdasarkan kamus etimologi dunia, sebagai langkah awal untuk membongkar tuduhan gnostik yang selama ini dilekatkan pada Injil Thomas.

Gnosis: Pengetahuan yang Justru Ditolak

Ustaz Ahmad Kainama menegaskan bahwa salah satu alasan utama penolakan Injil Thomas adalah tuduhan bahwa kitab ini bersifat gnostik. Namun ketika istilah gnosis ditelusuri secara etimologis, maknanya justru sangat jauh dari tuduhan sesat.

Secara bahasa, gnosis berarti pengetahuan, bahkan pengetahuan khusus, pemahaman mendalam, penyelidikan, dan investigasi terhadap realitas spiritual. Gnosis merujuk pada pengetahuan yang lebih tinggi tentang hal-hal ketuhanan dan keberadaan manusia. Dari akar kata yang berarti “mengetahui”, gnosis sejatinya menunjuk pada proses pencarian makna dan kesadaran spiritual.

Pertanyaannya kemudian menjadi sangat tajam:
mengapa pengetahuan spiritual yang lebih tinggi justru ditolak?

Jawaban yang terus berulang, menurut pemaparan ini, kembali pada satu hal: karena Injil Thomas tidak memuat kisah Yesus disiksa, dihina, dikutuk, dan mati. Selama Yesus tidak digambarkan mati dan terkutuk, maka kitab itu ditolak apa pun isi dan kedalaman spiritualnya.

Ironisnya, makna gnosis sebagai pengetahuan spiritual justru tercantum jelas dalam sumber-sumber akademik Kristen sendiri. Dengan demikian, penolakan terhadap Injil Thomas bukan karena kesesatan makna, melainkan karena ketidaksesuaian dengan doktrin kematian Yesus.

Injil Thomas dan Identitas Penulisnya

Masuk pada bagian yang lebih mendalam, Ustaz Ahmad Kainama kemudian mengulas identitas Injil Thomas secara lebih rinci. Injil ini dikenal dengan nama The Gospel of Thomas Judas Didymus.

Injil Thomas dikategorikan sebagai teks nonkanonik, namun menariknya, nama penulisnya justru tercantum jelas di dalam teks tersebut: Didymus Judas Thomas.

Didymus dalam bahasa Yunani berarti kembar. Thomas dalam bahasa Aram berasal dari kata Te’oma yang juga berarti kembar. Dengan demikian, nama Thomas sendiri bukanlah nama pribadi, melainkan gelar yang menunjukkan identitas sebagai seorang kembar.

Artinya, sosok yang dimaksud dalam Injil Thomas adalah Yudas yang dijuluki Thomas karena ia seorang kembar.

Yudas Thomas: Saudara Kembar Yesus?

Berdasarkan sumber-sumber ensiklopedia Kristen dan Katolik, termasuk tradisi gereja awal dan literatur Syria, disebutkan bahwa Yudas Thomas dikenal sebagai saudara kembar Yesus. Pernyataan ini bukan berasal dari umat Islam, melainkan dari ensiklopedia dan tradisi Kristen itu sendiri.

Dalam tradisi Aram dan Syria, ia disebut Yudas Thomas, yang berarti Yudas si Kembar. Bahkan disebutkan bahwa ia adalah anggota keluarga dekat Yesus, seorang tukang kayu, dan dalam beberapa legenda dikenal sebagai arsitek.

Poin ini menjadi sangat sensitif, karena selama ini informasi tersebut jarang sekali disampaikan kepada jemaat awam. Padahal, rujukan tentang Yudas Thomas sebagai saudara kembar Yesus tercantum dalam ensiklopedia Kristen dan Katolik.

Ustaz Ahmad Kainama menekankan bahwa fakta ini bukanlah klaim sepihak dari Islam, melainkan bersumber dari literatur internal Kristen sendiri.

Mengapa Informasi Ini Ditutup?

Menurut pemaparan ini, informasi tentang Injil Thomas, identitas Yudas Didymus Thomas, serta ketiadaan kisah penyaliban di dalamnya telah lama diketahui oleh kalangan akademik di Barat. Banyak generasi muda di Eropa dan Amerika yang menelusuri ulang sumber-sumber ini dan akhirnya mempertanyakan ajaran yang selama ini mereka terima.

Fenomena ini, menurut Ustaz Ahmad Kainama, menjadi salah satu faktor mengapa dakwah jalanan (street da’wah) di Barat menyaksikan banyak orang Kristen yang akhirnya bersyahadat setelah membaca dan mengkaji ulang sumber-sumber asli kekristenan.

Ketika masyarakat mulai membaca langsung literatur tersebut, muncul kebingungan yang mendalam: ajaran mana yang sebenarnya harus diikuti? Tradisi gereja, atau teks-teks awal yang justru disingkirkan?

Tantangan di Era Digital

Di sisi lain, Ustaz Ahmad Kainama juga mengkritik maraknya konten digital dari sebagian YouTuber dan TikToker Kristen yang dinilai menyebarkan informasi tidak utuh dan cenderung manipulatif. Menurutnya, Injil Thomas sering kali disalahpahami, bahkan disebut tidak pernah ditulis oleh Thomas, padahal sumber-sumber Kristen sendiri menyebutkan identitas penulisnya secara eksplisit.

Pada titik inilah diskusi tentang Injil Thomas menjadi semakin penting. Bukan sekadar soal kitab yang ditolak, tetapi soal siapa yang mengendalikan narasi sejarah, dan siapa yang diuntungkan dari penutupan informasi ini.

Dan dari sini, pembahasan mulai mengarah pada satu pertanyaan besar berikutnya:
jika Injil Thomas benar-benar ditulis oleh Yudas Didymus Thomas, lalu apa sebenarnya isi ajaran Yesus yang ia sampaikan dan mengapa ajaran itu begitu ditakuti hingga harus disingkirkan?

Injil Thomas sebagai Kitab Pengetahuan Spiritual Tingkat Tinggi

Ustaz Ahmad Kainama kembali menegaskan bahwa Injil Thomas sama sekali tidak memuat kisah sengsara, kematian, dan kebangkitan Yesus. Tidak pernah dituliskan. Hal ini bukan karena kekurangan narasi, melainkan karena memang fokus Injil Thomas berbeda secara fundamental.

Kitab ini merupakan kitab pengetahuan spiritual tingkat tinggi dalam tradisi Kristen, yang oleh gereja kemudian dicap sebagai gnosis. Namun, berdasarkan Etymology Online Dictionary, gnosis berarti pengetahuan, bahkan pengetahuan spiritual yang lebih tinggi. Artinya, Injil Thomas bukanlah kitab yang menyesatkan, melainkan kitab yang menuntut pemahaman mendalam dan kesungguhan berpikir.

Ustaz Ahmad Kainama menegaskan bahwa tuduhan kesesatan terhadap Injil Thomas tidak muncul dari hasil penelitian akademik yang jujur, sebab kitab ini telah diteliti oleh para profesor, doktor, dan ahli teologi Kristen sendiri. Persoalannya bukan pada validitas akademik, melainkan pada ketidaksesuaian Injil Thomas dengan doktrin kematian Yesus.

Membaca Langsung Teks Injil Thomas

Untuk membuktikan hal tersebut, kajian kemudian mengajak pemirsa membaca langsung isi Injil Thomas dari sumber-sumber akademik, seperti The Gospel of Thomas Collection di situs Genosis.org.

Kalimat pembuka Injil Thomas berbunyi:

“Inilah perkataan-perkataan rahasia yang diucapkan Yesus yang hidup dan dicatat oleh Didimus Yudas Thomas.”

Kalimat ini sudah mengandung pesan besar. Yesus disebut sebagai Yesus yang hidup, bukan Yesus yang mati. Bahkan pada perkataan pertama, Yesus menyatakan:

“Siapa pun yang menemukan tafsiran dari perkataan-perkataan ini tidak akan mengalami kematian.”

Pernyataan ini menjadi kunci besar dalam memahami mengapa Injil Thomas tidak memuat kisah penyaliban. Menurut pemaparan Ustaz Ahmad Kainama, Thomas yang disebut sebagai Yudas Didimus, saudara kembar Yesus meyakini bahwa saudaranya tidak akan mengalami kematian. Karena itu, narasi kematian tidak pernah muncul dalam Injil ini.

Dengan kata lain, ketiadaan kisah penyaliban bukanlah penghapusan, melainkan keyakinan teologis yang konsisten.

Kunci Kebenaran dalam Injil Thomas

Pembahasan kemudian diarahkan pada salah satu bagian yang dianggap sebagai “kunci” Injil Thomas, yaitu perkataan ke-66. Menariknya, bagian ini dianjurkan untuk dibaca dalam bahasa Arab, mengingat banyak manuskrip dan literatur Kristen Koptik, termasuk Injil Thomas ditulis atau diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, khususnya setelah penaklukan Muslim atas Mesir pada abad ke-7 Masehi.

Injil Thomas sendiri sering disebut sebagai Injil Koptik Thomas, karena versi lengkapnya ditemukan di Nag Hammadi, Mesir, dan ditulis dalam bahasa Koptik. Injil ini berisi 114 perkataan rahasia Yesus, bukan narasi sejarah seperti Injil kanonik.

Dalam terjemahan bahasa Arab pada bagian tersebut, Yesus berbicara tentang batu yang ditolak oleh para pembangun, namun justru menjadi batu penjuru. Ustaz Ahmad Kainama menekankan bahwa simbol “batu” ini adalah kunci ajaran, bukan objek sembahan sebagaimana sering dituduhkan oleh sebagian pihak.

Karena itulah, menurut pemaparan ini, Injil Thomas tidak disebarluaskan. Kitab ini mengandung banyak “kunci” pemahaman ajaran para rasul yang jika dibuka, akan mengguncang fondasi doktrin yang selama ini diterima tanpa pertanyaan.

Siapa Pemegang Kunci Setelah Yesus?

Pertanyaan besar berikutnya pun muncul: siapa yang memegang kunci ajaran setelah Yesus diangkat ke langit?

Jawabannya terdapat dalam perkataan ke-12 Injil Thomas. Dalam bagian ini, para murid bertanya kepada Yesus:

“Kami tahu bahwa engkau akan meninggalkan kami. Siapakah yang akan menjadi pemimpin kami?”

Yesus menjawab:

“Di mana pun kalian berada, kalian harus pergi kepada Yakobus yang benar. Karena dialah langit dan bumi dijadikan.”

Pernyataan ini mengejutkan banyak pembaca modern. Injil Thomas tidak menunjuk Paulus sebagai pemimpin ajaran setelah Yesus, melainkan Yakobus yang benar. Hal ini selaras dengan temuan-temuan akademik Barat yang menunjukkan bahwa kepemimpinan komunitas awal pengikut Yesus berada di tangan Yakobus, bukan Paulus.

Inilah salah satu alasan mengapa Injil Thomas menjadi bacaan yang mengguncang generasi muda di Amerika, Eropa, dan Australia. Banyak dari mereka yang mengaku kebingungan setelah membaca teks ini secara langsung, karena apa yang mereka temukan tidak sejalan dengan ajaran gereja yang selama ini mereka terima.

Fenomena inilah yang kemudian terlihat dalam dakwah jalanan (street da’wah) di Barat, di mana banyak anak muda Kristen mulai mempertanyakan ulang keyakinannya setelah membaca Injil Thomas dan literatur Kristen awal lainnya.

Dan dari titik inilah, kajian mulai masuk pada pertanyaan yang semakin mendasar:
jika kepemimpinan ajaran bukan berada pada Paulus, lalu bagaimana sebenarnya bentuk ajaran Yesus yang diwariskan oleh para murid awalnya dan mengapa ajaran itu justru disingkirkan dari sejarah resmi gereja?

Fenomena Mualaf Barat dan Koreksi atas Klaim Hoaks

Kajian kemudian beralih pada fenomena dakwah di Barat. Disebutkan bahwa kehadiran dai muda dari Amerika yang pernah berkunjung ke Malang, Surabaya, dan Sidoarjo, didampingi Ustaz Ipung menjadi bukti bahwa perpindahan agama di Barat bukanlah sekadar isu daring. Menurut pemaparan tersebut, proses pengucapan syahadat yang dituntun secara langsung oleh para dai dinilai sebagai peristiwa nyata, berbeda dengan klaim-klaim viral yang kerap beredar tanpa dasar data.

Dalam kajian ini juga ditegaskan adanya berbagai informasi yang dikategorikan sebagai hoaks, seperti klaim jutaan orang Iran masuk Kristen atau ratusan ribu Muslim Indonesia berpindah agama pascabencana. Narasumber menekankan pentingnya membedakan antara data lapangan yang dapat diverifikasi dengan narasi sensasional yang tidak disertai bukti.

Sebaliknya, fenomena yang dianggap nyata adalah meningkatnya minat generasi muda Barat, khususnya di Amerika dan Eropa terhadap kajian teks-teks Kristen awal seperti Injil Thomas. Minat akademik ini, menurut pemaparan, justru mendorong sebagian dari mereka untuk memeluk Islam setelah melakukan riset mendalam.

Perubahan Lanskap Keagamaan di Barat

Dalam konteks Eropa, Inggris disebut sebagai contoh perubahan lanskap keagamaan, dengan banyak gereja yang tidak lagi aktif dan kemudian beralih fungsi menjadi masjid. Birmingham dan London disebut sebagai kota dengan komunitas Muslim yang terus berkembang. Bahkan di Amerika Serikat, disebutkan adanya pembangunan masjid oleh komunitas Muslim Indonesia, termasuk di Las Vegas.

Contoh lain yang disampaikan adalah keterlibatan tokoh publik Indonesia dalam pembangunan masjid di berbagai negara, seperti Afrika dan Jepang. Semua ini disampaikan sebagai ilustrasi bahwa dakwah dan perkembangan Islam di dunia Barat dan Asia Timur merupakan fenomena global yang nyata, bukan sekadar narasi daring.

Kembali pada Figur Yakobus dalam Injil Thomas

Pembahasan kemudian kembali pada inti kajian, yaitu figur Yakobus (James) yang disebut dalam Injil Thomas sebagai pemimpin yang harus diikuti setelah Yesus. Untuk memperkuat argumen, dirujuklah sumber ensiklopedia Barat, khususnya Encyclopaedia Britannica, melalui biografi Santo Yakobus (St. James).

Dalam biografi tersebut disebutkan bahwa Yakobus melakukan perjalanan dakwah hingga ke Spanyol sebelum kembali ke Yudea dan akhirnya wafat sebagai martir. Fakta ini dianggap signifikan, mengingat Spanyol dalam sejarah kemudian dikenal sebagai wilayah yang pernah berada di bawah peradaban Islam dalam jangka waktu yang panjang.

Yakobus dan Kesetiaan pada Hukum Yahudi

Sumber ensiklopedia yang sama juga mencatat bahwa Yakobus dikenal sebagai sosok yang sangat taat pada hukum Yahudi. Ia mempertahankan praktik-praktik kesalehan Yahudi dan menentang pandangan kelompok Kristen awal yang ingin melepaskan diri dari hukum tersebut, khususnya terkait kewajiban sunat dan kepatuhan pada Taurat.

Menurut kajian ini, posisi Yakobus sangat berbeda dengan arus utama Kekristenan yang berkembang kemudian. Yakobus digambarkan sebagai figur yang tidak memutus kesinambungan dengan tradisi Yahudi, bahkan menolak konsep keimanan yang mengabaikan hukum Musa.

Dari titik ini, narasumber menegaskan bahwa jika Injil Thomas menyebut Yakobus sebagai pemegang “kunci kebenaran”, maka kunci tersebut berkaitan erat dengan ajaran tauhid dan kepatuhan hukum, bukan dengan doktrin-doktrin yang muncul belakangan.

Pertanyaan tentang “Agama” dalam Tradisi Yahudi

Kajian kemudian masuk pada pembahasan terminologi, khususnya klaim bahwa Yudaisme pada awalnya bukanlah “agama” dalam pengertian modern, melainkan sistem hukum dan konstitusi bagi suatu bangsa. Taurat dipahami sebagai pedoman hidup kolektif, bukan sekadar sistem ritual.

Dari sudut pandang ini, Yakobus diposisikan sebagai tokoh yang setia pada hukum ilahi dan menolak penyimpangan teologis. Hal tersebut dianggap selaras dengan karakter ajaran para nabi dalam Islam, yang menekankan tauhid, kepatuhan hukum Tuhan, dan kesinambungan risalah.

Pada titik ini, kajian semakin menajamkan pertanyaan mendasarnya:
jika Yakobus adalah figur sentral dalam komunitas awal pengikut Yesus, taat pada hukum Tuhan, dan disebut sebagai pemegang kunci kebenaran dalam Injil Thomas, mengapa justru ajarannya tidak menjadi arus utama dalam sejarah resmi Kekristenan?

Keteguhan Tauhid dan Penolakan Penyatuan Pencipta-Ciptaan

Pada bagian akhir kajian, ditegaskan kembali persoalan mendasar dalam teologi: nama Tuhan tidak pernah disamakan dengan nama ciptaan. Dalam tradisi Yahudi sendiri, nama ilahi tidak diucapkan sembarangan dan digantikan dengan sebutan seperti HaShem atau Adonai. Menyatukan nama Pencipta dengan nama manusia, siapa pun dia dipandang sebagai pelanggaran serius terhadap prinsip tauhid.

Dari sudut pandang ini, narasumber menekankan bahwa pemahaman tauhid para murid Yesus termasuk Yakobus, sangat ketat. Penyimpangan teologis justru muncul ketika konsep-konsep ketuhanan mulai bercampur dengan filsafat dan kekuasaan politik.

Yakobus dan Penolakan terhadap Kekristenan Institusional

Kajian menegaskan ulang bahwa Yakobus secara historis tercatat menentang Kekristenan awal yang melepaskan diri dari hukum Tuhan. Bila Yakobus menentang Kekristenan, maka hal itu berarti ajaran yang berkembang kemudian bukanlah ajaran Yesus dan para muridnya.

Karena Injil Thomas mencatat perintah Yesus agar para murid mengikuti Yakobus, maka posisi Yakobus menjadi sentral. Semua murid, termasuk Petrus, tunduk pada perintah tersebut. Dengan demikian, penolakan Yakobus terhadap Kekristenan dipahami sebagai penolakan terhadap ajaran yang menyimpang dari risalah asli.

Agama Para Nabi: Bukan Identitas Etnis, Melainkan Jalan Kebenaran

Kajian ini juga menekankan bahwa Yahudi bukanlah agama dalam pengertian modern, melainkan sistem hukum dan konstitusi bangsa. Taurat dipahami sebagai blueprint kehidupan, bukan sekadar ritual. Maka pertanyaan pentingnya adalah: jika Yakobus bukan penganut agama “Yahudi” dan menentang Kekristenan, lalu apa agama yang ia bawa?

Jawaban itu ditelusuri melalui kitab-kitab para nabi, salah satunya Maleakhi 2:6, yang menggambarkan ajaran benar sebagai ajaran yang membawa damai sejahtera, kejujuran, dan mengembalikan manusia dari kesalahan.

Shalom sebagai Inti Ajaran yang Benar

Melalui kajian linguistik menggunakan Strong’s Concordance (H7965 dan akar H7999), disimpulkan bahwa inti ajaran para nabi, Yesus, dan Yakobus adalah Shalom. Shalom tidak sekadar berarti damai, tetapi juga keutuhan, keselamatan, kepasrahan, dan ketundukan total kepada Tuhan.

Dari akar kata inilah ditunjukkan kesinambungan makna dengan konsep Islam, yang berarti penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan. Dengan demikian, agama para nabi dipahami sebagai satu jalan yang sama dalam esensi, meskipun berbeda dalam syariat.

Perbedaan Jumlah Kitab dan Akar Sejarahnya

Dalam sesi tanya jawab, dijelaskan pula mengapa jumlah kitab dalam berbagai aliran Kristen berbeda, Protestan, Katolik, Ortodoks, hingga Etiopia. Perbedaan ini dipandang sebagai bukti bahwa Kekristenan berkembang melalui proses politik dan konsili, terutama sejak masa Kaisar Konstantinus, bukan murni dari ajaran Yesus.

Sumber-sumber Kristen sendiri termasuk ensiklopedia Katolik, disebutkan sebagai rujukan bahwa fondasi Kekristenan institusional berdiri di atas keputusan kekaisaran, bukan risalah kenabian.

Kesimpulan Akhir Kajian

Sebagai penutup, kajian merangkum beberapa poin utama:

  1. Injil Thomas bukan kitab sesat, melainkan Injil pengetahuan spiritual tingkat tinggi.
  2. Injil Thomas tidak memuat kisah sengsara, kematian, dan kebangkitan Yesus.
  3. Menurut Injil Thomas, pemegang ajaran yang benar setelah Yesus adalah Yakobus.
  4. Yakobus menentang Kekristenan institusional.
  5. Agama para nabi, Yesus, dan para muridnya adalah Shalom, yang secara makna sejalan dengan Islam.

Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).


ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?

REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA


SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:

MUALAF CENTER AYA SOFYA

PRODUK PARFUM AYA SOFYA


MEDIA AYA SOFYA

Website: www.ayasofya.id

Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA

YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA

Instagram: @ayasofyaindonesia

Email: ayasofyaindonesia@gmail.com


HOTLINE:

+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506

+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100

+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361


ADDRESS:

MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.

PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah

SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.

SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.

TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416

BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat

DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451

BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610

Leave a Reply

Your email address will not be published.

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.