Artikel ini mengangkat kisah luar biasa dari seorang mualaf bernama Agus Suyanto Tan, seorang mantan pendeta kharismatik yang akhirnya memilih Islam sebagai jalan hidupnya. Artikel ini sebagai kenang-kenangan dari almarhum yang telah meninggal dunia sembari mempertahankan keislamannya. Perjalanan panjang selama 12 tahun penuh pergulatan batin, kehilangan keluarga, hingga tekad untuk tetap istiqamah, menjadi bukti bahwa hidayah Allah hadir kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.
Dari Pendeta Menjadi Muslim
Agus Suyanto, lahir di Bojonegoro dan kini tinggal di Bandung, dulunya adalah seorang pendeta kharismatik di lingkungan gereja Protestan. Seperti diketahui, dari denominasi Protestan lahir berbagai aliran seperti Pentakosta, Kharismatik, Injili, hingga Advent. Agus adalah bagian dari tradisi Kharismatik, dengan kehidupan yang sepenuhnya bergantung pada jemaat dan pelayanan gereja.
Setiap pagi ia memimpin doa, memberikan pengajaran, dan rutin mengisi kajian alkitabiah. Namun, di tengah rutinitas itu, muncul kegelisahan batin yang mendalam. Dalam Perjanjian Lama, ia menemukan ayat-ayat yang menegaskan bahwa Allah itu Esa. Salah satunya terdapat dalam Ulangan 6:4:
“Dengarlah, hai orang Israel: Tuhan itu Allah kita, Tuhan itu esa.”
Ayat ini meneguhkan tauhid. Namun, ajaran yang ia jalani justru mengajarkan Trinitas—Allah dalam tiga pribadi: Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Baginya, ini adalah kontradiksi yang tak dapat ia terima.
Pergulatan Batin 12 Tahun
Hidayah yang mengetuk hatinya tidak langsung membuat Agus bersyahadat. Selama 12 tahun penuh, ia hidup dalam kebimbangan. Ia tahu kebenaran Islam, tetapi takut mengeksekusi keputusan besar itu.
Keputusannya untuk memeluk Islam berarti ia harus kehilangan segalanya:
- Istri dan anak-anaknya yang memilih bertahan dalam kekristenan.
- Status dan jabatan sebagai pendeta.
- Kehidupan mapan, karena seorang pendeta dilarang bekerja di luar, dan hidup hanya dari perpuluhan jemaat.
Namun, dalam kegelisahan itu, ia semakin yakin. Kebenaran hanya ada pada Islam.
Menemukan Kebenaran Tauhid
Kegelisahan Agus semakin kuat ketika ia menyadari bahwa kekristenan tidak konsisten dalam ajarannya. Dalam Alkitab, perintah yang utama adalah ketaatan penuh kepada Allah, namun yang terjadi justru sebaliknya: manusia dituhankan, yaitu menjadikan Yesus sebagai Tuhan.
Menurut Agus, inilah dosa terbesar: menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya.
Islam hadir sebagai penutup dan penyempurna. Risalah tauhid tidak lagi diberikan kepada Bani Israel, melainkan kepada umat Islam yang taat. Agus menegaskan:
“Saya sangat bangga menjadi seorang Islam. Bahkan saya sering berkampanye dengan kalimat: Aku bangga jadi orang Islam.”
Perubahan Hidup Setelah Masuk Islam
Setelah akhirnya mengucapkan syahadat, kehidupan Agus berubah total. Ia harus memulai segalanya dari nol. Pernah bekerja sebagai driver ojek online, bahkan hidup hanya dengan dua keranjang plastik sebagai pengganti lemari. Namun, ia menganggap semua itu sebagai simbol perjuangan dan pengingat agar tetap istiqamah.
Yang paling menyentuh, anaknya sendiri berkata:
“Papa sekarang sudah baik.”
Kalimat polos itu membuat Agus meneteskan air mata. Ia menyadari bahwa dahulu, meskipun dipandang baik oleh jemaat, ternyata ia tidak baik di mata keluarga. Islam telah mengubahnya menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab, penuh kasih, dan rendah hati.
Melawan Stigma dan Framing Media
Agus juga menyoroti bagaimana media sering memframing Islam secara negatif. Kasus-kasus intoleransi dan terorisme kerap dilekatkan pada umat Islam tanpa mengungkap fakta sebenarnya.
Menurutnya, tuduhan bahwa Islam identik dengan kekerasan hanyalah propaganda. Ia pernah sendiri menjadi bagian dari narasi yang menjelekkan Islam. Namun setelah masuk Islam, matanya terbuka:
“Setelah saya datang ke tempat mereka, mata saya terbuka. Ternyata yang berbuat seperti itu bukan umat Islam, tapi mereka sendiri. Islam justru agama rahmat.”
Tekad dan Istiqamah
Bagi Agus, Islam bukan sekadar agama, tetapi jalan hidup. Ia menegaskan bahwa seorang Muslim tidak boleh cengeng. Mualaf tidak seharusnya terus-menerus disebut “baru” meski sudah puluhan tahun. Islam menuntut keimanan yang teguh dan keberanian untuk berjuang.
“Islam itu pejuang, bukan pecundang. Hidup saya, mati saya, saya persembahkan untuk Islam.”
Ia bahkan berdoa, jika dirinya tidak berguna bagi umat, lebih baik Allah segera memanggilnya. Tekadnya jelas: tetap istiqamah hingga akhir hayat.
Kisah Agus Suyanto adalah cermin bahwa hidayah adalah anugerah yang tidak bisa ditukar dengan apapun. Perjalanan panjangnya dari pendeta kharismatik menjadi seorang Muslim menunjukkan bahwa kebenaran Islam mampu mengubah hati, pikiran, dan perilaku seseorang secara menyeluruh.
Semoga kita semua mengambil pelajaran dari perjuangan beliau, semakin bangga menjadi Muslim, dan semakin taat dalam menjalankan syariat Allah.
Mualaf Center Nasional AYA SOFYA Indonesia Adalah Lembaga Sosial. Berdiri Untuk Semua Golongan. Membantu dan Advokasi Bagi Para Mualaf di Seluruh Indonesia. Dengan Founder Ust. Insan LS Mokoginta (Bapak Kristolog Nasional).
ANDA INGIN SUPPORT KAMI UNTUK GERAKAN DUKUNGAN BAGI MUALAF INDONESIA?
REKENING DONASI MUALAF CENTER NASIONAL AYA SOFYA INDONESIA
BANK MANDIRI 141-00-2243196-9
AN. MUALAF CENTER AYA SOFYA
SAKSIKAN Petualangan Dakwah Seru Kami Di Spesial Channel YouTube Kami:
MUALAF CENTER AYA SOFYA
MEDIA AYA SOFYA
Website: www.ayasofya.id
Facebook: Mualaf Center AYA SOFYA
YouTube: MUALAF CENTER AYA SOFYA
Instagram: @ayasofyaindonesia
Email: ayasofyaindonesia@gmail.com
HOTLINE:
+62 851-7301-0506 (Admin Center)
CHAT: wa.me/6285173010506
+62 8233-121-6100 (Ust. Ipung)
CHAT: wa.me/6282331216100
+62 8233-735-6361 (Ust. Fitroh)
CHAT: wa.me/6282337356361
ADDRESS:
MALANG: INSAN MOKOGINTA INSTITUTE, Puncak Buring Indah Blok Q8, Citra Garden, Kota Malang, Jawa Timur.
PURWOKERTO: RT.04/RW.01, Kel. Mersi, Kec. Purwokerto Timur., Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah
SIDOARJO: MASJID AYA SOFYA SIDOARJO, Pasar Wisata F2 No. 1, Kedensari, Tanggulangin, Sidoarjo, Jawa Timur.
SURABAYA: Purimas Regency B3 No. 57 B, Kec. Gn. Anyar, Kota SBY, Jawa Timur 60294.
TANGERANG: Jl. Villa Pamulang No.3 Blok CE 1, Pd. Benda, Kec. Pamulang, Kota Tangerang Selatan, Banten 15416
BEKASI: Jl. Bambu Kuning IX No.78, RT.001/RW.002, Sepanjang Jaya, Kec. Rawalumbu, Kota Bks, Jawa Barat
DEPOK: Jl. Tugu Raya Jl. Klp. Dua Raya, Tugu, Kec. Cimanggis, Kota Depok, Jawa Barat 16451
BOGOR: Jl. Komp. Kehutanan Cikoneng No.15, Pagelaran, Kec. Ciomas, Kabupaten Bogor, Jawa Barat 16610
